Anda di halaman 1dari 15

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

DISTRIBUSI

I. TUJUAN 1. Menentukan konstanta distribusi dari suatu zat terlarut yang larut dalam dua
pelarut yang saling tidak larut.

2. Menentukan dereajat disosiasi dari zat terlarut dalam suatu pelarut. II. TEORI
Distribusi adalah penyebaran partikel pada pelarut yang saling tidak melarutkan kemudian dilarutkan suatu zat terlarut sehingga akan terjadi kesetimbangan kimia. Atau lebih jelasnya yaitu bila suatu sistem dimasukkan atau sistem berada dalam suatu keadaan heterogen dari dua macam zat yang saling tidak larut, kemudian dilarutkan maka akan terjadi nilai kelarutan pada zat terlarut dan terjadi kesetimbangan kimia. Dimana pada suhu kesetimbangan adalah tetap untuk nilai yang tetap pula antara perbandingan kereaktifan zat terlarut dalam kedua zat cair tersebut. Karena itu distribusi terjadi untuk suatu kesetimbangan dan temperatur yang tetap. Hukum distribusi dapat digunakan untuk mencari nilai kereaktifan zat terlarut dalam suatu pelarut lain yang tidak diketahui, asalkan pelarut tidak bercampur sempurna satu sama lainnya. Tetapi zat terlarut dapat larut antara keduanya dengan perbandingan yang berbeda. Jika pelarut dicampurkan bersama-sama dan zat terlarut dilarutkan ke dalamnya pada saat tercapainya kesetimbangan pada suhu tertentu dengan perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut pertama dan pelarut yang kedua adalah konstan. Jadi zat terlarut menyebar dalam kedua pelarut atau zat terlarut memiliki distribusi antara dua pelarut. Hukum-hukum distribusi berlaku jika : 1. Larutan encer Apabila konsentrasi zat terlarut tinggi maka zat terlarut cenderung untuk melakukan asosiasi. Asosiasi tersebut dapat digambarkan dengan terbentuknya ikatan hidrogen antara zat terlarut dengan pelarut. Sehingga konstanta distribusi dinyatakan dengan :

1
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

Ka =
Dimana : Ka = ketetapan distribusi = aktivitas zat dalam pelarut 1 = aktivitas zat dalam pelarut 2 n = perbandingan berat molekul zat terlarut dalam pelarut 1 dan 2 2. Zat terlarut mempunyai massa yang sama (Mr yang sama) untuk kedua pelarut itu, karena angka banding C1 dan C2 akan tetap konstan. Angka banding distribusi tidak bergantung pada spesifikasi molekul apapun yang mungkin ada. Harga banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat dasar dari zat terlarut serta temperatur. Sedangkan harga n akan berubah dengan sifat dasar kedua perubahan konsentrasi zat dalam pelarut. Misalnya iodin akan terdistribusi antara dua pelarut. Bila iodin dilarutkan atau dikocok dengan air atau CCl4, setelah tercapai kesetimbangan dalam larutan pada temperatur tertentu, akan memberikan persamaan :

Kc =
Kc merupakan konstanta yang dipakai sebagai koefisien distribusi. Ada beberapa metoda untuk menghitung aktivitas, yaitu : 1. Pengukuran tekanan uap Hanya berlaku untuk zat yang mudah menguap dan tekanan menguap dan tekanan uapnya diketahui atau diukur karena standar untuk pelarut berbeda pula. Jika tekanan uap sangat kecil dan dapat dianggap seperti gas ideal fungisitas dapat diganti dengan tekanan parsial.

a=
2. Penerapan persamaan Gibbs Duham

Metoda ini dapat diterapkan bila koefisien salah satu komponen diketahui, dengan persamaan :

Log
Dimana : a 1,2 = aktifitas

2
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

b 1,2 = fraksi mol 3. Metoda EMF Aktivitas non elektrolit atau elektrolit dapat dihitung dengan memasang sel Galvani yang tepat dengan mengukur EMF pada berbagai konsentrasi. Nilai EMF pada berbagai konsentrasi tersebut ditentukan oleh :

