Anda di halaman 1dari 14

Quantitative Easing Kebijakan Konvensional Bank Sentral Dunia dalam Mencetak Uang dan Mengatasi Krisis

By hadinata | April 22, 2009 Jika mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak uang : Jumlah uang hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil penguasa tidak boleh mencetak uang berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli uang yang sudah ada di mereka. Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insyaallah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi. Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris akhir-akhir ini. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat ini sudah mencapai 0.5% terendah dalam 315 tahun terakhir dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (atau mungkin -akal-an) untuk memoles ekonomi mereka. Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing. Berikut saya kutip beberapa pendapat yang mencoba mendefinisikan quantitative easing. Quantitative easing merupakan salah satu alat kebijakan moneter. Ini berarti bahwa bank sentral membanjiri pasar dengan mata uang, dengan cara mencetak uang demi

meningkatkan suplai uang. Quantitative mengacu kepada money supply; easing secara esensial berarti peningkatan. Quantitative Easing adalah penciptaan uang oleh bank sentral untuk memacu perkreditan dan mendorong pembelanjaan, yang akhirnya dapat menggerakan roda perekonomian. Quantitative mengacu pada kuantitas uang yang diciptakan, sedangkan easing mengacu pada mengurangi tekanan pada bank. Berikut gambaran QUANTITATIVE EASING bekerja, Bank Central memeperluas distribusi uang dengan menggunakan menciptakan pinjaman baru untuk membeli aset milik Bank dan Institusi keuangan lainnya. Mendorong perekonomian dengan menggunakan uang hasil penjualan aset untuk pembelian produk barang, jasa dan lebih banyak aset lagi Quantitative Easing terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Sebenarnya apakah Quantitative Easing ini ? Berikut adalah pemahaman saya (yang awam mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakannya) : Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral (di Inggris berarti Bank of England) mencetak sejumlah besar uang baru di Balance Sheet-nya. Tidak perlu reportreport mencetak secara fisik uang kertas atau koinnya, tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut. Setelah terbentuk, catatan uang ini untuk membeli asset-asset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara dlsb. Dengan cara ini uang yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.

Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer. Di Inggris ada komite yang disebut The Banks Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak tambahan uang dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki ijin untuk menambah uang di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar pounsterling atau US$ 207 milyar. Dari batas yang diijinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan separuh dari jatah yang ada. Maka apa dampaknya bagi rakyat Inggris ?; sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis (yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun) inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut diatas. Sedangkan dalam mengatasi krisis di tengah memburuknya resesi dan ketatnya kredit, bank sentral yang tak bisa lagi memangkas rate karena hampir mendekati nol, mencari solusi non konvensional untuk membalikan keadaan. Dalam rangka memulihkan ekonomi dan menggairahkan perkreditan, beberapa bank sentral besar memangkas suku bunga secara agresif hingga mencapai hampir nol. Namun, langkah tersebut terlihat tidak manjur. Suku bunga sudah amat rendah, namun arus kredit masih terhambat dan banyak bank yang enggan untuk mengucurkan kredit. Akhirnya mereka menemukan resep yang kelihatannya ampuh untuk mendorong perkreditan, pembelanjaan dan pertumbuhan, yaitu Quantitative Easing.

Dengan kata lain, bank sentral menciptakan uang dan menggunakan uang tersebut untuk membeli surat utang, seperti obligasi pemerintah, dari institusi keuangan, di pasar terbuka. Institusi keuangan itu lalu dapat menggunakan uang itu untuk mengucurkan kredit atau membeli aset lain. Namun, kini uang baru itu cenderung diciptakan secara elektronik dari pada dicetak secara fisik. Tujuan Quantitative Easing adalah menambah jumlah uang beredar dengan pertambahan kredit yang akhirnya dapat merangsang arus uang di ekonomi seiring meningkatnya pembelanjaan. Quantitative Easing adalah solusi ketika cara normal menambah pasokan uang dengan memangkas suku bunga tidak ampuh lagi, biasanya ketika suku bunga hampir nol dan mustahil untuk memangkasnya lagi. Meski pernah ada yang menerapkannya, faktor historis tidak bisa memberi jaminan cara ini akan efektif. Hanya ada satu kasus sukses, yaitu Jepang antara 2001 dan 2006. Namun, para ahli tidak bisa sepakat apakah taktik ini jitu. Di satu sisi, PDB Jepang tidak merosot. Di sisi lain, pertumbuhan PDB kecil dan tidak konsisten setelah program itu berakhir. Selain itu, program itu berbarengan dengan program pembelanjaan pemerintah yang besar. Jadi tidak bisa dipastikan apakah kebijakan moneter non konvensional itu atau kebijakan fiskal agresif yang berhasil membalikan keadaan. Meski Quantitative Easing belum tentu efektif, patut dicoba bila tidak membahayakan. Namun, keamanannya jauh dari pasti. Sekali lagi, sejarah tidak bisa menjadi patokan keberhasilan. Jepang tidak mendapat efek samping, inflasinya rendah dan yen-nya kuat. Tapi pencetakan uang yang terlalu banyak terbukti membawa bencana, seperti yang terjadi di Zimbabwe saat ini. Meski ekonomi AS dan Inggris jauh lebih kuat dari Zimbabwe, Quantitative Easing tetap berisiko. Terlalu banyak uang beredar, bila tidak segera ditanggulangi, bisa menyebabkan

