Anda di halaman 1dari 87

DAMPAK PENCAHAYAAN TERHADAP KELELAHAN MATA DI RUANG PEGAWAI BALITBANG KEMHAN

Skripsi ini diajukan untuk melengkapi salah satu persyaratan menjadi Sarjana Teknik Program Studi Teknik Industri

Disusun Oleh : Nama : Mei Suherma

Nomor Pokok : 207.415.030

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI (S-1) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA JULI, 2011

ABSTRAK

Dampak Tingkat Pencahayaan Terhadap Kelelahan Mata Di Ruang Kerja Pegawai Balitbang Kementerian Pertahanan. Balitbang Kementerian Pertahanan adalah satu lembaga pemerintahan sebagai penyelenggara fungsi mengelola sumberdaya nasional untuk kepentingan pertahanan yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan kebijakan, strategi, alutsista lebih baik kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menurut ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Pusat Litbang Industri pertahanan, Pusat Litbang Iptek pertahanan, Pusat Litbang SDM pertahanan, dan Pusat Litbang Strategi pertahanan adalah faktor hirarki yang dapat meningkatkan peran Litbang Pertahanan. Penelitian ini meneliti tentang dampak Intensitas Pencahayaan terhadap kelelahan mata di Ruang Pegawai Balitbang Kemhan, serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pencahayaan dan kelelahan mata. Berdasarkan hasil pengumpulan dari penyebaran kueisioner, pengukuran tingkat pencahayaan dan pemotretan serta pengukuran dengan luxmeter maka didapatkan hasil sebagian besar di Balitbang Kementerian Pertahanan sudah memenuhi persyaratan kecuali ruangan nomor 5404, 5405 dan 5411 yaitu ruangan Kasubbid Daya Gerak, ruangan Kasubbid Bek Komlek dan ruangan Kasubbid Daya Tempur Puslitbang Iptekhan dengan nilai lux 289, 270 dan 275 sehingga tidak mememenuhi standar sesuai peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja dengan tingkat pencahayaan kurang dari 300 lux. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan mata adalah pencahayaan yang kurang tingkat pencahayaannya, arah cahaya ke mata, penggunaan krey jendela dan pengaturan posisi meja dan monitor komputer. Dari hasil penelitian tentang pencahayaan diruang-ruang kantor puslitbang Iptekhan Balitbang Kemhan terdiri dari 13 ruangan. Dari 13 ruangan tersebut terdapat 10 ruangan yang sesuai dengan standar sedangkan yang tidak memenuhi standar ada 3 ruangan hal ini terkait dengan peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja. Untuk meningkatkan kinerja pegawai Balitbang Kementerian Pertahanan diharapkan adanya penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pengaturan letak fasilitas kerja ruangan Balitbang Kementerian Pertahanan berdasarkan pencahayaannya sehingga diperoleh kenyamanan kerja. Dan harapan peneliti semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas merupakan satu tujuan organisasi, demikian pula Kementerian Pertahanan dalam hal ini institusi Balitbang Kementerian Pertahanan. Dalam mencapai tujuan ini diperlukan kenyamanan dalam bekerja baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan kerja, kenyamanan kerja merupakan salah satu persyaratan dalam melaksanakan kegiatan kerja administrasi yang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi, Untuk menciptakan kenyamanan bekerja di dalam ruangan diperlukan pencahayaan yang cukup agar karyawan dapat bekerja dengan nyaman sehingga kinerja karyawan maksimal. Penerangan yang cukup dan diatur dengan baik akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat memelihara kegairahan kerja, disamping karyawan dapat melihat objekobjek yang sedang dikerjakan juga harus dapat melihat dengan jelas benda atau alat disekitarnya. Penerangan yang tidak dirancang dengan baik menimbulkan gangguan dan kelelahan penglihatan selama bekerja. Selanjutnya kelelahan pada mata dapat menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya kinerja karyawan.

Ada berbagai macam jenis kelelahan, salah satunya adalah kelelahan mata. Kelelahan mata dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain terlalu lama menggunakan komputer, cahaya lampu di ruangan yang terlalu silau, dan lain sebagainya. Apabila kelelahan mata ini terjadi, maka pegawai tidak dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal, dan dengan demikian menyebabkan pelaksanaan pertahanan negara di lapangan menjadi terhambat. Agar pelaksanaan tugas pegawai dapat berjalan dengan baik, maka semua faktor-faktor yang menjadi penyebab kenyamanan dalam bekerja dapat dipenuhi atau setidaknya dikurangi faktor penghambatnya. Dengan demikian diharapkan pegawai dapat bekerja dengan maksimal, sehigga secara tidak langsung turut membantu terlaksananya tugas. 1.2. Perumusan Masalah. Dari latar belakang di atas dapat dilihat bahwa permasalahan yang timbul adalah faktor kelelahan mata dapat menyebabkan penurunan kinerja pegawai/karyawan. Jadi masalah dalam penelitian ini adalah : 1.2.1. Bagaimana tingkat pencahayaan di ruang kerja Balitbang Kemhan ? 1.2.2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya kelelahan mata pada pegawai di lingkungan Balitbang Kementerian Pertahanan ? 1.3. Batasan Masalah. Dalam penelitian ini dilakukan pembatasan masalah, yaitu penelitian dilakukan pada pencahayaan di ruangan yang terkait dengan tingkat pencahayaan dan faktor-faktor penyebab terjadinya kelelahan mata pada pegawai di lingkungan Balitbang Kementerian Pertahanan.

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian. 1.4.1.Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi terhadap pencahayaan di ruang kerja pegawai Balitbang Kementerian Pertahanan, serta pengaruhnya terhadap kelelahan mata dan untuk mengurangi faktorfaktor yang menjadi penyebab kelelahan mata tersebut, agar pegawai tetap nyaman dalam menjalankan tugas dengan baik maka dicari upaya-upaya penanggulangannya. 1.4.2. Manfaat Penelitian. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pimpinan untuk dapat mewujudkan ruangan kerja yang nyaman dan memenuhi syarat dalam hal pencahayaan, dan mengurangi faktor-faktor penyebab kelehahan mata sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai Balitbang Kementerian Pertahanan. Dengan meningkatnya kinerja pegawai, maka usaha-usaha dalam melaksanakan tugas pertahanan negara dapat optimal. Dan diharapkan hasil penelitian ini secara ilmiah dapat digunakan oleh peneliti lain dalam mengembangkan penelitian sehingga dapat diwujudkan sistem pencahayaan ruangan yang lebih baik.

1.5. Sistematika Penulisan. Sistematika Penulisan yang dilakukan adalah : Bab I : Pendahuluan. Berisikan latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Bab II : Tinjauan pustaka. Menjelaskan definisi tentang cahaya, tingkat pencahayaan (iluminansi), pencahayaan dalam ruangan, standar

pencahayaan untuk bekerja, faktor yang mempengaruhi pencahayaan, hubungan antara pencahayaan dengan kelelahan mata dan kerangka pemikiran. Bab III : Metodologi Penelitian. Berisikan tentang cara-cara pengumpulan data,

pengolahan data yang didapat dari pengamatan langsung, wawancara dan pemotretan serta pengukuran dengan menggunakan luxmeter. Bab IV : Pengukuran dan Pembahasan. Berisikan tentang hasil-hasil dari penelitian dan

pengukuran di ruangan serta dari hasil pemotretan. Bab V : Kesimpulan dan Saran. Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil pengukuran tingkat pencahayaan dan dari hasil tersebut didapatkan ruangan mana saja yang memenuhi persyaratan dari ruangan yang telah diukur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum. Penelitian ini masuk dalam lingkup manajemen industri. Jadi dalam

penelitian ini lebih ditekankan pada aplikasi pencahayaan untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja daripada masalah fisika tentang cahaya itu sendiri. Dalam kajian teori ini akan dibicarakan tentang fisika cahaya, standar pencahayaan dalam bekerja di ruangan dan pada akhirnya tentang pengelolaan pencahayaan untuk meningkatkan kenyamanan kerja karyawan. 2.2. Cahaya. Cahaya dapat didefinisikan sebagai energi radiasi yang dapat dievaluasi secara visual, atau bagian dari spektrum radiasi elektromagnetik yang dapat dilihat. Cahaya berada pada daerah panjang gelombang 400 nm s.d. 800 nm (atau 380 nm s.d. 780 nm). Di luar daerah tersebut, mata manusia tidak

sensitif. Radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang di bawah 400 nm disebut sinar ultraviolet, sedangkan radiasi elektromagnetik di atas 800 nm disebut sinar inframerah.

Sumber : Light Measurement Handbook 1998 by Alex Ryer, International Light Inc

Gambar 2.1. Spektrum Cahaya

Cahaya merupakan hal penting bagi manusia dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Tanpa cahaya maka manusia akan kesulitan melakukan pekerjaannya. Berdasarkan sumbernya, cahaya dibagi menjadi dua macam, cahaya alami dan cahaya buatan. utama bagi kehidupan manusia. Sedangkan cahaya buatan merupakan cahaya yang dibuat oleh manusia untuk melakukan kegiatannya saat cahaya alami tidak dapat digunakan, yaitu pada kondisi malam hari dan pada ruangan tertutup. Bila cahaya digunakan sesuai kebutuhan maka akan sangat membantu kegiatan manusia. 2.3. Fotometri. Fotometri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran besaran-besaran cahaya, meliputi aspek-aspek psikofisis energi radiasi yang dapat terlihat oleh mata manusia. Besaran-besaran fotometri yang umum antara lain : 2.3.1. Fluks luminus. Fluks luminus () adalah laju aliran energi cahaya, atau energi radiasi yang telah dibebani dengan respon sensitivitas mata manusia per satuan waktu. Fluks luminus memiliki satuan lumen (lm). Pada panjang gelombang 555 nm, 1 Watt daya radiasi suatu sumber cahaya setara nilainya dengan fluks luminus sebesar 683 lumen. 2.3.2. Intensitas cahaya. Intensitas cahaya (I) adalah fluks luminus per satuan sudut ruang (, dalam steradian) dalam arah tertentu. Intensitas cahaya memiliki satuan candela (cd), atau setara dengan lumen/steradian. Cahaya alami merupakan sumber cahaya

.............................................................................. (1) ..... (1) Sudut ruang (, dalam steradian) adalah sudut yang dibentuk oleh suatu bidang pada permukaan bola, ditinjau dari titik pusat bola. Besarnya sudut ruang tergantung dari luas bidang (A) dan radius (r) bola tersebut, yaitu:

............................................................................1(2) ..... (2)

Sumber : Light Measurement Handbook 1998 by Alex Ryer, International Light Inc

Gambar 2.2. Sudut Ruang

2.3.3. Iluminansi. Iluminansi atau tingkat pencahayaan (E) adalah fluks luminus yang datang pada suatu permukaan per satuan luas (A, dalam m2) permukaan yang menerima cahaya tersebut. Iluminansi memiliki satuan lux (lx) atau setara dengan lumen/m2.

............................................................................. (3) ..... (3)

Iluminansi adalah besaran fotometri yang paling mudah diukur, yaitu dengan menggunakan alat fotometer/luxmeter yang terdiri dari suatu sensor dioda yang peka cahaya, dihubungkan dengan meter pembacaan

setelah terlebih dahulu dibobotkan menurut kurva sensitivitas mata manusia.

