Anda di halaman 1dari 13

TALK SHOW TENTANG EKSISTENSI WHISTLE BLOWER DAN PERLINDUNGAN HUKUMNYA DALAM PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA Eksistensi seorang

whistle blower (wb) dalam realitas penegakan hukum di Indonesia belakangan ini semakin memperoleh perhatian publik. Ditengah kondisipenegakan hukum yang telah tercengkeram oleh gurita mafia peradilan dan fenomenamarkus, keberanian seorang wb dalam mengungkap fakta-fakta nyata suatu kasuspelanggaran hukum, seolah menjadi angin segar yang memberi optimisme barumengenai perbaikan hukum dan penerapannya di negeri ini. Whistle Blower (wb) adalah seorang informan (bisa dari dalam atau luar institusi /perusahaan) yang mengungkapkan kesalahan kebijakan atau pelanggaran hukum yangterjadi pada suatu institusi / perusahaan dengan harapan untuk menghentikan kesalahantersebut dan tidak berulang. Akan tetapi keberadaan, peran dan keberanian wb yang sangatpositif tersebut seringkali tidak pararel dengan implikasi dan akibat yang harus merekaalami. Berbagai tekanan dan ancaman baik bersifat fisik (seperti penculikan bahkan pembunuhan) maupun non fisik (seperti terror kehilangan promosi karir, pekerjaan, pengucilan oleh komunitas kerja dan lain sebagainya), terpaksa harus mereka hadapi. Bahkan tidak jarang terjadi suatu serangan balik pasca pengungkapan fakta (kesaksian) yakni dengan diperkarakannya para wb tersebut secara hukum oleh pihak-pihak yang diungkapkan kesalahannya dengan tuduhan sebagai pelaku fitnah atau pencemaran nama baik. Di Indonesia, berbagai fakta kasus terkait dilemma posisi dan peran seorang wb di atas amat mudah disebutkan. Kita tentu masih ingat bagaimana Endin Wahyudin yang melaporkan praktek mafioso yang dilakukan oleh oknum hakim agung, akhirnya justru dipidana penjara karena dilaporkan balik oleh hakim agung tersebut dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Sementara terlapor (hakim agung) tetap bebas berkeliaran hingga sekarang. Kasus Agus Condro dari Fraksi PDIP, yang mengungkapkan adanya praktek penyuapan sejumlah anggota DPR melalui traveler cheque dalam pemilihan deputi Gubernur Senior BI Miranda Gultom juga sama. Meskipun perkaranya sekarang masih dalam proses (belum sampai ke tingkat persidangan pengadilan sebagaimana 4 temannya di DPR yang telah divonnis pidana penjara), namun akibat tiupan peluitnya tersebut, ia sekarang cenderung dikucilkan oleh komunitas legislative bahkan oleh partainya sendiri dan terancam pencopotan pula sebagai anggota partai. Hal ini karena pengakuan dari Agus justru dipandang sangat mencoreng muka DPR dan partainya. Di Yogyakarta, meskipun kasusnya sudah lama, seorang wb semacam Udin (wartawan harian Bernas) bahkan harus mempertaruhkan nyawanya saat ia berusaha mengungkap kasus korupsi di daerah Kabupaten Bantul. Terakhir kasus wb bernama Komjen Susno Duaji, tentu tidak mungkin kita lewatkan. Dengan sangat lantang dan berani ia mengungkap markus dilingkungan institusi yang telah membesarkannya yakni Kepolisian RI, dan akibat yang harus dihadapinya pun publik bisa melihatnya secara telanjang. Meskipun ia seorang jendral dan itu seharusnya menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi ancaman balik dari pihak-pihak yang diungkap kasusnya, akan tetapi fakta menunjukan bahwa jenderal bintang tiga tersebut harus menghadapi tekanan dari korps dan institusinya. Dari mulai ancaman bahwa ia akan dipidanakan dengan sangkaan pencemaran nama baik oleh orangorang yang disebut dalam kesaksiannya, hingga scenario kasus dengan tuduhan sebagai penerima suap yang akhirnya menjadikannya sekarang sebagai tersangka sekali gus tahanan institusinya.

