Anda di halaman 1dari 15

TRAUMA TUMPUL LUKA LECET

PENDAHULUAN

Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. Luka merupakan kerusakan atau hilangnya hubungan antarjaringan (discontinuous tissue) seperti jaringan kulit, jaringan lunak, jaringan otot, jaringan pembuluh darah, jaringan saraf dan tulang.(1) Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. Hal ini disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu martil, terkena bola, ditinju, jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu lintas dan lain-lain sebagainya Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka yaitu luka lecet, memar dan luka robek atau luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.(1,2) Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka. Trauma tumpul dapat menyebabkan tiga macam luka yaitu luka memar (contusion), luka lecet (abrasion), dan luka robek (vulnus laceratum).Dan bila kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.(1,2) Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan, padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang diperkirakan sebagai akibat jatuh ke aspal jalanan atau tanah, seharusnya dijumpai pula aspal atau debu yang menempel di luka tersebut. Bila telah dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak dijumpai benda asing tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh ke aspal/tanah, tapi mungkin akibat tindak kekerasan.(3)

TRAUMA MEKANIS

Trauma mekanis adalah hilangnya kontinuitas jaringan yang disebabkan oleh karena adanya kekuatan mekanik dari luar tubuh. Berdasarkan penyebabnya trauma mekanik terbagi menjadi tiga yaitu trauma tumpul, trauma tajam, dan trauma senjata api.3 Trauma Tumpul Trauma tumpul ialah trauma yang disebabkan oleh benda yang memiliki permukaan yang tumpul atau tidak tajam. Luka yang terjadi dapat berupa : a. Memar i. kontusio ii. hematom b. Luka lecet i. luka lecet gores (scratch)

ii. luka lecet serut atau geser (graze, friction abrasion) iii. luka lecet tekan (impression, impact abrasion) iv. luka lecet berpola(crushing) c. Luka terbuka/robek (Vulnus laseratum)

Luka akibat kekerasan benda tumpul merupakan luka yang paling banyak ditemukan oleh ahli patologi forensik. Jenis-jenis luka akibat benda tumpul adalah abrasi (luka lecet), kontusi (luka memar), laserasi (luka robek), dan fraktur.(3) Berbagai faktor mempengaruhi gambaran akhir dan berat luka akibat trauma tumpul. Secara umum faktor ini bergantung subjek, objek, atau gabungan dari keduanya. Faktor yang bergantung pada subjek antara lain gambaran anatomi daerah benturan, usia seseorang, dan kesehatannya. Faktor yang bergantung pada objek antara lain jenis alat atau permukaan yang kontak dengan tubuh, daerah benturan pada permukaan tubuh dan banyaknya kontak yang terjadi.(3)

LUKA LECET

Definisi Luka lecet adalah luka akibat kekerasan benda yang memiliki permukaan yang kasar sehinggasebagian atau seluruh lapisan epidermis hilang.Luka lecet adalah suatu kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis akibat kekerasan dengan benda yang mempunyai permukaan kasar, sehingga epidermis menjadi tipis, sebagian atau seluruh lapisannya hilang.Luka lecet mengeluarkan serum, yang semakin mengeras dan membentuk keropeng, namun luka lecet dapat juga berdarah karena terkadang cukup dalam untuk mengenai papila vaskular yang berada di bawah permukaan epidermis dan dalam hal ini juga perdarahan dapat terjadi pada tahap awal. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena pembuluh darah terdapat pada dermis.Merupakan luka kulit yang superfisial, akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing..(2,3,4,5,6,7,8,9) Lecet sering dihasilkan dari pergerakan permukaan kulit ke permukaan yang lebih kasar atau sebaliknya. Dengan demikian luka tersebut dapat memiliki penampilan yang linier, danpemeriksaan dekat mungkin menunjukkan epidermis superfisial yang mengerut pada salah satu ujung luka,menunjukkan arah perjalanan dari permukaan lawan. Dengan demikian, pukulan tangensialbisa horizontal atau vertikal, atau mungkin dapat disimpulkan bahwakorban telah diseret di atas permukaan yang kasar.(6)

Gambar 1.

