TUGAS MANDIRI
GKMI_PROFESIONAL
DISUSUN OLEH :
NAMA : LIDYA
TEMPAT/TANGGAL LAHIR : BELAWAN/08011990
TEMPAT TUGAS : MI NEGERI 1 ROKAN HILIR
PENDIDIKAN PROFESI GURU
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SALATIGA
2025
TUGAS MANDIRI GKMI_PROFESIONAL (LIDYA)
TUGAS MANDIRI
A. PETA KONSEP
BAHASA INDONESIA PPKn
Keterampilan wajib Membentuk
memperoleh Karakter Nilai
TOPIK 1 TOPIK 2
pengetahuan Luhur dan Moral
TOPIK 3 TOPIK 4
IPA MODUL 1 IPS
Mengenal dan Memahami
Memahami Konsep Kehidupan Sosial dan
Dinamika Masyarakat
Dasar Sains
TOPIK 5 TOPIK 6 TOPIK 7 TOPIK 8
Pendidikan Nilai dan
MATEMATIKA Pembelajaran Tematik Pendidikan Karakter Moderasi Beragama
Materi esensial Pengelompokan Penanaman Sikap
Penanaman
Keterampilan Mata Pelajaran Toleransi dan
Memperoleh Nilai Moral Pemahaman
memecahkan
masalah Pembelajaran dan Etika Beragama yang
Bermakna Tidak Ekstrem
TUGAS MANDIRI GKMI_PROFESIONAL (LIDYA)
B. PEMBAHASAN
Dalam Modul 1 GKMI_Profesional, ada beberapa poin penting yang secara teoritis wajib
diketahui dan dipahami oleh seorang guru. Poin tersebut antara lain :
1. Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan Bahasa persatuan Negara Indonesia yang diikrarkan dalam
Sumpah Pemuda dan UUD 1945. Sehingga dijadikan Mata Pelajaran wajib dalam Pendidikan
Indonesia. Dalam hal ini guru wajib mengetahui komponen kemampuan berbahasa dan
kemampuan bersastra yang diajarkan dengan pemilihan model dan metode pembelajaran.
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-
hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Dalam hal ini guru menekankan pada pemahaman
hak dan kewajiban warga negara, nilai demokrasi, serta kesadaran hukum. Guru diharapkan
mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air, toleransi, dan tanggung jawab sosial melalui
pembelajaran PPKn.
3. Ilmu Pengetahuan Alam
Pembelajaran IPA berperan penting dalam membantu manusia memahami lingkungan,
memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, dan mengembangkan teknologi yang
mempermudah kehidupan. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengelompokkan pengetahuan
yang disusun secara sistematis yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Oleh sebab itu IPA
termasuk mata pelajaran wajib yang dirancang untuk membentuk pola pikir ilmiah siswa melalui
proses observasi, eksperimen, analisis, dan penyimpulan. Sehingga meningkatkan rasa ingin
tahu, keterampilan berpikir kritis, dan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga
keseimbangan alam pada umumnya.
4. Ilmu Pengetahuan Sosial
IPS mengajarkan keterkaitan manusia dengan masyarakat dan lingkungan, sedangkan
matematika menumbuhkan keterampilan berpikir logis, sistematis, dan problem solving.
Keduanya penting untuk membekali siswa menghadapi kehidupan nyata.
5. Integrasi pembelajaran tematik, pendidikan karakter, dan moderasi beragama
Topik 6–8 menekankan pentingnya pembelajaran tematik untuk menghadirkan pengalaman
belajar yang bermakna, penguatan pendidikan karakter agar siswa memiliki akhlak mulia, serta
moderasi beragama untuk menanamkan sikap toleran, inklusif, dan damai di tengah
keberagaman Secara keseluruhan, delapan topik tersebut saling melengkapi: dari penguasaan
keterampilan dasar berbahasa, logika, dan sains, hingga pembentukan karakter kebangsaan dan
moderasi beragama. Gagasan besarnya adalah mencetak guru profesional yang tidak hanya
menguasai materi ajar, tetapi juga mampu membentuk siswa berkepribadian utuh: cerdas,
berkarakter, dan berakhlak mulia.
