Anda di halaman 1dari 70

ABSTRAK

PT. CITILITE BUANA PUTRA adalah manufaktur pemroduksi kap lampu TL. PT. Citilite Buana Putra menerapkan strategi operasi produksi MTO (Make To Order). PT. CITILITE BUANA PUTRA tersebut memproduksi beberapa tipe kap lampu diantaranya, Kap Lampu (RM 236 ST/AL). Tata letak fasilitas di workshop menunjang pekerjaan pada saat fabrikasi ada bagian-bagian yang dirakit. Perusahaan ini terdapat berbagai macam jenis mesin penunjang yang dipergunakan untuk membuat bagian-bagian part yang dibuat diantaranya potong bermotor, potong manual, bor (pelubang dengan putaran), pon (pelubang dengan tekanan), tekuk manual kecil, tekuk manual bertuas panjang, roll, tekuk hidrolik, las titik, gerinda, dan pengecatan sistem oven.

Dalam kaitannya dengan tata letak fasilitas pabrik, perusahaan tersebut sudah cukup baik, hal ini dibuktikan dengan melakukan penelitian dalam bidang tata letak tersebut, yaitu melakukan pengujian dengan menggunakan sirkuit hamiltonian yang di verifikasi dengan tool simulasi.

Hal tersebut sudah terbukti baik dengan melihat letak letak modular yang sudah ada di pabrik tersebut efektif dan efisien, namun ada beberapa letak mesin yang dipindahkan sehingga waktu proses berkurang selama 9.1 menit.

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pabrik masa kini tidak lagi merupakan satu konsolidasi kegiatan manufaktur

yang sederhana dia lebih merupakan sebuah mesin super. Keluaran potensialnya bisa sangat besar dan efisiensi penurunan buruhnya bisa mengesankan. Tetapi mesin super ini luar biasa rumit, peka, sering kali kurang luwes, dan kerapkali menuntut penanaman modal yang besar. beberapa contoh mesin super ini akan memberi dampak tak kentara terhadap kebijakan pemasaran, dan tenaga kerja. Pertimbangan ini memberi arti bahwa pengelola industri masa kini harus merancang fasilitas pabrik serta fasilitas distribusinya dengan aktif untuk memenuhi tujuan ekonomis pada strategi pemasaranya. Juga dia haru mengundang rekayasawan profesional dan tim arsitek ketika memulai satu program perluasan fasilitas. (T.A.Faulhaber, Planning Your Plant, March 1963) Plant layout and material handling adalah kegiatan yang berhubungan dengan perancangan dan penyusunan elemen fisik suatu kegiatan dan selalu berhubungan erat dengan industri manufaktur, yang menggambarkan hasil rancangan dikenal dengan plant layout (tata letak pabrik). Namun sejalan dengan meluasnya pandangan industrial engineer maka pemahaman menjadi berkembang bahwa pada dasarnya hampir semua kegiatan yang mempunyai suatu tujuan akan menuntut fasilitas fisik

yang harus direncanakan dan dirancang mengikuti prinsip dan aturan yang hampir sama dengan yang digunakan dalam tata letak pabrik. Metodologi plant layout tersebut mulai digunakan dalam merancang tiap fasilitas sehingga muncul istilah perancangan fasilitas yang merupakan istilah penting dalam menyusun unsur proyek yang bertujuan mempertimbangkan input tersebut, melalui sarana yang ada untuk mencapai output yang diinginkan (kegiatan produktif). Untuk menghasilkan output tersebut, aktifitas produksi membutuhkan sejumlah ruang, tempat kerja, mesin atau perlengkapan lainnya yang akan dilalui material, peralatan atau orang. Kelancaran produktifitas pabrik tersebut dipengaruhi oleh kualitas keputusan atau kebijakan tentang fasilitas serta desain tata letaknya. Sehingga seseorang rekayasawan rancangan fasilitas perlu merencanakan secara cermat yang didukung data-data yang akurat yaitu mengenai jarak pemindahan barang dari proses produksi awal sampai proses produksi akhir (finishing) yang diharapkan menjadi sebuah pola aliran barang yang lebih sederhana dan teratur dengan memanfaatkan ruang, ataupun penempatan tempat kerja yang berdasarkan faktor hubungan kedekatan atau keterkaitan antar aktifitas, juga akan meningkatkan fleksibilitas pada ruang gerak dari kegiatan penanganan material itu sendiri. PT. Citilite Buana Putra adalah manufaktur pemroduksi kap lampu TL. PT. Citilite Buana Putra menerapkan strategi operasi produksi MTO (Make To Order). Tata letak fasilitas di workshop menunjang kegiatan pekerjaan pada saat fabrikasi ada bagian-bagian yang dirakit. Di workshop ini dapat berbagai macam jenis mesin penunjang yang digunakan dalam produksi. Namun permasalahan itu sendiri terdapat pada beberapa penempatan posisi letak tempat kerja yang ada masih kurang baik dari

segi peletakan mesin maupun jalan masuk yang dilalui oleh material atau barang sehingga pola aliran barang menjadi kurang beraturan. maka dengan melakukan pengujian pada pabrik tersebut menggunakan Sirkuit Hamiltonian Yang Dimodifikasi akan dibandingkan dengan tools simulasi yang sudah digunakan dipabrik tersebut.

1.2

Rumusan Masalah 1. Bagaimana mendapatkan konfigurasi Sirkuit Hamiltonian untuk

membentuk tata letak modular yang lebih baik dan efisien dari keadaan sebelumnya ? 2. Bagaimana menguji tata letak fasilitas pabrik dengan menggunakan Sirkuit Hamiltonian Yang Dimodifikasi (SHYD) dengan tools Simulasi yang digunakan dilokasi penelitian (pabrik) ?

1.3

Tujuan Penulisan Tugas Akhir 1. Mendapatkan konfigurasi Sirkuit Hamiltonian untuk membentuk tata letak modular yang sesuai dan lebih efisien dari keadaan sebelumnya. 2. Menguji tata letak fasilitas pabrik dengan menggunakan Sirkuit Hamiltonian Yang Dimodifikasi (SHYD) dengan tools Simulasi yang digunakan dilokasi penelitian (pabrik).

1.4

Batasan Masalah Agar pembahasan yang dilakukan tetap pada jalurnya dan tidak menyimpang

dari tujuan semula, maka ruang lingkup pembahasan dibatasi pada hal-hal berikut: 1. Penelitian ini dilakukan di PT. CLBP Jakarta dan Depok. 2. Penelitian ini menggunakan model SHYD (Sirkuit Hamiltonian yang Dimodifikasi) untuk melakukan pengelompokan mesin-mesin ke dalam tata letak modular untuk tata letak fasilitas banyak produk. 3. Penelitian ini dilakukan hanya untuk satu model produk Kap Lampu (RM 236 ST/AL), dan satu jenis bahan baku pokok. 4. Tidak dilakukan perhitungan dan pertimbangan terhadap biaya tata letak pabrik dan pemindahan barang.

1.5

Sistematika Penulisan Penulisan penelitian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I

Pendahuluan Pada bab ini dijelaskan latar belakang, pokok permasalahan, tujuan penelitian, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

Bab II

Landasan Teori Membahas tentang uraian teori tentang tata letak fasilitas pabrik dan pemindahan barang, yang digunakan sebagai kerangka berfikir dan penerapan dalam pemecahan masalah.

Bab III

Metodologi Penelitian Berisikan tentang metode pemecahan masalah secara sistematis dari menentukan masalah, mengumpulkan data, pengolahan data, menganalisis sampai menarik kesimpulan dari penelitian.

Bab IV

Pengumpulan dan Pengolahan Data Berisikan tentang data data yang telah dikumpulkan dan teknik pengolahan data yang sesuai dengan materi teori.

Bab V

Analisis Membahas tentang analisis dari kegiatan penelitian yaitu melakukan perbandingan antara kondisi awal tata letak dengan kondisi tata letak yang sudah dilakukan perbaikan.

Bab VI

Kesimpulan dan Saran Pada bab ini berisikan kesimpulan berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai dan saran dari hasil penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Peranan Perancangan Fasilitas Salah satu kegiatan rekayasawan industri yang tertua adalah menataletak

pabrik dan menangani pemindahan bahan.Kegiatan yang berhubungan dengan perancangan susunan unsur fisik suatu kegiatan dan selalu berhubungan erat dengan industri manufaktur, yang penggambaran hasil rancangannya dikenal sebagai tataletak pabrik. Namun, sejalan dengan meluasnya pandangan rekayasawan industri ke arah kegiatan fasilias fisik, rekayasawan menjadi paham bahwa hampir semua kegiatan yang mempunyai arti akan menuntut fasilitas fisik, dan sering kali fasilitas seperti itu dapat dan harus direncanakan dan dirancang mengikuti prinsip dan aturan yang hampir sama dengan yang digunakan dalam tataletak pabrik. Maka dalam menggunakan metodologi dalam rancangan bagi tiap fasilitas fisik sehingga, perancangan fasilitas merupakan satu istilah yang penting bagi penyusunan unsur fisik tataletak pabrik. Tata letak pabrik adalah suatu aktifitas desain yang berkaitan dengan tanggung jawab dalam pengaturan lokasi dari setiap fasilitas pabrik. Pengaturan tersebut akan memanfaatkan luas area (Space) untuk penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya,kelancaran gerakan material, penyimpanan material (storage) baik yang bersifat temporer maupun permanen, personil atau pekerja dan sebagainya.