E = E Dimana : E = EMF standar sel n = jumlah elektron F = konstanta Faraday

ln a

Hukum distribusi disampaikan oleh Nernst tahun 1891 yang bunyinya sebagai berikut : Suatu zat terlarut akan membagi diri antara dua cairan yang tidak bercampur sedemikian rupa sehingga perbandingan konsentrasi pada kesetimbangan pada suhu yang tertentu adalah tetap Hukum distribusi ini dibuktikan dengan potensial kimia. Dimana untuk potensial kimia zat terlarut yang larut di dalam pelarut 1 yaitu :

E1 = E1 + RT ln a1
Sedangkan untuk potensial kimia untuk zat terlarut di dalam pelarut 2 yaitu :

E2 = E2 + RT ln a2
Setelah keadaan menjadi setimbang, maka potensial kimia zat terlarut dalam kedua pelarut akan mempunyai harga sama (E1 = E2), sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :

=K
Persamaan ini berlaku jika kedua pelarut memberikan atau merupakan larutan ideal dimana kedua pelarut tidak terjadi interaksi. Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi pelarut dalam menganalisa antara lain : 1. Mengeluarkan iod dan brom dalam air 2. Berbagai uji dalam analisa kuantitatif 3. Studi hidrolisis dari garam suatu basa lemah atau asam kuat-basa kuat, terdapat kesetimbangan antara garam dan basa bebas.

3
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

4. Penentuan susunan ion halida kompleks. Kegunaan dari distribusi, diantaranya : 1. Untuk mengekstraksi komponen-komponen tertentu dari suatu campuran untuk mendapatkan senyawa-senyawa organik dalam bentuk murni. 2. Ekstraksi yang digunakan adalah ekstrasksi Craight, disamping ekstraksi asam lemah, ekstraksi logam dan ekstraksi berganda dalam laboratorium. 3. Untuk mengekstraksi zat organik yang imisibel, perbedaan antara bromida dan iodida dalam analisa melalui reaksi pereduksi bromida dan iodida. 4. Dalam industri digunakan untuk menghilangkan zat yang tidak dikehendaki dalam hasil, misalnya dalam minyak tanah dan minyak goreng. 5. Dalam laboratorium ekstraksi digunakan untuk mengambil zat yang terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organik yang tidak bercampur.

4
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

III. PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat Dan Bahan 3.1.1 Alat 1. Pipet gondok untuk memipet zat secara tepat 2. Buret sebagai tempat larutan standar 3. Thermometer untuk mengukur suhu larutan 4. Corong pisah untuk tempat larutan atau sampel 5. Erlenmeyer untuk tempat menampung hasil titrasi 3.1.2 Bahan 1. Asam asetat sebagai sampel 2. CHCl3 sebagai sampel 3. NaOH 0,1 N sebagai larutan standar sekunder 4. Ind. PP sebagai in dikator 5. Asam oksalat sebagai larutan standar primer

5
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

3.2 Skema Kerja Asam asetat Asam asetat - Pipet 25 mL dengan konsentrasi 0,8 N; 0,2 N; 0,05 N Corong pisah Corong pisah + 25 mL kloroform - Tutup dan kocok selama 1-2 menit - Diamkan selama 20 menit - Catat suhu kesetimbangan 2 lapisan 2 Lapisan

Lapisan kloroform 10 mL Lapisan kloroform 20 mL + PP - Titrasi dengan NaOH Konsentrasi asam setat Konsentrasi asam asetat

Lapisan air 1 mL10 Lapisan air + PP - Titrasi dengan NaOH Konsentrasi asam asetat Konsentrasi asam asetat

Tentukan nilai Kdd dan Tentukan nilai K dan

6
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

3.3 Skema Alat

Keterangan : 1. Standar. 2. Klem. 3. Erlenmeyer. 4. Buret. 5. Corong pisah.

