Anda di halaman 1dari 11

1

STUDI STABILITAS TRANSIEN MULTIMESIN


PADA SISTEM TENAGA LITRIK
(STUDI KASUS : PT. PLN P3B SUMATERA)

Maherianto
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Andalas

ABSTRAK
Suatu sistem tenaga listrik umumnya terdiri dari banyak unit pembangkit (multimesin) yang terinterkoneksi
satu sama lain melalui jaringan transmisi. Dalam menjaga kontinuitas penyaluran daya listrik dari pembangkit
sampai konsumen, suatu sistem tenaga listrik haruslah terjaga keandalan sistemnya. Sistem yang andal hendaknya
mampu menjaga sistem tetap dalam keadaan stabil. Stabilitas sistem tenaga listrik berhubungan dengan
kemampuan sistem mengembalikan keadaan sistem pada operasi normalnya setelah terjadi gangguan.
Pada studi stabilitas transien multmesin ini akan dilihat pengaruh gangguan tiga fasa simetris terhadap
perilaku unit pembangkit (generator) saat kondisi peralihan dalam menentukan waktu kritis pemutusan (Critical
clearing time, CCT) gangguan tersebut. Dengan menggunakan perangkat lunak Matlab dilakukan simulasi transien
terhadap sistem tenaga listrik pada studi kasus PT.PLN P3B Sumatera dengan berdasar pada metode euler. Dari
hasil simulasi menunjukan bahwa CCT untuk sistem tenaga listrik PT.PLN P3B Sumatera mempunyai waktu
tercepat untuk subsistem Sumbagut adalah 0.24 s dan subsistem Sumbagselteng adalah 0.17 s. Hasil tersebut telah
memenuhi standar aturan Menteri ESDM CCA1 2.2 no. 37 Tahun 2008.

Kata kunci : Multimesin, stabilitas, transien, PT.PLN P3B Sumatera, CCT

I. PENDAHULUAN
Suatu sistem tenaga listrik yang besar pada
umumnya memiliki beberapa pusat pembangkit yang
terdiri dari banyak generator (multimesin). Suplai
daya listrik dari pusat-pusat pembangkit sampai ke
konsumen haruslah dijaga keandalan sistemnya.
Sistem yang andal berhubungan dengan kemampuan
sistem menjaga tetap dalam keadaan stabil dan
terjaga kontinuitas penyaluran tenaga listriknya dari
berbagai macam gangguan. Menurut Aris Sofyan
Hidayat dalam studinya menyatakan bahwa
terjadinya gangguan pada sistem dapat
mempengaruhi perubahan parameter-parameter
sistem antara lain tegangan, arus, daya, sudut rotor
(osilasi), frekuensi dan sudut daya
[2]
.
Ketidakstabilan sistem daya dapat menyebabkan
terganggunya pelayanan penyaluran tenaga, hal ini
sangat merugikan baik di pihak penyedia layanan
tenaga maupun konsumennya. Dalam perencanaan,
pengembangan dan pengujian sistem tenaga listrik
yang andal, perlu adanya studi mengenai kestabilan
sistem tenaga listrik. Kestabilan sistem daya
berhubungan dengan kemampuan suatu sistem tenaga
listrik untuk beroperasi normal kembali setelah tejadi
gangguan
[10]
. Suatu kestabilan sistem daya listrik
berhubungan dengan perilaku dinamis generator yang
dipengaruhi oleh perilaku dinamis sudut rotor
generator dan hubungan terhadap sudut-daya nya
[5]
.
Kestabilan transien merupakan kemampuan suatu
sistem daya dalam menjaga sinkronisasi generator
saat terjadi gangguan peralihan seperti gangguan
pada saluran transmisi, lepasnya generator, atau
lepasnya beban yang besar.
Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan studi
kestabilan peralihan sistem tenaga listrik dalam
menentukan waktu kritis pemutusan gangguan
(critical clearing time) dalam pengaruhnya terhadap
generator. Sistem tenaga listrik yang diuji adalah
sistem tenaga listrik PT. PLN P3B Sumatera yang
terdiri dari subsistem Sumatera Bagian Utara
(Sumbagut) yang meliputi propinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut) dan
subsistem Sumatera Bagian Selatan Tengah
(Sumbagselteng) yang meliputi propinsi Riau,
Sumatera Barat (Sumbar), Jambi, Bengkulu,
Sumatera Selatan (Sumsel) dan Lampung.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
menentukan waktu pemutusan kritis (critical clearing
time) sistem tenaga listrik PT. PLN P3B Sumatera
yang digunakan sebagai acuan batasan waktu kritis
pemutusan alat proteksi sistem. Batasan masalah dari
penelitian ini sebagai berikut :
1. Perhitungan aliran daya dilakukan dengan
menggunakan metoda Newton Raphson.
2. Perhitungan kurva ayunan menggunakan
metode Euler.
3. Waktu kritis pemutusan gangguan mengacu
pada standar aturan Menteri Energi Sumber
Daya Mineral (ESDM) CCA1 2.2 No. 37 Tahun
2008
[3]
, yaitu sebesar 120 ms untuk sistem 150
kV dan 150 ms untuk sistem 66 kV.
2

