Anda di halaman 1dari 118

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS STRATEGI KERJA

DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)


DI PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA Bandung





TUGAS AKHIR


Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknik Jurusan Teknik Industri





Oleh :

Lismono Anggar Kusumo
1.03.07.701























JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
2011

ii
ABSTRAK


PENENTUAN URUTAN PRIORITAS STRATEGI KERJA
DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)
DI PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA Bandung


Lismono Anggar Kusumo
1.03.07.701

Manusia sebagai faktor utama dituntut untuk mempunyai kemampuan, diantaranya
kemampuan dalam hal penelitian, pengembangan ilmu terapan dan rancang bangun
serta teori keputusan. Suatu perusahaan harus mempunyai keputusan dalam
pengambilan permasalahan yang akan menentukan produktivitas dalam bekerja. Teori
keputusan sangat berpengaruh dalam perusahaan karena sesuatu yang akhir dari
permasalahan tersebut. Jika keputusan yang diambil tersebut perlu dipertanggung
jawabkan kepada orang lain atau prosesnya memerlukan pengertian pihak lain, maka
perlu untuk diungkapkan sasaran yang akan dicapai berikut kronologi proses
pengambilan keputusannya (Mangkusubroto dan Tresnadi, 1987).

Penelitian ini dilakukan di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA. Permasalahan
yang diangkat dalam penelitian ini adalah untuk menentuan urutan prioritas dalam
strategi kerja dengan mengunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process).
Perusahaan mengalami kebimbangan dalam penentuan strategi kerja yang terjadi disaat
pengambilan keputusan seperti pelayanan konsumen, kerjasama industry dengan
pesaing dan pembinaan SDM, peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan
beberapa pimpinan perusahaan untuk mengetahui permasalahan yang ada.

Setelah melakukan observasi dan wawancara, maka diperoleh pendapat dengan
beberapa pimpinan perusahaan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi
diperusahaan mengenai penentuan urutan prioritas yang harus didahulukan dalam
penentuan strategi kerja yaitu masalah pelayanan konsumen, kerjasama industri dengan
pesaing dan pembinaan sumber daya manusia.

Maka didapatkan hasil perhitungan bobot keseluruhan antar alternatif dalam penentuan
strategi kerja sebagai berikut pelayanan konsumen 0.3137, kerjasama industri dengan
pesaing 0.3504 dan pembinaan SDM 0.3359, maka yang harus diprioritaskan dalam
menentukan strategi kerja adalah kerjasama industri dengan pesaing sebesar 0.3504 atau
35.04 %. Dari hasil penelitian ini diharapkan perusahaan dapat memprioritaskan strategi
kerja yang harus didahulukan untuk mempermudah pekerjaaan.



Kata kunci: AHP (Analytical Hierarchy Process), sistem pengambilan keputusan dan
penentuan strategi kerja.
iii
KATA PENGANTAR




Segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga akhirnya peneliti dapat menyelesaikan
Tugas Akhir ini. Shalawat serta salam semoga Allah SWT melimpahkan atas Nabi
Muhammad SAW, para sahabat, tabiin dan para pengikutnya yang setia sampai
akhir zaman. Dalam penyelesaian Tugas Akhir ini, penelitian menyadari bahwa
Laporan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan karena
keterbatasan ilmu yang dimiliki.

Dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati peneliti ingin
menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya serta secara khusus
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak I Made Aryantha A, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Industri
Unikom.
2. Ibu Diana Adriani, MT, MM, selaku dosen wali.
3. Ibu Julian Robecca, MT. selaku koordinator Tugas Akhir.
4. Bapak Agus Riyanto, MT. Selaku Pembimbing yang selalu yang senantiasa
memberikan pengarahan pada setiap bimbingan yang mengesankan sehingga
laporan ini dapat selesai. Terima kasih atas saran, masukan, nasihatnya, serta
terima kasih telah bersedia membantu dalam proses penyelesaian Tugas Akhir
ini.
5. Seluruh Dosen Teknik Industri UNIKOM yang sudah memberikan ilmu, saran
dan nasehat selama perkuliahan dikelas maupun dalam kegiatan praktikum.
6. Ibu Ini Jasini selaku pembimbing di PT. Sinar Sakti Matra Nusantara yang
telah banyak membantu selama pelaksanaan penelitian Tugas Akhir ini.
7. Kepada kedua orang tua yang selalu memberikan dorongan, motivasi, doa,
materi. I love Mama and Bapak forever and anyware.
8. Buat Rani Nurani, yang selalu menemani, memotivasi, mencintai, menyayangi
serta memberi pencerahan. I love Rani
iv
9. Buat teman-teman dan sahabatku: khususnya teman-teman kosan yang selalu
menemani disaat susah dan gembira, Eko wakeko dan angga teman sekamarku
yang selalu menemani saat begadang. Mumuh, Agung, Deni, Bhuluk (Praz),
Tatang, Anggi, Asmi, Boan Mbot (Aan) serta Wandi yang selalu membuat
kegembiraan di dalam kosan. Serta teman-teman yang lain nak Ti-07yang
tidak bisa disebutkan, tapi tidak pernah terlupakan terima kasih udah bantuin,
dan supotrnya.
10. Ucapan terima kasih terakhir untuk kampusku, terima kasih UNIKOM, terima
kasih Fakultas Teknik, terima kasih Jurusan Teknik Industri, disinilah
tempatku menyelesaikan program sarjana Strata Satu (S1), semoga ini menjadi
bekal awal untuk meniti karier menuju sukses. Amin....


Bandung, Februari 2011


Peneliti
1

Bab 1
Pendahuluan


1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang dirasakan sangat pesat terutama
dibidang industri, baik industri informasi maupun manufaktur. Perkembangan ini
harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang merupakan modal pokok
dalam pembangunan. Manusia sebagai faktor utama dituntut untuk mempunyai
kemampuan, diantaranya kemampuan dalam hal penelitian, pengembangan ilmu
terapan dan rancang bangun serta teori keputusan. Suatu perusahaan harus
mempunyai keputusan dalam pengambilan permasalahan yang akan menentukan
produktivitas dalam bekerja. Teori keputusan sangat berpengaruh dalam
perusahaan karena sesuatu yang akhir dari permasalahan yang ada. Jika keputusan
yang diambil tersebut perlu dipertanggungjawabkan kepada orang lain atau
prosesnya memerlukan pengertian pihak lain, maka perlu untuk diungkapkan
sasaran yang akan dicapai berikut kronologi proses pengambilan keputusannya
(Mangkusubroto dan Tresnadi, 1987).
PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA sebagai salah satu perusahaan milik
swasta yang bergerak di sector industry logam dimana produk dan pelayanan yang
dihasilkannya adalah berupa pembuatan part turbin seperti Disc, Carbon ring,
Seal diaphragm, Trip body, Labyrinth, Housing turbin, Sudu, Bearing dan Shaft,
serta pelayanan perbaikan mekanikal dan tooling service dari produk itu sendiri.
Perusahaan mengalami kebimbangan dalam penentuan strategi kerja yang terjadi
disaat pengambilan keputusan seperti pelayanan konsumen, kerjasama industry
dengan pesaing dan pembinaan SDM, peneliti melakukan observasi dan
wawancara dengan beberapa pimpinan perusahaan untuk mengetahui
permasalahan yang ada. Setelah melakukan penelitian dengan beberapa pimpinan
perusahaan, maka diperoleh data tentang pendapat mengenai penentuan urutan
prioritas yang harus didahulukan yaitu masalah pelayanan konsumen, kerjasama
industri dengan pesaing dan pembinaan sumber daya manusia. Karena
2

kebimbangannya tersebut perusahaan meminta peneliti untuk melakukan
penelitian mengenai urutan mana yang menjadi prioritas utama dalam penentuan
strategi kerja. Berdasarkan pengamatan yang didapat tentang penentuan strategi
kerja, maka peneliti akan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy
Process) untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diperusahaan.