Fakta di atas menegaskan bahwa meskipun keberadaan dan peran wb sangat dibutuhkan dan signifikan dalam optimalisasi penegakan hukum, namun sistem dan kondisi hukum di Indonesia ternyata belum memberikan jaminan perlindungan yang semestinya. Betapa pun kita telah memiliki UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang dalam Pasal 10 ayat 1-nya menegaskan bahwa seorang wb tidak dapat dituntut secara pidana dan perdata atas laporannya dengan catatan ia bukan pelaku tindak pidana yang dilaporkannya itu. Bahkan jika pun terkait sebagai pelaku, maka kedudukannya sebagai wb tersebut harus menjadi hal yang patut dipertimbangkan (sebagai peringan hukuman) dalam proses hukum yang akan dijalaninya. Jadi disini terlihat ada semacam kebenaran doktrin hukum yang mengajarkan bahwa apa yang seharusnya (das sollen) tidak selalu selaras dengan apa yang terjadi senyatanya (das sein). Hukum tidak berjalan atau berlaku semestinya, aparat bahkan turut memperlemahnya, komitmen pemerintah pun terlihat penuh keraguan di dalamnya. Bertolak dari realitas tersebut di atas, maka kegiatan talk show ini kiranya akan menjadi sangat urgen dan signifikan untuk menegaskan posisi dan peran seorang whistle blower dalam penegakan hukum di Indonesia. Khususnya terkait kasus-kasus yang pengungkapan atas fakta yang sebenarnya memang membutuhkan kehadiran mereka. Seperti kasus korupsi, suap, money laundering, narkotika, terrorisme dan lain sebagainya. Di samping itu, relevansi kegiatan ini juga penting untuk mengungkap sekaligus memetakan faktor-faktor yang menjadi penyebab tidak adanya atau tidak berjalannya perlindungan hukum di Indonesia bagi para whistle blower tersebut. Apakah semata karena aspek kurangnya political will pemerintah, atau karena telah tergerusnya moralitas dan integritas aparat penegak hukum kita, atau jangan-jangan karena faktor hukum atau undang-undang yang ada sekarang ini memang mengandung banyak kelemahan yang harus segera dibenahi. Tujuan : 1. Menegaskan urgensi keberadaan whistle blower dan perlindungan hukumnyadalam rangka optimalisasi penegakan hukum 2. Mengidentifikasi dan memetakan permasalahan hukum yang muncul dan dihadapi seorang whistle blower baik secara asumsi teoritik maupun berdasarkan realitas praktek penegakan hukum 3. Menggagas konsep perlindungan hukum yang ideal dan proporsional bagi keberadaan whistle blower 4.Menginventarisir gagasan-gagasan untuk dirumuskan sebagai kontribusi akademik UII bagi kemungkinan perbaikan / amandemen UU tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagai basis utama sistem perlindungan hukum whistle blower di Indonesia.
http://seminar.uii.ac.id/news/politik-dan-hukum/talk-show-tentang-eksistensi-whistleblower.html

Pemberantasan Korupsi; Kedudukan "Whistle Blower" Perlu Diperkuat


Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban gagal membawa mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Jenderal Susno Duadji ke tempat yang aman (safe house). Polri menolak menyerahkan Susno untuk diasingkan karena statusnya sebagai tahanan Polri. LPSK memiliki kepentingan untuk melindungi Susno. Kasus Susno, selama ini, menimbulkan persepsi masyarakat bahwa mengungkap kejahatan justru bisa menjadi bumerang, bisa dihukum atau menjadi tersangka. Susno sebagai whistle blower (peniup peluit) seharusnya dilindungi. Jika tidak, persepsi masyarakat yang muncul menjadi negatif. Orang yang mengungkap praktik mafia hukum atau korupsi justru dihukum, kata Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai. Di Indonesia, whistle blower, pelapor, atau pengungkap fakta menjadi fenomena baru dan masih dianggap barang aneh. Bahkan, orang yang bernyali dan berperan sebagai peniup peluit bisa dianggap sebagai orang gila. Whistle blower merupakan orang yang mengungkap pelanggaran atau kejahatan di suatu institusi tempatnya bekerja. Institusi itu bisa berupa perusahaan, institusi pemerintah, atau institusi publik lainnya. Melalui peran whistle blower, segala bentuk pelanggaran, kejahatan, termasuk korupsi, diharapkan bisa terungkap. Dengan demikian, pengelolaan institusi, baik perusahaan maupun lembaga pemerintahan, menjadi baik, efisien, dan terhindari dari korupsi atau bentuk kejahatan dan pelanggaran lain. Sayangnya, peran whistle blower di Indonesia belum mendapatkan tempat. Peniup peluit belum mendapatkan perlindungan hukum, seperti di Amerika Serikat atau Australia. Dalam buku terjemahan berjudul Strategi Memberantas Korupsi; Elemen Sistem Integritas Nasional karangan Jeremy Pope (2003) disebutkan, pekerja yang tahu tentang pelanggaran dalam tempat kerja dihadapkan pada empat pilihan, yaitu berdiam diri, melaporkan kekhawatiran melalui prosedur internal, melaporkan kekhawatiran ke lembaga luar, misalnya pengawas, atau membeberkan hal itu ke media massa. Susno termasuk whistle blower yang melaporkan kekhawatirannya ke lembaga luar, yaitu Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dan ke media.

