Anda di halaman 1dari 17

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS Nama Umur Agama Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat : Ny. U : 83 tahun : Islam : Perempuan : Ibu Rumah Tangga : Jalan Tambak, Jakarta Pusat

II. ANAMNESIS ( auto dan alloanamnesis, 29 Oktober 2010 ) Keluhan Utama : Pandangan seperti melihat kabut di mata sebelah kanan dan silau melihat cahaya. Keluhan tambahan : Penglihatan menurun di mata sebelah kanan. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poli Mata RSPAD dengan keluhan,mata kanan seperti melihat kabut lalu silau melihat cahaya sudah lebih dari 1 tahun, penglihatan menurun di mata sebelah kanan. Pasien menyangkal adanya rasa sakit di kedua mata,mual,pusing,muntah dan pasien menyangkal ketika berjalan tidak menabrak - nabrak. Pasien menyangkal adanya darah tinggi,penyakit gula, dan tidak mengalami kesulitan jika berada di dalam ruangan gelap. Pasien menyangkal pernah mendapatkan pengobatan penyakit paru maupun penyakit malaria. Riwayat Penyakit Dahulu : - Hipertensi - DM - Trauma : disangkal : disangkal : disangkal

- Alergi

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarganya yang menderita sakit seperti yang dialami pasien. III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum : baik Kesadaran Tanda vital Kepala THT jantung paru-paru Abdomen : compos mentis : TD: tidak diperiksa Nadi: tidak diperiksa RR: tidak diperiksa Suhu: tidak diperiksa : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan

B. Status Oftalmologikus Keterangan 1. Visus - Tajam penglihatan - Koreksi - Addisi - Distansia pupil - Kacamata lama 20/160 20/100 S+3,00 20/50 f2 PH (-) S+2,50 20/40 f2 PH (-) S+3,00 S+3,00 64/62 mm Tidak ada Tidak ada Okulo Dextra [OD] Okulo Sinistra [OS]

2. Kedudukan Bola Mata - Eksoftalmus - Endoftalmus - Deviasi - Gerakan bola mata 3. Supra Silia - Warna Hitam Hitam 2 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke semua arah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke semua arah

- Letak

Simetris

Simetris

4. Palpebra Superior dan Inferior - Edema - Nyeri tekan - Ektropion - Entropion - Blefarospasme - Trikiasis - Sikatriks - Fissura palpebra - Ptosis - Hordeulum - Kalazion - Pseudoptosis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 12 mm Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 12 mm Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

5. Konjungtiva Tarsalis Superior dan Inferior - Hiperemis - Folikel - Papil - Sikatrik - Anemia - Kemosis 6. Konjungtiva Bulbi - Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Perdarahan subkonjungtiva - Pterigium - Pinguekula - Nervus pigmentosus - Kista dermoid 7. Sistem Lakrimalis - Punctum lakrimalis - Tes Anel 8. Sklera - Warna - Ikterik 9. Kornea - Kejernihan Jernih Jernih 3 Putih Tidak ikterik Putih Tidak ikterik Terbuka Tidak dilakukan Terbuka Tidak dilakukan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

- Permukaan - Ukuran - Sensibilitas - Infiltrat - Ulkus - Perforasi - Arkus senilis - Edema - Tes Placido 10. Bilik Mata Depan

Licin 10mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada ada Tidak ada konsentris

Licin 10mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada ada Tidak ada konsentris

- Kedalaman - Kejernihan - Hifema - Hipopion - Efek Tyndall 11. Iris - Warna - Kriptae - Sinekia - Koloboma 12. Pupil - Letak - Bentuk - Ukuran - Reflek cahaya langsung - Reflek cahaya tak langsung 13. Lensa - Kejernihan - Letak - Shadow Test 14. Badan Kaca - Kejernihan 15. Fundus Okuli a. Papil - Bentuk - Batas - Warna

