Anda di halaman 1dari 10

BI326 | BIOLOGI LAUT

Amphiodia urtica (Lyman, 1860) The Red Brittle Star

Dirangkum oleh : BETTA ADY GUNAWAN B1J009023 Deskripsi Umum : Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Echinodermata, dulunya filum ini dijadikan satu dengan Coelenterata dalam klasifikasi hewan, karena bentuknya yang simetri meruji. Kesamaannya hanya pada simetri ini saja yang membedakan dua kelompok hewan ini dari kelompok-kelompok hewan yang lain. Echinodermata bentuk simetri meruji hanya pada hewan dewasa. Sifat umum filum ini selanjutnya ialah epidermis hewan dari filum ini biasanya berbulu getar dan berisi sel-sel kelenjar dan sel-sel indera. Osikula (ossicle), yakni kerangka berupa lempeng-lempeng kapur dalam dinding tubuh dapat berjumlah beberapa, kecil dan terbesar luas dan dapat berukuran besar, jumlahnya besar, kurang lebih tergabung erat menjadi kerangka yang nyata. Osikula-osikula biasanya akan membentuk duri. Ada pediselari (pedicellaria), yakni pinset yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop (Romimohtarto, et al, 1999). Echinodermata adalah hewan-hewan laut yang kulitnya berduri atau berbintil. Hewan-hewan ini bisa dibagi dalam lima golongan utama yakni Teripang (Holothuroidea), Bintang Laut (Asteroidea), Bintang Ular (Ophiuroidea), Bulu Babi (Echinoidea) dan Lily Laut (Crinoidea). Hewan-hewan ini sangat umum dijumpai di daerah pantai terutama di daerah terumbu karang. Di Indonesia dan sekitarnya (kawasan Indo-Pasifik Barat) terdapat Teripang sebanyak kurang lebih 141 jenis, Bintang Laut 87 jenis, Bintang Ular 142 jenis, Bulu Babi 84 jenis, dan Lily laut 91 jenis (Nontji, 1987). Bintang mengular atau Ophiuroidea merupakan kelompok biota laut yang termasuk ke dalam filum Echinodermata. Hewan ini merupakan salah satu biota bentik (hidup di dasar) dan mempunyai kebiasaan bersembunyi (dwelling habit). Bintang ular adalah hewan dari filum Echinodermata, yang memiliki hubungan dekat dengan bintang laut. Mereka berjalan di dasar laut dengan menggunakan lengan fleksibel mereka untuk bergerak. Ophiuroidea disebut juga bintang ular laut (ophio = ular). Struktur tubuh classis Ophiuroidea mirip dengan Asteroidea, yaitu seperti bintang. Akan tetapi, Ophiuroidea memiliki lengan yang lebih pipih dan fleksibel dibandingkan dengan kelas Asteroidea. Lengan Ophiuroidea

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


apabila putus dapat tumbuh kembali karena memiliki daya regenerasi yang tinggi. Ophiuroidea merupakan hewan yang hidup di laut dangkal sampai laut dalam. Mereka aktif pada malam hari dan makanannya berupa udang-udangan, Mollusca, sampah, dan sisa organisme lain. Contoh spesies dari kelas ini adalah Ophiopholis aculeata dan Ophiothrix flagilis, Amphiodia urtica dan bintang ular lainnya. Amphiodia urtica adalah salah satu invertebrata benthik yang paling dominan hidup pada lempengan batuan benua di Teluk Kalifornia Selatan (Jones 1969, Thompson et al 1987). Kepadatannya telah terhitung mencapai 4.000 individu/m2, namun rata-rata mendekati 1.200 individu/m2 ketika kondisi lingkungan yang ada sedang menguntungkan (Thompson et al, 1993). Amphiodia urtica hidup pada permukaan optimal 48 sampai 102 m, terutama ketika bagian dasar tersusun dari lumpur (endapan) yang kasar atau pasir pantai yang bagus (Bergen, 1996). Bintang mengular merah (The Red Brittle Star) adalah sebutan lain dari Amphiodia urtica. Proses Oosit Amphiodia urtica terbesar ditemukan di musim semi,

