Anda di halaman 1dari 19

MEMBAWA BATIK KE KANCAH GLOBAL SEBAGAI KOMODITAS INDUSTRI KREATIF DAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA

Safrodin
Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti. Email : mursyidan05@yahoo.com Jln. Jenderal Ahmad Yani Kav. 85 Jakarta Timur 13210

Abstract Globalization does everything becomes hazy on surface, but precisely going deeper globalization also appears local strength as appear in numbers spring up in abyss globalization. Batik as part of culture which possesses values of justness and considered as Indonesian inheritance of culture, it is not built short in time. Batik journey as part of people culture inheritance has been built in long not a few years only but batik has been already exist two or three hundred years ago. At the moment that beside as people culture inheritance, batik also is considered as section of industry commodity which is classified in creative industry. In addition, the batik also representation/delegates Indonesian culture in the world like national identity. Key words : globalization, batik, national identity, creative industry

Abstrak Globalisasi membuat segala sesuatu menjadi kabur di permukaan, tetapi kalau mau dicermati lebih mendalam globalisasi juga memunculkan kekuatan-kekuatan lokal menjadi bermunculan dalam kancah global. Batik sabagai bagian dari hasil kebudayaan yang memiliki nilai-nilai adiluhung dan dianggap sebagai warisan budaya dunia dari bangsa Indonesia, tidak dibangun dalam waktu yang singkat. Perjalanan batik sebagai bagian dari warisan budaya bangsa dibangun dalam waktu yang panjang tidak hanya puluhan tahun, melainkan batik sudah ada dua atau tiga ratus tahun yang silam. Pada saat ini selain sebagai warisan budaya bangsa, batik juga bisa dianggap sebagai bagian dari komoditas industri yang tergolong dalam industri kreatif. Selain itu, batik juga merepresentasikan kultural bangsa Indonesia di luar negeri sebagai identitas nasional. Kata kunci : globalisasi, batik, identitas nasional, industri kreatif

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, mengantarkan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya menjadi lebih mudah dan sejahtera. Dalam kurun empat dasawarsa terakhir ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya bidang transportasi, telekomunikasi dan informasi mengalami kemajuan sangat cepat. Kemajuankemajuan yang dicapai oleh bidang ilmu pengetahuan tersebut dengan sendirinya membawa dampak dalam kehidupan manusia itu sendiri, baik itu dampak positif atau negatif dari pergaulan manusia yang berupa antar individu, kelompok dan negara. Perspektif mengenai wilayah negara hanya ditentukan oleh perspektif teritorial politik. Batas negara yang satu dengan yang lainnya hanya merupakan batas wilayah hukum administratif dari suatu negara. Sementara pada bidang ekonomi,budaya dan sosial sudah tidak bisa lagi dilihat dalam perspektif kewilayahan negara. Perubahan cara pandang dalam melihat struktur makro global dari masyarakat di suatu wilayah negara terhadap berbagai

aspek permasalahan budaya, ekonomi, sosial dan budaya menjadikan

permasalahan permasalahan tersebut sudah bukan lagi merupakan masalah lokal. Sebagai contoh, masalah ekonomi suatu negara pada saat sekarang ini tidak bisa di pandang sebagai masalah ekonomi negara tersebut semata, tetapi sudah merupakan masalah ekonomi global. Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, arus utama globalisasi akan menyeret semua negara di dunia ini menjadi pemain. Persoalannya adalah siapa yang menjadi pemain utama, pemain pembantu dan pemain cadangan atau bahkan hanya sebagai penonton belaka. Meminjam istilah Kenichi Ohmae bahwasanya, beberapa arus utama

globalisasi adalah ekonomi, perdagangan dan bisnis yang diterjemahkan dalam lima C yaitu, : Pertama, Customer (pelanggan), dimana para pelanggan membutuhkan kepuasan dalam pelayanan tidak peduli produk yang ditawarkan harganya lebih tinggi dari produk yang sejenis. Pelanggan menjadi isu tersendiri dalam setiap produk yang akan diluncurkan ke pasar (launching). Kedua, Competition (persaingan),