Sumber : Light Measurement Handbook 1998 by Alex Ryer, International Light Inc

Gambar 2.3. Hubungan Antara Iluminansi dan Jarak

sehingga, perbandingan antara E1 dan E2 Dari Gambar 2.3. terlihat bahwa sebuah sumber titik memancarkan cahaya dengan intensitas I cd pada arah sudut ruang . Sebuah bidang penerima pada jarak r1 dari sumber tersebut menerima fluks luminus sebesar lumen per satuan luas bidang A1. Demikian juga sebuah bidang penerima pada jarak r2 dari sumber tersebut menerima fluks luminus sebesar lumen per satuan luas bidang A2.

Hubungan matematis antara iluminansi, intensitas cahaya, dan jarak adalah:

................................................................... (4) ..... (4)

Menurut persamaan (2), A = r2, sedangkan I = / menurut persamaan (1). Maka:

adalah : ................................................................... (5) Persamaan (5) ini dikenal sebagai Hukum Kuadrat Terbalik (Inverse Square Law) untuk cahaya. Hukum Kuadrat Terbalik hanya berlaku untuk sumber cahaya yang berbentuk titik, atau pada jarak minimal 5 kali dimensi terbesar dari suatu sumber cahaya. Pada jarak kurang dari 5 kali dimensi terbesar sumber, pendekatan sumber titik tidak lagi dapat digunakan, dan untuk itu pendekatan sumber garis atau sumber bidang harus digunakan.

Sumber : Light Measurement Handbook 1998 by Alex Ryer, International Light Inc

Gambar 2.4. Iluminansi Pada Bidang Yang Tidak Tegak Lurus Arah Datangnya Cahaya

Pada Gambar 2.4. titik P terletak pada suatu bidang yang normalnya (N) membentuk sudut sebesar terhadap arah datangnya cahaya. Misalkan bidang di mana titik P berada kini diputar sebesar sudut sehingga

menjadi tegak lurus arah datangnya cahaya, maka iluminansi di titik P mula-mula (EP) memiliki hubungan dengan iluminansi di titik P setelah bidangnya diputar (EP) sebagai berikut:

.............................................................................. (6) (6)Persamaan (6) disebut Hukum Cosinus Lambert. Tetapi persamaan (5) mengisyaratkan bahwa EP = I/r2 , dengan I adalah intensitas cahaya dari sumber ( adalah sudut arah datangnya cahaya terhadap normal dari sumber) dan r adalah jarak titik P ke sumber cahaya. Maka :

............................................................................. (7) .... (7)

Persamaan (7) adalah gabungan dari Hukum Kuadrat Terbalik untuk cahaya dengan Hukum Cosinus Lambert. Persamaan ini juga hanya berlaku untuk pendekatan sumber titik.

10

2.4. Pencahayaan Dalam Ruangan. Pencahayaan dalam ruangan dapat dilakukan melalui tiga cara sebagai berikut: Tabel 2.1. Jenis-jenis Pencahayaan Dalam Ruangan. Jenis Pencahayaan Pencahayaan Alami Kelebihan Hemat Biaya Listrik Kekurangan - Iluminansi tidak merata di dalam ruangan. - Ruangan tidak bisa digunakan pada malam hari - Membutuhkan tenaga listrik untuk menyalakan lampu

Pencahayaan Buatan

- Iluminansi merata di dalam ruangan - Ruangan dapat tetap digunakan pada malam hari

Pencahayaan Gabungan

- Iluminansi merata di - Membutuhkan desain dalam ruangan ruangan yang baik agar - Ruangan dapat bisa mendapatkan digunakan pada siang dan pencahayaan yang merata malam hari dengan biaya di dalam ruangan. listrik yang rendah

Dari ketiga jenis pencahayaan tersebut, yang paling banyak digunakan saat ini adalah pencahayaan gabungan. Dengan menggunakan pencahayaan gabungan, maka pada siang hari daerah yang dekat dengan jendela tidak membutuhkan banyak lampu, dan lampu hanya digunakan di daerah yang jauh dengan jendela. Sedangkan pada malam hari ruangan tetap dapat digunakan dengan menggunakan lampu. 2.5. Standar Pencahayaan Untuk Bekerja. Gangguan pengelihatan dapat disebabkan oleh pencahayaan yang tidak sesuai, maupun akibat kesalahan desain pencahayaan. Menurut IES (illumination Engineer Society), sebuah ruang kerja dapat dikatakan memiliki

11

pencahayaan yang baik apabila memiliki iluminansi sebesar 300 lux yang merata pada bidang kerja. Apabila iluminansinya kurang atau lebih dari

300 lux, maka dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam bekerja, dan pada akhirnya menurunkan kinerja pegawai. Tingkat pencahayaan yang dibutuhkan dimasing-masing tempat kerja ditentukan dari jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi tingkat ketelitan suatu pekerjaan, maka akan semakin besar kebutuhan tingkat pencahayaan yang dibutuhkan demikian pula sebaliknya. Standar penerangan di Indonesia telah ditetapkan seperti tersebut dalam Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja. Standar penerangan yang

ditetapkan untuk di Indonesia secara garis besar hampir sama dengan standar internasional. Secara ringkas tingkat pencahayaan penerangan yang dimaksudkan dapat dijelaskan sebagai berikut : Penerangan untuk halaman dan jalan-jalan di lingkungan perusahaan harus mempunyai tingkat pencahayaan paling sedikit 20 lux. Untuk penerangan pekerjaan-pekerjaan yang hanya membedakan barang kasar dan besar paling sedikit mempunyai tingkat pencahayaan 50 lux. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara pintas paling sedikit mempunyai tingkat pencahayaan 100 lux. Penerangan untuk pekerjaan yang membeda-bedakan barang kecil agak teliti paling sedikit mempunyai tingkat pencahayaan 200 lux. Penerangan untuk pekerjaan yang lebih teliti dan barang-

12

barang yang kecil dan halus, paling sedikit mempunyai tingkat pencahayaan 300 lux. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang halus dengan kontras yang sedang dalam waktu yang lama harus mempunyai tingkat pencahayaan paling sedikit 500-1000 lux. Penerangan yang cukup

pekerjaan-pekerjaan membeda-bedakan barang yang sangat halus dengan kontras yang kurang dan dalam waktu yang lama, harus mempunyai tingkat pencahayaan paling sedikit 2000 lux.

13

Tingkat pencahayaan di ruang kerja dapat dibuat tabel seperti di bawah ini : Tabel 2.2. Tingkat Pencahayaan di Ruang Kerja. JENIS KEGIATAN TINGKAT PENCAHAYAAN MINIMAL (LUX) 100 KETERANGAN

Pekerjaan kasar dan tidak terus-menerus

Ruang penyimpanan dan peralatan atau instalasi yang memerlukan peker-jaan kontinyu Pekerjaan dengan mesin dan perakitan kasar Ruang administrasi, ruang kontrol, pekerjaan mesin dan perakitan Pembuatan gambar atau bekerja dengan mesin kantor, pemeriksaan atau pekerjaan dengan mesin Pemilihan warna, pemrosesan tekstil, pekerjaan mesin halus dan perakitan halus Mengukir dengan tangan, pemeriksaan pekerjaan mesin, dan perakitan yang sangat halus Pemeriksaan pekerjaan, perakitan sangat halus

Pekerjaan kasar terus-menerus Pekerjaan rutin

dan

200

300

Pekerjaan agak halus

500

Pekerjaan halus

1000 1500 tidak menimbulkan bayangan 3000 tidak menimbulkan bayangan

Pekerjaan sangat halus

Pekerjaan terinci

Sumber : http://www.mercubuana.ac.id/

2.6. Faktor Yang Mempengaruhi Pencahayaan. Sifat cahaya merupakan faktor yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan pencahayaan yang berkualitas. kualitatif dan kuantitatif. Adapun sifat cahaya dapat dijabarkan secara

Secara kuantitatif, tingkat pencahayaan yang

dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan tergantung dari tingkat ketelitian pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi tingkat ketelitian yang dibutuhkan,

14

maka tingkat pencahayaan yang dibutuhkan akan semakin besar. Akan tetapi jika terlalu besar, maka akan mengakibatkan ketidaknyamanan dalam bekerja. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan perancangan pencahayaan yang baik. Secara kualitatif, pencahayaan yang baik ditentukan oleh ada atau tidaknya kesilauan di tempat kerja, baik itu silau akibat sumber cahaya maupun silau akibat pantulan benda-benda yang dapat memantulkan cahaya, serta bayangan yang ditimbulkan oleh benda-benda yang tidak tembus cahaya. Adapun silau dibagi menjadi beberapa jenis : Disability glare, yaitu kesilauan yang menyebabkan ketidakmampuan untuk melihat, akibat terlalu banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata secara langsung. Discomfort glare, yaitu silau yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam melihat akibat kontras yang terlalu besar saat melakukan pekerjaan. Reflected glare, yaitu silau yang disebabkan karena pantulan cahaya oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya. 2.7. Hubungan Antara Pencahayaan Dengan Kelelahan Mata. Mata merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menerima cahaya yang kemudian diteruskan ke otak dan diterjemahkan sebagai sebuah benda. Untuk dapat melihat dengan baik, maka dibutuhkan pencahayaan yang baik pula. Baik buruknya pencahayaan dilihat dari standar yang ada dan jenis pekerjaan apa yang dilakukan. Penerangan yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya silau, sedangkan pencahayaan yang kurang dapat menyebabkan terjadinya kelelahan pada mata. Kelelahan pada mata terjadi akibat kerja berlebihan yang

15

dialami oleh otot-otot mata.

Jika cahaya kurang, maka otot mata akan

berakomodasi untuk dapat melihat benda yang sedang diamati. Jika akomodasi dilakukan secara terus menerus, maka mata akan mengalami kelelahan. Gejala kelelahan pada mata antara lain sebagai berikut : Iritasi : adalah rangsangan berlebihan pada mata yang dapat menimbulkan gangguan pada mata / penglihatan. Penglihatan ganda atau Diplopia : adalah suatu gangguan penglihatan yang mana obyek terlihat dobel atau ganda. Sakit di sekitar mata, penyakit mata yang sering menyerang kita diantaranya :
a. KONJUNGTIVITIS. Penyakit mata ini tergolong menular. Penyakit mata ini

terjadi karena adanya iritasi/peradangan akibat infeksi pada bagian selaput yang melapisi mata. Gejalanya mata memerah, terasa nyeri, berair, gatal, keluar kotoran (belekan), dan penglihatan (kabur). Penyakit bisa disebabkan oleh beberapa faktor,

seperti infeksi virus atau bakteri, alergi (debu, serbuk, bulu, angin, atau asap), penggunaan lensa kontak yang kurang bersih, dan pemakaian lensa kontak jangka panjang. Bayi juga dapat menderita penyakit serupa. Hanya saja penyebabnya lebih karena infeksi yang timbul ketika melewati jalan lahir. Pada bayi penyakit ini disebut konjungtivitis gonokokal Seperti yang kita ketahui bersama bahwa jalan lahir tidaklah steril dari kuman tertentu yang mungkin bisa menimbulkan infeksi. Ketika bayi lahir melalui jalan lahir (vagina), maka dengan mudah bayi tersebut terinfeksi oleh kuman-kuman yang ada di daerah tersebut. Jika mengenai mata bisa mengakibatkan infeksi pada mata dengan gejala mata merah dan belekan. Oleh karena itu, pada umumnya mata bayi baru