panas, gugur, dan musim dingin yang menunjukkan bahwa pemijahan dapat terjadi sepanjang tahun di beberapa tingkat rendah. Di Kota Point Loma, California Selatan proses oosit secara proporsional lebih kecil pada musim semi dan pada musim bertelur
lebih besar pada musim gugur dan musim dingin (Southern California Coastal Water Research Project, 1994b ) Taksonomi : Echinodermata adalah hewan-hewan laut yang kulitnya berduri atau berbintil. Hewanhewan ini bisa dibagi dalam lima golongan utama yakni Teripang (Holothuroidea), Bintang Laut (Asteroidea), Bintang Ular (Ophiuroidea), Bulu Babi (Echinoidea) dan Lily Laut (Crinoidea) Nontji, (1987). Bintang ular adalah hewan dari filum Echinodermata, yang memiliki hubungan dekat dengan bintang laut. Mereka berjalan di dasar laut dengan menggunakan lengan fleksibel mereka untuk bergerak. Bintang ular umumnya memiliki lima lengan berbentuk seperti cambuk yang panjangnya bisa mencapai 60 cm (2 kaki) pada spesimen terbesar. Ada sekitar 1.500 spesies bintang ular yang hidup sekarang, dan mereka kebanyakan ditemukan pada kedalaman lebih dari 500 meter (1.620 kaki). Ophiuroidea disebut juga bintang ular laut (ophio = ular). Struktur tubuh kelas Ophiuroidea mirip dengan Asteroidea, yaitu seperti bintang laut. Akan tetapi, Ophiuroidea memiliki lengan yang lebih pipih dan fleksibel dibandingkan dengan classis Asteroidea. Lengan Ophiuroidea apabila putus dapat tumbuh kembali karena memiliki daya regenerasi yang tinggi. Ophiuroidea merupakan hewan yang hidup di laut dangkal sampai laut dalam. Mereka aktif pada malam hari dan makanannya berupa udang-udangan, Mollusca, sampah, dan sisa organisme lain (Barnes, 1987). Menurut Lyman (1860), klasifikasi dari Bintang Mengular Merah (The Red Brittle Star) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Echinodermata Subphylum : Astherozoa Superclass : Cryptosyringida Class : Ophiuroidea Order : Ophiurida Suborder : Ophiurina Family : Amphiuridae Genus : Amphiodia Species : Amphiodia urtica (Lyman, 1860)

