Anda di halaman 1dari 24

prie0512

Bekerja untuk hari ini, berfikir untuk hari esok


GALERY BERANDA SEKAPUR SIRIH PROFIL RIWAYAT HOBI HUBUNGI SAYA

Posted by prie0512 on 30 Novemb er 2011

METHODOLOGI PENGAWASAN PELEBARAN JALAN MADIUN PONOROGO


Posted in: Work. Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan Terkini
Jasa Gambar dan RAB STANDARD GEOMETRIK JALAN RAYA Sekilas tentang GPS Pre Construction Meeting METHODOLOGI PENGAWASAN PELEBARAN JALAN MADIUN PONOROGO

1. A.

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK

Arsip
Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau Terms Of Reference (TOR) adalah satu petunjuk atau dasar dari sebuah rencana suatu pekerjaan. Penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) didasari atas gagasan filosofis dari pekerjaan dimaksud. Dalam hal Kegiatan Perencanaan Teknis Rehabilitasi Dan Pemeliharaan Jalan Dan Jembatan Propinsi, Pekerjaan Supervisi Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo yang disusun dengan maksud untuk menyediakan prasarana jalan dan jembatan yang baik, agar dapat berfungsi optimal melayani masyarakat. Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah melaksanakan pekerjaan pengawasan teknik jalan sedemikian rupa, sehingga dicapai mutu pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan secara optimal sesuai dengan investasi dan syarat-syarat yang ditetapkan. Berdasarkan penjelasan dalam Perpres No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah disebutkan bahwa Kerangka Acuan Kerja yang ditetapkan oleh PPK sekurangkurangnya memuat hal-hal sebagai berikut : 1) uraian pendahuluan berupa gambaran secara garis besar mengenai pekerjaan yang
Februari 2012 (4) November 2011 (6) April 2011 (3) Maret 2011 (3) Februari 2011 (1)

KALENDER
November 2011
S S 1 7 14 21 28 Apr 8 15 22 29 R 2 9 16 23 30 Feb K 3 10 17 24 J 4 11 18 25 S 5 12 19 26 M 6 13 20 27

akan dilaksanakan, antara lain latar belakang, maksud dan tujuan, lokasi, asal sumber pendanaan, nama dan organisasi PPK; 2) data penunjang berupa data yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, antara lain data dasar, standar teknis, studi-studi terdahulu yang pernah dilaksanakan, dan peraturan perundang~undangan yang harus digunakan; 3) tujuan dan ruang lingkup pekerjaan yang memberikan gambaran mengenai tujuan yang ingin dicapai, keluaran yang akan dihasilkan, keterkaitan antara suatu keluaran dengan keluaran lain, peralatan dan material yang disediakan oleh PPK serta peralatan dan material yang harus disediakan oleh penyedia, lingkup kewenangan yang dilimpahkan kepada penyedia, perkiraan jangka waktu penyelesaian pekerjaan jasa konsultansi, kualifikasi dan jumlah tenaga ahli yang harus disediakan oleh penyedia, perkiraan keseluruhan tenaga ahli/tenaga pendukung yang diperlukan (jumlah person-months) dan jadwal setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan. Khusus untuk pengadaan jasa konsultansi dengan evaluasi pagu anggaran, jumlah tenaga ahli tidak dicantumkan dalam Kerangka Acuan Kerja; 4) jenis dan jumlah laporan yang disyaratkan (antara lain laporan pendahuluan, laporan

bulanan, laporan antara dan laporan akhir); 5) ketentuan bahwa kegiatan jasa konsultansi harus dilaksanakan di Indonesia, kecuali untuk kegiatan tertentu yang belum mampu dilaksanakan di Indonesia;

6) hal-hal lain seperti fasilitas yang disediakan oleh PPK untuk membantu kelancaran tugas penyedia, persyaratan kerjasama dengan penyedia lain (apabila diperlukan), dan pedoman tentang pengumpulan data lapangan. Namun terlepas dari itu semua, konsultan menganggap bahwa Kerangka Acuan Kerja Kegiatan Perencanaan Teknis Rehabilitasi Dan Pemeliharaan Jalan Dan Jembatan Propinsi, Pekerjaan Supervisi Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo tersebut penuh dengan apresiasi dan inovasi. Salah satu hal yang mendapat tanggapan positif dari kami adalah mengenai alih pengetahuan yang menerangkan bahwa apabila dipandang perlu oleh Pejabat Pembuat Komitmen, maka Penyedia Jasa harus mengadakan pelatihan, kursus singkat, diskusi dan seminar terkait dengan subtansi pelaksanaan kegiatan dalam rangka alih pengetahuan kepada staff di lingkungan organisasi Pejabat Pembuat Komitmen. Hal ini dapat dijadikan sebagai ruang dan media untuk : 1. Menambah wawasan; 2. Memperluas daya pikir Dengan begitu akan terjadi diskusi dan tukar pendapat sekaligus menyamakan persepsi antara ketiga pihak; konsultan pengawas, kontraktor pelaksana, dan staff organisasi Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Timur, sehingga tercapai hubungan sinergi yang baik. Hubungan yang sinergi antara ketiga belah pihak tersebut menjadi hal yang urgen dan menjadi prioritas utama dalam pekerjaan ini, karena kami menilai suatu pekerjaan tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan apabila pihak pihak yang terlibat di dalamnya tidak bisa membangun sebuah hubungan kerja sama yang baik. Untuk itu kami selaku konsultan pengawas menghimbau agar senantiasa saling berkomunikasi dalam proses peyelesaian pekerjaan pengawasan ini.

1. B. B.1.

URAIAN PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA PENDEKATAN METODOLOGI

Pengawasan pekerjaan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik merupakan suatu aspek penting menunjang keberhasilan pembinaan Bidang Bina Marga, utamanya keberhasilan dalam meningkatkan mutu pelaksanaan pekerjaan fisik jalan dan jembatan. Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tahap perencanaan dan pengawasannya yang masing masing tahap dilaksanakan melalui kegiatan penyiapan, pengerjaan dan pengakhiran. Tahap pengawasan menjadi tahap yang tidak kalah pentingnya sebagai proses pengendalian terhadap pelaksanaan pekerjaan fisik. Fungsi dasar pekerjaan konstruksi yaitu mempunyai beberapa wujud karakter, antara lain : Quality control, yaitu mengamankan komponen secara menyeluruh dan mendetail (tidak secara random) untuk memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan dan selalu dilengkapi daftar simak apa yang akan diperiksa. Observasi berkala, yaitu mengamankan tercapainya sasaran desain dengan segala konsep, metode, asumsi, perilaku struktur, urutan pelaksanaan, dan observasi cermat serta detail.

1. 1.

METODE PENGAWASAN PELEBARAN PERKERASAN JALAN

Pekerjaan pelebaran perkerasan jalan mencakup penambahan lebar perkerasan lama sampai lebar jalur lalu lintas yang diperlukan dalam rancangan, yang ditunjukkan pada gambar atau yang diperintahkan konsultan. Pekerjaan ini mencakup penggalian dan pembuangan bahan yang ada, penyiapan tanah dasar, dan penghamparan serta pemadatan bahan dengan garis dan dimensi yang diberikan dalam gambar atau yang disetujui oleh konsultan pengawas. Pekerjaan harus

sudah selesai sebelum pelaksanaan pekerjaan aspal. Pelebaran perkerasan harus dilaksanakan seperti yang ditunjukkan dalam gambar. Penentuan pelebaran perkerasan apakah satu sisi maupun dua sisi harus dilakukan dengan mempertimbangkan Ruang Milik Jalan (Rumija) yang tersedia, bangunan tetap dan lingkungan yang ada termasuk pembebasan tanah (jika ada), sehingga dapat menciptakan suasana aman bagi pemakai jalan seperti kebebasan samping yang cukup dengan disediakannya lebar bahu jalan yang memenuhi standar teknis. Apabila alinyemen jalan lama tidak memenuhi ketentuan minimum dari fungsi jalan tersebut (arteri, kolektor, dan lokal), maka pelebaran perkerasan dilaksanakan dengan perbaikan alinyemen sedemikian hingga sumbu jalan menjadi lebih lurus dan lengkung pada tikungan maupun pada puncak tanjakan dapat dikurangi.

A.