Normal Jernih Tidak ada Tidak ada Negatif

Normal Jernih Tidak ada Tidak ada Negatif

Coklat kehitaman Jelas Tidak ada Tidak ada

Coklat kehitaman Jelas Tidak ada Tidak ada

Di tengah Bulat 3 mm Positif Positif

Di tengah Bulat 3 mm Positif Positif

Keruh sebagian Ditengah Positif

Keruh sebagian Di tengah Positif

Jernih

Jernih

Bulat Tegas Merah

Bulat Tegas Merah 4

b. Makula Lutea - Refleks - Edema c. Retina - Perdarahan - CD ratio - Rasio A/V - Sikatrik 16. Palpasi - Nyeri tekan - Masa tumor - Tensi okuli - Tonometri Schiotz 17. Kampus Visi - Tes Konfrontasi

Baik Tidak ada Tidak ada 0,3 2/3 Tidak ada

Baik Tidak ada Tidak ada 0,3 2/3 Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Normal/palpasi 8/7,5 = 15,6mmHg

Tidak ada Tidak ada Normal/palpasi 8/7,5 = 15,6mmHg

Sama dengan pemeriksa

Sama dengan pemeriksa

IV. RESUME Pasien wanita umur 83 tahun datang ke Poli Mata RSPAD dengan keluhan,mata kanan seperti melihat kabut lalu silau melihat cahaya sudah lebih dari 1 tahun,dan pasien mengakui bahwa penglihatannya mengalami penurunan di mata sebelah kanan. . Pada pemeriksaan fisik didapatkan : 1. status Oftalmologi Visus : Tajam penglihatan OD 20/160 Tajam penglihatan OS 20/100 Fundus okuli : tidak terdapat perdarahan Arkus Senilis : ODS positif Shadow test : ODS positif Tes konfrontasi : ODS sama dengan pemeriksa.

V. DIAGNOSIS KERJA ODS Katarak senil tipe immatur ODS Hipermetropia ODS Presbiopia

VI. DIAGNOSIS BANDING


Tidak ada

VII.

PENATALAKSANAAN Operasi katarak OD Pemberian vitamin C

VIII.

PROGNOSIS OD OS Bonam Bonam Bonam : Bonam Bonam Bonam

Ad vitam

Ad fungisionam : Ad sanationam :

BAB II PEMBAHASAN KASUS KATARAK SENIL IMMATUR Pada pasien ini, presentan mendiagnosis pasien menderita katarak senil immatur berdasarkan: 1. Anamnesis. Riwayat penyakit sekarang Pasien wanita umur 83 tahun datang ke Poli Mata RSPAD dengan keluhan,mata kanan seperti melihat kabut lalu silau melihat cahaya sudah lebih dari 1 tahun,dan pasien mengakui bahwa penglihatannya mengalami penurunan,pasien menyangkal adanya keluhan mata merah, gatal, dan belekan. Keluhan ini dapat dimasukkan ke dalam kelompok Mata Tenang Visus Turun Perlahan ( kelompok 4 ). Kelompok 4 ini terdiri dari kelainan refraksi, katarak, glaukoma kronik, ataupun kelainan makula dan retina. Pasien menyangkal apabila berjalan tersandung sandung dan

menabrak sesuatu serta pasien juga menyangkal melihat pelangi di sekitar lampu, keluhan yang disangkal oleh pasien ini merupakan ciri-ciri dari penderita glaukoma kronik. Pasien mengakui menggunakan kacamata, ini menunjukkan adanya kelainan refraksi. Pasien mengaku dirinya tidak mengalami kesulitan melihat saat berpindah ruangan dari gelap ke terang ataupun sebaliknya. Hal ini dapat menyangkal adanya kelainan makula dan retina yaitu retinitis pigmentosa. Pasien juga menyangkal memiliki hipertensi maupun kencing manis. Hal ini dapat menyangkal adanya kelainan di makula dan retina yaitu retinopati diabetika maupun retinopati hipertensi. Pasien tidak pernah atau menyangkal sedang dalam pengobatan paru

maupun malaria. Hal ini dapat menyangkal adanya kelainan makula dan retina yaitu intoksikasi seperti etambutol ataupun kina. 2. Pada Visus : Tajam penglihatan OD 20/160 Tajam penglihatan OS 20/100 Koreksi : S+3,00 20/50 f2 PH (-) OD S+2,50 20/40 f2 PH (-) OS Arkus Senilis : ODS positif Lensa : ODS keruh sebagian Shadow test : ODS positif Fundus okuli : tidak ditemukan kelainan Tes konfrontasi : ODS sama dengan pemeriksa pemeriksaan oftalmologi didapatkan hal-hal yang

menunjang diagnosis, yaitu:

