Anda di halaman 1dari 71

ANALISIS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA CV. SUMBER PLASTIK.

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Disusun Oleh : Tony Subhiat. 204.415.014 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Kemajuan ilmu dan teknologi telah mendorong pertumbuhan ekonomi dan

kemajuan dunia diseluruh negara. Kemajuan tersebut membawa sebuah wacana baru akan begitu pentingnya teknologi dalam kehidupan manusia. Penggunaan mesin, peralatan kerja, tempat kerja serta entitas lain dalam suatu proses produksi, turut mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan industri. Besarnya industri yang berkembang saat ini, secara langsung berdampak pada peluang kerja pada sektor-sektor industri tersebut. Di satu sisi sumber daya seperti tanah, gedung, mesin, peralatan, bahan mentah dan sumber daya manusia merupakan suatu asset yang mendukung penuh produktivitas kerja karyawan, namun disisi lain hal ini turut pula memperbesar tingkat resiko untuk terjadinya kecelakaan kerja (Work Accident) yang dimungkin terjadi pada tenaga kerja. Dalam suatu proses produksi tentunya akan melibatkan interaksi antara pekerja, bahan baku dan peralatan. Interaksi tersebut tentunya akan menimbulkan suatu bahaya dan resiko bagi pekerja, perusahaan maupun masyarakat sekitarnya. Untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, maka perlu diketahuinya tingkat risiko melalui kegiatan risk assesment penetapan konteks, identifikasi resiko, evaluasi serta tindakan pengendalian untuk mengurangi dan memperkecil resiko kecelakaan kerja.

CV. Sumber Plastik merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan biji plastik dan penggilingan plastik, yang berproduksi berdasarkan pesanan MTO (Make To Order). Pesanan yang diterima berasal dari pengolah biji plastik. Dalam memenuhi pesanan yang diterima, karyawan sering mengalami kecelakaan kerja. Jenis kecelakaan yang banyak terjadi adalah kecelakaan ringan seperti jari terpotong, kaki terluka karena besi terjatuh, tertimpa timbunan bahan plastik, dll. Hal ini disebabkan para pekerja tidak menggunakan sarana dan prasarana yang disediakan oleh pihak perusahaan seperti alat pelindung diri yang berguna untuk mendukung keselamatan kerja. Karyawan harus selalu diingatkan akan pentingnya keselamatan dan kesehatan dalam bekerja, untuk itu perlu adanya prosedur resmi tertulis dan peningkatan kesadaran kepada karyawan akan pentingnya alat keamanan pada saat bekerja sehingga meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja yang secara langsung akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Kecelakaan kerja walaupun kecil akan tetap mengganggu kelancaran proses produksi dan menimbulkan kerugian. Kerugian yang ditimbulkan dapat bersifat langsung dapat terlihat dari adanya cidera ataupun kematian dan rusaknya sarana produksi, sedangkan kerugian yang berupa penurunan produktivitas atau turunnya citra perusahaan merupakan kerugian yang bersifat tidak langsung (Sumamur, 2003). Seiring dengan perkembangan industri, dan teknologi yang sangat pesat, diperlukan peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, mengingat resiko yang disebabkan cukup besar, tidak hanya

merugikan pekerja tetapi juga bagi perusahaan. Maka penulis melakukan penelitian dengan judul : Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Pada CV. Sumber Plastik.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka perumusan masalah pada

penelitian ini adalah ada tidaknya pengaruh penerapan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja pada karyawan di CV. Sumber Plastik.

C.

Tujuan Penelitian Tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi dapat menciptakan

kondisi yang mendukung kenyamanan serta semangat kerja, dimana para pekerja dapat lebih berkonsentrasi dan bersemengat dalam melakukan pekerjaannya sehingga produktivitas para pekerja akan meningkat dengan tingkat efisien yang tinggi pula. Penelitian ini bertujuan : 1. Mengetahui pengaruh penerapan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan. 2. Mengetahui apakah ada hubungan antara frekuensi/kekerapan kecelakaan kerja, severity/keparahan kecelakaan kerja, nilai t selamat dengan poduktivitas kerja keryawan. 3. Mengetahui besarnya produktivitas kerja karyawan

D.

Pembatasan Masalah Supaya pembahasan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat terarah dan

tidak menyimpang dari pokok permasalahan, maka perlu dilakukan pembatasan sebagai berikut : 1. Penelitian hanya dilakukan di CV. Sumber Plastik. 2. Penelitian ini meliputi faktor-faktor antara lain : a. Jumlah kecelakaan kerja b. Jumlah hilangnya jam kerja akibat kecelakaan kerja c. Tanpa menghitung kapasitas produksi pertahun 3. Data kecelakaan yang diambil adalah kecelakaan kerja 5 tahun mulai tahun 2004-2008. 4. Pengukuran produktivitas dilakukan berdasarkan jumlah hilangnya jam kerja dengan jumlah jam kerja karyawan.

Asumsi-asumsi : 1. Jumlah hilangnya waktu kerja adalah hilangnya waktu kerja akibat kecelakaan kerja. 2. Jumlah jam kerja karyawan dianggap tidak ada waktu menganggur karena sepi order atau karena terlambat material atau jumlah order sama setiap tahun. 3. Kompetensi karyawan disama ratakan.

E.

Metodologi Penelitian Pada penulisan skripsi ini ada beberapa hal ( Metode ) yang dilakukan

penulis, yaitu sebagai berikut : 1. Survei Lapangan ( Observasi Lapangan ) Metode ini dilakukan untuk memperoleh data-data serta informasi secara langsung dan akurat mengenai objek secara langsung dilapangan. 2. Penelitian Pustaka ( Study Linier ) Yang dimaksud dengan penelitian pustaka adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengumpulan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam sumber, seperti buku-buku referensi.

F.

Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, batasan penelitian dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini berisi tentang teori hasil literatur maupun sumber-sumber tertulis yang merupakan hasil studi pustaka sebagai landasan yang akan digunakan. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini meliputi teknik pengumpulan data, pengolahan data, analisa dan diagaram penyelesaian masalah.

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pada bab ini dapat diketahui dan analisa mengenai data yang telah diolah dan kemudian dilakukan penguraian yang digunakan sebagai langkah untuk pemecahan masalah.

BAB V

ANALISIS Pada bab ini berisi analisis yang diperoleh dari pengolahan data serta perhitungan yang dilakukan kemudian dibuat perencanaan sesuai dengan hasil dari pengolahan data.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini berisikan kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisa data untuk memberikan masukan-masukan atau saran yang dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi pihak perusahaan.

BAB II LANDASAN TEORI

A.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam

setiap proses operasional, baik di sektor tradisional maupun di sektor modern. Khususnya dalam masyarakat yang sedang beralih dari suatu kebiasaan kepada kebiasaan lain. Perubahan-perubahan pada umumnya menimbulkan beberapa permasalahan yang jika tidak ditanggulangi secara cermat dapat membawa berbagai akibat buruk bahkan fatal (Silalahi dan Bennet, 1998). Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan gabungan spesialisasi keilmuan dan pelaksanaannya dilandasi oleh berbagai disiplin ilmu teknik dan medik. Disiplin ilmu yang erat kaitannya dengan keselamatan kerja, antara lain, hukum, ekonomi, dan sosial (Depnaker,2003). Keselamatan dan kesehatan kerja adalah segala daya uapaya pemikiran yang ditujukan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmniah dan rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumya, hasil karya dan budayanya untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja menuju masyarakat adil dan makmur(Depnaker, 2001). Keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan sebagai ilmu

pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit kerja ditempat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja

adalah satu hal yang penting untuk perlindungan pekerja yang meliputi aspekaspek yang cukup luas, yaitu perlindungan menyeluruh sehingga tenaga kerja secara aman dan selamat dalam melakukan pekerjaannya sehari-sehari untuk meningkatkan produksi dan produktivitas nasional. Kesehatan kerja yaitu upaya kesehatan yang diselenggarakan agar pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri, sehingga diperoleh produktivitas yang optimal.

2. TindakanTindakan yang Tidak Memenuhi Keselamatan (Unsafe Act) Beberapa unsafe act yang umum ditemukan ditempat kerja adalah : a. Penggunaan peralatan yang rusak atau tidak cocok b. Tidak menggunakan alat pelindung diri yang telah ditentukan c. Tidak mengikuti prosedur keselamatan atau melanggar peraturan keselamatan d. House keeping yang tidak baik ditempat kerja Banyak unsafe act terjadi karena pekerja tidak terlatih atau tidak dimotivasi oleh supervisor pekerja. Beberapa pekerja tidak memahami tindakan yang paling penting, dimana dalam beberapa situasi akan meningkatkan kesempatan untuk terjadi kecelakaan (Kusuma, 2002).