16

lahir akan ditetesi obat mata atau salep antibiotika untuk mematikan bakteri yang dapat menyebabkan konjungtivitis gonokokal. b. KERATOKONJUNGTIVITAS VERNALIS adalah iritasi/ peradangan

pada bagian kornea (selaput bening) akibat alergi sehingga menimbulkan rasa sakit. Gejala yang ditimbulkannya adalah mata merah, berair, gatal, kelopak mata bengkak, dan terjadi kotoran mata (belekan). Perlu diketahui penyakit ini merupakan peradangan yang berulang alias musiman dan penderitanya cenderung kambuh terutama pada musim panas. Terkadang penderita mengalami kerusakan pada sebagian kecil kornea yang menyebabkan nyeri yang akut. c. ENDOFTALMITIS merupakan infeksi yang terjadi di lapisan mata bagian

dalam sehingga bola mata bernanah. Gejalanya berupa mata merah, nyeri, bahkan sampai mengalami gangguan penglihatan. Biasanya terjadi karena mata tertusuk sesuatu seperti lidi atau benda tajam lainnya. Infeksi ini cukup berat sehingga harus segera ditangani karena bisa menimbulkan kebutaan. d. SELULITIS ORBITALIS yaitu peradangan pada jaringan di sekitar bola

mata. Gejalanya berupa mata merah, nyeri, kelopak mata bengkak, bola mata menonjol dan bengkak, serta penderita mengalami demam. Pada anak-anak sering terjadi akibat cedera mata, infeksi sinus atau infeksi yang berasal dari gigi. Diagnosa pasti dapat ditegakkan melalui rontgen gigi dan mulut atau CT Scan sinus. Selulitis Orbitalis yang tak segera ditangani bisa berakibat fatal, seperti kebutaan, infeksi otak atau pembekuan darah di otak. Untuk kasus yang tergolong ringan dapat diberikan antibiotika secara oral. Pada kasus berat

17

diberikan antibiotika melalui pembuluh darah atau bahkan pembedahan untuk mengeluarkan nanah ataupun mengeringkan sinus yang terinfeksi. e. TRAKOMA : adalah infeksi pada mata yang disebabkan bakteri

Chlamydia trachomatis. Bakteri ini berkembang biak di lingkungan yang kotor atau bersanitasi buruk. Lantaran itulah, trakoma sering menyerang anak-anak, terutama di berbagai negara berkembang. Pemaparan bakteri berlangsung saat anak menggunakan alat atau benda yang sudah tercemari Chlamydia seperti sapu tangan atau handuk. Gejala trakoma adalah mata merah, mengeluarkan kotoran (belekan), pembengkakan kelopak mata dan kelenjar getah bening, serta kornea kelihatan keruh. Penyakit ini sangat menular. f. BLEFARITIS. Di bagian bola mata terdapat lapisan air mata yang

berfungi melindungi bola mata dari iritasi. Lapisan yang sangat halus ini terdiri atas tiga kelenjar, yaitu kelenjar minyak, air dan lendir. Nah, blefaritis adalah suatu peradangan pada kelopak mata karena terjadinya produksi minyak yang berlebihan yang berasal dari kelenjar minyak tersebut. Tidak diketahui persis mengapa produksi minyak bisa menjadi berlebihan. Sayangnya kelebihan minyak ini ada di dekat kelopak mata yang juga sering didatangi bakteri. Gejala blefaritis berupa mata merah, nyeri, panas, gatal, berair, ada luka di bagian kelopak mata dan membengkak. Pada beberapa kasus sampai terjadi kerontokan bulu mata. Ada dua jenis blefaritis yaitu blefaritis anterior dan blefaritis posterior. Yang pertama merupakan peradangan di kelopak mata bagian luar depan yaitu di tempat melekatnya bulu mata. Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus. Yang kedua adalah peradangan di kelopak mata bagian

18

dalam, yaitu bagian kelopak mata yang bersentuhan dengan mata. Penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar minyak. g. DAKRIOSISTITIS. Penyebab dakriosistitis adalah penyumbatan yang

terjadi pada duktus nasolakrimalis yaitu saluran yang mengalirkan air mata ke hidung. Faktor alergilah yang menyebabkan terjadinya sumbatan pada saluran tersebut. Akibatnya adalah infeksi di sekitar kantung air mata yang menimbulkan nyeri, warna merah dan bengkak, bahkan bisa sampai mengeluarkan nanah dan penderita mengalami demam. Infeksi yang ringan biasanya akan cepat sembuh walau tetap ada pembengkakan. Sementara yang tergolong parah dapat menyebabkan kemerahan dan penebalan di atas kantung air mata. Jika terus berlanjut akan terbentuk kantung nanah. h. ULKUS KORNEA adalah infeksi pada kornea bagian luar. Biasanya

terjadi karena jamur, virus, protozoa atau karena beberapa jenis bakteri, seperti stafilokokus, pseudomonas atau pneumokokus. Penyebab awal bisa karena mata kelilipan atau tertusuk benda asing. Ulkus Kornea terkadang terjadi di seluruh permukaan kornea sampai ke bagian dalam dan belakang kornea. Ulkus Kornea yang memburuk dapat menyebabkan komplikasi infeksi di bagian kornea yang lebih dalam, perforasi kornea (terjadi lubang), kelainan letak iris (selaput pelangi) dan kerusakan mata. Gejalanya mata merah, nyeri, gatal, berair, muncul kotoran mata, peka terhadap cahaya (photo phobia), pada bagian kornea tampak bintik nanah warna kuning keputihan, dan gangguan penglihatan.

19

Selain itu beberapa gangguan mata yang biasanya juga menghinggapi kita diantaranya : a. Presbyopia (Rabun dekat menua). Penyakit ini menjangkiti orang

sudah memasuki usia lanjut. Jadi tidak akan ada orang yang mampu menghindarinya. Kondisi ini disebabkan karena gaya akomodasi lensa mata tak bekerja dengan baik akibatanya lensa mata tidak dapat menfokuskan cahaya ke titik kuning dengan tepat, sehingga mata tidak bisa melihat yang jauh maupun dekat. Gaya akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung dan memipih. Presbiopi dapat diatasi dengan lensa ganda yang berisi lensa plus dan minus. b. Miopia (Rabun jauh). Miopi adalah sebuah kerusakan refraktif mata di

mana citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam keadaan santai. Penderita penyakit ini tidak dapat melihat jarak jauh dan dapat ditolong dengan menggunakan kacamata negatif (cekung). Pada umumnya miopia merupakan kelainan yang diturunkan oleh orang tuanya sehingga banyak dijumpai pada usia dini sekolah. Ciri khas dari perkembangan miopia adalah derajat kelainan yang meningkat terus sampai usia remaja kemudian menurun pada usia dewasa muda. Walaupun agak jarang, miopia dapat pula disebabkan oleh perubahan kelengkungan kornea atau oleh kelainan bentuk lensa mata. c. Glaukoma adalah nama penyakit yang diberikan untuk sekumpulan

penyakit mata di mana terjadi kerusakan syaraf mata (nervus opticus) yang terletak di belakang mata dan mengakibatkan penurunan penglihatan tepi

20

(perifer) dan berakhir dengan kebutaan. Pada kebanyakan orang, kerusakan syaraf mata ini disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata sebagai akibat adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata (cairan jernih yang membawa oksigen, gula dan nutrient/zat gizi penting lainnya ke bagian-bagian mata dan juga untuk mempertahankan bentuk bola mata). Pada sebagian pasien kerusakan syaraf mata bisa juga disebabkan oleh suplai darah yang kurang ke daerah vital jaringan nervus opticus, adanya kelemahan struktur dari syaraf atau adanya masalah kesehatan jaringan syaraf. Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun. Lensa mata menjadi keruh dan cahaya tidak dapat menembusinya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total dan menghalangi jalan cahaya. dalam perkembangan katarak yang terkait dengan usia penderita dapat menyebabkan penguatan lensa, menyebabkan penderita menderita miopi, menguning secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru. Katarak biasanya berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi

membutakan jika tidak diobati. Kondisi ini biasanya mempengaruhi kedua mata, tapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain. d. Ablasio Retina adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel

pigmen retina (RIDE). keadaan ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia berapapun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua. Ablasio retina lebih besar kemungkinannya terjadi pada orang yang menderita rabun jauh (miopia) dan pada orang orang yang

21

anggota keluarganya ada yang pernah mengalami ablasio retina. Ablasio retina dapat pula disebabkan oleh penyakit mata lain, seperti tumor, peradangan hebat, akibat trauma atau sebagai komplikasi dari diabetes. Bila tidak segera dilakukan tindakan, ablasio retina dapat menyebabkan cacat penglihatan atau kebutaan yang menetap. e. Menurunnya daya akomodasi mata, Kemampuan akomodasi menurut

Helmhotz (1989) adalah : Lensa mata bersifat elastis. Lensa mata bila dalam keadaan normal bentuknya agak pipih dan kaku oleh karena pengaruh dari ligamentum suspensorium lentis (zonula zin). Bila terjadi akomodasi maka otot siliaris akan berkontraksi sehingga zonula zin kendor, lensa bertambah tebal, diameter lensa berkurang serta lensa bertambah cembung. Menurunnya ketajaman penglihatan. Jika kelelahan pada mata ini dialami dalam jangka watu yang lama, maka akan menyebabkan terjadinya kelelahan secara umum pada tubuh, yang pada akhirnya akan menurunkan kinerja pegawai. 2.8. Kerangka Pemikiran. Faktor dominan pencahayaan sangat berpengaruh terhadap dampak kelelahan mata personil yang ada di ruangan Puslitbang Iptekhan Balitbang Kemhan. Untuk mencari beberapa faktor tersebut diperlukan identifikasi

beberapa faktor-faktor dominan dalam kelelahan tersebut, baik dari segi input data, yang ada dalam faktor proses kelelahan mata dan sampai diperoleh faktor output pada kelelahan mata.

22

Disamping diperoleh data dari data primer, dilakukan juga perolehan data sekunder melalui literatur, kuesioner, dan wawancara. Dari data primer dan sekunder akan dilakukan analisa data sampai tercapai konsep awal hasil penelitian dampak pencahayaan ruangan pada kelelahan mata terhadap standar spesisifikasi teknis minimum yang dibutuhkan setiap personil.

Identifikasi faktor-faktor dominan Berpengaruh dalam Kelelahan Mata

Literatur

Kuesioner Input Wawancara Faktor proses Kelelahan Mata Faktor Output Kelelahan Mata Faktor Dominan berpengaruh dalam Kelelahan Mata

Konsep awal Dampak Pencahayaan terhadap Kelelahan Mata

Gambar 2.5. Kerangka Pemikiran Dampak Pencahayaan.

23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Definisi Konseptual. Untuk menemukan rumusan masalah yang dipaparkan di atas, digunakan

metode kuantitatif.

Penelitian kuantitatif merupakan pengamatan terhadap

objek berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, sehingga hasil pengamatan tidak dipengaruhi oleh pemikiran pengamat. Penelitian secara kuantitatif dilakukan menggambarkan permasalahan

pencahayaan di ruangan kerja pegawai.

Pelaksanaannya dilakukan dengan

melakukan pengukuran pencahayaan di dalam ruang kerja, dari hasil pengukuran ini didapat data iluminansi di dalam ruang kerja yang selanjutnya akan diolah lebih lanjut. 3.1.1. Tingkat Pencahayaan. Cahaya dapat didefinisikan sebagai energi radiasi yang dapat dievaluasi secara visual, atau bagian dari spektrum radiasi elektromagnetik yang dapat dilihat. Sedangkan menurut Huygens (1960) menganggap cahaya itu gejala gelombang. Dari sebuah sumber cahaya menjalarlah getaran-getaran kesemua jurusan. Setiap titik dari ruangan yang tergetar olehnya dapat dianggap sebagai sebuah pusat gelombang baru. Inilah prinsip Huygens yang belum bisa menjelaskan penjalaran cahaya dari satu medium ke medium lain. Dari hasil percobaan Einstein (1879-1955) dimana logam disinari dengan cahaya akan memancarkan elektron (gejala fotolistrik).

