Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA


Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi organisme biologis. Ukuran rata-rata virus lebih kecil dari pada bakteri. Virus hanya dapat beraktivitas dan bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat ( DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, karbohidrat atau kombinasi ketiganya. Genom virus menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya. Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel). Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya SlNPV), atau pada tanaman ( virus mosaic tembakau/TMV). Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus

(SlNPV) dengan nama ilmiah Baculovirus litura (Virales, Baculoviridae) merupakan salah satu patogen ulat grayak, Spodoptera litura. Virus ini pertama kali ditemukan oleh penulis pada saat mendeteksi

penyebab kematian ulat grayak yang dikoleksi dari pertanaman kedelai di Lampung Tengah pada tahun 1985. Sejak saat itu, penelitian untuk menjadikannya sebagai agensia pengendalian hayati ulat grayak pada kedelai terus dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Bogor. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilaporkan, dapat dikemukakan bahwa SlNPV memiliki potensi biotik yang tinggi (Arifin, 1993). Sebagai agensia pengendalian hayati, SlNPV sesuai dengan prinsip PHT karena (a) memiliki inang spesifik terutama ulat grayak

dan beberapa jenis serangga Noctuidae lainnya, (b) tidak mempengaruhi predator dan parasitoid, dan tidak membahayakan serangga bukan sasaran, manusia, dan lingkungan, dan (c) dapat mengatasi masalah ulat grayak yang resisten terhadap insektisida kimiawi (Starnes et al., 1993). Berdasarkan potensi biotik dan manfaat SlNPV tersebut, maka SlNPV layak untuk dikembangkan sebagai insektisida mikrobia. SIFAT BIOLOGIS 1. Deskripsi SINPV memiliki ciri khas, yaitu berupa inclusion bodies yang disebut polihedra. Polihedral berbentuk kristal bersegi banyak, berukuran 0,5-15 m, dan tampak seperti bersinar. Gambaran morfologi polihedra tersebut dapat dilihat di bawah mikroskop cahaya perbesaran 600 kali. Di bawah mikroskop elektron perbesaran 18.000 kali, tampak struktur polihedral yang terdiri atas beberapa virion, selubung protein yang membungkus virion untuk menjaga stabilitas virion di lingkungan, dan massa protein yang disebut polihedrin (Gambar 1).

2. Proses dan Gejala lnfeksi Proses infeksi SINPV dimulai dengan tertelannya polihedra bersama pakan. Di dalam saluran pencernaan yang bersuasana alkalis (pH 9,0-10,5), selubung polihedra larut sehingga membebaskan virion. Virion menginfeksi sel-sel saluran pencernakan kemudian menembus dinding saluran dan masuk ke dalam rongga tubuh. Virion kemudian menginfeksi inti dari sel-sel rentan, seperti badan lemak, hipodermis, matriks trakea, epitel, dan sel-sel darah. Dalam waktu 1-2 hari setelah polihedral tertelan, hemolimfa yang semula jernih berubah menjadi jernih karena banyak mengandung polihedra. Ulat tampak seperti berminyak dan pucat kemerahan. Ulat menuju ke puncak tanaman kemudian mati dalam keadaan menggantung dengan kaki-semunya pada bagian tanaman. Integumen mengalami lisis dan disintegrasi sehingga sangat rapuh. Apabila terkena tusukan, integumen menjadi robek dan dari dalam tubuh ulat keluar hemolimfa yang banyak mengandung polihedra. Ulat muda mati

dalam 2 hari, sedangkan ulat tua dalam 4-9 hari setelah polihedra tertelan (Ignoffo dan Couch, 1981). 3. Patogenisitas dan Efektivitas SlNPV memiliki tingkat patogenisitas yang tinggi. Hal tersebut didasarkan atas hasil penelitian yang mengemukakan bahwa LC50 (konsentrasi yang mematikan 50% populasi) dan LC90 SlNPV untuk ulat instar III, masing-masing sebesar 5,4 X 103 dan 4,1 X 104 polyhedra inclusion bodies (PIBs)/ml. Semakin muda instar ulat, semakin rentan terhadap SlNPV. Tingkat ke rentanan ulat instar I 100 kali lebih tinggi daripada ulat instar V (Arifin, 1993). Untuk mengetahui tingkat keefektitan SlNPV, suatu penelitian telah dilakukan di lahan petani, Banyuwangi. Hasilnya menunjukkan bahwa dosis 1,5 X 1012 PIBs/ha yang semula dinyatakan efektif terhadap ulatgrayak di rumah kaca dengan tingkat kematian ulat 73%, menurun menjadi 33% apabila diaplikasikan ke lapang (Arifin, 1993). Salah satu faktor penyebab menurunnya tingkat efektivitas SlNPV adalah sifatnya yang peka terhadap radiasi sinar surya. 4. Stabilitas Sinar surya khususnya sinar ultra-violet dengan panjang gelombang >290 nm merupakan faktor penghambat SlNPV. Untuk mencegah terjadinya inaktivasi karena radiasi sinar surya, beberapa bahan pelindung banyak digunakan, antara lain karbon, pewarna dengan bahan dasar karbon, alumunium oksida, titanium dioksida, lempung, tepung, dan bahan flourescent, seperti polyflavonoids dan bahan pemutih (Ignoffo dan Couch, 1981). Suhu di atas 400 C juga menghambat NPV, khususnya dalam proses replikasi virion. NPV dalam air pada suhu 370 C mulai menjadi inaktif setelah 7 hari. NPV relatif stabil pada suhu -200 C dan menjadi inaktif setelah 15 tahun. NPV yang disimpan pada suhu 270 C mulai mengalami inaktivasi setelah 5 tahun (Ignoffo dan Couch, 1981). Suasana asam (pH 4,0) atau alkalis (pH 9,0) merusak aktivitas NPV. Untuk mencegahnya diperlukan fosfat penyangga. Umumnya, insektisida kimiawi kompatibel dengan NPV, kecuali methyl parathion karena menginaktivasi polihedra. Formalin dan natrium hipoklorit merusak virion sehingga sering digunakan sebagai disinfektan (Ignoffo and Couch, 1981).

