Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tiada sesuatu pun mampu meragukan kecanggihan karunia ciptaan-Nya. Sungguh Maha Suci Allah yang menetapkan berlangsungnya kematian di antara hamba-hamba-Nya. Kemudian diciptakanNya manusia dari air mani, Ia tebarkan benih-benih nutfah di lahan-lahan rahim, demi mencegah kepunahan mereka. Maka Ia pun mengagungkan kesucian hubungan nasab, dan mengharamkan perzinahan. Bersamaan dengan itu, Ia menyeru manusia, melalui aneka cara perintah maupun anjuran, agar mereka melakukan pernikahan sebagai satu-satunya cara yang dibenarkan oleh-Nya. Pernikahan adalah pembantu penguat agama seseorang dan pembawa kehinaan bagi setan. Melaluinya, umat Nabi Muhammad s.a.w akan berkembang biak dan berlipat ganda, menyebabkan timbulnya kegembiraan serta kebanggaan bagi beliau. Oleh karena pentingnya pernikahan tersebut, kami akan membahas tentang Pernikahan dalam Islam yang tentunya sangat penting. Ini semua kami lakukan semata-mata juga dengan tujuan memenuhi kewajiban kami sebagai mahasiswa, dan Insya Allah dapat berbagi pengetahuan dengan teman-teman kami.

1.2 Tujuan Tujuan atau indikator dari makalah yang kami bahas ini adalah: a. Mahasiswa meyakini dan menjelaskan bahwa hidup berpasangan merupakan sunnatullah. Mahasiswa dapat menjelaskan dan mempedomani tujuan dan rukun nikah dalam islam Mahasiswa dapat menjelaskan tatacara pernikahan di Indonesia sesuai dengan Hukum perkawinan yang berlaku

b.

c.

d. Mahasiswa dapat menganalisis,mengkritisi, dan memberi penilaian terhadap kasus kawin bawah tangan

BAB II PEMBAHASAN
PERKAWINAN 2.1 Arti perkawinan Perkawinan dalam literatur fiqih berbahasa Arab disebut dengan dua kata yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini kata yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang arab dan banyak terdapat dalam al-quran dan hadits nabi. Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam alquran dengan arti kawin, seperti dalam surat an-nisa ayat 3.

dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap anak yatim,maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang km senangi, dua,tiga,atau empat orang, dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil ckup satu orang...... Demikian pula banyak terdapat kata za-wa-ja dalam alquran dalam arti kawin seperti pada surat al-ahzab ayat 37

maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluaan (menceraikan)istrinya; kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini ) mantan istri istri anak angkat mereka... Secara arti kata nikah atau zawaj berarti Bergabung, hubungan kelamin, dan juga berarti akad. Dalam arti terminologis dalam kitab kitab fiqih banyak diartikan; akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin dengan menggunakan lafazd na-ka-ha atau zawaja.
2

2.2 Hikmah perkawinan Sungguh amat jelas bahwa perkawinan yang terjadi pada makhluk hidup, baik tumbuhan, binatang ataupun manusia adalah untuk keberlangsungan dan pengembangbiakan makhluk yang bersangkutan. Al-Quran Al-Karim mengisyaratkan kepada kita akan adanya hikmah tersebut, dalam firman Allah SWT :

Hai sekalian manusia bertaqwalah kamu kepada tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu (QS.An Nisa 1) Penciptaan adalah bukti adanya pencipta. Kelangsungan hidup ciptaan merupakan bukti keabadian pencipta. Untuk itu Al-Quran menganjurkan kita agar lebih menunjukkan pandangan terhadap ciptaan Allah, kelangsungan hidup dan pegembangbiakannya, supaya kita tambah yakin akan wujud, keadaan, keabadian, dan keesaannya.