Suatu pengambilan keputusan dalam perusahaan saat berpengaruh dalam cara
pandang dan kinerja serta meningkatkan produktivitas pekerja yang dilakukan
oleh perusahaan. Pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process) yaitu dengan
menganalisis permasalah kompleks melalu prinsip-prinsip dekomposisi, analisis
perbandingan dan sintesa prioritas. Dalam perkembangannya AHP tidak saja
digunakan untuk menentukan prioritas pilihan-pilihan dengan banyak kriteria,
tetapi penerapannya telah meluas sebagai metode alternatif untuk menyelesaikan
berbagai macam masalah. Hal ini dimungkinkan karena AHP cukup
mengandalkan pada intuisi sebagai input utamanya, namun intuisi harus datang
dari pengambilan keputusan yang cukup informasi dan memahami masalah
keputusan yang dihadapi. Dasar berpikirnya metode AHP adalah proses
membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking setiap alternatif
keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan
kriteria pembuat keputusan.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti mengambil judul adalah Penentuan
Urutan Prioritas Strategi Kerja Dengan Menggunakan Metode AHP
(Analytical Hierarchy Process) Di PT. SINAR SAKTI MATRA
NUSANTARA Bandung.
1.2. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang dapat di identifikasi pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pendapat beberapa pimpinan perusahaan yang mengerti
permasalahan di perusahaan mengenai penentuan strategi kerja?
2. Bagaimana cara menentukan struktur hierarki dan model hierarki pada
pengambilan keputusan penentuan strategi kerja?
3

3. Penghitungan apa saja yang dilakukan untuk menghitung AHP (Analytical
Hierarchy Process) dalam pengambilan keputusan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat dari beberapa pimpinan perusahaan yang
mengerti permasalahan di perusahaan mengenai prioritas mana yang lebih
penting atau yang lebih utama dari penentuan strategi kerja.
2. Untuk mengetahui cara pembuatan struktur hierarki dan model hierarki tujuan
yang terjadi pada waktu mengambil keputusan dalam bekerja.
3. Untuk menentukan perhitungan AHP (Analytical Hierarchy Process)
dilakukan dengan berbagai cara yaitu rata-rata geometri, perbandingan antar
kriteria, eigenvalue, consistency index dan consistency ratio.
1.4. Pembatasan Masalah
Dari penjelasan diatas untuk memperkuat pembahasan yang sesuai dengan latar
belakang, maka dari itu peneliti membatasi masalah agar lebih terarah dan sesuai
dengan yang diharapkan. Batasan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ruang lingkup pengambilan keputusan hanya diberikan kepada ahli atau
pakar, dimana diantaranya yaitu beberapa pimpinan perusahaan atau orang
yang mengerti permasalahan.
2. Prosedur yang dilakukan dalam pengambilan keputusan dengan melakukan
observasi langsung, wawancara serta pengambilan hasil keputusan.
3. Bukti pengambilan keputusan hanya dalam bentuk nilai perbandingan.
1.5. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Bab 1. Pendahuluan
Berisikan Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Tujuan Penelitian,
Pembatasan Masalah dan Sistematika Penulisan
Bab 2. Tinjauan Pustaka
4

Bagian ini memuat tentang landasan teori yang berkaitan langsung dengan
permasalah yang akan diteliti.

Bab 3. Metodologi Pemecahan Masalah
Memuat uraian tentang bagaimana cara sistematika penelitian yang dilakukan,
variabel dan data yang dikaji dan cara analisis.
Bab 4. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Berisikan pengumpulan data-data yang diambil dan memuat tentang bagaimana
melakukan pengolahan terhadap data-data yang telah diambil dengan melakukan
pendekatan yang sesuai dengan metode yang dipergunakan.
Bab 5. Analisis
Berisi analisis dari hasil perhitungan yang diperoleh dari proses pengolahan data
serta pengajuan usulan pengambilan keputusan dengan metode AHP (Analytical
Hierarchy Process).

Bab 6. Kesimpulan dan Saran
Berisikan tentang Kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang
telah dirumuskan dan saran bagi perusahaan.

5

Bab 2
Landasan Teori


2.1. Proses Pengambilan Keputusan
Merupakan proses sejak identifikasi masalah sampai pemilihan solusi terbaik
inilah yang disebut proses pengambilan keputusan (Putro dan Tjakraatmadja,
1998). Jika keputusan yang diambil tersebut perlu dipertanggungjawabkan kepada
orang lain atau prosesnya memerlukan pengertian pihak lain, maka perlu untuk
diungkapkan sasaran yang akan dicapai berikut kronologi proses pengambilan
keputusannya (Mangkusubroto dan Tresnadi, 1987).
Proses pengambilan keputusan didalam kehidupan organisasi adalah suatu proses
yang selalu terjadi, dimana hal ini mempunyai denyut nadi jalannya organisasi
tersebut (Sudirman, 1998). Pengambilan keputusan didalam suatu organisasi
merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi yang terus-menerus dari
seluruh organisasi. Hasil keputusan tersebut dapat merupakan pernyataan yang
disetujui antar alternatif atau antar prosedur untuk mencapai tujuan tertentu.
Pendekatannya dapat dilakukan, baik melalui pendekatan yang bersifat
individual/kelompok, sentralisasi/desentralisasi, partisipasi/ tidak berpartisipasi
maupun demokratis/consensus (Suryadi dan Ramadhani, 1998).
Persoalan pengambilan keputusan, pada dasarnya adalah bentuk pemilihan dari
berbagai alternatif tindakan, yang mungkin dipilih, yang prosesnya melalui
makanisme tertentu, dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang
terbaik.
Pengambilan keputusan merupakan proses yang bertahap, sejak proses identifikasi
masalah (mencatat, mendiagnosa dan mendifinisikan masalah, mencari dan
memilih solusi dan pada akhirnya menerapkan keputusan) yang dilakukan setiap
hari baik oleh indivudu, kelompok atau perusahaan.