BAB III METODE PENELITIAN


A. Memperbanyak Virus 1. Alat dan Bahan Alat : 1. Botol kapsul R30 (Botol / gelas bekas air mineral) 2. Kain kasa 3. Karet gelang Bahan : 1. Virus SINPV 2. Ulat grayak dan daun jarak 3. Pakan alami : baby corn 4. Pakan buatan (komposisi dari Balitas Malang 5. Clorox 4. Cawan petri 5. Pinset 6. Pipet 0,1 ml 7. Lampu spiritus

2. Cara Kerja : 1. Membersihkan botol kapsul / gelas bekas air mineral. Setelah itu merendam pinset dan petri disk dengan merendam dalam 10% Clorox selama 1 malam, kemudian mencuci dengan sabun dan membiarkan kering di bawah sinar matahari selama 4 jam 2. Membersihkan daun jarak dengan aquades, setelah itu memotong kurang lebih 5 cm dan menaruh di dalam botol / gelas bekas air mineral. 3. Memasukkan ulat grayak ke dalam botol tersebut, kemudian menutup dengan kain kasa (satu botol bias lebih dari satu karena ulat ini tidak kanibal). 4. Mengganti pakan setiap 2 hari sekali (dijaga jangan sampai pakan tersebut kering / lembab), setelah ulat mencapai instar 3-4 (berumur 7-9 hari jika ulat baru menetas dari telur) tetapi jika tidak sampai ulat berukuran kurang lebih 1-1,5 cm telah ganti kulit sebanyak 3-4 kali. 5. Apabila menggunakan pakan buatan maka memotong pakan buatan kecil-kecil (1-2 cm),setelah itu memasukkan ke dalam botol kapsul. Meletakkan ulat dalam botol dan menutup botol dengan kain kasa, kemudian menunggu sampai ukuran yang dikehendaki yaitu 1-1,5 cm. Setelah itu ulat siap di jadikan inang.

6. Menaruh 1 ekor ulat ke dalam cawan petri yang steril yang telah di tetesi 0,1 ml virus, setelah itu membiarkan selama 0,5-1 jam sehingga ulat meminum cairan virus. Apabila menggunakan pakan buatan maka cara menginfeksi melakukan dengan memasukkan pakan dalam suspensi virus. 7. Memelihara ulat yang telah terkontaminasi virus dalam botoldan member makan daun jarak / pakan buatan sampai ulat tersebut mati. Ulat yang mati karena terinfeksi virus, maka akan menggantung di atas kain kasa dengan posisi kaki abdomennya menghadap ke bawah kain kasa atau seperti huruf V terbalik. 8. Memanen ulat yang telah mati tersebut (dalam tubuhnya telah penuh berisi virus) secara hati-hati karena tubuh mudah hancur. 9. Cara membersihkan kotoran ulat yaitu dengan menggunakan pinset kemudian jepit kepalanyadan mengangkat pelna-pelan. Setelah itu memasukkan dan menyimpan dalam freezer. Apabila telah kumpul banyak, ulat siap untuk dimurnikan.

B. Pemurnian Virus 1. Alat dan Bahan Alat : 1. Sentrifuse 2. Kertas Saring steril 3. Gelas Ukur 4. Mortal dan Alu Bahan : 1. Ulat grayak yang mati terinfeksi virus 2. Aquades steril 5. Pengaduk 6. Tabung reaksi 7. Masker 8. Semprot Alkohol

2. Cara Kerja 1. Menyiapkan sentrifuse, kerta saring steril, gelas ukur steril, mortal dan alu, tabung reaksi kaca dan ulat grayak yang mati terinfeksi virus. 2. Menyemprotkan tempat kerja dan tangan sebelum kerja supaya steril dan tidak terkontaminasi.

3. Memakai masker karena dalam proses pemurnian virus sangat bau, setelah itu menghaluskan ulat grayak telah mati terinfeksi virus dengan menggunakan mortal. Menambahkan aquades steril bila terlalu pekat.