2.3 PRINSIP-PRINSIP PERKAWINAN DALAM ISLAM Perkawinan menurut ajaran islam di tandai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Pilihan jodoh yang tepat 2. Perkawinan didahului dengan peminangan 3. Ada ketentuan tentang larangan perkawinan antara laki-laki dan perempuan 4. Perkawinan didasarkan atas sukarela antara pihak-pihak yang bersangkutan 5. Ada persaksian dalam akad nikah 6. Perkawinan tidak di tentukan untuk waktu tertentu 7. Ada kewajiban membayar mas kawin / mahar atas suami 8. Ada kebebasan mengajukan syarat dalam akad nikah 9. Tanggung jawab pimpinan keluarga pada suami 10. Ada kewajiban bergaul dengan baik dalm kehidupan rumah tangga

2.4 Hukum perkawinan Perkawinan adalah suatu perbuatan yang disuruh oleh allah dan juga di suruh oleh nabi. Banyak suruhan suruhan Allah dalam Al-quran untuk melaksanakan perkawinan. Diantaranya firman Nya dalam surat An-Nur ayat 32:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (untuk kawin) di antara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dari begitu banyaknya suruhan Allah dan Nabi untuk melaksanakan perkawinan itu maka perkawinan itu adalah perbuatan yang disenangi Allah dan Nabi untuk dilakukan. Atas dasar ini hukum Perkawinan itu menurut asalnya adalah sunnat. Namun karena ada tujuaan mulia yang hendak dicapai dari perkawinan itu dan yang melakukan perkawinan itu berbeda pula kondisinya serta situasi yang melingkupi suasana perkawinan itu berbeda pula, maka secara rinci jumhur ulama menyatakan hukum perkawinan itu dengan melihat keadaan orang-orang tertentu, sebagai berikut : a. Sunnat bagi orang-orang yang telah berkeinginan kawin, telah pantas untuk kawin, dan dia telah mempunyai perlengkapan untuk melangsungkan perkawinan1 b. Makruh bagi orang-orang yang belum pantas untuk kawin, belum berkeinginan untuk kawin, sedangkan pembekalan untuk perkawinan juga belum ada. Begitu pula ia telah mempunyai perlengkapan untuk perkawinan, namun fisiknya mengalami cacat impoten, berpenyakitan tetap , tua bangka dan kekurangan fisik lainnya2. c. Wajib bagi orang-orang yang telah pantas untuk kawin, berkeinginan untuk kawin dan memiliki pelengkapan untuk kawin. Ia khawatir akan terjerumus ke tempat maksiat kalau ia tidak kawin3. d. Haram bagi orang-orang yang tidak akan dapat memenuhi ketentuan syara untuk melakukan perkawinan atau ia yakin perkawinan itu tidak akan mencapai tujuan syara, sedangkan dia meyakini perkawinan itu akan merusak kehidupan pasangannya4. e. Mubah bagi orang-orang yang pada dasarnya belum ada dorongan untuk kawin dan perkawinan itu tidak akan mendatangkan kemudaratan apa-apa kepada siapa pun5.
1

Perkawinan yang hukumnya sunnah berarti perkawinan itu lebih baik dilakukan daripada ditinggalkan,jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. 2 Perkawinan yang hukumnya makruh berarti perkawinan itu lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. 3 Perkawinan yang hukumnya wajib berarti perkawinan itu harus dilaksanakan 4 Perkawinan yang hukumnya haram berarti perkawinan itu dilarang keras untuk dilakukan 5 Perkawinan itu hukumnya mubah berarti perkawinan itu boleh dilaksanakan dan boleh tidak dilaksanakan

2.5 Tujuan dan hikmah perkawinan Ada beberapa tujuan dari disyariatkannya perkawinan atas umat islam. Diantaranya adalah : a. b. Untuk mendapatkan anak keturunan bagi melanjutkan generasi yang akan datang. ( surat An-nisa ayat 1). Untuk mendapatkan keluarga bahagia yang penuh ketenangan hidup dan rasa kasih sayang (surat Ar-rum ayat 21).