4. Model dinamik pembangkit sebagian
merupakan data tipikal.

II. DASAR TEORI
2.1 Sistem Tenaga Listrik
Sistem tenaga listrik adalah suatu sistem yang
membangkitkan, mengatur, menyalurkan, membagi,
dan memanfaatkan tenaga listrik. Tenaga listrik
dibangkitkan oleh pusat-pusat tenaga listrik, yaitu :
PLTA, PLTU, PLTN, PLTD, dan lain sebagainya.
Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga komponen
utama: pusat pembangkit listrik, saluran transmisi,
dan sistem distribusi. Selain komponen utama
tersebut, terdapat komponen-komponen lainnya yang
sangat penting dan berpengaruh dalam studi analisis
sistem tenga listrik, yaitu: transformator daya,
kondensator-kondensator sinkron arus statis, dan
beban-beban yang terdiri dari beban dinamik dan
beban statis.
Dalam studi analisis sistem tenaga biasanya
dilakukan pemodelan terhadap komponen-komponen
sistem tersebut diatas dengan menggambarkan
diagram tunggal sistem dengan tujuan
menyederhanakan dan memberikan informasi yang
diperlukan dalam analisis. Selain itu, untuk
penyederhanaan dalam analisis digunakan kuantitas
per unit (pu) yang dinyatakan sebagai perbandingan
kuantitas terhadap nilai dasarnya dalam desimal.

2.2 Studi Aliran Daya
Studi aliran daya merupakan perhitungan untuk
menentukan tegangan, arus, dan faktor daya atau
daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik dalam
suatu jaringan listrik pada keadaan pengoperasian
normal (kondisi steady state) baik yang dalam
keadaan beroperasi maupun dalam perencanaan dan
pengembangan sistem yang akan datang. Studi aliran
daya biasanya digunakan untuk mengetahui efek
interkoneksi sistem, perubahan beban, perubahan
pada unit pembangkitan, serta pengaruh perubahan
saluran transmisi. Dalam studi kestabilan transien
sistem tenaga, analisis aliran daya digunakan sebagai
kondisi awal sistem sebelum gangguan (steady-state).
Sistem daya pada setiap bus atau simpul
dipresentasikan dalam empat variabel yang meliputi
daya aktif (P), daya reaktif (Q), magnitude tegangan
(V) dan sudut fasa (). Persamaan aliran daya
menyelesaikan dua dari empat variable yang telah
disebutkan diatas dan dua sisanya harus diselesaikan
dengan persamaan. Berdasarkan hal itu, secara umum
bus dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori. Pada
setiap kategori bus tersebut dua dari empat variable
sudah diketahui sedangkan dua variable lainnya
dihitung dengan persamaan aliran daya. Adapun
ketiga kategori tersebut antara lain :
1. Bus Beban (Bus P-Q), Pada bus ini injeksi
daya aktif (P) maupun daya reaktif, keduanya
ditentukan. Sedangkan magnitude (V) dan sudut
fasa () dihitung.
2. Bus Pembangkit (Bus P-V), Pada bus ini
injeksi daya aktif (P) dan magnitud tegangan
(V) yang ditentukan sedangkan sudut fasa ()
dan injeksi daya reaktif (Q) dihitung.
3. Bus Slack, Pada bus ini magnitude tegangan (V)
dan sudut fasa tegangan () ditentukan, injeksi
daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) dihitung.