3. Keadaan yang Tidak Aman (Unsafe Condition) Keadaan yang tidak aman adalah kondisi dalam lingkungan kerja dimana pekerja mempunyai potensi kecelakaan. Hal ini dapat berupa : a. Kondisi kerja yang tidak baik b. Peralatan yang tidak aman, mesin dan alat pelindung c. Desain yang tidak baik pada peralatan, mesin, dan alat pelindung d. Penerangan, ventilasi, suara yang tidak baik Resiko yang ada ditempat kerja tersebut harus dapat dikendalikan. Pengendalian dapat diterapkan dengan memahami hirarki pengendalian yang berurutan dari yang tertinggi kemudian kelangkah berikutnya : 1. Eliminasi, yaitu menghilangkan sama sekali bahaya yang ada 2. Substitusi, bila eliminasi tidak dapat dilakukan maka upaya yang harus dilakukan adalah substitusi yaitu mengganti dengan sesuatu yang kurang berbahaya atau tidak berbahaya sama sekali 3. Pengendalian rekayasa, merupakan pilihan yang dilakukan setelah substitusi dimana dengan memanfaatkan pengetahuan dibidang rekayasa untuk menghilangkan atau mengurangi resiko seperti modifikasi alat, ventilasi, pengaman, dan lain-lain 4. Pengendalian administratif, resiko dapat dikurangi dengan

menerapkan prosedur dan instruksi kerja. 5. Membuat persyaratan terhadap pembelian alat. 6. Mengurangi waktu pemaparan. 7. Pengaturan shift kerja.

8. Alat pelindung diri, merupakan tahap terakhir dari pengendalian, bila upaya lainnya tidak memenuhi tujuan menghilangkan ataupun mengurangi resiko secara maksimal (Kusuma, 2002).

4. Pengendalian Operasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pengendlian operasional keselamatan dan kesehatan kerja dalam lingkungan perusahaan dengan memberikan ketentuan seperti dibawah ini: a. Seluruh karyawan CV. Sumber Plastik, Subkontraktor,

Mahasiswa/siswa yang melakukan praktek kerja lapangan di linngkungan CV.Sumber Plastik diberikan pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. b. Melakukan analisa kecelakaan kerja yang terjadi dan memastikan tindakan perbaikan dilaksanakan. c. Melakukan pemeriksaan untuk peralatan kerja dan memastikan tindakan perbaikan dilaksanakan. d. Mengidentifikasi potensi bahaya yang ada dilingkungan kerja CV. Sumber Plastik dan melakukan penilaian resiko untuk setiap pekerjaan yang berdampak bahaya. e. Memastikan Alat Pelindung diri (APD) sesuai standar dan digunakan dengan benar. f. Melakukan antisipasi yang dapat menimbulkan bahaya bagi pekerja pada saat bekerja.

10

Hal lain yang dilakukan perusahaan adalah melakukan penilaian resiko terhadap sumber resiko yang mungkin menimbulkan kecelakaan. Hal itu dilakukan dengan membentuk tim penilaian resiko, terdiri dari anggota yang berpengalaman sesuai dengan bidangnya.

5. Alat Pelindung Diri Kemajuan teknologi yang besar ternyata membawa dampak negatif terhadap pekerja yang berupa kecelakaan penyakit akibat kerja. Usaha teknis teknologi dalam pencegahan kecelakan dan penyakit akibat kerja adalah paling utama, tetapi usaha-usaha substitusi, eliminasi, pengendalian administratif dan lain sebagainya belum dapat dilakukan secara baik, karena adanya keterbatasan-keterbatasan dari pihak perusahaan dalam mengantisipasi potensi bahaya, sehingga upaya terakhir yang dianjurkan adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) sebagai usaha termudah dibandingkan dengan pengendalian (Yanri, 2001).

6. Macam-Macam Alat Pelindung Diri Dalam beberapa APD perlu dipilih secara hati-hati agar memenuhi beberapa ketentuan yaitu : a. Alat pelindung diri harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.

11

b. Berat alat hendaknya seringan mungkin, dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan. c. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel. d. Bentuknya harus cukup menarik. e. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama. f. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi

pemakainya, yang dikarena bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam penggunaannya. g. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada. h. Alat tersebut, tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakaiannya. i. Suku cadangnya harus mudah didapat. Menurut teori Yanri, 2001 ada cukup banyak jenis alat pelindung diri tetapi yang paling sering digunakan di perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Alat Pelindung Kepala a. Topi pelindung (Helm) Dipakai untuk melaksakan tugas dalam pabrik dan lingkungan pabrik berguna untuk melindungi kepala dari benda-benda keras yang terjatuh, pukulan atau benturan benda-benda. Topi pengaman dapat terbuat dari berbagai bahan misalnya : plastik fiberglass, bakelite. Topi yang dibuat dari bakelite enak dipakai, ringan dan mempunyai daya tahan terhadap benturan

12

atau pukulan benda-benda keras yang sangat tinggi serta tidak mengalirkan listrik. Topi yang terbuat dari campuran fiberglass dan plastik sangat tahan terhadap asam dan basa. b. Tutup kepala Berguna untuk melindungi kepala dari kebakaran korosit, panas/dingin. Tutup kepala ini dapat terbuat dari asbestos, kulit dan kain tahan air, dan kain khusus tahan api. c. Hats/Cap Berguna untuk melindungi kepala atau rambut dari kotoran debu mesin berputar yang biasanya terbuat dari kain katun. 2. Alat Pelindung Mata Salah satu masalah tersulit dalam pencegahan kecelakaan adalah kecelakaan yang menimpa mata. Orang yang tidak terbiasa dengan kaca mata biasanya tidak memakai perlindungan tersebut dengan alasan menggangu pelaksanaan pekerja dan mengurangi kenikmatan kerja. Kaca mata pengaman diperlukan untuk melindungi mata dari kemungkinan kontak dengan bahaya, karena terpercik atau kemasukan debu, gas, uap, dan lain-lain. Alat pelindung mata terdapat dua bentuk yaitu : a. Spectacles Berguna untuk melindungi mata dari pertikel-pertikel kecil, debu, dan radiasi gelombang elektromagnetik.

13

b. Goggles Digunakan untuk melindungi mata dari gas, uap, debu, dan percikan larutan kimia. Goggles umumnya kurang diminati karena selain tidak aman alat ini juga menutupi mata terlalu rapat, sehingga tidak ada ventilasi didalam, sehingga lensa mata mudah mengembun. Lensa kaca mata maupun goggles dapat terbuat dari berbagai jenis bahan yaitu plastik yang transparan atau kaca. 3. Alat Pelindung Telinga Alat pelindung telinga berguna untuk mengurangi intensitas suara yang masuk kedalam telinga. Alat pelindung telinga harus digunakan para karyawan yang bekerja disekitar mesin atau alat yang tingkat kebisingannya melebihi 85 dB. Alat ini dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu : a. Ear plug (Sumbat Telinga) Digunakan ditempat kerja dengan intensitas kebisingan antara 85 dB 95 dB, dengan daya lindungnya antara 25 dB 30 dB. Menurut cara pakainya dibedakan atas : Semi insert type, yaitu jenis sumbat telinga yang hanya menyumbat lubang masuk telinga luar. Insert type, jenis sumbat telinga yang menutupi seluruh telinga luar.

14

b. Ear muff (Tutup Telinga) Tutup telinga (Ear Muff) terdiri dari dua buah lubang untuk menutup telinga, dapat berupa busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi tinggi. Daya lindungnya antara 30 40 dB. Keuntungan dari (Ear Muff) adalah : a. Satu ukuran tutup telinga dapat digunakan oleh beberapa orang dengan ukuran telinga yang berbeda-berbeda b. Mudah memonitor pemakaiannya yang dilakukan oleh pengawas c. Dapat dipakai oleh telinga yang terkena infeksi (ringan) d. Tidak mudah hilang Kerugiannya adalah : a. Tidak nyaman dipakai ditempat yang panas b. Efektivitas dan kenyamanan pemakaiannya dipengaruhi oleh pemakaian kaca mata, tutup kepala, anting, dan rambut yang menutupi telinga c. Relatif tidak mudah dibawa atau disimpan Dapat

membatasi gerakan kepala pada ruang kerja yang agak sempit d. Harganya relatif lebih mahal dari sumbat telinga

15

4. Alat Pelindung Pernapasan Jenis alat pelindung pernapasan yang tepat harus

digunakan oleh semua karyawan, jika sedang melakukan pekerjaan yang dapat menimbulkan bahaya bagi pernapasan. Alat ini berguna untuk melindungi pernapasan terhadap gas, uap, debu, atau udara yang terkontaminasi ditempat kerja yang dapat bersifat racun. Alat pelindung pernapasan dapat dibedakan atas : a. Masker Untuk melindungi mengurangi debu dan partikel lebih besar masuk kedalam pernapasan. Biasanya terbuat dari kain. Masker banyak jenisnya diantaranya masker las listrik, masker muka, masker hidung atau mulut. b. Respirator Berguna untuk melindungi pernapasan dari debu, kabut, uap, logam, asap, dan gas (Yanri, 2001). 5. Alat Pelindung Kaki (Sepatu) Berguna untuk melindungi kaki dari bahaya kejatuhan benda-benda berat, kepercikan larutan asam dan basa yang korosif atau cairan yang panas, terinjak benda-benda tajam. Sepatu pengaman dapat dibedakan menurut jenis pekerjaan sebagai berikut:

16

a) Sepatu yang di gunakan pengecoran baja, dibuat dari bahan kulit yang dilapisi krom asbes dan tinggi sepatu kurang lebih 35 cm. b) Sepatu khusus untuk keselamatan kerja ditempat kerja yang yang mengandung bahaya peledakan, sepatu ini tidak boleh memakai paku-paku yang dapat menimbulkan percikan api. c) Sepatu karet anti elektostatik digunakan untuk melindungi pekerja dari bahaya listrik hubungan pendek, sepatu ini harus tahan terhadap arus listrik 10.000 volt selama 3 menit. d) Sepatu bagi pekerja bangunan dengan resiko bahaya terinjak benda-benda tajam, kejatuhan benda-benda berat dapat dibuat sepatu dari kulit yang dilengkapi dengan baja pada ujungnya untuk melindungi jari-jari kaki (Yanri, 2001). 6. Pakaian Pelindung Pakaian pelindung digunakan dalam melaksanakan tugas selama jadwal kerjanya, dapat berbentuk Apron yang menutupi sebagian tubuh mulai dari dada sampai lutut dan overall yang menutupi seluruh badan. Pakaian pelindung berguna untuk melindungi pemakaian dari percikan cairan, api, larutan bahan kimia korosif, serta cuaca kerja (panas, dingin,dan kelembaban). Apron dapat dibuat dari kain, kulit, plastik, asbes, atau kain yang dilapisi alumunium.

