Anda di halaman 1dari 16

I. II. III.

NOMOR PERCOBAAN NAMA PERCOBAAN TUJUAN PERCOBAAN

:5 : TITRASI FORMAL ASAM AMINO : Untuk mempelajari cara kerja enzim pada asam amino melalui cara titrasi formaldehid

IV.

LANDASAN TEORI : Asam amino dapat berperan sebagai asam dan sebagai basa, jika suatu kristal

asam amino misalnya alanin, dilarutkan di dalam air, molekul ini menjadi ion dipolar, yang dapat berperan sebagai suatu asam (donor proton) atau sebagai basa (akseptor proton). Pada rantai samping netral, asam amino yang termasuk dalam golongan ini tidak mempunyai gugus karboksil maupun gugus fungsional basa dalam rantai sampingnya. Lima belas dari 20 asam amino termasuk dalam golongan ini. Asam amino netral ini dibagi dalam asam amino polar dan non polar. Asam amino netral non polar umumnya adalah yang paling sukar larut dalam air dari seluruh 20 asam amino ini. Pada pH 6-7 mereka berada sebagai ino dipolar yang netral. Tak satupun dari asam amino ini yang gugus fungsional rantai cabangnya dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air (Nitrogen heterosiklik dari triptofan tak membentuk ikatan hidrogen dengan air karena pasangan elektronnya adalah sebagian dari awan elektron pi. Gugus sulfida dalam metionin tak polar sehingga tak membentuk ikatan hidrogen dengan air. Enam dari asam amino netral polar adalah karena rantai

cabangnya mengandung gugus polar seperti:-OH. Asam amino ini lebih mudah larut dalam air daripada asam amino netral. Seperti dalam protein, untuk menentukan struktur protein adalah dengan cara menghidrolisa protein itu menjadi komponen asam aminonya, dan lalu menentukan jumlah tiap-tiap asam amino. Untuk memisahkan, mengidentifikasikan dan

mengukur secara kuantitatif jumlah tiap-tiap asam amino didalam campuran ini diperlukan metoda yang amat canggih dan sensitif, karena pekerjaan ini sangat sulit. Metode cepat yang telah ditemukan yaitu metode elektroferosis, dan khromatografi penukar-ion. Kedua metode ini memanfaatkan perbedaan dalam tingkah laku asambasa dari asam-asam amino yang berbeda, yakni, perbedaan dalam tanda dan besar muatan listrik total pada pH tertentu, yang dapat diduga dari nilai pK dan kurva titrasi.

Di dalam larutan, asam amino terinosasi dan dapat bersifat sebagai asam atau basa. Pengetahuan mengenai sifat-sifat asan basa dari asam amino sangat penting di dalam pengertian pengetahuan mengenai sifat protein. Seni pemisahan, identifikasi dan kuantifikasi asam amino yang berbeda, yang meruapak tahap penting dalam menentukan komposisi dan urutan asam amino dari molekul protein, didasarkan atas tingkah laku asam basa yang khas. Asam-asam -amino yang mempunyai gugus amino tunggal dan gugus akrboksil tunggal mengkristal dari larutan netral dalam bentuk ion penuh, yang disebut ion dipolar atau zwiterion. Walaupun ion polar bersifat netral dan tidak bergerak di dalam medan listrik, ion ini mempunyai muatan listrik yang berlawanan pada kedua kutubnya. Tubuh kita merupakan laboratorium yang sangat rumit, sebab di dalamnya terjadi reaksi kimia yang beraneka ragam. Reaksi atau proses kimia yang berlangsung dengan baik dalam atubuh kita ini dimungkinkan karena adanya katalis, yang disebut dengan enzim. Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu subtrat tertentu. Kekhasan inilah ciri suatu enzim. Ini sangat berbeda dengan katalis (bukan enzim) yang dapat bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urease hanya bekerja terhadap urea sebagai subtratnya. Ada juga enzim yang bekerja terhadap lebih dari satu subtrat namun enzim tersebut tetap mempunyai kekhasan tertentu. Semua enzim murni yang telah diamati sampai saat ini adalah protein, aktivitas katalitiknya bergantung kepada integritas strukturnya sebagai protein. Enzim, seperti protein lain, mempunyai berat molekul yang berkisar dari kira-kira 12.000 sampai lebih dari 1 juta. Oleh karena itu, enzim berukuran amat besar dibandingkan dengan subtrat atau gugus fungsional targetnya. Beberapa enzim hanya terdiri dari polipeptida dan tidak mengandung gugus kimiawi selain residu asam amino. Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun diluar sel. Suatu enzim dapat memeprcepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energi