Mekanisme terjadinya abrasi.(6)

Pola dari luka lecet lebih jelas daripada memar karena luka lecetsering mengambil kesan yang cukup rinci tentang bentuk objekyang menyebabkan luka yang sekali ditimbulkan, tidak memanjang atau tertarik, sehingga luka menunjukkan tepatnya wilayah penerapan kekerasan. Pada pencekikan manual,luka lecet kecil, berbentuk bulan sabit yang disebabkan oleh kuku korban ataupenyerang mungkin tanda-tanda hanya terlihat pada leher. Seorang korban menolak sebuah pelecehan seksualatau serangan lain mungkin mencakar penyerangnya dan meninggalkan lecet paralel linear padawajah penyerang. Beberapa lecet mungkin terkontaminasi dengan bahan asing,seperti kotoran atau kaca, yang mungkin memiliki signifikansi medikolegal penting.(6) Bahan tersebut harus disimpan hati-hati untuk analisis forensik berikutnya.Dalam kasus tersebut, konsultasi dengan seorang ilmuwan forensik dapat memastikan cara terbaikpengumpulan dan pelestarianbukti.(6) Anatomi Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi stratum korneum yang ketebalannya bermacam-macam pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada tumit dan telapak tangan adalah yang paling tebal sementara pada daerah yang terlindungi seperti skrotum dan kelopak mata hanya pecahan dari millimeter. Berkaitan dengan forensik pada perkiraan perlukaan penetrasi pada kulit. (8)
4

Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh darah. Lapisan epidermis umumnya berkerut, permukaan bawahnya terdiri dari papilla yang masuk ke dalam dermis. Dermis (korium) terdiri dari jaringan ikat dengan adneksa kulit sperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Terdapat banyak pembuluh darah, saraf pembuluh limfe serta ujung saraf taktil, tekan, panas.. bagian bawah dari dermis terdapat jaringan adiposa dan (tergantung dari bagian tubuh) fascia, jaringan lemak, dan otot yang berurutan di bawahnya.(8) Jenis Luka Lecet Sesuai mekanisme terjadinya luka lecet dibedakan dalam 3 jenis: a. Luka lecet gores (scratch) Abrasi yang lebih superficial yanghampir tidak merusak kulit dengan eksudasi sedikit atau tidak ada serum (dan dengan demikian sedikit atautidak ada pembentukan keropeng) dapat disebut luka lecet gores.Diakibatkan oleh benda runcing yang menggeser lapisan permukaan kulit. Dari gambaran kedalaman luka pada kedua ujungnya dapat ditentukan arah kekerasan yang terjadi.. Salah satu jenis luka lecet gores yang paling umum adalah abrasi linier atau yang dikenal sebagai goresan. Luka lecet yang sama seperti luka lecet gores dapat dihasilkan ketika tubuh korban diseret di atas permukaan yang kasar. Penjeratan juga dapat menghasilkan luka lecet gores.Hal ini sangat umum ditemukan dalam buku tentang penumpukan epidermis pada ujung distal dari luka lecet gores, memungkinkan seseorang untuk menentukan arahgerakan dari benda tumpul atau tubuh pada permukaan kasar. Hal tersebut merupakan fenomena yang lebih teoritis daripada nyata danbiasanya tidak terjadi padaderajat yang signifikan.(3,4,6) b. Luka lecet serut (graze)/geser (friction abrasion) Adalah luka lecet yang terjadi akibat persentuhan kulit dengan permukaan badan yang kasar dengan arah kekerasan sejajar/miring terhadap kulit. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.Luka lecet ini merupakan variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Abrasi kebanyakan disebabkan gerakan lateral daripada tekanan vertikal. Ketika tanda abrasi ini ditemui, arah kekuatan dapat ditentukan

dari sisa epidermis yang terbawa sampai ujung abrasi. Pemeriksaan visual, bila perlu menggunakan lensa, dapat menunjukkan pergerakan dari tubuh.(3,8,10)

Gambar. . Road rash(5) Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linear pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dsri luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.(3) c. Luka lecet tekan (impression, impact abrasion) Luka lecet yang disebabkan oleh penekanan benda tumpul secara tegak lurus terhadap permukaan kulit. Bentuk luka lecet tekan umumnya sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut. Kulit pada luka lecet tekan tarnpak berupa daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya.Abrasi yang terjadi mengikuti pola obyek . tidak hanya epidermis yang rusak, kulit dapat tertekan mengikuti pola obyek, sehingga dapat terjadi memar intradermal. Contohnya ketika ban motor melewati kulit, meninggalkan pola pada kulit dimana kulit juga tertekan mengikuti alur ban tersebut.(3,8,10)

