Anda di halaman 1dari 9

Gel TEori

By lisaeskaria

GEL 1. Definisi Gel Gel adalah sistem padat atau setengah padat dari paling sedikit 2 (dua) konstituen yang terdiri dari massa seperti pagar yang rapat dan diisi oleh cairan. Gel terdiri dari dua fase kontinu yang saling berpenetrasi. Fase yang satu berupa padatan, tersusun dari partikel partikel yang sangat tidak simetris dengan luas permukaan besar; sedang yang lain adalah cairan. (Martin, 1993). 1. Pembagian Gel menurut tipe dan macamnya 1. Menurut Lieberman Klasifikasi Anorganik Organik Hidrogel Definisi Contoh Biasanya terdiri dari sistem Gel Aluminium Hidroksida 2 fase dan Bentonit Magma Biasanya terdiri dari 1 fase Karbopol dan Tragakan Sistemnya termasuk dalam Pasta pektin, Jelly tragakan, organik, anorganik metilselulosa, dan gel hidrogel, dan gom bentonit Sistemnya termasuk dalam Petrolatum, Aluminium basis sabun yang bersifat stearat, carbowax polar dan nonionik

Organogel

1. Menurut Martin No 1 Klasifikasi Organogel 1. Tipe hidrokarbon 1. Lemak hewani dan lemak nabati Contoh Petrolatum,gel minyak mineral-polietilen Lard, minyak nabati terhidrogenasi, minyak teobroma Aluminium stearat, gel minyak mineral Basis Carbowax, salep polietilen glikol Pasta pektin, jelly tragakan Gel Bentonit, gel koloid magnesium aluminium silikat

1. Lemak basis sabun 1. Organogel hidrofilik 2 Hidrogel 1. Hidrogel organic 1. Hidrogen Anorganik

1. Konsep Dasar Gel Macam-macam polimer yang digunakan dibagi menjadi 2 yaitu 1. Polimer alam Yang termasuk dalam polimer alam adalah 1. Alginat Polisakarida ini mengandung banyak proporsi dari D-manuronat dan asam L-glukoronat. Meskipun banyak garam alginate yang tersedia secara komersial, sodium alginat yang paling banyak digunakan. 1. Karaginan Karaginan adalah variable campuran dari sodium, kalium, ammonium, kalsium, dan magnesium sulfat. Tipe-tipe dari kopolimer yang utama ditandai dengan kappa-, iota-, dan lambda-karagenan. Semua karaginan bersifat anionik. Gel dengan kappa-karagenan cenderung mudah patah, dapat diperkuat dengan adanya ion kalium; gel dengan iotakaragenan mempunyai sifat elastik. 1. Tragakan Tragakan adalah getah dari astragalus gummifer Labillardiere. Tragakan merupakan material kompleks uatama dari asam polisakarida yang mengandung kalsium, magnesium dan kalium. 1. Pektin Pektin adalah polisakarida yang diekstraksi dari dalam kulit jeruk atau apel, yang dapat digunakan sebagai sediaan farmasetika (gel). Gel ini dibentuk pada pH asam dalam larutan yang mengandung kalsium dan bahan-bahan lain yang didehidrasikan sebagai gom. 1. Xanthan Gom Xanthan Gom didapatkan dari fermentasi bakteri dan banyak digunakan sebagai emulgator dalam suspensi dan emulsi pada konsentrasi dibawah 0,5%. 1. Gellan Gom Gellan gom adalah polisakarida lain yang didapatkan dari fermentasi. Kekuatan gel dapat dilihat dari konsentrasi gom dan kandungan ioniknya. 1. Guar gum Guar gum adalah non ionic polisakarida turunan dari seeds. Larutan guar dapat membentuk cross linking denga beberapa polivalen kation untuk membentuk gel. Mekanismenya melibatkan pembentukan kelat antara rantai polimer yang berbeda. Kelemahan dari gel ini adalah residu tidak larut dari tanaman.