(reaksi endergonik) dan ada pula yang menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik). Disamping itu, enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan kecepatan reaksi. Koefisien suhu suatu reaksi diartikan sebagai kenaikan kecepatan reaksi sebagai akibat kenaikan suhu 10oC.

V.

ALAT DAN BAHAN : Alat yang digunakan Pipet tetes Pipet volum Bol karet Beker gelas Erlenmeyer Gelas ukur Bunsen Penjepit Kaki tiga Kawat kasa

Bahan yang digunakan Larutan Gelatin NaOH 0,2 M Phenolpthalein Formaldehid 40% yang dinetralkan dengan alkali Larutan trypsin atau pacreatin 1%

VI.

PROSEDUR PERCOBAAN : Siapkan 100 ml larutan gelatin 5%. Atur temperature 38C. Tambahkan

kedalamnya 1 ml phenolphthalein dan 0,2 M NaOH tetes demi tetes sampai warna merah muda timbul. Tambahkan 0,1 M HCl tetes demi tetes sampai tepat warna merah muda tadi hilang (pH = 8,0). Hati-hati jangan terlalu asam. Masukkan gelatin yang telah dinetralisir tadi ke dalam incubator 38C. Pada 25 ml larutan tripsin tambahkan beberapa tetes phenolphthalein. Tambahkan tetes demi tetes 0,2 M NaOH sampai warna merah muda. Kemudian teteskan 0,1 M HCl sampai warna tersebut tepat hilang (pH= 8,0). Tepat pada jam NOL tambahkan larutan tripsin tersebut ke dalam gelatin. Aduk! Setelah tercampur rata, ambil 10ml campuran, masukkan kedalam 100 ml beaker gelas. Didihkan untuk merusak enzim. Catat waktunya! Dinginkan. Tambahkan 15 ml formalin netral dan 3 tetes phenolphthalein. Pada interval 15 menit lakukan hal yang sama seperti di atas (seperti control). Semua ini dilakukan duplo. Pada masing-masing hasil reaksi di atas (interval 0, 15, 30, 60, 90, dan 120 menit) lakukan titrasi dengan 0,02 M NaOH dengan titik akhir warna merah muda.

VII.

HASIL PENGAMATAN Tabung 1 (Gelatin)

Sebanyak 100 ml gelatin (kuning bening) ditambahkan dengan 1ml phenolphthalein dan ditetesi dengan NaOH 0,2 M sebanyak 2,5ml, larutan gelatin berwarna merah muda. Lalu ditetesi dengan 0,75ml HCl 0,1M, larutan menjadi warna kuning bening.

Tabung II (Urine) Urine 100ml (kuning bening) ditambahkan dengan 1 ml PP dan ditetesi dengan NaOH 0,2 M sebanyak 8,4ml. larutan urine berubah warna menjadi merah muda. Kemudian ditetesi dengan HCl 0,1 5ml, larutan menjadi kuning bening.

Tabung I (Gelatin) + Tabung II (urine) 10 ml campuran antara gelatin+urine ditambahkan 15ml formalin+ 3 tetes penolthaplein dan dititrasi dengan NaOH 0,02 M, larutan menjadi merah muda. Table interval waktu V.NaOH rata-rata 10,2

No

Waktu t = 0

Tabung 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2

V.NaOH (ml) 10,4 10,0 10,6 10,5 11,2 10,8 11,4 10,9 11 11,5 11,8 11,2

t = 15

10,55

t = 30

11

t = 60

11,15

t = 90

11,25

t = 120

11,5

VIII.