Gambar.2 Luka lecet tekan pada sisi kanan wajah.(4)

d.Luka lecet Crushing/ luka lecet berpola Ketika penekanan vertikal pada permukaan kulit, tidak ada goresan yang terjadi namun epidermis hancur dan obyek yang menghantam tercetak. Jika hantaman tersebut kuat dan daerah permukaan kontak kecil akan terjadi luka berlubang kecil dan abrasi hantaman terjadi. Lecet tersebut cenderung terlokalisir dan sering terlihat pada penonjolan tulang di mana lapisan tipis kulit meliputi tulang. Kerusakan yang terjadi berupa penekanan hingga depresi ringan dari permukaan atau paling tidak memar atau tonjolan udem lokal. Abrasi ini salah satu dari abrasi yang menunjukkan cetakan dari obyek yang membuat luka.(4,8)

Gambar. . (A) Luka lecet berpola pada leher, (B) Tanda/pola pemanggangan seorang pria melompat dari lantai 8 gedung dan mendarat pada besi pemanggangan.(4) Contoh luka lecet :(9) a) Karena persentuhan Benda kasar misalnya terseret di jalan aspal b) Karena tali tampar yaitu pada leher orang gantung diri , diikat dengan tali tampar. c) Karena bersentuhan dengan benda runcingseperti duri, kuku d) Karena persentuhan dengan benda yang meninggalkan bekas seperti ban mobil Ciri luka lecet :(9) 1. Sebagian/seluruh epitel hilang 2. Permukaan tertutup exudasi yang akan mengering (krusta) 3. Timbul reaksi radang (Sel PMN) 4. Biasanya pada penyembuhan tidak meninggalkan jaringan parut

Memperkirakan umur luka lecet:(9) Hari ke 1 3 : warna coklat kemerahan karena eksudasi darah dan cairan lymphe. Hari ke 4 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih suram. Hari ke 7 14 : pembentukan epidermis baru Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap

Klasifikasi Penyembuhan Luka Klasifikasi penyembuhan luka terbagi menjadi dua yaitu :(11) 1. Sanatio Per Primam Intentionem 2. Sanatio Per Secundam Intentionem

Sanatio Per Primam Intentionemyaitu proses penyembuhan luka yang segera diusahakan bertaut dengan jahitan atau dengan cara dijahit. Proses penyembuhan luka ini biasanya lebih halus dan kecil.(11) Sanatio Per Secundam Intentionemyaitu proses penyembuhan luka yang terjadi secara alami tanpa pertolongan dari luar. Cara penyembuhan luka ini biasanya memakan waktu cukup lama dan meninggalkan parut yang kurang baik, terutama kalau lukanya menganga lebar. (11) Luka lecet termasuk cara penyembuhan secara Sanatio Per Secundam Intentionem.(11)

Tahap Dalam Penyembuhan Luka Lecet

Pemeriksaan histologi luka lecet untuk menentukan usia luka memungkinkan untuk dilakukan. Robertson dan Hodge menyediakan metode pendekatan yang paling logikal. Mereka mengungkapkan empat tahap pada penyembuhan luka lecet:(2) 1. Pembentukan Keropeng Serum, sel darah merah, dan fibrin didepositkanpada abrasi. Hal ini tidak digunakan untuk menunjukkan penuaan, tetapi menunjukkan kelangsungan hidupsetelah cedera. Infiltrasi sel polimorfonuklear pada pembentukan perivaskular menandakan bahwa lamanya cederasekitar 4-6 jam. Waktu awal untuk setiap reaksi seluler adalah 2 jam, tetapi biasanya tidak terlihat jelas sampai 4-6 jam. Setelah 8 jam, dasar dari
9