2.1.1

Definisi Rancangan Fasilitas Menurut James M. Apple (Tata letak dan pemindahan Bahan, hal 2),

Rancangan fasilitas umumnya digambarkan sebagai rencana lantai, yaitu suatu susunan fasilitas fisik (perlengkapan, tanah, bangunan dan sarana lain) untuk mengoptimumkan hubungan antara petugas pelaksana, aliran barang, aliran informasi, dan tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan usahasecara efisien, ekonomis dan aman. 2.1.2 Tujuan Dari Perancangan Tata Letak Fasilitas (Apple, hal 5) Tujuan rancangan fasilitas adalah membawa masukan (bahan, pasokan, dll) melalui setiap fasilitas dalam waktu tersingkat yang memungkinkan, dengan biaya yang wajar.dalam batasan industri, makin singkat sepotong bahan berada dalam pabrik, makin kecil keharusan pabrik menaggung beban buruh dan ongkos tak langsung. Kebanyakan pekerjaan rancangan fasilitas berhubungan dengan fasilitas industri atau pabrik, dan memudahkan penerapan konsep, prinsip, dan aturan untuk merancang tiap fasilitas, bagi setiap perusahaan produksi. 2.1.2.1 Memudahkan Proses Manufaktur Susunan mesin, peralatan, dan tempat kerja sedemikian hingga barang dapat bergerak dengan lancar sepanjang suatu jalur. a) Hilangkan hambatan-hambatan yang telah ada dengan meminimasi waktu yang tidak produktif. b) Rencana aliran sehingga pekerjaan yang melalui sebuah tempat yang dikenali dan hitung dengan mudah.

c) Jaga mutu pekerjaan dengan merencanakan pemenuhan syarat-syarat yang mengarah pada mutu yang baik. 2.1.2.2 Meminimumkan Perpindahan Barang Tata letak baik harus dirancang sedimikian rupa sehingga pemindahan barang diturunkan sampai batas minimum. Jika dapat dilaksanakan, pemindahan harus mekanis, dan semua pemindahan harus dirancang untuk memindahkan komponen menuju daerah pengiriman. 2.1.2.3 Menjaga Keluwesan Menjaga keluwesan apabila terdapat keadaan yang memerlukan perubahan kemampuan produksi. Beberapa perubahan yang mungkin terjadi dapat ditanggulangi dengan mudah jika diantisipasi dalam perencanaan awal. Cara yang umum untuk memudahkan penyusunan ulang peralatan ini adalah dengan membangun atau memasang fungsi utilitas pada tempat pada tempat yang sambungan-sambungan pelayanannya dapat dipasangkan dengan mudah ketika bangunan didirikan. Susunan seperti ini memberi kemungkinan mesin dipindahkan kelokasi baru, atau dipasang kembali ke tempat semula. 2.1.2.4 Memelihara Perputaran Barang Setengah Jadi Yang Tinggi Dalam hal ini penyimpanan barang setengah jadi diturunkan sekecil mungkin, sehingga akan mengurangi waktu total peredaran dan jumlah barang setengah jadi dalam persediaan. Pada akhirnya akan menyebabkan menurunya biaya produksi.

2.1.2.5 Menurunkan Penanaman Modal Dalam Peralatan Susunan mesin dan departemen yang tepat dapat membantu penurunan jumlah peralatan yang dibutuhkan. Selain itu kecermatan dalam memilih metode pemrosesan juga dapat menghemat pembelian sebuah mesin. 2.1.2.6 Menghemat Pemakaian Ruang Bangunan Setiap meter persegi luas lantai dalam sebuah pabrik memakan biaya. Tata letak yang tepat dicirikan oleh jarak yang meminimum antar mesin, setelah keleluasaan yang diperlukan bagi gerakan orang dan barang ditentukan. 2.1.2.7 Meningkatkan Efektivitas Pemakaian Tenaga Kerja Sejumlah besar tenaga kerja produktif dapat terbuang karena keadaan tata letak yang kurang baik. Tata letak yang baik dapat meningkatkan pemakaian tenaga kerja secara efektif dengan cara menyeimbangkan siklus mesin sehingga mesin dan pekerja tidak perlu menganggur. 2.1.2.8 Meningkatkan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Memberikan kemudahan, keselamatan dan kenyamanan pada pegawai yaitu dengan cara memperhatikan tempat kerja seperti penerangan, pergantian udara, keselamatan, pembuangan, kelembutan debu, kotoran, kebisingan, perlindungan dari kebakaran dan lain-lain.

2.1.3

Jenis-jenis Persoalan Tata Letak Menurut James M. Apple (Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, hal 16),

seringkali masalah yang dihadapi dalam tata letak melibatkan piata letakkan ulang dari suatu proses yang telah ada atau perubahan beberapa bagian dari susunan peralatan tertentu. Masalah dalam tata letak ada beberapa macam, seperti (Apple, Hal 16) : 2.1.3.1 Perubahan Rancangan Seringkali perubahan rancangan produk menuntut perubahan proses atau operasi yang diperlukan. Perubahan ini mungkin hanya memerlukan penggantian sebagian kecil tata letak yang telah ada, atau bentuk perancangan ulang tata letak, tergantung pada perubahan-perubahan yang terjadi. 2.1.3.2 Perluasan Departemen Dengan adanya penambahan produksi, mungkin saja diperlukan perubahan tata letak. Hal ini mungkin hanya merupakan penambahan sejumlah mesin yang dengan mudah dapat diatasi dengan membuat suatu ruangan, atau mungkin diperlukan peribahan seluruh tata letak jika pertambahan produksi menuntut perubahan proses. 2.1.3.3 Pengurangan Departemen Masalah ini terjadi jika jumlah produksi berkurang secara drastis dan menetap, perlu ditimbangkan pemakaian proses yang berbeda dari proses sebelumnya yang digunakan untuk produksi tinggi. Perubahan seperti ini mungkin menuntut disingkirkannya peralatan yang telah ada sekarang dan merencanakan pemasangan jenis peralatan lain.

2.1.3.4 Penambahan Produk Baru Jika produk baru serupa dengan produk yang sedang dikerjakan selama ini ditambahkan pada lintas produksi, masalahnya yang utamanya adalah perluasan departemen. Tetapi jika produk ini berbeda dengan yang sedang diproduksi, dengan sendirinya muncul produk baru. Peralatan yang ada dapat digunakan dengan menambah beberapa mesin baru dalam tata letak yang telah ada dengan penyusunan ulang minimum atau mungkin memerlukan departemen baru atau pabrik baru. 2.1.3.5 Pemindahan Suatu Departemen Pemindahan departemen dapat menimbulkan masalah tata letak yang besar. Jika tata letak yang ada sekarang masih memenuhi, hanya diperlukan pemindahan ke lokasi lain. Tetapi jika tata letak yang ada sekarang tidak memenuhi lagi, diperlukan penataletakan kembali. 2.1.3.6 Penambahan Departemen Baru Masalah ini timbul dari pemikiran untuk memusatkan jenis pekerjaan atau menambah suatu departemen untuk suatu pekerjaan yang baru. 2.1.3.7 Peremajaan Peralatan yang Rusak Persoalan ini mungkin menuntut pemindahan peralatan yang berdekatan untuk mendapatkan pemindahan ruang. 2.1.3.8 Perubahan Metode Produksi Setiap perubahan kecil dalam suatu tempat kerja seringkali mempunyai pengaruh terhadap tempat kerja yang berdampingan atau wilayah yang

berdampingan. Hal ini akan menuntut peninjauan kembali atas wilayah yang terlibat.

2.1.3.9 Penurunan Biaya Hal ini tentunya merupakan akibat dari setiap keadaan diatas. 2.1.3.10 Perencanaan Fasilitas Baru Disini rekayasawan umumnya tidak dibatasi oleh kendala fasilitas yang ada dan bebas merencanakan tata letak yang paling efisien yang akan dipakai. Disamping adanya alasan umum bagi persoalan tata letak atau proyek tata letak ada pula situasi tidak biasa atau kesulitan-kesulitan yang dapat menunjukan perlunya pengkajian atas tata letak yang ada. Beberapa petunjuk antara lain: a) Bangunan tidak cocok dengan yang dibutuhkan b) Kegagalan dalam menerapkan jalur teknis produksi ketika diterapkan c) Perubahan rancangan produk atau proses dibuat tanpa membuat perubahan yang diperlukan pada tata letak d) Pemasangan peralatan tambahan tanpa mempertimbangkan keterkaitannya dengan pola aliran yang ada e) Waktu terbuang dan menganggur yang tak terduga f) Kesulitan pengendalian persediaan g) Menurunya produksi pada suatu tempat kerja h) Kondisi penuh sesaknya ruang-ruang kerja i) Terlalu banyak orang yang memindahkan barang j) Leher botol atau bottleneck dalam produksi k) Langkah balik l) Penyimpanan sementara terlalu banyak m) Hambatan dalam aliran barang

n) Kesulitan penjadwalan o) Pemborosan ruangan p) Menganggurnya orang dan peralatan q) Waktu pemrosesan yang berlebihan r) Perawatan bangunan yang jelek atau tidak layak.

