Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

DESAIN GAMBAR

BEARING

OLEH KELOMPOK 1. FATONI ALBAR 2. HENDY PRASETYAWAN 3. FIRDAUS DILLY 4. M. A. AMRULLAH 5. MAHFUD HARIS BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ILMU PELAYARAN SURABAYA 2012

1. Jenis bearing
Pengertian dan klasifikasi pada bearing Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Pada umumya bantalan dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu. A. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros Bantalan luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas. Bantalan gelinding Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol, dan rol bulat. B. Berdasarkan arah beban terhadap poros Bantalan radial Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu. Bantalan aksial Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. Bantalan gelinding khusus Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. Meskipun bantalan gelinding menguntungkan, Banyak konsumen memilih bantalan luncur dalam hal tertentu, contohnya bila kebisingan bantalan menggangu, pada kejutan yang kuat dalam putaran bebas.

2. penggunaan bearing
Dalam praktek, bantalan gelinding standart dipilih dari katalog bantalan. Ukuran utama bantalan adalah Diameter lubang Diameter luar Lebar Lengkungan sudut Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor dasar yang ada merupakan lambang jenis, lambang ukuran(lambang lebar, diameter luar). Nomor diameter lubang dan lambang sudut kontak penulisannya bervariasi tergantung produsen bearing yang ada. Bagian Nomor nominal ABCD A menyatakan jenis dari bantalan yang ada. Jika A berharga 0 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row. 1 maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing. 2 maka hal tersebut menunjukkan jenis spherical roller bearings and spherical roller thrust bearings. 3 maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings. 4 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row. 5 maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings. 6 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row. 7 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row. 8 maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings. B menyatakan lambang diameter luar. Jika B berharga 0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan. Jika B berharga 2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan. Jika B berharga 3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang. Jika B berharga 4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat. C dan D menyatakan lambang diameter dalam

Untuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

Penyebab-penyebab kerusakan pada bearing: 1. Kesalahan bahan faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan. faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada bearing. 2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing). 3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk dan keadaan lapangan (real). 4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya: Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros. Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih. Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat. 5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen tersebut. 6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat yang

tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan merusak komponen. 7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada minyak tersebut. Proses pemasangan bearing. Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen tersebut pertama-tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik. Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar). Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial. Pengaturan posisi bearing pada poros. Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan. Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada poros, maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi keadaan bearing.

Gambar 1 : Pemasangan dan pelepasan bearing Sumber: www.vista-bearing.com

Cara mengatasi kerusakan pada bearing: 1) Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan. 2) Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut. 3) Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah ditentukan. 4) Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya. 5) Melakukan tes balancing pada poros dan impeller. 6) Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

3. Pelumasan bearing
Pelumasan adalah merupakan sesuatu yang penting untuk mencegah kerusakan dini bola-bola bearing, lintasan bearing, cage, dan sebagainya. Namun kebanyakan bearing menjadi cepat rusak diakibatkan oleh perawatan pelumasan bearing tersebut yang mengakibatkan kegagalan mesin pada saat yang tidak tepat. Tingkat breakdown/loss time menjadi tinggi karena kesalahan dalam pelumasan bearing. Faktor-faktor paling kritikal dalam hal menjaga kondisi operasi, pelumasan bearing tersebut digunakan untuk:

mengurangi gesekan antara bola-bola bearing dan lintasannya, sebagai pelindung bearing dari proses pengaratan, mengurangi panas, dan sebagai penghalang dari benda-benda lain yang masuk

Tipe pelumas yang digunakan juga sebagai faktor kritikal untuk efesiensi operasi. Tipe konvensional jatuh pada klasifikasi oli atau grease, dengan masing-masing spesifikasinya mungkin cocok untuk digunakan pada bearing yang lain. Secara umum, grease adalah pilihan yang tepat karena kemudahannya dalam penggunaan dan perawatannya, bisa beroperasi dengan rentang suhu 0F sampai 300F. Akan tetapi oli berfungsi dengan baik pada temperatur ekstrim di bawah -40F atau di atas 350F.

4. cara membaca kode pada bearing


Jika anda lihat kode yang berada pada bagian badan ataupun di lingkaran luar bearing, hal tersebut memiliki arti yang telah disesuaikan berdasarkan ISO (International Standard Organization). Contohnya pada bearing merk SKF tertera kode 6301 RSI/C3 MT47.