2.3 Metode Newton Raphson
Untuk meyelasaikan solusi persamaan dalam
aliran daya salah satunya dapat digunakan metode
Newton-Raphson. Langkah dalam metode ini adalah
sebagai berikut :
1. Melakukan penomoran bus serta menyusun data
sistem.
2. Membentuk impedansi jaringan sistem dan
menyusun ke dalam bentuk matriks admitansi
jaringan sistem tersebut.
3. Melakukan perhitungan daya terjadwal pada
setiap bus dan menghitung mismatch daya (
i
P A

,
i
Q A
).
4. Membentuk matriks Jacobian untuk
menentukan dengan menggunakan nilai-nilai
perkiraan sudut dan tegangan. Hal ini dilakukan
berulang kali (iterasi) sampai didapat nilai
sudut dan tegangan yang sesuai dengan tingkat
ketelitian yang telah dipilih atau telah mencapai
konvergen.
5. Melakukan perhitungan daya pada slack bus,
daya reaktif pada bus PV setelah konvergensi
telah tercapai.

2.3 Studi Stabilitas Sistem Tenaga
Stabilitas sistem tenaga listrik merupakan
kemampuan suatu sistem tenaga listrik atau bagian
dari komponennya untuk mempertahankan
sinkronisasi generator dan keseimbangan sistem.
Ketidakstabilan dapat menimbulkan masalah dalam
sistem jaringan. Ketidakstabilan yang ditimbulkan
dapat menyebabkan terganggunya sistem transmisi
listrik dan terjadinya juga kerusakan pada
peralatan
[9]
.
Untuk memudahkan analisis, masalah stabilitas
dibagi menjadi dua: stabilitas steady state dan
stabilitas peralihan. Stabilitas steady state
menunjukan pada kemampuan sistem daya untuk
mengembalikan pada kondisi sinkron setelah adanya
gangguan kecil dan pelan, seperti perubahan daya
yang pelan, sedangkan Studi kestabilan peralihan
merupakan kemampuan suatu sistem daya dalam
menjaga sinkronisasi generator saat terjadi gangguan
3

peralihan seperti gangguan pada saluran transmisi,
lepasnya generator, atau lepasnya beban yang besar.
Kestabilan sistem daya listrik berhubungan
dengan perilaku dinamis generator yang dipengaruhi
oleh perilaku dinamis sudut rotor generator dan
hubungan terhadap sudut-daya nya. Persamaan yang
mengatur pergerakan rotor generator sinkron
didasarkan pada prinsip dasar dalam dinamika yang
menyatakan bahwa torka percepatan merupakan hasil
dari perkalian momen inertia (momen kelembanan)
rotor dengan percepatan sudutnya.
2
2
-
m
a m e
d
J T T T N m
dt
u
= =
(1)
J = total momen inertia dari masa rotor, dalam
kg-m
2

m
u = pergeseran sudut dari rotor terhadap sudut
diam (stationary axis), dalam t radian
mekanis (rad)
t = waktu, dalam sekon (s)
m
T
= torka mekanis atau poros penggerak yang
di berikan oleh penggerak mula dikurangi
torka perlambatan yang disebabkan rugi-
rugi rotasi , dalam N-m
e
T
= torka elektromagnetis, dalam N-m
a
T = torka percepatan, dalam N-m
Daya merupakan Torka dikali kecepatan sudut maka,
2
2
180
a m e
H d
P P P
f dt
o
= =
(2)
( )
2
2
180 180
a m e
d f f
P P P
dt H H
o
= =
(3)
H

= daya kinetis yang tersimpan dalam
megajoule pada kecepatan sinkron dalam
rating mesin (MJ/MVA)
e
P

= keluaran Daya listrik, dalam pu
m
P

= keluaran Daya mekanis, dalam pu
2
2
d
dt
o = persamaan ayunan generator, (derajat
listrik/det
2
)

2.4 Stabilitas Peralihan Multimesin
Untuk mengurangi kerumitan dalam analisis
stabilitas peralihan multimesin, maka dilakukan
penyederhanaan dengan beberapa asumsi berikut :
1. Setiap mesin sinkron direpresentasikan oleh
sumber tegangan yang konstan terhadap
reaktansi direct axis nya. Dengan mengabaikan
efek saliency dan fluks bocornya konstan.
2. perilaku governors diabaikan dan daya input
mekanis diasumsikan konstan selama periode
simulasi.
3. Dengan menggunakan tegangan bus sebelum
gangguan (prefault), semua beban diubah ke
dalam admitansi ekivalen ke tanah dan
diasumsikan konstan.
4. Sudut rotor mekanis setiap mesin disamakan
dengan sudut tegangan terhadap reaktansi
mesin.
Dalam penyelesaian kestabilan multimesin
ditentukan persamaan ayunan rotor generator sebagai
berikut :
arus mesin ke-i :
*
* *
1, 2,....,
i i i
i
i i
S P jQ
I i m
V V