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


Deskripsi Morfologi (Struktur dan Fungsi) : Kelas Ophiuroidea (Bintang Mengular) hidup di laut yang berkarang, tubuh berbentuk seperti bola cakram kecil dengan 5 lengan bulat panjang yang dapat digerakkan. Duri-diri jumlahnya sangat banyak dan hanya terdapat dibagian tubuh lateral. Dalam lengan terdapat saluran coelom kecil, batang syaraf, pembuluh darah dan cabang-cabang system vascular. Pada lengan juga terdapat kaki ambulakral yang sering disebut sebagai tentakel yang dilengkapi dengan alat hisap atau ampullae, alat sensoris dan juga membantu pernafasan yang memungkinkan makanan dapt masuk dalam mulut. Semua alat digestoria dan alat reproduksi terdapat di dalam cakram. Mulut terdapat dipusat tubuh, dikelilingi oleh 5 lempeng kapur yang berfungsi sebagai rahang. Tidak memiliki anus, sisa makanan dikeluarkan melewati mulut (Barnes, 1987). Bintang Mengular (Ophiuroidea), khususnya Amphiodia urtica mempunyai bentuk luar mirip bintang laut tetapi lengannya langsing panjang dan dapat digerak-gerakkan, yang digunakannya untuk merayap. Tubuh bagian tengahnya yang bundar pipih mempunyai batas yang tegas dengan lengan-lengannya. Celah amburakralnya tak ada. Apabila merasa terganggu atau terancam hewan ini cenderung melepaskan atau memutuskan lengannya, oleh karena itu orang Inggris menyebutnya Brittle Star (Brittle=rapuh), (Nontji, 1987). Bintang ular (mengular) tampak mempunyai duri dan seperti hewan sessile lainnya dalam jumlah besar di dasar laut berlumpur. Mereka biasanya memiliki cakram atau lempengan untuk 1 inci berukuran (2,5 cm) dan mempunyai lengan berjumlah 5 sampai 8 kali ukuran cakramnya (Monterey, 2002). Menurut Romimohtarto (1999), kelas dari Ophiuroidea untuk spesies Amphiodia urtica umumnya mempunyai bentuk tubuh seperti uang logam (koin), bundar dan pipih dan lengan-lengan menjulur sekeliling tubuh dan mulut dibawah. Lengan ramping dan mudah bergerak-gerak cepat memungkinkan hewan ini berjalan cepat dan bahkan berenang dalam air. Karena kelenturan lengannya yang tinggi dan kemampuannya untuk bergerak, kaki tabungnya umumnya tidak digunakan untuk berjalan dan dikurangi fungsinya menjadi alat perasa dan pernafasan. Sebagian besar kaki tabung tidak mempunyai alat penghisap, meskipun ada juga yang mempunyai alat itu untuk membawa makanan ke mulut. Celah amburakral tidak ada, namun ditutupi oleh lempeng-lempeng yang bergabung bersama dan dikenal sebagai vertebrate. Sistem otot pada lengan hewan ini berkembang dengan baik. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok berdasarkan tipe lengan: Lengan sederhana dan tak bercabang, bintang mengular. Lengan banyak cabang, bintang keranjang. Dengan bantuan lendir, lengan bercabang ini menjadi efektif sebagai penyaring untuk memisahkan plankton dari air. Saat bergerak Amphiodia urtica menggunakan cara tertentu agar bisa bergerak berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Untuk bergerak kadang-kadang satu atau dua lengannya dibelitkan dahulu pada salah satu objek lalu menarik maju tubuhnya sedangkan lengan-lengan lainnya ikut bergerak mendorong (Nontji, 1987). Bintang Mengular Amphiodia urtica biasanya hidup di laut yang berkarang, tubuh berbentuk dengan 5 lengan bulat panjang yang dapat digerakkan. Duri-diri jumlahnya sangat banyak dan hanya terdapat dibagian tubuh lateral. Lengan bagian dalam terdapat saluran coelom kecil, batang syaraf, pembuluh darah dan cabang-cabang system vascular. Lengannya juga terdapat kaki ambulakral yang sering disebut sebagai tentakel yang dilengkapi dengan alat hisap atau ampullae, alat sensoris dan juga membantu pernafasan yang memungkinkan makanan dapat masuk dalam mulut. Semua alat digestoria dan alat reproduksi terdapat di dalam cakram. Mulut terdapat dipusat tubuh, dikelilingi oleh 5 lempeng kapur yang berfungsi sebagai rahang. Tidak memiliki anus, sisa makanan dikeluarkan melewati mulut (Barnes, 1987).