24

Hal ini dapat disimpulkan bahwa cahaya memiliki sifat partikel dan gelombang magnetik. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cahaya mempunyai sifat materi (partikel) dan sifat gelombang (J.F. Gabriel, 1996). 3.1.2. Kelelahan Mata. Definisi Kelelahan Mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan untuk melihat dalam jangka waktu yang lama yang biasanya disertai dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman (Pheansant, 1991). Menurut Sumamur (1996) kelelahan mata timbul sebagai stress intensif pada fungsi-fungsi mata seperti terhadap otot-otot akomodasi pada pekerjaan yang perlu pengamatan secara teliti terhadap retina sebagai akibat ketidaktepatan kontras. 3.2. Definisi Operasional. 3.2.1.Tingkat pencahayaan diukur dengan menggunakan alat luxmeter merk Krisbow, yang dinyatakan dengan satuan lux. 3.2.2.Kelelahan mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan

kemampuan untuk melihat jangka waktu yang lama yang biasanya disertai dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman. 3.2.3.Wawancara melalui dari 7 aspek yang diukur dengan usia, masa kerja, lamanya penggunaan komputer dalam satu hari, kelainan mata, mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas sehari-hari, merasakan silau dalam bekerja, merasa kelelahan pada mata setelah bekerja.

25

3.3. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Balitbang Kementerian Pertahanan yang beralamat di Jl. Jati No.1 Pangkalan Jati Pondok Labu Jakarta Selatan. Dan dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2011. 3.4. Populasi dan Sampel Penelitian. Populasi yang diteliti adalah seluruh anggota Balitbang Kementerian Pertahanan sebanyak 50 orang, sampel penelitian diambil keseluruhan yaitu 50 orang Puslitbang Iptekhan Balitbang Kementerian Pertahanan (Joko : 31). Tabel 3.1. Jumlah Sampel Responden. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Nama Ruangan Ruang Staf Ruang Kapuslitbang Iptekhan Ruang Rapat Ruang Kasubbid Daya Gerak Ruang Kasubbid Bek Komlek Ruang Ahu Ruang Kasubbid Daya Tempur Ruang Kabid Daya Gerak Ruang Kabid Daya Tempur Ruang Kabid Bek Komlek Ruang Kasubbag Tata Usaha Ruang Staf Kasubbag Tata Usaha Ruang Tafung Jumlah Jumlah Sampel 12 1 0 3 3 5 3 1 1 1 2 14 4 50

3.5. Teknik Pengumpulan Data. Dalam penelitian ini digunakan data primer dan data sekunder.

26

3.5.1. Data Primer. Dikumpulkan dengan dua macam cara yaitu antara lain : a. Observasi (pengamatan), yaitu melihat langsung fakta-fakta yang ada di lokasi penelitian. Variabel yang diobservasi adalah di setiap ruangan yang ada di Puslitbang Iptekhan Balitbang Kemhan. b. Penyebaran Kuisioner adalah pengumpulan data dengan

menyerahkan atau mengirim daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden berjumlah 50 orang anggota Balitbang Hasil dari kuisioner

Kemhan yang diambil secara keseluruhan.

digunakan sebagai acuan Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan dalam kuesioner ini mencakup dua bentuk yaitu : c. Pertama, pertanyaan terbuka tentang Dampak pencahayaan, pertanyaan yang memberikan kebebasan kepada responden, untuk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka. d. Kedua, pertanyaan terbuka tentang data masukan adalah pertanyaan dan pernyataan tidak memberikan kebebasan kepada responden, untuk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan responden. 3.5.2. Data sekunder. Data ini diperoleh dari berbagai literatur tentang pencahayaan, serta data yang berkaitan dengan elemen kegiatan personil terhadap kelelahan mata. Studi kepustakaan ini dapat digunakan untuk memenuhi kerangka

27

konseptual dari berbagai pengertian yang dipakai dalam penelitian. Disamping itu Data sekunder yang diambil adalah Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, kebersihan dan penerangan di tempat kerja. 3.6. Instrumen Penelitian. 3.6.1. Pengukuran Tingkat Pencahayaan. Metode dan cara pengukuran Tingkat Pencahayaan adalah sebagai berikut : a. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan luxmeter merk Krisbow

Gambar 3.1. Luxmeter Alat Untuk Mengukur Tingkat Pencahayaan

b. Alat luxmeter dinyalakan tombolnya pada posisi nol. c. Pengukuran dilakukan pada bidang kerja (meja), dan pada jarak 75 cm dari lantai pada titik pengukuran lainnya. d. Pengukuran dilakukan pada keadaan lampu di dalam ruangan menyala seluruhnya.

28

e. Pengukuran dilakukan pada beberapa titik di dalam ruangan. f. Dari hasil pengukuran didapatkan hasil dari tingkat pencahayaan pada masing-masing ruangan. g. Hasil pengukuran tersebut kemudian dirata-ratakan untuk

mendapatkan nilai rata-rata dari pencahayaan ruangan tersebut.

Gambar 3.2. Peneliti Sedang Melaksanakan Pengukuran Tingkat Pencahayaan

Gambar 3.3. Pelaksanaan PengukuranTingkat Pencahayaan Dengan Menggunakan Luxmeter

29

Gambar 3.4. Menunggu Hasil Pengukuran Tingkat Pencahayaan Dengan Menggunakan Luxmeter

3.6.2. Wawancara Dampak Pencahayaan Terhadap Kelelahan Mata yaitu usia, masa kerja, lamanya penggunaan komputer dalam sehari, kelainan mata, dari pencahayaan mengalami kesulitan dalam tugas sehari-hari, silau dalam bekerja dan kelelahan mata setelah bekerja. Tabel 3.2. Wawancara Dampak Pencahayaan Terhadap Kelelahan Mata. Variabel Kelelahan Mata Indikator 1. Usia 2. Masa kerja 3. Lamanya penggunaan komputer dalam sehar 4. Kelainan mata 5. Dari pencahayaan mengalami kesulitan dalam tugas sehar-hari 6. Silau dalam bekerja 7. Kelelahan mata setelah bekerja

Untuk mengetahui bagaimana pendapat para karyawan Balitbang Kementerian Pertahanan tentang kondisi pencahayaan yang di ruang kerja

30

mereka, maka dilakukan wawancara terhadap beberapa pegawai Balitbang Kemhan. Wawancara ini menanyakan tentang data pribadi responden, lamanya bekerja di lingkungan Balitbang Kemhan, frekuensi pemakaian komputer dalam sehari, serta pendapat subjektif mereka tentang kondisi pencahayaan di lingkungan kerja mereka. Responden berjumlah 50 orang anggota Balitbang Kemhan yang diambil secara keseluruhan. Hasil wawancara digunakan sebagai acuan apakah perlu dilakukan optimasi terhadap kondisi pencahayaan maupun tata letak di ruang kerja pegawai. Adapun hasil wawancara adalah sebagai berikut : 3.7. Metode Analisa Data. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut yaitu menggambarkan (representasi) data dalam suatu tabel sehingga mudah dilihat dan dianalisis selanjutnya, membandingkan antara hasil pengukuran tingkat pencahayaan ruangan dengan standar yang ada di Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja, hasilnya digambarkan suatu tabel sehingga dapat dilihat dengan pasti di tempat mana tingkat pencahayaan yang pencahayaannya sudah memenuhi persyaratan, selanjutnya hasil tabel ini digambarkan dalam suatu peta ruangan dan ditambahi dengan warna merah sebagai tanda bahwa ruangan tersebut tidak memenuhi tingkat penchayaannya dan akhirnya dirumuskan upaya untuk meningkatkan kinerja pegawai Balitbang Kementerian Pertahanan

31

bedasarkan peta ruangan yang menunjukkan tingkat pencahayaan secara lengkap. Reprosentasi data atau penggambaran data. Data yang dihasilkan dari pengumpulan data supaya lebih mudah untuk dilihat, diklasifikasikan dan digunakan untuk analisis selanjutnya, data perlu dibuat tabel. 3.8. Membandingkan data hasil pengukuran tingkat pencahayaan dengan standar

ketentuan yang berlaku antara spesifikasi teknik yang ditetapkan dengan hasil pengukuran di tiap-tiap ruangan. Representasi data yang sudah ada dalam tabel perlu kita lihat secara keseluruhan apakah sudah memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja.

3.9. Prosentase Ruangan Yang Memenuhi Persyaratan Tingkat Pencahayaan. Hasil dari tabel di atas dalam kolom keterangan disederhanakan sehingga dapat menentukan ruangan, lorong dan lingkungan sekitar yang tidak memenuhi tingkat pencahayaan atau tidak. Dari tabel ini dapat diketahui dengan jelas prosentasi ruangan yang tidak memenuhi tingkat pencahayaan sesuai dengan persyaratan peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja. Setelah diketahui dengan pasti bagaian-bagian ruangan mana yang memenuhi persyaratan atau tidak dapat dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan kerja Balitbang Kementerian Pertahanan.

32

33

BAB IV PENGUKURAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Deskripsi Objek Penelitian.

4.1.1. Denah Gedung Ir. Djuanda Balitbang Kementerian Pertahanan. Keterangan tiap-tiap ruangan disini hanya ruangan lantai 4 yaitu Puslitbang Iptekhan Balitbang Kementerian Pertahanan terdiri dari : a. b. Nomor 1 dengan nomor kode ruangan 5402 Staf Puslitbang Iptekhan Nomor 2 dengan nomor kode ruangan 5403 ruangan Kapuslitbang Iptekhan c. Nomor 3 dengan nomor kode ruangan 5403 ruangan Rapat Puslitbang Iptekhan d. Nomor 4 dengan nomor kode ruangan 5404 ruangan Kasubbid Daya Gerak Puslitbang Iptekhan e. Nomor 5 dengan nomor kode ruangan 5405 ruangan Kasubbid Bek Komlek Puslitbang Iptekhan f. Nomor 6 dengan nomor kode ruangan 5409 ruangan Ahu Puslitbang Iptekhan g. Nomor 7 dengan nomor kode ruangan 5411 ruangan Kasubbid Daya Gerak Puslitbang Iptekhan h. Nomor 8 dengan nomor kode ruangan 5412 ruangan Kabid Daya Gerak Puslitbang Iptekhan

33

i.

Nomor 9 dengan nomor kode ruangan 5413 ruangan Kabid Daya Tempur Puslitbang Iptekhan

j.

Nomor 10 dengan nomor kode ruangan 5414 ruangan Kabid Daya Bek Komlek Puslitbang Iptekhan

k.

Nomor 11 dengan nomor kode ruangan 5415 ruangan Kasubbag Tata Usaha Puslitbang Iptekhan

l.

Nomor 12 dengan nomor kode ruangan 5416 ruangan Staff Tata Usaha Puslitbang Iptekhan

m.

Nomor 13 dengan nomor kode ruangan 5417 ruangan Tenaga Fungsional Puslitbang Iptekhan

Gambar 4.1. Denah Ruangan

Gambar di atas merupakan denah ruangan gedung Ir. Djuanda Balitbang Kemhan. Sebagian ruangan tersebut ada yang memiliki jendela,

34

akan tetapi banyak juga ruangan tidak memiliki jendela yang langsung menghadap ke langit. Hal ini menyebabkan terdapat beberapa ruangan yang sudah cukup terang hanya dengan menggunakan sedikit penggunaan lampu, dan pada beberapa ruangan yang lain harus menggunakan lampu sepenuhnya agar pekerjaan dapat dilaksanakan. Selain itu, peletakan meja kerja juga dapat dikatakan belum sesuai dengan tata letak ruang kerja yang baik. Hal ini dikarenakan masih adanya meja yang langsung menghadap ke jendela, sehingga menyebabkan terjadinya silau. 4.2. Deskripsi Hasil Penelitian.