17

7. Sarung Tangan Sarung tangan digunakan unuk melindungi tangan selama bekerja. Sarung tangan dapat dibedakan menjadi : a. Sarung Tangan Katun Untuk melaksanaan pekerjaan yang umum. b. Sarung Tangan Kulit Untuk melaksanakan pekerjaan agak panas, pengelasan, dan benda-benda yang kasar. c. Sarung Tangan Kain Tebal Untuk melaksanakan pekerjaan yang panas. d. Sarung Tangan Karet Untuk melaksanakan pekerjaan listrik dan pekerjaan yang mengandung kimia/kotor. 8. Jaket Las Untuk melaksanakan pekerjaan las listrik dan las gas. 9. Sabuk Pengaman Untuk melaksanakan pekerjaan di tempat yang tinggi.

7. Teknik Mengatasi Terjadinya Kecelakaan dan Kebakaran 1) Teknik kesehatan kerja yang dilakukan oleh pihak perusahaan antara lain : a. Menyediakan obat-obatan yang mungkin diperlukan oleh pekerja.

18

b. Menyediakan kotak P3K yang berguna bagi pekerja untuk mengobati luka-luka kecil atau dapat sebagai pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan. 2) Prosedur Pencegahan Kecelakaan Kerja dan Kebakaran Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan kebakaran, maka pihak perusahaan memberikan kebijakan-kebijakan sebagai berikut : a. Mesin setelah digunakan harus dimatikan, dibersihkan, dan disimpan kembali pada tempatnya. b. Para pekerja dalam melakukan tugasnya harus melakukannya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. c. Bila terjadi kerusakan pada mesin-mesin atau peralatan, pekerja wajib melaporkannya kepada atasannya. d. Para pekerja wajib menggunakan alat-alat pengaman yang diberikan oleh pihak perusahaan pada waktu bekerja. e. Pekerja harus menyimpan kembali bahan-bahan yang mudah terbakar ketempat penyimpanan yang telah disediakan. 3) Cara Untuk Menanggulangi Terjadinya Kebakaran Apabila pekerja melakukan kecerobohan yang menyebabkan terjadinya kebakaran yang tidak dapat dihindari, maka pekerja tersebut telah diberi latihan untuk menggunakan alat pemadam kebakaran yang telah disediakan oleh pihak pabrik dan berusaha untuk mengatasi kebakaran di dalam pabrik. Apabila api terus menjalar ketempat

19

lainnya para pekerja tidak mampu untuk memadamkannya maka segera menelpon pihak pemadam kebakaran. Hal itu berguna untuk mengurangi kerugian pihak bengkel dan masyarakat yang ada disekitarnya. Prosedur-prosedur lainnya yang diberikan oleh pihak pabrik kepada para pekerjanya untuk menanggulangi terjadinya kebakaran adalah sebagai berikut : a. Membunyikan alarm kebakaran. b. Menyingkirkan benda-benda yang mudah terbakar. c. Mematikan mesin atau alat-alat yang sedang digunakan. d. Mematikan saklar listrik. e. Melapor kepada atasan. f. Bila ada korban, maka korban segera dibawa kerumah sakit terdekat.

8. Upaya-Upaya Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Berdasarkan definisi yang dibuat Joint Commite ILO WHO

Occupational Healt and Safety menyatakan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah disiplin ilmu terapan yang bertujuan menciptakan sistem kerja yang aman (Safety Work System) dan menjamin terciptanya kesejahteraan pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya seiring dengan usaha perusahaan atau organisasi dalam meningkatkan produktivitas kerja.

20

Pada CV. Sumber Plastik upaya-upaya yang dilakukan dalam melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja telah

dilaksanakan sesuai dengan pedoman, mulai dari : 1) Pengawasan kesehatan a) Membuat arsip kesehatan perorangan. b) Menindak lanjuti cuti sakit yang berulang-ulang/panjang. c) Pengendalian obat terlarang dan minuman keras. 2) Pemantauan lingkungan kerja a. Pemetaan tempat kerja dan pemantauan tingkat paparan : 1. Pemberian aturan yang ketat terhadap safety. 2. Pemberian teguran dan sangsi kepada setiap pelanggaran mengenai Safety. b. Mengendalikan bahaya kesehatan berkenaan dengan : 1. Kebisingan. 2. Sumber radio aktif. 3. Bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan. 4. Penyediaan alat pelindung diri 3) Penyediaan alat pelindung diri 4) Penyediaan alat pemadam kebakaran 5) Pemberian jaminan kesehatan terhadap karyawan 6) Pemberian ganti rugi atas kecelakaan pada saat bekerja 7) Pemberian training mengenai Safety.

21

Ditinjau hal-hal diatas CV. Sumber Plastik telah dapat dikatakan memenuhi syarat-syarat perusahaan yang memiliki pedoman pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

B.

Arti dan Fungsi Tenaga Kerja Barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan faktor utama

yang mempunyai kedudukan, keterampilan, dan perilaku yang berbeda-beda. Pengertian tenaga kerja menurut ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja adalah setiap orang mampu untuk mengerjakan pekerjaan baik didalam maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan pengertian diatas dapat

disimpulkan tenaga kerja adalah orang yang terkait kerja dengan orang lain atau berdiri sendiri (wiraswasta) dan didalam bekerja tidak hanya mengabdi demi kepentingan perusahaan tapi juga untuk dirinya sendiri, keluarga dan sebagai anggota masyarakat (Dalih SA, 2004). Tugas kerja sebagai faktor produksi dalam faktor produksi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses produksi, karena tanpa keterampilan dan keahlian tenaga kerja maka peralatan dan perlengkapan yang maju dan modern tidak akan berfungsi dengan baik. Jadi tenaga kerja merupakan faktor bagi jalannya industri dan merupakan kunci sukses bagi kelangsungan hidup perusahaan. Penggolongan tenaga kerja menjadi dua golongan yaitu :

22

1. Tenaga kerja langsung Yaitu suatu karyawan yang secara langsung ikut memproduksi barang, yang jasanya dapat diusut secara langsung pada produksi dan upahnya diperlukan sebagai biaya tenaga kerja langsung serta diperhitungkan langsung sebagai elemen biaya produksi. 2. Tenaga kerja tidak langsung Yaitu tenaga kerja yang kasusnya tidak secara langsung dapat diusut pada produksi upah tenaga kerja tidak langsung dan merupakan biaya overhead pabrik (Mulyadi, 1990).

C.

Karakteristik Pekerja 1. Umur Umur mempunyai pengaruh penting dalam terjadinya kecelakaan. Angka terakhir dari studi di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa para pekerja usia muda lebih banyak mengalami kecelakan dibandingkan pekerja yang lebih tua (Kusuma, 2002). 2. Pengertian Pendidikan Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang diperoleh dibangku sekolah. Pendidikan seseorang menentukan luasnya pengetahuan seseorang dimana orang yang berpendidikan rendah sangat sulit menerima sesuatu yang baru. Hal ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap prilaku pekerja. Program pendidikan pekerja dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja dapat memberikan landasan yang mendasar, sehingga

23

dapat melakukan partisipasi secara efektip dalam menemukan sendiri pemecahan masalah di tempat kerja. 3. Masa Kerja Masa kerja seseorang dapat dikaitkan dengan pengalaman kerja seseorang yang dapat mempengaruhi kecelakaan terutama pengalaman kerja dalam hal mempergunakan berbagai macam alat kerja, semakin lama kerja seseorang maka pengalaman yang diperoleh sewaktu kerja akan lebih banyak, yang memungkinkan pekerja dapat bekerja lebih aman.

D.

Teknik Analisa Data Statistik secara sempit dapat diartikan sebagai data. Dalam arti yang luas

statistik dapat berarti sebagai alat untuk : Menentukan sample, mengumpulkan data, menyajikan data, menganalisa data dan menginterpretasi data, sehingga menjadi informasi yang berguna. Menurut : Suseno Hadi Statistik Dalam Penilaian Program K3 . Andryz Safe. Blogspot. Com (2009). 1) Statistik Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan suatu hasil observasi atau pengamatan. Juga hasil akhirnya tidak digunakan untuk menarik kesimpulan. 2) Statistik Inferensial Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data/hasil observasi dari sample, yang dihasilnya akan digeneralisasikan (diinferensikan) untuk populasi dimana sample tersebut diambil.