Pada 18 Maret 2010, Susno mengungkapkan dugaan praktik makelar kasus dalam penyidikan kasus pajak senilai Rp 25 miliar di tempat ia bekerja, yaitu Mabes Polri. Selain itu, ia juga pernah mengungkapkan dugaan praktik mafia kasus dalam penanganan kasus penangkaran ikan arwana di Riau. Kasus yang diungkapkan Susno itu bergulir bagaikan bola panas. Aparat dari berbagai institusi penegak hukum diduga terlibat. Salah seorang tersangka adalah mantan pegawai pajak Kementerian Keuangan, Gayus HP Tambunan. Dari keterangan Gayus, mulai terungkap siapa yang diduga mendapat kucuran dana. Di depan Panitia Kerja DPR, Ketua Tim Independen Mabes Polri Inspektur Jenderal Mathius Salempang menjelaskan tentang keterangan Gayus yang memberikan uang Rp 5 miliar kepada jaksa, polisi, dan hakim. Ia juga mengatakan, ada 40 perusahaan yang kasus pajaknya diurus Gayus. Diduga PT Kaltim Prima Coal termasuk di dalamnya (Kompas, 4/6). Namun, pengembangan penyidikan kasus yang diungkap Susno ini terkesan kurang maksimal. Jika polisi mau menelusuri lebih jauh, polisi kemungkinan besar dapat menemukan siapa lagi yang diduga berperan sebagai Gayus di Ditjen Pajak. Fakta itu menunjukkan betapa dahsyat peran peniup peluit dalam mengungkap dan memberantas mafia hukum dan korupsi. Jika whistle blower diberi tempat, pemberantasan korupsi yang menjadi cita-cita reformasi dan pemerintahan yang bersih pun semakin dapat terwujud. Perlindungan lemah Sayangnya, perlindungan kepada whistle blower sangat lemah. Bahkan, peniup peluit cenderung dibungkam karena dinilai bisa merusak nama baik institusi. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak mengatur secara khusus perlindungan terhadap whistle blower. Karena itu, kata Abdul Haris, LPSK mengusulkan revisi terhadap UU No 13/2006. Dengan revisi itu, bisa diperjelas pengertian whistle blower, persyaratan whistle blower dapat dilindungi, serta bagaimana perlakuan terhadap whistle blower jika statusnya sebagai tersangka. Dalam Pasal 10 Ayat (1) UU No 13/2006 disebutkan, saksi, korban, dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum, baik pidana maupun perdata, atas laporan, kesaksian yang akan, sedang, atau diberikannya. Pasal itu sebenarnya kuat. Namun, dalam Pasal 10 Ayat (2) UU itu, perlindungan terhadap saksi diperlemah. Saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana bila ia terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan. Menurut Abdul Haris, dalam revisi UU No 13/2006, seorang peniup peluit yang menjadi tersangka dalam kasus yang sama dapat saja dibebaskan dari tuntutan pidana. Tetapi, ada beberapa persyaratan, misalnya, peran whistle blower dalam tindak pidana itu tak terlalu besar, kasus yang diungkap ternyata lebih besar, dan ada potensi kerugian negara yang dapat diselamatkan.