PENGAWASAN PERSIAPAN UNTUK PELEBARAN PERKERASAN

Pekerjaan pelebaran perkerasan dapat dilaksanakan dengan menggunakan timbunan, Lapis Pondasi Agregat atau Lapis Pondasi Semen Tanah, dan Lapisan Beraspal, bersama dengan Lapis Resap Pengikat yang diperlukan, seperti yang ditunjukkan dalam gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh jajaran Pejabat Pembuat Komitmen. Konsultan akan menginstruksikan pelaksanaan galian untuk pelebaran perkerasan agar mampu menyediakan ruang gerak yang cukup untuk alat penggilas (roller). Sampai saat ini lebar alat penggilas (roller) minimum adalah 0,8 m yaitu baby roller, maka lebar penggalian yang dibutuhkan adalah 1 m untuk dapat memberikan ruang gerak yang lebih baik. Bilamana lebar galian melebihi lebar pelebaran perkerasan yang diperlukan, maka bahan galian tersebut harus diisikan kembali dan dipadatkan bersama-sama dengan setiap bahan yang akan digunakan untuk pelebaran perkerasan. Konsultan akan memberikan perhatian khusus untuk menjamin agar bahan yang digunakan untuk pelebaran perkerasan tidak terkontaminasi dengan bahan galian yang diisikan kembali, sedemikian rupa sehingga diperlukan suatu acuan untuk memisahkan kedua jenis bahan selama penghamparan. Dalam hal ini, lebar galian yang melebihi lebar pelebaran perkerasan yang diperlukan tidak akan dipandang sebagai kuantitas galian tambahan yang dapat dibayar.

B.

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN BAHAN PELEBARAN PERKERASAN

Ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi Umum dalam hal penghamparan dan pemadatan bahan pelebaran perkerasan harus berlaku kecuali bahwa frekuensi pengujian pengendalian mutu harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tidak kurang dari lima pengujian indeks plastisitas (plasticity index), lima pengujian gradasi butiran, dan satu pengujian kepadatan kering maksimum harus dilakukan untuk tiap 500 meter kubik bahan yang dibawa ke lapangan. Ketentuan lain yang perlu diperhatikan yang berhubungan dengan produksi, penghamparan, pemadatan dan pengujian bahan perkerasan harus berlaku dengan perkecualian berikut ini :

a) Sebelum bahan dihampar, lapis resap pengikat yang sesuai harus disemprotkan pada lapis pondasi yang sudah dipersiapkan dan lapis perekat yang sesuai juga harus disemprot pada permukaan vertikal dari tepi perkerasan lama. b) Pada pelebaran yang agak sempit, penghamparan dapat dilakukan dengan cara manual, tetapi dalam batas-batas temperatur seperti penghamparan dengan mesin. Pemadatan harus dilakukan menggunakan alat pemadat mekanis atau alat pemadat bergerak bolak balik yang disetujui. Alat pemadat kecil yang bermesin sendiri dapat digunakan bilamana lebar pekerjaan pelebaran cukup untuk menampung seluruh lebar roda alat pemadat.

c) Pengujian kepadatan dari bahan lapisan beraspal terhampar yang ditentukan dengan pengujian benda uji inti (core), harus dilaksanakan dengan frekuensi tidak kurang dari satu pengujian setiap 50 m pekerjaan pelebaran untuk masing-masing sisi jalan (jika diterapkan pelebaran dua sisi), diukur sepanjang sumbu jalan.

1. 2.

METODE PENGAWASAN TERHADAP PEKERJAAN LAPIS PONDASI AGREGAT

DENGAN CEMENT TREATED BASE (CTB)

Cement Treated Base (CTB) adalah lapis pondasi agregat semen yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari konstruksi Soil-Cement, dengan gradasi dan mutu yang lebih terkendali dan metode pelaksanaan (pencampuran dan penghamparan) yang menyerupai pekerjaan pengaspalan. Dengan daya dukung yang tinggi, maka pada umumnya CTB banyak digunakan untuk ruas ruas jalan yang melayani lalu lintas cukup padat dan berat. Dengan perkembangan lalu lintas yang semakin berat dan padat, serta dengan semakin menipisnya deposit agregat dengan kualitas tinggi, maka penggunaan CTB dalam konstruksi jalan menjadi semakin Justified. Terlebih apabila dijadikan pilihan sebagai lapis pondasi agregat pada konstruksi pelebaran jalan jurusan Madiun Ponorogo. Konsultan akan mengawasi dengan seksama tebal minimum Cement Treated Base (CTB) yang dihampar tidak kurang dari tebal yang disyaratkan. Tebal maksimum tidak boleh lebih besar dari 10 mm dari tebal yang di syaratkan. Cement Treated Base (CTB) tidak boleh di hampar dengan tebal lapisan melebihi 15 cm tebal padat, dan tidak dalam lapisan kurang dari 7,5 cm tebal padat. Elevasi permukaan akhir tidak boleh berubah lebih dari 10 mm ke atas atau ke bawah dari elevasi rencana dalam setiap titik. Bahan untuk pembuatan lapis pondasi agregat dengan Cement Treated Base (CTB) adalah semen, air, dan agregat. Kadar semen harus ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium (laboratory test) dan campuran percobaan (trial mix). Kadar air optimum harus ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium. Untuk dapat mengetahui kesempurnaan campuran CTB, maka penyedia jasa harus melakukan campuran percobaan (trial mix) dibawah pengawasan konsultan. Percobaan tersebut dilakukan untuk menentukan Kuat tekan dari Cement Treated Base (CTB), kadar semen yang dibutuhkan, kadar air optimum, dan berat isi campuran kering pada kadar air optimum. Campuran Cement Treated Base (CTB) akan berkaitan dengan ketentuan kuat tekan. Untuk mempersiapkan bahan/material untuk menempatkan percobaan campuran kedalam cetakan silinder dengan ukuran 150 mm x 300 mm dalam tiga lapisan. Selama proses penghamparan Cement Treated Base (CTB), percobaan silinder harus dilakukan berpasangan. Silinder dari setiap pasangan harus dilakukan percobaan kuat tekan pada umur 7 hari dan pada umur 21 hari. Pada awal pekerjaan, dan sampai saat jajaran Pejabat Pembuat Komitmen memerintahkan pengurangan jumlah silinder yang disyaratkan yaitu 6 silinder untuk setiap 1.000 m2 dari lapis pondasi atau bagian yang di hampar setiap hari. Apabila jumlahnya cukup dan hasil test silinder yang ada dapat memuaskan, petugas laboratorium dari jajaran Pejabat Pembuat Komitmen bisa memutuskan bahwa kualitas beton dapat diterima dan dapat mengurangi jumlah silinder menjadi tiga pasang untuk setiap 1.000 m2 dari bagian yang dihampar setiap harinya. Persyaratan kuat tekan (unconfine compressive strength) dari Cement Treated Base (CTB) (kg/cm2) dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Silinder Diameter 150 mm x 300 mm Umur 7 hari 28 hari

Kuat Tekan (kg/cm2)

78

120

A.

PERCOBAAN LAPANGAN (FIELD TRIALS)

Disain campuran CTB yang telah dilakukan oleh kontraktor harus dicoba di lapangan dengan luas pekerjaan Cement Treated Base (CTB) 500 m2, dengan tebal berdasarkan instruksi dari pengawas lapangan dari jajaran Pejabat Pembuat Komitmen dan konsultan supervisi. Luas percobaan dari Cement Treated Base (CTB) harus mendapat persetujuan dari pengawas lapangan. Selama pelaksanaan pekerjaan, yang meliputi penghamparan, pemadatan, dan perawatan akan diawasi oleh pengawas lapangan dan konsultan untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Berdasarkan hasil percobaan lapangan sesudah 14 hari pengawas lapangan dari unsur Pejabat Pembuat Komitmen dapat menyetujui kontraktor untuk meneruskan pekerjaan atau menginstruksikan untuk membuat beberapa variasi percobaan yang lain.

B.

PENGHAMPARAN DAN PENCAMPURAN

Pencampuran dari Cement Treated Base (CTB) harus dengan peralatan batching plant sistem ukuran berat untuk menjamin kebenaran porsi setiap bahan. Instalasi pencampuran harus dilengkapi dengan silo semen, tangki air (water tank), peralatan pemasok yang akan menyalurkan agregat, semen dan air kedalam alat pencampur sesuai kuantitas yang dipersyaratkan dan campuran yang homogen. Waktu pencampuran Cement Treated Base (CTB) terhitung pada waktu air ditambahkan ke dalam campuran.

C.