7
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

IV. DATA DAN PEMBAHASAN 4. 1 Data dan perhitungan 1. Pembuatan NaOH 0,1 N

2. Pembuatan asam oksalat 0,1 N

3. Pengenceran asam asetat dari 98% N =

=
= 17,15 N a. Asam asetat 1 N V1 . N1 V1 . 17,15 N N2 b. Asam asetat 0,5 N V1 . N1 V1 . 1 N N2 c. Asam asetat 0,25 N V1 . N1 V1 . 0,5 N N2 = V2 . N2 = 50 mL . 0,25 N = 25 ml = V2 . N2 = 50 mL . 0,5 N = 25 mL = V2 . N2 = 50 mL . 1 N = 2,915 mL

8
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

4. Standarisasi NaOH dengan asam oksalat N asam oksalat V asam oksalat V NaOH VNaOH . NNaOH 10,8 mL . NNaOH NNaOH = 0,1 N = 10 mL = 10,8 mL = Vasam oksalat . Nasam oksalat = 10 mL . 0,1 N = 0,092 N

5. Menentukan konsentrasi CH3COOH dalam CHCl3 (C1) Data titrasi CH3COOH dengan NaOH N CH3COOH 1N 0,5 N 0,25 N a. Konsentrasi 1,0 N N 5 ml 2,1 ml 0,9 ml V NaOH yang terpakai CHCl3 19,8 ml 9,6 ml 5 ml Air

=
= 0,023 N

b. Konsentrasi 0,5 N N

=
= 0,00966 N

c. Konsentrasi 0,25 N N

= 0,00414 N 6. Menentukan konsentrasi CH3COOH dalam air (C2) a. Konsentrasi 1,0 N N

9
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

= 0,18216 N b. Konsentrasi 0,5 N N

=
= 0,08832 N

c. Konsentrasi 0,25 N N

=
= 0,046 N

7. Menentukan nilai Kc Log Kc = n log C2 log C1 a. Konsentrasi 1,0 N C1 = 0,023 N C2 = 0,18216 N log Kc = n log 0,18216 log 0,023 = -0,7395 n 1,6383 b. Konsentrasi 0,5 N C1 = 0,00966 N C2 = 0,08832 N log Kc = n log 0,08832 log 0,00966 = -1,0539 n 2,0150 c. Konsentrasi 0,25 N C1 = 0,00414 N C2 = 0,046 N log Kc = n log 0,046 log 0,00414 = -1,3372 n 2,3830 8. Menentukan nilai n dengan eliminasi a. Eliminasi persamaan 1 dan 2

0 = 0,3144 n 0,3767

10
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

n = 1,1982 b. Eliminasi persamaan 2 dan 3

0 = 0,2833 n 0,368 n = 1,2990 c. Eliminasi persamaan 1 dan 3

0 = 0,5977 n 0,7447 n = 1,2459 9. Substitusi persamaan a a. Konsentrasi 1,0 N log Kc Kc log Kc Kc log Kc Kc = -0,7395 n + 1,6383 = -0,7395 (1,2477) + 1,6383 = 5,1951 = -1,0539 n + 2,0150 = -1,0539 (1,2477) + 2,0150 = 5,0128 = -1,3372 n + 2,3830 = -1,3372 (1,2477) + 2,3830 = 5,1820 c. Konsentrasi 0,25 N b. Konsentrasi 0,5 N

10. Penentuan derajat disosiasi () Kc = a.

(1

=1-

Konsentrasi 1,0 N

=111

Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

= -10,5093 b. Konsentrasi 0,5 N

=1= -8,5842

c.