hiperinflasi. Selain itu, belum dapat dipastikan apakah banjirnya kredit akan membantu ekonomi yang luluh lantah karena dampak merajalelanya kredit yang serampangan. Tapi bila sudah dijalankan, yang terpenting bagi bank sentral dan Departemen Keuangan adalah berkomitmen dan bekerjasama untuk membalikan kebijakan ketika keadaan membaik. Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; mungkinkah juga di negara kita ?. Oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka. Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan asset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa emas, perak, kebun, ternak dlsb.

Mengukur Efektifitas Quantitative Easing


Jumat, 27 Januari 2012 12:05 WIB Monexnews - Pelonggaran moneter atau lazim dikenal dengan Quantitative Easing (QE) adalah kebijakan modern yang berpengaruh besar terhadap pasar investasi. Istilah QE I, II dan III identik dengan patron program yang diberlakukan oleh bank sentral Amerika Serikat. Tapi sesungguhnya bukan Ben Bernanke dan kolega yang mempelopori konsep QE untuk kali pertama. Pelonggaran moneter menjadi langkah alternatif saat kebijakan konvensional dinilai tidak mampu mendorong roda perekonomian. Dalam hal ini, langkah penyesuaian suku bunga dinilai sudah optimal namun kondisi makro belum membaik. Bank Sentral

mengimplementasikan QE dengan membeli aset keuangan atau obligasi, bertujuan untuk menyuntik dana segar ke dalam perekonomian. Dengan mengoleksi aset finansial dari bank dan sektor swasta (pencetak uang elektronik), maka jumlah uang yang beredar di lini bisnis jadi lebih banyak. Tambahan dana berarti tambahan modal bagi pelaku aktifitas ekonomi. Seiring perkembangan iklim bisnis dan pengaruh eksternal, mekanisme peluncuran QE juga semakin kompleks. Jepang adalah negara pertama yang mempelopori prinsip QE modern di akhir 1990-an hingga 2006. Pada masanya, Bank of Japan (BOJ) menyuntik dana ke pos cadangan uang yang disimpan oleh bank-bank komersial di bank sentral. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari investor, pengamat hingga pejabat negara sempat meragukan efektifitas kebijakan itu. Bahkan merebak asumsi jika langkah BOJ rentan menghancurkan sistem perbankan sendiri. Di awal periode 2000-an, QE memang belum mampu menekan deflasi domestik. Di tengah suku bunga super-low 0.25%, BOJ membanjiri perekonomian dengan limpahan dana pinjaman. Merasa kurang efektif , BOJ kemudian memutuskan untuk membeli lebih banyak obligasi pemerintah, sekuritas berbasis aset dan saham serta memperpanjang masa pembelian surat komersial. Apakah QE ala Jepang berhasil? Jika mengacu pada tingkat pertumbuhan ekonomi, rasio kenaikan angka GDP Jepang memang naik konsisten antara 2002 hingga periode 2007 (lihat grafik). Kinerja GDP jauh lebih baik ketimbang apa yang dicapai pemerintah di awal 1990-an, beberapa saat setelah kasus penggelembungan aset melanda negara tersebut.

Mengacu pada argumen Tomoya Masanao, anggota Asia-Pacific Portfolio Committee, pemulihan kinerja perbankan Jepang sangat dipengaruhi oleh kebijakan QE bank sentral. Kombinasi antara suku bunga rendah dan penurunan risiko premium berhasil mengangkat aktifitas bisnis dan investasi. Kondisi ini berimbas pada kenaikan upah riil, yang kemudian berperan memperbaiki daya beli konsumen. Kesimpulannya, QE mampu mendorong volume permintaan dalam negeri. Anggota Dewan Gubernur Bank of England, David Miles, turut mengamini pendapat Masanao. Miles melihat QE tidak hanya memajukan aktifitas keuangan, namun turut menopang ekonomi warga, usaha kecil, pabrik dan pendapatan rumah tangga.