24

3) Statistik Dalam Penilaian Kinerja Program K3 Tujuan dan manfaat statistik dalam penerapan K3 adalah digunakan untuk menilai OHS Performance Programing. Dengan menggunakan statistik dapat memberikan masukan ke manajemen mengenai tingkat kecelakaan kerja serta berbagai faktor yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mencegah menurunnya kinerja K3. Statistik ini dapat digunakan untuk : a) Mengidentifikasi naik turunnya (trend) dari suatu timbulnya kecelakaan kerja. b) Mengetahui peningkatan atau berbagai hal yang memperburuk kinerja K3. c) Membandingkan kinerja antara tempat kerja dan industri yang serupa (t- Safe Score). d) Memberikan informasi mengenai prioritas pengalokasian dana K3. e) Memonitor kinerja organisasi, khususnya mengenai persyaratan untuk penyedian sistim /tempat kerja yang aman. 4) Jenis-Jenis Penerapan Statistik Dalam Aspek K3 :

1. Ratio Kekerapan Cidera (Frequensy Rate) Pengukuran tingkat kekerapan cidera akibat kecelakaan kerja, dapat dihitung dengan rumus (2.1), dibawah ini :

Frekuensi

Jumlah Cidera 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

25

Frekuensi rate digunakan untuk mengidentifikasi jumlah cidera yang menyebabkan tidak bisa bekerja persejuta orang pekerja. Ada dua data penting yang harus ada untuk menghitung frekuensi rate, yaitu jumlah cidera akibat kecelakaan kerja dan jumlah jam kerja orang yang telah dilakukan (Man Hours). Angka cidera akibat kecelakaan kerja diperoleh dari catatan mangkirnya tenaga kerja akibat kecelakaan kerja. Sedang jumlah jam kerja orang yang terpapar diperoleh oleh dari bagian absensi atau pembayaran gaji. Bila tidak memungkinkan, angka ini dihitung dengan mengalikan jam kerja normal tenaga kerja terpapar, hari kerja yang diterapkan dan jumlah tenaga kerja keseluruhan yang beresiko. Dapat dihitung dengan rumus : Rata-rata hilangnya waktu kerja (Average Time Lost Rate/ALTR), rumus (2.2), dibawah ini :

Hilangnya waktu kerja

Jumlah Hilangnya Waktu Kerja 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

Ukuran indikator ini sering disebut juga (Duration Rate) digunakan untuk mengindikasikan tingkat keparahan suatu kecelakaan. Dihitung dengan membagi jumlah jam atau hari yang hilang akibat kecelakaan dengan jumlah jam kerja karyawan per sejuta jam kerja orang.

26

2. Ratio Keparahan Cidera (Severity Rate) Indikator hilangnya hari kerja akibat kecelakaan kerja untuk per sejuta jam kerja orang. Dapat dihitung dengan rumus (2.3), dibawah ini :

Severity

Jumlah Hilangnya Hari Kerja 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

Jumlah hilangnya hari kerja : a) Jumlah jam atau hari yang diakibatkan cacat total sementara. Dihitung berdasarkan tanggal pekerja tidak mampu bekerja (termasuk hari libur). b) Koefisien bagi cacat permanen dan cacat sebagian yang permanen serta mati.

3. Safe t Score (Nilai t Selamat) Pengukuran nilai t selamat dapat dihitung dengan rumus (2.4), dibawah ini :

Safe t Score(Sts)

FrekuensiSekarang - FrekuensiSebelumnya FrekuensiSebelumnya 1.000.000 JumlahJam Kerja Karyawan

Safe t Score adalah nilai indikator untuk menilai hasil tingkat kecelakaan suatu unit kerja pada masa lalu dan masa kini, perbedaan antara dua kelompok yang dibandingkan. Apakah perbedaan dua kelompok bermakna atau tidak. Dalam statistik biasanya disebut sebagai t-test. Perbedaan ini dinilai untuk membandingkan kinerja

27

suatu kelompok dengan kinerja sebelumnya. Hasil perbedaan ini dapat dijadikan apakah terjadi perbedaan yang signifikan atau tidak. Keterangan : Score positif dari Safe t Score mengindikasikan memburuknya record kejadian. Score negatif dari Safe t Score mengindikasikan membaiknya record kejadian. Safe t Score diantara +2.00 dan -2.00, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan Safe t Score lebih besar atau sama dengan +2.00 menunjukan menurunnya kinerja K3, atau ada sesuatu yang salah. Safe t Score kebih kecil atau sama dengan -2.00 menunjukkan membaiknya kinerja K3, atau ada sesuatu yang baik dan perlu dipertahankan.

E.

Produktivitas Pengertian produktivitas pada dasarnya mencakup sikap mental yang

mempunyai pandangan mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini (Ravianto, 1986). Pengukuran produktivitas (Ravianto, 1986) dapat dihitung dengan rumus (2.5), dibawah ini : Produktivitas = Jumlah Jam Kerja Karyawan Jumlah Hilangnya jam kerja Jumlah Jam Kerja karyawan

28

Keterangan : Semakin sedikit kecelakaan dan karyawan yang tidak masuk baik sakit maupun tanpa keterangan, maka semakin kecil pula jam atau hari kerja yang hilang dan mengakibatkan semakin tingginya tingkat

produktivitasnya. Produktivitas adalah bukan suatu masalah tetapi merupakan suatu tujuan yang hendak dicapai oleh suatu perusahaan namun demikian pada dasarnya produktivitas memilih-milih arah yaitu peningkatan taraf hidup yang lebih baik. Yang dimaksud produktivitas yaitu suatu pendekatan disiplin untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana aplikasi, penggunaan cara yang produktif untuk mrnggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi. Dari data diatas dapat disimpulkan produktivitas adalah antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja. Produktivitas tinggi jika hasil yang diperoleh lebih besar dari pada sumber kerja yang digunakan sebaliknya produktivitas dikatakan rendah jika hasil yang diperoleh lebih kecil dari pada sumber kerja yang digunakan. Seorang tenaga kerja atau karyawan dinilai produktif apabila ia mampu menghasilkan lebih banyak dari tenaga kerja yang lain untuk satuan waktu yang sama dengan kata lain dapat dikatakan bahwa seorang tenaga kerja menunjukan produktivitas yang lebih tinggi bila ia mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditentukan, dalam satuan waktu lebih singkat.

29

Peningkatan produktivitas mengandung pegertian adanya pertambahan hasil dan perbaikan cara pencapaian produksi tersebut. Juga yang diperhatikan bukan kenaikan hasil kerja tetapi juga memperhatikan cara atau metode kerja dan mutu hasil kerja (Mucdasryah, 2005).

F.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Manusia sangat memegang peranan utama dalam proses peningkatan

produktivitas, karena alat produksi dan teknologi hasil kerja manusia. Tetapi pada dasarnya peningkatan produktivitas tidak dapat tergantung hanya faktor tenaga kerja saja, peningkatan produktivitas dipergunakan pula oleh beberapa faktor baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor-faktor lain. Menurut Dewan Produktivitas Nasional Faktor-Faktor tersebut adalah : a) Pendidikan b) Disiplin c) Keterampilan d) Sikap dan etika kerja e) Motivasi f) Gizi dan kesehatan g) Tingkat penghasilan h) Jamsostek i) Lingkungan dan iklim kerja j) Teknologi k) Manajemen

30

l) Kesempatan berprestasi (Sinungan, 1997). Sarana pendukung untuk meningkatkan produktivitas karyawan dapat dikelompokan menjadi dua golongan : 1. Menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan upah karyawan serta suasana dan lingkungan kerja itu sendiri dan cara produksi yang digunakan. 2. Menyangkut kesejahteraan karyawan yang tercermin dari sistem pengupahan dan jaminan sosial serta jaminan kelangsungan kerja. Indikator yang termasuk dalam produktivitas ini adalah : a. Hasil Produksi Dalam sistem produktivitas ini yang diukur oleh suatu perusahaan adalah pertambahan hasil produksinya, karena dengan adanya jaminan keselamatan kerja karyawan dapat menghilangkan kekhawatiran karyawan tentang masalah kecelakaan yang sering terjadi didalam perusahaan, maka dengan jaminan keselamatan kerja ini akan berjalan dengan baik dan lancar, sehingga produksi dapat bertambah. b. Satuan Biaya Didalam perusahaan secara keseluruhan akan dapat berhasil guna dan berdaya guna yang akan bermanfaat bagi produktivitas, dimana perusahaan tersebut akan mengeluarkan biaya-biaya meliputi antara lain biaya gaji dan upah, biaya kesejahtraan karyawan, biaya reparasi dan pemeliharaan dan biaya administrasi dan umum.

31

c. Satuan Waktu Yang digunakan karyawan dalam mengerjakan pekerjaan dimana waktu tersebut bisa perjam, perhari, perminggu, dan perbulan (Sinungan, 1997).

G.

Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan Pengertian produktivitas secara umum dapat diartikan perbandingan antara

apa yang dihasilkan (output) dan masukan (input). Secara khusus produktivitas dapat diartikan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang meliputi peningkatan efisiensi dan kecepatan penghasilan suatu produk yang merupakan hasil gabungan efektivitas, efisiensi dan keekonomian. Keselamatan kerja merupakan usaha tindakan pengamanan proses produksi, menjamin setiap orang yang berada ditempat kerja dalam kondisi aman. Keselamatan kerja dapat membantu peningkatan proses produksi atas dasar : 1. Dengan tingkat keselamatan kerja tinggi, kecelakaan yang menjadi penyebab sakit dan kematian dapat dikurangi atau ditekan paling kecil. 2. Tingkat keselamatan yang tinggi, sejalan dengan penelitian dan penggunaan peralatan kerja dan mesin efisien, dimana erat kaitannya dalam pencapaian produktivitas yang tinggi. 3. Tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan kondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efisiensi, dengan tinggi pula.