PENGANGKUTAN

Cement Treated Base (CTB) harus diangkut dengan Dump Truck yang disetujui oleh pengawas lapangan dan konsultan. Jumlah dan kapasitas Dump Truck harus berdasarkan jadwal proyek dan kapasitas produksi alat pencampur (Mixer Plant).

D.

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN

1)

Persiapan Lapisan Pondasi Bawah (Sub Base)

a) Lapisan Pondasi Bawah (Sub Base) harus sesuai dengan Spesifikasi Teknis termasuk ketebalan, ukuran, elevasi, seperti terlihat pada gambar kerja. b) Permukaan Lapis Pondasi Bawah (Sub Base) harus bersih dan rata.

2)

Penghamparan Cement Treated Base (CTB)

Cement Treated Base (CTB) harus dihampar dan ditempatkan di atas perbaikan tanah dasar, dengan metode mekanis, menggunakan alat high density screed paver dengan dual tamping rammer sesuai instruksi Direksi Pekerjaan, untuk mendapatkan kepadatan, toleransi kerataan dan

kehalusan permukaan.

3)

Pemadatan

a)

Pemadatan Cement Treated Base (CTB) harus telah dimulai dilaksanakan paling lambat 60

menit semenjak pencampuran material dengan air. b) Campuran yang telah dihampar tidak boleh dibiarkan tanpa dipadatkan Iebih dari 30 menit .

c) Kepadatan Cement Treated Base (CTB) setelah pemadatan harus mencapai kepadatan kering lebih dari 95% maksimum kepadatan kering. (d) Kadar air pada waktu pemadatan minimal sama dengan kadar air optimum dan maksimal sama dengan kadar air optimum 2 %. (e) Pemadatan harus telah selesai dalam waktu 120 menit semenjak semen dicampur dengan air.

4)

Perawatan (Curing)

Segera setelah pemadatan terakhir dan atas usul pengawas lapangan maupun konsultan, bila permukaan telah cukup kering harus ditutup dengan menggunakan : a) Lembaran plastik atau terpal untuk menjaga penguapan air dalam campuran.

b) Penyemprotan dengan Aspal Emulso CSS-l dengan batasan pemakaian antara 0,35 -0,50 liter per meter persegi. c) Metode lain yang bertujuan melindungi Cement Treated Base (CTB) adalah dengan karung goni yang dibasahi air selama masa perawatan (curing).

1. 3.

METODE PENGAWASAN TERHADAP PEKERJAAN ASPAL

Pekerjaan campuran beraspal panas mencakup pengadaan lapisan padat yang awet berupa lapis perata, lapis pondasi atau lapis aus campuran beraspal panas yang terdiri dari agregat dan bahan aspal yang dicampur secara panas di pusat instalasi pencampuran, serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut di atas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan Spesifikasi dan memenuhi garis, ketinggian dan potongan memanjang yang ditunjukkan dalam gambar rencana. Sebelum dan selama pekerjaan, konsultan pengawas akan meminta kepada kontraktor mengenai beberapa hal seperti terangkum di bawah ini : a) Contoh dari seluruh bahan yang disetujui untuk digunakan, yang disimpan oleh konsultan selama periode Kontrak untuk keperluan rujukan;

b) Setiap bahan aspal yang diusulkan kontraktor untuk digunakan, berikut keterangan asal sumbernya bersama dengan data pengujian sifat-sifatnya, baik sebelum maupun sesudah pengujian penuaan aspal (RTFOT/TFOT); c) Laporan tertulis yang menjelaskan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh bahan,

seperti disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis; d) Laporan tertulis setiap pemasokan aspal beserta sifat-sifat bahan seperti yang

disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis; e) Hasil pemeriksaan kelayakan peralatan laboratorium dan pelaksanaan. Khusus

peralatan instalasi pencampur aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP) harus ditunjukkan sertifikat layak produksi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga. f) Rumusan campuran kerja (Job Mix Formula, JMF) dan data pengujian yang

mendukungnya dalam bentuk laporan tertulis; g) h) Laporan tertulis mengenai kepadatan dari campuran yang dihampar; Data pengujian laboratorium dan lapangan untuk pengendalian harian terhadap

takaran campuran dan mutu campuran, dalam bentuk laporan tertulis; i) j) A. Catatan harian dari seluruh muatan truk yang ditimbang di alat penimbang; Catatan tertulis mengenai pengukuran tebal lapisan dan dimensi perkerasan; PENGAWASAN TERHADAP MUTU BAHAN

1)

Agregat

Agregat yang akan digunakan dalam pekerjaan pelebaran jalan Madiun Ponorogo harus sedemikian rupa agar campuran beraspal yang proporsinya dibuat sesuai dengan rumusan campuran kerja memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan. Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh konsultan pengawas. Untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang baik, maka konsultan mengajurkan agar penyerapan air oleh agregat maksimum 3 %, serta berat jenis (spesific gravity) agregat kasar dan halus tidak boleh berbeda lebih dari 0,2. Konsultan pengawas mengambil kesimpulan demikian dari pengalaman yang telah dilaksanakan, juga berdasarkan literatur dan methode yang telah ditetapkan Dinas Bina Marga dalam spesifikasi pada umumnya. Termasuk juga mengenai ketentuan agregat kasar yang dirangkum oleh konsultan sebagai berikut :

Pengujian Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium dan magnesium sulfat Abrasi dengan mesin Los Angeles Campuran AC bergradasi kasar Semua jenis campuran aspal bergradasi lainnya Kelekatan agregat terhadap aspal Angularitas (kedalaman dari permukaan <10 cm) Angularitas (kedalaman dari permukaan 10 cm) Partikel Pipih dan Lonjong Material lolos Ayakan No.200

Nilai Maks.12 % Maks. 30% Maks. 40%

Min. 95 % 95/90 1 80/75 1 Maks. 10 % Maks. 1 %

Untuk pemilihan agregat halus dari sumber bahan manapun, harus terdiri dari pasir atau hasil pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan dengan ukuran minimal 2,36 mm. Agar hasil pekerjaan yang didapat sesuai dengan mutu pekerjaan konstruksi seperti yang menjadi maksud dan tujuan Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Timur, maka agregat halus harus merupakan bahan yang bersih, keras, dan bebas dari lempung, atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Batu pecah halus harus diperoleh dari batu yang memenuhi ketentuan mutu. Apabila fraksi agregat halus yang diperoleh dari hasil pemecah batu tahap pertama (primary crusher), tidak memenuhi pengujian Standar Setara Pasir, maka fraksi agregat harus dipisahkan sebelum masuk pemecah batu tahap kedua (secondary crusher) dan tidak diperkenankan untuk campuran aspal jenis apapun. Agregat pecah halus dan pasir harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold bin feeds) yang terpisah sehingga gradasi gabungan dan presentase pasir didalam campuran dapat dikendalikan dengan baik.

2)

Bahan Pengisi (Filler)

Bahan pengisi yang ditambahkan ke dalam campuran beraspal terdiri atas debu batu kapur (limestone dust), kapur padam (hydrated lime), semen atau abu terbang yang sumbernya disetujui oleh konsultan. Bahan pengisi tersebut harus kering dan bebas dari gumpalan-gumpalan. Semua campuran beraspal harus mengandung bahan pengisi yang ditambahkan tidak kurang dari 1% dan maksimum 2% dari berat total agregat. 3) Bahan Apal Untuk Campuran Aspal

Selain agregat dan bahan pengisi atau filler, bahan yang tidak kalah pentingnya untuk membuat sebuah campuran aspal adalah aspal itu sendiri. Bahan pengikat yang dicampur dengan agregat yang telah disetujui oleh konsultan, sehingga menghasilkan campuran beraspal sebagaimana yang disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis, atau yang disebutkan dalam gambar kerja (shop drawing). Dengan mengikuti alur dan perkembangan zaman, sebagian besar instansi kini lebih cenderung menggunakan Aspal Modifikasi. Ketentuan-ketentuan untuk Aspal Modifikasi telah konsultan rangkum dalam tabel di bawah ini :

Tipe I No. Jenis Pengujian Aspal Pen. 1. Penetrasi pada 25C (dmm) Viskositas 135C (cSt) 60-70

Tipe II Aspal yang Dimodifikasi A Asbuton yg diproses B Elastomer Alam (Latex) C Elastomer Sintetis

60-70

40-55

50-70

Min.40

1.

385

385 2000

< 2000(5)

< 3000(5)

1.

Titik Lembek (C)

>48

>54

1.