Meski demikian bukan berarti langkah pelonggaran kuantitatif tidak mengandung kelemahan dan potensi negatif. Sistem murni perbankan bisa menjadi mandul saat bankbank lebih memilih untuk bertransaksi dengan bank sentral ketimbang dengan sesama kolega perbankan. Senior ekonom BOJ, Shigenori Shiratsuka memiliki beberapa catatan penting terkait pengalamannya memandu implementasi QE Jepang. Pertama, QE melibatkan neraca keuangan bank sentral untuk melindungi perekonomian dari gejolak yang mungkin ada. Ke dua, sifatnya hanya sementara. QE difungsikan sebagai alat untuk mengulur waktu sampai sistem dan lembaga perbankan kembali menemukan ritme operasionalnya. Bank juga harus terlebih dahulu me-restrukturisasi neracanya masingmasing supaya tidak tergantung pada kebijakan otoritas. Ke tiga, intervensi bank sentral di sektor swasta justru memberi distorsi ke pasar. Secara empiris, QE memang mampu memperbaiki sistem perbankan dan pertumbuhan ekonomi. Namun pengaruhnya hanya efektif bila kondisi perekonomian makro mendukung kepercayaan bank, perusahaan, investor dan konsumen. Pelonggaran moneter di Amerika sesungguhnya belum tentu mampu menggenjot perekonomian. Berbeda dengan kondisi saat QE Jepang, sistem perbankan AS saat ini tidak kekurangan likuiditas. Konsumen juga tidak membutuhkan pinjaman baru, mereka bahkan perlu keluangan untuk

melunasi beban hutangnya. Bank dan perusahaan masih terlalu gelisah, terutama pasca kasus subprime mortgage dan krisis antar kawasan. Artinya, AS belum memiliki modal awal yang cukup untuk membangun suatu iklim kondusif bagi semua pelaku ekonomi. Jika pemerintah dan bank sentral sudah berhasil menumbuhkan kepercayaan publik, sejatinya QE akan jadi solusi efektif bagi ekonomi Paman Sam.

Quantitative Easing 3 Tak Terelakkan?


Medan Bisnis, 06 Feb 2012 Untuk memerangi krisis yang terjadi di Amerika Serikat, Bank Sentral AS (The FED) selama ini memberlakukan suku bunga rendah. Namun, sejauh ini kebijakan tersebut belum memberikan dampak yang berarti bagi pemulihan ekonomi AS. Ekonomi AS tetap menuju ke suatu jurang ekonomi yang biasa disebut dengan istilah resesi. The FED sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa Bank Sentral AS siap untuk melakukan kebijakan yang pro pertumbuhan dalam bentuk kebijakan apapun. Quantitative Easing (QE) menjadi andalan terakhirnya. Quantitative easing adalah langkah Bank Sentral AS yang menggelontorkan sejumlah dana segar dengan melakukan pembelian obligasi dan sejenisnya. Tujuannya adalah agar daya beli masyarakat AS kembali pulih sehingga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Langkah The FED dengan pemberlakuan suku bunga rendah selama ini masih jauh dari harapan. Data-data perekonomian AS masih bergerak datar yang turut dibarengi dengan prospek ekonomi yang masih suram.

Bila kita belajar dari pengalaman sebelumnya, baik QE 1 dan QE 2 hanya merupakan stimulus jangka pendek yang memberikan anging segar sesaat ke pasar keuangan dan tidak menyelesaikan masalah fundamental ekonomi AS secara keseluruhan. Hal pokok yang perlu diperhatikan untuk melakukan kebijakan QE jilid 3 adalah Inflasi. Di Indonesia Inflasi selalu menjadi hal yang paling ditakuti bila terus merangkak naik. Beda halnya di Amerika Serikat. Inflasi justru diharapkan naik karena kenaikan laju inflasi menjadi indikator bahwa ada tren kenaikan harga barang yang diakibatkan mulai pulihnya daya beli masyarakat AS. Walaupun tidak ada angka ideal terkait dengan laju inflasi, namun the FED mematok angka 2% menjadi batas bawah. Dan bila tembus di bawah 2%, maka besar kemungkinan The FED akan menginjeksikan dana dalam bentuk QE3. Dan saat ini kemungkinan tersebut terbuka sangat lebar. Namun diperkirakan QE3 keefektifannya masih sama dengan QE sebelumnya dimana hanya berdampak sesaat bagi perekonomian. Bila The FED melakukan QE3 maka baik pasar keuangan dan saham AS bisa mengalami kejatuhan. AS akan kehilangan kepercayaan dirinya mengingat masih lemahnya negara mitra AS dalam menyelamatkan perekonomian. QE3 juga dapat memicu terjadinya capital inflow yang masuk kesejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Bila diberlakukannya QE3 maka secara politis akan menyebabkan kubu Demokrat sebagai incumbent berada di bawah tekanan. Partai republik sebagai oposisi akan menggunakan kesempatan ini untuk mengambil simpati masyarakat. Kebijakan The FED terkait QE3 mengancam keberlangsungan Obama sebagai presiden AS ke depan nantinya.