2.6 Rukun dan Syarat Perkawinan Rukun dan syarat menentukan suatu hukum terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya suatu perkaawinan.Rukan syarat perkawinan itu adalah segala hal yang harus terwujud dalam suatu perkawinan,baik yang menyangkut unsur dalam,maupun unsur lainnya. Rukun dan syarat suatu perkawinan Jumhur ulama sepakat bahwa rukun dan syarat perkawinan terdiri atas6 : 1. Akad Nikah Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang berakad dalam bentuk ijab dan qabul.ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak ke dua. Syarat-syarat akad nikah adalah : a. akad harus dimulai dengan ijab dan dilanjutkan dengan qabul b. materi dari ijab dan qabul tidak boleh berbeda c. ijab dan qabul harus di ucapkan secara bersambungan tanpa terputus walau sesaat d. ijab dan qabul mesti menggunakan lafaz yang jelas dan terus terang e. ijab dan qabul tidak boleh menggunakan lafaz yang mengandung maksud membatasi perkawinan untuk masa tertentu 2. Laki-laki dan perempuan yang kawin Islam hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan dan tidak boleh lain dari itu. Seperti yang tersebut dalam Al-Quran, adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut : a. keduanya jelas keberadaannya dan jelas identitasnya b. keduanya sama-sama beragama islam c. antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan d. keduanya telah mencapai usia yang layak untuk melangsungkan perkawinan.

Lihat Slamet Abidin dan H.Aminuddin,Fiqih Munakahat 1,(bandung:CV.Pustaka setia,1999), cetakan.ke1, hlaman 64-68.

3. Wali 3.1.keberadaan wali Wali dalam perkawinan adalah seseorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah.Keberadan seorang wali dalam akad nikah suatu perkawinan adalah sesuatu yang diharuskan dan tidak sah apabila tidak ada wali.7 3.2. Orang-orang yang berhak menjadi wali a. wali dekat atau wali Qarib yaitu ayah, kalau tdak ada ayah pindah kepada kakek b. wali jauh atau wali abad. Yang menjadi wali jauh ini secara berurutan adalah: - saudara laki-laki kandung,kalau tidak ada pindah kepada - saudara laki-laki seayah,kalau tidak ada pindah kepada - anak saudara laki-laki kandung,kalau tidak ada pindah kepada - anak saudara laki-laki seayah,kalau tidak ada pindah kepada - paman kandung,kalau tidak ada pindah kepada kepada - paman seayah,kalau tidak ada pindah kepada - anak paman kandung,kalau tidak ada pindah kepada - anak paman seayah - ahli waris kerabat lainnya,kalau tidak ada pindah kepada - sultan atau wali hakim yang memegang wilayah umum. 3.3. syarat-syarat wali a. telah dewasa dan berakal sehat b. laki-laki. Tidak boleh perempuan menjadi wali8 c. Muslim, tidak sah orang yang tidak beragama islam menjadi wali untuk muslim. Hal ini berdalil dari firnam Allah dalam surat Ali Imran ayat 28: janganlah orang-orang muslin mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin.barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. d. orang merdeka e tidak berada dalam pengampuan atau majhur alaih. f. berfikir baik g. adil dalam arti tidak pernah terlibat dalam dosa besar dan tidak sering terlibat dalam dosa kecil serta tetap memelihara muruah atau sopan santun h. tidak sedang melakukan ihram, untuk haji dan umroh.

7 8

Menurut jumhur ulama Hadist Nabi dari Abu Hurairah

4. Dua orang saksi yang menyaksikan telah berlangsungnya akad perkawinan itu 4.1. Keberadaan saksi Akad nikah mesti disaksikan oleh dua orang saksi supaya ada kepastian hukum dan untuk menghindari timbulnya sanggahan dari pihak-pihak yang berakad di belakangan hari. 4.2.Syarat-syarat saksi: a. saksi itu berjumlah paling kurang dua orang b. kedua saksi itu adalah beragama islam c. kedua saksi itu adalah orang yang merdeka d. kedua saksi itu adalah laki-laki e. kedua saksi itu adil dalam arti tidak pernah terlibat dalam dosa besar dan tidak sering terlibat dalam dosa kecil serta tetap memelihara muruah atau sopan santun f. kedua saksi itu dapatmendengar dan melihat 5. Mahar Mahar atau yang disebut juga shadaq ialah pemberian khusus laki-laki kepada perempuan yang melangsungkn perkawinan pada waktu akad nikah.hukum memberi mahar itu adalah wajib.

