Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Jika dua buah zat direaksikan maka kemungkinan yang terjadi adalah : Tidak terjadi reaksi kimia Terjadi reaksi kimia

Bila terjadi reaksi kimia, kemungkinan yang terjadi adalah : Reaksi berkesudahan ; maksudnya, setelah terbentuk produk maka reaksi berhenti Reaksi tak berkesudahanatau reaksi dapat balik ; maksudnya, setelah zat pereaksi berubah menjadi produk, maka produk terurai kembali zat pereaksi. Reaksi berkesudahan disebut juga reaksi yang tidak dapat balik atau irreversible Reaksi tak berkesudahan disebut juga reaksi dapat balik atau reversible. Pada reaksi dapat balik, reaksi kimia berlangsung dalam dua arah yaitu ke arah produk dan reaktan. Perhatikan reaksi berikut : HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l) (contoh Reaksi tidak dapat balik) 2H2(g) + O2(g) 2H2O(g) (contoh reaksi bolak balik ) B. Tujuan Penulisan 1. Dapat mendefinisikan kesetimbangan dinamis 2. Memahami pergeseran kesetimbangan 3. Mengetahui kesetimbangan dalam industry 4. Dapat menetapkan harga kesetimbangan konsentrasi (Kc) 5. Dapat menetapkan harga konstanta kesetimbangan dalam system gas

6. Dapat memahami hubungan antara konstanta kesetimbangan tekanan (kp) dengan konstanta kesetimbangan konsentrasi (Kc) C. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan kesetimbangan dinamis, jenis reaksi kesetimbangan, dan tetapan kesetimbangan? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan? 3. Aplikasi kesetimbangan kimia dalam industri

BAB II PEMBAHASAN

A. KESETIMBANGAN DINAMIS 1. Pengertian Kesetimbangan Pada reaksi yang berlangsung bolak balik, ada saat dimana laju terbentuknya produk sama dengan laju terurainya kembali produk menjadi reaktan. Pada keadaan ini, biasanya tidak terlihat lagi ada perubahan. Keadaan reaksi dengan laju reaksi maju (ke kanan) sama dengan laju reaksi baliknya (ke kiri) dinamakan keadaan setimbang. Reaksi yang berada dalam keadaan setimbang disebut Sistem Kesetimbangan. Perhatikan reaksi berikut.

CuSO4. 5H2O (Reaktan) <=> CuSO4 + 5H2O (Produk)

Laju reaksi ke kanan = laju reaksi ke kiri

2. Kesetimbangan Kimia Bersifat Dinamis Reaksi yang berlangsung setimbang bersifat dinamis, artinya reaksinya berlangsung terus -menerusdalam dua arah yang berlawanan dan dengan laju reaksi yang sama. Contoh kesetimbangan dinamis dalam kehidupan sehari-hari dapat digambarkan pada proses penguapan air. Bila air dipanaskan dalam wadah tertutup rapat, airnya lama kelamaan akan habis berubah menjadi uap air. Tetapi belum sempat habis, uap air yang naik ke atas mengalami kejenuhan sehingga akan jatuh kembali menjadi embun. Apabila dibiarkan terusmenerus, kecepatan menguapnya air akan sama dengan kecepatan mengembunnya uap air menjadi air. Pada saat itu, tercapai keadaan setimbang dimana tidak nampak lagi adanya perubahan ketinggian air dalam wadah tertutup tersebut. Berdasarkan reaksinya, kesetimbangan kimia dibedakan menjadi 2 yaitu : Kesetimbangan homogen

Yaitu kesetimbangan yang fase zat-zat yang bereaksi sama Contoh : 2SO2(g) + O2(g) <=> 2 SO3(g) (semua berfase gas) Kesetimbangan heterogen Yaitu kesetimbangan yang fase zat-zat yang bereaksi berbeda. Contoh : CaO(s) + CO2(g) <=> CaCO3(s) (berfase padat-gas)

B. PERGESERAN KESETIMBANGAN Karena kesetimbangan bersifat dinamis, maka suatu reaksi yang berada dalam keadaan setimbang dapat mengalami gangguan oleh faktor-faktor tertentu yang mengakibatkan terjadi pergeseran kesetimbangan, misalnya semua produk berubah kembali menjadi zat semula (reaktan). Dalam memproduksi sesuatu, hal ini tentu tak diinginkan. Justru yang dikehendaki adalah bagaimana memproduksi sesuatu sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, sistem kesetimbangan kimia harus dapat dikendalikan sehingga produk yang terbentuk di ruas kanan jumlahnya maksimal, sedangkan zat-zat yang bereaksi harus bersisa seminimal mungkin. Ada 3 cara perlakuan agar sistem kesetimbangan dapat digeser ke arah yang dikehendaki, yaitu ; Mengubah konsentrasi zat Mengubah suhu Mengubah tekanan atau volume gas Azas Le Chatelier : Apabila kedalam sistem kesetimbangan diberikan aksi, maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa , sehingga pengaruh aksi tadi menjadi sekecil- kecilnya. (Prinsip ini disebut prinsip pergeseran kesetimbangan atau azas Le Chatelier)

Pengaruh Perubahan Konsentrasi Terhadap Kesetimbangan


Perhatikan reaksi pembentukan gas amonia berikut :

N2(g) + 3H2(g) <=> 2NH3(g) H = -92 kJ

Jika konsentrasi salah satu zat ditambah, maka sistem akan bergeser dari arah zat tersebut. Jika konsentrasi salah satu zat dikurangi, maka sistem akan bergeser ke arah zat tersebut.