1. Gum yang lain Gelatin umumnya digunakan sebagai pembentuk gel dalam industir makanan dan dalam industri farmasi. Agar dapat digunakan untuk membuat gel yang kuat. 1. Chitosan Chitosan adalah biopolymer alam yang berasal dari cangkang luar Crutacean. Kitin diekstraksi dan dideasetilasi parsial untuk memproduksi chitosan. Tidak seperti kebanyakan gum, chitosan membawa muatan positif, (pada pH di bawah 6,5). Gel yang kuat dihasilkan dari interaksi dengan polisakarida seperti alginate. 1. Polimer akrilat Carbomer 934P adalah nama salah satu kelompok polimer akrilat yang memiliki cross link dengan eter polialkenil. Digunakan sebagai thickening agent. Carbomer membentuk gel pada konsentrasi 0,5%. Dalam medium berair, polimer yang dipasarkan dalam bentuk asam bebas, mula mula terdispersi secara seragam. Setelah tidak ada udara yang terjebak, gel dinetralkan dengan basa yang cocok. Muatan negative pada sepanjang rantai polimer menyebabkan polimer tersebut menjadi terurai dan mengembang. Dalam sistem berair, basa sederhana anorganik, seperti sodium, ammonium, atau potassium hidroksida atau garam basa seperti sodium carbonat dapat digunakan. pH dapat diatur pada nilai yang netral; sifat gel dapat dirusak oleh netralisasi yang tidak cukup atau nilai pH yang berlebih. Amina tertentu seperti TEA biasanya digunakan dalam produk kosmetik. Faktor factor yang mempengaruhi fleksibilitas dan simetri rantai serta kekuatan polimer antara lain: 1) Berat molekul dan distribusi berat molekul 2) Struktur kimia dari polimer, sifat atom dan ikatan-ikatan dalam struktur utama, misalnya konfigurasi stereoregular dari rantai atom dan adanya cincin atau ikatan rangkap dalam rantai, pada polaritas, frekuensi dan ukuran substituent atau gugus samping 1. Stabilitas Gel Struktur gel merupakan hasil dari interaksi partikel-partikel dan rintangan molecular. Pergerakan partikel partikel gel secara acak dapat menyebabkan kerusakan dan reformasi ikatan. Pada aliran rendah, material bersifat elastic karena ikatan antar partikelnya kuat. Pada saat terjadi peningkatan tegangan, struktur akan termodifikasi dengan adanya kerusakan dan reformasi ikatan(Liebermann, 1996). Mekanisme stabilitas gel adalah terbentuknya rantai polimer akibat terbasahinya gelling agent, rantai polimer tersebut akan cross linking yang membentuk ruangan untuk menjebak zat aktif. Gel dapat membentuk struktur house of card, di mana bagian dalam hingga pinggir sistem gel membentuk jaringan tiga dimensi dari partikel yang seluruhnya dalam bentuk cairan. Interaksi antara partikel-partikelnya sangat lemah. Larutan dari gelling agent dan disperse

dari padatan yang sudah terflokulasi cenderung mempunyai sifat pseudoplastik, yang menunjukkan sifat/ karakter dari aliran non-Newtonian (Liebermann, 1996). Formulasi gel yang tidak stabil di bawah keadaan normal menunjukkan perubahan irreversible pada sifat rheologinya. Contoh gel yang tidak stabil adalah gel yang mengalami pemisahan terhadap fase cair (syneresis) dan terhadap fase padatnya (sedimentasi), gel yang kehilangan viskositas atau konsistensinya (terjadi perubahan dari semisolid ke liquid) 1. Fenomena Ketidakstabilan Gel Mekanisme ketidakstabilan dalam gel dibagi menjadi 2, yaitu syneresis dan swelling. 1. Syneresis Pada fenomena ini, jika suatu gel didiamkan selama beberapa saat, maka gel tersebut seringkali akan mengerut secara alamiah dan cairan pembawa yang terjebak dalam matriks keluar/lepas dari matriks. Syneresis dapat diamati pada jelly yang sering kita makan seharihari atau gelatin pencuci mulut. Istilah bleeding yang biasanya, tidak karena adanya kontraksi seperti pada syneresis namun terlebih dapat dikarenakan struktur gel yang kurang (Martin, 1993). 1. Swelling Fenomena ini merupakan mekanisme dimana gel dapat menyerap cairan dari system sehingga volume pada gel dapat bertambah dan airnya akan terperangkap dalam matriks yang terbentuk pada gel. Swelling merupakan kebalikan dari fenomena syneresis dimana terjadi penyerapan cairan oleh suatu gel dengan diikuti oleh peninfkatan volume. Gel juga dapat menyerap sejumlah cairan tanpa peningkatan volume yang dpaat diukur, ini disebut imbibisi. Cairan-cairan yang dapat mengakibatkan penggembungan adalah cairan-cairan yang dapat mensolvasi suatu gel (Martin, 1993). 1. Formulasi Gel Carbomer TEA Gliserin PG Metil Paraben Etanol Aquadest Zat aktif 1% 2% 25% 5% 0,2% 13,354% 53,416% 0,03%