BEBERAPA ISI DRAFT RUU NIKAH SIRI Pasal 142 ayat 3 menyebutkan, calon suami yang berkewarga negaraan asing harus membayar uang jaminan kepada calon istri melalui bank syariah sebesar Rp 500 juta. Pasal 143, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi. Mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 12 juta. Selain kawin siri, draf RUU juga menyinggung kawin mutah atau kawin kontrak. Pasal 144, setiap orang yang melakukan perkawinan mutah dihukum penjara selama-lamanya 3 tahun dan perkawinannya batal karena hukum. RUU itu juga mengatur soal perkawinan campur (antardua orang yang berbeda kewarganegaraan).

BAB III KASUS


RUU Nikah Siri - RUU Nikah Siri atau Rancangan Undang-Undang Hukum Materil oleh Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang akan memidanakan pernikahan tanpa dukeman resmi atau yang biasa disebut sebagai nikah siri, kini tengah memicu kontroversi ditengah-tengah masyarakat. Seperti halnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai pemidanaan nikah siri yang diatur dalam Draf RUU Nikah Siri adalah sebagai langkah tidak benar. "Saya kira ini tidak benar.Nikah siri cukup diadministrasikan saja. Harusnya yang lebih dulu dipidanakan itu yang tidak nikah (berhubungan seks di luar nikah).Saya yakin ini ada agenda tersembunyi untuk melegalkan yang melakukan seks bebas (free sex) dan menyalahkan yang nikah," 2kata Hasyim kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Gedung PBNU Jakarta kemarin. Pemerintah sejauh ini bersikukuh memperjuangkan draf RUU Nikah Siri yang sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Patrialis Akbar menegaskan, nikah siri perlu diatur agar ada kepastian hukum dalam pernikahan dan kepastian hukum anak-anak mereka. "Jadi yang bagus kan nikah itu ada suratnya. Jadi jangan hanya, maaf ya, dalam tanda kutip, lakilaki itu jangan sekadar make aja dong.Tanggung jawabnya di mana dong? Lahir batin dong! Kanitu bagian dari perkawinan, jadi dia harus bertanggung jawab. Kalau punya anak, anaknya jadi tanggung jawabnya," ujar Patrialis Akbar di selasela kunjungan ke LP Anak Kelas II A Tangerang mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin. Untuk diketahui, draf usulan RUU Nikah Siri Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan menampung pasal tentang nikah siri atau nikah yang tidak tercatat di kantor urusan agama (KUA). Pasal tersebut menyebutkan, jika seseorang melakukan nikah siri atau melakukan kawin kontrak,ia dapat diancam dengan pidana penjara. Pasal 143 RUU UU yang hanya diperuntukkan bagi pemeluk Islam ini menggariskan, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi, mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp6 juta hingga Rp12 juta. Selain kawin siri,draf RUU juga menyinggung kawin mutah atau kawin kontrak. Pasal 144 menyebut, setiap orang yang melakukan perkawinan mutah dihukum penjara selamalamanya 3 tahun dan perkawinannya batal karena hukum. RUU itu juga mengatur soal perkawinan campur (antardua orang yang berbeda kewarganegaraan). Pasal 142 ayat 3 menyebutkan, calon suami yang berkewarga negaraan asing harus membayar uang jaminan kepada calon istri melalui bank syariah sebesar Rp500 juta.