Penentuan seberapa jauh persyaratan itu terpenuhi dapat dilakukan tim independen, yaitu LPSK bersama penegak hukum, seperti Polri dan kejaksaan. Dengan demikian, peluang whistle blower mendapat perlindungan menjadi besar. Partisipasi masyarakat mengungkap praktik mafia hukum, korupsi, dan kejahatan lain pun kian terbuka. Sebaliknya, jika perlindungan terhadap whistle blower lemah, partisipasi masyarakat dalam mengungkap praktik mafia hukum dan korupsi akan kendur. Akibatnya, upaya membentuk birokrasi pemerintahan yang bersih juga semakin sulit. Lebih ironis lagi, jika whistle blower yang mengungkap suatu praktik mafia hukum diduga mendapat perlakuan atau tindakan balas dendam. Dalam kasus Susno, persepsi atau dugaan ia menjadi sasaran balas dendam memang sangat kental. Kuasa hukum Susno, Mohamad Assegaf, menegaskan, Dengan rentetan tuduhan terhadap Susno, sulit untuk tak menduga, tak adanya unsur balas dendam. Dugaan balas dendam itu wajar muncul karena tim yang memeriksa Susno adalah tim yang dibentuk Mabes Polri. Akibatnya, penanganan proses hukum pun dapat dinilai kurang independen. (Ferry Santoso) Sumber: Kompas, 8 Juni 2010

Kuatkan Peran Whistle Blower


Jakarta | Selasa, 8 Nov 2011 Aliyudin Sofyan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dinilai sangat berperan penting dalam upaya perlindungan Whistle Blower (pengungkap kasus) dan Justice Collaborator (pelapor pelaku) dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di Indonesia. "LPSK sangat strategis dalam upaya membongkar kasus korupsi dalam wewenangnya untuk memberikan perlindungan bagi whistle blower. Tapi publik belum memahami fungsi ini," kata Todung Mulya Lubis saat menyerahkan enam nama calon anggota LPSK di Jakarta, Senin (7/11). Menurutnya, peran whistle blower di Amerika Serikat sangat signifikan dalam menjadi saksi kunci untuk membongkar kasus-kasus korupsi. "Untuk itu tugas untuk melindungi whistle blower akan menjadi penting dan ini menjadi pembuktian kerja LPSK di masa depan," kata Todung yang didampingi ketua dan anggota LPSK. Todung mengkritisi peran whistle blower yang masih sedikit di Indonesia yang tidak dapat mengungkap maraknya kasus korupsi di pengadilan. Dalam pengamatan Todung, banyaknya vonis bebas yang dijatuhkan kepada terdakwa korupsi di sejumlah pengadilan Tipikor di daerah, salah satu penyebabnya karena lemahnya peran whistle blower. "Data yang ada, vonis bebas terdakwa korupsi di Surabaya terbanyak hingga 21 kasus. Hal ini bisa terjadi karena dakwaan jaksa tidak kuat, ada dugaan permainan hakim juga karena tidak ada keterangan dari whistle blower sehingga pembuktian tidak lengkap," kata Todung yang bertindak sebagai ketua Panitia Seleksi (Pansel) LPSK. Serahkan Nama Pada kesempatan itu, Pansel menyerahkan enam nama calon anggota LPSK untuk diserahkan kepada Presiden. Keenam nama calon itu aalah Ade Paul Lukas (advokat), David Nixon (advokat), Edisius Riyadi Terre (akademisi), Tasman Gultom (advokat) Lily Dorianty Purba (Konsultan) dan Ahmad Taufik (jurnalis). "Enam nama tersebut kami ambil berdasarkan dari hasil penilaian keseluruhan proses seleksi, mulai seleksi administrasi, rekam jejak, karya tulis, makalah, wawancara serta mendengarkan masukan dari LSM," kata Todung. Dari enam nama yang pernah diumumkan LPSK, dua nana yaitu Ermansjah Djaja (konsultan), dan Masruchiyah Nieke (akademisi) dinyatakan tidak lolos dalam seleksi wawancara yang dilakukan Pansel. Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai mengatakan enam nama calon anggota LPSK tersebut akan segera disahkan dalam rapat paripurna untuk kemudian diserahkan kepada Presiden.