6

2.1.1. Tahap-tahap Proses Pengambilan Keputusan
Menurut Rosenhead (1989) ada 5 yaitu:
a. Identifikasi tujuan
b. Identifikasi alternatif pilihan strategi/kegiatan
c. Perkiraan dampak dari setiap kegiatan maupun tujuan
d. Evaluasi konsekuensi dalam bentuk skala penilaian.
e. Pilih alternatif yang memberikan benefit terbesar.
2.1.2. Beberapa Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan Keputusan Rasional Analitis
Pengambil keputusan rasional analitis mempertimbangkan semua alternatif
dengan segala akibat dari pilihan yang diambilnya, menyusun segala akibat
dan memperhatikan skala pilihan (scale of preferences) yang pasti dan
memilih alternatif yang memberikan hasil maksimum.
Pendekatan ini merupakan model klasik dalam pengambilan keputusan bidang
ekonomi dan bisnis. Model ini banyak memperoleh kritik karena dianggap
kurang realistik, hanya mempertimbangkan informasi-informasi yang diterima
dengan mengabaikan beberapa pertimbangan lainnya.
Suatu keputusan yang dapat dikatakan rasional jika ia dapat dijelaskan dan
dibenarkan dengan berusaha mengaitkannya dengan sasaran dari pengambil
keputusan. Individu sebgai pengambil keputusan akan menyusun urutan-
urutan tujuan dan sasaran yang dikehendaki sebelum ia mengidentifikasi
alternatif yang akan dipilih. Prinsip ini juga akan berlaku dalam satu
kelompok yang bertugas mengambil keputusan, seperti sering terlihat dalam
kalangan pemerintahan.
Kelompok merupakan satu kesatuan kohesif yang bertugas merancang
keputusan untuk memaksimalkan kebahagiaan bagi masyarakat terhadap
tujuan keputusan. Pengambilan keputusan yang berdasar logika ialah suatu
studi yang rasional terhadap semua unsur pada setiap sisi daam proses
pengambilan keputusan. Unsur-unsur itu diperhitungkan secra matang, sambil
semua informasi yang masuk dipertimbangkan tingkat kesahannya.
7

2. Pengambilan Keputusan Intuitif Emosional
Pengambilan keputusan intuitif emosional menyukai kebiasaan dan
pengalaman, perasaan yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri
dengan menggunakan proses alam bawah sadar. Proses ini dapat didorong
oleh naluri, orientasi kreatif dan konfrontasi kreatif. Pengambilan keputusan
mempertimbangkan sejumlah alternatif dan peluang, secara serempak
meloncat dari satu langkah dalam analisis atau mencari yang lain dan kembali
lagi.
Model pengambilan keputusan yang menggunakan intuisinya seringkali
dikritik, karena kurang mengadakan analisis yang terkendali dengan perhatian
hanya ditujukan pada beberapa fakta dengan melupakan banyak elemen
penting. Dalam pengambilan keputusan intuisi tidak banyak tergantung pada
fakta yang lengkap. Mungkin dengan informasi yang sedikit saja seseorang
sudah dapat mengambi keputusan karena intuisi itulah yang dominan.
3. Pengambilan Keputusan Prilaku Politis
Merupakan pengambilan keputusan individual dengan melakukan pendekatan
kolektif. Juga dianggap teori deskriptif yang menyarankan agar organisasi
tempat pengambil keputusan bekerja membatasi pilihan yang ada. Pengambil
keputusan harus mempertimbangkan apakah hasil keputusan itu dapat
dilaksanakan secara politis.
2.2. Persoalan dan Model Keputusan
Sebelum keputusan diambil biasanya suatu keputusan mempunyai tipe
persoalannya masing-masing, mulai dari persoalan sederhana inilah yang rumit.
2.2.1. Tipe-tipe Persoalan Keputusan
Tipe persoalan keputusan ada 5 macam yaitu
1. Keputusan yang sederhana
Keputusan yang sederhana adalah keputusan dengan informasi yang lengkap
dengan prosedur pemecahannya mengikuti pola-pola tertentu (sudah
terstruktur).

8

2. Keputusan yang rumit
Keputusan yang rumit dicirikan oleh sulitnya mengumpulkan dan
mempertimbangkan informasi yang diperlukan. Dalam menghadapi kasus
seperti pengalaman tidak dapat berpedoman, tetapi harus didekati dengan
pendekatan baku yang ada. Dan sudah barang tentu pemecahan terhadap
persoalan yang ada tidak tepat benar, karena terdapat sejumlah kekurangan
yang perlu diperbaiki.
3. Keputusan yang diambil berulang-ulang
Keputusan yang berulang-ulang adalah bila masalah yang dihadapi dapat
dikatakan sama atau hampir sama dengan masalah yang dihadapi sebelumnya.
Bila kasusnya seperti ini maka pembuat keputusan memiliki peluang untuk
menyempurnakan metodologi dan pendekatan yang mendasari proses
pengambilan keputusan tersebut. Sayangnya banyak keputusan yang penting
justru hanya dihadapi sekali saja. Atau kalau berulang, perulangan ini terjadi
dalam situasi dan kondisi yang berlainan. Akibatnya perbaikkan yang
dilakukan dalam pengambilan keputusan tidak banyak berarti.
4. Keputusan yang dapat diuraikan menjadi sejumlah bagian (Sub Keputusan)
Keputusan yang dapat diuraikan menjadi sejumlah bagian (sub keputusan),
masing-masingdapat dipecahkan secara bergiliran. Namun ada juga
pemecahan suatu bagian dari persoalan keputusan ditunda hingga dampak dari
bagian keputusan terdahulu diketahui sehingga informasinya lengkap.
5. Keputusan yang berhadapan dengan ketidakpastian masa depan
Keputusan yang berhadapan dengan ketidakpastian masa depan mempunyai
ciri yaitu hasilnya sulit diperkirakan, karenanya pengambilan keputusan perlu
mengurangi ketidakpastian tersebut.
2.2.2. Langkah-langkah dalam Pengambilan Keputusan
Sebelum keputusan diambil maka dilakukan langkah-langkah berikut dalam
menghadapi pemasalahan (kasus) yang ada:
1. Perumusan pokok masalah
Setelah persoalan (kasus) dipelajari, rumuskan pokok permasalahnya sehingga
persoalannya memiliki ukuran yang dapat dipecahkan, baik kuantitatif
9

maupun kualitatif. Bila permasalahannya besar, maka uraikanlah persoalan
tersebut menjadi beberapa sub-sub persoalan. Dengan menetapkan atribut-
atributnya (uraikan dari realitas) baik yang subjektif maupun objektif.
2. Rumuskan tujuan dan pembatasan pengambilan keputusan
Tujuan dan batasan pengambilan keputusan disini dituliskan secara ringkas
dan padat dengan cara yang dapat membandingkan komitmen dan motivasi.
3. Tetapkan alternatif jawaban yang mungkin
Alternatif jawaban yang mungkin dapat diperoleh setelah parameter dan
variabel persoalan keputusan ditetapkan berupa model-model keputusan.
4. Tetapkan kriteria pemilihan alternatif berdasar
Setelah alternatif jawaban diperoleh, lakukan pemilihan alternatif terbaik
berdasar misi dan tujuan serta kebijaksanaan organisasi, setelah analisis
SWOT dilakukan
5. Implementasikan
Setelah alternatif terbaik didapat selanjutnya adalah mengimplementasikan
alternatif terbaik itu dalam kasus yang dihadapi.
2.2.3. Model Keputusan
Penyusunan model keputusan adalah suatu cara untuk mengembangkan
hubungan-hubungan logis yang mendasari persoalan keputusan ke dalam suatu
model matematis, yang mencerminkan hubungan yang terjadi diantara factor-
faktor yang terlibat.
Model proses pengambilan keputusan menurut Simon (1960) terbagi 3 yaitu:
a. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup
problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukkan diperoleh,
diproses dan diuju dalam rangka mengidentifikasikan masalah.