Menurut Patrialias,masyarakat harus diberi kesadaran bahwa nikah itu tidak sekadar nikah atau bohong-bohongan. Menurutnya, banyaknya pria menikah di bawah tangan dan janda-janda muda menjadi stimulasi agar hal tersebut perlu diatur. Ditegaskan, pengaturan pernikahan bukan berarti negara ikut campur dalam masalah agama. Kalau kehidupan bermasyarakat tidak diatur,masyarakat bisa kacau. Ya, kalau kehidupan beragama itu misalnya begini, orang mengaji harus mengaji dari jam sekian sampai sekian, itu baru namanya ikut campur,jelasnya. Di tempat sama, Menteri Agama Suryadharma Ali menuturkan bahwa draf RUU tersebut sudah dibuat sekitar lima tahun lalu atau sebelum dirinya menjabat sebagai Menteri Agama. Karena itu, pembahasan mengenai nikah siri akan kembali dilihat pasal demi pasal oleh fraksi-fraksi yang ada di DPR. Dari daftar inventarisasi masalah yang telah masuk itu,akan muncul berbagai pandangan mengenai rancangan pasal itu.Mungkin saja ada yang cocok atau kurang cocok, mungkin nanti bertemu, pemikiran yang lebih sesuai dari apa yang dikonsepkan sekarang,ujarnya. Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mengakui, nikah siri dalam syariah agama disahkan. Namun dalam peraturan undang-undang hal itu tidak bisa disahkan karena belum tercatat dalam administrasi negara. Untuk itu, Suryadharma meminta para pelaku nikah siri untuk segera mencatatkan perkawinannya ke KUA. "Mereka harus mencatatkan itu (pernikahannya ke KUA), bukan berarti nikahnya nggak sah. Bila tidak sah kan berarti berzina bertahun-tahun," katanya. Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Nasarudin Umar menjelaskan, maksud draf RUU tersebut tiada lain hanya untuk menjadikan kewibawaan perkawinan terjaga karena dalam Islam perkawinan adalah hal yang suci. Selain itu,RUU ini diajukan terkait masalah kemanusiaan. Dia berharap, adanya UU ini nantinya akan mempermudah anak mendapatkan haknya seperti dapat warisan, hak perwalian, pembuatan KTP, paspor,serta tunjangan kesehatan dan sebagainya. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan dukungannya terhadap draf RUU Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan.Dalam pandangannya, nikah siri itu lebih banyak merugikan anak-anak dan kaum perempuan.

"Anak-anak yang lahir dari kawin siri itu tidak diakui hukum dan tidak mendapatkan hak waris," jelasnya di Gedung MK kemarin. Mahfud menyatakan,perempuan yang dinikahi secara siri tidak diakui oleh hukum sehingga jika seseorang mempunyai dua istri, kemudian istri pertama adalah hasil pernikahan yang tercatat dan istri kedua adalah hasil nikah siri,maka istri pertama sangat kuat di hadapan hukum. "Jika istri pertama mengatakan saya istri yang sah, maka hal itu tidak bisa dilawan dengan hukum, "jelasnya.Kendati demikian, dia menggariskan bahwa RUU tersebut perlu didiskusikan. Ketua Umum Fatayat NU Maria Ulfa Anshor juga mendukung langkah pemerintah mengatur kawin siri. Secara tegas dia menyatakan kawin siri dan kawin kontrak sangat berisiko bagi perempuan untuk menjadi korban. 9

Dia menolak pendapat yang menyebut pengaturan itu melanggar HAM walaupun perkawinan merupakan isu privat. Penegakan HAM bukan berarti semua hal yang terkait dengan persoalan privat tidak ada aturannya. Negara mengatur dalam rangka memberikan koridor. Nikah siri bisa berdampak timbulnya ketidakadilan bagi perempuan,katanya. Masalah Perdata