C. Materi yang Menimbulkan Miskonsepsi dari Topik 1 s.d. Topik 8.
Berdasarkan modul GKMI_PROFESIONAL (Topik 1–8) dan kajian dari jurnal pendukung, ada
beberapa materi/konsep yang berpotensi menimbulkan miskonsepsi :
1. Topik 1 – Bahasa Indonesia Miskonsepsi sering muncul pada perbedaan antara bahasa
sebagai alat komunikasi dengan bahasa sebagai ilmu. Siswa cenderung menganggap
belajar Bahasa Indonesia hanya soal membaca cerita, bukan keterampilan berpikir kritis,
menyimak, berbicara, menulis, dan membaca itu sendiri. Hal ini membuat pembelajaran
terjebak dalam teori, bukan praktik
2. Topik 2 – PPKn Sering terjadi salah pengertian bahwa PPKn adalah hafalan pasal UUD
dan Pancasila. Padahal, inti PPKn adalah pembentukan sikap dan perilaku warga negara
TUGAS MANDIRI GKMI_PROFESIONAL (LIDYA)
yang demokratis dan berkarakter. Jika guru hanya menekankan aspek kognitif, siswa
gagal memahami nilai-nilai kewarganegaraan secara kontekstual.
3. Topik 3 – IPA Dalam IPA, miskonsepsi paling banyak terjadi, misalnya mengenai konsep
gaya, energi, atau proses ilmiah. Siswa sering memahami fenomena alam dengan logika
sehari-hari (misalnya: “matahari bergerak mengelilingi bumi” atau “benda lebih berat
jatuh lebih cepat”). Guru perlu menekankan pendekatan inkuiri agar siswa tidak terjebak
pada pemahaman keliru
4. Topik 4 – IPS Siswa kerap salah paham antara “ilmu sosial” dengan “cerita sejarah” atau
hafalan tokoh dan peristiwa. Padahal IPS bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir
kritis terhadap fenomena sosial dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Jika
diajarkan secara naratif/hafalan, siswa tidak memperoleh pemahaman analitis.
5. Topik 5 – Matematika Miskonsepsi umum terjadi pada pemahaman konsep dasar
(misalnya nilai tempat, pecahan, operasi bilangan). Banyak siswa menghafal rumus tanpa
memahami maknanya. Akibatnya, kesulitan muncul saat soal berbentuk kontekstual atau
soal cerita. Guru perlu menekankan pemahaman konsep sebelum prosedur
6. Topik 6 – Pembelajaran Tematik Menurut penelitian, tantangan utama adalah integrasi
antarmata pelajaran. Guru sering keliru menganggap “tematik” hanya menyatukan mata
pelajaran dalam satu tema tanpa membangun keterkaitan makna antarkonsep. Hal ini bisa
membuat pembelajaran dangkal dan tidak bermakna
7. Topik 7 – Pendidikan Karakter Ada kecenderungan bahwa pendidikan karakter hanya
sebatas ceramah moral atau penegakan disiplin. Padahal, pendidikan karakter harus
ditanamkan lewat pembiasaan, keteladanan, dan refleksi. Miskonsepsi ini membuat
pendidikan karakter kurang efektif
8. Topik 8 – Moderasi Beragama Salah pengertian bisa muncul jika moderasi dipahami
sebagai “penyeragaman” atau “mengurangi keyakinan agama”. Padahal, moderasi
beragama menekankan sikap toleran, adil, dan seimbang dalam kehidupan sosial, tanpa
mengurangi keyakinan masing-masing. Kesalahan pemahaman ini bisa menimbulkan
resistensi di kalangan siswa atau guru
Berdasarkan beberapa poin miskonsepsi di atas, dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi terjadi
antara teori dan aplikatif materi yang seharusnya bermakna.
TUGAS MANDIRI GKMI_PROFESIONAL (LIDYA)