keropeng ditandai oleh zona infiltrasi sel polimorfonuklearyang mendasari daerah epitel yang cedera. Setelah 12 jam, telah terbentuk tigalapisan: zona permukaan terdiri dari fibrin dan sel darah merah (atau epitel hancur dalamkasus lecet tubrukan), zona yang lebih dalam terdiri dari infiltrasi sel polimorfonuklear, dan lapisan abnormal kolagen yang rusak. Setelah 12sampai 18 jam berikutnya, zona terakhir ini semakin disusupi oleh sel-sel polimorfonuklear.(4) 2. Regenerasi Epitel Regenerasi sel epitel muncul di folikel rambut dan di tepi abrasi.Pertumbuhan epitel dapat muncul pada 30 jam pertama pada luka lecet superficial dan terlihat jelas setelah 72 jam pada kebanyakan luka lecet.(4) 3. Granulasi Subepitel dan hiperplasia epitel Hal ini menjadi lebih jelas selama 5 sampai 8 hari. Hal ini terjadi hanya setelah penutupan epitel dari sebuah abrasi.Infiltrasi perivascular dan sel inflamasi kronis sekarang cedera.(4) 4. Regresi dari epitel dan granulasi jaringan Tahap ini dimulai sekitar 12 hari. Selama fase ini,epitel diremodelling dan menjadi lebih tipis dan bahkan atrofik. Serat kolagen, yang mulai muncul di fase granulasi subepidermal terlambat, sekarang mulai muncul.Mula-mula bekuan darah mengisi luka dan anyaman fibrin terbentuk. Granulosit dan monosit fagositik mulai proses pembersihan. Tunas kapiler dan fibroblast dengan cepat berproliferasi ke bekuan darah. Tumas kapiler mengeluarkan enzim litik untuk memecah fibrin dan memungkinkan pembentukan anyaman. Tunas itu kemudian mengalami kanalisasi, membentuk lengkung vaskuler yang menghasilkan penyediaan darah yang kaya zat gizi, oksigen, granulosit, dan monosit yang dibutuhkan untuk menghilangkan jaringan mati dan bekuan darah. Sel polimorfonuklear yang banyak dalam jaringan intersisiel menghasilkan perlawanan primer terhadap infeksi dan juga ikut mengeluarkan nanah dari jaringan granulasi pada saat sel mati dibersihkan. Fibroblast yang berproliferasi menyertai pembuluh ini dan mulai menimbun kolagen.(4) mulai muncul.Epitel atasnya menjadi semakin hiperplastik, dengan

pembentukankeratin. Tahap ini yang paling menonjol selama 9 sampai 12 hari setelah

10

Dalam waktu 4-6 hari, jaringan granulasi sehat berwarna merah muda membentuk dasar untuk menyokong dan memberi makan epitelium yang meluas (atau cangkokan kulit). Sejalan dengan waktu, fibroplasia akan terus berlangsung dan terjadi ikatan. Banyak pembuluh darah yang atropi. Dengan adanya penyembuhan akhir, akan terbentuk jaringan parut putih yang tertutup selapis tipis epitelium.(4,12) Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem(7,9)

Gambar .Wanita 40 tahun adalahdikeluarkan dari kendaraanbermotor ketika dia menabrak mobil yang sedang diparkir dengan kecepatan tinggi. Dia bertahan selama 4jam di rumah sakit sebelum meninggal karena cedera kepala tertutup.Luka lecet berwarna merah-coklat gelap di dagu kiri danpipi. Penampilan kemerahan dari cedera ini

11

menunjukkan adanya luka antemortem dengan reaksi vital yang terjadi pada traumajaringan.(5)

Gambar. . Seorang pria 25 tahun kolaps dan meninggal karena kelainan jantung yang tidak didiagnosis sebelumnya.pada gambar tampak sebuah abrasi besar berbentuk bundar penonjolan malar. Seperti biasanya pada lecet peri-postmortem, tampak warna kuning-coklatdan tekstur agakseperti perkamen. Tidak ada bukti adanya reaksi vital. Pada otopsi, abrasi samatelah kering, berwarna merah-coklat. (5)

Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet mempunyai arti penting di dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman, oleh karena dari luka tersebut dapat memberikan banyak hal, misalnya:(2,10) 1) Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh, seperti hancurnya jaringan hati, ginjal, atau limpa, yang dari pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang sesuai dengan alat-alat dalam tersebut. 2) Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang menyebabkan luka, seperti :