4.2.1. Karakteristik Berdasarkan Usia Responden.


45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2130TH 3140TH 4150TH 5160TH

Prosentase

Gambar 4.2. Histogram Berdasarkan Usia Responden Responden merupakan karyawan Balitbang Kemhan dengan usia yang beragam. Pemilihan responden ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh pencahayaan terhadap karyawan dari semua jenjang rentang umur. Responden berusia 21 30 tahun sebanyak 10 orang (12%), 31 40 tahun sebanyak 21 orang (42%), 41 50 tahun sebanyak 13 orang (26%), dan 51 60 tahun sebanyak 6 orang (26%).

35

Table 4.1. Karakteristik Berdasarkan Usia Responden. No. 1. 2. 3. 4. Usia Responden 21 - 30 Tahun 31 - 40 Tahun 41 - 50 Tahun 51 - 60 Tahun Jumlah Jumlah/Orang 10 21 13 6 50 Prosentase 20% 42% 26% 12% 100%

4.2.2. Berdasarkan Masa Kerja Responden.


25 20 15 10 5 0 < 1 th n 15thn 610thn 1115thn 1620thn 2125thn 2630th n Mas aKerja

Gambar 4.3. Berdasarkan Masa Kerja Responden

Masa kerja responden merupakan salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pencahayaan terhadap kerusakan ataupun kelelahan yang dialami oleh pegawai selama masa kerja mereka. sebanyak 11 responden (22%) memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun, 4 orang dengan masa kerja 1 - 5 tahun (8%), 8 orang dengan masa kerja 6 10 tahun (16%), 11 orang dengan masa kerja 11 15 tahun (22%), 6 orang dengan masa kerja 16 20 tahun (12%), 5 orang dengan masa kerja 21 25 tahun (10%), dan 5 orang dengan masa kerja 26 30 tahun (10%).

36

Table 4.2. Berdasarkan Masa Kerja Responden. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Masa Kerja Kurang dari 1 Tahun Lebih dari 1 sampai 5 Tahun Lebih dari 6 sampai 10 Tahun Lebih dari 11 sampai 15 Tahun Lebih dari 16 sampai 20 Tahun Lebih dai 21 sampai 25 Tahun Lebih dari 26 Sampai 30 Tahun Jumlah Jumlah/Orang 11 4 8 11 6 5 5 50 Prosentase 22% 84% 16% 22% 12% 10% 10% 100%

4.2.3. Berdasarkan Frekuensi Pemakaian Komputer Dalam Sehari.


50 40 30 20 10 0 <30mnt 3060mnt 12jam 23jam >3jam Jam/hari

Gambar 4.4. Berdasarkan Frekuensi Pemakaian Komputer. Frekuensi pemakaian komputer dalam satu hari berpengaruh terhadap tingkat kelelahan mata yang dialami pegawai saat melaksanakan pekerjaannya. Dari wawancara diketahui bahwa sebanyak 16% pegawai (8 orang) bekerja menggunakan komputer kurang dari 30 menit per hari, 14% (7 orang) selama 30 60 menit per hari, 50% (25 orang) selama 1 2 jam per hari, 15% (8 orang) dselama 2 3 jam per hari, dan hanya 4% (2 orang) yang bekerja lebih dari 3 jam per hari dengan menggunakan komputer.

37

Table 4.3. Berdasarkan Frekuensi Pemakaian Komputer Dalam Sehari. No. 1. 2. 3. 4. 5. Penggunaan Komputer Kurang dari 30 menit Lebih dari 30 sampai 60 menit Lebih dari 1 sampai 2 jam Lebih dari 2 sampai 3 jam Lebih dari 3 jam Jumlah Jumlah/Orang 8 7 25 8 2 50 Prosentase 16% 19% 50% 15% 4% 100%

4.2.4. Berdasarkan Kelainan Pada Mata Responden. Kelainan pada mata merupakan salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara dengan tujuan untuk mengetahui apakah kelelahan yang terjadi diakibatkan karena adanya kelainan pada mata, ataukah sebaliknya, kelelahan pada mata yang menyebabkan terjadinya kelainan pada mata. Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 12 orang (24%) memiliki mata normal, 20 orang (40%) mengalami rabun jauh, 12 orang (24%) mengalami rabun dekat, dan 6 orang (12%) mengalami rabun jauh dan rabun dekat. Table 4.4. Berdasarkan Kelainan Pada Mata Responden No. 1. 2. 3. 4. Kelainan Pada Mata Responden Rabun Jauh dan Dekat Rabun Dekat Mata Normal Rabun Jauh Jumlah Jumlah/Orang 6 12 12 20 50 Prosentase 12% 24% 24% 40% 100%

38

4.2.5. Berdasarkan Kemudahan dalam melaksanakan kegiatan. Kemudahan dalam melaksanakan kegiatan merupakan salah satu indikator untuk mengetahui apakah pencahayaan yang ada dalam ruangan sudah memenuhi kebutuhan untuk dapat melaksanakan kegiatan dengan mudah. Berdasarkan hasil wawancara, 33 orang (66%) menjawab bahwa mereka dapat melaksanakan kegiatan dengan mudah, 12 orang (24%) menjawab sulit, 5 orang (10%) menjawab tidak tahu.

Tabel 4.5. Berdasarkan Kemudahan Dalam Melaksanakan Kegiatan. No. 1. 2. 3. Kemudahan Dalam Melaksanakan Tugas Tidak Tahu Sulit Mudah Jumlah Jumlah/Orang 5 12 33 50 Prosentase 10% 24% 66 % 100%

a. Berdasarkan Kesilauan Dalam Bekerja. Kesilauan merupakan salah satu indikator baik buruknya suatu pencahayaan dalam ruangan. Saat wawancara, salah satu pertanyaan yang diberikan adalah apakah karyawan mengalami kesilauan dalam melaksanakan kegiatannya di dalam ruangan. Diketahui bahwa sebanyak 17 orang (34%) mengatakan bahwa mereka mengalami kesilauan saat bekerja, 8 orang (16%) mengatakan bahwa mereka tidak merasakan kesilauan, dan 25 orang (50%) mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui apakah mereka mengalami kesilauan atau tidak.

39

Tabel 4.6. Berdasarkan Kesilauan Dalam Bekerja. No. 1. 2. 3. Yang Merasakan Silau Dalam Bekerja Tidak merasakan silau Merasa silau Yang mengalami silau /tidak Jumlah Jumlah/Or ang 8 17 25 50 Prosentas e 16% 34% 50 % 100%

b. Berdasarkan Kelelahan Mata Dalam Bekerja. Pencahayaan yang kurang baik dapat menyebabkan kelelahan pada mata, yang pada akhirnya menyebabkan kelelahan pada tubuh secara keseluruhan. Dari kuisioner yang diberikan, diketahui bahwa sebanyak 36 orang (72%) mengalami kelelahan saat bekerja, 7 orang (14%) tidak mengalami kelelahan, dan 7 orang (14%) tidak tahu apakah mereka mengalami kelelahan atau tidak.

Tabel 4.7. Berdasarkan Kelelahan Mata Dalam Bekerja. No. 1. 2. 3. Yang Merasa Lelah Dalam Bekerja Tidak merasakan sama sekali Tidak merasa kelelahan Mengalami kelelahan dlm bekerja Jumlah Jumlah/ Orang 7 7 36 50 Prosentas e 14% 14% 72% 100%

4.3.

Hasil Pemotretan Masing-masing Ruangan Puslitbang Iptekhan. Dari hasil pengamatan di ruangan didapatkan juga berbagai macam

pencahayaan yang berbeda-beda dan hal ini dilakukan dengan pemotretan ruangan-ruangan yang terdapat pada Puslitbang Iptekhan Balitbang

40

Kementerian Pertahanan. Adapun hasil dari pelaksanaan pemotretan dapat dilihat dari hasil berikut ini :

Gambar 4.5. Nomor 1 dengan Nomor Kode Ruangan 5401 Ruang Staf

Gambar 4.6. Nomor 2 dengan Nomor kode Ruangan 5402 Ruang Kapuslitbang Iptekhan

41

Gambar 4.7. Nomor 3 dengan Nomor Kode Ruangan 5403 Ruang Rapat

Gambar 4.8. Nomor 4 dengan Nomor Kode Ruangan 5405 Ruang Kasubbid Bek Komlek

Gambar 4.9. Nomor 5 dengan Nomor Kode Ruangan 5409 Ruang Ahu

42

Gambar 4.10. Nomor 6 dengan Nomor Kode Ruangan 5411 Ruang Kasubbid Daya Tempur

Gambar 4.11. Nomor 7 dengan Nomor Kode Ruangan 5411 Ruang Kabid Daya Tempur

Gambar 4.12. Nomor 8 dengan Nomor Kode Ruangan 5410 Ruang Kabid Bek Komlek

43

Gambar 4.13 Nomor 9 dengan Nomor Kode Ruangan 5411 Ruang Kasubbag Tata Usaha

Gambar 4.14. Nomor 10 dengan Nomor Kode Ruangan 5416 Ruang Staf Kasubbag Tata Usaha

Gambar 4.14. Nomor 10 dengan Nomor Kode Ruangan 5416 Ruang Staf Kasubbag Tata Usaha

44

Gambar 4.15. Nomor 11 dengan Nomor Kode Ruangan 5417 Ruang Tenaga Fungsoinal

Gambar 4.15. Nomor 11 dengan Nomor Kode Ruangan 5417 Ruang Tenaga Fungsoinal

Gambar 4.15. Nomor 11 dengan Nomor Kode Ruangan 5417 Ruang Tenaga Fungsoinal

45

4.4.

Hasil Pengukuran Tingkat Pencahayaan Tiap-tiap Ruangan. Dari beberapa pengukuran dan pemotretan tingkat pencahayaan dibeberapa

ruangan Puslitbang Iptekhan Balitbang Kementerian Pertahanan mulai dari ruangan dengan nomor kode 5401 sampai nomor kode 5417 seperti terlihat pada tabel 4.8. Pencahayaan ruang Kapuslitbang Iptekhan merupakan pencahayaan alami. Pencahayaan ruang Tata Usaha lantai 4 gedung Ir. H. Djuanda merupakan pencahayaan gabungan antara pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Letak ruangan yang berada di ketinggian membuat pencahayaan ruang Tata Usaha lantai 4 tidak memiliki penghalang dari luar. Dengan demikian,

penggunaan pencahayaan pada ruangan ini dapat dimaksimalkan. Hasil pengukuran pencahayaan menunjukkan hasi tingkat pencahaayaan rata-rata sebesar 352 lux. Pencahayaan di ruang Tata Usaha sebetulnya dapat ditingkatkan dengan lebih memaksimalkan pencahayaan alami. Gangguan pengelihatan yang dialami pegawai di ruang Tata Usaha lantai 4 adalah silau yang terjadi pada monitor komputer, baik yang berasal dari cahaya alami dari jendela, maupun cahaya lampu ruangan. Ruang rapat lantai 4 memiliki sumber pencahayaan yang berasal dari pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pencahayaan di ruang rapat lantai 4 dapat dikatakan memenuhi standar pencahayaan. Hal ini dikarenakan letak ruangan yang berada di ketinggian. Dengan demikian faktor penghalang dari luar menjadi minimal. Hasil pengukuran pencahayaan menunjukkan hasil tingkat pencahyaan rata-rata sebesar 420 lux. Hal ini sudah memenuhi standar