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

persaingan bukanlah membuka konfrontasi dengan lawan, melainkan membuat mitra sebanyak mungkin dalam jaringan agar bisnis yang dijalankan bisa bersaing sambil membentuk keuntungan dengan para pesaing, karena pada dasarnya tidak semua pekerjaan bisa dilakukan sendiri. Ketiga, Company (perusahaan), berarti harus berhitung mengenai biaya tetap dalam produksi. Keempat, Currency (mata uang), perkembangan fluktuasi mata uang dalam suatu negara sangat mempengaruhi investasi dan bisnis bagi para investor. Dan kelima, Country (negara), negara yang sistem politik dan kebijakan ekonominya penuh dengan proteksionisme akan dihindari oleh para pemilik modal (Kenichi Ohmae, The Boderless World, 1991). Globalisasi tidak hanya semata-mata seperti apa yang dikemukakan oleh Kenichi Ohmae di atas, dan globalisasi juga bukan hanya mengglobalnya negara-negara dalam menentukan arah dan kebijakan suatu negara, melainkan juga bebasnya setiap individu dalam menentukan kehidupannya sebagai masyarakat dunia. Warga global

mempunyai hak dan pilihanpilihan untuk menentukan di negara mana dia bekerja, dimana dia tinggal, dengan warga mana saja harus menjalin komunikasi sosial, dan lain sebagainya, termasuk juga memilih dan menentukan pendidikan yang dianggap cocok dan tepat bagi dirinya. Perubahan global terhadap setiap permasalahan ekonomi, sosial, budaya dan lain-lainnya dengan sendirinya mempunyai dampak bagi setiap negara di dunia ini, tidak terkecuali Indonesia. Pada bidang budaya tentu saja pengaruh-pengaruh dari globalisasi tidak bisa diabaikan begitu saja. Sektor budaya sebagai hasil dari unsur penanaman nilai, intelektual dan keterampilan tidak dapat menghindar dari arus globalisasi. Sebagai bagian masyarakat dunia Indonesia perlu membenahi sistem dan struktur yang ada, tidak saja masalah kebudayaan, melainkan seluruh aspek kehidupan bila ingin menjadi pemain utama dalam arus global. Perkembangan budaya selalu ketinggalan dalam publikasi atau eksplorasi bila dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi dan aspek lainnya. Kecenderungan dunia yang semakin menyatu antara negara yang satu

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

dengan

negara

lainnya,

bukanlah

perkembangan manusia yang dituntut untuk berkembang secara kreatif. Perkembangan industri telah menciptakan pola kerja, pola produksi dan pola distribusi yang murah dan efisien. Perkembangan teknologi telah membuat manusia jadi semakin produktif. Industri merupakan proses penciptaan barang dan jasa yang mempunyai nilai tambah (value added). Sedangkan kreatif berarti create yaitu proses menciptakan sesuatu. Industri Kreatif berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat, dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual. industri kreatif adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ekonomi kreatif. Pada saat ini memang industri kreatif sangat diperlukan. Apalagi industri kreatif merupakan industri dengan sumber yang terbarukan karena berfokus pada

menimbulkan pemerataan kesejahteraan global, melainkan malahan menjadikan arus utama kelompok miskin dan kaya semakin menjauh. Melihat hal yang demikian kebudayaan belum mampu memberi jawaban yang utuh terhadap persoalan dunia tersebut. Justru

kebudayaan juga menjadi bagian yang tidak bisa mengelak dari arus utama penciptaan kesenjangan antara kaya dan miskin. Disadari atau tidak telah terjadi penyeragaman arus budaya yang berkiblat kearah westernisasi yang tidak bisa dibendung dengan kekuatan budaya lokal. Tetapi, ada kekuatan budaya lokal yang bisa menjadi trensetter global, disini bisa kita kemukakan batik yang mewakili budaya tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari produk industri kreatif yang mengglobal.