2.1.4 Ruang Lingkup Rancangan Fasilitas Pekerjaan rancangan seringkali dikira hanya berhubungan dengan

perencanaan yang cermat dan terinci tentang susunan peralatan produksi. Padahal perencanaan demikian hanya merupakan salah satu tahapan saja dari suatu rangkaian kegiatan yang sangat luas yang saling berhubungan dan yang secara keseluruhan membentuk kegiatan perancangan tata letak fasilitas. Ruang lingkup pekerjaan rancang fasilitas mencakup satu kajian yang cermat paling tidak dari bidang-bidang berikut dan dari bidang tersebut pemilihan dari SHYD yaitu dalam proses produksi : 1. Pengangkutan 2. Penerimaan 3. Gudang bahan baku 4. Produksi 5. Perakitan 6. Pengemasan dan pengepakan 7. Pemindahan barang 8. Pelayanan pegawai 9. Kegiatan produksi penunjang 10. Pergudangan 11. Pengiriman 12. Perkantoran 13. Fasilitas Luar (penunjang) 14. Bangunan 15. Lahan 16. Lokasi 17. Keamanan 18. Buangan

2.1.5

Tanda-tanda tata letak yang baik Tata letak yang baik dapat terwujud jika memiliki beberapa karakteristik yang

jelas yang dapat dilihat bahkan dari suatu pengamatan biasa, adapun diantaranya adalah keterkaitan kegiatan, metode pemindahan dan pola aliran barang terencana, aliran dan gang yang lurus, jalur aliran tambahan, pemindahan antar operasi serta jarak pemindahan dan langkah balik yang minimum, pemrosesan digabung dengan pemindahan bahan, pemindahan bergerak dari penerimaan menuju pengiriman, operasi pertama dekat dengan pengiriman, penyimpanan pada tempat pemakaian jika mungkin, tata letak yang dapat disesuaikan dengan perubahan, direncanakan untuk perluasan terencana, barang setengah jadi minimum, sesedikit mungkin bahan tengah diproses, pemakaian seluruh lantai pabrik maksimum, ruang penyimpanan yang

cukup, bangunan didirikan disekeliling tataletak, bahan diantar kepekerja dan diambil dari tempat kerja, sesedikit mungkin jalan kaki antar operasi produksi, penempatan yang tepat untuk fasilitas pelayanan produksi dan pekerja, alat pemindah mekanis dipasang pada tempat yang sesuai, fungsi pelayanan pekerja yang cukup, pengendali kebisingan, kotoran, debu, asap, kelembapan, dsb yang cukup, waktu pemrosesan bagi waktu produksi total maksimum serta penempatan yang pantas bagi bagian penerimaan dan pengiriman.

2.1.6

Prinsip Dasar Dalam Penempatan Mesin Berdasarkan aspek dasar, tujuan yang ingin dicapai serta keuntungan-

keuntungan yang bisa didapatkan dalam suatu tata letak pabrik yang terencanakan dengan baik maka apple merumuskan prinsip dasar dalam penyusunan tata letak pabrik sebagai berikut: 2.1.6.1 Prinsip Integrasi Secara Total Prinsip ini menyatakan bahwa tata letak pabrik adalah merupakan integrasi secara total dari seluruh elemen produksi yang ada menjadi satu unit operasi yang besar. 2.1.6.2 Prinsip Jarak Perpindahan Bahan Yang Paling Minimal Hampir setiap proses yang terjadi dalam suatu industri mencangkup beberapa gerakan perpindahan dari material, yang tidak bisa kita hindari secara keseluruhan, sehingga dalam proses pemindahan bahan dari suatu operasi yang lain, waktu dapat dihemat dengan cara mengurangi jarak perpindahan tersebut. Hal ini bisa dilaksanakan dengan menempatkan operasi yang berikutnya sedekat mungkin dengan operasi yang sebelumnya. 2.1.6.3 Prinsip Aliran Dari Suatu Proses Kerja Prinsip ini merupakan dari jarak perpindahan bahan yang seminimal mungkin yang telah disebutkan pada butir (2.7.2) di atas. Dengan prinsip ini diusahakan untuk menghindari adanya gerakan balik (back-tracking), gerakan memotong (crossmovement), kemacetan (congestion) dan sedapat mungkin material bergerak terus tanpa ada interupsi.

2.1.6.4 Prinsip Pemanfaatan Ruangan Pada dasarnya tataletak adalah suatu pengaturan ruangan yang akan dipakai oleh element fisik : manusia, bahan, mesin, peralatan yang memiliki tiga dimensi yaitu aspek volume. Disamping itu gerakan dari orang, bahan atau mesin juga terjadi dalam salah satu arah dari tiga sumbu yaitu sumbu x, y, dan z sehingga yang diperhitungkan dalam perencanaan tata letak ruang tidak hanya sekedar aspek luas (floor space), tetapi juga aspek volume (cubic space). 2.1.6.5 Prinsip Kepuasan Dan Keselamatan Kerja Kepuasan kerja bagi seseorang adalah sangat besar artinya. Dengan membuat suasana kerja yang menyenangkan dan memuaskan, maka secara otomatis akan banyak keuntungan yang dapat diperoleh. 2.1.6.6 Prinsip Fleksibilitas Prinsip ini sangat berarti dalam abad dimana riset ilmiah, komunikasi, dan transportasi bergerak dengan cepat yang mengakibatkan dunia industri harus ikut berpacu untuk mengimbanginya.

2.1.7 Aliran Material Dalam setiap perusahaan produktivitas biasanya ditunjang dengan sangat baik oleh aliran unsur yang bergerak melalui fasilitas dengan efisien. Hal ini sama pentingnya dalam sebuah perpustakaan, toko grosir, kantor pos, maupun stasiun bus, pada tiap kasus unsur-unsur yang memasuki sistem diproses dan meninggalkan sistem dalam kondisi yang berubah. Tujuan utama dalam perencanaan perusahaan yang efisien adalah memperoleh aliran unsur yang akan mempermudah perpindahan

unsur yang efisien lewat kegiatan. Masalah aliran keseluruhan muncul dari kebutuhan untuk memindahkan unsur (bahan, komponen, orang) dari permulaan proses (penerimaan) sampai dengan akhir (pengiriman) sepanjang lintasan yang paling efisien. Konsep aliran sepanjang perusahaan paling baik dapat dirinupakan dengan mempertimbangkan bahwa tiap unsur yang memasuki bangunan mengalir sepanjang bangunan, mengikuti lintasan yang telah ditetapkan baik direncanakan maupun tidak, sampai tiba diakhir proses. Maka, jika tiap unsur telah memiliki lintasannya sendiri sepanjang fasilitas, komposisi dari beberapa aliran mandiri menjadi pola aliran keseluruhan dalam perusahaan. ada 2 komposisi aliran barang yang pertama lintasan yang simpang siur menandakan kurangnya perencanaan aliran barang. Yang kedua pengelompokan lintasan barang yang rapi dan teratur dengan berbagai kepadatan, melalui beberapa wilayah fasilitas dengan lancar. Maka, pola aliran perlu direncanakan ketimbang dibiarkan berkembang sepanjang waktu, dengan cara sembarang. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan menyeluruh dari perusahaan atau paling tidak profitabilitasnya merupakan pantulan langsung dari usaha yang berjalan dalam perencanaan.

keberhasilan Biaya produksi minim Operasi efisien Tata letak yang ringkas Aliran barang direncakan

Gambar 2.1 Pentingnya Aliran Barang

2.1.8 Keuntungan Aliran Barang Sebuah pola aliran barang yang direncakan dengan baik dan cermat mempunyai beberapa keuntungan, dan pola aliran yang baik akan menuju pancapaian beberapa tujuan rancangan fasilitas. Berikut keuntungan itu adalah menaikkan efisiensi produksi, pemanfaatan ruangan pabrik yang lebih baik, kegiatan pemindahan yang lebih sederhana, pemanfaatan peralatan lebih baik dan mengurangi waktu menganggur, mengurangi waktu proses dan persediaan dalam proses, pemanfaatan tenaga kerja lebih efisien, mengurangi kerusakan produk, kecelakaan minimal, mengurangi jarak jalan kaki dan kemacetan lalu lintas di gang, pengendalian produksi lebih sederhana, langkah balik minimum, aliran produksi lancar, proses penjadwalan lebih baik, mengurangi kondisi penuh sesak, kerumahtanggaan lebih baik, dan urutan pekerjaan yang logis. jika manfaat itu dapat dicapai dengan merencanakan aliran barang, tidaklah sulit melihat kesalahan yang berkembang dalam perusahaan yang mempunyai pola aliran tidak terencana. Dan nyatanya, sebaiknya ada perencanaan aliran yang berlaku sekarang, dan perencanaan aliran induk atau pola untuk perencanaan jangka panjang.

