Anda di halaman 1dari 5

FILSAFAT KEDOKTERAN

Kelompok : 2 Anggota : 1. Agus Jamjam Maulana 2. Fadhlul Hazmi 3. Jovan Octara 4. Novita Putri Wardani

PROGAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2011/2012

Sikap Dokter Islami


Dalam etika kedokteran islam tercantum nilai-nilai bahwa Quran dan Hadits adalah sumber segala macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Etika kedokteran islam terkumpul dalam Kode Etik Kedokteran Islam yang bernama Thibbun Nabawi, yang mengatur hubungan dokter dengan orang sakit dan dokter dengan rekannya. Berikut ini dibahas mengenai etika seorang Dokter muslim terhadap Khalik, terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya: 1. Etika Dokter Muslim terhadap Khalik: Mengenai etika terhadap Khalik disebutkan bahwa: Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai khalifah fungsionaris Allah dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Melaksanakan profesinya karena Allah dan buah Allah. Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan adalah Allah. Melaksanakan profesinya dengan iman supaya jangan merugi. 2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien: Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit antara lain disebutkan bahwa seorang Dokter Muslim wajib: Memperlihatkan jenis penyakit Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan, obat yang dapat melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati penyakit. Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang sempurna, mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa dan pengobatannya, berlaku lemah lembut, menggunakan cara keagamaan dan sugesti, tahu tugasnya.

3. Etika Dokter Muslim terhadap Sejawatnya: Mengenai etika yang bagi Dokter Muslim kepada Sejawatnya yaitu : Dokter yang baru menetap di suatu tempat, wajib mengunjungi teman sejawatnya yang telah berada di situ. Jika di kota yang terdapat banyak praktik dokter, cukup dengan memberitahukan tentang pembukaan praktiknya kepada teman sejawat yang berdekatan. Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan aktif. Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan. Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik bila ada kesempatan. Sehingga dapat dengan

mudah mengikuti perkembangan ilmu teknologi kedokteran.

Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh seorang Dokter Muslim ialah : Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap sesama manusia, perasaan sosial yang ditunjukkan kepada masyarakat. Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh pasien, dan memupuk keyakinan profesional. Seorang dokter harus dapat dengan tenang melakukan pekerjaannya dan harus mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Bersikap mandiri dan orisinal karena pengetahuan yang diwarisi secara turun temurun dari buku-buku masih jauh memadai. Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga dapat melakukan pekerjaanya di dalam keadaan yang serba sulit. Dan tentunya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama. Seorang dokter muslim dilarang membeda-bedakan antara pasien kaya dan pasien miskin. Seorang dokter harus hidup seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak membuang waktu serta energi dengan menikmati kesenangan dan kenikmatan. Sebagian besar waktunya harus dicurahkan kepada pasien, Seorang dokter muslim harus lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara, Seorang dokter muslim tidak boleh berkecil hati dan harus merasa bangga akan profesinya karena semua agama menghormati profesi dokter.

Kasus yang menyangkut etika dokter muslim dalam praktek. Banyak kasus-kasus yang dipertentangkan. Seperti misalnya: Bolehkah seorang dokter meminta bayaran? Jika ya, seberapa besar? Hal tersebut merupakan masalah yang terus diperdebatkan dalam islam. Masalah ini tampaknya merupakan bagian dari masalah yang lebih besar: Bolehkah seorang guru, terutama guru agama, menerima bayaran. Bahkan dewasa ini sebagian kalangan tetap mengharamkan meminta bayaran dalam pengajaran Al Quran dan penyebarluasan ilmu keagamaan. Menurut sebuah hadits Nabi, diperbolehkan membayar seorang dokter untuk pelayanan medisnya. Al-Dzahabi mengisahkan suatu hari sekelompok sahabat Muslim tiba di sebuah suku tertentu, yang memperlakukan mereka dengan ramah. Tiba-tiba salah satu anggota suku tersebut digigit ular dan para pengembara itu dimintai

tolong untuk menyembuhkan. Kemudian orang yang tergigit tersebut sembuh dan suku membayar sejumlah seratus ekor kambing. Sebuah transaksi yang dibolehkan oleh Rasulullah. Dari sinilah legalitas untuk meminta bayaran atas perawatan itu bermula. Namun banyak kalangan yang tidak setuju untuk mencari nafkah dari orang sakit. Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan transplantasi organ? Seringkali terdapat kasus mengensi organ tubuh seorang pasien yang tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Tidak ada cara untuk mengobatinya kecuali dengan transplantasi organ (seperti mata, jantung dan lain sebagainya) dari orang yang telah meninggal. Hingga kini pendapat agama menentang keras praktik ini. Terdapat suatu hukum klasik yang menyebutkan bahwa Kebutuhan manusia hidup menjadi prioritas dibandingkan manusia mati. Tetapi ketika seorang ulama terkemuka ditanya mengenai persoalan tersebut, Beliau menjawab negatif. Namun sikap masyarakat secara umum positif terhadap masalah transplantasi organ tubuh, meskipun ada ketidaksetujuan dari kaum ulama. Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan pengembangan bayi tabung? Pengembangan bayi tabung tidak dilarang dalam islam asalkan penyatuan terjadi antara gen suami dan istri. Kekhawatiran bahwa proses ini mencampuri kehendak Allah sama sekali tidak berdasar. Prosesnya sama dengan pembenihan bibit tanaman dalam suatu kondisi yang terkendali, kemudian dipindahkan ketempat yang tepat ketika bibit tersebut telah cukup kuat untuk tumbuh di tempat itu. Yang dikhawatirkan bukanlah bahwa orang mencoba menyaingi Allah dengan melakukan hal tersebut, melainkan jika orang mencoba bersaing dengan setan dan menyimpangkan sifat manusia. Islam tidak mengizinkan penyatuan gen antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri karena itu merupakan perzinaan. Bolehkah seorang Dokter Muslim mekakukan tindakan euthanasia? Euthanasia merupakan suatu masalah yang banyak menarik perhatian dan banyak dibicarakan orang. Euthanasia (dari bahasa Yunani, eu = baik, thanatos = mati) secara etimologi berarti mati yang baik atau mati yang tenang. Kemudian pengertian euthanasia berkembang, karena adanya perbedaan titik pandang dalam menjelaskan mati yang baik. Akibatnya timbul berbagai definisi mengenai euthanasia. Euthanasia banyak dilakukan sejak jaman dahulu kala dan banyak

memperoleh dukungan tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Tetapi dalam agama terdapat beberapa pendapat yang tidak membenarkan hal tersebut. Berdasar bahwa Allah-lah yang menentukan kapan seseorang harus mati.