INDUSTRI KREATIF Pada saat ini, manusia mengalami perpindahan era dan peradaban yang baru. Dulu kita bergeser dari Era Pertanian lalu Era Industrilisasi. Perkembang teknologi dan informasi dan komunikasi (infokom) serta globalisasi ekonomi telah mendorong

penciptaan daya kreasi. Berbeda dengan industri pada sektor tambang dan migas atau yang lainnya yang semakin lama akan semakin habis. Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia pengertian industri kreatif didefinisikan sebagai Industri yang

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Dengan kata lain industri kreatif merupakan Industri yang unsur utamanya adalah kreativitas, keahlian dan talenta yang berpotensi meningkatkan

Sektor yang termasuk industri kreatif (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia/ KBLI), meliputi: A. Periklanan, Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya: riset pasar, perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (Televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau samples, serta penyewaan kolom untuk iklan. B. Arsitektur, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan, perencanaan konservasi biaya bangunan konstruksi, warisan,

kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual. Kekuatan Industri kreatif berpijak pada penyediaan produk kreatif langsung kepada pelanggan dan

pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan. Produk kreatif mempunyai ciri-ciri: siklus hidup yang singkat, risiko tinggi, margin yang tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi, dan mudah ditiru. Hal utama dalam industri kreatif adalah keaslian dari kreativitas gagasan yang muncul. Dalam industri kreatif peniruan karya atau gagasan tidak akan mendapat tempat dari pelanggan, ini mengingat bahwa siklus dari industri kreatif adalah sangat singkat dan terbarukan (up to date).

pengawasan konstruksi baik secara menyeluruh dari level makro (Town planning, urban design, landscape architecture) sampai dengan level mikro

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

(detail konstruksi, misalnya: arsitektur taman, desain interior). C. Pasar Barang Seni, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet, misalnya: alat musik, percetakan, kerajinan,

konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan. F. Fesyen / Fashion, Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen. G. Video, Film & Fotografi, Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film. H. Permainan Interaktif, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan,

automobile, film, seni rupa dan lukisan. D. Kerajinan, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi massal). E. Desain, Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri,

ketangkasan, dan edukasi. Subsektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi. I. Musik, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan,

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara. J. Seni Pertunjukan, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha

L. Layanan Komputer & Piranti Lunak, Kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengolahan data, pengembangan database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya. M. Televisi & Radio, Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio, termasuk kegiatan station relay (pemancar kembali) siaran radio dan televisi. N. Riset & Pengembangan, Kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru

pengembangan konten, produksi pertunjukan (misal: pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, opera, termasuk tur musik etnik), desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan. K. Penerbitan & Percetakan, Kegiatan kreatif yang terkait dengan dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita. Subsektor ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi surat saham, surat berharga lainnya, passport, tiket pesawat terbang, dan terbitan khusus lainnya. Juga mencakup penerbitan foto-foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film.

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

yang dapat memenuhi kebutuhan pasar; termasuk yang berkaitan dengan humaniora seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni; serta jasa konsultansi bisnis dan manajemen. Batik sebagai bagian dari budaya bangsa termasuk didalamnya dalam industri kreatif ini, yang bisa masuk dalam wilayah industri fesyen. Pada saat ini indutri fesyen juga sudah banyak mengeksplorasi batik sebagai bahan utama dalam industrinya. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah batik mampu memberi jawaban dalam perspektif global sebagai salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia. Pertayaan seperti ini tidak mudah untuk dijelaskan.

warga negara akan merasakan kebanggaan dengan penghargaan tersebut, yang sebelumnya telah diklaim oleh negara lain. Kebanggaan saja kiranya tidak cukup dengan pengakuan oleh lembaga dunia tersebut, mesti ada upaya yang harus dilakukan untuk menjaga keberadaan produk budaya tersebut supaya bisa lebih berkembang baik dari sisi produk bisnis atau produk seni secara berkelanjutan. Batik merupakan karya budaya yang berupa kesenian warisan dari nenek moyang kita. Perpaduan teknologi dan seni menghasilkan batik, dimana karya tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi. Batik menarik perhatian bukan semata-mata hasilnya, tetapi juga dari proses pembuatanya. Inilah yang akhirnya batik mendapatkan pengakuan dari dunia

BATIK SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA DARI INDONESIA Setelah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009 oleh UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization), tentu kita sebagai anggota

internasional. Sejarah Batik tidak dapat dijelaskan secara pasti semenjak kapan batik mulai mewarnai kebudayaan di jawa (Indonesia). Namun kita bisa telisik ke belakang kira-kira permulaan abad X yaitu awal berdirinya kerajaan Majapahit. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan maritim di Indonesia.