32

4. Praktek keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dari keterampilan, keduanya sejalan beriringan. 5. Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi pengusaha dan buruh akan membawa suasana dan ketenangan kerja sehingga dapat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan bagi terciptanya kelancaran produksi (Sumamur, 2003). Keselamatan kerja sebagai suatu unsur dalam hiperkes erat bertalian dengan keselamatan kerja. Dalam hubungan ini hiperkes menuju sasaran target keselamatan kerja yang paling tinggi. Oleh karena kesehatan dan keselamatan kerja sendiri berjalan sejajar dengan pencegahan kerugian akibat kecelakaan secara menyeluruh. Maka keselamatan kerja mempunyai arti besar dalam peningkatan produktivitas. Keselamatan dan kesehatan kerja dapat berpengaruh terhadap produktivitas. Hubungan antara tingkat keselamatan dan produktivitas antara lain : a) Dengan pelaksanaan keselamatan kerja yang sebaik-baiknya kecelakaan kerja dengan kerugian material dan finansial dapat dihindari. b) Kecelakaan yang tinggi yang sejalan dengan pemeliharaan dan penggunaan alat kerja yang produktif dan efisien. c) Praktek keselamatan kerja yang baik menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efisien kerja yang tinggi.

33

d) Kemampuan kerja secara selamat merupakan suatu strategi keterampilan yang sangat efisiensi kerja yang tinggi. e) Kemampuan kerja mengarahkan partisipasi semua pihak dapat

menciptakan iklim kerja sebagai landasan kuat untuk kelancaran produksi. Kesempatan kerja yang berkaitan dengan kecelakaan kerja jika dihubungkan dengan produktivitas kerja seperti dilihat dalam gambaran berikut :

Produktivitas

Tingkat Kecelakaan Kerja


Gambar 2.1 Hubungan antara Produktivitas dengan Keselamatan Kerja

Keterangan : Semakin besar tingkat kecelakaan kerja, maka semakin rendah tingkat produktivitas. Semakin kecil tingkat kecelakaan kerja, maka semakin meningkat produktivitas karyawan.

34

H.

Sistem Tertutup dan Terbuka ayah dari Teori Sistem Umum. Ludwig von Bertalanffy, memperkenalkan

konsep sistem tertutup dan terbuka. sistem tertutup merupakan salah satu yang tidak menerima sesuatu dari lingkungannya, juga tidak memberikan sesuatu untuk lingkungannya. tidak memiliki input dan output. suatu sistem tertutup tidak memiliki interaksi dengan lingkungan. pada kenyataannya, itu tidak lingkungan. Sebaliknya, sistem terbuka interaksi dengan lingkungan, dengan menerima masukan dari itu dan menyediakan output untuk itu. dalam kehidupan nyata ada tidak ada sistem yang benar-benar tertutup. setiap sistem kehidupan nyata memiliki lingkungan dengan yang berinteraksi, meskipun hanya dengan cara kecil. demikian, konsep sistem tertutup adalah konsep teoritis atau laboratorium. digunakan untuk mengamati sistem dalam kondisi eksperimental, menghilangkan sejauh mungkin setiap interaksi dengan lingkungan. hanya input adalah keadaan awal dari sistem. dengan memberikan keadaan awal yang berbeda analis dapat mengamati bagaimana sistem merespon perilaku masing-masing. tanpa interaksi dengan lingkungan, perilaku ini diatur sepenuhnya oleh interaksi antara komponen-komponen sistem. ini menentukan ke detail terakhir bagaimana sistem berperilaku. maka, itu harus deterministik. jika terhenti atau mencapai keadaan akhir keseimbangan internal, bahwa negara mencapai akhir ditentukan oleh kondisi awal atau memulai. ini berarti bahwa, mengingat keadaan mulai tertentu, sistem tertutup akan selalu mengikuti jalan yang sama ke keadaan akhir jika ada.

35

sistem yang ditetapkan untuk tujuan pengambilan keputusan selalu sistem terbuka, karena menurut definisi pengambilan keputusan aturan masukan ke dalam sistem. sistem stokastik juga sistem terbuka karena faktor-faktor yang intoduce keacakan perilaku tersebut adalah hasil dari kekuatan luar atau peristiwa. (Hans G Daellenbach, 1995).

36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian untuk memperoleh hasil yang terbaik dan akurat terdapat beberapa rangkaian proses yang terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Setiap tahapan dalam rangkaian proses ini merupakan bagian yang menentukan tahapan selanjutnya sehingga setiap tahapan harus dilakukan secara cermat dan teliti. Metodologi penelitian merupakan suatu proses tahapan yang harus dilalui dan diterapkan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya. Metodologi penelitian sangat beragam di dalam melakukan suatu penelitian, karena dengan adanya metodologi penelitian, penelitian akan menjadi terarah serta mencapai tujuan yang diinginkan dan pada akhirnya dapat mempermudah analisa yang akan dilakukan. Adapun tahapan-tahapan dalam metodologi penelitian adalah sebagai berikut :

A.

Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan dengan dua cara : 1. Studi lapangan Studi lapangan merupakan awal dari penelitian. Studi lapangan merupakan dasar dari penelitian pendahuluan. 2. Studi pustaka

37

Studi pustaka merupakan tinjauan teoritis terhadap konsep penelitian dan berguna untuk memberikan kerangka berfikir dalam pemecahan persoalan dengan tujuan agar hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Studi pustaka dilakukan dengan mencari literatur yang erat hubungannya dengan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan.

B.

Pengumpulan Data Pengumpulan data untuk penunjang penelitian ini yang dilakukan selama

melaksanakan penelitian skripsi di perusahaan tersebut adalah: 1. Gambaran umum perusahaan 2. Jumlah kecelakaan yang terjadi pada periode tahun 2004-2008 3. Jumlah hilangnya jam kerja akibat kecelakaan kerja 4. Jumlah karyawan

C.

Pengolahan Data Dari masalah data yang diperoleh di lapangan selanjutnya akan diadakan

perhitungan menggunakan metode :

1. Tingkat Frekuensi / Kekerapan Kecelakaan Kerja Tingkat frekuensi menyatakan banyaknya frekuensi kecelakaan setiap per sejuta jam kerja manusia. Dpat dihitung dengan rumus (3.1), dibawah ini :

38

Frekuensi

Jumlah Cidera 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

Rata-rata hilangnya waktu kerja (Average Time Lost Rate/ALTR) dihitung dengan membagi jumlah hilangnya jam kerja akibat kecelakaan atau jumlah hilangnya hari kerja (LTI) dengan jumlah jam kerja karyawan per sejuta jam kerja manusia, di hitung dengan rumus (3.2) :

Hilangnya waktu kerja

Jumlah Hilangnya Waktu Kerja 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

Jumlah hilangnya waktu kerja akibat kecelakaan : Jumlah hilangnya jam kerja Jumlah hilangnya hari kerja

2. Tingkat Severity / Keparahan Kecelakaan Kerja Untuk mengukur pengaruh kecelakaan kerja juga harus dihitung angka berat kecelakaan, dengan membagi hilangnya hari kerja akibat kecelakaan untuk per sejuta jam kerja dengan jumlah jam kerja karyawan. Dapat dihitung dengan rumus (3.3), dibawah ini : Severity Jumlah hilangnyaHari kerja 1.000.000 Jumlah jam kerja karyawan

3. Nilai t Selamat Untuk membandingkan hasil tingkat kecelakaan suatu unit kerja pada masa lalu dan masa kini, sehingga dapat diketahui tingkat penurunan tingkat kecelakaan pada unit tersebut, digunakan nilai t selamat yang

39

berdasarkan pada uji pengawasan mutu secara statistik. Metode yang digunakan dalam pengujian t atau t test. Dihitung dengan rumus (3.3), dibawah ini :

Safe t Score (Sts)

FrekuensiSekarang- FrekuensiSebelumnya FrekuensiSebelumnya 1.000.000 JumlahJam Kerja Karyawan

Kriteria pengujian hipotesis uji dua pihak :

Jika -ttabel thitung +ttabel, maka Ho diterima. Jika -ttabel thitung +ttabel, maka Ho ditolak.

4. Tingkat Produktivitas Untuk mengetahui nilai dari produktivitas menggunakan rumus (3.4), dibawah ini : Produktivitas = Jumlah Jam Kerja Karyawan Jumlah Hilangnya Jam kerja Jumlah Jam Kerja Karyawan Keterangan : Semakin sedikit kecelakaan dan karyawan yang tidak masuk baik sakit maupun tanpa keterangan, maka semakin kecil pula hari kerja

40

yang hilang dan mengakibatkan semakin tingginya tingkat produktivitasnya.

D.

Analisa Data Langkah ini bertujuan menganalisa pengembangan ide untuk

meminimalkan angka kecelakaan kerja sehingga mampu membawa peningkatan produktivitas kerja karyawan.

E.

Kesimpulan Dan Saran Tahap terakhir yang dilakukan adalah menarik suatu simpulan dari hasil

analisa yang telah dilakukan. Adapun saran dapat digunakan oleh pemilik untuk menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja keryawan untuk meperoleh produktivitas yang maksimal.

41

ANALISA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA CV.SUMBER PLASTIK

STUDI PENDAHULUAN STUDI LAPANGAN STUDI PUSTAKA

PENGUMPULAN DATA
1. 2. 3. 4. Gambaran umum perusahaan Jumlah karyawan Jumlah kecelakaan dari tahun 2004-2008 Jumlah hilangnya jam kerja akibat kecelakaan

PENGOLAHAN DATA
1. 2. 3. 4. 5. Tingkat frekuensi Tingkat severity Nilai t selamat Tingkat produktivitas Analisis regresi dengan menggunakan SPSS

Hasil analisa Pengolahan data

Kesimpulan dan saran

Selesai

42

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

A.