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT

Gambar 1. Deskripsi morfologi Amphiodia urtica

Gambar 2. Anatomi internal Amphiodia urtica Makanan dan Cara Makan : Makanan dari hewan ini adalah Diatom, Diatom merupakan makanan utama dari Amphiodia urtica. Tetapi, ada pula yang memakan berbagai hewan kecil (Nontji, 1987). Amphiodia urtica sebagian besar memakan partikel organik dan hewan kecil seperti krustasea. Amphiodia urtica adalah spesies yang berbeda dari bintang mengular lainnya. Makanan Ophiuroidea, pada spesies Amphiodia urtica adalah crustaceae, mollusca, hewan lain baik yang hidup maupun yang sudah mati. Sebaliknya organisme ini juga banyak dimakan oleh ikan. Lengannya dapat diputuskan sebagai umpan agar tubuh utamanya selamat yang kemudian lengan yang putus akan terbentuk kembali. Contoh species lain kelas ini antara lain adalah Ophiotrix, Ophioderma, Ophiura, Ophioglypha dll. Menurut Romimohtarto, et al., (1999), makanan dari bintang mengular terdiri dari jasad renik dan zat organic yang sedang membusuk yang berada di dasar lumpur. Cara makannya dengan mengangkat lengan keatas ke dalam air untuk menangkap plankton atau dengan mencari

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


bahan makanan di dasar laut. Banyak yang mengeluarkan lendir pada lengan sehingga jasad hidup yang terhanyut terletak dilengan dan dimakan. Mulut mempunyai lima lempeng tetapi tak memiliki mekanisme lentera Aristotle (Aristotles lantern) seperti yang dimiliki bulu babi. Makanan tidak tercerna dimuntahkan kembali keluar mulut. Kegiatan makan dilakukan di malam hari di perairan dangkal. Mereka makan dalam berbagai cara, beberapa pemakan suspensi dan pemakan partikel makanan yang tersuspensi dalam air. Beberapa adalah deposit dari pemakan (feeder) itu sendiri dan memakan partikel organik yang mengendap di dasar laut, dan beberapa predator aktif lainnya. Mereka mendeteksi makanan dengan bau (Monterey, 2002). Menurut Warner (1982) dalam Aziz, A. (1997), pada dasarnya bintang mengular dikelompokkan kepada pemakan biota lainnya (karnivora) dan pemakan pemakan partikelpartikel kecil (mikrofagus). Kelompok pertama (karnivora), biasanya mempunyai tangan tangan berduri pendek, kaki tabung yang bertugas memindahkan mangsa yang tertangkap kea rah mulut. Contoh kelompok pertama ini adalah suku Ophiomyxidae, Ophiodermatidae, dan Ophiuridae. Kelompok kedua (mikrofagus) merupakan kelompok yang paling umum. Cara pengambilan makanannya bisa dengan mengambil langsung partikel-partikel kecil dari subtrat (surface deposit feeder), atau mengambil partikel-partikel dari massa air disekitarnya (filter feeder). Kelompok kedua ini tangan tangan relatif lebih panjang dan dilengkapi pula dengan duri-duri yang lebih panjang. Untuk menangkap partikel-partikel kecil selain kaki tabung, juga dibantu oleh mucus yang terdapat di sepanjang alur makanan di sisi ventral dari tangan-tangannya. Contoh bintang mengular dari kelompok mikrofagus ini adalah suku Ophiocornidae, Ophiactidae, Amphiuridae, dan Ophiothricidae. Siklus Hidup dan Reproduksi : Hendler (1975, 1977) dalam Aziz, A. (1997), menyatakan bahwa dua faktor biotik seperti salinitas dan suhu mempunyai pengaruh langsung terhadap lamanya masa larva dan fase embryonik. Secara umum kondisi dibawah atau diatas pernyataan optimal dari salinitas dan suhu dapat menghambat atau memperpanjang fase embryonic dan masa larva. Hendler (1975), telah mengikhtisarkan berbagai hasil penelitian pakar Phiuroidea yaitu fase blastula untuk berbagai jenis bintang mengular, berkisar antara 6 jam sampai 36 jam, fase grastula berkisar antara 1 hari sampai 2 hari, fase larva berkisar antara 5 hari sampai 42 hari, dan fase metamorphosis berkisar antara 8 hari sampai 40 hari. Secara umum pola perkembangan biakan seksual dari bintang mengular dapat dibedakan atas 3 tipe, yaitu Planktotrofik, Lecithotrofik, dan abbreviated development (Hendler, 1975). Planktotrofik adalah tipe yang dikenal paling umum, ditandai oleh adanya fase larva yang hidup aktif sebagai plankton (ophiopluteus larva). Lecithotrofik adalah tipe pertumbuhan embryonic dimana fase larva yang hidup bebas absen. Semua fase yang dilewati berlangsung di dalam dinding telur dan memakan waktu cukup lama (sampai berbulan-bulan). Fase metamorphose juga terjadi di dalam telur tersebut, sehingga sewaktu menetas telah terwujud individu dewasa (juvenile). Tipe abbreviated development, mirip[ dengan tipe lecithotrofik tetapi fase embrionik dalam telur berlangsung relatif sangat cepat. Tipe ketiga ini diduga kebanyakan dimiliki oleh bintang mengular yang hidup di tempat dalam dan hidup pada perairan dingin (dekat kutub) Selain reproduksi seksual, bintang mengular juga mengenal reproduksi aseksual, yaitu individu yang terpotong dua pada bagian cakramnya akan tumbuh menjadi 2 individu baru. Selanjutnya juga dilaporkan bahwa perkembangbiakkan aseksual ini sering terjadi pada