"Melalui Presiden akan dipilih empat nama yang akan diserahkan ke DPR untuk mengikuti proses uji kepatutan dan kelayakan," kata Haris Semendawai. Dua nama terpilih, kata dia, akan menjadi anggota LPSK pengganti antar waktu (PAW) pada bidang hukum, diseminasi dan humas serta bidang kerjasama dan Diklat yang saat ini kosong. Seperti diketahui, Pansel melakukan proses seleksi anggota LPSK pengganti untuk mengisi dua jabatan anggota yang kosong setelah pemberhentian tidak hormat terhadap Ketut Sudiarsa dan Myra Diarsi. n Musdalifah Fachri
http://www.jurnas.com/halaman/4/2011-11-08/188324

Menyemangati Peranan Sang Whistle Blower Sebenarnya segenap lapisan masyarakat di republik ini harus menyatakan welcome to new whistle blower. Bukan malah melakukan serangan balik. MAKIN maraknya kasus korupsi di negeri ini, menjadi beban yang berat yang dipikul seluruh masyarakat Indonesia. Penulis mengaitkan kepada seluruh rakyat Indonesia dikarenakan korupsi tetap akan menyengsarakan rakyat sehingga kemiskinan tidak akan terhadang lagi. Fakta ini tentu yang selalu menjadi buah bibir di seluruh kalangan yang ada di republik ini. Satu persatu para pelaku koruptor diseret dan diperhadapkan pada proses hukum untuk diminta pertanggungjawabnnya. Akhir-akhir ini besarnya pemberitaan tentang whistle blower menjadi suatu kegembiraan tersendiri bagi upaya penegakan hukum, secara khusus bagi pemberantasan korupsi. Tentu nilai kejujuran dari seseorang whistle blower perlu dicontoh dan tetap dijunjung tinggi, mengingat kemauan berkata jujur sangat susah didapat saat ini. Semangat seperti ini sebenarnnya harus dipacu pertumbuhannya sehingga dapat dijadikan awal untuk menghabisi para koruptor. Whistle blower sebenarnya adalah tindakan yang mulia. Bagaimanapun pemahaman kita tentang keberadaannya bisa saja berbeda-beda. Whistle blower bisa saja disebut seseorang yang hanya soksokan, mencari sensasi, maling teriak maling. Umumnya para pelaku koruptor tidak terlalu senang atas keberadaan seorang whistle blower, karena keberadaannya akan menjadi duri dalam daging, yang sewaktu-waktu dapat menusuk baik dari depan maupun dari belakang. Inilah fakta yang telah pernah terjadi. Walaupun untuk kalangan para koruptor keberadaan whistle blower tidak begitu berterima, namun banyak pihak masih tetap merindukan lahirnya para generasi whistle blower. Mungkin jika kita melirik ke balakang, peranan para whistle blower (sang peniup peluit) yang telah membuka sejumlah kasus korupsi sudah seharusnya patut kita syukuri. Peranan para pejuang kejujuran ini tidak akan pernah ternilai harganya. Deretan nama para whistle blower diawali Susno Duadji. Perwira tinggi Polri ini megungkap ada seorang pegawai pajak yang memiliki rekening tidak wajar. Pegawai yang dimaksud adalah Gayus Tambunan, sehingga akibat terungkapnya kasus ini, telah menyeret bebarapa oknum penegak hukum mulai dari hakim, aparat kejaksaan, advokat, dan aparat dari departemen keuangan RI. Kasus ini dikenal dengan istilah cicak melawan buaya. Nama lain juga ikut menghiasi warna-warni whistle blower di negeri ini. Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi-MK) menjadi bahagian dari orang yang mempertontonkan nilai kejujuran. Bendahara umum Partai Demokrat Nazaruddin menjadi korban dari kejujuran Mahfud. Mahfud MD melaporkan Nazaruddin yang memberikan uang suap kepada Sekjen MK. Hal ini telah dibeberkan Mahfud kepada public. Yang paling menarik adalah beliau melaporkan secara langsung kepada Presiden SBY. Di samping itu, nama Siami bergema di seluruh nusantara. Seorang wali murid SD N Gadel 2 Surabaya ini melaporkan dan membeberkan tindakan mencontek massal saat ujian nasional. Informasi contek massal diterimanya dari anaknya, sehingga cercaan dan makian dari wali murid