Indeks Penetrasi

> -1,0

0,5

> 0.0

> 0,4

1.

Duktilitas pada 25C, (cm)

>100

> 100

> 100

> 100

1.

Titik Nyala (C)

>232

>232

>232

>232

1.

Kelarutan dlm Toluene (%)

>99

> 90(1)

>99

>99

1.

Berat Jenis

>1,0

>1,0

>1,0

>1,0

1.

Stabilitas Penyimpanan (C) Berat yang Hilang (%) Penetrasi pada 25C (%)

<2,2

<2,2

<2,2

1.

< 0.8

< 0.8

< 0.8

< 0.8

1.

> 54

> 54

> 54

54

1.

Indeks Penetrasi

> -1,0

> 0,0

> 0,0

> 0,4

1.

Keelastisan setelah Pengembalian (%)

> 45

> 60

1.

Duktilitas pada 25C (cm) Partikel yang lebih halus dari 150 micron (mm) (%)

> 100

> 50

> 50

1.

Min. 95

Min. 95

Min. 95

4)

Aspal Yang Dimodifikasi

Aspal yang dimodifikasi adalah jenis Multigrade atau Asbuton, elastomerik latex. Proses modifikasi aspal di lapangan tidak diperbolehkan kecuali ada lisensi dari pabrik pembuat aspal modifikasi dan pabrik pembuatnya menyediakan instalasi pencampur yang setara dengan yang digunakan di pabrik asalnya. Mengenai pengiriman Aspal modifikasi, konsultan akan memastikan bahwa Aspal Modifikasi dikirim dalam tangki yang dilengkapi dengan alat pembakar gas atau minyak yang dikendalikan secara termostatis. Pengiriman dalam tangki dilengkapi dengan sistem segel yang disetujui untuk mencegah kontaminasi yang terjadi apakah dari pabrik pembuatnya atau dari pengirimannya. Aspal yang dimodifikasi harus disalurkan ke tangki penampung di lapangan dengan sistem sirkulasi yang tertutup penuh. Penyaluran secara terbuka tidak diperkenankan. Setiap pengiriman harus disalurkan kedalam tangki yang diperuntukkan untuk kedatangan aspal dan harus segera dilakukan pengujian penetrasi, titik lembek dan stabilitas penyimpanan. Tidak ada aspal yang boleh digunakan sampai diuji dan disetujui. Jangka waktu penyimpan untuk aspal modifikasi dengan bahan dasar latex, konsultan menganjurkan tidak boleh melebihi 3 hari kecuali jika jangka waktu penyimpanan yang lebih lama disetujui oleh Konsultan.

5)

Sumber Pasokan

Sumber pemasokan agregat, aspal dan bahan pengisi (filler) harus disetujui terlebih dahulu oleh konsultan pengawas sebelum pengiriman bahan. Setiap jenis bahan harus diserahkan, seperti yang diperintahkan Konsultan, paling sedikit 60 hari sebelum usulan dimulainya pekerjaan pengaspalan.

B.

PENGAWASAN TERHADAP PROSES PENCAMPURAN

Campuran beraspal dapat terdiri dari agregat, bahan pengisi, bahan aditif, dan aspal. Persentase aspal yang aktual ditambahkan ke dalam campuran ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium dan lapangan sebagaimana tertuang dalam Rencana Campuran Kerja (JMF) dengan memperhatikan penyerapan agregat yang digunakan.

1)

Prosedur Rancangan Campuran

Sebelum melakukan penghamparan campuran beraspal dalam Pekerjaan Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo, Kontraktor diminta untuk menunjukkan semua usulan metoda kerja, agregat, aspal, dan campuran yang memadai dengan membuat dan menguji campuran percobaan di laboratorium dan juga dengan penghamparan campuran percobaan yang dibuat di instalasi pencampur aspal. Pengujian yang diperlukan meliputi analisa ayakan, berat jenis dan penyerapan air, dan semua jenis pengujian lainnya sebagaimana yang dipersyaratkan pada seksi ini untuk semua agregat yang digunakan. Pengujian pada campuran beraspal percobaan akan meliputi penentuan Berat Jenis Maksimum campuran beraspal, pengujian sifat-sifat Marshall dan Kepadatan Membal (Refusal Density) campuran rancangan. Setelah dilakukan pengujian, contoh agregat untuk rancangan campuran harus diambil dari pemasok dingin (cold bin) dan dari penampung panas (hot bin). Rumusan campuran kerja yang ditentukan dari campuran di laboratorium harus dianggap berlaku sementara sampai diperkuat oleh hasil percobaan pada instalasi pencampur aspal dan percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan. Pengujian percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan dilaksanakan dalam tiga langkah dasar berikut ini : i) Penentuan proporsi takaran agregat dari pemasok dingin untuk dapat menghasilkan

komposisi yang optimum. Perhitungan proporsi takaran agregat dari bahan tumpukan yang optimum harus digunakan untuk penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh dari pemasok panas harus diambil setelah penentuan besarnya bukaan pemasok dingin. Selanjutnya proporsi takaran pada pemasok panas dapat ditentukan. Suatu Rumusan Campuran Rancangan (Design Mix Formula, DMF) kemudian akan ditentukan berdasarkan prosedur Marshall. ii) DMF, data dan grafik percobaan campuran di laboratorium harus diserahkan pada

Konsultan untuk mendapatkan persetujuan. Konsultan akan menyetujui atau menolak usulan DMF tersebut dalam waktu 7 hari. Percobaan produksi dan penghamparan tidak boleh dilaksanakan sampai DMF disetujui. iii) Percobaan produksi dan penghamparan serta persetujuan terhadap Rumusan

Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF). JMF adalah suatu dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran laboratorium yang tertera dalam DMF dapat diproduksi dengan instalasi pencampur aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP), dihampar dan dipadatkan di lapangan dengan peralatan yang telah ditetapkan dan memenuhi derajat kepadatan lapangan terhadap kepadatan laboratorium hasil pengujian Marshall dari benda uji yang campuran beraspalnya diambil dari AMP.

2)

Rumus Campuran Rancangan (Design Mix Formula)

Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan aspal, kontraktor harus menyerahkan secara tertulis kepada Konsultan, usulan DMF untuk campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan. Rumus yang diserahkan harus menentukan untuk campuran berikut ini: a) b) c) Sumber-sumber agregat. Ukuran nominal maksimum partikel. Persentase setiap fraksi agregat yang cenderung akan digunakan Kontraktor, pada

penampung dingin maupun penampung panas. d) e) Gradasi agregat gabungan yang memenuhi gradasi yang disyaratkan. Kadar aspal optimum dan efektif terhadap berat total campuran .

f) Rentang temperatur pencampuran aspal dengan agregat dan temperatur saat campuran beraspal dikeluarkan dari alat pengaduk (mixer).

Kontraktor harus menyediakan data dan grafik hubungan sifat-sifat campuran beraspal terhadap variasi kadar aspal hasil percobaan laboratorium untuk menunjukkan bahwa campuran memenuhi semua kriteria yang dipersyaratkan tergantung campuran aspal mana yang dipilih.

3)

Rumusan Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF)

Percobaan campuran di instasi pencampur aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP) dan penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan akan menjadikan DMF dapat disetujui sebagai JMF. Segera setelah DMF disetujui, kontraktor harus melakukan penghamparan percobaan paling sedikit 50 ton untuk setiap jenis campuran yang diproduksi dengan AMP, dihampar dan dipadatkan dengan peralatan dan prosedur yang diusulkan. Kontraktor harus menunjukkan bahwa setiap alat penghampar (paver) mampu menghampar bahan sesuai dengan tebal yang disyaratkan tanpa segregasi, tergores, dsb. Kombinasi penggilas yang diusulkan harus mampu mencapai kepadatan yang disyaratkan dalam rentang temperatur pemadatan. Contoh campuran harus dibawa ke laboratorium dan digunakan untuk membuat benda uji Marshall maupun untuk pemadatan membal (refusal). Bilamana percobaan tersebut gagal memenuhi Spesifikasi pada salah satu ketentuannya maka perlu dilakukan penyesuaian dan percobaan harus diulang kembali. Konsultan tidak akan menyetujui DMF sebagai JMF sebelum penghamparan percobaan yang dilakukan memenuhi semua ketentuan dan disetujui. Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh JMF yang disetujui oleh Konsultan. Bilamana telah disetujui, JMF menjadi definitif sampai Konsultan menyetujui JMF pengganti lainnya. Mutu campuran harus dikendalikan, terutama dalam toleransi yang diijinkan. Dua belas benda uji Marshall harus dibuat dari setiap penghamparan percobaan. Contoh campuran beraspal dapat diambil dari instalasi pencampur aspal atau dari truk di AMP, dan dibawa ke laboratorium dalam kotak yang terbungkus rapi. Benda uji Marshall harus dicetak dan dipadatkan pada temperatur yang disyaratkan dan menggunakan jumlah penumbukan yang disyaratkan pula. Kepadatan rata-rata (Gmb) dari semua benda uji yang diambil dari penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan harus menjadi Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density), yang harus dibandingkan dengan pemadatan campuran beraspal terhampar dalam pekerjaan.