Carbomer : Berfungsi sebagai gelling agent yang dapat meningkatkan viskositas dari gel. Carbomer berperan dalam sediaan topical emulsi tipe O/W. Konsentrasi yang digunakan sebagai gelling agent adalah 0,5-2,0%. TEA : Berfungsi sebagai agen pengemulsi, dimana dengan adanya gliserin (asam lemak) akan bereaksi dengan membentuk sabun anionic dengan pH sekitar 8 yang bersifat stabil dalam tipe emulsi O/W. Gliserin : Berfungsi sebagai humektan dan emollient. Konsentrasi gliserin yang digunakan sebagai humektan dan emollient berkisar kurang dari 30%. Gliserin bersifat higroskopis. Campuran antara gliserin, etanol, dan propilen glikol bersifat stabil secara kimia. Gliserin akan meleleh pada suhu 200C. gliserin didapatkan dari minyak dan lemak sebagai produk dalam pembuatan sabun dan asam lemak. Propilen glikol : Berfungsi sebagai humektan dan pelarut. Propilen glikol bersifat larut dalam air. Propilen glikol stabil secara kimia dalam campuran dengan etanol, gliserin, dan air. Metil paraben : Berfungsi sebagai pengawet antimikroba. Efektifitas dari metil paraben sebagai bahan pengawet akan semakin meningkat dengan adanya propilen glikol. Konsentrasi metil paraben yang digunakan dalam sediaan topical adalah 0,02-0,3%. Etanol : Berfungsi sebagai bahan pengawaet antimikroba, disinfektan, dan pelarut. Etanol bersifat larut dalam air dan gliserin. Pada formula ini, etanol berfungsi sebagai pengawet antimikroba dimana konsentrasinya adalah lebih dari 10%. Aquadest Daftar Pustaka Liebermann, 1996, Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse Syastems Volume 2, 415425, Marcel Dekker, New York Martin, Alfred, 1993, Physical Pharmacy, 566-572, Lea & Febiger, Philladephia : Berfungsi sebagai fase luar atau medium dispers.