Konsentrasi 0,25 N

=1= -8,2347

12
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

4.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini dengan objek yang berjudul Distribusi, dimana bertujuan untuk menentukan konstanta distribusi suatu zat terlarut yang larut dalam dua pelarut yang saling tidak larut dan menentukan derajat disosiasi dari zat terlarut dalam suatu pelarut. Dalam praktikum distribusi ini digunakan kloroform sebagai bahan pelarut dan air kemudian asam asetat sebagai zat terlarut. Suatu distribusi pelarut yang terdiri dari dua pelarut yang tidak saling melarut dapat digunakan untuk menentukan koefisien distribusi dan derajat disosiasi dari suatu zat terlarut dan salah satu aplikasinya adalah terhadap ekstraksi suatu zat dari suatu sampel. Dalam percobaan ini digunakan dua pelarut yang saling tidak melarutkan yaitu air dan kloroform, karena perbedaan dan momen dipole yang dimiliki oleh air dan kloroform menyebabkan saling tidak larut. Dari perhitungan yang didapat dari 3 buah konsentrasi asam astet uaitu 0,25 N ; 0,5 N ; dan 1 N. Dari berbagai macam konsentrasi tersebut didapatkan bahwa asam astat yang terkandung dalam air lebih besar daripada kandungan asam asetat di dalam kloroform. Sedangkan derajat disosiasi berbading terbalik dengan konsentrasi, dimana semakin kecil konsentrasi asam asetat maka derajat disosiasi akan semakin besar kemudian juga terbukti nilai derajat disosiasi besar dari nol dan kecil dari satu. Pada praktikim ini digunakan larutan NaOH sebagai larutan dtandar. Saat pencampuran asam astat dan kloroform dikocok secara sempurna sehingga didapat 2 lapisan yang terbentuk yaitu kloroform pada bagian bawah karena masdsa jenisnya lebih besar dan air berada pada lapisan bawah. Volume NaOH yang dibutuhkan dalam titrasi pada lapisan bawah yaitu kloroform lebih sedikit dibandingkan dengan lapisan atas yaitu air. Didalam kloroform yang menentukan sedikit NaOH untuk mencapai titik akhir, sedangkan pada lapisan atas yaitu air terdapat banyak kandungan CH3COOH sehingga dibutuhkan NaOH yang lebih banyak untuk mencapai titik akhir titrasi. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa distribusi asam asetat dalam air lebih banyak dibandingkan dalam kloroform. Ini disebabkan karena air merupakan pelarut yang bersifat polar sedangkan kloroform bersifat non polar, diketahui bahwa asam asetat bersifat semi polar sehingga banyak terdistribusi di dalam air daripada kloroform.

13
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa kesimpulan seperti berikut: 1. Asam asetat akan lebih banyak terdistribusi di dalam air dibandingkan dengan kloroform 2. Air merupakan pelarut polar, kloroform merupakan pelarut non polar sedangkan asam asatat bersifat semi polar sehingga asam asetat akan cendrung terdistribusi lebih banyak di air dibandingkan di dalam kloroform 3. Derajat dissosiasi asam asetat berbanding terbalik dengan konsentrasinya. Semakin besar nilai konsentrasi asam asetat maka nilai derajat disosiasinya semakin kecil begitu juga sebaliknya 5.2 Saran Agar pada pratikum selanjutnya, dapat berjalan dengan baik dan lancer maka diharapkan pada pratikan agar: 1. Memahami cara kerja sebelum melakukan praktikum. 2. Pada saat mendiamkan setelah pengocokan usahakan kloroform telah terpisah dari air. 3. Gunakan selalu masker ketika kita menggunakan kloroform.

14
Distribusi

Praktikum Kimia Fisika II Tahun akademik 2010/2011

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, PW. 1994. KIMIA FISIKA JILID I EDISI 4. Jakarta: Erlangga Bird, Tony. 1987. KIMIA FISIKA UNTUK UNVERSITAS. Jakarta: Gramedia Zemansky, Sears. 1980. FISIKA UNTUK UNIVERSITAS . Bandung: Bina Cipta Basser. 1994. ANALISA KIMIA KUANTITATIF. Jakarta: Erlangga

15
Distribusi