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

Selain mengembangkan perdagangan, Majapahit juga mengembangkan batik. Pusat-pusat pembuatan batik pada saat itu berada di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Majapahit se antero nusantara, maka batik juga turut serta menyebar ke wilayah kekuasaan tersebut (Tim Sanggar Batik Bacode, Mengenal batik dan cara mudah membuat batik, 2010). Piguet mencatat bahwa perihal pembuatan batik tidak disebut-sebut dalam naskah jawa pada Abad XIV. Namun ia berpendapat Bahwa pada waktu itu mungkin sekali didatangkan dari India, batik merupakan barang mewah yang hanya dipakai oleh mereka yang cukup berada yang dapat membelinya. Tekstil batik merupakan bagian dari perdagangan tekstil yang penting antara India dan kepulauan Indonesia, yang telah dimulai oleh pedagang-pedagang pribumi dan kemudian diambil alih dan diperluas secara besarbesaran oleh para pedagang Portugis, Belanda dan Inggris. Tekstil Indonesia menjadi bahan perantara dalam tukarmenukar di nusantara pada abad XVII, dan mempertahankan kedudukan istimewanya

yaitu sampai tahun tahun awal abad XIX. (Philip Thomas Kitley, dalam prisma, 5 mei 1987). Keterangan tersebut memberikan ilustrasi, bahwa teknik pembatikan india telah memberikan andil perkembangan batik saat itu, walaupun dalam banyak hal pengaruh agama Islam di pusat kerajaan Mataram berhasil membebaskan

ketergantungannya dengan India. Langkah awal dalam perkembangan batik Jawa dalam menentukan corak dalam abd XIX, terutama di Jawa Tengah bagian selatan yang dikenal sebagai pusat-pusat produksi batik tradisional, adalah kemampuan dan kekuatan orang jawa itu sendiri yang memproduksi kerajinan tersebut

(Sudarmono, 1990., 2). Masa kekuasaan Majapahit yang mulai surut diakhir abad XV dan dimulainya kekuasaan Islam, maka batik juga turut berkembang pula bersama dengan perkembangan agama Islam di jawa khususnya dan nusantara pada umumnya. Pada masa Islam baik pada masa kerajaan Demak atau Mataram, pengrajin batik menempati struktur sosial dimasyarakat yang cukup terhormat. Bisa dikatakan, kemampuan para pengrajin pembuat batik

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

bisa disejajarkan dengan para Mpu yang membuat keris. Pada masa Islam ini bisa dipilah menjadi dua bagian yaitu Islam yang berpusat didaerah pantai yang

Hak cipta lambang status keraton di jawa mempunyai sejarah sejak zaman dahulu. Tulisan-tulisan pada batu karang pada abad IX dan X membuktikan adanya inventarisasi yang rumit Dario poola-pola dari jenis-jenis tekstil yang pantas dipakai raja dan pejabat pada golongan tinggi dan menegah dan oleh para kalangan yang

menghasilkan produk budaya batik dengan sebutan batik pesisir seperti batik Cirebon, Batik Pekalongan, Batik Lasem, batik Tuban dan batik Madura. Sedangkan Islam yang berpusat didaerah pedalaman yakni seperti di Solo dan Yogyakarta di kenal dengan penghasil batik, dengan sebutan batik pedalaman seperti batik Solo, Batik Yogyakarta dan batik Banyumasan. Seiring dengan perkembangan batik, seorang penulis yang patut mendapat perhatian yaitu laporan dari G.P. Rouffair yang dikutip oleh Jasper dalam bukunya : de Batiks Kunsts, Deel III, 1916, memulai uraiannya yang lengkap mengenai asal usul batik Jawa yang yang didatangkan oleh para pedagang dari India dari pantai

lebih rendah. ( Edhie Wuryantoro, 1886., 115). Sekitar tahun 1769, susuhunan (sebutan pangeran yang berkuasa) solo mengeluarkan suatu keputusan formal (jawa : pranatan) bahwa motif atau corak jilampran dilarang dipakai oleh siapapun kecuali beliau sendiri dan putera puterinya. Pada tahun 1785, sultan Yogyakarta merancangkan pola parang rusak bagi keperluan pribadi. Pada tahun 1792 dan 1798, arsip arsip keratin mengeluarkan pembatasan-pembatasan selanjutnya atas pola-pola yang membuat corak-corak seperti ; sawat, lar, parang rusak cumengkiran dan udan liris ( Van Der Hoop, ANJ Indonesian Ornamental Desain, 1949) Keputusan-keputusan Sunan dan Sultan pada abad XVIII menarik perhatian mengenai kepopuleran batik (pakaian batik) pada abad XVIII. Batik telah