Gambaran Umum Perusahaan 1. Sejarah Perusahaan Perusahaan yang menjadi tempat pengamatan dalam penyusunan skripsi

ini adalah Pabrik Biji Plastik CV. Sumber Plastik. Perusahaan ini didirikan oleh ibu Harti atas bimbingan bapak paino. Perusahaan ini bergerak dibidang pembuatan biji plastik dan penggilingan biji plastik. Perusahaan ini membuat biji plastik, penggilingan bahan plastik menjadi yang lebih halus. Sistem produksi yang digunakan perusahaan ini bersifat order, dimana perusahaan membuat bahan-bahan biji plastik untuk dipasarkan di perusahaan-perusahaan yang membuat kantong kresek/plastik, campuran pembuat ember dll. Sehingga terjadi banyak pemesanan dari perusahaan lain atau menggunakan jasa yaitu perusahaan plastik tersbut mempunyai bahan mentah plastik sendiri untuk dijadikan suatu biji plastik.

2. Struktur Perusahaan Metode pembagian kerja yang merupakan hakekat dari perusahaan CV. Sumber Plastik ini organisasi mengharuskannya dilakukannya perincian-perincian pada bidang kerja dan disusunnya pola-pola hubungan kerja diantara orang-orang sehingga terciptalah suatu struktur organisasi yang jelas.

43

Struktur organisasi CV. Sumber Plastik tersebut dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Pemilik

Sekretaris

Mandor

Mandor

Mandor

Pekerja

Pekerja

Pekerja

Pekerja

Gambar 4.1. Struktur Organisasi CV. Sumber Plastik

3. Komposisi Jumlah Karyawan dan Jam Kerja a. Jumlah Karyawan Untuk saat ini jumlah pekerja yang dimiliki oleh Pabrik Plastik CV. Sumber Plastik sebanyak 104 orang dengan 50 orang bekerja sebagai karyawan (buruh), 4 0rang sesbagai pengawas (Mandor), 3 orang staff dalam atau sekretaris, 13 0rang sebagai bengkel yang mengurusi jika terjadi kerusakan mesin, 12 orang sopir, 22 orang bekerja sebagai pekerja yang bertugas sebagai pengangkut dan pemilah bahan-bahan plastik yang akan dimasak.

44

b. Jam Kerja Jam produktif karyawan per orang kerja UU Depnaker tentang ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2001 : 52 Minggu setahun x 40 Jam seminggu 12 Hari cuti x 7 Jam produktif = 1996 Jam produktif karyawan. Jumlah jam produktif setahun adalah 1996 jam kerja per orang. Yang ditetapkan oleh CV. Sumber Plastik dibagi 3 shift : 1. Shift 1 : Pukul 07.00- Pukul 15.00 2. Shift 2 : Pukul 15.00- Pukul 23.00 3. Shift 3 : Pukul 23.00- Pukul 07.00

4. Proses Produksi Langkah-langkah proses produksi yang dilakukan dalam membuat produksi biji plastik yaitu suatu bahan plastik mentah yang telah digiling dan dibersihkan dan dimasukan kedalam as barel yang suhu panasnya telah diatur kemudian biji plastik yang diteruskan di desk yang berguna untuk menarik lelehan plastik tersebut menjadi oloran plastik yang menyerupai pellet kemudian secara otomatis dipotong menjadi butiran-butiran biji plastik. Kemudian operator mengarungi biji plastik itu kedalam karung dengan ukuran 30 kg. Warna biji tersebut sesuai dengan keinginan pelanggan ada yang berwarna merah, biru, hijau, hitam, putih, coklat.

45

5. Komposisi Karyawan dan Pembagian Tugas Serta Tanggung Jawab 1) Pemilik Perusahaan a. Tanggung Jawab : 1. Melakukan pengontrolan rutin kepekerja-pekerja agar target pesanan dapat dipenuhi 2. Membuat perhitungan gaji yang diperoleh setiap karyawan 3. Membuat dan menandatangani surat jalan 4. Melakukan pemesanan bahan baku 5. Melakukan pencarian bahan baku b. Wewenang : 1. Memecat pekerja 2. Menerima pekerja baru 3. Menegur pekerja yang melakukan kesalahan 4. Memberi arahan kepada Superfisior/Mandor c. Sekretaris 1. Menerima order, baik melalui telepon atau menerima pemesan yang langsung datang keperusahaan 2. Mengirim dan menerima faks 3. Membuat nota penjualan atas barang-barang yang terjual serta melaksakan pengarsipannya 4. Membuat memo kebagian produksi sehubungan dengan adanya pemesanan barang

46

5. Membuat

surat-surat

penawaran,

pelunasan,

pesanan,

penagihan, izin, dan sebagainya 6. Pembagian dan perhitungan masalah gaji d. Superfisior/Mandor 1. Tugas : a) Mencatat hasil kerjaan yang diperoleh oleh pekerja setiap hari b) Mengeluarkan bahan-bahan plastik yang diperlukan pekerja dari gudang c) Memberikan arahan pada para pekerja tentang bahan plastik yang akan dimasak d) Menegur karyawan bila lalai dalam melakukan pekerjaan serta mengawasi jalannya produksi plastik tersebut 2. Wewenang : Menegur pekerja jika lalai dalam menjalankan tugas e. Pekerja 1. Tugas : Mengerjakan pekerjaannya Membersihkan mesin setelah selesai bekerja

B.

Pengumpulan Data Pada pengamatan yang telah dilakukan pada CV. Sumber Plastik didapat

data kecelakaan pertahun dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 guna

47

mencari pengaruh terhadap produktivitas. Data yang diperoleh berdasarkan study literature dan dokumentasi dari perusahaan. Data jumlah kecelakaan dan jumlah hilangnya jam kerja, disajikan pada tabel 4.1 dibawah ini : Tabel 4.1. Data Jumlah Kecelakaan Kerja Periode Tahun 2004-2008 Kecelakaan kerja Tahun 2005 2006 2 1 2 3 1 1 1 0 0 2 0 2 0 1 2 1 3 0 2 3 3 1 3 1 19 16

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 2004 1 3 2 1 4 2 4 1 1 1 4 1 25

2007 1 2 1 3 0 1 0 1 2 1 0 1 13

2008 0 2 1 2 3 1 2 0 0 0 0 0 11

Dari data tabel 4.1 disajikan dalam bentuk gambar Grafik dapat dilihat dibawah ini :
Grafik Kecelakaan Pertahun
Kecelakaan
5 4 3 2 1 0 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Jul Agt Sep Nov Des 2004 2005 2006 2007 2008

Jumlah

Bulan
Grafik 4.1. Grafik Jumlah Data Kecelakaan Pertahun

48

Tabel 4.2. Data Jumlah Hilangnya Jam Kerja Periode Tahun 2004-2008 Hilangnya Jam Kerja Tahun 2004 2005 2006 40 47 36 62 55 50 47 41 34 52 36 0 83 0 52 57 0 70 70 0 35 28 65 42 37 88 0 51 68 47 71 71 43 50 86 26 648 557 435

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah

2007 50 59 45 81 0 52 0 56 64 59 0 58 524

2008 0 52 36 47 76 37 74 0 0 0 0 0 322

Dari data tabel 4.2 disajikan dalam bentuk gambar grafik dapat dilihat dibawah ini :
Grafik Hilangnya Jam Kerja
Hilangnya Jam Kerja
100 80 60 40 2004 2005 2006 2007 2008 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

Kerja

20

Bulan
Grafik 4.2. Grafik Jumlah Hilangnya Jam Kerja Pertahun

C.

Pengolahan Data Setelah pengumpulan data lengkap, melakukan pengolahan data dengan

penghitungan sebagai berikut :

49

1. Tingkat Frekuensi / Kekerapan Kecelakaan Kerja Untuk menghitung tingkat frekuensi kecelakaan kerja karyawan. Perhitungan frekuensi kecelakaan kerja pada tahun 2004 : Frekuensi Jumlah Cidera 1.000.000 Jumlah Jam Kerja Karyawan

Frekuensi

25 1.000000 . 207.584

= 120,43 Untuk perhitungan frekuensi kecelakaan kerja tahun selanjutnya sama dengan perhitungan tahun 2004, dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.3. Data Frekuensi Kecelakaan KerjaTahun 2004 2008
no 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Ke ce lakaan 25 19 16 13 11 Fre kue nsi 120,43 91,53 77,08 62,63 52,99

Dari data perhitungan diatas dapat digambarkan dalam bentuk grafik 4.3 berikut ini :

Grafik 4.3. Frekuensi Kecelakaan Tahun 2004-2008

50

Dari perhitungan tingkat frekuensi kecelakaan kerja dapat diketahui bahwa frekuensi kecelakaan terbesar adalah pada tahun 2004 dengan 120,43 kasus kecelakaan, tahun 2005 dengan 91,53 kasus kecelakaan, tahun 2006 dengan 77,08 kasus kecelakaan, tahun 2007 dengan 62,63 kasus kecelakaan, dan tahun 2008 dengan 52,99 kasus kecelakaan. a. Jumlah Karyawan Jumlah karyawan CV. Sumber Plastik dari tahun ketahun tidak mengalami penambahan maupun pengurangan karyawan, jumlah

karyawan dari mulai berdirinya yaitu tahun 2000 sampai tahun 2008 tetap yaitu 104 karyawan. b. Jumlah Jam Kerja Karyawan Jumlah jam kerja karyawan adalah jumlah jam kerja yang sudah ditempuh oleh seorang pekerja dalam waktu satu tahun. Jumlah karyawan di kali jam produktif setahun, perhitungannya dapat dihitung dengan rumus :
Jumlah Jam Kerja Karyawan = 104 x 1996 = 207.584