4)

Penerapan JMF dan Toleransi Yang Diijinkan

Seluruh campuran yang dihampar dalam pekerjaan harus sesuai dengan JMF, dalam batas rentang toleransi yang disyaratkan. Setiap hari konsultan akan mengambil benda uji baik bahan maupun campurannya, atau benda uji tambahan yang dianggap perlu untuk pemeriksaan keseragaman campuran. Setiap bahan yang gagal memenuhi batas-batas yang diperoleh dari JMF dan Toleransi Yang Diijinkan harus ditolak. Apabila setiap bahan pokok memenuhi batas-batas yang diperoleh dari JMF dan Toleransi Yang Diijinkan, tetapi menunjukkan perubahan yang konsisten dan sangat berarti atau perbedaan yang tidak dapat diterima atau jika sumber setiap bahan berubah, maka suatu JMF baru harus diserahkan dengan cara seperti yang disebut di atas dan atas biaya Kontraktor sendiri untuk disetujui, sebelum campuran beraspal baru dihampar di lapangan. Untuk toleransi Komposisi Campuran dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Agregat Gabungan Sama atau lebih besar dari 2,36 mm Lolos ayakan 2,36 mm sampai No.50 Lolos ayakan No.100 dan tertahan No.200 Toleransi Komposisi Campuran 5 % berat total agregat 3 % berat total agregat 2 % berat total agregat

Lolos ayakan No.200

1 % berat total agregat

Kadar aspal Kadar aspal

Toleransi 0,3 % berat total campuran

Temperatur Campuran Bahan meninggalkan AMP dan dikirim ke tempat penghamparan

Toleransi - 10 C dari temperatur campuran beraspal di truk saat keluar dari AMP

C.

PENGAWASAN MENGENAI KETENTUAN INSTALASI PENCAMPURAN ASPAL

1)

Instalasi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP)

Instalasi Pencampuran Aspal harus disertifikasi oleh Instansi yang ditunjuk oleh konsultan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Jika belum disertifikasi maka bukti-bukti yang menyatakan bahwa sertifikasi sedang dilaksanakan, minimal bisa menunjukan kalibrasi timbangan aspal dan agregat dari badan metrologi. Jika perlu Konsultan dapat malkukan inspeksi dan membuat persetujuan sementara sebagai pengganti dari sertifikasi yang tertunda tersebut. AMP merupakan pusat pencampuran dengan sistem penakaran (batching) atau drum mix dan harus memiliki kapasitas minimum 800 kg dan mampu memasok mesin penghampar secara terus menerus bilamana menghampar campuran pada kecepatan normal dan ketebalan yang dikehendaki. Untuk menjamin kualitas mutu campuran aspal, maka AMP harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu (dust collector) yang lengkap yaitu sistem pusaran kering (dry cyclone) dan pusaran basah (wet cyclone), sehingga tidak menimbulkan pencemaran debu. Bilamana salah satu sistem di atas rusak atau tidak berfungsi maka konsultan akan menginstruksikan bahwa AMP tersebut tidak boleh dioperasikan. AMP juga harus mempunyai pengaduk (pug mill) dengan kapasitas minimum 800 kg jika diperlukan untuk memproduksi AC bergradasi kasar atau AC-Base selain dari pekerjaan minor. Jika digunakan untuk pembuatan campuran aspal yang dimodifikasi, AMP harus dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik otomatis yang mampu mempertahankan temperatur campuran sebesar 175 oC dan dirancang sebagaimana mestinya, dilengkapi dengan semua perlengkapan khusus yang diperlukan.

2)

Tangki Penyimpan Aspal

Tangki penyimpan bahan aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat dikendalikan dengan efektif dan handal sampai suatu temperatur dalam rentang yang disyaratkan. Pemanasan harus dilakukan melalui kumparan uap (steam coils), listrik, atau cara lainnya sehingga api tidak langsung memanasi tangki aspal. Setiap tangki harus dilengkapi dengan sebuah termometer yang terletak sedemikian hingga temperatur aspal dapat dengan mudah dilihat. Sebuah keran harus dipasang pada pipa keluar dari setiap tangki untuk pengambilan benda uji. Sistem sirkulasi untuk bahan aspal harus mempunyai ukuran yang sesuai agar dapat memastikan sirkulasi yang lancar dan terus menerus selama periode pengoperasian. Perlengkapan yang sesuai harus disediakan, baik dengan selimut uap (steam jacket) atau perlengkapan isolasi lainnya, untuk mempertahankan temperatur yang disyaratkan dari seluruh bahan pengikat aspal dalam sistem sirkulasi.

Daya tampung tangki penyimpanan minimum adalah paling sedikit untuk kuantitas dua hari produksi. Paling sedikit harus disediakan dua tangki yang berkapasitas sama. Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu sirkulasi aspal ke alat pencampur. Untuk campuran aspal yang dimodifikasi, sekurang-kurangnya sebuah tangki penyimpan aspal tambahan dengan kapasitas yang tidak kurang dari 20 ton, tidak boleh dipanaskan langsung dengan minyak atau pemanas listrik dan harus dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik yang mampu mempertahankan temperatur sebesar 175oC harus disediakan. Tangki ini harus disediakan untuk penyimpanan aspal yang dimodifikasi selama periode dimana aspal tersebut diperlukan untuk proyek. Semua tangki penyimpan aspal untuk pencampuran aspal alam yang mengandung bahan mineral dan untuk aspal yang dimodifikasi lainnya, bilamana akan terjadi pemisahan, harus dilengkapi dengan pengaduk mekanis yang dirancang sedemikian hingga setiap saat dapat mempertahankan bahan mineral didalam bahan pengikat sebagai suspensi.

3)

Tangki Penyimpan Aditif

Tangki penyimpanan aditif dengan kapasitas minimal dapat menyimpan bahan aditif untuk satu hari produksi campuran beraspal dan harus dilengkapi dengan dozing pump sehingga dapat memasok langsung aditif ke pugmil dengan kuantitas dan tekanan tertentu.

4)

Pengendali Waktu Pencampuran

Instalasi harus dilengkapi dengan perlengkapan yang handal untuk mengendalikan waktu pencampuran dan menjaga waktu pencampuran tetap konstan kecuali kalau diubah atas perintah Konsultan.

5)

Timbangan dan Rumah Timbang

Timbangan harus disediakan untuk menimbang agregat, aspal dan bahan pengisi. Rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk bermuatan yang siap dikirim ke tempat penghamparan. Timbangan tersebut harus memenuhi ketentuan seperti yang dijelaskan di atas.

6)

Penyimpanan dan Pemasokan Bahan Pengisi

Silo atau tempat penyimpanan yang tahan cuaca untuk menyimpan dan memasok bahan pengisi dengan sistem penakaran berat harus disediakan.

7)

Penyimpanan dan Pemasokan Aspal Alam

Jika Aspal Alam Berbutir digunakan untuk pekerjaan sebuah tempat penyimpanan yang tahan

cuaca dan elevator yang cocok untuk memasok yang dilengkapi dengan sistem penakaran berat harus disediakan.