2.1.9

Pola Aliran Bahan Menurut James M. Apple, 1990, Secara umum terdapat 5 model aliran bahan

dan masing-masing pola aliran tersebut memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan yaitu: 2.1.9.1 Garis Lurus (straight line) Digunakan jika proses produksi pendek, relative sederhana dan hanya mengandung sedikit komponen atau beberapa peralatan produksi. Pola aliran bahan berdasarkan garis lurus ini akan memberikan: a) Jarak yang terpendek antara dua titik b) Proses atau aktifitas produksi berlangsung sepanjang garis lurus yaitu dari mesin pertama sampai mesin terakhir c) Jarak perpindahan bahan (handling distance) secara total akan kecil karena jarak antara masing-masing mesin adalah yang sependek-pendeknya. 1 2 3 4 5 6

Gambar 2.2 Pola Aliran Bahan Garis Lurus 2.1.9.2 Zig-Zag/ular (serpentine atau S-Shaped) Diterapkan jika lintasan lebih panjang dari ruangan yang dapat digunakan untuk ditempatinya dan karenanya berbelok-belok dengan sendirinya untuk memberikan lintasan aliran yang lebih panjang dalam bangunan dengan luas, bentuk dan ukuran yang lebih ekonomis. 1 4 5

Gambar 2.3 Pola Aliran Bahan Zig-zag/ular

2.1.9.3 Bentuk U (U-Shaped) Diterapkan jika diharapkan produk jadinya mengakhiri proses pada tempat yang relative sama dengan awal proses, karena keadaan fasilitas transportasi, pemakaian mesin bersama, dan sebagainya. Apabila garis aliran bahan relative panjang, maka pola bentuk U ini akan efisien dan untuk ini lebih baik digunakan pola aliran bahan tipe zig-zag. 1 2 3

Gambar 2.4 Pola Aliran Bahan Bentuk U 2.1.9.4 Melingkar Diterapkan jika diharapkan barang atau produk kembali ketempat yang tepat waktu.

6 Gambar 2.5 Pola Aliran Melingkar

2.1.9.5 Bersudut Ganjil (Odd-Angle) Tidak begitu dikenal dibandingkan pola-pola aliran yang lain. Pada dasarnya pola ini sangat umum dan baik digunakan untuk: a) Juka tujuan utamanya untuk memperpendek lintasan aliran antara kelompok dari wilayah yang berdekatan. b) Jika pemindahannya mekanis. c) Jika keterbatasan ruangan tidak memberi kemungkinan pola lain. d) Jika lokasi permanent dari fasilitas yang ada menuntut pola seperti itu. 2

5 Gambar 2.6 Pola Aliran Bahan Sudut Ganjil Akan dapat diperhatikan nanti bahwa pola aliran tertentu menunjukan modifikasi atas pola aliran umum yang terlihat seperti pada: a) Perbedaan tempat penerimaan dan pengiriman b) Perbedaan jumlah komponen produk c) Perbedaan jumlah tempat atau departemen pemerosesan d) Perbedaan metode pemindahan barang e) Ukuran dan konfigurasi fasilitas (jika fasilitas telah tersedia).

2.2

Sirkuit Hamiltonian yang Dimodifikasi Terdapat empat kelompok konfigurasi tataletak generasi masa depan yang

mampu merespon lingkungan bisnis yang selalu mengalami perubahan dengan cepat, yaitu distributed layout, modular layout, reconfigurable layout dan agile layout (benjafaar et al, 2002). Tataletak modular diperkenalkan pertama kali oleh Irani dan Huang (1998).tata letak modular merupakan pengelompokan mesin yang

dihubungkan oleh pola aliran material yang memiliki karakteristik tertentu yang sama dengan flow-line, cell atau tata letak fungsional (Irani dan Huang, 2000). Perancangan tata letak modular digambarkan dalam bentuk sebuah jaringan dari modul-modul tata letak yang telah dibentuk sebelumnya. Pada dasarnya, model Irani dan Huang tersebut merupakan metode hibrid yang menggabungkan selular dan tata letak fungsional sehingga akan diperoleh rancangan tata letak yang memiliki keuntungan dari kedua tata letak tradisional tersebut (Huang dan Irani, 1999). Bentuk tata letak selular akan mengurangi waktu throughput, memperkecil biaya material handling dan mengurangi work-in-process (WIP) level, sedangkan tata letak fungsional memiliki fleksibilitas dan tingkat utilisasi yang tinggi (Irani dan Huang, 2000). Permasalahan dalam tata letak modular adalah pembentukan modul yang merupakan pengelompokan mesin-mesin yang memiliki hubungan kesamaan terhadap urutan operasi dari produk-produk yang sedang dibuat (Irani, 1997).Irani dan Huang (1998) membangun posedur heuristik yang didasarkan pada metode string matching dan klaster, yang biasanya digunakan dalam kimia molekul maupun ilmu biologi. Dalam perancangan tata letak modularnya, Irani dan Huang menggunakan

analisis klaster terhadap common substring (Irani dan

Ramakrishnan, 1995).

Analisisklaster adalah suatu analisis statistik yang bertujuan memisahkan obyek kedalam beberapa kelompok yang mempunyai sifat berbeda antar kelompok yang satu dengan yang lain. Dalam analisis ini tiap-tiap kelompok bersifat homogen antar anggota dalam kelompok atau variasi obyek dalam kelompok yang terbentuk sekecil mungkin.Common substring adalah sekumpulan operasi secara berurutan yang digunakan bersama untuk memproduksi produk-produk atau part-part tertentu. Penggunaan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi (SHYD), Sebuah jaringan dikatakan Hamiltonian jika dilakukan perjalanan keliling terhadap jaringan tersebut maka hanya akan melewati setiap simpul satu kali saja untuk kembali lagi kesimpul awal ketika perjalan itu dimulai (Deo,1989). Sirkuit Hamiltonian yang dimodifikasi adalah sirkuit Hamiltonian yang mempunyai busur dummy (Mukhopadhyay, Babu dan Sai, 2000). 2.2.1 Tata Letak Modular Tata letak modular adalah sekumpulan mesin yang di hubungkan dengan adanya aliran material antar mesin yang memiliki pola tertentu (Iran dan Huang, 1999). Pola yang spesifik tersebut dapat berupa salah satu dari enam jenis modul, yaitu: 2.2.1.1 Flowline Module Penempatan fasilitas dengan berbaris secara teratur sehingga pola alirannya bergerak lurus dari satu ujung fasilitas tertentu menuju ke ujung fasilitas lain. 1 2 3 4 5

Gambar 2.7 Flowline Module

2.2.1.2 Branched Flow-line Module Memiliki bentuk hampir sama dengan flow-line tetapi ada pencabangan yang disebabkan adanya perbedaan dalam proses pengerjaan pada fasilitas yang berbeda antara satu part/produk dengan part/produk yang lain.

3 1 2 5

4 7 6

Gambar 2.8 Brached Flowline Module 2.2.1.3 Cell Module Meliliki kemiripan bentuk dengan flowline dimana satu family part/produk diproses pada modul yang sama.

Gambar 2.9 Cell Module

2.2.1.4 Machining Centre Module Merupakan bentuk pengembangan dari cell module dimana proses pengerjaannya dilakukan oleh satu fasilitas untuk beberapa part/produk yang berbeda.

1+2+3

Gambar 2.10 Machining Centre Module

2.2.1.5 Functional Layout Module Functional layout module adalah sama dengan bentuk tradisional tata letak yakni pengelompokan fasilitas menurut fungsinya masing-masing.

Gambar 2.11 Functional Layout Module

2.2.1.6 Patterned Flow Module Hampir mirip dengan branched flow-line dengan perbedaan masing-masing cabang terdapat pola aliran material. 2 4

Gambar 2.12 Pattem Flow Module

2.2.2

Model Matematik Masalah Tata Letak Modular Iran dan huang (2000) telah merumuskan model matematik untuk

permasalahan tata letak modular dalam bentuk rumusan pemograman bilangan bulat nonlinier (nonlinear integer programming)sebagai berikut:

Meminimumkan Dengan pembatas-pembatas


L l 1

Xijl

1,

untuk tiap i, j

i 1j 1 L l 1

qi Fijk xijl Mk
Ni 1 j 1

TK Nkl , untuk tiap k, l Pk , untuk tiap k Xijl Xi j


1m

3 4

nkl

Yilm

, untuk l , ,

l, , L , i

l, , Q

5 (6)

0,1 ,

(7)

Notasi variabel : = jumlah mesin tipe k yang ditugaskan pada modul l Pk = jumlah tambahan mesin tipe k yang diperlukan = jumlah trip tahunan untuk memindahkan produk I antara modul l dan modul m = variabel biner, modul l, = 1 jika operasi j dari produkk I dilakukan di

Yilm

= 0 jika sebaliknya.