lainnya berdatangan. Kasus pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengangkat nama Agus Condro Prayitno menjadi whistle blower. Agus membeberkan beberapa nama-nama politisi yang terlibat dalam skandal pemilihan DGBI karena adanya aliran uang kepada anggota Komisi IX DPR 1999-2004 dalam pemilihan Miranda Gultom. Dan atas informasi dari Agus Condro, beberapa politisi sudah terbukti dan telah divonis oleh pengadilan, dan bahkan sang whistle blower ini juga dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 3 bulan penjara. Perlindungan Sebenarnya, gunjang ganjing tentang upaya perlindungan sang whistle blower di negeri ini mengurangi semangat lahirnya sang whistle blower baru. Jika kita telisik apa sebenarnya hadiah yang didapat para sang whistle blower atas jasa dan peranan yang diberikan, tentu tidak ada. Malah saat ini kerap kali dijadikan sasaran tembak. Upaya serangan balik menjadi senjata untuk membungkam kemauan dan semangat para sang whistle blower. Walau sudah membongkar ketidakadilan dan ketidakjujuran namun kerap sesekali mereka mendapat imbalan perlakuan tidak adil dari negara. Tidak adanya perlindungan secara yuridis terhadap sang whistle blower, dikwatirkan akan memutus generasi whistle blower yang baru. Padahal jika kita mau jujur, demi penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di negeri ini, peranan sang whistle blower menjadi kebutuhan primer untuk dijadikan alat membuka sindikat mafia koruptor. Kita bayangkan saja selama ini, atas peranan sang whistle blower membuka para sindikat koruptor besar yang selama ini tidak terpikirkan dan tidak terduga. Gayus Tambunan pegawai biasa golongan III A di Dirjen Pajak bisabisa melakukan hal yang diluar kebiasaan/luar biasa karena mempunyai uang miliaran rupiah. Mungkin Indonesia sudah saatnya berbenah diri merancang aturan perlindungan untuk sang whistle blower. Di beberapa negara di dunia sudah menerapkan aturan untuk melindungi para sang whistle blowernya dari ancaman yang menyerangnya. Penulis melihat Amerika Serikat. Di negara paman sam ini melindungi sang whistle blower dari pemecatan, penurunan pangkat, pemberhentian sementara dan ancaman tindakan diskriminasi (Whistleblower Act 1989, Whistleblower). Dia Australia sang whistle blower namanya sangat dirahasiakan dan tidak dapat dituntut secara pidana maupun perdata. Di Afrika Selatan dilindungi dari setiap kerugian yang berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dimiliki. Lahirnya para sang whistle blower baru di negeri ini menjadi senjata baru untuk melawan para pelaku korupsi. Tumbuh suburnya para pahlawan kejujuran ini menurut penulis tergantung dari seberapa besar perlindungan yang diberikan negara kepadanya. Jika mau jujur, tindakan para whistle blower adalah bukan untuk tindakan sok-sokan, pencitraan, akan tetapi ini merupakan perbuatan yang sangat berharga dan perlu dilestarikan dan dijaga kelangsungannya. Namun jika whistle blower tidak dilindungi, maka sangat kecil harapannya akan tumbuh dan besar. Serangan balik yang diperhadapkan bagi sang whistle blower merupakan bukti dangkalnya perlindungan bagi sang whistle blower di Indonesia. Setelah Susno Duadji membuka kasus Gayus Tambunan yang melibatkan para penegak hukum, gilaran Susno Duadji yang dijebloskan ke balik jeruji. Giliran Agus Condro membuka aib beberapa anggota DPR Komisi IX 1999-2004 dalam

kaitan pemilihan DGBI, pengadilan tetap menjatuhkan vonis hukuman penjara 1 tahun 3 Bulan terhadap Agus Condro. Dan yang paling sederhana giliran Siami membuka contek massal, secara langsung dikucilkan dari masyarakat setempat, sehingga mereka harus keluar dari tempat tinggalnya.. Apabila kejadian ini tetap kita biarkan, maka regenerasi sang whistle blower akan sirna. Apalagi akhir-akhir ini Mahfud MD membeberkan adanya dugaan pemalsuan surat di KPU yang melibatkan Andi Nurpati. Sehingga dari informasi ini didapat ada indikasi mafia Pemilu yang mempengaruhi jumlah kursi pada di DPR. Di samping itu juga Wa ode Nurhayati seorang anggota DPR dari PAN. Wa ode menuding di DPR ada mafia anggaran. Dalam hal ini Wa Ode sudah sedikit demi sedikit mengungkap kasus calo anggaran yang melibatkan para anggota DPR. Sehingga atas kejadian ini beberapa anggota DPR kelihatannya kebakaran jenggot. Bahkan yang paling kesalnya mereka melakukan perlawanan dengan melaporkan Wa ode ke Badan Kehormatan DPR. Bukan malah bersyukur tetapi malah menyerang. Padahal Wa Ode harus didorong untuk membongkar sindikat mafia anggaran yang disebut-sebut terjadi di DPR. Kita tidak tahu apakah Wa ode menjadi sang whistle blower yang baru? Beranikah Wa ode mengungkap semuanya? Tentu jika negara melindunginya serta masyarakat menyemangatinya, penulis yakin Wa Ode akan menjadi sang whistle blower baru di republik ini.*** (Oleh : Syahrin Lumbantoruan SH) Penulis alumni Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen, peminat hukum, aktif di Buletin N-Sid Medan
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/06/27/42020/menyemangati_pera nan_sang_whistle_blower/#.T493x9nfyuQ