8)

Peralatan Pengangkut

Truk untuk mengangkut campuran aspal harus mempunyai bak terbuat dari logam yang rapat, bersih dan rata, yang telah disemprot dengan sedikit air sabun, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya campuran aspal pada bak. Setiap genangan minyak pada lantai bak truk hasil penyemprotan sebelumnya harus dibuang sebelum campuran aspal dimasukkan dalam truk. Tiap muatan harus ditutup dengan kanvas/terpal atau bahan lainnya yang cocok dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi campuran aspal terhadap cuaca. Bilamana dianggap perlu, bak truk hendaknya diisolasi dan seluruh penutup harus diikat kencang agar campuran aspal yang tiba di lapangan pada temperatur yang disyaratkan. Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan pada campuran aspal aki-bat sistem pegas atau faktor penunjang lainnya, atau yang menunjukkan kebocoran oli yang nyata, atau yang menyebabkan keterlambatan yang tidak semestinya, atas perintah Konsultan harus dikeluarkan dari pekerjaan sampai kondisinya diperbaiki. Dump Truk yang mempunyai badan menjulur dan bukaan ke arah belakang harus disetel agar seluruh campuran aspal dapat dituang ke dalam penampung dari alat penghampar aspal tanpa mengganggu kerataan pengoperasian alat penghampar dan truk harus tetap bersentuhan dengan alat penghampar. Truk yang mempunyai lebar yang tidak sesuai dengan lebar alat penghampar tidak diperkenankan untuk digunakan. Truk aspal dengan muatan lebih tidak diperkenankan. Jumlah truk untuk mengangkut campuran aspal harus cukup dan dikelola sedemikian rupa sehingga peralatan penghampar dapat beroperasi secara menerus dengan kecepatan yang disetujui. Penghampar yang sering berhenti dan berjalan lagi akan menghasilkan permukaan yang tidak rata sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi pengendara serta mengurangi umur rencana akibat beban dinamis. Kontraktor tidak diijinkan memulai penghamparan sampai minimum terdapat tiga truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar. Kecepatan peralatan penghampar harus dioperasikan sedemikian rupa sehingga jumlah truk yang digunakan untuk mengangkut campuran aspal setiap hari dapat menjamin berjalannya peralatan penghampar secara menerus tanpa henti. Bilamana penghamparan terpaksa harus dihentikan, maka Konsultan hanya akan mengijinkan dilanjutkannya penghamparan bilamana minimum terdapat tiga truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar. Ketentuan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang baik dan Kontraktor tidak diperbolehkan menuntut tambahan biaya atau waktu atas keterlambatan penghamparan yang diakibatkan oleh kegagalan Kontraktor untuk menjaga kesinambungan pemasokan campuran aspal ke peralatan penghampar.

9)

Peralatan Penghampar dan Pembentuk

Peralatan penghampar dan pembentuk harus penghampar mekanis bermesin sendiri yang disetujui, yang mampu menghampar dan membentuk campuran aspal sesuai dengan garis, kelandaian serta penampang melintang yang diperlukan. Alat penghampar harus dilengkapi dengan penampung dan dua ulir pembagi dengan arah gerak yang berlawanan untuk menempatkan campuran aspal secara merata di depan screed (sepatu) yang dapat disetel. Peralatan ini harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang dapat digerakkan dengan cepat dan efisien dan harus mempunyai kecepatan jalan mundur seperti halnya maju. Penampung (hopper) harus mempunyai sayap-sayap yang dapat dilipat pada saat setiap muatan campuran aspal hampir habis untuk menghindari sisa bahan yang sudah mendingin di

dalamnya. Alat penghampar harus mempunyai perlengkapan elektronik dan/atau mekanis pengendali kerataan seperti batang perata (leveling beams), kawat dan sepatu pengarah kerataan (joint matching shoes) dan dan peralatan bentuk penampang (cross fall devices) untuk mempertahankan ketepatan kelandaian dan kelurusan garis tepi perkerasan tanpa perlu menggunakan acuan tepi yang tetap (tidak bergerak). Alat penghampar harus dilengkapi dengan screed (perata) baik dengan jenis penumbuk (tamper) maupun jenis vibrasi dan perangkat untuk memanasi screed (sepatu) pada temperatur yang diperlukan untuk menghampar campuran aspal tanpa menggusur atau merusak permukaan hasil hamparan. Istilah screed (perata) mengacu pada pengambang mekanis standar (standard floating mechanism) yang dihubungkan dengan lengan arah samping (side arms) pada titik penambat yang dipasang pada unit pengerak alat penghampar pada bagian belakang roda penggerak dan dirancang untuk menghasilkan permukaan tektur lurus dan rata tanpa terbelah, tergeser atau beralur. Bilamana selama pelaksanaan, hasil hamparan peralatan penghampar dan pembentuk meninggalkan bekas pada permukaan, segregasi atau cacat atau ketidak-rataan permukaan lainnya yang tidak dapat diperbaiki dengan cara modifikasi prosedur pelaksanaan, maka penggunaan peralatan tersebut harus dihentikan dan peralatan penghampar dan pembentuk lainnya yang memenuhi ketentuan harus disediakan oleh Kontraktor.

10)

Peralatan Pemadat

Setiap alat penghampar harus disertai paling sedikit satu alat pemadat roda baja (steel wheel roller) dan satu alat pemadat roda karet (tyre roller). Paling sedikit harus disediakan satu tambahan alat pemadat roda karet (tire roller) untuk setiap kapasitas produksi yang melebihi 40 ton perjam. Semua alat pemadat harus mempunyai tenaga penggerak sendiri. Alat pemadat roda karet harus dari jenis yang disetujui dan memiliki tidak kurang dari sembilan roda yang permukaannya halus dengan ukuran yang sama dan mampu dioperasikan pada tekanan ban pompa (6,0 6,5) kg/cm2 atau (85 90) psi pada jumlah lapis anyaman ban (ply) yang sama. Roda-roda harus berjarak sama satu sama lain pada kedua sumbu dan diatur sedemikian rupa sehingga tengah-tengah roda pada sumbu yang satu terletak di antara roda-roda pada sumbu yang lainnya secara tumpang-tindih (overlap). Setiap roda harus dipertahankan tekanan pompanya pada tekanan operasi yang disyaratkan sehingga selisih tekanan pompa antara dua roda tidak melebihi 0,35 kg/cm2 (5 psi). Suatu perangkat pengukur tekanan ban harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban pompa di lapangan pada setiap saat. Untuk setiap ukuran dan jenis ban yang digunakan, Kontraktor harus memberikan kepada Konsultan grafik atau tabel yang menunjukkan hubungan antara beban roda, tekanan ban pompa, tekanan pada bidang kontak, lebar dan luas bidang kontak. Setiap alat pemadat harus dilengkapi dengan suatu cara penyetelan berat total dengan pengaturan beban (ballasting) sehingga beban per lebar roda dapat diubah dalam rentang (300 600) kilogram per 0,1 meter. Tekanan dan beban roda harus disetel sesuai dengan permintaan Konsultan, agar dapat memenuhi ketentuan setiap aplikasi khusus. Pada umumnya pemadatan dengan alat pemadat roda karet pada setiap lapis campuran aspal harus dengan tekanan yang setinggi mungkin yang masih dapat dipikul bahan.

a) statis.

Alat pemadat roda baja yang bermesin yang dimaksud adalah alat pemadat tandem

Alat pemadat statis minimum harus mempunyai berat statis tidak kurang dari 8 ton. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar, penyok, robek-robek atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.

b)

Dalam penghamparan percobaan, kontraktor harus dapat menunjukkan kombinasi

jenis penggilas untuk memadatkan setiap jenis campuran sampai dapat diterima oleh konsultan, sebelum JMF disetujui. Kontraktor harus melanjutkan untuk menyimpan dan menggunakan kombinasi penggilas yang disetujui untuk setiap campuran. Tidak ada alternatif lain yang dapat diperkenankan kecuali jika Kontraktor dapat menunjukkan kepada Konsultan bahwa kombinasi penggilas yang baru paling sedikit seefektif yang sudah disetujui.

PENGAWASAN TERHADAP PENGHAMPARAN CAMPURAN

1)

Menyiapkan Permukaan Yang Akan Dilapisi

Bilamana permukaan yang akan dilapisi termasuk perataan setempat dalam kondisi rusak, menunjukkan ketidakstabilan, atau permukaan aspal lama telah berubah bentuk secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik dengan lapisan di bawahnya, harus dibongkar atau dengan cara perataan kembali lainnya, semua bahan yang lepas atau lunak harus dibuang, dan permukaannya dibersihkan dan/atau diperbaiki dengan campuran beraspal atau bahan lain yang disetujui oleh Konsultan. Bilamana permukaan yang akan dilapisi terdapat atau mengandung sejumlah bahan dengan rongga dalam campuran yang tidak memadai, sebagimana yang ditunjukkan dengan adanya kelelehan plastis dan/atau kegemukan (bleeding), seluruh lapisan dengan bahan plastis ini harus dibongkar. Pembongkaran semacam ini harus diteruskan ke bawah sampai diperoleh bahan yang keras (sound). Toleransi permukaan setelah diperbaiki harus sama dengan yang disyaratkan untuk pelaksanaan lapis pondasi agregat. Sesaat sebelum penghamparan, permukaan yang akan dihampar harus diber-sihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak dikehendaki dengan sapu mekanis yang dibantu dengan cara manual bila diperlukan. Lapis perekat (tack coat) atau lapis resap pengikat (prime coat) harus diterapkan sesuai dengan Spesifikasi.