Macam-macam sediaan semisolida 1. Lotion Lotion adalah suatu sediaan dengan medium air yang digunakan pada kulit tanpa digosokkan.Biasanya mengandung substansi tidak larut yang tersuspensi, dapat pula berupa larutan dan emulsi di mana mediumnya berupa air.Biasanya ditambah gliserin untuk mencegah efek pengeringan, sebaliknya diberi alcohol untuk cepat kering pada waktu dipakai dan memberi efek penyejuknya (Anief, 1984). Ada 2 jenis Lotion: - Larutan detergen dalam air - Emulsi tipe M/A 2. Salep Salep merupakan sediaan semipadat yang umumnya bersifat anhydrous, berlemak, dan mengandung obat yang tidak larut atau terdispersi ( Saifullah, 2008 : 59 ). Salep dapat digunakan sebagai sediaan untuk tujuan pengobatan atau terapi ( harus mengandung bahan obat ), sebagai pelindung, pelunak kulit, atau sebagai pembawa ( vehikulum ) ( Saifullah, 2008 : 63 ). Salep tidak boleh berbau tengik, kecuali dinyatakan lain kadar obat di dalam salep yang mengandung keras atau obat narkotik tidak boleh lebih dari 10% ( Anief, 2000 : 53 ). Pembuatan salep baik daam ukuran besar maupun keci, salep dibuat dengan dua metode: (1) pencampuran dan (2) peleburan. Metode untuk pembuata tertentu terutama tergantung pada sifat-sifat bahannya. a. Pencampuran Komponen dari salep dicampur bersama-sama dengan sgala cara sampai sediaan yang rata tercapai. b. Peleburan Semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental.Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk. Penggolongan dasar salep * Dasar salep berminyak. Contohnya : Vaselin, parafin, minyak tumbuh-tumbuhan dan silikon. * Dasar salep absorpsi Golongan dasar salep absorpsi meliputi minyak hidrofil yaitu adeps lanae, Hydrophylic petrolatum dan dasar salep yang baru seperti polysorb. Dasar salep absorpsi ada dua tipe: 1. Dasar salep anhidrous yang mampu menyerap air dan membentuk tipe emulsi A/M seperti adeps lanae dan Hydrophilic petrolatum. 2. Dasar salep hidrus dan merupakan tipe emulsi A/M tetapi masih mampu menyerap air yang ditambahkan seperti cold cream dan lanolin.Sifat lain dasar salep absorpsi adalah tidak mudah dicuci, karena fase kontinyu adalah minyak. * Dasar salep tercuci Dasar salep tercuci adalah anhidrous, larut dalam air dan mudah dicuci dengan air. Hanya bagian kecil dari cairan dapat didukung oleh dasar salep tanpa perubahan viskositas.

Contohnya : Polietilenglikol. * Dasar salep emulsi Ada dua macam yaitu : 1. Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream. 2. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti hydrophilic oinment dan Vanishing cream -Evaluasi sediaan salep: 1. uji daya lekat 2. uji proteksi (warna) 3. uji menyebar 4. uji pelepasan (kadar obat) 5. uji fisik organoleptis:bau,rasa,warna 3. Krim Krim merupakan cairan kental atau emulsi setengah padat bak bertipe air dalam minyak atau mingyak dalam air.Krim biasanya banyak digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. Tipe krim : 1. Krim tipe M/A (o/w) ; minyak terdispersi dalam air 2. Krim tipe A/M (w/o) ; air terdispersi dalam minyak - Formula dasar krim : 1. Fasa minyak bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat asam Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dsb. 2. Fasa air bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dsb). - Emulgator/ bahan pengemulsi : Disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. a. Untuk tipe A/M Sabun Polivalen, Span, Adepslanae, Cholesterol, Cera. b. Untuk tipe M/A Sabun monovalen (TEA, Na stearat, K stearat, Amonium stearat), Tween, Na lauril sulfat, kuning telur, Gelatin, Caseinum, CMC, Pektin, Emulgid. - Bahan tambahan : a. Bahan pengawet b. Bahan tambahan lain (bila perlu), contoh : pewarna, pewangi. - Stabilitas Krim : krim dapat rusak jika terjadi : a. Perubahan suhu b. Perubahan komposisi; perubahan salah satu fasa secara berlebihan, emulgator tidak tercampur

-Pembuatan krim dapat dilakukan dengan dua metode berbeda. Metode pertama yaitu bahanbahan yang larut dalam minyak (fase minyak) dilebur bersama di atas penangas air pada suhu 700C sampai semua bahan lebur, dan bahan-bahan yang larut dalam air (fase air) dilarutkan terlebih dahulu dengan air panas juga pada suhu 700C sampai semua bahan larut, kemudian baru dicampurkan, digerus kuat sampai terbentuk massa krim. Sedangkan dengan metode kedua, semua bahan, baik fase minyak maupun fase air dicampurkan untuk dilebur di atas penangas air sampai lebur, baru kemudian langsung digerus sampai terbentuk massa krim. Baik metode pertama maupun metode kedua, sama-sama menghasilkan sediaan krim yang stabil, bila proses penggerusan dilakukan dengan cepat dan kuat dalam mortar yang panas sampai terbentuk massa krim. Tetapi dengan metode kedua, kita dapat menggunakan peralatan yang lebih sedikit daripada metode pertama. Cleansing Cream adalah membersihkan make-up (rias wajah) dan lemak dari wajah dan leher.Krim pembersih adalah modifikasi dari cold cream (krim sejuk).Cold cream diformulasi oleh Galen (150 AD), terdiri atas campuran malam lebah, minyak zaitun dan air. Ada 2 jenis cleansing cream : tipe beeswax-borax dan tipe krim cair. Pada umumnya sediaan perawatan dan pembersih kulit terdapat dalam bentuk krim atau emulsi, dan yang akan dibicarakan dalam bab ini meliputi : 1. Krim Penghapus dan Krim Dasar 2. Krim Pembersih dan Krim Pendingin 3. Krim Urut dan Krim Pelembut 4. Krim Tangan dan Badan.