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


perairan yang persediaan makanannya sangat kurang (Emson & Wilkie, 1984. Dalam Aziz, A. 1997). Reproduksi kelas Ophiuroidea, menurut Romimohtarto, et al., (1999) adalah dengan cara berkembang biak dengan kelamin terpisah, pembuahan diluar dan perkembangan melaui larva. Ada yang membawa telurnya dalam kantung, tetapi sebagian besar melalui perkembangan larva planktonik sebelum masak telur. Reproduksi Amphiodia urtica umumnya sama seperti kelas Ophiuroidea lainnya, menurut Aziz, A. (1997), bintang mengular mempunyai kelamin terpisah. Hewan jantan dan hewan betina masing-masing melepaskan telur dan sperma ke massa air di sekitarnya pada musim memijah. Fertilitasi terjadi di air laut. Telur yang telah dibuahi akan tumbuh jadi zygot, kemudian tumbuh menjadi larva yang disebut Ophiopluteus. Larva ophiopluteus ini hidup bebas sebagai plankton, dan kelak akan mengalami metamorphosis dan akan menjelma menjadi juvenile (biota muda) yang bersifat bentonik. Lamanya masa larva, tergantung pada jenis, letak geografis, dan kondisi lingkungan.

Gambar 3. Siklus hidup Amphiodia urtica

Habitat, Populasi, dan Distribusi : Bintang Ular Merah Amphiodia urtica biasannya sukar ditemukan biasanya dijumpai pada tempat-tempat yang gelap seperti dibawah batu, atau di celah-celah karang (Monterey, 2002). Wilayah Bintang ular Amphiodia urtica dapat ditemukan pada perairan besar, dari kutub sampai tropis. Berdasarkan fakta, lili laut, teripang, dan bintang ular merajai dasar laut pada kedalaman lebih dari 500 meter, di seluruh dunia. Basket star biasanya terdapat di wilayah yang lebih dalam. Bintang mengular merupakan salah satu penghuni ekosistem terumbu karang yang mempunyai kebiasaan hidup bersembunyi (Aziz, A. 1998). Bersama biota laut lainnya seperti suku Alpheidae, kepiting kecil, polikhet, molluska, dan echinedermata lainnya seringkali hidup berasosiasi dengan koloni karang hidup. Ada bintang mengular lainnya yang hidup berasosiasi dengan koloni spons (Mladenov & Emson 1988