PERSAMAAN REAKSI Reaksi pada Inkubator O O O Tripsin 2 R CH- C NH2 OH Asam Amino - C N CH C N CH H R H R

Protein Reaksi pemanasan untuk merusak enzim tripsin O R CH C NH2 OH Asam Amino

H O R C- C NH3+ OIon dipolar

Reaksi jika ditambahkan formalin H O RCC + 2CH2O NH3+ OIon dipolar Formalin H R C COOH HOH2C N CH2OH Metil diol

Reaksi Titrasi H O RCC ONa HOH2C N CH2OH Natrium metil diol

H R C COOH + NaOH HOH2C N CH2OH Metil diol Natrium hidroksida

IX.

ANALISA DATA

Hubungan antara waktu terhadap volume rata-rata dalam persamaan regresi linier
Waktu (X) t = 0 t = 15 t = 30 t = 60 t = 90 t = 120 =315 Slope = V.NaOH (Y) 10,2 10,55 11 11,15 11,25 11,5 65,8 XY 0 158,25 330 669 1012,5 1380 3549,75 X2 0 225 900 3600 8100 14400 27225 Y2 104,04 111,3 121 124,3 126,56 132,25 719,45

= 0,01199

Intersept =

= Persamaan Garis Lurus : y = bx+a

= 10,5

y = 0,01199x + 10,5 X Y 0 8.95 1 10,51 2 10,52 3 10,54 4 10,55 5 10,6

Hubungan antara waktu dan volume rata-rata, jika 1ml NaOH 0,1N equivalent dengan 1,4 mg nitrogen asam amino Waktu (X) V.NaOH (Y) XY X2 Y2 t = 0 t = 15 t = 30 t = 60 t = 90 t = 120 =315
Slope =

14,28 14,77 15,4 15,61 15,75 16,1 91,91

0 221,55 462 936,6 1417,5 1932 4969,65

0 225 900 3600 8100 14400 27225

203,92 218,15 237,6 243,67 248,06 259,2 1410,61

= 0,0135

Intersept =

= 14,6

Persamaan Garis Lurus

: y = bx+a y = 0,0135x + 14,6

X Y

0 14,6

1 14,61

2 14,63

3 14,64

4 14,65

5 14,67

X.

PEMBAHASAN

Pada percobaan ini digunakan sampel berupa larutan gelatin 5% dan larutan trypsin 1% yang akan di uji cara kerja enzimnya. Gelatin dan trypsin diperlakukan pertama menggunakan phenolphthalein berfungsi untuk melihat titik akhir titrasi tersebut, yaitu dapat terlihatnya jika terjadi perubahan warna saat ditambahkan NaOH yang kemudian dinetralkan menggunakan larutan HCl. Lalu pemasukan larutan sampel kedalam inkubator bermaksud untuk

meningkatkan kecepatan reaksi kimia dan dapat mengoptimalkan kerja reaksi asam amino pada suhu tubuh. Selain itu memiliki maksud untuk tidak merusak proteinnya yang kemudian akan dititrasi dengan NaOH. Jika larutan sampel ini ditambahkan formaldehid akan menghasilkan derivat yang membuat larutan tersebut akan bersifat asam yang lebih kuat dari larutan semulanya. Maka dari itu, larutan asam amino yang akan dititrasi ditambahkan formaldehid agar bereaksi dengan gugus asam amino yang bermuatan, dan dapat menyebabkan gugus amin pada asam amino membufer pada pH yang lebih rendah dari larutan asam amino semula. Terbentuknya dimethol dimana gugus aminonya terikat tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam karboksilat dengan NaOH . Percobaan ini dilakukan duplo yang dilakukan dalam jangka waktu beberapa menit yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol dan mengoreksi jika terdapat kesalahan dalam hasil akhir. Saat diinkubasi, gugus amino dan karboksil pada asam amino terpotong oleh trypsin. Residu asam amino yang terpotong ini akan mengikat NaOH yang akan dititrasi. Semakin lama waktu inkubaasi larutan tersebut maka akan semakin banyak NaOH yang dibutuhkan untuk dititrasi dan semakin banyak gugus amino dan karboksil yang terpotong. Lalu pemanasan yang dilakukan sebelum titrasi akan menyebabkan denaturasi, dimana bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Enzim yang telah rusak ini akan membantu untuk menemukan titik akhir yang tepat.