12

a. Luka lecet tekan pada kasus penjeratan atau penggantungan, akan tampak sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-coklat, perabaan seperti perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan alat penjerat dan memberikan gambaran/cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat, seperti jalianan tambang atau jalinan ikat pinggang. Luka lecet tekan dalam kasus penjeratan sering juga dinamakan jejas jerat, khususnya bila alat penjerat masih tetap berada pada leher korban. b. Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh ban kendaraan, maka luka lecet tekan yang terdapat pada tubuh korban seringkali merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam keadaan yang cukup baik, dimana kembang dari ban tersebut masih tampak jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar. Dengan demikian di dalam kasus tabrak lari, informasi dari sifat-sifat luka yang terdapat pada tubuh korban sangat bermanfaat di dalam penyidikan. c. Dalam kasus penembakan, yaitu bila moncong senjata menempel pada tubuh korban, akan memberikan gambaran kelainan yang khas yaitu dengan adanya jejas laras, yang tidak lain merupakan luka lecet tekan. Bentuk dari jejas laras tersebut dapat memberikan informasi perkiraan dari bentuk moncong senjata yang dipakai untuk menewaskan korban. d. Di dalam kasus penjeratan dengan tangan (manual strangulation), atau yang lebih dikenal dengan istilah pencekikan, maka kuku jari pembunuh dapat menimbulkan luka lecet yang berbentuk garis lengkung atau bulan sabit; dimana dari arah serta lokasi luka tersebut dapat diperkirakan apakah pencekikan tersebut dilakukan dengan tangan kanan, tangan kiri atau keduanya. Di dalam penafsiran perlu hati-hati khususnya bila pada leher korban selain didapatkan luka lecet seperti tadi dijumpai pula alat penjerat; dalam kasus seperti ini pemeriksaan arah lengkungan serta ada tidaknya kuku-kuku yang panjang pada jari-jari korban dapat memberikan kejelasan apakah kasus yang dihadapi itu merupakan kasus bunuh diri atau kasus pembunuhan, setelah dicekik kemudian digantung. e. Dalam kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tubuh korban bersentuhan dengan radiator, maka dapat ditemukan luka lecet tekan yang merupakan cetakan dari bentuk radiator penabrak. 3) Petunjuk dari arah kekerasan, yang dapat diketahui dari tempat dimana kulit ari yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka; bila pengumpulan tersebut terdapat di sebelah kanan
13

maka arah kekerasan yang mengenai tubuh korban adalah dari arah kiri ke kanan. Di dalam kasus-kasus pembunuhan dimana tubuh korban diseret maka akan dijumpai pengumpulan kulit ari yang terlepas yang mendekati ke arah tangan, bila tangan korban dipegang; dan akan mendekati ke arah kaki bila kaki korban yang dipegang sewaktu korban diseret. Aspek Medikolegal Di dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan sebagai berikut:(10) a. Jenis luka apakah yang terjadi? b. Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka? c. Bagaimanakah kualifikasi luka itu? Pengertian kualifikasi luka disini semata-mata pengertian Ilmu Kedokteran Forensik, yang hanya baru dipahami setelah mempelajari pasal-pasal dalm Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang bersangkutan dengan Bab XX (Tentang Penganiayaan), terutama pasal 351 dan pasal 352; dan Bab IX (Tentang Arti Beberapa Istilah Yang Dipakai Dalam Kitab Undang-Undang), yaitu pasal 90.(10) Dari pasal-pasal tersebut dapat dibedakan empat jenis tindak pidana, yaitu: 1. Penganiayaan ringan 2. Penganiayaan 3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat 4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum, yaitu dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang, maka di dalam Visum et Repertum yang dibuat dokter tidak boleh mencantumkan istilah penganiayaan, oleh karena dengan sengaja atau tidak itu merupakan urusan hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan nyeri sukar sekali untuk dapat dipastikan secara objektif, maka kewajiban dokter di dalam membuat Visum et Repertum hanyalah menentukan secara objektif adanya luka, dan bila ada luka, dokter harus menentukan derajatnya.(10)

14

Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian , di dalam Ilmu Kedokteran Forensik pengertiannya menjadi: luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian. Luka ini dinamakan luka derajat pertama.(10) Bila sebagai akibat penganiayaan seseorang itu mendapat luka atau menimbulkan penyakit atau halangan di dalam melakukan pekerjaan jabatan atau pencaharian, akan tetapi hanya untuk sementara waktu saja, maka luka ini dinamakan luka derajat kedua.(10) Apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan luka berat seperti yang dimaksud dalam pasal 90 KUHP, luka tersebut dinamakan luka derajat ketiga. (10) Suatu hal yang penting harus diingat di dalam menentukan ada tidaknya luka akibat kekerasan adalah adanya kenyataan bahwa tidak selamanya kekerasan itu akan meninggalkan bekas/luka. Dengan demikian pada kasus perlukaan akan tetapi di dalam pemeriksaan tidak ditemukan luka, maka di dalam penulisan kesimpulan Visum et Repertum yang dibuat, haruslah ditulis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, dan jangan dinyatakan secara pasti bahwa pada pemeriksaan tidak ada kekerasan.(10)

15