10

b. Design
Tahap ini merupakan proses menemukkan, mengembangkan dan menganalisis
alternatif tindakan yang yang bias dilakukan. Tahap ini meliputiproses untuk
mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi
c. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif
tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian
diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.
Intelegence
(Penulusuran Lingkup
Masalah)
Design
(Perancangan Penyelesaian
Masalah)
Choice
(Pemilihan Tindakan)
Implementasi
(Pelaksanaan Tindakan)
Sistem Informasi Manajemen/
Pengolahan Data Elektronik
Ilmu Manajemen/
Penelitian Operasional
Sistem Pendukung Keputusan
Gambar 2.4. Model Proses Pengambilan Keputusan
Apakah suatu model itu simpel atau kompleks ada aturan yang mudah dalam
pembuatannya. Karena pembuatan model melibatkan seni dan imajinasi
sebagaimana teknik ilmu pengetahuan lainnya.
Tetapi langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk pembuatannya:
Pelajari lingkungan agar problema yang dinyatakan dapat real.
Rumuskan representasi permasalahan dengan selektif, buat asumsinya dan
simflikasikan. Tetapkan tujuan dan variable keputusannya secara eksplisit.
Buatkan modelnya
Terjemahkan dan kuantifikasikan dalam bentuk simbol-simbol matematik.
11

Inlah beberapa langkah yang diperlukan dalam pembuatan suatu model keputusan.
Namun sekali lagi konsep itu tidak baku, artinya masih banyka lagi cara lain
dalam pembuatan model.
Karakteristik model menurut Siregar (1991):
Tingkat generalisasi yang tinggi
Semakin tinggi derajat generalisasi suatu model, maka ia semakin baik sebab
kemampuan model untuk memecahkan masalah semakin besar.
Mekanisme transparansi
Suatu model dikatakan baik jika dapat melihat mekanisme suatu model dalam
memecahkan masalah, artinya kita bias menerangkan kembali (rekonstruksi)
tanpa ada yang disembunyikan. Jadi kalau ada suatu formula, maka formula
tersebut dapat diterangkan kembali.
Potensial untuk dikembangkan
Suatu model yang berhasil biasanya mampu membangkitkan minat (Interest)
peneliti lain untuk menyelidikinya lebih jauh.
Peka terhadap perubahan asumsi
Hal ini menunjukkan bahwa proses permodelan tidak pernah berakhir
(selesai), selalu membaeikan celah untuk membangkitkan asumsi
Pada kenyataannya, keadaan system nyata itu terlalu kompleks atau masih dalam
bentuk hipotesis. Sehingga terlalu mahal, tidak praktis atau bahkan tidak mungkin
dapat dilakukan, jika harus bereksperimen langsung. Secara umum, kendala-
kendala inilah yang menjadi alasan bagi perancang untuk membuat model. Hal ini
mengkonfirmasikan lagi salah satu karakteristek model yaitu penyederhanaan
system nyata.
Analisis sistem dilakukan untuk memahami bagaimana suatu sistem yang
diusulkan dapat beroperasi. Idealnya, seorang analis bereksperimen langsung
dengan sistem tersebut. Tetapi kenyataan yang dilakukan adalah membangun
sistem tersebut dan menyelidiki perilakunya melalui model tersebut. Hasil yang
diperoleh, kemudian ditafsirkan dalam terminology performasi sistem.
12

Dalam studi-studi perancangan sistem yang menjadi sasaran adalah menghasilkan
suatu sistem yang memenuhi beberapa spesifikasi. Parameter-parameter atau
komponen-komponen system tersebut diseleksi atau direncanakan oleh perancang
(designer) dan secara konseptual, dapat dipilih salah satu kombinasi khususnya
untuk membangun suatu sistem.
Sistem yang diusulkan dimodelkan, kemudian performansinya diperkirakan
berdasarkan perilaku model. Jika performansi yang diperkirakan ini sesuai dengan
performansi yang diinginkan, maka rancangan diterima. Tetapi jika tidak, sistem
dirancang ulang dan keseluruhan proses dilakukan kembali.
Postulasi sistem adalah karakteristik cara penerapan model dalam studi-studi
sosial, ekonomi, politik dan kedokteran, yang perilaku sistemnya diketahui tetapi
proses yang dihasilkan perilakunya tidak diketahui. Sejumlah hipotesis mengenai
sekumpulan entity atau aktivitas yang diduga kuat sebagai penyebab harus dibuat,
agar perilaku yang diamati dapat dijelaskan.
Studi akan membandingkan respon model yang didasarkan pada hipotesis ini
dengan perilaku yang diketahui. Jika ditemukan kesesuaian, maka dapat
diasumsikan bahwa struktur model sudah relevan dengna sistem nyata dan sistem
nyata tersebut dapat dipostulasikan.
2.2.4. Sebab-sebab Lemahnya Kualitas Keputusan
Ada beberapa penyebaba kualitas keputusan menjadi lemah:
1. Kurangnya Informasi.
Kurangnya informasi yang diserap mempengaruhi pula kualitas keputusan
yang diambil. Karena kurang informasi orang sering salah dalam menilai
suatu situasi, akibatnya keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan
nilainya.
2. Datanya Salah
Data yang salah bila diambil dalam pembuatan keputusan juga akan
mempengaruhi kualitas keputusan yang diambil. Karena kesalahan data orang
akan salah pula dalam menilai suatu situasi, akibatnya keputusan yang
diambilpun menjadi lemah mutu dan nilainya.
13

3. Kebiasaan/Tradisi yang sulit diubah.
Kebiasaan yang sudah mentradisi akan memperlemah kualitas keputusan yang
diambil. Karena kebiasaan yang sudah mentradisi orang akan sulit diubah
dengan metode yang lebih baik, akibatnya keputusan yang diambilpun
menjadi lemah mutu dan nilainya.
4. Terlalu Optimis
Mereka yang terlalu optimis memiliki kecenderungan hanya melihat
permasalahan dari segi baiknya saja akibatnya mengabaikan hal-hal yang
kurang baik. Bila sikap ini diambil dalam perbuatan keputusan jelas akan
mempengaruhi kualitas keputusan yang diambil. Karena memandang
permasalahan kurang seimbang orang akan salah pula dalam menilai suatu
situasi, akibatnya keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan
nilainya.
5. Sempitnya Waktu
Waktu yang sempitpun bila dipakai dalam pembuatan keputusan akan
mempengaruhi kualitas keputusan yang diambil. Karena kesempitan waktu
orang menjadi tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan sehingga
orang akan salah pula dalam menilai suatu situasi, akibatnya keputusan yang
diambilpun menjadi lemah mutu dan nilainya.
6. Kurangnya Pengetahuan
Kurangnya pengetahuan bila dipakai dalam pembuatan keputusan akan
mempengaruhi kualitas keputusan yang diambil. Karena kurangnya
pengetahuan seseorang akan mrngakibatkan salah pula dalam menilai suatu
situasi, akibatnya keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan
nilainya.
7. Perkembangan Ilmu
Perkembangan ilmu pengtahuan dapat mempengaruhi dalam pembuatan
keputusan. Oleh karenanya bila pengambilan keputusan tidak mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dia akan tertinggal informasi. Akibatnya
keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan nilainya.
14

