Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Fisika Semester 2 Kelas XI IPA 1 Tahun Ajaran 2011 / 2012

Judul Kelas Tanggal praktikum : Hukum Archimedes : XI IPA 1 : 27 April 2012

A. Tujuan
Membuktikan fenomena Hukum Archimedes

B. Dasar Teori
Hukum Archimedes Menurut Archimedes, benda menjadi lebih ringan bila diukur dalam air daripada di udara karena dalam air, benda mendapat gaya ke atas. Sementara ketika di udara, benda memiliki berat yang sesungguhnya. wu = mg Ketika dalam air, benda dikatakan memiliki berat semu, dinyatakan dengan: ws = wu - Fa Keterangan: ws berat semu (N) wu berat sesungguhnya (N) Fa gaya angkat ke atas (N) Gaya angkat ke atas ini disebut juga gaya apung. Definisi I gaya apung: Gaya yang dikerjakan fluida pada benda yang timbul karena selisih gaya hidrostatik yang dikerjakan fluida antara permukaan bawah dnegan permukaan atas. Bila tekanan fluida pada sisi atas dan sisi bawah benda yang mengapung masing-masing p1 dan p2, maka gaya yang dikerjakan pada balok pada sisi atas dan bawah adalah: F1 = p1A F2 = p2A Gaya ke atas yang bekerja pada balok merupakan resultan gaya F1 dan F2. Fa = F Fa = F2 - F1 Fa = p2A - p1A Fa = (p2A - p1)A Fa = (h2 - h1)gA

Definisi II gaya apung: Selisih berat benda di udara dengan berat benda di fluida yang memiliki gaya apung tersebut.

Rumus Prinsip Hukum Archimedes FA=.g.V

Keterangan : FA = Tekanan Archimedes = N/m2 = Massa Jenis Zat Cair = Kg/M3 g = Gravitasi = N/Kg

V = Volume Benda Tercelup = M3

Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental karena dapat diturunkan dari hukum newton juga. Bila gaya archimedes sama dengan gaya berat W maka resultan gaya =0 dan benda melayang . - Bila FA>W maka benda akan terdorong keatas akan melayang - Jika rapat massa fluida lebih kecil daripada rapat massa telur maka agar telur berada dalam keadaan seimbang,volume zat cair yang dipindahkan harus lebih kecil dari pada volume telur.Artinya tidak seluruhnya berada terendam dalam cairan dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka volume zat cair yang dipindahkan harus sama dengan volume telur dan rapat massa cairan sama dengan rapat rapat massa benda. Jika rapat massa benda lebih besar daripada rapat massa fluida, maka benda akan mengalami gaya total ke bawah yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan jatuh tenggelam. Berdasarkan Hukum Archimedes, sebuah benda yang tercelup ke dalam zat cair akan mengalami dua gaya, yaitu gaya gravitasi atau gaya berat (W) dan gaya ke atas (FA) dari zat cair itu. Dalam hal ini ada tiga peristiwa yang berkaitan dengan besarnya kedua gaya tersebut yaitu seperti berikut. Tenggelam Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda (W) lebih besar dari gaya ke atas (FA). W > FA
pb pb

Vb g > pf Vf g > pf

Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (p)

Melayang Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda (W) sama dengan gaya ke atas (FA) atu benda tersebut tersebut dalam keadaansetimbang W = FA
pb

Vb g = pf Vf g

pb = pf Pada 2 benda atau lebih yang melayang dalam zat cair akan berlaku :
EA

= Eb

Terapung Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda (W) lebih kecil dari gaya ke atas (FA). W > FA
pb pb

Vb g > pf Vf g > pf

C. Alat dan Bahan


1. 2. 3. 4. 5. 6. Benda ; massa 100 gr dan 500 gr Neraca Pegas Gelas Berpancuran Gelas Ukur Air Minyak Tanah

D. Langkah Kerja
1. Ukurlah benda dengan neraca pegas 2. Dengan posisi benda yang tergantung neraca celupkan seluruh bagian benda ke dalam air yang berada dalam gelas berpancuran! amati angka yang muncul pada neraca dan catat massa, volume air yang tumpah pada gelas ukur! 3. Cari benda lain dengan massa berbeda, kemudian lakukan langkah 1 & 2 4. Lakukan percobaan 1 -3 dengan menggunakan fluida minyak tanah

E. Hasil Pengamatan
Berat Benda (N) Jenis Benda Sebelum Dicelup Minyak Air Tanah 0,3 0,3 0,2 0,2 0,2 0,2 0,1 0,1 0,25 0,25 Sesudah Dicelup Minyak Air Tanah 0,29 0,29 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,24 0,24 Volum Fluida yang tumpah Massa Fluida yang tumpah (cm3) (g) Air 25 20 20 20 23 Minyak Tanah 24 19 19 19 22 Air Minyak Tanah -

Benda I Benda II Benda III Benda IV Benda V

F. Permasalahan
1. Mengapa berat benda yang ditunjukkan pada neraca sesudah dicelup mengalami pengurangan? 2. Setelah air diganti minyak tanah apabila data pengamatan yang diperoleh mengalami pebedaan, mengapa demikian?