46

pencahayaan untuk ruang kerja. Adapun gangguan pengelihatan hampir dikatakan tidak ada. Ruang Kabid di lantai 4 memiliki dua macam tipe pencahayaan, yaitu pencahayaan buatan dan pencahayaan gabungan. Ruang Kabid memiliki pencahayaan yang cukup baik. Hal ini diakarenakan oleh luasan jendela yang cukup besar, sehingga sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan menjadi cukup banyak. Hasil pengukuran tingkat pencahayaan menunjukkan nilai

rata-rata sebesar 450 lux. Adapun gangguan yang terjadi adalah kesulitan membaca akibat bayangan yang disebabkan posisi meja yang membelakangi jendela. Adapun ruangan para Kasubbid hanya menggunakan pencahayaan buatan karena tidak memiliki jendela yang langsung menghadap ke luar. Hasil pengukuran tingkat pencahayaan buatan menunjukkan hasil sebesar 289 lux. Adapun gangguan melihat yang dialami adalah silau yang terjadi akibat pantulan cahaya lampu pada monitor komputer. Dari hasil pengukuran tingkat pencahayaan di ruangan Puslitbang Iptekhan diperoleh hasil sebagai berikut :

47

Tabel 4.8. Standar Tingkat Pencahayaan. No. Nomor (Kode Ruangan) Tingkat Pencahayaan Rata-rata (Lux) 364 391 407 289 270 364 275 373 398 335 314 398 377 Standar Keterangan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

5401 (Ruang Staff) 5402 (Ruang Kapuslitbang Iptekhan) 5403 (Ruang Rapat) 5404 (Ruang Kabsubbid Daya Gerak) 5405 (Ruang Kasubbid Bek Komlek) 5409 (Ruang Ahu) 5411 (Ruang Kasubbid Daya Tempur) 5412 (Ruang Kabid Daya Gerak) 5413 (Ruang Kabid Daya Tempur) 5414 (Ruang Kabid Daya Bek Komlek) 5415 (Ruang Kasubbag Tata Usaha) 5416 (Ruang Staff Tata Usaha) 5417 (Ruang Tenaga Fungsional)

300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux

Memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar Tidak memenuhi standar Tidak memenuhi standar Memenuhi Standar Tidak memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar Memenuhi Standar

4.5.

Membandingkan Data Hasil Pengukuran Tingkat Pencahayaan Dengan

Stndar. Representasi data yang sudah ada dalam tabel perlu kita lihat secara keseluruhan apakah sudah memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat

48

Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja. Untuk memudahkan dalam membandingkan perlu dibuat tabel yang berisi kolom 1 nomor, kolom 2 nomor (kode ruangan), kolom tiga ini tingkat pencahayaan hasil pengukuran, kolom empat standar sesuai dengan peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja, dan kolom ke lima adalah keterangan. Pada keterangan ini akan dituliskan apakah tingkat pencahayaan memenuhi persyaratan atau tidak dibandingkan dengan peraturan. Tabel 4.9. Hasil Pengukuran Standar Dan Tidak Standarnya Tingkat Pencahayaan. Kode Ruangan No. Tingkat Pencahayaan Hasil Pengukuran

Standar

1.

5401

364 Lux

300 Lux

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

5402 5403 5404 5405 5409 5411 5412 5413 5414 5415 5416 5417

391 Lux 407 Lux 289 Lux 270 Lux 364 Lux 275 Lux 373 Lux 398 Lux 335 Lux 314 Lux 398 Lux 377 Lux

300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux 300 Lux

Keterangan Sesuai dengan peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1994, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja. Sesuai standar Sesuai standar Tidak memenuhi standar Tidak memenuhi standar Sesuai standar Tidak memenuhi standar Sesuai standar Sesuai standar Sesuai standar Sesuai standar Sesuai standar Sesuai standar

49

Presentasi ruangan yang memenuhi persyaratan intensitas cahaya. Hasil dari tabel di atas dalam kolom keterangan disederhanakan sehingga dapat menentukan ruangan dan lingkungan sekitar yang tidak memenuhi intensitas cahaya atau tidak. Dari tabel ini dapat diketahui dengan jelas prosentasi ruangan yang tidak memenuhi tingkat pencahayaan sesuai dengan persyaratan peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1994, tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja adalah ruang nomor 4 dengan nomor kode 5404 yaitu ruangan Kasubbid Daya Gerak dan nomor 5 dengan kode 5405 yaitu ruangan Kasubbid Bek Komlek dan nomor 7 dengan nomor kode 5411 yaitu ruangan Kasubbid Daya Tempur yang tidak memenuhi standar. Setelah diketahui dengan pasti bagaian-bagian ruangan mana yang memenuhi persyaratan atau tidak, dapat dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan kerja Balitbang Kemhan. Dengan demikian ruang kasubbid

Daya Gerak (dengan nomor kode 5404) kekurangan tingkat pencahayaannya sebesar 11 lux, ruang Kasubbid Bek Komlek (dengan nomor kode 5405) kekurangan tingkat pencahayaan sebesar 30 lux, dan Kasubbid Daya Tempur (dengan nomor kode 5411) kekurangan tingkat pencahayaannya sebesar 25 lux. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa sebagian besar ruangan kerja pegawai Balitbang Kemhan sudah memenuhi persyaratan minimum tingkat pencahayaan (iluminansi) untuk ruang kerja, yaitu sebesar 300 lux. Akan tetapi di beberapa ruangan masih terdapat pengaturan posisi meja kerja yang kurang baik dari segi pencahaayaan. Contoh yang paling

50

banyak ditemukan adalah posisi meja yang membelakangi jendela dan meja yang berada pada sisi kiri jendela. Hal ini dapat meyebabkan terjadinya bayangan yang menutupi bidang kerja pada saat bekerja di meja tersebut. Hal ini bisa dihindari dengan cara melakukan pengaturan ulang terhadap posisi meja kerja pada tiap ruangan. Contoh lainnya yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dari segi pencahayaan pada saat bekerja adalah peletakan monitor komputer yang menghadap ke jendela. Hal ini dapat menyebabkan adanya silau pada monitor akibat adanya pantulan cahaya dari jendela. Pengaturan posisi monitor yang

baik adalah membelakangi jendela, ataupun berada di sisi jendela. Dengan posisi tersebut, maka diharapkan kesilauan akibat cahaya pantul dari jendela dapat diminimalisir. Penggunaan krey pada jendela juga dapat dikurangi, mengingat faktor transmisi dari jendela sudah cukup kecil, yaitu sekitar 50%. Dengan faktor

transmisi kaca sebesar 50% tersebut sebetulnya sudah dapat mengurangi panas yang masuk tanpa harus menggunakan krey. Selain itu karena kaca jendela

yang dipakai merupakan kaca riben, maka tanpa penggunaan krey, privasi di dalam ruangan masih tetap terjaga. Dengan meminimalisir penggunaan

krey, maka diharapkan kontribusi pencahayaan alami di dalam ruangan dapat diperbesar. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah perlu adanya pengecekan berkala untuk mengetahui apakah lampu yang ada masih berfungsi seluruhnya ataukah ada yang sudah tidak berfungsi. Hal ini dirasakan perlu dilakukan

51

karena dari hasil pengamatan diketahui bahwa terdapat lampu yang sudah tidak menyala di banyak ruangan, akan tetapi lampu tersebut tidak diganti. Secara garis besar, dapat dirangkum beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan pencahayaan di dalam ruang kerja sebagai berikut: 1. Pengaturan posisi meja kerja agar tidak membelakangi jendela, maupun berada di sisi kiri jendela. 2. Pengaturan posisi monitor komputer agar jangan sampai membelakangi jendela. 3. Kurangi penggunaan tirai untuk meningkatkan kontribusi pencahayaan alami terhadap pencahayaan di dalam ruangan. 4. Melakukan pengecekan berkala agar dapat mengetahui apakah terdapat lampu yang sudah tidak menyala / mati. 5. Sebagian besar ruangan yang telah memenuhi standar persyaratan 10 ruangan yaitu sebesar 77%, sedangkan yang belum memenuhi standar persyaratan 3 ruangan yaitu sebesar 23%.

52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan. 5.1.1. Tingkat pencahayaan di ruangan Balitbang Kemhan sudah memenuhi standar persyaratan kecuali ruangan Kasubbid Daya Gerak, Kasubbid Bek Komlek, Kasubbid Daya Tempur Puslitbang Iptekhan dengan nilai lux 289, 270, dan 275 sehingga tidak memenuhi standar sesuai peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan di tempat kerja dengan tingkat pencahayaan kurang dari 300 lux. 5.1.2 Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan mata adalah pencahayaan yang : a. b. c. d. Kurang tingkat pencahayaannya. Arah cahaya ke mata. Penggunaan krey jendela. Pengaturan posisi meja dan monitor komputer.

5.2.

Saran. Untuk meningkatkan kinerja pegawai di Balitbang Kemhan disarankan

penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pengaturan letak fasilitas kerja ruangan Balitbang Kemhan bedasarkan pencahayaannya sehingga diperoleh kenyamanan kerja.

54

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, kebersihan dan penerangan di tempat kerja. Lighting Handbook 8th Edition, Illuminating Engineering Society of North America. 1993 Cahya Aryanti, Riski. Hubungan Antara Intensitas Penerangan Dan Suhu Udara Dengan Kelelahan Mata Karyawan Pada Bagian Administrasi Di PT. Hutama Karya Wilayah IV Semarang. Universitas Negeri Semarang. 2006 Ohno, Yoshihiro. OSA Handbook of applied photometry, 1996 Philips Lighting. Correspondence Course of Lighting Application: Quantities, units, and measurements. Philips Lighting. 1984. http://www.mediaindonesia.co.id/, tanggal 08 January 2011

55

56

Lampiran

KUESIONERPENELITIAN
Dengan hormat, Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu untuk meluangkan waktu dalam pengisian kuesioner ini dan hasilnya merupakan masukan yang sangat berarti bagi saya guna kelancaran tugas akhir untuk program Strata (S1) pada Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, penulis mendefinisikan permasalahan yaitu sejauh mana Pengaruh remunerasi terhadap karyawan Balitbang Kemhan dalam rangka peningkatan kinerja Litbang Kemhan.