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Arwani Faishal mengingatkan bahwa pernikahan adalah masalah perdata. Karena itu akan menjadi kezaliman pemerintah jika memenjarakan pelakunya. Dia kemudian membandingkan dengan pelaku kumpul kebo yang jelasjelas bertentangan dengan agama mana pun, tapi tidak pernah dikenai sangsi pidana oleh negara. "Lho, orang-orang yang menjalankan ajaran agama justru diancam dengan hukuman penjara? Jika ini terjadi justru negara malah bertindak zalim,"kata Arwani. Menurutnya, pernikahan siri atau pernikahan yang tidak didaftarkan secara administratif kepada negara adalah perkara perdata yang tidak tepat jika diancam dengan hukuman penjara. Bahkan sanksi material (denda) juga tetap memiliki dampak sangat buruk bagi masyarakat. "Bila mengenakan denda dalam jumlah tertentu untuk orangorang yang melakukan nikah siri, tentu hal ini dapat menimbulkan ketidakadilan. Bukan masalah bagi mereka yang punya uang banyak. Namun tidak adil bagi mereka yang secara ekonomi hidupnya pas-pasan,"kata Arwani. Dalam pandangannya, nikah siri memiliki berbagai dampak positif (maslahah) dan dampak negatif (mafsadah) yang sama-sama besar. Jika dilegalkan, akan sangat rawan disalahgunakan dan jika tidak diakui akan bertentangan dengan syariat Islam. "Untuk itu dampak negatif dan positif pernikahan siri harus dikaji dan disikapi bersama,"katanya.

10

BAB IV PENUTUP

4.1.KESIMPULAN Dari makhluk yang di ciptakan Allah SWT bepasang-pasangan inilah Allah SWT menciptakan manusia menjadi berkembang biak dan berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Islam mengatur manusia dalam hidup berjodoh-jodohan itu melalui jenjang perkawinan yang ketentuannya dirumuskan dalam wujud aturan-aturan yang di sebut hukum perkawinan dalam. Perkawinan adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh allah dan juga di anjurkan oleh nabi. Banyak suruhan suruhan Allah dalam Al-quran untuk melaksanakan perkawinan.Sungguh amat jelas bahwa perkawinan yang terjadi pada makhluk hidup, baik tumbuhan, binatang ataupun manusia adalah untuk keberlangsungan dan pengembangbiakan makhluk yang bersangkutan. Motif- motif syariat islam memerintahkan umatnya untuk melakukan pernikahan adalah dengan tujuan untuk : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Melestarikaan keturunan Memelihara nasab (status) Menyelamatkan masyarakat dari dekadensi moral Sebagai media pembentukan rumah tangga ideal dan pendidikaan anak Membebaskan masyarakat dari berbagai penyakit Memperoleh ketenangan jiwa dan spiritual Menumbuhkan kasih sayang orang tua kepada anak

Islam menganjurkan orang berkeluarga karena dari segi batin orng dapat mencapainyaa melalui berkeluargaa yang baik, seperti yang dinyatakan dalam salah satu sabda Nabi SAW. Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Ibn Abbas : Hai para pemuda, barang siapa yang telah sanggup diantaramu untuk kawin,maka kawinilah, karena sesungguhnya kawin itu dapat mengurangi pandangan ( yang liar ) dan lebih menjaga kehormatan. Demikian pula dari segi ketentuan bertambah dan bekesinambungannya amal kebaikan sekarang, dengan berkeluargaa akan dapat dipenuhi. Dengan berkeluarga orang dapat mempunyai anak dan dari anak yang shaleh diharapkan mendapatkan amal tambahan disamping amal-amal jariyah yang lain.

11

DAFTAR PUSTAKA Rahman Ghazaly,Abd.,M.A Media,2003,cet ke-1. ; Fiqih Munakahat,Jakarta:Prenada

Syarifuddin,Amir.,Prof.Dr ; Garis-garis Besar Fiqih,Jakarta:Prenada Media,2003,cet pertama. Azhar Basyir,Ahmad.,M.A ; Hukum Perkawinan Islam,Yogyakarta:UII Press Yogyakarta,2004,cet ke-10. Ghazali,Al; Menyingkap Hakikat Perkawinan,Bandung:1999,cet ke-10. www.google.com

12