4. Menyaring dengan menggunakan kertas saring dan memasukkan ke dalam tabung sentrifuse, menyaring lagi karena masih terdapat bagian tubuh ulat belum tersaring. Setelah itu memurnikan dengan melakukan sentrifuse pada kecepatan 3.500 rpm selama 15 menit.

5. Membuang supernatannya (air yan ada di atas endapan) dan menambahkan aquades steril kemudian memvorteks hingga homogen. Mensentrifuse kembali pada kecepatan dan waktu yang sama sampai warna supernatan jernih, mengulangi sampai 3-5 kali.

6. Mengamati morfologi virus di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x, virus akan terlihat bulat bercahaya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan 1. Memperbanyak Virus Dari hasil praktikum yang kami lakukan, terlihat bahwa ulat yang mati akibat memakan makanan yang telah dicampur dengan virus SINPV tampak seperti berminyak dan pucat kemerahan. Sebelum mati ulat menuju ke puncak wadah kemudian mati dalam keadaan menggantung dengan kaki-semu belakangnya membentuk huruf V terbalik pada kain kassa yang dijadikan penutup tabung. Tubuhnya sangat lunak dan mudah hancur, jika disentuh akan mengeluarkan cairan seperti nanah, hali ini dikarenakan integumennya mengalami lisis dan disintegrasi sehingga sangat rapuh. Apabila terkena tusukan, pada bagian integumennya akan menjadi robek dan dari dalam tubuh ulat keluar hemolimfa yang banyak mengandung polihedra. Ulat muda mati dalam 2 hari, sedangkan ulat yang kami pelihara mati dalam jangka waktu 10 hari setelah polihedra tertelan. 2. Pemurnian Virus Gambar virus Polihedral

Dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 400 X

Nama virus Jenis inang

: Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SlNPV) : Ulat grayak

Bentuk virus : Polihedral Warna virus Analisis Berdasarkan hasil pengamatan diatas maka dapat dianalisis bahwa hasil praktikum memperbanyak virus dan pemurnian virus, kelompok kami telah berhasil memperoleh virus Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SLNPV) dari inang ulat grayak (Spodoptera litura) yang memiliki bentuk polihedral, berwarna bening dan tampak bersinar, serta jumlah virus yang kami peroleh tidak terlalu banyak. : Bening dan tampak bersinar

B. Pembahasan Pada percobaan yang kami lakukan dalam memperbanyak virus. Kami memperoleh ulat Spodoptera litura yang telah mati karena terinfeksi virus SINPV (Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus). Gejala infeksi SINPV pada ulat grayak akan terlihat setelah 1-3 hari SINPV tertelan, ditandai dengan terlihatnya warna putih kecoklatan pada bagian perutnya, sedangkan pada bagian punggung berwarna coklat kehitaman. Dan pada umumnya ulat yang telah terinfeksi akan berkurang kemampuan makannya, gerakan menjadi lambat, dan tubuh membengkak akibat replikasi dari virus SINPV. Integumen ulat menjadi lunak, rapuh, dan mudah hancur. Apabila tubuh ulat tersebut pecah maka akan mengeluarkan cairan kental berwarna kuning kecoklatan seperti nana yang merupakan cairan NPV dengan bau yang sangat menyengat. Gejala lain ditunjukkan dengan tubuh ulat menggantung pada bagian ujung wadah dengan kedua kaki semu bagian abdomennya menempel pada kain kassa yang dijadikan penutup tabung membentuk huruf V terbalik. Setelah diperoleh ulat yang mati karena terinfeksi virus SINPV kami melakukan pemurnian virus dan kemudian kami mengamatinya dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400 X. Hasilnya virus yang kami peroleh berbentuk hedral, berwarna bening dan nampak bersinar, serta jumlahnya sedikit.

BAB V PENUTUP
A. Simpulan Dari percobaan memperbanyak dan pemurnian virus didapatkan bahwa kelompok kami memperoleh virus SINPV (Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus) dari ulat Spodoptera litura. Dan hasil dari pengamatan dibawah mikroskop diperoleh virus SINPV (Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus) berbentuk hedral, berwarna bening dan nampak bersinar, serta jumlahnya sedikit.

DAFTAR PUSTAKA
Trimulyono, Guntur. 2011. Panduan Praktikum Virus. Surabaya: University Press IKIP Surabaya. Mzaenuri. 2009. Pemanfaatan Virus SINPV. http://mzaenuri.wordpress.com/2009/10/. Di akses pada tanggal 4 Desember 2011 http://www.indobiogen.or.id/produk/SlNPV.php. Di akses pada tanggal 4 Desember 2011 http://muhammadarifindrprof.blogspot.com/2011/02/pemanfaatan-slnpv-sebagaiagensia.html. Di akses pada tanggal 4 Desember 2011 Tohari. 2010. Agriculture. http://tohariyusuf.wordpress.com/, diakses pada tanggal 4 desember 2011 http://www.scribd.com/doc/34259519/8/E-UJI-RESISTENSI, diakses pada tanggal 4 desember 2011