= = =
(4)

I = jumlah generator
V
i
= tegangan terminal dari generator ke-i
P
i
= daya aktif generator
Q
i
= daya reaktif generator
Tegangan dengan nilai reaktansi peralihan ditentukan
dengan persamaan :
'
'
i d i
E V jX I = +
(5)

Seluruh beban diubah ke dalam admitansi ekivalen
dengan hubungan :
*
0 2 2
i i i
i
i i
S P jQ
y
V V

= =
(6)

Persamaan jaringan dengan semua beban diubah ke
dalam bentuk persamaan admitansi:
G
G
G
Jaringan bus-n
Beban-beban dalam
bentuk admitansi konstan
n + 1
n + 2
n + m

Gambar 1. Representasi sistem daya studi perlihan

Matriks jaringan untuk menentukan arus yang
diinjeksikan ke setiap bus.
1
I
2
I
n
I
1 n
I
+
n m
I
+
11
Y
21
Y
1 n
Y
( 1)1 n
Y
+
( )1 n m
Y
+
( ) 1 1 n
Y
+
( ) 2 1 n
Y
+
( ) 1 n n
Y
+
( )( ) 1 1 n n
Y
+ +
1n
Y
2 n
Y
nn
Y
( ) 1 n n
Y
+
( ) n m n
Y
+ ( )( ) 1 n m n
Y
+ +
( )( ) 1 n n m
Y
+ +
( )( ) n m n m
Y
+ +
( ) n n m
Y
+
( ) 1 n m
Y
+
( ) 2 n m
Y
+
1
V
2
V
n
V
1
'
n
E
+
'
n m
E
+
=

(2.131)

Daya elektris keluaran setiap generator ditentukan
dalam persamaan tegangan internal generator sebagai
berikut :
* '*
ei i i
S E I =
(7)

'*
ei i i
P E I ( = 9

(8)

4

'
1
m
i j ij
j
I E Y
=
=

(10)

Daya keluaran elektris generator ke-i :
( )
' '
1
cos
m
ei i j ij ij i j
j
P E E Y u o o
=
= +

(11)
Persamaan untuk daya masukan mekanis sama
dengan daya keluaran elektris, sehingga :

( )
' '
1
cos
m
mi i j ij ij i j
j
P E E Y u o o
=
= +

(12)
Persamaan ayunan untuk mesin ke-I adalah sebagai :
( )
2
' '
2
1 0
cos
m
i i
mi i j ij ij i j
j
H d
P E E Y
f dt
o
u o o
t
=
= +

(13)
(2.146)

2.4 Metode Euler
Dalam studi stabilitas multimesin untuk
menyelesaikan persamaan diferensial non linier pada
persamaan ayunan dapat digunakan persamaan
numerik. Dalam studi ini digunakan persamaan
metode numerik euler.

t A t A t A
t
0
t
1
t
2
t
3
t
0
x
1
x
2
x
3
x
x
( ) x t

gambar 2.1 metode euler

Jika kurva x(t) merupakan persamaan
penyelesaian, pada titik (t
0
,x
0
)

nilai persamaanya
adalah x(t
0
).

0
x
dx
x t
dt
A ~ A
(14)
Dimana
0
x
dx
dt
adalah lengkung kurva pada titik
( )
0 0
, t x , sehingga nilai x pada
0
t t + A adalah :
0
1 0 0
x
dx
x x x x t
dt
= + A = + A
(15)

1
i
i i
x
dx
x x t
dt
+
= + A
(16)
Dengan menggunakan derifatif pada awal
langkah, nilai dari akhir langkah (
1 0
t t t = + A ) dapat
diprediksi dari :
0
0
p
i
x
dx
x x t
dt
= + A
(17)
Dari nilai prediksi
p
i
x , derifatif pada akhir interval
ditentukan sebagai berikut :
( )
1 1
,
p
i
p
x
dx
f t x
dt
=
(18)
Sehingga nilia rata-rata dari kedua derifatif tersebut
digunkan sebagai nilai sebenarnya dari solusi yang
dicari, yaitu :
0 1
1 0
2
p
x x c
dx dx
dt dt
x x t
| |
+
|
|
= + A
|
|
\ .
(19)
Untuk algoritma komputerisasi sebagai nilai x
i

ditentukan sebagai berikut :
1
1
2
p
i i
x x
c
i i
dx dx
dt dt
x x t
+
+
| |
+
|
|
= + A
|
|
\ .
(20)