Korromandal, berlangsung sampai berakhir pengaruh Hindu di Indonesia. Di dalam tulisannya Rouffair lebih menekankan pada segi teknik dalam proses pembatikan wak resist technigue dimana cara atau teknik tersebut sudah dikerjakan di Indonesia (YE. Jasper & Mas Pirngadi, 1916)

10

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

kehilangan sifat eksklusifnya yang dahulu, karena kini dibuat oleh para pengrajin orang jawa. Pangkat dan kedudukan tidak lagi dengan produk itu sendiri. Keluarga raja( rumah tangga raja) , terpaksa membuat pola atau rancangan yang dikerjakan secara teliti dan terperinci, untuk menunjukkan para pemakai batik dari keluarga kerajaan dengan membedakan mereka dari para pemakaia batik orang kebanyakan (Philip Thomas Kitley, dalam prisma, 5 mei 1987 ). Gaya keindahan pola pola yang

tumbuhan, akar, tanah dan air memberikan gambaran corak daerah yang berbeda kondisinya. Dalam banyak hal batik menjadi suatu seni dan produk yang popular pada akhir abad XVIII, gaya batik di wilayah-wilayah penghasil batik berbeda-beda

mencerminkan suatu tradisi dekoratif yang telah lama ada, melukiskan lingkungan asli para pengrajinnya dan membayangkan pengetahuan yang mendalam dilingkungan yang mereka miliki. Menjadi seni tradisi dalam budaya tradisional pada hakekatnya membiarkan untuk

diterapkan dalam bentuk penggambaran dekoratif pada permukaan merupakan pola-pola lama yang telah lama mantap di Jawa. Corak-corak organik yang telah diatur dengan simetris dengan keseimbangan yang enak dipandang mata, kita mengenal motif-motif itu sebagai motif yang dipilih oleh mereka yang langsung terlibat dengan alam seperti makhluk laut, batu karang, ombak atau burung, buah-buhan dan kembang. Proses teknik yang dalam pembuatan yang memerlukan pengertian yang akrab tentang lingkungan alaminya. Zat-zat pewarna yang terdiri dari campuran unsur-unsur nabati membutuhkan

rakyat membuat dan

mengenakan pakaian yang sebelumnya merupakan hak istimewa orang terpandang atau para kaum bangsawan, atau mereka yang berkuasa. Hal itu merupkan adat kebiasaan yang memperlihatan variasi kedaerahan, bahwa yang menanggapi faktor-faktor sosial, etnis dan lingkungan Jawa. Bahwa produksi batik imitasi diambil alih oleh perusahaan belanda , ketika jawa dikembalikan pada Belanda berdasarkan perjanjian perdamaian tahun 1815. Pada tahun 1835, sebuah pabrik batik dengan

pengetahuan yang luas tentang ciri tumbuh

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

11

pekerja-pekerja jawa yang terlatih, didirikan di Lieden. Pabrik-pabrik lain kemudian didirikan di Rotterdam, Haarlem, Helmand, dan Apeldoor. Pabrik-pabrik batik ini membuat pakaian batik imitasi untuk orang-orang awam. Perkembangan

sambil meningkatkan produksi secara besar besaran. Dari sini ternyata dapat diketahui bahwa, batik cap lebih popular daripada batik imitasi dan dengan cepat dapat menembus pasar dikalangan pribumi. (Roufer, 1986)

selanjutnya zat-zat warna sintetis untuk meniru atau membuat warna-warna lembut dari wujud warna cat nabati jawa. Peniruan tersebut akan menambah persaingan terhadap industri pada IDENTITAS NASIONAL Negara Indonesia yang dikenal mempunyai budaya ketimuran dengan adat istidat yang kuat, budaya adiluhing, penuh ramah-tamah, religius dan mempunyai ikatan emosional yang kuat sebagai negara kesatuan, sekarang sudah mulai pudar dan bahkan ada yang sudah tidak kelihatan lagi. Budaya yang kita jadikan sebagai kekayaan dan bagian dari identitas nasional sudah makin bergeser kepada budaya liberal yang bukan milik kita. Masyarakat merasa lebih terpandang apabila mereka memakai budaya yang bukan miliknya, sementara nilai budaya yang digunakannya tersebut belum tentu mempunyai nilai estetika, yang sesuai dengan akar budaya bangsa yang selama ini dikenal dengan budaya yang berlandaskan Pancasila yang selama ini kita jadikan sebagai salah satu identits bangsa.