2)

Acuan Tepi

Besi atau kasau kayu atau acuan lain yang disetujui harus dipasang sesuai dengan garis dan serta ketinggian yang diperlukan oleh tepi-tepi lokasi yang akan dihampar.

3)

Penghamparan Dan Pembentukan Perkerasan Aspal

Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) alat penghampar harus dipanaskan. Campuran beraspal harus dihampar dan diratakan sesuai dengan kelandaian, elevasi, serta bentuk penampang melintang yang disyaratkan. Penghamparan harus dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur. Mesin vibrasi pada screed alat penghampar harus dijalankan selama penghamparan dan pembentukan. Penampung alat penghampar (hopper) tidak boleh dikosongkan, sisa campuran beraspal harus dijaga tidak kurang dari temperatur yang disyaratkan. Alat penghampar harus dioperasikan dengan suatu kecepatan yang tidak menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidakrataan lainnya pada permukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Konsultan dan ditaati. Bilamana terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan, maka alat penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki.

Proses perbaikan lubang-lubang yang timbul karena terlalu kasar atau bahan yang tersegregasi karena penaburan material yang halus sedapat mungkin harus dihindari sebelum pemadatan. Butiran yang kasar tidak boleh ditebarkan diatas permukan yang telah padat dan bergradasi rapat. Konsultan akan memperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada tepi-tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya. Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari produksi dibuat seminimal mungkin. Selama pekerjaan penghamparan fungsi-fungsi berikut ini harus dipantau dan dikendalikan secara elektronik atau secara manual sebagaimana yang diperlukan untuk menjamin terpenuhinya elevasi rancangan dan toleransi yang disyaratkan serta ketebalan dari lapisan beraspal: i) Tebal hamparan aspal gembur sebelum dipadatkan, sebelum dibolehkannya

pemadatan (diperlukan pemeriksaan secara manual) ii) Kelandaian sepatu (screed) alat penghampar untuk menjamin terpenuhinya lereng

melintang dan super elevasi yang diperlukan. iii) Elevasi yang sesuai pada sambungan dengan aspal yang telah dihampar sebelumnya,

sebelum dibolehkannya pemadatan. iv) Untuk menjamin sambungan memanjang vertikal maka harus digunakan besi profil siku

dengan ukuran tinggi 5 mm lebih kecil dari tebal rencana dan dipakukan pada perkerasan dibawahnya. v) Perbaikan penampang memanjang dari permukaan aspal lama dengan menggunakan

batang perata, kawat baja atau hasil penandaan survei.

4)

Pemadatan

Segera setelah campuran beraspal dihampar dan diratakan, permukaan tersebut harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus diperbaiki. Temperatur campuran beraspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang viskositas aspal. Pemadatan campuran beraspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah berikut ini : 1. 2. 3. Pemadatan Awal Pemadatan Antara Pemadatan Akhir

Pemadatan awal atau breakdown rolling harus dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja. Pemadatan awal harus dioperasikan dengan roda penggerak berada di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum dua lintasan pengilasan awal. Pemadatan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Pemadatan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi). Bila hamparan aspal tidak menunjukkan bekas jejak roda pemadatan setelah pemadatan kedua, pemadatan akhir bisa tidak dilakukan. Pertama-tama pemadatan harus dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan campuran beraspal akibat penggilasan. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya, maka lintasan awal harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek dengan posisi alat pemadat berada pada lajur yang telah dipadatkan dengan tumpang tindih pada pekerjaan baru kira-kira 15 cm.

Pemadatan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan berurutan menuju ke arah sumbu jalan, kecuali untuk superelevasi pada tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih (overlap) minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya. Bilamana menggilas sambungan memanjang, alat pemadat untuk pemadatan awal harus terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda pemadat yang memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan. Pemadatan dengan lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan menggeser posisi alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan, sampai tercapainya sambungan yang dipadatkan dengan rapi. Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak mengakibatkan bergesernya campuran panas tersebut. Garis, kecepatan dan arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang menyebabkan terdorongnya campuran beraspal. Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran beraspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidakrataan dapat dihilangkan. Roda alat pemadat harus dibasahi dengan cara pengabutan secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran beraspal pada roda alat pemadat, tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Roda karet boleh sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran beraspal pada roda. Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan yang baru selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin. Setiap produk minyak bumi yang tumpah atau tercecer dari kendaraan atau perlengkapan yang digunakan oleh kontraktor di atas perkerasan yang sedang dikerjakan, dapat menjadi alasan dilakukannya pembongkaran dan perbaikan oleh kontraktor atas perkerasan yang terkontaminasi, selanjutnya semua biaya pekerjaaan perbaikan ini menjadi beban Kontraktor. Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Setiap campuran beraspal padat yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan kotoran, atau rusak dalam bentuk apapun, harus dibongkar dan diganti dengan campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama dengan lokasi sekitarnya. Pada tempat-tempat tertentu dari campuran beraspal terhampar dengan luas 1000 cm2 atau lebih yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus dibongkar dan diganti. Seluruh tonjolan setempat, tonjolan sambungan, cekungan akibat ambles, dan segregasi permukaan yang keropos harus diperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Konsultan. Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, Kontraktor harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap bahan yang berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah pemadatan akhir, dan dibuang oleh Kontraktor di luar daerah milik jalan sehingga tidak kelihatan dari jalan yang lokasinya disetujui oleh Konsultan.

5)

Sambungan

Sambungan memanjang maupun melintang pada lapisan yang berurutan harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapis satu tidak terletak segaris yang lainnya. Sambungan memanjang harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapisan teratas berada di pemisah jalur atau pemisah lajur lalu lintas. Campuran beraspal tidak boleh dihampar di samping campuran beraspal yang telah dipadatkan sebelumnya kecuali bilamana tepinya telah tegak lurus atau telah dipotong tegak lurus atau dipanaskan dengan menggunakan lidah api (dengan menggunakan alat burner). Bila tidak ada

pemanasan, maka pada bidang vertikal sambungan harus lapis perekat.

B.2.

RENCANA KERJA

Untuk meningkatkan kinerja fisik di lapangan, tanpa adanya penyimpangan kontrak yang dapat berakibat gagalnya pelaksanaan kegiatan fisik yang juga mengakibatkn kerugian Negara yang disebabkan tidak tercapainya sasaran kegiatan. Untuk itu konsultan supervisi memiliki rencana kerja yang telah tersusun secara sistematis sesuai dengan alur dan prosedur kerja pekerjaan fisik di lapangan, guna tecapainya tujuan dari pekerjaan pengawasan ini. Beberapa hal yang akan dilaksanakan oleh konsultan supervisi, antara lain : 1. Mobilisasi personil konsulan supervisi 2. Mengikuti rapat persiapan pekerjaan (PCM) Dalam pelaksanaan PCM, konsultan akan melaksanakan hal hal di bawah ini : 1. mencatat seluruh kesepakatan dalam PCM dan dituangkan dalam Berita Acara tersendiri sebagai dokumen kegiatan 2. Menjelaskan struktur organisasi dan personil yang sudah dimobilisasidan rencana personil lainnya yang akan dimobilisasi 3. Menjelaskan tugas dari masing masing personil 4. Memberikan usulan teknik pelaksanaan yang lebih efisien 5. Menyusun rencana mutu kontrak pengawasan Konsultan akan menyusun, menyampaikan, dan mempresentasikan RMK kepada Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Timur pada saat PCM. Disamping itu, konsultan akan turut membantu PPK dalam mengkaji RMK yang telah disusun oleh kontraktor. 1. Mengawal mobilisasi kontraktor Konsultan akan melaksanakan pengawasan, pengujian, pengecekan kuantitas dan kualitas serta kelayakan peralatan, fasilitas dan perlengkapan yang dimobilisasi. Disamping itu, konsultan pun akan mengecek daftar peralatan, fasilitas dan perlengkapan yang disampiakan kontraktor, mengecek masa berlaku kalibrasi peralatan yang akan digunakan, serta menyampaikan rekomendasi kepada PPK tentang jumlah, fasilitas, dan perlengkapan yang telah dimobilisasi oleh kontraktor. 1. Melakukan perhitungan rekayasa lapangan (Uet Zet) 2. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Pekerjaan Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo Pengawasan dilakukan terhadap item item yang tertuang dalam kontrak mulai dari Penyiapan Badan Jalan, Galian, Lapis Pondasi Agregat, sampai pada Lapis Aspal (Hotmix). 1. Melakukan pengecekan terhadap sertifikat pembayaran bulanan (Mutual Certifikate / MC) Pengecekan sertifikat pembayaran bulanan dilakukan oleh Konsultan setiap bulan. Pengajukan MC oleh kontraktor harus disertai Back Up pembayaran tiap bulannya. Konsultan tidak akan menanda tangani pengajuan MC Kotraktor yang tidak dilampiri Back Up, baik Back Up Quality maupun Back Up Quantity. 1. Membuat Laporan Bulanan, Laporan Triwulan, dan Laporan Akhir serta Laporan Pengendalian Mutu. Konsultan akan senantiasa melaporkan kemajuan progres fisik bulanan kepada Pejabat Pembuat Komitmen baik secara lisan maupun secara tertulis dalam Laporan Bulanan Konsultan Supervisi.