8. Lemahnya Tolak Ukur
Lemahnya tolak ukur juga akan mempengaruhi kualitas keputusan yang
diambil. Karen kelemahan tolak ukur orang akan salah dalam menilai suatu
situasi, akibatnya keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan
nilainya.
9. Lemahnya Spesifikasi
Lemahnya spesifikasi juga akan mempengaruhi kualitas keputusan yang
diambil. Karen kelemahan spesifikasi orang akan salah dalam menilai suatu
situasi, akibatnya keputusan yang diambilpun menjadi lemah mutu dan
nilainya.
10. Dan lain-lain
2.3. Kondisi Persoalan Keputusan
Ada beberapa kategori keputusan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Keputusan dengan kepastian
Keputusan tersebut berada dalam kondisi dengan kepastian bila hasil dari
setiap pilihan diketahui secara pasti, sehingga akibat atau konsekuensi
pemilihan suatu alternatif dapat ditentukan sebelum keputusan dibuat.
Pembuat keputusan sepenuhnya merupakan proses untuk memilih alternatif
dengan hasil paling baik.
Kondisi dimana hasil setiap alternatif diketahui secara pasti karena informasi
yang diperlukan untuk mengambil keputusan lengkap. Dengan demikian kita
dapat meramalkan secara tepat hasil dari seriap keputusan.
2. Keputusan dengan resiko
Kondisi ini dihadapi oleh pembuat keputusan jika informasi mengenai
konsekuensi dari setiap pilihan terbatas, namun masih cukup untuk
menentukan probabilitas dari beberapa kemungkinan hasil yang terkandung
dalam pilihan-pilihan tadi. Kondisi dimana hasil dari setiap alternatif tidak
diketahui secara pasti, tetapi probabilitasnya diketahui.

15

3. Keputusan dengan ketidakpastian
Pembuat keputusan menghadapi kondisi dimana setiap pilihan tidak memiliki
hasil yang pasti. Pengetahuan terbatas sampai pada kemungkinan hasil dari
pilihan-pilihan itu. Mengingat informasi makin terbatas, pembuat keputusan
tidak dapat menentukkan probabilitas dari keadaan-keadaan di masa depan.
Dalam kondisi seperti ini, kriteria keputusan sangat ditentukkan oleh sikap
pembuat keputusan terhadap resiko dan masa depan.
Pembuat keputusan, mungkin pribadi yang selalu berusaha menghindari resiko
dari hasil buruk atau yakin bahwa masa depan akan berkembang menuju
keadaan yang akan membawa hasil yang baik. Kondisi dimana hasil dari
setiap alternatif bersifat tidak pasti bahkan probabilitasnya tidak diketahui.
Keputusan dengan ketidakpastian ini dibagi menjadi babarapa kriteria antara
lain:
a. Kriteria Pesimisme
Kriteria yang sangat mengindahkan hasil buruk dari setiap alternative dan
memilih yang terbaik diantara yang buruk. Orang yang demikian disebut
sebagai orang yang pesimis artinya orang yang melihat segala sesuatu dari
sisi buruknya (looks on the side of taings). Kriteria pesimisme dibagi
menjadi 2 kriteria:
1) Kriteria Maksimin (maksimum dari minimum)
Pembuat keputusan diarahkan untuk menetukan hasil terkecil
(minimum) dari setiap pilihan. Alternatif terbaik baginya adalah
pilihan yang memiliki hasil terbesar di antara hasil-hasil terkecil atau
maksimum dari minimum (maksimin).
2) Kriteria Minimaks (minimum dari maksimum)
Bila hasil merupakan kerugian atau biaya, hasil terbyryk adalah biaya
terbesar (maksimum). Alternative terbaik adalah pilihan yang
mempunyai biaya terkecil di antara biaya-biaya terbesar (minimaks).


16

b. Kriteria Optimisme
Kebalikan dari sikap pesimisme, optimisme adalah keyakinan bahwa masa
depan akan bergerak ke keadaan seperti yang diharapkan. Dengan
keyakinan seperti itu, pembuat keputusan dianjurkan untuk
memperhatikan hasil yang terbaik atau hasil maksimum. Alternatif terbaik
baginya adalah pilihan yang memberikan hasil terbesar di antara hasil-
hasil terbaik atau maksimum dari maksimum (maksimaks).
c. Kriteria Penyesalan
Kriteria ini berhubungan dengan adanya peluang yang hilang disebut
sebagai suatu penyesalan karena adanya kerugian disebabkan pengambilan
keputusan yang salah mengakibatkan hasil yang diperoleh berbeda jauh
dengan hasil terbesar yang mungkin diperoleh pada keadaan tertentu.
Kriteria ini memiliki hubungan dengan konsep opportunity cost.
Penyesalan didefinisikan sebagai perbedaan antara hasil terbesar yang
mungkin diperoleh dalam keadaan tertentu.
d. Kriteria Hurwicz-
Metode ini memadukan sikap optimisme dan pesimisme. Sikap ini
dinyatakan dengan koefisien optimisme , yang nilai berkisar dari 0
(pesimis) sampai 1 (optimisme) yang bila diuraikan sebagai berikut:

2.4. Definisi Analytical Hierarchy Process (AHP).
Konsep metode AHP adalah merubah nilai-nilai kualitatif menjadi nilai
kuantitatif. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil bisa lebih obyektif. AHP
merupakan sistem pembuat keputusan dengan menggunakan model matematis.
AHP membantu dalam menentukan prioritas dari beberapa kriteria dengan
melakukan analisis perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah sebuah hirarki
fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu
masalah yang kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-
kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu
bentuk hirarki. Pendekatan yang dilakukan dalam AHP adalah analisis
17

permasalahan komplek melalui prinsip-prinsip dekomposisi, analisis
perbandingan dan sintesa prioritas.
Metode AHP mula-mula dikembangkan oleh Thomas Saaty di Amerika pada
tahun 1970 dalam hal perencanaan kekuatan militer untuk menghadapi berbagai
kemungkinan (contingency planning). Kemudian dikembangkan di Afrika
khususnya di Sudan dalam hal perencanaan transportasi. Pada saat inipun metode
AHP juga telah digunakan oleh beberapa peneliti, misalkan untuk Pemilihan
Karyawan Berprestasi atau Pengembangan Produktivitas Hotel.
Metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan yang
dapat membantu kerangka berfikir manusia. Dalam perkembangannya AHP tidak
saja digunakan untuk menentukan prioritas pilihan-pilihan dengan banyak kriteria,
tetapi penerapannya telah meluas sebagai metode alternatif untuk menyelesaikan
berbagai macam masalah seperti memilih fortofolio, analisis manfaat biaya,
peramalan dan lain-lain. AHP menawarkan penyelesaian masalah keputusan yang
melibatkan seluruh sumber kerumitan seperti yang diidentifikasikan diatas. Hal ini
dimungkinkan karena AHP cukup mengandalkan pada intuisi sebagai input
utamanya, namun intuisi harus datang dari pengambilan keputusan yang cukup
informasi dan memahami masalah keputusan yang dihadapi.
Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70-an.
Dasar berpikirnya metode AHP adalah proses membentuk skor secara numerik
untuk menyusun rangking setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana
sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan. Adapun
struktur hirarki AHP ditampilkan pada gambar 1. berikut.