AKSI YANG DIBERIKAN N2 ditambah N2 dikurangi H2 ditambah H2 dikurangi NH3 ditambah NH3 dikurangi

ARAH PERGESERAN Ke kanan(produk bertambah) Ke kiri(produk berubah menjadi reaktan) Ke kanan(produk bertambah) Ke kiri(produk berubah menjadi reaktan) Ke kiri(produk berubah menjadi reaktan) Ke kanan(produk bertambah)

Pengaruh Perubahan Suhu Terhadap Kesetimbangan Perhatikan reaksi pembentukan gas amonia berikut : N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92 kJ

Sistem kesetimbangan ini bersifat eksothermis ke arah kanan dan endothermis ke arah kiri Jika suhu dinaikkan, maka reaksi akan bergeser ke kiri yaitu reaksi yang bersifat endothermis. N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92 kJ

Sebaliknya bila suhu reaksi diturunkan makareaksi akan bergeser ke kanan yaitu reaksi yang

bersifat eksothermis. N2(g) +3H2(g) 2NH3(g) H = -92 kJ

Untuk sekedar diingat kembali :


H reaksi negatif berarti pembetukan produk tidak memerlukan energi, justru menghasilkan

energi,

Jika H positif berarti reaktan membutuhkan energi untuk menghasilkan produk.

Pada reaksi di atas, reaksi ke kanan tidak butuh energi sedang reaksi ke kiri membutuhkan energi
Reaksi eksothermis adalah reaksi bersifat spontan , tidak memerlukan energi melainkan

justrumenghasilkan energi Reaksi endothermis adalah reaksi yang membutuhkan energi/ kalor untuk bisa bereaksi Pengaruh Perubahan Tekanan atau Volume Terhadap Kesetimbangan Perubahan tekanan dan volume hanya berpengaruh pada sistem kesetimbangan antara fasa gas dengan gas. Sedang sistem kesetimbangan yang melibatkan fasa cair atau padat, perubahan tekanan dan volum dianggap tidak ada.
Jika tekanan diperbesar, maka volume mengecildan jika tekanan dikurangi maka volume akan

bertambah.
Menurut hukum gas ideal, bahwa tekanan berbanding lurus dengan jumlah mol gas. Jika

tekanan diperbesar maka jumlah mol juga bertambah. Dengan demikian, jika tekanan diperbesar maka kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang jumlah molnya lebih kecil. Perhatikan reaksi berikut : N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92 kJ

Jika tekanan diperbesar (volume mengecil) maka kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, sebab jumlah molnyalebih kecil yaitu 2 mol.
Jika tekanan dikurangi (volume bertambah) , maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri,

karena jumlah molnya lebih besar yaitu 4 mol Pengaruh Katalisator Dalam sistem kesetimbangan,katalisator tidak mempengaruhi letak kesetimbangan. Penambahan Katalis pada sistem hanya dimaksudkan untuk mempercepat terjadinya keadaan setimbang.

C. KESETIMBANGAN DALAM INDUSTRI Banyak proses dalam industri kimia merupakan reaksi setimbang.
Pada setiap industri, proses produksi senantiasa diupayakan berjalan seefisien mungkin.

Artinya, produk dihasilkan sebanyak mungkin dengan biaya yang dikeluarkan sedikit. Dengan menggunakan azas Le Chatelier, dapat diperoleh suatu kondisi yang optimal agar tujuan tersebut dapat tercapai. Berikut adalah proses pembuatan amonia dalam industri yang dikenal dengan proses Haber- Bosch.
Pada proses ini amonia dibuat dengan mereaksikan gas nitrogen dan gas hidrogen menurut

reaksi : N2(g) +3H2(g) 2NH3(g)

H = -92 kJ

Dari persamaan reaksi diketahui bahwa reaksi ke kanan bersifat eksothermis.