penduduk pribumi abad XIX. Cat-cat sintetis sangat mengurangi waktu yang diperlukan untuk memberikan warna pembatikan, dengan demikian akan memberikan kesempatan pada tekstil Eropa untuk menjual batik dengan harga yang lebih rendah daripada batik yang dihasilkan oleh penduduk pribumi. Pada saat industri batik yang diproduksi oleh masyarakat jawa terancam dengan adanya batik imitasi yang dari Eropa dengan harga yang lebih murah dan menurut orang Jawa dengan mutu yang lebih rendah, maka penemuan cap pada tahun 1850- an memungkinkan orang Jawa

mempertahankan sebagian besar dari mutu dan kelembutan batik tradisional

12

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

Bergesernya budaya yang diminati oleh masyarakat bangsa ini telah membawa kepada melunturnya moral dari anak bangsa, sehingga krisis moral adalah merupakan salah satu faktor penyebab dari berbagai krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia. Menurut Berger dalam Kaelan (2007); pada era globalisasi saat ini ideologi kapitalislah yang akan menguasai dunia, kapitalis telah merubah masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib sosial, politik dan kebudayaan. Dalam hubungan dengan konteks identitas nasional secara dinamis, dewasa ini nampaknya bangsa Indonesia tidak merasa bangga dengan bangsa dan negaranya di dunia internasional. Akibatnya semangat kebangsaan, patriotisme, semangat semangat untuk

manusia Indonesia ini juga seharusnya dapat dibanggakan. Jangan pada saat ini, pada masa penjajahan yang penuh dengan penderitaan tersebut kita bisa mewujudkan kemerdekaan atau melahirkan bangsa Indonesia. Jati diri bangsa ditentukan melalui dua pandangan; 1) Jati diri sebagai konsep teologi, identik dengan fitrah manusia, maka jati diri bangsa merupakan kualitas universal yang menyatu pada setiap manusia. 2) Jati diri bangsa sebagai dari segi politik sebagai suatu pilihan melalui sumpah Pemuda yang mengubah kekamian menjadi kekitaan. Bangsa Indonesia mendiami pulaupulau di nusantara yang membentuk komunitas utuh yang memiliki jati diri. Pembentuk jati diri bangsa Indonesia adalah seperti berikut: 1. Suku Bangsa, Suku bangsa merupakan kelompok sosial dan kesatuan hidup yang mempunyai sistem interaksi, sistem norma, kontinuitas, dan rasa identitas yang mempersatukan semua anggota serta memiliki sistem kepemimpinan tersendiri

mempersembahkan karya terbaik bagi bangsa dan Negara di bidang pengetahuan dan teknologi pada saat ini belum memperlihatkan akselerasi yang berarti, padahal jikalau kita lihat sumberdaya

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

13

2. Agama, Sejak awal daerah nusantara telah dipengaruhi oleh beberapa agama seperti yang ditemukan pada kerajaankerajaan Hindu, Budha pada awalnya telah berada di nusantara ini, namun mereka memberi toleransi terhadap datangnya peradaban Islam melalui Gujarat, sedangkan agama Kristen masuk bersama dengan ras Eropa dan Agama Kong Hu Chu diakui sejak tahun 2000. 3. Bahasa, Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter dari alat ucap manusia. Di Indonesia terdapat banyak bahasa mewakili banyak suku bangsa maka diperlukan bahasa yang mampu menyatukan semua daerah. Telah ditetapkan bahwa Bahasa Indonesia yang berasal dari rumpun bahasa melayu menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. 4. Budaya Nasional, Kebudayaan adalah kegiatan dan penciptaan batin manusia, berisi nilai yang digunakan sebagai rujukan hidup. Kebudayaan nasional ialah sebagai puncak-puncak

kebudayaan daerah yang menyatukan dalam semangat nasionalisme yaitu sumpah pemuda. Kemajemukan budaya dijadikan konsep Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi budaya nasional yang dijadikan pegangan dalam hidup bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara. 5. Wilayah Nusantara, Wilayah nasional Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau (+ 17.000 pulau) yang terbentang di khatulistiwa serta terletak di posisi silang yang sangat strategis dan memiliki karakteristik khas yang berbeda-beda dengan negara lain.