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Umum
Dalam penelitian tugas akhir ini digunakan
metode simulasi dengan fokus pembahasan untuk
mengetahui proses recovery sistem tenaga listrik PT.
PLN P3B Sumatera setelah terjadi gangguan dengan
menggunakan perangkat lunak Matlab 7.0.1 dengan
toolbox yang dikembangkan oleh Hadi Saadat. Dari
hasil simulasi dapat ditentukan waktu pemutusan
kritis untuk setiap titik gangguan pada saluran sistem.

3.2 Prosedur Penelitian
Perhitungan stabilitas peralihan multimesin
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data-data yang diperlukan
dalam perhitungan. Data-data yang diperlukan
antara lain data pembebanan (MW, Mvar), data
pembangkitan daya (MW, Mvar), data
impedensi (Z) dan line charging (Y/2) saluran
transmisi, data tegangan dan sudut phasa bus,
dan data reaktansi peralihan (xd) dan konstanta
generator (H).
2. Memodelkan sistem tenaga dengan melakukan
penomoran bus dan klasifikasi bus system.
3. Melakukan perhitungan aliran daya dengan
metode newton raphson untuk menentukan
kondisi tegangan,sudut phasa, dan daya total
pada slack bus sebagai kondisi awal dari sistem
yang ditinjau.
5

4. Mereduksi matriks admitansi sistem sebelum
gangguan dengan metode krons reduction. Hal
ini bertujuan menyederhankan dimensi matriks
admitansi bus sistem berdasakan jumlah
generator. Data yang diperlukan meliputi
admitansi bus sistem hasil aliran dayadengan
memasukan admitansi beban, dan admitansi
generator ke dalam matriks admitansi bus
sistem.
5. Menghitung tegangan internal dan daya mekanis
generator.
6. Membentuk matriks admitansi bus sistem saat
gangguan tiga fasa simetris diterapkan, setelah
itu mereduksi matriks admitansi bus saat terjadi
gangguan tersebut.
7. Membentuk matriks admitansi bus setelah
terjadi gangguan dengan kondisi melepas
saluran terganggu untuk menghilangkan
gangguan tersebut. Kemudian dilakuakan
reduksi matriks admitansi bus sistem setelah
gangguan dihilangkan.
8. Melakukan perhitungan kurva ayunan generator
untuk memplot grafik sudut-daya terhadap watu
untuk masing-masing generator. Perhitungan ini
dilakukan untuk menentukan batasan waktu
kritis pemutusan gangguan yang dilakukan
sampai salah satu atau beberapa unit generator
kehilangan sinkronisasinya atau lepas sari
sistem.
Simulasi stabilitas peralihan untuk sistem tenaga
dalam studi kasus PT.PLN P3B Sumatera pada
penelitian ini menggunakan bantuan bantuan
perangkat lunak software toolbox Matlab
[8]
versi
7.01. Langkah-langkah dalam simulasi kestabilan
peralihan tersebut sebagai berikut:
1. Input data sistem yang diperlukan dalam
simulasi, yaitu :
- Data pembebanan (MW, Mvar), dalam pu.
- Data Pembangkitan (MW), dalam pu.
- Data Impedensi Transmisi (R+jX, line
charging), dalam pu.
- Data Generator (H, Xd), dalam MJ/MVA
dan pu.
2. Jenis bus untuk simulasi pada input data sistem
sebagai berikut :
- Untuk bus slack diberi kode 0.
- Untuk bus Pembangkit (PV) diberi kode 1.
- Untuk bus Beban (PQ) diberi kode 2.
3. Gangguan tiga fasa simetris terjadi pada saluran
dekat ujung kirim bus atau ujung terima bus.
Gangguan dibersihkan dengan mengisolasi
saluran yang terganggu.
4. Simulasi dalam menentukan CCT dilakukan
berulang kali sampai dihasilkan kurva yang
menunjukan adanya salah satu atau beberapa
generator yang lepas (out of step) dari sistem.