Notasi Parameter : = ukuran batch dari produk i Cilm = biaya perpindahan satuan produk I antara modul l dan m = biaya tahunan yang terjadi karena pembelian satu tambahan mesin tipe k

Fijk

= waktu untuk mengerjakan operasi ke-j per satu satuan produk I dimesin tipe k

K L

= jumlah jenis mesin = jumlah modul dalam tata letak = jumlah mesin tipe k saat ini tersedia = jumlah operasi dalam routing produk i

= jumlah produk = jumlah produksi tahunan untuk produk i = waktu yang tersedia per tahun untuk mesin tipe k

Notasi lain : menyatakan bilangan terkecil yang lebih besar atau sama dengan z

Fungsi tujuan (1) meminimumkan biaya total yang mencakup biaya material handling antara modul dan biaya pembelian tambahan mesin untuk meningkatkan kapasitas dari suatu mesin tertentu dalam suatu modul. Pembatasan (2) menjamin bahwa tiap operasi dalam routing suatu produk di kerjakan pada satu modul. Pembatasan (3) dan (4) menjamin bahwa alokasi mesin dari jenis yang sama pada satu atau beberapa modul dibatasi oleh jumlah mesin yang tersedia dari jenis tersebut pada lantai pabrik. Pembatasan (5) merupakan inti permasalahan, yaitu sebagai pemeriksaan apakah tiap pasang operasi yang berurutan dalam routing suatu produk dikerjakan pada modul yang sama atau tidak. Jika tiap pasang operasi tersebut tidak dikerjakan pada modul yang sama, maka terdapat pergerakan antara modul yang

secara implisit akan menimbuklan WIP dan biaya material handling. Solusi yang ideal adalah memproses secara lengkap suatu produk pada suatu modul flowline sendiri. Namun hal ini akan meningkatkan investasi dalam penambahan mesin. Strategi praktis adalah dengan memaksimumkan jumlah operasi berurutan dalam routing yang dilakukan pada modul yang sama. Pembatas (6) dan pembatas (7) merupakan pembatas-pembatas variabel keputusan. Model matematis tata letak modular yang disusun oleh Iran dan Huang (2000) tersebut merupakan permasalahan NP-complete, sehingga pemecahannya didasarkan atas prosedur heuristik. Data masukan yang diperlukan adalah jenis produk, urutan operasi untuk tiap produk dan jumlah produksi untuk tiap produk. Metode yang digunakan Iran dan Huang (1998) untuk menyusun tata letak modular didasarkan pada teori sequence comparison. Terdapat dua jenis sequence atau string yang digunakan, yaitu common sequence dan residual sequence. Common sequence atau common substring (CS) merupakan subsequence dari sekumpulan operasi secara berurutan yang digunakan bersama oleh dua atau lebih sequence (urutan operasi). Residual sequence adalah sisa subsequence setelah common sequence diekstrak dari sebuah urutan operasi. Jika terdapat sequence A (1234567) dan sequence B (1236789), maka common sequence-nya adalah (123) dan (67) dan residual sequence-nya adalah (45) dan (89). Prosedur lengkap Irani dan Huang adalah sebagai berikut: 1. Mencari Common sequence dari setiap pasangan urutan operasi.

2. Mengelompokan

mesin-mesin

kedalam

tata

letak

modular

dengan

menggunakan teori analisis klaster dari Tam (1990). 3. Menyusun urutan operasi baru dengan menggunakan tata letak modular. 4. Menentukan jumlah mesin yang dibutuhkan dalam setiap tata letak modular dan menyusun tata letak blok yang sesuai dengan urutan operasi yang baru.

2.2.3

Algoritma SHYD Algoritma usulan yang digunakan untuk menyusun tata letak modular adalah

didasarkan atas teori graph, dengan menjadikan common substring sebagai simpul sedangkan operasi-operasi yang digunakan secara bersama oleh sepasang simpul dijadikan sebagai busurnya.Algoritma yang diusulkan menggunakan jumlah operasi pada tiap busur sebagai ukuran kekuatan hubungan antara sepasang simpul (common substring).Semakin banyak jumlah operasi dari suatu pasang simpul maka semakin kuat pula hubungan pasangan tersebut. Algoritma ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah pencarian common substring sebagai simpul-simpul dari jaringan yang hendak dibuat serta penentuan ranking untuk tiap simpul tersebut. Tahap kedua adalah pembuatan sirkuit Hamiltonian melalui pembentukan busur-busur antara simpul-simpul yang dimulai dari pasangan simpul yang memiliki hubungan paling kuat. Pembentukan sirkuit akan dimulai dari sepasang simpul yang memiliki hubungan yang terkuat dan selanjutnya berkembang dari kedua simpul akhir yang terbentuk tersebut. Busur yang baru akan dibuat secara terus menerus sehingga

terbentuk sirkuit Hamiltonian. Algoritma SHYD secara lengkap adalah sebagai berikut: 1. Tentukan common substring sebagai sebuah simpul untuk masing-masing common substring. 2. Urutkan tiap simpul sesuai dengan banyaknya jumlah operasi. 3. Gambar dua simpul yang memiliki nomor urut 1 dan 2 sebagai calon pasangan common substring. Jika keduanya memiliki dua atau lebih operasi yang sama maka dibentuk busur antara kedua simpul tersebut. 4. Pilih simpul berikutnya. Jika simpul ini memiliki dua atau lebih operasi yang sama dengan beberapa simpul akhir yang terbentuk (berbeda jaringan) atau simpul-simpul yang belum terhubungkan oleh busur, maka dibentuk busur antara simpul dengan simpul akhir atau simpul yang lain. Ulangi langkah tersebut sampai dengan semua simpul sudah terpilih. 5. Jika terdapat simpul-simpul yang masih belum terhubung dengan busur dan masing-masing memiliki minimal satu operasi yang sama, maka simpulsimpul tersebut dihubungkan dengan busur. 6. Hubungkan antara simpul akhir dengan busur dummy sehingga terbentuk SHYD.

2.3

Model Simulasi Oxford American Dictionary (1980) mendefinisikan simulasi sebagai Sebuah

cara untuk menghasilkan kondisi dari suatu situasi sebagai sebuah model, untuk keperluan penelaahan, atau pengujian, atau pelatihan, dan sebagainya. Dalam

kaitannya dengan sistem real, Schriber (1987) mengemukakan Simulasi adalah pemodelan dari suatu proses atau sistem sedemikian hingga model tersebut dapat menirukan dan merespon kejadian sistem aktual yang dapat diputar ulang setiap saat. Akhirnya, definisi praktis berkaitan dengan sistem dinamik diberikan oleh Harrel et al., (2004) Simulasi adalah imitasi sistem dinamik menggunakan model komputer untuk mengevaluasi dan mengembangkan performansi sistem. Alasan digunakannya simulasi pada proses produksi adalah pertama karena simulasi dapat menerima variabel acak atau inkonsistensi dari kedatangan bahan baku. Kedua, karena simulasi telah terbukti keefektifitasannya untuk menangani halhal kompleks seputar keputusan-keputusan manufakturing. Kochan (1986)

mengemukakan bahwa, Permutasi dan kombinasi yang mungkin dari setiap potong benda kerja, peralatan, pallet, pemindah bahan, alur perpindahan, operasi dll, dan hasil performansinya adalah hampir tak pernah berakhir. Simulasi komputer menjadi suatu keperluan mendasar dalam mendesain sistem praktik. Perancangan simulasi dilakukan menggunakan suatu prosedur tertentu agar dapat menghasilkan tiruan sistem real yang sedekat-dekatnya dan agar dapat dengan mudah dilakukan penganalisaan.

Menentukan tujuan, batasan, dan Mengumpulkan Data

Mengumpulkan dan menganalisa data system

Membangun Model

Memvalidasi Model

Melakukan Percobaan

Mempresentasikan Hasilnya

Gambar 2.13 Prosedur perancangan simulasi (Harrel, 2004)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian diperlukan tahapan yang dapat disajikan dalam gambar 3.1 bagaimana penelitian tersebut dapat berjalan dengan baik dan terarah, dimana Bagian 1 merupakan studi pendahuluan yang terdiri dari proses-proses dalam melakukan studi di lapangan. Bagian 2 merupakan tinjauan pada literatur. Setelah mendapatkan gambaran kondisi nyata dari lapangan dan juga model referensi dari tinjauan pustaka, maka dibagian 3 dilakukan pengembangan model. Pada bagian 4, dilakukan verifikasi model, studi kasus di PT Citilite Buana Putra (CLBP).Bagian 5 menjelaskan analisis, dan bagian 6 merupakan kesimpulan dan rekomendasi penelitian. 3.1 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan yang dilakukan berupa tanya jawab dengan direktur CLBP dan para pelaksana di lapangan. Tujuan melakukan studi lapangan ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara langsung kondisi yang ada di perusahaan pada umumnya, dan CLBP khususnya.Hasil dari bagian 1 ini digunakan sebagai dasar pengembangan model pada bagian 3.Uraian selengkapnya mengenai studi pendahuluan ini dapat dilihat pada Bab IV Pengembangan Model.

3.2

Tinjauan Pustaka Pada tahap ini dilakukan studi terhadap teori-teori yang digunakan sebagai

konsep dasar dalam mencari solusi permasalahan yang menjadi obyek kajian dalam penelitian Skripsi ini. Studi dilakukan terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan sistem manufaktur, tata letak pabrik, dan model SHYD (sirkuit Hamiltonian yang dimodifikasi).