Karakteristik Identitas Nasional. Identifikasi identitas nasional didekati melalui empat pendekatan; yaitu: 1). Pendekatan ke-nilai-an, 2). Pendekatan simbolik, 3) Pendekatan ke-fisik-an; dan 4) Pendekatan kebudayaan.

1). Pendekatan ke-nilai-an Pendekatan ini dilakukan dengan mengacu pada nilai-nilai pandangan hidup bangsa Indonesia; yaitu: a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang agamis.

14

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

b. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan dalam keIndonesiaan. d. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang demokratis dengan mengedepankan musyawarah untuk mufakat, dan e. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeadilan sosial.

Pendekatan ke-budaya-an dengan mengacu 7 unsur universal kebudayaan seperti pendapat Koentjaraningrat (1998): a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang agamis. b. Bangsa Indonesia dalam kaitan penguasaan iptek termasuk kategori bangsa yang sedang berkembang. c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multi kultur d. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang

2). Pendekatan simbolik Manusia Indonesia memiliki dan meyakini berbagai simbol sebagai identitasnya. a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika. b. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki lambang Negara Garuda Pancasila. c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbendera Merah Putih. 3). Pendekatan ke-fisik-an: Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai latar belakang ras dan atau etnis. 4). Pendekatan ke-budaya-an

berbahasa persatuan Indonesia. e. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kegotong-royongan. f. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sebagian besar bermatapencaharian di sektor agraria dan maritim. g. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai kekerabatan dan adat ketimuran.

Membangun Identitas Nasional Dalam kurun waktu sepuluh tahun reformasi, ternyata tidak menjadikan bangsa Indonesia bangkit malah makin terpuruk pada situasi disintegrasi yang mengancam eksistensi bangsa dan negara

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

15

kesatuan sebagai tantangan yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal berupa krisis multi dimensi yang tidak kunjung teratasi, dan kebebasan yang kebablasan. Faktor eksternal berupa berkembangnya globalisasi yang

pendidikan formal, informal maupun non formal. 2) Revitalisasi nilai-nilai Pancasila dengan cara pembinaan dan pengembangan moral sehingga moralitas Pancasila yang dijadikan dasar dan arah dalam upaya mengatasi krisis disintegrasi disegala lini kehidupan 3) Memahami sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang lahir karena suatu perjuangan bersama, tidak satu

melahirkan neoliberalisme dan kapitalisme serta serbuan informasi dan teknologi. Kondisi tersebut akan membawa pengaruh terhadap melunturnya identitas nasional yang merupakan manifestasi nilainilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa. Oleh karena itu harus dilakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengawal identitas nasional sebagai bangsa yang religius, ramah, sopan, penuh musyawarah, toleran dan berciri plural/ majemuk.

kelompok/satu golongan saja. 4) Memahami akan sifat dasar sebagai bangsa yang majemuk 5) Menggunakan segala sarana selain lembaga pendidikan untuk

mengingatkan dan 6) Menumbuh kembangkan kesadaran berbangsa, bernegara satu melalui berbagai saluran: pendidikan, dan

Langkah-langkah Membangun Identitas Nasional: 1) Memotivasi seluruh anak bangsa akan nilai-nilai Pancasila yang luhur yang mempersatukan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar yang disegani bangsa lain, melalui lembaga

pemanfaatan media massa. 7) Meletakkan Pancasila dalam satu keutuhan tafsir dengan pembukaan sebagai Staat fundamental norm yang tidak bisa ditawar dengan syarat terdapat prakondisi situasi kondusif bidang hukum yang suprematif