Gambar 1. Flowchart simulasi stabilitas peralihan dengan Matlab
Aliran Daya
Cek Data
Input Data Sistem
(data saluran, beban,
pembangkitan, dan generator)
Mulai
Konvergen
Reduksi Matriks Admitansi Bus
sebelum gangguan (prefault)
Tegangan Internal Generator dan
Daya Mekanis Generator
Input Bus i
Gangguan
Reduksi Matriks Admitansi Bus
Selama Gangguan (faulted)
Input saluran bus ke bus
yang akan dihilangkan
Reduksi Matriks Admitansi Bus
Setelah Gangguan (postfault)
Simulasi lain
Selesai
ya
tidak
tidak
tidak
ya
ya
Input waktu pemutusan
dan waktu akhir simulasi
Plot kurva Ayunan
6

III. SIMULASI DAN ANALISA
4.1 Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, data yang digunakan
merupakan data beban puncak tahun 2008 yang
diperoleh dari PT.PLN P3B Sumatera. Sistem
tersebut memiliki dua subsistem besar yakni
Sumbagut dan Sumbagselteng. Frekuensi sistem yang
digunkan adalah 50 Hz, dengan menggunkan
tegangan saluran transmisi 150 kV dan 66 kV. Data
yang digunakan sebagai input pada simulasi sebagai
berikut :
1. Data pembebanan
2. Data Pembangkitan
3. Data saluran transmisi
4. Data generator
4.2 Hasil Simulasi
Hasil simulasi berupa waktu kritis
pemutusan gangguan untuk setiap titik pada saluran
tranmisi. Simulasi dilakukan berulang kali sampai
didapat salah satu atau beberapa unit generator lepas
dari sistem. Gangguan transien berupa gangguan
hubung singkat tiga fasa simteris, gangguan ini
dipilih karena merupakan gangguan yang
menghasilkan arus gangguan yang besar dibanding
gangguan lain yang terjadi pada sistem. Meskipun
gangguan ini jarang terjadi, tetapi digunakan untuk
asumsi resiko terbesar.

Tabel 1. Waktu pemutusan kritis gangguan subsistem Sumbagut

Bus
Bus
terganggu
Saluran yang
diisolasi
CCT
(sekon)
PLTGU Belawan 1
1-36 0.24
1-11 0.24
GI Banda Aceh 2 2-12 0.36
GI Lhokseumawe 3
3-15 0.48
3-14 0.48
3-13 0.47
GI Titi Glugur 4 4-18 0.66
Gi Titi Kuning 5 5-36 0.52
GI Paya Pasir 6
6-7 0.43
6-18 0.43
6-36 0.41
6-20 0.43
GI PLTU Belawan 7
7-6 0.50
7-21 0.51
GI SIPAN 1 8
8-9 0.27
8-32 0.26
GI SIPAN 2 9
9-8 0.29
9-32 0.29
GI Renun 10
10-34 0.76
10-35 0.79
GI Binjai 11
11-17 0.24
11-1 0.24
11-18 0.24
GI Sigli 12 12-13 0.44
GI Bireun 13
13-12 0.51
13-3 0.52
GI Idie 14
14-15 123.00
14-3 119.20
GI Langsa 15
15-17 0.55
15-16 0.53
15-14 0.96
15-3 0.96
GI Tualang Cut 16 16-15 172.56
7

GI Pangkalan
Brandan
17
17-15 0.45
17-11 0.39
GI Paya Geli 18
18-4 0.29
18-6 0.29
18-11 0.29
18-5 0.29
18-19 0.29
GI Namorambe 19
19-18 114.45
19-5 114.45
GI Mabar 20 20-6 0.50
GI Labuhan 21
21-7 0.54
21-22 0.53
GI Lamhotma 22 22-21 0.60
GI KIM 23 23-36 79.95
GI Denai 24
24-25 115.89
24-36 115.90
GI Tj. Morawa 25
25-36 72.57
25-24 72.57
GI Perbaungan 26 26-27 79.81
GI Tebing Tinggi 27
27-36 86.79
27-26 86.79
27-28 86.79
27-29 86.79
GI Kuala Tanjung 28
28-27 78.82
28-39 78.82
GI Pematang Siantar 29
29-27 85.51
29-30 85.50
GI Porsea 30
30-29 96.64
30-31 96.64
GI Tarutung 31
31-33 0.39
31-35 0.39
31-32 0.39
GI Sibolga 32
32-31 0.27
32-37 0.27
32-8 0.27
32-9 0.28
GI TELE 33
33-35 150.77
33-31 150.77
GI Brastagi 34
34-5 102.18
34-35 102.18
34-10 102.19
GI Sidi Kalang 35
35-34 112.66
35-33 112.66
35-31 112.64
GI Seirotan 36
36-5 0.29
36-23 0.29
36-1 0.41
36-6 0.29
36-25 0.29
GI Padang
Sidempuan
37
37-38 0.83
37-32 0.83
GI Rantau Prapat 38
38-37 85.19
38-39 85.18
8