Gambar 2.1. Struktur Hirarki AHP
Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif ke n
Sasaran
Kriteria ke n

Kriteria 3

Kriteria 2 Kriteria 1
18

Adapun langkah-langkah metode AHP adalah :
1. Menentukan jenis-jenis kriteria yang akan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Menyusun kriteria-kriteria tersebut dalam bentuk matriks berpasangan.
3. Menjumlah matriks kolom.
4. Menghitung nilai elemen kolom kriteria dengan rumus masing-masing elemen
kolom dibagi dengan jumlah matriks kolom.
5. Menghitung nilai prioritas kriteria dengan rumus menjumlah matriks baris
hasil langkah ke 4 dan hasilnya 5 dibagi dengan jumlah kriteria.
6. Menentukan alternatif-alternatif yang akan menjadi pilihan.
7. Menyusun alternatif-alternatif yang telah ditentukan dalam bentuk matriks
berpasangan untuk masing-masing kriteria. Sehingga akan ada sebanyak n
buah matriks berpasangan antar alternatif.
8. Masing-masing matriks berpasangan antar alternatif sebanyak n buah matriks,
masing- masing matriksnya dijumlah perkolomnya.
9. Menghitung nilai prioritas alternatife masing-masing matriks berpasangan
antar alternatif dengan rumus seperti langkah 4 dan langkah 5.
10. Menguji konsistensi setiap matriks berpasangan antar alternatif dengan rumus
masing-masing elemen matriks berpasangan pada langkah 2 dikalikan dengan
nilai prioritas kriteria. Hasilnya masing-masing baris dijumlah, kemudian
hasilnya dibagi dengan masing-masing nilai prioritas kriteria sebanyak
1
,

2
,
3
,
n
.
11. Menghitung Lamda max dengan rumus:
max= / n ) 1 . 2 ....(
12. Menghitung CI dengan rumus:
CI = max / (n-1) ) 2 . 2 ....(
13. Menghitung RC dengan rumus:
CR = CI /RC ) 3 . 2 ....(
dimana RC adalah nilai yang berasal dari tabel random seperti Tabel dibawah.
n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
RC 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51
19

Jika CR < 0,1 maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria
yang diberikan konsisten. Jika CR > 01, maka maka nilai perbandingan
berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan tidak konsisten. Sehingga
jika tidak konsisten, maka pengisian nilai-nilai pada matriks berpasangan pada
unsur kriteria maupun alternatif harus diulang.
14. Menyusun matriks baris antara alternatif versus kriteria yang isinya hasil
perhitungan proses langkah 7, langkah 8 dan langkah 9.
15. Hasil akhirnya berupa prioritas global sebagai nilai yang digunakan oleh
pengambil keputusan berdasarkan skor yang tertinggi.
2.5. Aksioma-Aksioma AHP
Pengertian aksioma adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah kebenarannya atau
yang harus terjadi. Ada empat aksioma yang harus diperhatikan dalam
penggunaan model AHP dan pelanggaran setiap aksioma berakibat tidak validnya
model yang dipakai.
Keempat aksioma tersebut adalah
1. Aksioma 1
Reciprocal artinya pengambil keputusan harus dapat membuat perbandingan
dan menyatakan prefensinya. Prefensi itu sendiri harus memenuhi syarat
resiprokal yaitu kalau
1
lebih disukai dari
2
dengan skala x, maka
2
lebih
disukai dari
1
dengan skala1/x.
2. Aksioma 2
Homogenelty artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala
terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu
sama lain. Kalau aksioma ini tidak dipenuhi, maka elemen-elemen yang
dibandingkan tersebut tidak homogenous atau harus dibentuk suatu cluster
(kelompok elemen-elemen) yang baru.
3. Aksioma 3
Dependence artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan criteria
tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif, melainkan oleh tujuan secara
keseluruhan. Hal ini menunjukkan ketergantungan atau pengaruh dalam model
20

AHP adalah searah. Artinya perbandingan antar elemen dalam satu level
dipengaruhi atau tergantung pada elemen-elemen dalam level di atasnya.
4. Aksioma 4
Expectations artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki
diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak terpenuhi, maka pengambil
keputusan dapat dikatakan tidak memakai seluruh kriteria sehingga keputusan
yang diambil dianggap tidak lengkap.
2.6. Hirarki Tujuan
Hirarki adalah alat yang paling mudah untuk memahami masalah yang kompleks
dimana masalah tersebut diuraikan ke dalam elemen-elemen yang bersangkutan,
menyusun elemen-elemen tersebut secara hirarki dan akhirnya melakukan
penilaian atas elemen-elemen tersebut, sekaligus menentukan keputusan yang
akan diambil.
Hirarki yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan adalah model AHP
adalah bentuk hirarki fungsional yang menguraikan masalah yang kompleks
menjadi bagian-bagian sesuai dengan hubungan esensialnya. Pembentukkan
hirarki pada prinsipnya adalah suatu tujuan yang bersifat umum dijabarkan dalam
beberapa sub tujuan yang lebih terperinci, yang dapat menjelaskan maksud dalam
tujuan pertama. Penjabaran ini dapat dilakukan terus hingga akhirnya diperoleh
tujuan yang bersifat operasional. Pada tingkat hirarki inilah dilakukan proses
evaluasi atas alternatif-alternatif yang merupakan ukuran dari pencapaian tujuan
utama. Pada hirarki ini dapat ditetapkan dalam satuan apa kriteria diukur,
sehingga setiap alternatif dapat diukur secara operasional.
21

Tujuan
K2 K3 K1
SK12 SK13 SK11 SK22 SK23 SK21 SK32 SK33 SK31
A2 A3 A1
Tujuan
Kriteria
Sub
Kriteria
Alternatif

Gambar 2.2. Model Hirarki Tujuan
Penjabaran tujuan dalam hirarki yang lebih rendah pada dasarnya ditujukkan agar
diperoleh kriteria yang dapat diukur keadaannya. Walaupun sebenarnya tidaklah
selalu demikian keadaannya. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin lebih
menguntungkan bila menggunakan tujuan pada hirarki yang lebih tinggi dalam
proses analisis. Semakin rendah dalam menjabarkan suatu tujuan, semakin mudah
pula penentuan ukuran objektif dari kriteria-kriterianya. Tetapi ada kalanya dalam
proses analisis pengambilan keputusan tidak memerlukan penjabaran yang terlalu
terperinci. Bila demikian keadaannya, maka salah satu cara untuk menyatakan
ukuran pencapaiannya adalah dengan menggunakan skala subjektif.
Untuk memastikan bahwa kriteria-kriteria yang dibentuk sesuai dengan tujuan
permasalahan, maka perlu dilihat sifat-sifat berikut:
1. Minimum
Jumlah kriteria diusahakan tidak terlalu banyak dan berlebihan untuk
memudahkan dalam menganalisis.
2. Independen
Setiap kriteria tidak saling tergantung/tumpang tindih dan harus dihindari
pengulangan kriteria untuk suatu maksud yang sama.
3. Lengkap
Kriteria harus dapat mencakup seluruh aspek penting dalam persoalan.
22