Angka 6 menyatakan bearing tersebut merupakan jenis ball bearing. Angka 3 menyatakan seri dimensi, yaitu: diameter, tebal dan tinggi. Pada contoh diatas berarti bearing tersebut berdiameter luar 37 mm dan tebal punggung 12 mm Dua angka berikutnya menyatakan ukuran lingkar dalam bearing. Angka 00 01 02 03 04 05 Diameter lingkar dalam 10 mm 12 mm 12 mm 15 mm 20 mm 25 mm

Huruf RS adalah singkatan dari rubber seal, yang artinya penutup bearing yang digunakan adalah terbuat dari karet. Dan jika hurufnya Z, berarti penutup bearing terbuat dari bahan metal. Diambil dari symbol Zn yang artinya Zinc alias seng Jika bearing dilindungi penutup kiri-kanan, didepan huruf tersebut dicantumkan angka 2. Misalnya 2RS atau RR dan 2Z atau ZZ. Berikut kode C3. Simbol ini menandakan kerenggangan antar pelor dan dinding punggung bagian dalam. C3 cocok untuk motor harian. Makin besar angkanya berarti

toleransi kerenggangan antar komponen bearing makin besar pula. Tak heran C3, jika digoyangkan lebih ngoklok dibanding C2. Angka kerenggangan tersebut tercantum dari C2 C5 tanpa tanda (kosong). Motor dengan putaran mesin tinggi sebaiknya menggunakan bearing dengan kerenggangan C5. Salah satu alasannya yaitu di temperatur motor balap jauh lebih tinggi dibanding motor harian, dan ketika suhu memuncak maka bola-bola memuai. Posisi menggelinding jadi pas. Tidak akan macet. Satuan kerenggangan atau Clearance adalah mikron. 1 mikron sama dengan 1/1000 mm. Huruf dan angka terakhir menunjukan jenis pelumas yang pantas dipakai. Misalnya, kode MT47 seperti pada bearing roda. MT singkatan dari Medium Temperatur. Kemampuan pelumas bisa bertahan pada suhu -30C sampai 110C. Kode bearing (bantalan) = 6203ZZ kode bearing di atas terdiri dari beberapa komponen yang dapat dibagi-bagi antara lain: 6 = Kode pertama melambangkan Tipe /jenis bearing 2 = Kode kedua melambangkan seri bearing 03 = Kode ketiga dan keempat melambangkan diameter bore (lubang dalam bearing) zz = Kode yang terakhir melambangkan jenis bahan penutup bearing

a. Kode Pertama ( Jenis Bearing )

jadi dalam Kode bearing (bantalan) = 6203ZZ seperti contoh di atas, kode pertama adalah angka 6 yang menyatakan bahwa tipe bearing tersebut adalah Single-Row Deep Groove Ball Bearing ( bantalan peluru beralur satu larik). Perlu diingat bahwa kode di atas untuk menyatakan pengkodean bearing dalam satuan metric jika anda mendapatkan kode bearing seperti ini = R8-2RS, maka kode pertama ( R) yang menandakan bahwa bearing tersebut merupakan bearing berkode satuan inchi.

b. Kode kedua ( Seri bearing) Kalau kode pertama adalah angka maka bearing tersebut adalah bearing metric seperti contoh di atas (6203ZZ ), maka kode kedua menyatakan seri bearing untuk menyatakan ketahanan dari bearing tersebut. Seri penomoran adalah mulai dari ketahan paling ringan sampai paling berat

8 = Extra thin section 9 = Very thin section 0 = Extra light 1 = Extra light thrust 2 = Light 3 = Medium 4 = Heavy

Kalau Kode pertama adalah Huruf, maka bearing tersebut adalah bearing Inchi seperti contoh (R8-2RS ) maka kode kedua ( angka 8 ) menyatakan besar diameter dalam bearing di bagi 1/16 inchi atau = 8/16 Inchi. c. Kode ketiga dan keempat ( diameter dalam (bore) bearing) Untuk kode 0 sampai dengan 3, maka diameter bore bearing adalah sebagai berikut :

00 = diameter dalam 10mm 01= diameter dalam 12mm 02= diameter dalam 15mm 03= diameter dalam 17mm

selain kode nomor 0 sampai 3, misalnya 4, 5 dan seterusnya maka diameter bore bearing dikalikan dengan angka 5 misal 04 maka diameter bore bearing = 20 mm

d. Kode yang terakhir (jenis bahan penutup bearing) Ok, jadi kita sudah sampai pada pengkodean terakhir. pengkodean ini menyatakan tipe jenis penutup bearing ataupun bahan bearing. seperti berikut : 1. Z Single shielded ( bearing ditutuipi plat tunggal) 2. ZZ Double shielded ( bearing ditutupi plat ganda ) 3. RS Single sealed ( bearing ditutupi seal karet) 4. 2RS Double sealed (bearing ditutupi seal karet ganda ) 5. V Single non-contact seal 6. VV Double non-contact seal 7. DDU Double contact seals 8. NR Snap ring and groove 9. M Brass cage maka bearing 6203ZZ menyatakan bearing dengan tipe ditutupi plat ganda.