Masih Sulit Lindungi Whistleblower di Indonesia


Posted by redaksi on Jul 16, 2011 | Leave a Comment JAKARTAMICOM: Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai mengakui perlindungan whistleblower sebagai justice collabolator merupakan perlakuan yang masih baru di Indonesia dan membutuhkan kerja sama dan komitmen dari semua pihak. Perlindungan whistleblower masih baru di Indonesia. Implementasi belum ada, belum diatur, baik itu di kejaksaan, kehakiman dan lainnya. Jadi, sulit untuk bisa dilaksanakan, papar Haris di Jakarta, Jumat (15/7). Undang-Undang No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebenarnya telah mencoba mengatur semacam insentif bagi pelapor pelaku/pelaku yang bekerja sama. Ini tertuang dalam Pasal 10 ayat (2). Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan. Namun menurut Haris, aturan tersebut dinilai belum cukup dalam memberikan perlindungan whistleblower sebagai justice collaborator. Peran whistleblower yang sangat penting tidak diimbangi dengan perlindungan yang masih belum maksimal. Peraturan dalam KUHAP No 8 Tahun 1981 juga belum menjamin adanya perlindungan terhadap saksi dan korban. Yang dilindungi adalah tersangka, terdakwa, dan tertuduh. Salah satu peran whistleblower sebagai justice collaborator adalah dalam mengungkap dan membongkar kejahatan yang terorganisir. Selama ini, kejahatan yang terorganisir baru bisa terdeteksi setelah ada laporan atau informasi yang disampaikan. Whistleblower sebagai justice collaborator sangat berharga, karena bisa mengungkap siapa saja aktor-aktor yang terlibat dalam kejahatan yang terorganisir, tegas Haris. Whistleblower juga berperan penting dalam mengungkap kasus korupsi. Agus Condro misalnya. Perannya penting dalam kasus cek pelawat. Kalau ingin berantas korupsi perlu memperhatikan posisi penting dari whistleblower, timpal Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) Denny Indrayana. Bentuk perlindungan whistleblower secara nyata yang bisa diberikan, yakni dengan memberikan reward. Jika whistleblower telah dijatuhi hukuman, maka bentuk rewardnya dengan keringanan atau pengurangan hukuman (remisi).

Kalau dihukum seumur hidup, rewardnya bisa dikurangi menjadi 15 tahun atau 10 tahun. Ada reward-nya bagi whistleblower, terang Haris. Haris menambahkan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Australia, bahkan perlindungan whistleblower sudah sampai tahap penggantian identitas. UU No.13 Tahun 2006 Pasal 5 ayat (1) a sebenarnya telah menjamin hak bagi saksi dan korban. Namun, lagi-lagi Haris mengakui aturan itu masih belum maksimal. Bagaimana proses penggantian identitas, siapa yang berhak mengganti identitas belum jelas. Ke depan kami akan coba atur agar lebih lancar, perlu ada aturan yang lebih rinci. Di Indonesia butuh waktu cukup lama untuk penggantian identitas seperti ini. Tapi mudah-mudahan kami bisa memulainya, tuturnya. (*/OL-2) Article source: http://mediaindonesia.feedsportal.com/c/33655/f/590285/s/16b29e8e/l/0Lm0Bmediaindonesia0N0 Cindex0Bphp0Cread0C20A110C0A70C160C2424120C2840C10CMasih0ISulit0ILindungi0IWhis tleblower0Idi0IIndonesia/story01.htm