Visus : Pada pasien ini kedua mata memiliki kelainan refraksi ODS adalah Hipermetropia dan Presbiopia, dimana setelah dilakukan pemeriksaan visus dengan pinhole dan hasilnya tidak maju, hal ini membuktikan adanya kerusakan dari organ pada mata sehingga penurunan visus bukan hanya disebabkan oleh adanya kelainan pada media refraksi. Kornea, lensa, fundus okuli, kampus visi : Pada pasien ini pemeriksaan pada kornea didapatkan adanya arkus senilis pada kedua mata, arkus senilis adalah garis berwarna putih pada bagian tepi atau perifer pada kornea di daerah limbus, dimana arkus senilis adalah hal umum yang terjadi pada usia lanjut dimana kemampuan sel sudah mulai menurun. Pada pasien ini pada saat pemeriksaan lensa didapatkan hasil yaitu adanya kekeruhan lensa sebagian di kedua mata, dimana hal ini dapat mengarah pada diagnosa katarak, lalu pada pemeriksaan shadow test 8

hasil yang didapatkan adalah positif pada kedua mata, dimana pada shadow test didapatkan pada kedua lensa mata terdapat bayangan seperti bulan sabit dimana bentuk bayangan ini adalah khas pada katarak imatur. Pada pasien ini pada saat pemeriksaan fundus okuli menggunakan oftalmoskopi direk tidak ditemukan adanya kelainan, hal ini dapat menyangkal adanya kelainan makula dan retina. Pada pasien ini pada saat melakukan pemeriksaan kampus visi dengan cara melakukan uji konfrontasi didapatkan hasil yaitu sama dengan pemeriksa, dimana hal ini dapat menyangkal adanya penyempitan lapang pandang yang merupakan ciri khas dari glaukoma kronik.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA KATARAK SENIL

Definisi
Katarak adalah keadaan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata akibat hidrasi (penambahan cairan) pada lensa,denaturasi protein atau akibat keduaduanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama1,2. .

GAMBAR KATARAK 3

Penyebab

1,2

Konsep penuaan : 1. Kapsul : 2. Epitel : Menebal dan kurang elastis Mulai presbiopia Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur Terlihat bahan granular

10

Makin tipis Lebih iregular Pada korteks jelas kerusakan serat sel Korteks tidak berwarna

3. Serat lensa :

ETIOLOGI Katarak Senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun1. Katarak imatur, sebagian seluruh lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil2.

GAMBAR KATARAK IMATUR 4 PATOFISIOLOGI Komposisi terbanyak pada lensa mata adalah air dan protein. Penumpukan protein pada lensa mata dapat menyebabkan kekeruhan pada lensa mata dan mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke retina. Proses penumpukan protein ini berlangsung secara bertahap, sehingga pada tahap awal seseorang tidak merasakan keluhan/gangguan penglihatan.

11

Pada proses selanjutnya penumpukan protein ini akan semakin meluas sehingga gangguan penglihatan akan semakin meluas dan bisa samapi pada kebutaan1,2.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala subyektif :
o Penurunan tajam penglihatan o Penglihatan seakan akan melihat asap,kabut,tirai. o Peka terhadap sinar atau cahaya o Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca

Gejala obyektif :
Pada katarak senil terlihat lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu dapat sebagian ataupun menyeluruh. Biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak keseluruhan pada oftalmoskopi. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyilaukan dengan distorsi bayangan dan agak sulit untuk melihat di ruang gelap. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun tahun dan ketika katarak sudah memburuk lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan. Bisa melihat dekat pada pasien rabun dekat,dan juga penglihatan perlahan lahan berkurang tanpa rasa sakit. Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari silau yang disebabkan oleh kesalahan fokus cahaya melalui media refraksi yakni lensa. Ada yang mengenakan topi yang bertepi lebar ataupun kacamata hitam.