4. Operasional
Kriteria harus dapat diukur dan dianalisis, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dan dapat dikomunikasikan.
Berdasarkan atas suatu penelitian Psikologi yang dilakukan oleh G.A. Miller,
pada tahun 1965 yang menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat secara simultan
membangkitkan lebih dari tujuh objek (tambah atau kurang dua). Pada kondisi
tersebut, manusia akan mulai kehilangan konsentrasinya dalam melakukan
perbandingan dan bahkan cenderung menjadi bingung. Untuk manusia yang
tergolong luar biasa, paling banyak ia dapat melakukan perbandingan Sembilan
elemen yang konsisten. Lebih dari itu, hampir tidak mungkin. Sedangkan orang
biasa kebanyakan mampu membandingkan paling sedikit lima elemen secara
konsisten (Brodjonegoro, 1992). Hal ini mendasari pembuatan percabangan
hirarki dalam AHP diupayakan tidak lebih dari tujuh elemen.
Pengambilan keputusan AHP memberikan bobot prioritas untuk sejumlah n
alternatif dengan mempertimbangkan sejumlah m kriteria. Dalam hal ini, kriteria-
kriteria dinyatakan dalam C
i
(untuk I = 1, 2, 3,, m) dan alternatif-alternatif
sebagai
i
(untuk I = 1, 2, 3,, n).
2.4. Penyusunan Matriks Perbandingan
Misalkan terdapat subsistem hirarki dengan satu kriteria C dan sejumlah n elemen
dibawahnya:
1
sampai
n
, seperti terlihat dibawah ini:



Gambar 2.3. Subsistem Hirarki
Perbandingan antar elemen untuk subsistem hirarki itu dibuat dalam bentuk
matriks nxn, seperti disajian pada tabel dibawah ini. Matriks tersebut dinamakan
matriks perbandingan berpasangan.

C

2

n

23

Tabel 2.1. Matriks Perbandingan Berpasangan
C
1

2

n

2

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

n


2.7. Pengisian Matriks Perbandingan
Setiap elemen yang terdapat dalam hirarki harus diketahui bobot telatifnya satu
sama lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kepentingan atau prefensi
pengambil keputusan terhadap elemen dan struktur hirarki secara keseluruhan.
Langkah pertama dalam menentukan susunan proiritas elemen adalah biasanya
dengan menyusun perbandingan berpasangan (pairwise comporison), yaitu
membandingkan dalam bentuk berpasangan seluruh elemen untuk setiap
subsistem hirarki.
Perbandingan tersebut kemudian ditrasnformasikan dalam bentuk matriks untuk
maksud analisis numerik. Penilaian perbandingan antar elemen dalam hirarki
tersebut menggunakan skala penilaian satu sampai Sembilan, dengan perincian
dibawah ini:






24

Tabel 2.2. Skala Penilaian Perbandingan

Pengambil keputusan harus memberikan penilaian sebanyak n[(n-1)/2] untuk
setiap matriks berukuran nxn.
2.8. Perhitungan Nilai Bobot
Hasil penilaian pengambilan keputusan disajikan pada matriks yang berisi nilai
penilaian, seperti terlihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.3. Matriks Nilai Perbandingan Berpasangan
C

1

2

n

1

11

12

1n

2

21

22

2n

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

n

n1

n2

n

25

) 4 . 2 ....(
Nilai
ij
adalah nilai perbandingan elemen
i
terhadap elemen
j
, yang menyatakan
hubungan seberapa besar tingkat kepentingan elemen
i
bila dibandingkan dengan
elemen
j
atau seberapa besar elemen
i
disukai dibandingkan elemen
j
terhadap
kriteria C.
Bila diketahui nilai perbandingan
i
terhadap
j
adalah
ij
maka secara teoritis nilai
perbandingan
j
terhadap
i
(reciproc) atau nilai
ij
adalah 1/
ij
. Sedangkan nilai

ij
dalam situasi i=j adalah mutlak sama dengan satu. Dengan demikian bentuk
matrik A adalah sebagai berikut:
1
12
..
1n

1/
12
1 .
2n
. .. .. ..
1/
1n
1/
2n
.. 1
A =

Bobot yang dicari dinyatakan dalam vector w = (w
1
, w
2
, , w
n
). Nilai w
n

menyatakan bobot relative elemen
n
terhadap seluruh himpunan elemen pada
subsistem tersebut. Masalahnya adalah bagaimana mendapatkan bobot w
i
untuk
setiap
ij
tersebut.
Untuk memecahkan masalah tersebut dapat dilakukan melalui tiga tahap berikut:
Tahap 1:
Diasumsikan bahwa nilai perbandingan merupakan hasil pengukuran nyata. Untuk
membandingkan elemen
1
dengan
2
diambil patokan dari bobot setiap elemen.
Dengan demikian, nilai perbandingan yang diperoleh dari partisipan berdasarkan
penilaian table diatas yaitu
ij
dapat dinyatakan dalam vector w sebagai hubungan
antara w
i
dengan hasil penilaian
ij
adalah sebagai berikut:
n j i
w
w
i
ij
,..., 2 , 1 , ;
2
= =

) 5 . 2 ....(





26

Dan matriks perbandingannya adalah:
(
(
(
(
(
(
(
(
(

n
n n n
n
n
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
....
..... . ... ...... .. ...
....
....
2 1
2
2
2
1
2
1
2
1
1
1

) 6 . 2 ....(
Ternyata, bentuk hubungan di atas tidak realitik untuk menangani kasus yang
sebenarnya (nyata). Pertama, karena pengukuran fisik tidak pernah eksak secara
matematis sehingga diperlukan kelonggaran (deviation). Kedua, penyimpangan
pada penilaian yang dilakukan manusia biasanya cukup besar.
Tahap 2:
Untuk melihat seberapa besar kelonggaran yang dibuat untuk penyimpangan,
perhatikan baris ke-i dari matriks . Elemen baris tersebut adalah

i1
,
i2
, ,
in
) 7 . 2 ....(
Pada kasus ideal (eksak), nilai-nilai ini sama dengan perbandingan:
n
i
j
i i i
w
w
w
w
w
w
w
w
,...., ,...., ,
2 1

) 8 . 2 ....(
Jika elemen pertama dari baris tersebut dikalikan dengan w
1
, elemen kedua
dengan w
2
dan seterusnya, maka akan diperoleh:
n
n
i
j
j
i i i
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
. ,...., . . , .
2
2
1
1
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