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


dalam Aziz, A. 1998), di karang mati, bongkahan karang, dan pecahan karang juga digunakan sebagai tempat berlindung. Bintang mengular Amphiodia urtica dan bintang mengular lainnya dapat menempati ekosistem terumbu karang, atau hidup bebas di dasar perairan lepas pantai. Di daerah ekosistem terumbu karang biota ini menempati berbagai habitat seperti karang hidup, karang mati, pecahan karang, dan daerah lamun. Biota ini mempunyai sifat fototaksis negatife dan cenderung hidup bersembunyi di daerah penyebarannya. Suku yang dominan di daerah terumbu karang adalah Ophiocomidae, Ophiothricidae, Ophiolepididae, Ophiodermitidae, Ophionereidae, Ophiomyxidae. Sedangkan di daerah lereng terumbu karang bagian luar (outer reef slope), ditempati oleh suku Gorgonocephalidae dan Euryalidae (Aziz, A. 1997). Pada perairan lepas pantai kelompok bintang mengular hidup mengelompok pada dasar perairan biota ini dapat menempati dasar berlumpur, berpasir, atau campuran lumpur dan pasir. Suku yang menonjol pada perairan lepas pantai ini adalah Amphiuridae, Ophiuridae dan lain-lain (Aziz, A. 1997). Ada juga yang menyukai habitat dasar keras dengan campuran pasir dan gravel, suku Ophiuroidae khususnya lebih menyukai dasar lunak yang berupa campuran lumpur dan pasir halus (Wilson et al. 1977 dalam Aziz, A. 1997). Amphiodia urtica menyebabkan kelimpahan Bintang ular merah dalam sedimen dekat pemerintahan Kota muara air limbah di California Selatan. Laporan yang sudah ada di ilmuwan dari SCCWRP selama beberapa tahun (SCCWRP, 1994c). Distribusi kebanyakan di dasar laut di seluruh dunia. Namun, di wilayah lain banyak terdapat di Amerika Utara sampai Amerika Tengah, seperti California, Los Angeles, dan Meksiko.

Gambar 4. Habitat Amphiodia urtika

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT

Gambar 5. Distribusi geografis Amphiodia urtica Kekerabatan dan Evolusi : Bintang mengular atau Ophiuroidea merupakan kelompok biota laut yang termasuk ke dalam filum Echinodermata. Hewan ini merupakan salah satu biota bentik (hidup di dasar) dan mempunyai kebiasaan bersembunyi (dwelling habit). Bintang ular adalah hewan dari filum Echinodermata, yang memiliki hubungan dekat dengan bintang laut. Karena masih berjalan di dasar laut dengan menggunakan lengan fleksibel mereka untuk bergerak. Ophiuroidea disebut juga bintang ular laut (ophio = ular) (Barnes, 1987). Dalam reproduksinya kekerabatan dengan Bintang laut bisa di jelaskan, Bintang Mengular (Ophiuroidea) mempunyai jenis kelamin yang terpisah. Hewan ini melepaskan sel kelamin ke air dan hasil pembuahannya akan tumbuh menjadi larva mikroskopis yang lengannya bersilia disebut pluteus. Pluteus kemudian mengalami metamorfosis menjadi bentuk seperti bintang laut dan akhirnya menjadi bintang ular. Oleh karena itu, Amphiodia urtica dan kelas Ophiuroidea lainnya memiliki kekerabatan dengan Bintang Laut (Pratiwi, 2004). Fossil bintang ular seperti Echinodermata lainnya, Ophiuroidea memiliki rangka dari kalsium karbonat. Bentuk tubuh bintang ular mirip dengan Asteroidea. Kelima lengan ophiuroidea menempel pada cakram pusat yang disebut calyx. Ophiuroidea memiliki lima rahang. Di belakang rahang ada kerongkongan pendek dan perut besar, serta buntu yang menempati setengah cakram. Ophiuroidea tidak memiliki usus maupun anus. Pertukaran udara dan ekskresi terjadi pada kantong yang disebut bursae. Umumnya ada 10 bursae. Kelamin terpisah pada kebanyakan spesies. Ophiuroidea memiliki gonad. Gamet disebar oleh bursal sacs. Sistem saraf terdiri atas cincin saraf utama yang bekerja di sekitar cakram utama. Ophiuroidea tidak memiliki mata, atau sejenisnya. Tetapi, mereka memiliki kemampuan untuk merasakan cahaya melalui reseptor pada epidermis (Barnes, 1987).