3.3

Perumusan masalah Permasalahan yang ada dirumuskan agar lebih terarah sesuai dengan hasil

studi pustaka. Permasalahan yang akan dibahas adalah seberapa jauh tingkat produktifitas layout yang ada sekarang, jarak aliran bahan produksi, keselamatan dan kenyamanan operator dalam melaksanakan pekerjaannya, selanjutnya dilakukan pengujian model.

3.4

Pengumpulan dan pengolahan data Pada tahap ini dilakukan pengolahan data yang berkaitan dengan

permasalahan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Secara umum pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara antara lain mengadakan pengamatan langsung dilapangan, melakukan wawancara langsung kepada pihak yang terkait didalam perusahaan, mencatat data yang diperlukan untuk penelitian lebih lanjut.

Setelah pengumpulan data mencungkupi, kemudian dilakukan pengolahan data untuk menentukan bagai mana tataletak fasilitas yang efektif dan efisien bagi work shop.

3.5

Analisis Tahap ini dilakukan setelah dilakukan studi kasus dan validasi model.Jika

hasilnya valid, langkah berikutnya adalah menganalisis model dan perilakunya. Untuk lebih lengkapnya, tahap studi kasus dan analisis akan dibahas pada Bab V Implementasi Model dan Analisis.

3.6

Kesimpulan Langkah selanjutnya adalah dibuat suatu kesimpulan mengenai penelitian dan

pengembangan model yang telah dilakukan.Kemudian, rekomendasi berisi saransaran untuk melakukan pengembangan penelitian selanjutnya.Kedua hal ini dapat dilihat pada Bab VI Kesimpulan dan saran.

Studi Pendahuluan Sistem operasi produk Data tata letak dan dimensi lokasi Data proses produksi Data entitas Data operator

Tinjauan Pustaka Tata letak SHYD

Identifikasi masalah Mendapatkan tata letak

baru yang lebih efisien.

Pengolahan Data Menentukan common substring menjadi simpul. Mengururtkan simpul. Memilih dua simpul yang punya ranking 1 dan 2. Pilih simpul yang lain secara berurutan. hubungkan simpul dengan busur dummy kepada Lanjutkan ke studi kasus simpul akhir, simpul akhir pada sisi akhir.

Gambar 3.1 Metodologi Penelitian

Studi Kasus Membuat tata letak Modular Mengaplikasi tata letak modular ke lantai produksi

Analisis Mengkomparasi hasil sebelum dan sesudah konfigurasi menggunakan simulasi pro model

Validasi

Tidak

Waktu Proses Sebelum > Sesudah Ya

Ya Selesai

Gambar 3.1 Metodologi Penelitian

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1

Pengumpulan Data Pada bab ini akan dibahas mengenai kondisi umum perusahan yang

merupakan data yang dibutuhkan untuk pengolahan data dan pengumpulan data yang dilakukan. Untuk lebih jelasnya kondisi umum dari perusahaan adalah mengenai kondisi perusahaan, fasilitas dan mesin, proses produksi, aliran material, dan tata letak pabrik. 4.1.1 Sejarah dan Kondisi Perusahan PT. Citilite Buana Putra (CLBP) merupakan sebuah Perusahaan Swasta Nasional yang di dirikan pada bulan Agustus 1980 di Jakarta.Pada tahun 1991 perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan Depok. Perusahaan ini merupakan vendor bagi retail-retail komponen elektronik kap lampu TL di Indonesia maupun vendor bagi pekerjaan-pekerjaan proyek berbagai skala. Produk dibuat oleh CLBP dikerjakan berdasarkan pesanan pelanggan melalui tender atau pembelian langsung. Berdasarkan sistem manufaktur, maka CLBP menjalankan strategi operasi MTO dan MFS. Hal ini dilakukan karena jenis produk yang dibuat bersifat standar dan massal.

4.1.2

Stuktur Organisasi Dalam menjalankan aktifitas usahanya, CLBP memiliki struktur organisasi

seperti yang tertera pada Gambar 4.1

Dewan Komisaris

Direktur Utama

Manager Produksi

Manager Marketing

Manager Umum, Adm & keuangan

Divisi Factory

QC

Gudang

Divisi retail

Divisi Projek

Divisi Pembelian

DivAdm, Umum

Gambar 4.1 Struktur Organisasi CLBP

4.1.3

Alur Umum Proses Kerja CLBP

Alur umum proses kerja di CLBP diselenggarakan sebagai berikut: 1) Alur kerja CLBP dimulai dari aktivitas pemasaran berupa penerimaan order pelanggan sebagai hasil dari tender projek yang dimenangkan perusahaan, dari penunjukan langsung atau dari pemesanan retailer secara reguler. 2) Order yang telah diterima itu sebelumnya telah dikonfirmasi ke divisi factory dan PPC perihal ketersediaan produk jadi yang telah siap (MTS) atau lead time proses operasi produksi yang hendak dilakukan (MFS) dan (MTO), namun setelah order dimenangkan, dilakukan konfirmasi ke dua berupa pengesahan order menjadi Surat Perintah Kerja. 3) Selanjutnya pihak factory akan melakukan perencanaan kebutuhan bahan baku sesuai kuantitas order dan Bill of Material produk. Perencanaan kebutuhan bahan baku dikirimkan kepada bagian gudang sebagai permintaan bahan baku. 4) Divisi gudang menyediakan bahan baku yang diminta, dan diberikan kepada divisi factory. 5) Divisi factory melakukan proses produksi sesuai perencanaan

penjadwalan produksi mulai dari unit produksi potong, pon, tekuk, las, cat, hingga packing. 6) Barang jadi dikirimkan ke pelanggan.

4.2 Pengolahan Data Langkah selanjutnya setelah dilakukan pengumpulan data, maka dilakukan pengolahan data yaitu dengan menggunakan teknik metode sesuai dengan penerapan dari landasan teori. Langkah-langkah metode dari pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan SHYD (sirkuit Hamiltonian yang dimodifikasi) yaitu meliputi: menentukan permasalahan, tujuan, batasan, dan kebutuhan, mengumpulkan dan menganalisa data inputan dari sistem riil, menentukan common substring menjadi simpul, mengururtkan simpul, memilih dua simpul yang punya ranking 1 dan 2, pilih simpul yang lain secara berurutan, dan hubungkan simpul dengan busur dummy kepada simpul akhir, simpul akhir pada sisi akhir. 4.2.1 Sirkuit Hamiltonian yang Dimodifikasi Penggunaan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi (SHYD), sebuah jaringan dikatakan Hamiltonian jika dilakukan perjalanan keliling terhadap jaringan tersebut maka hanya akan melewati setiap simpul satu kali saja untuk kembali lagi kesimpul awal ketika perjalan itu dimulai. 4.2.2 Menentukan Permasalahan, Tujuan, Batasan, dan Kebutuhan Penggunaan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi ini dilakukan karena adanya permasalahan pada penataan letak lokasi dimana dilokasi tersebut terdapat arus bolak balik. Dengan demikian ia dirancang untuk dapat melakukan pengelompokan mesin-mesin kedalam modul tata letak modular untuk tata letak fasilitas banyak produk. Tujuan perancangan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi ini untuk mendapatkan penyimpulan mesin-mesin yang mengalami arus bolak balik sehingga dapat melewati setiap simpul satu kali saja untuk kembali lagi kesimpul

awal ketika perjalan itu dimulai. Batasan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi ini adalah tidak dilakukan perhitungan dan pertimbangan terhadap biaya tata letak pabrik dan pemindahan barang. Batasan lainnya adalah penelitian ini dilakukan hanya untuk satu model produk kap lampu (RM 236 ST/AL), karena barang tersebut adalah yang paling dominan dalam perusahaan. Kebutuhan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi adalah untuk menyimpulkan mesin agar mendapatkan penataaan letak fasilitas pabrik yang optimum setiap produk yang diproduksi agar mendapatkan penata letakan mesin yang efisien dan waktu produksi. 4.2.3 Mengumpulkan dan Menganalisa Data Input dari Sistem Riil Dalam pengumpulan dan menganalisa data input dari sistem rill dilakukan pengolahan dari program simulasi yang di dapat dari PT.CITILITE BUANA PUTRA dengan seijin Bapak Catur Kurniawan, S.pd, MT, selaku pimpinan yang meliputi lokasi setiap mesin, bill of material sebagai entitas, Path networks atau jalur perpindahan entitas dan resources, proses yang terjadi meliputi waktu proses. Selengkapnya sebagai berikut: 4.2.3.1 Mesin-Mesin Produksi Lokasi setiap mesin telah dikonfigurasi sedemikian rupa agar entitas-entitas dapat mengalir dengan jarak terpendek dan waktu tersingkat dalam pengertian yang turut mempertimbangkan keseluruhan entitas. Hal ini dilakukan dalam tahap mendesain fasilitas layout pabrik.Lokasi mesin digambar hingga sesuai letak kenyataannya di lapangan dalam skala tertentu, hal ini dilakukan dengan adanya grid
2

pada lantai pabrik, dimana satu grid mewakil 2 m di lapangan. Nampak susunan

pengelompokkan mesin disesuaikan dengan arus proses pengerjaan entitas demi entitas dalam bentuk arus U dapat dilihat dalam program simulasi (tidak dibahas pada
penelitian ini). Selengkapnya dapat dilihat dalam tabel gambar jenis-jenis mesin

produksi yang ada di PT. Citilite Buana Putra dalam Tabel 4.1. No Mesin / Lokasi Utama Potong Bermotor 1 Kode Jumlah