Sejauh ini, QE3 masih sebatas wacana yang menimbulkan spekulasi. Namun, arahnya sudah jelas, dimana saat Inflasi terus melemah maka sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa AS benar-benar akan melakukan kebijakan penambahan uang beredar (QE3). Kita harus mampu mengantisipasi dampak kebijakan QE3 The FED nantinya. Masuknya sejumlah uang (capital inflow) ke sistem keuangan kita akan mengakibatkan kita kebanjiran likuiditas. Kita bisa mengantisipasinya dengan sejumlah langkah seperti menurunkan BI Rate, kebijakan terkait berapa lama dana mengendap atau dengan melakukan sejumlah kebijakan agar capital inflow menjadi bentuk investasi langsung. QE3 tidak akan terelakkan bila indikator ekonomi AS ke depan nantinya benar-benar mengarahkan The FED untuk menggelontorkan sejumlah dana segar. Dan kita harus segera mengantisipasinya dengan melakukan sejumlah kebijakan agar Pasar Keuangan kita tidak dijadikan tempat singgah semata bagi uang panas (hot money).

KRISIS AMERIKA: Quantitative easing ketiga mungkin dimulai April


Oleh Bloomberg Sabtu, 21 Januari 2012 | 20:51 WIB

NEW YORK: The Federal Reserve kemungkinan akan mengimplementasikan kebijakan stimulus moneter (quantitative easing) tahap ketiga pada April 2012 untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi AS.

The Fed akan memulai lagi periode pembelian aset-aset AS di kuartal ini, kemungkinan dimulai April, kata Ira Jersey, Direktur US Rates Strategy Credit Suisse, New York, hari ini (21/01) Menurut Jersey, penggelontoran stimulus ronde ketiga ini akan lebih difokuskan pada pasar perumahan dan membeli aset-aset berbasis kredit perumahan. AS butuh kepercayaan konsumen yang tinggi, supaya kepercayaan bisnis ikut terangkat. Hal ini akan membantu menstimulasi lapangan kerja dan menggairahkan pasar perumahan katanya. Menurut rencana, Federal Open Market Committee akan menggelar pertemuan pada 24-25 Januari guna menetapkan suku bunga acuannya. The Fed diproyeksi kembali akan menahan suku bunga acuannya di posisi 0,25, tingkat yang berlaku sejak Desember 2008 dan diperkirakan bertahan sampai paruh 2013. Bank Sentral AS itu sudah membeli US$2,3 triliun hipotik dan obligasi AS dalam dua tahap pertama quntitative easing. (Bs

BI Waspadai Quantitative Easing Ke-3 Amerika


Idris Rusadi Putra - Okezone

Rabu, 10 Agustus 2011 13:01 wib JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai penyelesaian krisis di Amerika Serikat (AS) sekarang ini memungkinkan negara Paman Sam itu melakukan quantitative easing (pelonggaran kuantitatif) yang ketiga, di mana ini akan berdampak dengan derasnya arus aliran modal alias capital inflow ke Indonesia. "Kelihatannya mulai muncul pandangan makin kuat, semacam quantitative easing bisa muncul lagi. Kalau itu yang berjalan terlepas dari gejolak mudah-mudahan spekulasi. Kalau itu yang berjalan maka memang kelanjutan dari apa yang berlangsung dua tahun terakhir ini berjalan lagi," jelas Gubernur BI Darmin Nasution ketika ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (10/8/2011)

Menurut pandangan Darmin, quantitatif easing atau penambahan uang beredar ini mungkin saja akan terjadi jika stimulus fiskal AS belum cukup untuk pemulihan ini, maka akan dibutuhkan quantitative easing yang ketiga dan ini akan berdampak dengan derasnya aliran modal masuk ke Indonesia. "Quantitative easing atau semacamnya saya tadinya mengharapkan kalau fiskal yang bisa diandalkan maka tidak akan akibatkan capital flow terlalu besar," jelasnya. Lebih jauh, dia menambahkan, kasus di AS sekarang ini memang belum menemukan titik temu, dan pasar sekarang ini juga masih meragukan pemulihan ekonomi negara Paman Sam ini. "Sebetulnya kan ya memang apa yang berkembang sekarang ini kita belum bisa sampai pada kesimpulan yang bulat. Tetapi memang kecenderungannya yang jelas pasar masih meragukan bahwa pemulihan ekonomi di negara maju terutama di AS. Keraguan itu kemudian sebetulnya sudah sedikit tertolong pada waktu ada peningkatan debt ceiling di AS, tetapi segera muncul kekhawatiran recovery yang tidak terlalu baik," pungkasnya.