Dimana didapat jumlah jam kerja yang sama yaitu 207.584 jam pada setiap tahunnya karena jumlah karyawan tidak mengalami pengurangan maupun penambahan. c. Jumlah Kecelakaan Kerja Jumlah Kecelakaan kerja merupakan jumlah kecelakaan yang didapat dalam satu tahun bisa disebabkan karena kesalahan manusia,

51

peralatan, dan kondisi kerja. Data jumlah kecelakaan kerja dapat dilihat pada tabel 4.4 dibawah ini : Tabel 4.4 Data Jumlah kecelakaan Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah kecelakaan 25 19 16 13 11

d. Jumlah Hilangnya jam kerja Jumlah hilangnya jam kerja merupakan jumlah keseluruhan dari jam-jam saat karyawan tidak dapat bekerja yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Rincian data jumlah hilangnya jam kerja dapat dilihat pada tabel 4.5 dibawah ini : Tabel 4.5 Data Jumlah Hilangnya Jam Kerja Tahun 2004-2008

No 1 2 3 4 5

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008

Jumlah Hilangnya Jam kerja 648 557 435 524 322

e. Prosentase Hilangnya jam kerja Prosentase jumlah hilangnya jam kerja dapat dihitung dengan rumus :
% Hilangnya Jam Kerja 648 1996 100 % = 0,32

52

Untuk perhitungan prosentase hilangnya jam kerja pada tahun selanjutnya sama dengan cara perhitungan tahun 2004, dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini : Tabel 4.6 Data Prosentase Hilangnya Jam Kerja Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Hilangnya Jam Ke rja 648 557 435 524 322 Jam Produktif 1996 1996 1996 1996 1996 % Hilangnya Jam Ke rja 0,32 0,28 0,22 0,26 0,16

f. Jumlah Hilangnya Hari kerja Jumlah hilangnya hari kerja merupakan jumlah total dari hari-hari saat karyawan tidak dapat bekerja yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Yaitu Jumlah hilangnya jam kerja dibagi jam produktif sehari karyawan, jam produktif perusahaan sehari yaitu 24 jam. Perhitungan jumlah hilangnya hari kerja pada tahun 2004 :
Hilangnya waktu kerja Jumlah Hilangnya Waktu Kerja 1.000.000

Jumlah Jam Kerja Karyawan

Jumlah Hilangnya Hari Kerja

648 24

= 27 Untuk perhitungan jumlah hilangnya hari kerja pada tahun selanjutnya sama dengan cara perhitungan tahun 2004. Data jumlah hilangnya hari kerja dapat dilihat pada tabel 4.7 dibawah ini :

53

Tabel 4.7 Data Jumlah Hilangnya Hari Kerja Tahun 2004-2008


No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Hilangnya Hari Kerja 27 23 18 22 13

2. Tingkat Severity / Keparahan Kecelakaan Kerja Untuk menghitung tingkat Severity/Keparahan kecelakaan kerja karyawan. Perhitungan severity kecelakaan kerja untuk tahun 2004 : Severity Jumlah hilangnyaHari kerja 1.000.000 Jumlah jam kerja karyawan
27 1.000.000 207.584

Severity

= 130,07 Untuk perhitungan severity kecelakaan kerja pada tahun

selanjutnya sama dengan perhitungan tahun 2004, dapat dilihat pada tabel 4.8 dibawah ini. Tabel 4.8 Data Severity/Keparahan Kecelakaan Kerja Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Hilangnya Hari Ke rja 27 23 18 22 13 Se ve rity 130,07 110,80 86,71 105,98 62,63

54

dari data perhitungan diatas dapat digambarkan dalam bentuk grafik 4.4 dibawah ini :

Grafik 4.4 Tingkat Keparahan Kecelakaan Tahun 2004-2008

Dari perhitungan tingkat severity dapat diketahui dengan keparahan yang ditimbulkan kecelakaan tiap tahun berbeda-beda pada tahun 2004 dengan 120,43 kasus kecelakaan dengan nilai severity 130,07 tahun 2005 dengan 91,53 kasus kecelakaan dengan nilai severity 110,80, tahun 2006 dengan 77,08 kasus lecelakaan dengan nilai severity 86,71, tahun 2007 dengan 62,63 kasus kecelakaan dengan nilai severity 105,98, tahun 2008 dengan 52,99 kasus kecelakaan dan nilai severity 62,63.

3. Nilai t Selamat Untuk Perhitungan Nilai t Selamat pada tahun 2005 :

Safe t Score (Sts)

FrekuensiSekarang- FrekuensiSebelumnya FrekuensiSebelumnya 1.000.000 JumlahJam Kerja Karyawan

55

Safe t Score

91,53 - 120,43 120,43 1.000 .000 207.584

= -1,20 Untuk perhitungan Nilai t Selamat pada tahun selanjutnya sama dengan cara perhitungan tahun 2005, dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini. Tabel 4.9 Data Nilai t Selamat Tahun 2004- 2008

No 1 2 3 4

Tahun 2004 2005 2006 2007

Frekuensi Sebelumnya 120.43 91.53 77.08

Frekuensi Sekarang 120.43 91.53 77.08 62.63

NtS -1.20 -0.69 -0.75

Dari data perhitungan diatas dapat digambarkan dalam bentuk grafik 4.5 berikut ini :

Grafik 4.5 Nilai t Selamat Tahun 2004-2008

Pengujian Hipotesis : Taraf Kepercayaan = 95% Taraf nyata ( ) = 0,05

Derajat Bebas ( df ) = n-k

56

= 5-4 =1 Dimana : n = Jumlah observasi k = Banyaknya Parameter

-ttabel thitung +ttabel -6.314 < NtS < +6.314 Dari hasil analisis diatas didapat bahwa nilai tiap tahun dilihat terjadinya penurunan angka kecelakaan pada tiap tahunnya. Nilai 6,314 didapat dari tabel nilai kritis distribusi t dengan taraf signifikan = 0,05 hasil pengujian dua pihak, Ho diterima. Penafsiran ini adalah : Pada tahun 2005 : Terdapat perbedaan yang signifikan terjadinya penurunan angka kecelakaan antara tahun 2005 dengan tahun 2004. Pada tahun 2006 : Terdapat perbedaan yang signifikan terjadinya penurunan angka kecelakaan antara tahun 2006 dengan tahun 2005. Pada tahun 2007 : Terdapat perbedaan yang signifikan terjadinya penurunan angka kecelakaan antara tahun 2007 dengan tahun 2006. Pada tahun 2008 : Terdapat perbedaan yang signifikan terjadinya penurunan angka kecelakaan antara tahun 2008 dengan tahun 2007. 57

4. Tingkat Produktivitas Untuk menghitung tingkat produktivitas kerja tahun 2004 : Produktivitas = Jumlah Jam Kerja Karyawan Jumlah Hilangnya Jam kerja Jumlah Jam Kerja Karyawan Produktivitas =
207 .584 648 207.584

= 0,99688 Untuk perhitungan produktivitas pada tahun selanjutnya sama dengan cara perhitungan tahun 2004, dapat dilihat pada table 4.10 dibawah ini : Tabel 4.10 Data Produktivitas Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Produktivitas 0,99688 0,99732 0,99790 0,99748 0,99845

Dari data perhitungan diatas dapat digambarkan dalam bentuk grafik 4.6 berikut ini :

Grafik 4.6 Produktivitas Tahun 2004-2008

58

D.

Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan Dari hasil diatas, maka telah diperoleh analisis sebagai berikut : 1. Hubungan Produktivitas dengan Frekuensi/Kekerapan Kecelakaan Kerja. Untuk mengetahui hubungan antara produktivitas dengan frekuensi kecelakaan kerja dapat dilihat pada tabel 4.11 dibawah ini : Tabel 4.11 Data Produktivitas dan Frekuensi Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Frekuensi 120,43 91,53 77,08 62,63 52,99 Produktivitas 0,99688 0,99732 0,9979 0,99748 0,99845

Dari data yang sudah diperoleh dapat digambarkan grafik hubungan antara produktivitas dengan frekuensi, hubungan tersebut dapat dilihat dengan grafik 4.7 dibawah ini :

Grafik 4.7 Hubungan Produktivitas dengan Frekuensi Kecelakaan Kerja Tahun 2004-2008

59

Dari grafik hubungan produktivitas dengan frekuensi kecelakaan kerja diatas dapat dilihat bahwa semakin rendah frekuensi kecelakaan kerja maka produktivitas kerja karyawan akan meningkat.

2. Hubungan Produktivitas dengan Severity/Keparahan Kecelakaan Kerja. Untuk mengetahui hubungan antara produktivitas dengan tingkat keparahan kecelakaan kerja dapat dilihat pada table 4.12 dibawah ini : Tabel 4.12 Data Produktivitas dan Tingkat Severity Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Severity 130,07 110,8 86,71 105,98 62,63 Produktivitas 0,99688 0,99732 0,9979 0,99748 0,99845

Dari data yang sudah diperoleh dapat digambarkan Grafik hubungan antara produktivitas dengan severity, hubungan tersebut dapat dilihat pada Grafik 4.8 dibawah ini :

130,07 110,8 86,71 105,98 62,63

Produkti vitas 0,99688 0,99732 0,9979 0,99748 0,99845

Grafik 4.8 Hubungan Produktivitas Dengan Tingkat Severity

60

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin rendah tingkat keparahan kecelakaan kerja maka produktivitas kerja karyawan akan meningkat.