GI Kisaran 39
39-28 85.44
39-38 85.46

Tabel 2. Waktu pemutusan kritis gangguan subsistem Sumbaselteng

Bus
Bus
terganggu
Saluran yang
diisolasi
CCT
(sekon)
GI Bukit Asam 1
1-13 0.27
1-46 0.27
1-54 0.28
1-43 0.29
GI Teluk Lembu 2 2-28 2.40
GI Koto Panjang 3
3-28 0.42
3-29 0.42
3-4 0.40
GI Paya Kumbuh 4 4-3 0.87
GI Maninjau 5
5-30 0.64
5-31 0.62
GI Singkarak 6
6-31 0.48
6-24 0.47
GI Pauh limo 7
7-31 4.24
7-32 4.60
7-34 4.20
7-33 4.52
GI Payo Selincah 8 8-41 0.53
GI Sukamerindu 9 9-45 0.70
GI Musi 10 10-45 0.18
GI TES 11 11-45 1.03
GI Ombilin 12
12-38 0.24
12-24 0.23
12-36 0.24
GI Gunung Megang 13
13-46 0.29
13-1 0.34
GI Simpang Tiga 14
14-46 0.69
14-15 0.71
GI Keramasan 15
15-14 0.60
15-48 0.62
15-49 0.61
15-53 0.61
15-47 0.61
GI Borang 16
16-48 0.42
16-21 0.46
16-51 0.45
GI Talang Duku 17 17-65 0.61
GI Besai 18 18-55 0.34
GI Batu Tegi 19 19-59 0.69
GI Tarahan 20 20-64 0.26
GI Sungai Juaro 21 21-16 0.47
GI Tegineneng 22
22-60 0.32
22-61 0.31
22-62 0.31
22-59 0.30
9

GI Teluk Betung 23 23-60 0.58
GI Batu Sangkar 24
24-6 0.36
24-12 0.35
24-4 0.37
GI Bagan Batu 25 25-26 --
GI Duri 26
26-25 --
26-27 --
26-28 --
GI Dumai 27 27-26 --
GI Garuda Sakti 28
28-26 0.90
28-2 0.89
28-29 0.86
28-3 0.85
GI Bangkinang
29 29-28 1.12

29-3 1.41
GI Padang Luar 30
30-4 169.49
30-5 169.49
GI Lubuk Alung 31
31-6 0.77
31-32 0.77
31-7 0.77
GI PIP 32 32-31 --
GI Simpang Haru 33 33-7 --
GI Indarung 34
34-35 --
34-12 --
34-7 --
GI Solok 35 35-34 --
GI Salak 36
36-12 0.29
36-35 0.29
GI Teluk Kuantan 37 37-38 --
GI Kiliranjao 38
38-37 --
38-39 --
38-12 --
GI Muaro Bungo 39
39-41 0.85
39-40 0.83
GI Bangko 40
40-39 1.10
40-44 1.06
GI Aur Duri 41
41-39 0.56
41-8 0.58
GI Pagar Alam 42 42-43 --
GI Lahat 43
43-42 0.36
43-1 0.34
43-44 0.32
GI Lubuk Linggau 44
44-43 0.36
44-40 0.36
GI Pekalongan 45
45-44 0.25
45-11 0.24
45-10 0.17
GI Prabumulih 46
46-14 0.58
46-1 0.57
GI Mariana 47 47-15 --
GITalang Kelapa 48
48-15 0.61
48-16 0.62
48-66 0.63
10

GI Bungaran 49
49-50 0.77
49-15 0.77
GI S.Kedukan 50 50-21 0.72
GI Seduduk Putih 51
51-52 0.76
51-65 0.72
GI Talang Ratu 52
52-53
52-51 0.73
GI Bkt. Siguntang 53 53-52 --
GI Batu Raja 54
54-1 1.30
54-55 1.23
GI Bukit Kemuning 55
55-54 0.39
55-18 0.39
55-56 0.39
GI Kota Bumi 56
56-55 0.52
56-57 0.52
56-22 0.52
GI Adijaya 57 57-56 --
GI Menggala 58 58-56 --
GI Pagelaran 59 59-19 0.19
GI Natar 60
60-64 0.22
60-23 0.21
60-22 0.21
GI Metro 61 61-62 --
GI Sribawono 62 62-22 --
GI Kalianda 63 63-64 --
GI Sutami 64
64-63 0.27
64-60 0.26
GI Boom Baru 65 65-17 0.72
GI Betung 66 66-48 --