C1

Potong Manual

C3, C4

Bor (Pelubang dengan Putaran) 3 D1, D2 2

Tabel 4.1 Mesin-Mesin Produksi (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Pon (Pelubang dengan Tekanan) 4 P1, P2, , P15 P13 14

Tekuk Manual Kecil 5 BM 1

Tekuk Manual Bertuas Panjang 6 B1, B2, B3 3

Roll 7 R1 1

Tekuk Hidrolik

BP2A, BP2B

Tabel 4.1 Mesin-Mesin Produksi (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Tekuk Hidrolik

BP4

Las Titik

10

SW1, SW2, SW3

Gerinda

11

G1, G2, G3

12 13 14

Pengecatan Sistem Oven Penandaan Pola Perakitan / Pengepakan

OV M2 ASSR, BREF,PACK,FG

1 1 4 39

Jumlah Mesin / Lokasi Utama

Tabel 4.1 Mesin-Mesin Produksi (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

4.2.3.2 Entitas

PT. Citilite Buana Putra (CLBP) adalah manufaktur pemroduksi kap lampu TL.PT. Citilite Buana Putra menerapkan strategi operasi produksi MTO (Make To Order). Tata letak fasilitas di workshop menunjang kegiatan pekerjaan pada saat fabrikasi ada bagian-bagian yang dirakit. Di bawah ini hanya dimuat entitas terpenting di dalam tabel 4.2 No. Ilustrasi Entitas Jumlah Nama Singkat PBJ (Plat Baja) TTS (Tutup Samping) BOD (Body) BTG (Batangan)

KPO (Kap Polos)

Tabel 4.2 Entitas-entitas yang menyusun produk Model Kap Lampu RM 236 ST/AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

CAT

KPU (Kap Putih)

MIR (Plat Mirror)

SYP (Sayap)

10

GUN (Gunungan) ALU

11

(Pelat Stainles atau Alumunium) GRL (Grill)

12

14

Tabel 4.2 Entitas-entitas yang menyusun produk Model Kap Lampu RM 236 ST/AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

13

RFL (Reflektor Lepas) KIT (Kait)

14

15

RFK (Reflektor Kait)

16

KKO (Kap Komplit)

17

DUS (Kerdus)

18

BJD (Barang Jadi)

Tabel 4.2 Entitas-entitas yang menyusun produk Model Kap Lampu RM 236 ST/AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

4.2.3.3 Uraian Tabel Dari Proses Produksi Pembuatan Kap Lampu (RM 236

ST/AL) Di bawah ini hanya dimuat gambaran alur proses Kap Lampu (RM 236 ST/AL) di dalam tabel 4.3 No. Tipe Produksi Urutan Proses Produksi

Tutup Samping 1

Body 2

Batangan 3

Tabel 4.3 Urutan Proses Produksi Model Kap Lampu RM 236 ST/AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Sayap 4 Gunungan 5 Grill 6

Tabel 4.3 Urutan Proses Produksi Model Kap Lampu RM 236 ST/AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Gambar 4.2 Perakitan Type RM 236 ST 236 AL (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Proses produksi pembuatan Kap Lampu RM 236 STdapat dilihat pada gambar 4.3
BJD RMAL PK2

KKO

PK1

KPU

RFK

OV

BAS

KPO

RFL

SW2

ASS

KPOS

GUN14 GRL
ASS3

SW1 3

TSRM 05

TSRM 09 BM TSRM 08 B1 TSRM 07


BP2 B

BOD RM02 M2 BOD RM01 D2 BOD RM01 C1

BOD RM05 SW3 BOD RM05 B3 BOD RM04 BP4 BOD RM03 P15

BTG RM05 SW2 BTG RM04 P14 BTG RM03 BP4 BTG RM02 P3 BTG RM01 C1

SYP RM05 B3 SYP RM04 BP4 SYP RM03 P4 SYP RM02 P5 SYP RM01 C1

GUN RM05 B3 GUN RM04

GRL RM05 D1 GRL RM04

C4 TSRM 04 C3 TSRM 03 P2 TSRM 02 D2 TSRM 01 C1

BP4 GUN RM03 P4 GUN RM02 P5 GUN RM01 C1

R1 GRL RM03 P10 GRL RM02 P11 GRL RM01 C1

TSRM 06
BP2 A

TSRM 05 G2

PBJ

CAT

MIR

AL

KIT

DUS

Gambar 4.3 Struktur Produk Kap Lampu RM 236 ST

26

27

11 20

10 9

33 3

22 36 28 21 23 24 8 6 19 29 16 30 31 15 25 12 4 33 32 13

2 7 35 17 14 38

34

39 1 40 41

42 43

37

Gambar 4.4. Layout Workshop PT. CITILITE BUANA PUTRA

Keterangan Gambar 4.4 Layout Workshop PT. CITILITE BUANA PUTRA No. Mesin / Lokasi Utama 1. Potong Bermotor 2. Potong Manual 1 3. Potong Manual 2 4. Bor (Pelubang dengan Putaran) 1 5. Bor (Pelubang dengan Putaran) 2 6. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 1 7. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 2 8. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 3 9. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 4 10. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 5 11. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 6 12. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 7 13. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 8 14. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 9 15. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 10 16. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 11 17. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 12 18. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 13 19. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 14 20. Pon (Pelubang dengan Tekanan) 15 21. Tekuk Manual Kecil 22. Tekuk Manual Bertuas Panjang 1 22. Tekuk Manual Bertuas Panjang 1 23. Tekuk Manual Bertuas Panjang 2 24. Tekuk Manual Bertuas Panjang 3 25. Roll 26. Tekuk Hidrolik 1 27. Tekuk Hidrolik 2 28. Tekuk Hidrolik 3 29. Las Titik 1 30. Las Titik 2 31. Las Titik 3 32. Gerinda 1 33. Gerinda 2 34. Gerinda 3 35. Pengecatan Sistem Oven 36. Penandaan Pola 37. REF+KIT 38. KPO+CAT 39. KPU+RFK 40. KKO+DUS 41. GUN+RFK 42. KKO+DUS 43. Gudang Penyimpanan Barang Jadi

Tabel 4.4 Urutan Operasi RM 236 ST 236 AL No. Tipe Produksi Tutup Samping 1 2 293038394043 Body 2 1 38394043 Batangan 3 Cat 4 Sayap 5 2 110928244243 1 38394043 2 1828193038394043 1536202824312930
BOM

Urutan Proses Produksi 157233326272221

Gunungan 6 Grill 7 8 14 11615254414243 1 11192824414243

Kait

373940414243

Kerdus 9 1 4043

Tabel 4.5 Common Substring dan Urutannya Simpul S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 Common Substring(CS) 1,5 1,5,7,2,3,33,26,27,22,21,29, 30,38,39,40,43 1,10,9,28,24,42,43 1,16,15,25,4,41,42,43 1,8,28,19,30,38,39,40,43 9,28,24 24,31,29 28,24,31,29,30,38,39,40,43 28,24 29,30,38,39,40,43 30,38,39,40,43 31,29, 30,38,39,40,43 37,39,40,41,42,43 38,39,40,43 39,40,43 39,40 40,43 41,42,43 42,43 Frekuensi(f) 3 2 2 14 2 3 3 3 3 3 5 3 4 6 6 10 6 19 17 CS *f 6 32 14 112 18 9 9 27 6 18 25 21 24 24 18 20 12 57 34 Ranking 18 4 14 1 11 16 17 5 19 12 6 9 7 8 13 10 15 2 3

28,24,31,29,30,38,39,40,43 S8

24,31,29 S7

31,29,30,38,39,40,43 S12

29,30,38,39,40,43 S10

28,24 S9

39,40,43 S15

38,39,40,43 S14

30,38,39,40,43 S11

9,28,24 S6

39,40 S16

1,5,7,2,33,26,27,22,21,29,30,38,39,40,43 S2

40,43 S17

1,5 S1

41,42,43 S18

37,39,40,41,42,43 S13

1,8,28,19,30,38,39,40,43
S5

1,16,15,25,4,41,42,4 3 S4

1,10,9,28,24,42,43 S3

42,43 S19

Gambar 4.5 Proses Pembentukan Tata Letak Modular dengan SHYD

(28,24,31) S8 S7

(24,31,29) S12

(31,29,30,38,39,40,43) S10

(28,24)

(29,30,38,39,40,43)

(38,39,40,43) S9 S15

S14

(30,38,39,40,43)

S11

(28,24)

(39,40,43)

(39,40) S6 S16 S2

(39,40,43) S17

(40,43)

S18 S1 (41,42,43) S19

(39,40,41,42,43)

S13

(39,40,43)

S5

(42,43) (42,43)

Keterangan : : dummy
S3

S4

Gambar 4.6 Hasil SHYD yang Terbentuk

(28,24,31) S8 S7

(24,31,29) S12

(31,29,30,38,39,40,43) S10

(29,30,38,39,40,43)