16

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

8) Memfasilitasi

tumbuh

dan

hal ini (Indonesia) menjadi semakin semakin dikenal dan ditetapkan sebagai bagian warisan budaya nasional yang diakui secara internasional. Dampak yang muncul dalam sektor budaya tersebut bisa kita lihat seperti banyaknya lembagalembaga swadaya masyarakat dari negara lain yang memiliki keperdulian terhadap warisan kebudayaan kita. Bentuk keperdulian tersebut bisa ditindaklanjuti dengan penggalangan dana dan kampanye warisan budaya seperti batik tersebut. Pengakuan

berkembangnya kebudayaan daerah. 9) Mengaktualisasikan pencerminan Identitas Nasional secara normatif dalam pergaulan bangsa dan antar bangsa. 10) Dibutuhkan platform dalam format dasar negara dan ideologi tanpa platform ini mustahil bangsa Indonesia akan survive atas ancaman intern dan ekstern

KESIMPULAN Globalisasi pada akhirnya membawa dampak yang nyata dalam bidang

dari lembaga lembaga internasional memiliki dampak ekonomis dengan menjadikan batik sebagai bagian industri kreatif yang bisa dijadikan sebagai komoditas sekaligus sebagai identitas nasional Indonesia. Kedua, globalisasi tidak bisa dicegah, maka regulasi yang dibuat oleh pemerintah dalam pengelolaan warisan budaya, khususnya batik yang masuk kategori sebagai identitas nasional dan komoditas industri kreatif disesuaikan dengan kebutuhan global dengan mengedepankan konteks budaya lokal. Ketiga, dengan menyatunya tatanan global dalam jaringan (networking) antara

kebudayaan Indonesia yang berupa seni batik. Ada beberapa catatan yang bisa digunakan sebagai bahan renungan kedepan dalam menghadapi tantangan globalisasi, khususnya untuk

pengembangan warisan budaya batik sebagai komoditas industry kreatif dan juga sebagai lambing identitas nasional. Pertama, globalisasi berdampak terhadap terjadinya akulturasi kebudayaan Indonesia dengan budaya global, khusus batik globalisasi mengangkat citra batik yang semula menjadi produk local dalam

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

17

lembaga swadaya

(NGO), semakin

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan The Asia Foundation Kartyka, Dharsono Shony, (2007) Budaya Nusantara : Kajian konsep mandala dsan konsep triloka terhadap pohon

membuka kerjasama dengan para mitra diberbagai negara tanpa bertemu secara fisik.

DAFTAR PUSTAKA Dharsono, (1993), Estetika : Kajian Dasar Pemahaman Estetika Seni Rupa ,Surakarta : Proyek Pengembangan Dan Penelitian STSI Friedman, Thomas L. (2005).The World is Flat : A Briefs History of the Twenty First Century . New York : Farrar, Straus and Giroux Geertz, Clifford, ( 1981), Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa (terjemahan dari Aswab Mahasin dengan judul asli The Religion of Java) Jakarta : Dunia Pustaka Jaya Kaelan; Zubaidi, Ahmad. ( 2007),. Pendidikan Kewarganegaraan.

hayat pada batik klasik , Bandung : Rekayasa Sains Khayam, Umar, (Maret 1987), Keselarasan dan Kebersamaan suatu penjelajahan awal, Jakarta : Prisma No 3 Muchson A.R. (2003) Etika :

Kewarganegaraan.Jakarta

Direktorat PLP - Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Ohmae, Kenichi, ( 1991) The Borderless World ( Dunia Tanpa Batas ) Jakarta : Bina Aksara Rahayu, Minto. (2007) . Pendidikan Kewarganegaraan : Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa. Jakarta : Grasindo Rozak, Abdul (ed.), (2005) Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) : Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Renada Media bekerja sama dengan ICCE UIN Syarif Hidayatullah,

Yogyakarta : Paradigma Kamim, Asykuri Ibn (ed.) (2003), Civic Education : Pendidikan

Kewarganegaraan.- Yogyakarta : Diklitbang Pimpinan Pusat

Muhammadiyah bekerja sama dengan

18

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

Soetoprawiro, Korniatmanto. (1996). Hukum Kewargangeraan dan

Keimigrasian Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Surbakti, Ramlan, (1999) . Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo. Tim Sanggar Batik Barcode, (2002) Mengenal batik dan cara mudah membuatnya Jakarta : Tim Sanggar Batik Barcode Winata Putra, Udin dkk. (2008), Kursus Calon Dosen Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn). Jakarta : Direktorat Ketenagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,

Departemen Pendidikan Nasional,.

Jurnal Sekolah Tinggi MEDIA KOMUNIKASI Trisakti

19