4. Pasta Sediaan semipadat yang mrngandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk sediaan topikal. Pasta dengan salep dimaksudkan untuk pemakaian luar pada kulit .perbedaan dengan salep terutama dalam kandungannya , secara umum presentase bahan padat lebih besar dan sebagai akibatnya pasta lebih kaku dari pada salep. Bahan dasar pasta : vaselin, lanolin, adepslanae, unguentum simplex, minyak lemak dan parafin liquidum. Pembuatan : bahan dasar yang berbentuk setengah padat dicairkan lebih dulu, baru dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen. 5. Gel Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh cairan .gel kadang-kadang disebut jeli. Macam Gel : a. Gel fase tunggal : terdiri dari makro molekul organik yang tersebar merata dalam suatu cairan b. Gel dua fase : terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Jika ukuran partikel dari fase terdispersi besar disebut magma (misal : magma bentonit) - Bahan dasar : Umumnya hidrokoloid organik, kadang-kadang digunakan juga senyawa anorganik yang hidrofilik seperti Tragakan, Na alginat, Pektin, Amylum, Gelatin, turunan Selulosa (Na CMC, Tilosa, HPMC, Carbomer). Gel juga dapat dibentuk oleh selulosa seperti hidroksipropilselulosa dan hidroksipropilmetilselulosa.

- Contoh : R/ Gelatin 20 Aqua 40 Gliserin 25 ZnO 15 - Cara Pembuatan : a. Masukan gelatin dan air dalam botol bermulut lebar, biarkan sampai mengembang. b. Panaskan di atas penangas air sampai gelatin larut. c. Masukan ZnO dan gliserin gerus ad homogen. d. Masukan dalam botol, aduk sampai rata dan dingin. Evaluasi Gel : a.Homogenitas Sampel dioleskan pada lempeng kaca secara merata, kemudian diamati secara visual homogenitas dari gel tersebut. b.Daya Sebar Sampel dengan berat 0,5 gram diletakan ditengah tengah kaca bulat, ditutup dengan kaca lain yang telah ditimbang beratnya dan biarkan selama 1 menit, kemudian diukur diameter sebar sampel. Setelah itu ditambah beban berat 50 gram dan dibiarkan selama 1 menit, kemudian ukur diameter sebarnya.Penambahan beban seberat 50 gram setelah 1 menit dilakukan secara luas terus menerus hingga diperoleh diameter yang cukup untuk melihat pengaruh bebanterhadap perubahan diameter sebar gel. c.Daya Lekat Sampel 0,25 gram diletakan diatas 2 gelas obyek yang telah ditentukan kemudian ditekan dengan beban 1 kg selama 5 menit. Setelah itu gelas obyek dipasang pada alat test. Alat test diberi beban 80 gram dan kemudian dicatat waktu pelepasannya gel dari gelas obyek. Stabilitas fisik sediaan gel ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna, bau, pH dan viskositas selama dua bulan penyimpanan. Pengamatan Stabilitas FisikSediaan Gel 1. Pengamatan Stabilitas Sediaan Gel Analisis organoleptis dilakukandengan mengamati perubahan bentuk,warna, dan bau darisediaan blangko dan sediaan. 2. Pengukuran pH Pengukuran pH dilakukan dengancara mencelupkan pHmeter ke dalamsediaan gel. 3. Pengukuran Viskositas sediaan gel diukurviskositasnya dengan menggunakanviskometer atau viskotester dengan spindle yang cocok.