1. Karena benda akan mendapat gaya tekan ke atas oleh air, sehingga gaya ke atas merupakan selisih berat benda dengan berat semua benda 2. Tidak, karena massa jenis benda besarnya sama dengan massa jenis fluida dan akan mengakibatkan volume fluida tetap

Penerapan Hukum Archimedes

a) Balon Udara

Cara balon udara bekerja prinsipnya sangat sederhana yaitu dengan cara memanaskan udara di dalam balon agar lebih panas dari udara di luarnya. Karena kita tahu udara yang lebih panas akan lebih ringan karena masa per unit volumenya lebih sedikit. Teknologi ini bisa juga dimanfaatkan sebagai iklan balon udara atau wisata balon udara, misal di Bali. Bagian-bagian balon udara Balon udara secara garis besarnya mempunyai tiga bagian utama yaitu envelope, burner, dan basket. 1. Envelope bentuknya berupa kantong berupa balon tempat udara dipanaskan. Envelope ini biasanya terbuat dari bahan nilon dan diperkuat dengan panel-panel yang di anyam. Karena nilon ini tidak tahan api, maka bagian bawah envelope di lapisi dengan bahan anti api (skirt). 2. Burner merupakan alat yang berfungsi untuk memanaskan udara di dalam Envelope. Burner di letakkan di atas kepala penumpang dekat ke mulut envelope. 3. Basket atau keranjang merupakan tempat penumpang. Basket dibuat dari bahan yang ringan dan lentur. Cara Balon Udara Terbang Seperti yang telah disebutkan di atas balon udara terbang dengan memanfaatkan perbedaan berat udara dengan jalan memanaskannya. Untuk terbang udara di dalam envelope di panaskan dengan burner dengan temperatur sekitar 100 derajat Celcius. Udara panas ini akan terperangkap di dalam envelope. Karena udara panas ini masa per unit volumenya lebih sedikit membuatnya lebih ringan sehingga balon udara pun akan bergerak naik di dorong oleh udara yang bertekanan lebih kuat. Untuk mendarat, udara didinginkan dengan cara mengecilkan burner . Udara yang mulai mendingin di dalam envelope membuat balon bergerak turun. Untuk mempercepatnya, pilot akan membuka katup parasut (parachute valve) sehingga udara di dalam envelope lebih cepat dingin. Karena balon udara hanya bisa naik dan turun (bergerak secara vertikal) tentu kita berpikir bagaimana cara balon udara berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain (bergerak secara horizontal). Jawabannya hanya satu, pilot memanfaatkan hembusan angin untuk bergerak secara horizontal. Karena angin bertiup berbeda arahnya pada setiap ketinggian tertentu. Perbedaan arah tiupan angin inilah yang dimanfaatkan oleh pilot untuk mengendalikan balon udara dari satu lokasi ke lokasi yang diinginkan. Sebagai ilustrasi pada ketinggian 300 meter balon udara akan bergerak dari timur ke barat. Angin yang bertiup ke barat di perkirakan pada ketinggian 400 meter. Untuk itu pilot menaikkan balon udara sampai ketinggian tersebut dan balon udara pun memanfaatkan tiupan angin untuk menuju ke barat. Sederhana bukan? Tapi hal ini hanya bisa dipraktekkan oleh pilot yang berpengalaman agar balon udara tidak nyasar. Sumber : http://science.howstuffworks.com

b) Kapal Laut Di awal pembahasan Hukum Archimedes telah sedikit disinggung mengapa kapal laut dapat mengapung di air. Badan kapal laut mempunyai rongga udara. Karena rongga udara ini, volume air laut yang dipindahkan oleh kapal tersebut cukup besar sehingga sesuai prinsip Archimedes, kapal laut mendapatkan gaya apung yang cukup besar untuk menahan bobot kapal sehingga kapal dapat mengapung di permukaan air. Kapal sangat penting untuk transportasi. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang besar. Oleh karena itu, kapal laut memegang peranan penting akan kelancaran transportasi di negara kita. c) Kapal Selam Jika kapal laut hanya dapat mengapung di permukaan air, maka kapal selam, selain dapat mengapung, dapat juga melayang dan tenggelam di dalam air laut. Karena kemampuannya tersebut, kapal selam sangat cocok digunakan dalam bidang militer dan penelitian. Bentuk badan kapal selam dirancang agar dapat mengapung, melayang, dan tenggelam dalam air. Selain itu, dirancang untuk dapat menahan tekanan air di kedalaman laut. Bagaimana cara kerja kapal selam? Ketika kapal selam sedang mengapung, melayang, dan tenggelam! Badan kapal selam mempunyai rongga udara yang berfungsi sebagai tempat masuk dan keluarnya air atau udara. Rongga ini terletak di lambung kapal. Rongga tersebut dilengkapi dengan katup pada bagian atas dan bawahnya. Ketika mengapung, rongga terisi dengan udara sehingga volume air yang dipindahkan sama dengan berat kapal. Sesuai dengan prinsip Archimedes, kapal selam akan mengapung. Ketika rongga katup atas dan katup bawah pada rongga kapal selam dibuka, maka udara dalam rongga keluar atau air masuk mengisi rongga tersebut. Akibatnya, kapal mulai tenggelam. Katup akan ditutup jika kapal selam telah mencapai kedalaman yang diinginkan. Dalam keadaan ini, kapal selam dalam keadaan melayang. Jika katup udara pada rongga dibuka kembali maka volume air dalam rongga akan bertambah sehingga kapal selam akan tenggelam Jika kapal selam akan muncul ke permukaan dari keadaan tenggelam, air dalam rongga dipompa keluar sehingga rongga hanya terisi udara. Dengan demikian, kapal selam akan mengalami gaya apung yang dapat menyamai berat kapal selam. Akibatnya, kapal selam akan naik ke permukaan dan mengapung. d) Galanagan Kapal Hampir sama dengan kapal laut. Pertama-tama galangan kapal diisi dengan air laut, kemudian ditempatkan tepat di bawah kapal laut, lalu airnya disedot dan galangan kapal naik ke atas dan muncul ke permukaan air. Akhirnya air di sekeliling kapal hilang dan kapal siap di perbaiki. Setelah kapal diperbaiki galangan kapal diisi kembali oleh air laut dan mulai tenggelam. Dan kapal siap kembali ke laut.