(38,39,40,43) S9 S15 S14

(30,38,39,40,43) S11

(28,24)

(39,40,43)

(39,40,43) S6 S16 S2 S17

(39,40,41,42,43) S18 S1 (41,42,43) S19 S13

(39,40,43) S5

(42,43) S4 S3

Gambar 4.7 Pemilihan Modul Dari SHYD

Tabel 4.6 Tata Letak Modular yang Terbentuk Modul 1 Kelompok common substring

Pola aliran material

28 M1 S8,S7,S12,S10,S11 ,S14,S15,S16 30 38

24

31

29

29

40

43

M2

S2,S17

39

40

43

41 M3 S5,S13,S18,S19 39

42

43

40

M4

S3,S4

42

43

M5

S6,S9

28

24

M6

S1

26

27

11 20

10 9

33 3

22 36 28 21 23 24 M5 8 6 19 29 16 M1 30 31 15 25 12 4 33 32 13

2 7 35 17 14 38

34

39 1 40 41 M3 42 43 M2 M4 37 M6

Gambar 4.8 Block Layout Tata Letak Modular

Keterangan: : Modular Yang Terbentuk

BAB V ANALISIS

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi pabrik saat ini dan kondisi pabrik usulan, akan diuraikan kondisi pabrik tersebut dengan mengacu pada tujuan tata letak. Sampai sejauh mana tujuan tersebut telah tercapai dan apa saja kekurangan tata letak fasilitas workshop pada saat kondisi saat ini. Analisa dilakukan guna menjabarkan dan membandingkan dari kondisi awal perusahaan dengan kondisi usulan dengan menggunakan Sirkuit Hamiltonian.Sehingga hasil analisa dapat sesuai dengan tujuan dari penelitian. Permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana mendapatkan nilai-nilai variabel atas system nyata dari proses operasi produksi di PT. CITILITE BUANA PUTRA sebagai keadaan awal sebelum dilakukan penataan letak lokasi, bagaimana mendapatkan konfigurasi Sirkuit Hamiltonian untuk membentuk tata letak modular yang sesuai dan lebih efisien dari keadaan sebelumnya, dan bagaimana menguji tata letak SHYD menggunakan tools Simulasi.

5.1

Analisis tata letak Analisa ini digunakan pada tata letak fasilitas yang ada di dalam workshop

PT. CITILITE BUANA PUTRA. Di workshop ini terjadi suatu proses fabrikasi dimana terdapat bagian-bagian yang dirakit.Dalam fabrikasinya suatu fasilitas mesin

berada cukup jauh dengan mesin lain yang berkesinambungan. Hal ini yang mengakibatkan jarak penanganan barang menjadi panjang dan tidak efisien. Maka dengan kondisi usulan dari perancangan tata letak fasilitas pabrik di PT. CITILITE BUANA PUTRA agar didapatkan suatu tata letak yang lebih baik. Kondisi usulan perancangan tata letak berdasarkan letak mesin adalah dengan memindahkan mesin produksi ke-24 di pindahkan ke mesin-28, sehingga waktu yang diperoleh meningkat lebih baik dari hasil sebelumnya. Selain itu penataaan mesin kerja-pun dilakukan sesuai dengan urutan kerja sehingga didapat suatu pola aliran umum yang efisien dari segi penanganan barang dan berakibat pada peningkatan produktifitas. Penjelasan dari analisis tata letak dapat dilihat dalam gambar promodel pada perbandingan antara sebelum dan sesudah dilakukannya perubahan pada gambar berikut:

Gambar 5.1 Kondisi Awal Dengan Promodel (Diambil Dari Sumber Dengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

Gambar 5.4 Kondisi Usulan Dengan Promodel (Diambil Dari SumberDengan Seijin Catur Kurniawan, SPd. MT)

5.2

Analisis proses produksi terhadap waktu produksi Pada proses produksi dari kondisi usulan, terjadi perubahan perpindahan

mesin 24 ke mesin 28, yang pada mulanya terdapat kegiatan proses Tekuk Manual Bertuas Panjang3 dipindahkan ke proses Tekuk Hidrolik3. Pemindahan lokasi mesin tersebut agar aliran proses yang akan diperoleh menjadi lebih dekat dan lebih efisien. Penataan letak mesin tersebut sudah terbukti efisien yaitu berkurangnya waktu proses produksi dari tata letak awal. Berikut penjelasan dari proses produksi terhadap waktu produksi : Tabel 5.1 Waktu Produksi Replikasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 rata-rata Selisih Persentase Menit waktu sebelum 5.47 5.5 7.21 6.44 6.05 6.03 6.12 5.45 6.07 6.04 waktu sesudah 6.03 5.53 6.18 6 5.54 6.08 6.02 5.58 6.02 5.89 0.15 3% 9.1

Pada kondisi usulan proses produksi Kap Lampu tipe RM 236 ST/AL di PT. CITILITE BUANA PUTRA terjadi suatu perubahan pada letak mesin yaitu penyusunan sesuai dengan urutan-urutan proses produksi sehingga menghasilkan jumlah waktu proses produksi secara keseluruhan menjadi lebih cepat 9.1 menit untuk kegiatan produksi Kap Lampu tipe RM 236 ST/AL sebanyak 120 pcs untuk satu kali kedatangan entitas bahan baku.

5.3

Analisis dengan menggunakan Sirkuit Hamiltonian Secara garis besar PT. CITILITE BUANA PUTRA dalam kaitannya dengan

tata letak fasilitas pabrik dapat menjadi lebih baik dengan menggunakan SHYD. Hal ini dibuktikan bahwa dalam Sirkuit Hamiltonian terdapat suatu modular-modular yang merupakan kunci sukses dari Sirkuit Hamiltonian tersebut. Modular-modular tersebut tidak terganggu sama sekali tetapi hanya memutarkan posisi mesin tersebut, hal ini menandakan bahwa tata letak fasilitas pabrik di PT. CITILITE BUANA PUTRA sudah cukup baik. Namun ada beberapa letak mesin yang dipindahkan guna mendapatkan waktu yang lebih baik didalam letak modular-modular tersebut.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini merupakan kesimpulan dari hasil penelitian yang bertujuan untuk membuat rancangan perbaikan dari tata letak fasilitas pabrik di PT.CITILITE BUANA PUTRA yaitu dengan menggunakan analisis dari kondisi awal tata letak pabrik. Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan saran dari hasil penelitian ini yang akan berguna bagi perusahaan dalam hal tata letak fasilitas pabrik.

6.1

Kesimpulan Dari seluruh rangkaian kegiatan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat

ditarik kesimpulan dari hasil penelitian mengenai usulan tata letak fasilitas pabrik di PT.CITILITE BUANA PUTRA, yaitu : perbaikan pada penataan letak tempat kerja, pengurangan waktu proses produksi, dan pembuktian tata letak sebelumnya dengan menggunakan Sirkuit Hamiltonian. Penjelasan dari kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut : 6.1.1 Mendapatkan konfigurasi optimal Pada perbaikan dari tempat kerja adalah dengan memindahkan tata letak mesin kerja 24 ke mesin 28 berdasarkan pada urutan proses produksi sehingga pola aliran barang menjadi lebih efisien dari waktu produksi Kap Lampu tipe RM 236 ST/AL di PT. CITILITE BUANA PUTRA, sehingga penanganan barang menjadi lebih cepat dari hasil sebelum dirubah.

1.1.2 Perbandingan SHYD dengan tools Simulasi Dengan melakukan perbandingan antara Sirkuit Hamiltonian Yang

Dimodifikasi yang dilakukan sebagai metode penelitian dan tools simulasi yang digunakan dilokasi penelitian, didapatkan bahwa sedikit banyak penataletakan sudah cukup baik, namun terdapat beberapa pemindahan mesin di dalam tata letak modular dari Sirkuit Hamiltonian Yang Dimodifikasi sehingga menghasilkan jumlah waktu proses produksi secara keseluruhan menjadi lebih cepat 9.1 menit untuk kegiatan produksi Kap Lampu tipe RM 236 ST/AL sebanyak 120 pcs untuk satu kali kedatangan entitas bahan baku dan terbukti lebih efektif dalam waktu proses produksi. 6.2 Saran Saran yang ingin diberikan oleh penulis dari hasil penelitian mengenai tata letak fasilitas pabrik PT.CITILITE BUANA PUTRA adalah sebagai berikut : 1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan usulan dari rancangan perbaikan tata letak fasilitas pabrik di PT.CITILITE BUANA PUTRA. 2. Secara garis besar tata letak yang ada di PT.CITILITE BUANA PUTRA sudah terbukti cukup baik, namun bisa mengefisiensi dalam waktu yang telah diuji dengan menggunakan sirkuit hamiltonian yang dimodifikasi. 3. Dengan melakukan pemindahan lokasi mesin cukup berguna dari segi penghematan waktu proses produksi sehingga lebih efisien. 4. Penelitian ini hanya menguji metode SHYD untuk satu macam varian produk, kepada pihak peneliti lainnya terbuka kesempatan untuk mengujinya kembali menggunakan satu atau lebih varian produk yang lain.