Agar proses berlangsung seefisien mungkin, maka diupayakan agar kesetimbangan selalu

bergeser ke kanan sehingga dihasilkan gas amonia sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkatsingkatnya. Untuk itu prosesnya sbb: Untuk mempercepat reaksi, digunakan katalisberupa campuran serbuk besi dengan Al2O3, MgO, CaO dan K2O. Menurut azas Le Chatelier, sistem kesetimbangan akan bergeser ke arah NH3 jika suhu reaksi rendah. Namun pada suhu rendah, tumbukan antar partikel N2 dan H2 tidak efektif sehingga reaksi berjalan lambat dan katalis besi kurang aktif pada suhu rendah.Haber-Bosch menggunakan suhu tinggi. Tapi akibatnya kesetimbangan akan bergeser ke kiri.Untuk mengimbangi pergeseran reaksi ke kiri akibat kenaikan suhu, maka tekanannya dinaikkan. Dengan menaikkan tekanan, maka posisi molekul semakin rapat sehingga tumbukan antar molekul semakin sering terjadi, akibatnya reaksi pembentukan NH3 semakin cepat berlangsung dan sistem kesetimbangan akhirnya bergeser ke arah NH3. Selain itu agar reaksi terus bergerak ke kanan, maka NH3 yang sudah terbentuk segera dipisahkandengan cara mengubahnya menjadi amonia cair. Pada kondisi cair, amonia tidak akan bereaksi balik menjadi N2 dan H2 Secara singkat, proses pembuatan amoniaadalah sbb: Menggunakan katalis untuk mempercepat reaksi Suhu reaksi tinggi agar agar tumbukan antar molekul efektif dan katalis berfungsi dengan baik

Sistem diberi tekanan tinggi untuk memaksa reaksi yang bergerak ke kiri akibat suhu tinggi berubah menjadi ke kanan.

Amonia yang sudah terbentuk segera dipisahkan dari reaksi agar tidak kembali menjadi N2 dan H2 D.

D. TETAPAN KESETIMBANGAN (Kc) Untuk setiap sistem kesetimbangan yang berlangsung pada suhu tetap maka berlaku hukum kesetimbangan sbb: Perbandingan konsentrasi zat produk dengan zat reaktan masing-masing dipangkatkan dengan koefisiennya adalah tetap.

Perhatikan hasil percobaan reaksi kesetimbangan berikut (berlangsung pada suhu 700 C) : H2(g) +I2(g) 2HI(g)

Dari data hasil percobaan di atas terlihat bahwa nilai perbandingan konsentrasi produk dengan reaktan tetap. Dengan demikian, secara umum untuk sistem kesetimbangan yang sifatnya homogen semisal ;

aA(g) + bB(g) cC(g) + dD(g)

E. DERAJAT DISOSIASI ()

Derajat disosiasi () adalah perbandingan antara jumlah mol zat yang terurai terhadap jumlah mol zat mula-mula. Secara matematis ditulis;

Derajat disosiasi merupakan ukuran tentang banyaknya zat yang terbentuk dalam suatu reaksi.Semakin besar nilai berarti semakin banyak zat terbentuk.

F. TETAPAN KESETIMBANGAN GAS (Kp)


Untuk suatu sistem kesetimbangan yang melibatkan gas, pengukuran dilakukan terhadap

tekanan, bukan terhadap konsentrasi.


Dalam reaksi gas, harga tetapan kesetimbangan dihitung berdasarkan tekanan parsial dari gas-

gas yang dinyatakan dengan Kp. Secara umum persamaannya adalah

Tekanan totalnya adalahP = pA + pB + pC + pD Tekanan Parsialnya dihitung dengan rumus :

G. HUBUNGAN Kp DENGAN Kc Dari persamaan gas ideal; PV = nRT, nilai tekanan parsial dapat ditentukan dengan rumus

Untuk persamaan reaksi

Nilai tekanan parsial untuk gas A adalah

demikian pula untuk pB, pC, dan pD, sehingga diperoleh ;

BAB III PENUTUP

Kesimpulan : Ciri-Ciri Kesetimbangan kimia Hanya terjadi dalam wadah tertutup, pada suhu dan tekanan tetap

Reaksinya berlangsung terus-menerus (dinamis) dalam dua arah yang berlawanan Laju reaksi maju (ke kanan) sama dengan laju reaksi balik (ke kiri) Semua komponen yang terlibat dalam reaksi tetap ada Tidak terjadi perubahan yang sifatnya dapat diukur maupun diamati

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com www.wikipedia.com www.chemistry.org.com

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, segala puji bagi Allah SWT. Salawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW.

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat-Nya, karena dengan rahmat-Nya kami dapat menyusun makalah ini tentang KESETIMBANGAN KIMIA. Semoga dengan makalah ini dapat dijadikan sarana untuk menambah ilmu serta bermanfaat bagi semua. Kami menyadari keterbatasan ilmu, wawasan, dan referensi membuat makalah ini terkesan singkat dan tidak menyeluruh, bahkan mungkin masih banyak hal penting yang belum dibahas dalam makalah ini. Oleh Karena itu, kami berharap kritik dan saran dari teman-teman, dosen dan asisten untuk melengkapi dan memperbaiki makalah ini. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT kita tawakkal serta memohon hidayah dan rahmat-Nya.

Yogyakarta, 30 Mei 2011

Penulis

MAKALAH KIMIA FISIKA TENTANG KESETIMBANGAN KIMIA

Disusun Oleh : KHAIRUL HILMI (1052103) RIZKY WIDIYANTO P. (10521027) PUSPITANING NOVIA PUTRI(10521052)

JURUSAN TEKNIK KIMIA-TEKSTIL FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2010/2011