12

Seorang dokter mata akan memeriksa mata dengan berbagai alat untuk menentukan tipe, besar dan letaknya kekeruhan pada bagian lensa. Bagian dalam dari mata diperiksa dengan alat oftalmoskop, untuk menentukan apakah ada kelainan lain di mata yang mungkin juga merupakan penyebabnya berkurang penglihatan. Bila diketahui adanya gejala di atas sebaiknya segera diminta pendapat dokter mata. Secara umum seseorang yang telah berusia 40 tahun sebaiknya mendapatkan pemeriksaan mata rutin2. .

PENEMUAN FISIK OFTALMOLOGI1 Pada katarak senil : Insipien Kekeruhan Ringan Cairan lensa Normal Iris Normal Bilik mata Normal depan Sudut bilik Normal Negatif Imatur Sebagian Bertambah Terdorong Dangkal Sempit Positif Glaukoma Matur Seluruh Normal Normal Normal Normal Negatif Hipermatur masif Berkurang Tremulans Dalam Terbuka Pseudopos - Uveitis Glaukoma

mata Shadow test Penyulit

Penyulit :
Uveitis1 Glaukoma1

Prognosis :
1. Baik sekali, bila operasi berhasil 1,2

13

DIAGNOSIS BANDING

Glaukoma kronis. Retinopati diabetika Retinopati hipertensi.

Penatalaksanaan :
Satu satunya pengobatan untuk katarak adalah pembedahan. Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat baik dengan adanya koreksi ( pemakaian kacamata ) untuk melakukan kegiatannya sehari hari. Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti kacamatanya, menggunakan kacamata bifokus yang lebih kuat atau menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan2. Pembedahan katarak antara lain: 1. ICCE1 Pembedahan dengan mengeluarakan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat dilakukan pada zonula zinnii telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah diputus. Pada katarak intrakapsular tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sanagat lama populer, pembedahan ini dilakukan dengan mempergunakan mikroskop dan pemakaian alat khusus sehinnga penyulit tidak banyak seperti sebelumnya. Katarak ekstraksi intrakapsular ini tidak boleh dilakukan pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. 2. ECCE1

14

Tindakan

pembedahan

pada

lensa

katarak

dimana

dilakukan

pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga masa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Termasuk ke dalam golongan ini ekstraksi linear, aspirasi, dan irigasi. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama- sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular. Kemungkinan akan dilakukan bedah glaukoma, mata dengan predisposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. 3. Fakoemulsifikasi2 Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan kecil ( 2 5 mm ) sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi. Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.

GAMBAR FAKOEMULSIFIKASI 5

KOMPLIKASI

15

Katarak sekunder post operatif, terjadi akibat terbentuknya jaringan

fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari ECCE. Bentuk lain yang merupakan proliferasi epitel lensa pada katarak sekunder berupa mutiara Elschnig dan cincin Soiemmering. Katarak sekunder merupakan fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsular atau sesudah suatu trauma memecah lensa1.

Cincin Soemmering mungkin akan bertambah besar oleh karena

daya regenerasi epitel yang terdapat didalamnya. Cincin Soemmering terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan traksi ke arah pinggir melekat pada kapsula posterior meninggalkan daerah yang jernih di tengah, dan membentuk gambaran cincin. Pada pinggir cincin ini tertimbun serabut lensa epitel yang berproliferasi1.

DAFTAR PUSTAKA
16

1. llyas, Sidharta ilmu Penyakit Mata. FKU1 2003 hal 207-218 2. www.foodrocipoarispurnomo.com/konseppenyakit-kataraksenil 3. www.mentorhealthcare.com/news.ph...3Ddetail 4. www.ns-nining.blogspot.com 5. www.icarelasik.co.id

17