4.3 Analisis
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk
sistem Sumbagut waktu kritis tercepat yang didapat
adalah 240 ms (saluran GI Belawan-GI Seirotan,150
kV), sedangkan untuk subsistem Sumbagselteng
adalah 170 ms (GI Musi-GI Pekalongan, 150 kV).
Hasil tersebut menunjukan bahwa batas waktu kritis
sistem tebaga listrik sumatera telah memenuhi
standar Menteri ESDM CCA1 2.2 no. 37 Tahun
2008. Waktu pemutusan kritis gangguan yang tidak
ditetentukan pada table menjukan bahwa pada
pelepasan beban (bus) relative kecil cendrung
mempunyai nilai waktu kritis yang sangat besar,
dalam arti system masih tetap stabil selama gangguan
dengan indikasi tidak adanya generator yang lepas
selama periode waktu tertentu.

IV. PENUTUP
5.1 Simpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah :
a. Nilai CCT untuk sistem tenaga listrik Sumatera
telah memenuhi standar dari aturan Menteri
ESDM CCA1 2.2 no. 37 Tahun 2008, yaitu nilai
CCT terkecil untuk subsistem Sumbagut sebesar
240 ms pada saluran GI PLTU Belawan-GI
Seirotan (150 kV) dan GI PLTU Belawan-GI
Binjai (150kV) serta subsistem Sumbagselteng
170 ms pada saluran GI Musi-GI Pekalongan
(150 kV).
b. Untuk nilai konstanta inersia H generator/mesin
yang lebih besar maka generator cenderung
lebih mampu menjaga kestabilannya dalam
kemampuan menahan sinkronisasinya saat
terjadi kondisi gangguan transien.
c. Untuk kondisi pelepasan saluran pada saat
gangguan transien, bus terganggu yang
mempunyai beban relatif kecil cenderung
mempunyai CCT yang besar.

5.2 Saran
Dalam menentukan kurva ayunan rotor
generator pada studi ini dapat dilakukan dengan
metode lain seperti metode Runge-Kutta ODE 2 dan
metode Runge-Kutta ODE 4 untuk mendapatkan
tingkat ketelitian yang lebih tinggi. Untuk simulasi
dalam stabilitas transien multimesin dapat
menggunakan perangkat lunak Power System
Simulator for Engineer (PSS/E) dan Electrical
Transient Analyzer Program (ETAP).
11

DAFTAR KEPUSTAKAAN
[1] Greinger, John J and William D Stevenson.
1994. Power system Analysis
International Editions. New York: McGraw
Hill.
[2] Hidayat, Haris Sofyan. 2008. Studi Stabilitas
Transien untuk Penentuan Tranfer
Maksimum Sistem Interkoneksi Sumatera.
Laporan penelitian pada Jurusan Teknik
Elektro, Fakultas Teknik Universitas Andalas,
Padang.
[3] Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
2008. Aturan Jaringan Tenaga Listrik
Sumatera. Peraturan Menteri ESDM CCA1 2.2
No. 37 Tahun 2008.
[4] Kimbark, Edward Wilson. 1995. Power System
Stability volume 1. New York : IEEE Press
Power Engineer Series.
[5] Kundur, Prabha. 1994. Power System Stability
and Control. New York : McGraw Hill.
[6] Laksono, Heru Dibyo. 2008. Studi Kestabilan
Transien Sistem Tenaga Listrik Multimesin
(Model IEEE 9 bus 3 mesin). Jurnal Teknika
pada Fakultas teknik, Universitas Andalas,
Padang, Vol. 1 No.30.
[7] Murty, P S R . 2007. Power System Analysis.
Hyderabad : BS Publications.
[8] Saadat, Hadi. 1999. Power System Analysis.
New York : Mc Graw Hill.
[9] Saputro, Hidayat Harry. 2007. Analisis
Stabilitas Multimesin dengan Menggunakan
Matlab. Laporan penelitian pada Universitas
Kristen Petra.
[10] Stevenson Jr, William D. 1993. Analisis
Sistem Tenaga Listrik. Jakarta: Erlangga.