3. Hubungan Produktivitas dengan Nilai t Selamat Untuk mengetahui hubungan antara produktivitas dengan Nilai t Selamat dapat dilihat pada table 4.13 dibawah ini : Tabel 4.13 Data Produktivitas dan Nilai t selamat Tahun 2004-2008
No 1 2 3 4 5 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 BKA 6,314 6,314 6,314 6,314 BKB -6,314 -6,314 -6,314 -6,314 NtS -1,2 -0,69 -0,75 -0,55 Produktivitas 0,99688 0,99732 0,9979 0,99748 0,99845

Dari data yang sudah diperoleh dapat digambarkan grafik hubungan antara produktivitas dengan nilai t selamat, hubungan tersebut dapat dilihat pada grafik 4.9 dibawah ini :

Grafik 4.9 Hubungan Produktivitas dengan Nilai t Selamat

61

Pada pengujian dengan menggunakan nilai t selamat dapat diketahui bahwa frekuensi terjadinya kecelakaan kerja semakin berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Pada grafik diatas dapat dilihat

penyimpangan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 semakin kecil.

E.

Analisis Regression Dari variable ini dapat dihitung persamaan regresi linier dengan

menggunakan metode SPSS, hasil sebagai berikut.

Tabel 4.14 Descriptive Statistics


Mean ,99760600 80,9320 99,2380 -,6380 Std. Deviation ,000596557 26,47152 25,62637 ,43182 N 5 5 5 5

Produktivitas Frekuensi Severity NtS

Tabel 4.15 Correlations


Produktivitas Pearson Correlation Produktivitas Frekuensi Severity NtS Produktivitas Frekuensi Severity NtS Produktivitas Frekuensi Severity NtS 1,000 -,857 -1,000 -,223 . ,032 ,000 ,359 5 5 5 5 Frekuensi -,857 1,000 ,843 ,416 ,032 . ,036 ,243 5 5 5 5 Severity -1,000 ,843 1,000 ,222 ,000 ,036 . ,360 5 5 5 5 NtS -,223 ,416 ,222 1,000 ,359 ,243 ,360 . 5 5 5 5

Sig. (1-tailed)

62

Tabel 4.16 Variables Entered/Removedb


Variables Entered NtS, Severity, Frekuensi(a) Variables Removed .

Model 1

Method Enter

a All requested variables entered. b Dependent Variable: Produktivitas

Tabel 4.17 Model Summaryb


Adjusted R Model 1 R 1.000
a

Std. Error of the Estimate

R Square 1.000

Square .999

.000014753

a. Predictors: (Constant), NtS, Severity, Frekuensi b. Dependent Variable: Produktivitas

Tabel 4.18 ANOVAb


Sum of Squares ,000 ,000

Model 1

Df 3 1

Regression Residual Total

Mean Square ,000 ,000

F 2179,760

Sig. ,016(a)

,000 4 a Predictors: (Constant), NtS, Severity, Frekuensi b Dependent Variable: Produktivitas

63

Tabel 4.19 Coefficientsa


Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Frekuensi Severity NtS 1,000 -1,33E-006 -2,22E-005 Std. Error ,000 ,000 ,000 ,000 -,059 -,953 ,014 Standardized Coefficients Beta t B 28841,540 -2,313 -39,960 ,993 Sig. Std. Error ,000 ,260 ,016 ,502

1,93E-005 a Dependent Variable: Produktivitas

64

BAB V ANALISIS

1. Rata-rata produktivitas kerja karyawan (dengan data jumlah 5 sempel) adalah 0,99760600 dengan standart deviasi 0,000596557. Tentu disini dapat dilakukan pembulatan, karena tidak mungkin terjadinya produktivitas kerja karyawan mengandung pecahan. Demikian juga untuk variable nilai frekuensi, severity dan nts. 2. Dari output korelasi , hubungan yang signifikan terjadi pada variable produktivitas dengan tingkat frekuensi dan tingkat severity, karena nilai signifikan (Sig. 1-tailed) adalah dibawah 0,05. 3. Tabel Variable Entered menunjukan bahwa tidak ada variable yang dikeluarkan (removed), atau dengan kata lain ketiga variable bebas (nts,seveity dan frekuensi) dimasukan dalam perhitungan regresi. 4. Angka R Square adalah 1% produktivitas kerja karyawan oleh

variable frekuensi, severity dan nts. Sedangkan sisanya (100% - 1% = 99%) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain. 5. Standar Error of the Estimate adalah 0,000014753 (dalam hal ini adalah produktivitas). Perhatikan pada analisis sebelumnya (output tabel descriptive statistics) bahwas standart deviasi produktivitas adalah 0,000596557, yang jauh lebih besar dari standar error of estimet yang hanya 0,000014753. Oleh karena itu lebih kecil dari standart deviasi variable produktivitas, maka model regresi lebih bagus dalam

65

bertindak

sebagai

prediktor

produktivitas

dari

pada

rata-rata

produktivitas itu sendiri. 6. Dari uji anova atau f test , didapat F hitung adalah 2179,760 dengan tingkat signifikan 0,01. Oleh karena itu probabilitas 0,01 lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi variable produktivitas atau dapat dikatakan frekuensi, severity dan nilai nts secara bersamaan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. 7. Tabel selanjutnya menggambarkan persamaan regresi : Y = 1 1,33E-006X1 - 2,22E-005X2 + 1,93E-005X3 Dimana : Y= Produktivitas X1= Frekuensi kecelakaan X2= Tingkat severity X3 = Nilai t selamat Konstanta sebesar 1 menyatakan bahwa tingkat frekuensi kecelakaan, tingkat severity dan nilai nts tidak ada (secara matematika X1, X2, X3 adalah 0), maka produktivitas kerja karyawan adalah 1. Koefisien regresi X1 sebesar -1,33 menyatakan bahwa setiap pengurangan (karena tanda -) tingkat frekuensi akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan sebesar 1,33.

66

Koefisien regresi X2 sebesar -2,22 menyatakan bahwa setiap pengurangan (karena tanda -) tingkat keparahan kecelakaan akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan sebesar 2,22. Uji t untuk menguji signifikan konstanta variable dependen (NtS).

67

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Berdasarkan evaluasi, perhitungan dan analisis yang telah dilakukan di

CV. Sumber Plastik dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari evaluasi program keselamatan kerja ditinjau dari unsur-unsur program keselamatan kerja dan pendukungnya yang dilaksanakan di CV. Sumber Plastik cukup baik karena sudah sesuai dengan definisi Joint Committee ILO WHO on Occupotional Health and Safety tahun 1989. 2. Dari hasil pengukuran frekuensi diketahui bahwa pada tahun 2004 sampai 2008 dapat diketahui bahwa semakin kecil nilai frekuensi kecelakaan kerja membawa peningkatan produktivitas kerja karyawan. 3. Dari hasil perhitungan tingkat severity atau keparahan kecelakaan nilai diketahui bahwa pada tahun 2004 terjadi kecelakaan dengan tingkat paling tinggi dengan nilai produktivitas paling rendah yaitu tingkat keparahan 130,07 dan produktivitas 0,99688. 4. Dari hasil pengukuran Nilai t Selamat (NtS) diperoleh hasil bahwa terjadi upaya-upaya penekanan tingkat frekuensi kecelakaan pada tahun-tahun terakhir terjadi penurunan tingkat kecelakaan kerja. 5. Dari hasil analisis menggunakan metode SPSS didapat persamaan regresi linier sebesar Y = 1 1,33E-006X1 - 2,22E-005X2 + 1,93E-005X3

68

6. Upaya penanggulangan dan penekanan tingkat resiko dan jumlah kecelakaan di CV. Sumber Plastik terlaksana dengan baik ditinjau dari semakin rendahnya kekerapan kecelakaan dan tingkat keparahan cidera yang rendah dari tahun ketahun. 7. Tinggi rendahnya tingkat severity/keparahan akan mempengaruhi

produktivitas kerja karyawan. 8. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa program K-3 yang diterapkan perusahaan selama ini, secara umum berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan.

B.

Saran Setelah melihat secara keseluruhan data-data yang diperoleh dari lapangan

maupun pengolahan data, maka penulis mencoba memberi saran : 1. Dalam peningkatan produktivitas kerja karyawan, perusahaan harus mampu menempatkan Safety sebagai acuan dasar, meningkatkan kesadaran kepada setiap karyawan pentingnya alat keamanan, penambahan training pada karyawan tentang safety dalam melaksanakan aktivitas kerja. 2. Perusahaan harus mempunyai prosedur resmi tertulis mengenai

penanggulangan kecelakaan kerja. 3. Perusahaan harus tetap menjaga dan memperhatikan keselamatan kerja agar tercipta suasana kerja yang aman dan membawa perolehan kualitas kerja yang maksimal.

69

4. Mengevaluasi ulang kemungkinan bahaya, dampak yang timbul dari aktivitas kerja baik mesin, peralatan, bangunan, dan perilaku pekerja saat bekerja.

70

Anda mungkin juga menyukai