NAMA BAGIAN JENIS KELAMIN UMUR PENDIDKAN GOLONGAN JABATAN

: : : : : : :

TANGGAL LAHIR :

PETUNJUK

Pada kuesioner ini bapak / ibu diminta memilih jawaban yang benar-benar sesuai dengan penilaian bapak / ibu . Berikan tanda () pada kotak pilihan

DAFTAR PERNYATAAN UNTUK REMUNERASI

Berilah tanda (), sesuai dengan pernyataan yang dipilih Keterangan : SS S = Sangat setuju = Setuju R = Ragu-ragu TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Pertanyaan Gaji yang diberikan perusahaan memenuhi kesejahteraan karyawan Salah satu kriteria yang dijalankan oleh perusahaan didalam memberikan imbalan adalah berdasarkan penilaian produktivitas kerja pegawai Manajemen tidak membedakan perlakuan terhadap karyawan didalam memberikan gaji dan promosi Instansi memberikan promosi jabatan yang lebih baik/tinggi apabila karyawan berprestasi Pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan telah sesuai dengan kemampuan Insensif dan ganjaran lainnya yang saya terima telah memuaskan dan menambah semangat kerja Insentif yang diterima selalu tepat waktu dan sesuai dengan hasil kerja Dukungan pengobatan yang diberikan cukup baik Tunjangan hari raya yang diberikan sangat membantu karyawan dan menambah semangat kerja Imbalan/Insentif (diluar gaji) diberikan berdasarkan prestasi Atasan sangat memperhatikan kesejahteraan seluruh bawahannya Perusahaan memberikan penghargaan yang memadai kepada anda bila berhasil mengimplementasikan ide dan cara baru Penghasilan yang diterima sudah mencukupi kebutuhan minimal Setujukah saudara jika hadiah yang diberikan sebaiknya tidak dalam bentuk uang Jika suatu saat kebijakan perusahaan berubah, setujukah saudara bila bonus dihapus

SS

Jawaban R TS

STS

Kewajiban apel pagi dan apel siang di satker saudara merupakan bagian dari pembinaan disiplin pegawai

17 18 19

20

Kewajiban apel pagi dan apel siang tidak dapat dijadikan ukuran disiplin pegawai Penerapan sanksi disiplin pegawai hendaknya tidak pandang buluh (tidak hanya menghukum bawahan) Pegawai yang patuh/taat terhadap peraturan, memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi patut mendapat penghargaan Penghargaan dalam penegakan disiplin tidak perlu diberikan karena disiplin merupakan kewajiban pegawai

DAFTAR PERNYATAAN UNTUK KINERJA Berilah tanda (), sesuai dengan pernyataan yang dipilih Keterangan : SS S = Sangat setuju = Setuju R = Ragu-ragu TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju

Jawaban No 1 2 3 Pertanyaan STS TS RG S SS

7 8

Pimpinan merasa puas dan menghargai hasil kerja saudara Pimpinan tidak pernah mau menghargai hasil kerja saudara Untuk meningkatkan kinerja pegawai dan organisasi, pimpinan perlu memprioritaskan pengembangan SDM Pengembangan SDM tidak harus menjadi prioritas dalam peningkatan kinerja Pengetahuan dan pemahaman saudara tentang pekerjaan akan sangat membantu penyelesaian tugas dengan baik Penguasaan terhadap tugas tertentu hanya akan membebani saudara, sebab orang lain tidak akan bisa mengerjakannya Saudara dapat menggunakan peralatan kantor yang tersedia secara optimal Peralatan kerja yang tersedia di ruangan saudarasangat terbatas membuat saudaramenjadi malas bekerja Dalam hal mengerjakan pekerjaan, pimpinan selalu menghendaki efisiensi kerja

10

11

12

13

14

15

16 17

18

19

20

Efesiensi dan efektfitas dalam pelaksanaan tugas akan menyebabkan lambatnya penyelesaian tugas Perencanaan yang baik merupakan kunci bagi efisiensi dan efektifitas suatu pekerjaan Efisiensi dan efektifitas membuat kemampuan semua kemampuan elemen dalam organisasi saudara terbatas Saudara akan berupaya bekerja dengan mekanisme yang berlaku dalam organisasi Saudara akan berupaya bekerja dengan baik jika memberikan keuntungan pribadi semata Saudara akan memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan oleh pimpinan Karena saudara dekat dengan pimpinan, wajar saudara sering memanfaatkannya Saudara akan berupaya menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan dengan penuh tanggung jawab melebihi kepentingan pribadi dan keluarga Saudara sering berbeda pendapat dengan atasan dalam penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawab saudara Saudara selalu bekerja dengan giat dan semangat serta mengikuti petunjuk atasan Saudara akan bersemangat bekerja jika pekerjaan itu memberikan keuntungan finansial bagi saudara

Lampiran 1
Tabel Koefisien Korelasi ( r ) Product Moment Taraf Signifikansi 5% 3 4 5 6 7 8 9 10 0.997 0.950 0.878 0.811 0.754 0.707 0.666 0.632 1% 0.999 0.990 0.959 0.917 0.874 0.834 0.798 0.765 26 27 28 29 30 31 32 33 34 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 0.602 0.576 0.553 0.532 0.514 0.497 0.482 0.468 0.456 0.444 0.735 0.708 0.684 0.661 0.641 0.623 0.606 0.590 0.575 0.561 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 21 22 23 24 25 0.433 0.432 0.413 0.404 0.396 0.549 0.537 0.526 0.515 0.505 46 47 48 49 50 Taraf Signifikansi 5% 0.388 0.381 0.374 0.367 0.361 0.355 0.349 0.344 0.339 0.334 0.329 0.325 0.320 0.316 0.312 0.308 0.304 0.301 0.297 0.294 0.291 0.288 0.284 0.281 0.279 1% 0.496 0.487 0.478 0.470 0.463 0.456 0.449 0.422 0.436 0.430 0.424 0.418 0.413 0.408 0.403 0.398 0.393 0.389 0.384 0.380 0.376 0.372 0.368 0.364 0.361 600 700 800 900 1000 0.080 0.074 0.070 0.065 0.062 0.105 0.097 0.091 0.086 0.081 125 150 175 200 300 400 500 0.176 0.159 0.148 0.138 0.113 0.098 0.088 0.230 0.210 0.194 0.181 0.148 0.128 0.115 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 Taraf Signifikansi 5% 0.266 0.254 0.244 0.235 0.227 0.220 0.213 0.207 0.202 0.195 1% 0.345 0.330 0.317 0.306 0.296 0.286 0.278 0.270 0.263 0.256

Sumber : Burhan Nurgiantoro, Gawan & Marzuki (2002), Statisktik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosisal, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Lampiran Tabel t
Nilai t Tabel
DF 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 0,01 63.656 9.925 5.841 4.604 4.032 3.707 3.499 3.355 3.250 3.169 3.106 3.055 3.012 2.977 2.947 2.921 2.898 2.878 2.861 2.845 2.831 2.819 2.807 2.797 2.787 2.779 2.771 2.763 2.756 2.750 2.744 2.738 2.733 2.728 2.724 2.719 2.715 2.712 2.708 2.704 2.701 2.698 2.695 2.692 2.690 2.687 2.685 2.682 2.680 2.678 0,025 25.452 6.205 4.177 3.495 3.163 2.969 2.841 2.752 2.685 2.634 2.593 2.560 2.533 2.510 2.490 2.473 2.458 2.445 2.433 2.423 2.414 2.405 2.398 2.391 2.385 2.379 2.373 2.368 2.364 2.360 2.356 2.352 2.348 2.345 2.342 2.339 2.336 2.334 2.331 2.329 2.327 2.325 2.323 2.321 2.319 2.317 2.315 2.314 2.312 2.311 0,05 12.706 4.303 3.182 2.776 2.571 2.447 2.365 2.306 2.262 2.228 2.201 2.179 2.160 2.145 2.131 2.120 2.110 2.101 2.093 2.086 2.080 2.074 2.069 2.064 2.060 2.056 2.052 2.048 2.045 2.042 2.040 2.037 2.035 2.032 2.030 2.028 2.026 2.024 2.023 2.021 2.020 2.018 2.017 2.015 2.014 2.013 2.012 2.011 2.010 2.009 0,1 6.314 2.920 2.353 2.132 2.015 1.943 1.895 1.860 1.833 1.812 1.796 1.782 1.771 1.761 1.753 1.746 1.740 1.734 1.729 1.725 1.721 1.717 1.714 1.711 1.708 1.706 1.703 1.701 1.699 1.697 1.696 1.694 1.692 1.691 1.690 1.688 1.687 1.686 1.685 1.684 1.683 1.682 1.681 1.680 1.679 1.679 1.678 1.677 1.677 1.676 DF 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 0,01 2.676 2.674 2.672 2.670 2.668 2.667 2.665 2.663 2.662 2.660 2.659 2.657 2.656 2.655 2.654 2.652 2.651 2.650 2.649 2.648 2.647 2.646 2.645 2.644 2.643 2.642 2.641 2.640 2.639 2.639 2.638 2.637 2.636 2.636 2.635 2.634 2.634 2.633 2.632 2.632 2.631 2.630 2.630 2.629 2.629 2.628 2.627 2.627 2.626 2.626

0,025 2.310 2.308 2.307 2.306 2.304 2.303 2.302 2.301 2.300 2.299 2.298 2.297 2.296 2.295 2.295 2.294 2.293 2.292 2.291 2.291 2.290 2.289 2.289 2.288 2.287 2.287 2.286 2.285 2.285 2.284 2.284 2.283 2.283 2.282 2.282 2.281 2.281 2.280 2.280 2.280 2.279 2.279 2.278 2.278 2.277 2.277 2.277 2.276 2.276 2.276 0,05 2.008 2.007 2.006 2.005 2.004 2.003 2.002 2.002 2.001 2.000 2.000 1.999 1.998 1.998 1.997 1.997 1.996 1.995 1.995 1.994 1.994 1.993 1.993 1.993 1.992 1.992 1.991 1.991 1.990 1.990 1.990 1.989 1.989 1.989 1.988 1.988 1.988 1.987 1.987 1.987 1.986 1.986 1.986 1.986 1.985 1.985 1.985 1.984 1.984 1.984 0,1 1.675 1.675 1.674 1.674 1.673 1.673 1.672 1.672 1.671 1.671 1.670 1.670 1.669 1.669 1.669 1.668 1.668 1.668 1.667 1.667 1.667 1.666 1.666 1.666 1.665 1.665 1.665 1.665 1.664 1.664 1.664 1.664 1.663 1.663 1.663 1.663 1.663 1.662 1.662 1.662 1.662 1.662 1.661 1.661 1.661 1.661 1.661 1.661 1.660 1.660

Sumber : Mengolah Data Statistik Secara Profesional, Singgih Santoso 2001

Lampiran Tabel
Resp. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 3 3 4 3 3 3 3 5 4 5 3 3 3 4 4 3 5 4 3 5 3 4 5 3 3 3 3 5 5 3 2 3 3 3 3 3 3 3 5 4 5 3 3 3 4 4 3 3 3 3 5 3 4 5 3 3 3 3 3 5 3 3 3 3 2 3 3 3 3 5 3 5 3 2 2 3 4 3 4 3 3 5 3 4 5 2 3 3 3 3 5 3

Hasil jawaban responden uji coba variabel Remunerasi (X)


4 3 3 2 5 2 3 2 5 3 5 3 2 3 3 3 3 4 4 3 5 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 5 4 4 3 5 3 3 3 5 5 5 3 3 3 5 4 3 4 4 5 5 3 4 5 3 5 4 5 3 5 3 6 4 4 2 5 3 3 3 5 4 5 3 2 2 4 4 3 4 3 5 5 3 4 5 2 5 4 5 3 3 3 7 3 3 2 5 2 3 2 5 5 5 3 2 2 5 3 3 4 3 5 5 3 3 3 2 5 3 5 3 3 3 8 3 3 3 5 3 3 3 5 4 5 3 3 3 4 3 3 4 4 5 5 3 3 3 3 5 3 5 5 5 3 9 3 3 5 5 3 3 3 5 4 5 3 5 5 4 4 3 4 4 3 5 3 4 5 5 5 3 5 5 5 3 10 3 3 5 3 3 5 3 5 3 5 3 5 5 3 4 3 3 4 3 5 3 4 5 5 3 3 3 5 3 3 11 3 3 3 3 3 3 3 5 2 5 3 3 3 2 4 3 4 4 3 5 3 4 5 3 3 3 3 3 3 3 12 4 4 2 3 3 3 3 5 3 5 3 2 3 3 3 3 4 4 3 5 3 3 5 2 3 4 3 5 3 3 13 3 3 3 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 3 3 5 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 3 5 2 14 5 5 3 3 2 3 2 5 2 3 3 3 3 2 4 3 5 3 3 5 3 4 5 3 3 5 3 3 3 4 15 5 4 2 3 2 3 2 5 2 4 3 2 2 2 3 3 5 4 3 5 3 3 5 2 3 5 3 4 3 4 16 4 3 3 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 3 3 5 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 4 3 3 17 3 4 3 3 3 3 3 5 2 5 3 3 3 2 3 3 3 4 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 3 18 4 3 5 5 5 3 5 5 4 5 3 5 5 4 4 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 4 5 5 3 4 19 3 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 3 3 5 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 3 5 2 20 4 3 4 5 3 3 3 5 2 5 3 4 3 2 3 3 4 4 5 5 3 3 5 3 3 3 5 5 5 3 Jml 70 68 62 76 58 62 58 100 65 97 60 61 62 65 70 60 83 73 72 100 60 70 94 60 72 69 74 78 78 61