Menurut data percobaan yang dilakukan, telah didapat volume NaOH yang meningkat tiap menit yang berbeda masing masing tabungnya. Sehingga dari rata-rata volume NaOH yang dihitung juga tetap menunjukkan data yang meningkat. Jadi dari data yang didapat, semakin lama waktu inkubasi maka akan semakin banyak volume NaOH untuk mentitrasi. Dalam percobaan ini dimungkinkan terjadi banyak kesalahan yang diakibatkan beberapa sebab. Kesalahan berasal dari praktikan saat melakukan inkubasi ataupun pengukuran volume larutan yang dipakai dan juga berasal dari ketidaktepatan tetesan yang digunakan kedalam larutan sampel.

XI.

KESIMPULAN

Gelatin dan trypsin ditambah phenolphthalein berfungsi untuk melihat titik akhir titrasi saat ditambahkan NaOH. Larutan dimasukkan ke inkubator untuk meningkatkan kecepatan reaksi kimia, mengoptimalkan kerja reaksi asam amino pada suhu tubuh dan tidak merusak proteinnya

Larutan sampel yang ditambahkan formaldehid akan membuat larutan bersifat asam yang lebih kuat dari larutan semulanya. Penambahan formaldehid agar bereaksi dengan gugus asam amino yang bermuatan, dan dapat menyebabkan gugus amin pada asam amino membufer pada pH yang lebih rendah dari larutan asam amino semula.

Perlakukan duplo pada waktu yang berbeda bermaksud untuk mengontrol dan mengoreksi jika terdapat kesalahan dalam hasil akhir Inkubasi akan menyebabkan, gugus amino dan karboksil pada asam amino terpotong oleh trypsin. pemanasan sebelum titrasi akan menyebabkan denaturasi, bagian aktif enzim terganggu dan konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang.

10

XII.

DAFTAR PUSTAKA

Bumbungan, Nober. 2011. Protein. http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/protein.html (diakses tanggal 8 April 2012) Fessenden, JR & Fessenden, JS. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga. Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press. Underwood /R.A. Day, Jr. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Jakarta; Erlangga.

11

XIII.

GAMBAR ALAT

1 0 2 0 3 0 4 0 5 0

12

XIV.

JAWABAN PERTANYAAN :

1. Buat kurva titrasi antara volume alkali (ordinat) terhadap waktu (absis) Jawab: Kurva antara waktu dan volume rata-rata X 0 15 30 60 90 120 Y 10.2 10.55 11 11.15 11.25 11.5

12

11.5

11

10.5

10

9.5 0 15 30 60 90 120

13

Kurva antara waktu dan volume rata-rata dalam persamaan regresi linear: X 0 1 2 3 4 5 Y 8.95 10.51 10.52 10.54 10.55 10.56

11 10.5 10 9.5 9 8.5 8 0 1 2 3 4 5

14

2. Buat kurva antara mg nitrogen asam amino (ordinat) terhadap waktu (absis) Jawab: Kurva antara waktu dan mg nitrogen asam amino, jika 1ml NaOH 0,1N equivalent dengan 1,4 mg nitrogen asam amino X Y 0 1 2 3 4 5 14.6 14.61 14.63 14.64 14.65 14.67

14.68 14.66 14.64 14.62 14.6 14.58 14.56 0 1 2 3 4 5

15

3. Mengapa harus ditambahkan alkali pada formalin sampai merah muda dan phenolphthalein Jawab: Penambahan ini akan membentuk dimethiol yang berarti gugus anionnya sedah terikat, sehingga tidak mempengaruhi reaksi antara asam dengan basadan titik titrasi dapat ditentukkan dengan tepat.Dan juga agar bereaksi dengan gugus asam amino yang bermuatan, dan dapat menyebabkan gugus amin pada asam amino membufer pada pH yang lebih rendah dari larutan asam amino semula. Sedangkan penambahan phenolphthalein berguna untuk menentukan titik akhir dari titrasi.

4. Apa tujuan melakukan titrasi formal ini? Jawab: Tujuannya untuk mempelajari cara kerja enzim pada asam amino melalui cara titrasi formaldehid

16