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


Referensi : Aziz, A. 1997. Beberapa Catatan Tentang bintang Mengular (Ophiuroidea) Sebagai Biota Bentik. Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta. Oseana, Volume XVI, Nomor 1 : 13 - 22 Aziz, A. dan Soesetiono. 1998. Asosisi Antara Bintang Mengular (Ophiuroidea) Dengan Algae. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Oseanologi. LIPI Jakarta Barnes, R.D. 1987. Invertebrate Zoology, 5th ed. Saunders College publishing, Philadephia: 773 834 Bergen, Mary. 1996. Distribution of the brittlestar Amphiodia (Amphispina) spp. in the outhern California Bight in 1956 to 1959. Bull. So. Calif. Acad. Sci. 94(3): 190-203. Emson & Wilkie, 1984. dalam Aziz, A. 1997. Beberapa Catatan Tentang bintang Mengular (Ophiuroidea) Sebagai Biota Bentik. Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta. Hendler (1975,1977) dalam Aziz, A. 1997. Beberapa Catatan Tentang bintang Mengular (Ophiuroidea) Sebagai Biota Bentik. Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta. Jones, G. 1969. dalam Schiff, K. C. & Bergen, M. 1996. Impact of Wastewater on Reproduction of Amphiodia urtica Bull. So. Calif. Acad. Sci Lyman, T. 1860. Descriptions of New Ophiuridae, Belonging to The Smithsonian Institution And To The Museum of Comparative Zoology at Cambridge. Proceeding of The Boston Society of Natural History 1859-1861, 7, 252-262 Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta Monterey. 2002. Monterey Bay Aquarium is to inspire conservation of the oceans/ DeepSea-Fish-Deep-Sea-Brittle-Star.html Mladenov & Emson 1988 dalam Aziz, A. (1998). Asosisi Antara Bintang Mengular (Ophiuroidea) Dengan Algae. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Oseanologi. LIPI Jakarta Pratiwi. D.A,. 2004. Biologi SMA. Gramedia. Jakarta Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 1999 Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Oseanologi-LIPI, Jakarta : 527 hal. Southern California Coastal Water Research Project. 1994b. Population biology of the brittlestar Amphiodia urtica. pp. 121-129, in: J.N. Cross (ed.) Southern California Coastal Water Research Project, annual report 1992-93. So. Calif. Coastal Water Res. Proj., Westminster, CA. Southern California Coastal Water Research Project. 1994c. Response of thebrittlestar Amphiodia urtica to an outfall gradient. Pp. 130-135, in: J.N. Cross (ed.) Southern California Coastal Water Research Project, annual report 1992-93. So. Calif. Coastal Water Res. Proj., Westminster, CA. Thompson, B., J. Laughlin, and D. Tsukada. 1987. 1985 . dalam Schiff, K. C. & Bergen, M. 1996. Impact of Wastewater on Reproduction of Amphiodia urtica Bull. So. Calif. Acad. Sci Thompson, B., D. Tsukada, and D. ODonohue. 1993. 1990 reference site survey. So. Calif. Coastal Water Res. Proj., Westminster, CA. Tech. Rep. 269. 105 pp. Warner (1982) dalam Aziz, A. 1997. Beberapa Catatan Tentang bintang Mengular (Ophiuroidea) Sebagai Biota Bentik. Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta.

TUGAS TERSTRUKTUR

BI326 | BIOLOGI LAUT


Wilson et al. 1977 dalam Aziz, A. 1997. Beberapa Catatan Tentang bintang Mengular (Ophiuroidea) Sebagai Biota Bentik. Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta.

TUGAS TERSTRUKTUR

10