Hasil uji validitas variable remunerasi (X) Reliability


Case Processing Summary N Cases Valid Excluded Total
a

% 30 0 30 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .941 N of Items 20

Item Statistics Mean VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 3.67 3.47 3.30 3.17 3.97 3.67 3.43 3.73 4.07 3.77 3.33 3.40 3.37 3.43 3.30 3.43 3.33 4.33 3.40 3.70 Std. Deviation .844 .776 .915 .874 .890 1.028 1.135 .907 .907 .935 .802 .894 .850 1.006 1.088 .774 .844 .802 .855 .988 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 67.60 67.80 67.97 68.10 67.30 67.60 67.83 67.53 67.20 67.50 67.93 67.87 67.90 67.83 67.97 67.83 67.93 66.93 67.87 67.57 Scale Variance if Item Deleted 140.041 141.959 137.757 139.610 141.321 139.007 140.764 142.051 144.717 148.052 140.271 138.533 138.714 143.316 137.964 140.006 140.271 149.857 138.947 138.875 Corrected ItemTotal Correlation .756 .719 .803 .749 .650 .651 .513 .600 .473 .305 .786 .785 .820 .478 .654 .833 .744 .273 .803 .687 Cronbach's Alpha if Item Deleted .936 .937 .935 .936 .937 .938 .941 .938 .940 .943 .935 .935 .935 .941 .938 .935 .936 .943 .935 .937

Scale Statistics Mean 71.27 Variance 155.857 Std. Deviation 12.484 N of Items 20

Hasil uji validitas variable remunerasi (X) putaran 2 Reliability


Case Processing Summary N Cases Valid Excluded Total
a

% 30 0 30 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .947 N of Items 18

Item Statistics Mean VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00019 VAR00020 3.67 3.47 3.30 3.17 3.97 3.67 3.43 3.73 4.07 3.33 3.40 3.37 3.43 3.30 3.43 3.33 3.40 3.70 Std. Deviation .844 .776 .915 .874 .890 1.028 1.135 .907 .907 .802 .894 .850 1.006 1.088 .774 .844 .855 .988 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00019 VAR00020 59.50 59.70 59.87 60.00 59.20 59.50 59.73 59.43 59.10 59.83 59.77 59.80 59.73 59.87 59.73 59.83 59.77 59.47 Scale Variance if Item Deleted 127.776 129.390 124.740 126.828 128.234 125.776 127.444 129.426 133.403 128.282 125.978 126.234 130.271 124.878 127.720 128.489 126.323 127.016 Corrected ItemTotal Correlation .744 .720 .837 .767 .678 .688 .545 .603 .404 .758 .793 .824 .497 .684 .822 .705 .814 .660 Cronbach's Alpha if Item Deleted .943 .944 .941 .943 .944 .944 .948 .945 .949 .943 .942 .942 .948 .944 .942 .944 .942 .945

Scale Statistics Mean 63.17 Variance 142.695 Std. Deviation 11.946 N of Items 18

Lampiran Hasil jawaban responden uji coba variabel Kinerja (Y)


Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 4 3 3 3 2 3 2 5 3 5 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 3 4 5 3 3 3 3 5 3 2 2 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 3 4 5 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 5 3 3 3 5 3 5 3 3 5 3 3 3 3 4 5 5 3 3 5 5 5 3 5 4 3 3 4 3 3 5 3 2 3 2 5 4 5 3 5 3 4 3 3 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 5 3 5 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 5 5 4 3 3 4 3 5 3 4 5 5 3 4 3 3 3 3 6 3 4 5 3 3 3 3 5 2 5 3 5 3 2 3 3 3 4 3 5 3 3 5 3 3 4 3 3 3 3 7 3 3 4 3 2 3 2 5 2 5 3 4 5 2 5 3 3 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 5 2 3 8 4 4 3 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 5 3 4 4 3 5 3 5 5 3 3 4 3 3 3 3 9 2 4 3 3 2 3 2 4 2 3 3 3 2 2 2 3 3 5 3 5 3 4 5 5 3 4 3 3 3 2 10 4 4 3 5 3 3 3 5 2 5 3 3 2 2 3 3 3 4 3 5 3 3 5 2 3 4 3 4 3 2 11 3 3 3 3 3 3 3 5 5 5 3 3 2 5 3 3 3 4 3 5 3 3 5 2 3 3 3 5 3 4 12 3 3 4 3 3 3 3 5 3 5 3 4 2 3 4 4 3 4 3 5 3 4 5 2 3 3 3 5 4 4 13 5 3 4 3 3 3 3 2 3 2 3 4 2 3 4 3 2 3 3 5 3 5 5 3 3 3 3 3 3 4 14 4 3 4 3 3 3 3 5 4 5 3 4 3 3 5 3 4 3 3 5 3 5 5 3 3 3 3 3 3 4 15 4 4 2 5 3 3 3 5 4 5 3 2 2 4 5 3 4 5 5 5 3 5 5 2 5 4 5 5 5 4 16 3 4 2 5 3 3 3 5 2 5 3 4 2 2 4 3 4 5 5 5 3 4 5 2 5 4 5 3 5 3 17 5 3 4 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 3 3 3 4 3 5 3 3 5 3 3 3 3 4 3 3 18 3 4 2 5 2 3 2 5 2 5 3 2 2 2 5 3 3 4 5 5 3 5 5 2 5 4 5 4 3 4 19 4 3 4 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 3 3 3 4 3 5 3 3 5 3 3 3 3 4 3 3 20 4 4 2 3 3 3 3 5 3 5 3 2 2 3 3 3 3 4 3 5 3 3 5 2 3 4 3 3 3 3 Jml 71 68 66 70 55 60 55 93 59 92 60 68 57 60 75 61 63 78 68 100 60 76 100 61 68 70 68 77 66 62

Hasil uji validitas variable Kinerja (Y) putaran 1

Reliability
Case Processing Summary N Cases Valid Excluded Total
a

% 30 0 30 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .933 N of Items 20

Item Statistics Mean VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 3.33 3.40 3.73 3.53 3.37 3.43 3.47 3.57 3.13 3.33 3.47 3.53 3.27 3.60 3.97 3.70 3.47 3.57 3.43 3.27 Std. Deviation .884 .770 .944 .973 .890 .898 1.074 .817 .973 .959 .937 .860 .868 .814 1.098 1.119 .776 1.223 .728 .868 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 66.23 66.17 65.83 66.03 66.20 66.13 66.10 66.00 66.43 66.23 66.10 66.03 66.30 65.97 65.60 65.87 66.10 66.00 66.13 66.30 Scale Variance if Item Deleted 135.013 137.937 142.006 139.206 151.683 138.326 137.128 137.586 139.702 135.082 139.817 137.275 147.045 139.689 137.697 136.602 138.369 133.448 138.395 137.045 Corrected ItemTotal Correlation .858 .823 .468 .578 .043 .677 .602 .791 .555 .782 .574 .764 .267 .680 .564 .595 .792 .654 .847 .769 Cronbach's Alpha if Item Deleted .926 .927 .933 .931 .940 .929 .931 .927 .931 .927 .931 .928 .936 .929 .932 .931 .928 .930 .927 .928

Scale Statistics Mean 69.57 Variance 153.426 Std. Deviation 12.387 N of Items 20

Hasil uji validitas variable Kinerja (Y) putaran 2

Reliability
Case Processing Summary N Cases Valid Excluded Total
a

% 30 0 30 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .944 N of Items 18

Item Statistics Mean VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 3.33 3.40 3.73 3.53 3.43 3.47 3.57 3.13 3.33 3.47 3.53 3.60 3.97 3.70 3.47 3.57 3.43 3.27 Std. Deviation .884 .770 .944 .973 .898 1.074 .817 .973 .959 .937 .860 .814 1.098 1.119 .776 1.223 .728 .868 N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 59.60 59.53 59.20 59.40 59.50 59.47 59.37 59.80 59.60 59.47 59.40 59.33 58.97 59.23 59.47 59.37 59.50 59.67 Scale Variance if Item Deleted 127.972 130.809 134.510 131.903 130.948 130.257 130.654 132.993 127.421 132.395 129.972 132.851 130.171 128.737 131.223 126.033 131.155 129.540 Corrected ItemTotal Correlation .855 .821 .477 .582 .687 .589 .778 .531 .809 .584 .772 .658 .578 .625 .789 .668 .850 .787 Cronbach's Alpha if Item Deleted .938 .939 .945 .943 .941 .943 .939 .944 .938 .943 .939 .941 .943 .942 .939 .942 .939 .939

Scale Statistics Mean 62.93 Variance 145.857 Std. Deviation 12.077 N of Items 18

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

DATAREGRESI X Y 47 42 45 43 52 50 69 56 60 54 45 36 42 35 50 47 46 40 56 50 48 42 40 32 40 32 45 40 60 51 45 45 52 53 47 51 45 45 55 44 40 43 44 40 45 34 52 47 57 49 53 50 56 39 56 52 60 55 46 39 60 51 45 45 52 53 47 51 45 45 55 44 40 43 44 40

40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

45 52 57 53 56 56 60 46 47 45 48 69 60 50 42 45 56 46 40 40 52

34 47 49 50 39 52 55 39 42 50 50 56 54 36 35 40 47 43 42 32 32

Regression

Descriptive Statistics Mean KINERJA REMUNERASI 44.53 49.93 Std. Deviation 6.873 7.054 N 60 60

Correlations KINERJA Pearson Correlation KINERJA REMUNERASI Sig. (1-tailed) KINERJA REMUNERASI N KINERJA REMUNERASI 1.000 .706 . .000 60 60 REMUNERASI .706 1.000 .000 . 60 60

Variables Entered/Removed Variables Model 1 Entered REMUNERASI


a

Variables Removed Method . Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: KINERJA

Model Summaryb Adjusted R Model 1 R .756


a

Std. Error of the Estimate

R Square .572

Square .567

.491

a. Predictors: (Constant), REMUNERASI b. Dependent Variable: KINERJA

ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 1388.716 1398.217 2786.933 df

Mean Square 1 58 59 1388.716 24.107

F 57.606

Sig. .000
a

a. Predictors: (Constant), REMUNERASI b. Dependent Variable: KINERJA

Coefficients

Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) REMUNERASI a. Dependent Variable: KINERJA B 10.190 .688 Std. Error 4.569 .091 .706 Coefficients Beta t 2.230 7.590 Sig. .030 .000

Jadwal Kegiatan Penelitian Bulan 1 2 3 4 Bulan 2 2 3 4 Bulan 3 2 3 4

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Kegiatan Pengajuan judul proposal Perbaikan judul Konsultasi Bab I dan Bab II Konsultasi perbaikan Bab I dan Bab II Konsultasi Bab III dan Bab IV Konsultasi perbaikan Bab III dan Bab IV Konsultasi kuesioner Ujian Proposal Konsultasi hasil revisi proposal Konsultasi uji validitas dan reliabilitas Penyebaran kuesioner Pengolahan data Konsultasi hasil olah dengan SPSS 17 Konsultasi perbaikan Konsultasi keseluruhan penelitian (Bab I V, lampiran dll)

Anda mungkin juga menyukai