1. C.

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

No 1 2 3 4 5 6 8 9

Tahapan Pekerjaan Mobilisasi Personil Mengikuti PCM Menyusun RMK Mob. Kontraktor Rekayasa lapangan Pengawasan Jalan Pengecekan MC Pelaporan a) Lap. Awal b) Lap. Bulanan c) Lap. Triwulan d) Lap. Akhir

Bulan Ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

10

PHO

1. D.

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN

Tenaga tenaga yang terlibat pada pekerjaan Supervisi Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo, yaitu terdiri dari : 1. Site Engineer 2. Chief Inspector 3. Surveyor/Inspector 4. Lab. Technician 5. Chief Administrasi : Ir. ANANTO SUKMONO : Ir. USMAN ALAMUDI : BUDI MULYONO : ISWANTO : SLAMET E. PRIYANTO

D.1.

URAIAN PENUGASAN PERSONIL

1. Site Engineer

a. Menjamin bahwa semua isi dari acuan tugas akan dipenuhi

dengan baik sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan peningkatan jalan . b. Bekerja sama dan membantu PPK paket pekerjaan fisik sehubungan dengan pekerjaan yang diawasi maupun hal-hal yang berkaitan dengan instansi lain / masyarakat yang berkaitan dengan pekerjaan. c. Menjamin bahwa semua detail teknis pekerjaan di lapangan termonitor dan di bawah pengendalian yang baik, dalam hal menentukan lokasi dan batas batas kualitas serta kuantitas dari jenis pekerjaan yang tertuang dalam dokumen kontrak.

d. Memantau kemajuan pekerjaan dan menjamin bahwa semua laporan yang menyangkut keuangan dan fisik pekerjaan serta laporan ringkasan tentang pengendalian mutu dapat terkirimkan dengan baik ke PPK. e. Menjamin bahwa semua kebijakan dan standar dari Bina Marga akan dilaksanakan di semua paket kontrak yang diawasi. f. Menjamin bahwa PPK selalu mendapat tugas terbaru mengenai perubahan desain, perubahan

item pekerjaan, perubahan harga yang dapat mengakibatkan perubahan nilai kontrak fisik. g. Memberi nasehat/saran/masukan kepada tim supervisi lapangan dalam menyusun prosedur pengawasan yang efisien dan pemantauan kegiatan kontraktor termasuk manajemen konstruksi dan pengendalian terhadap kuantitas dan biaya. h. Melaksanakan tugas-tugasnya khususnya untuk hal hal di bawah ini : Secara teratur mengunjungi lokasi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya Mengatur dan mengawasi semua detail teknis pekerjaan di lapangan yang diminta dalam acuan

tugas Penafsiran yang benar dari gambar standar dan spesifikasi Memberikan masukan metoda dan tahapan pelaksanaan konstruksi yang tepat, posisi kontruksi

dan lain sebagainya disesuaikan dengan kondisi lapangan Melaksanakan pengukuran kuantitas secara cermat sesuai dengan cara cara pembayaran

dalam kontrak Memberikan detail teknik (gambar/spesifikasi/perhitungan) bila ada pekerjaan yang baru /

belum dijelaskan dalam kontrak sesuai kondisi lapangan atau dalam kejadian kejadian khusus. i. Memberikan rekomendasi / teguran lisan atau tertulis apabila menerima ataupun menolak

pekerjaan atau bahan yang meragukan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. j. Pemantauan dengan cermat kemajuan seluruh pekerjaan dan memberikan peringatan kepada

kontraktor bila pelaksanaan pekerjaan telah terlambat lebih dari 10% dari prestasi yang ditargetkan, serta memberikan rekomendasi secara tertulis untuk mengatasi keterlambatan tersebut. k. Memantau dengan baik semua pengukuran volume dan mengikuti secara langsung pengukuran akhir pada tiap-tiap segmen pekerjaan l. Menyiapkan rekomendasi kepada PPK untuk keperluan sertifikat pembayaran bulanan dan ikut

menandatangani sertifikat tersebut m. Menyiapkan rekomendasi kepada PPK untuk keperluan sertikat mutu dan kuantitas dari pekerjaan yang telah selesai. n. Membuat Laporan Mingguan, Bulanan dan Laporan Akhir, menyiapkan data data dan kajian teknis untuk keperluan Review Design, Usulan Perintah Perubahan (bila ada), dsb untuk persoalan persoalan yang mungkin selama pengawasan pelaksanaan konstruksi. 2. Chief Inspector : a). Berkedudukan di lokasi atau di tempat paling dekat lokasi paket

kontrak yang harus diawasi . b). Melakukan peninjauan lapangan secara kontinyu sebagai bagian kegiatan pengawasan harian c). Mempelajari dengan baik gambar gambar teknik proyek dan spesifikasi sebelum pekerjaan dimulai. Penafsiran yang benar dari gambar standar dan spesifikasi dalam aplikasinya di lapangan d) Melaksanakan pengawasan secara terus menerus di lokasi proyek yang sedang dikerjakan dan memberikan informasi kepada SE atas pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak dokumen,

termasuk segala permasalahan atau hambatan yang akan / sudah terjadi sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Semua hasil pengamatan harus dilaporkan secara tertulis kepada SE dan memberikan masukan untuk mendapat alternatif penyelesaiannya. e) Terus menerus mengawasi dan mencatat, mengumpulkan serta mengontrol semua hasil pegukuran, perhitungan kuantitas, pengendalian mutu dan menjamin bahwa kontraktor melaksanakan pekerjaan sesuai dengan syarat syarat kontrak f) Memeriksa secara cermat kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor dan memeriksa kebenaran Back Up Kuantitas dan Kualitas untuk keperluan pembayaran serta membantu semua kegiatan administrasi lainnya g) Mengumpulkan seluruh data kuantitas dan kualitas harian, dan memberikan laporan secara kontinyu berkaitan dengan skedul kontrol, dan memberikan masukan apabila pekerjaan terlambat h) Senantiasa menjaga ketelitian dan memperbaharui gambar gambar pelaksanaan dan menjaga agar pelaksanaan dilaksanakan sesuai rencana i) Menyimpan arsip arsip surat, administrasi kontrak, dan laporan pendukung, data data kuantitas dan kualitas, data pengukuran dan sebagainya. Untuk lebih detail mengenai komposisi tim dan penugasan dapat dilihat pada Lampiran B.1. Komposisi Tim dan Penugasan.

1. E.

JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

Secara umum, keterlibatan personil Konsultan Perencana pada Pekerjaan Supervisi Pelebaran Jalan Jurusan Madiun Ponorogo ini adalah 12 (dua belas) bulan, namun keterlibatannya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Untuk dapat memberikan gambaran secara rinci tentang jadwal penugasan personil pada pekerjaan ini dapat dilihat pada Lampiran B.2. Jadwal Penugasan Tenaga Ahli.

4. BAB B. PENDEKATAN DAN METHODOLOGI

Share this: Like this:

Twitter

Facebook

Suka Be the first to like this post.

Selamat Datang Kebodohan

Pre Construction Meeting

Tinggalkan Balasan
Enter your comment here...

Blog pada WordPress.com. Tema: Parament oleh Automattic.