) 9 . 2 ....(
Hasilnya adalah baris dengan elemen yang identik: w
i
, w
i
, , w
i
, , w
i

Pada kasus umum, akan diperoleh elemen baris yang besarnya berkisar nilai w
i
,
sehingga jika dikatakan bahwa w
i
adalah harga rata-rata dari nilai tersebut:
w
i
= rata-rata dari ((
i1
. w
i1
), (
i2
. w
i2
),, (
in
. w
in
))
n i w
n
w
j
n
j
ij i
,..., 2 , 1 ;
1
1
= =

=


) 10 . 2 ....(

27

Tahap 3:
Pada kasus nyata, nilai
ij
tidak selalu sama dengan w
i
/w
j
, sehingga akan
mempengaruhi solusi persamaan (2.10), kecuali jika n berubah. Untuk selanjutnya
nilai n ini diganti oleh
maks
sehingga:
n i w w
j
n
j
ij
maks
i
,..., 2 , 1 ;
1
1
= =

=


) 11 . 2 ....(
Persamaan (13.3) memiliki solusi unik, yang dikenal dengan nilai eignvelue (nilai
eigen). Nilai
maks
adalah eignvelue maksimum dari matriks .
Dari tahap 1, dapat siturunkan hubungan:
1.
ij
.
jk
= (w
i
/ w
j
) . (w
j
/ w
k
)

ij
.
jk
= (w
i
/ w
k
)

ij
.
jk
=
ik
untuk semua i, j, k (2.12)
bentuk persamaan (13.4) menyatakan harus terpenuhinya konsistensi penilaian
dari elemen matriks tersebut.
2.
ji
= (w
j
/ w
i
)

ji
= 1/(w
i
/ w
j
)

ji
= 1/
ij
; i, j = 1, 2, , n (2.13)
Bentuk persamaan (13.5) menunjukkan cirri resiprokal dari matriks perbandingan.
Pada situasi penilaian yang konsisten sempurna (teoritis) maka didapatkan
hubungan:

ik
=
ij
.
jk
untuk semua i, j, k ) 14 . 2 ....(
dan matriks yang didaptkan adalah matriks yang konsisiten.
Dari persamaan di atas dapat dibuat persamaan berikut:

ij
= w
j
/ w
i
= 1 ; i, j = 1,, n ) 15 . 2 ....(
dengan demikian didapatkan:
n i w n w
n i n w w
i j
n
j
ij
ij j
n
j
ij
,..., 1 ; .
,..., 1 ; / 1 .
1
1
= =
= =

=
=


) 16 . 2 ....(
28

yang ekivalen dengan persamaan:
w = nw ) 17 . 2 ....(
Dalam teori matriks, formula tersebut menyatakan bahwa w adalah eigen vector
dari matriks dengan eigenvalue n. bila ditulis secara lengkap maka persamaan
tersebut akan terlihat dibawah ini:
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(
(

n n n
n n n
n
n
w
w
w
n
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
w
.....
.
.....
....
..... . ... ...... .. ...
....
....
2
1
2
1
2 1
2
2
2
1
2
1
2
1
1
1

) 18 . 2 ....(

Variabel n pada persamaan w = nw dapat digantikan secara umum dengan
sebuag vektor , sehingga terbenruk persamaan sebagai berikut:
w = w (2.19)
dimana: = (
1
,
2
,,
n
)
Setiap
n
yang memenuhi persamaan (2.19) dinamakan sebagai eigenvalue,
sedangkan vektor w yang memenuhi persamaan (2.19) tersebut dinakan sebagai
eigenvector.
Apabila dihubungkan dengan tahap 3 dan mengingat adanya teori matriks, maka:
3. Jika
1
,
2
,,
n
adalah eigenvalue dari dan karena matriks adalah suatu
matriks resiprokal dengan nilai
ii
= 1 untuk semua I, maka:
n
n
i
i
=

=1
= jumlah elemen-elemen diagonal matrik
Artinya, apabila matriks adalah matriks yang konsisten maka semua
eigenvalue bernilai nol, kecuali satu yang bernilai sama dengan
maks
. Bila
matriks dalah matriks yang tidak konsisten, variansi kecil atas
ij
akan
membuat nilai eigenvalue terbesar,
maks
tetap dekat dengan n, dengan nilai
eigenvalue lainnya mendekati nol.
29

4. Kesalahan kecil pada koefisien matariks
ii
akan menyebabkan penyimpangan
yang kecil pula pada eigenvalue. Oleh karena itu, untuk mendapatkan
besarnya eigenvector harus diselesaikan persamaan berikut:
w -
maks
. w
Nilai
maks
dapat diperoleh dengan persamaan (2.19) atau:
( -
maks
. i) w = 0
Dimana i adalah matriks identitas dan 0 adalah matriks nol
Nilai eigenvector w dapat diperoleh dengan mensubstitusikan nilai
maks
ke
dalam persamaan ( -
maks
. i) w = 0
2.9. Sintesa Prioritas
Pada tahap sintesa prioritas dilakukan perhitungan bobot prioritas, dengan dua
jenis proiritas yaitu:
1. Prioritas Lokal
Priorital lokal ditunjukkan sebagai himpunan eigenvector dalam setiap matriks
perbandingan berpasangan. Nilai ini menggambarkan pengaruh relatif
himpunan elemen dalam matriks tersebut terhadap elemen pada level tepat di
atasnya.
2. Prioritas Global
Setiap himpunan elemen pada suatu matriks perbandingan berpasangan dapat
dihitung nilai prioritas globalnya yang menyatakan pengaruh relatif masing-
masing elemen terhadap pencapaian tujuan pada level paling atas (top level).
2.10. Pengujian Konsistensi
Hubungan preferensi yang dilakukan pada dua elemen tidak mempunyai masalah
konsistensi relasi. Bila elemen
1
adalah dua kali lebih penting dari elemen
2
,
maka elemen
2
adalah kali pentingnya dari elemen
1
. Tetapi konsistensi
seperti itu tidak selalu berlaku apabila terdapat banyak elemen yang harus
dibandingkan. Karena keterbatasan kemampuan numeric manusia, maka prioritas
yang diberikan untuk sekumpulan elemen tidaklah selalu konsisten secara logis.
30

Hal ini berkaitan dengan penerapan AHP, yaitu bahwa penilaian dalam AHP
dilakukan berdasarkan pengalaman dan pemahaman yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Sehingga secara numeric, terdapat kemungkinan suatu rangkaian
penilaian untuk menyimpang dari konsistensi logis.
Pada prakteknya niali
ij
akan menyimpang dari rasio w
i
/w
j
dan dengan demikian,
persamaan sebelumnya tidak akan terpenuhi. Pada matriks yang konsisten, secara
praktis
maks
= n, sedangkan pada matriks tidak konsisten setiap variasi dari
ij

akan membawa perubahan pada nilai
maks
. Deviasi
maks
dari n merupakan suatu
parameter Consistency Index (CI) yang dinyatakan sebagai berikut:
( )
1

=
n
n
CI
maks

(2.20)
Nilai CI tidak akan berarti apabila tidak terdapat patokan untuk menyatakan
apakah CI mrnunjukkan suatu matriks yang konsisten. Patokan ini selanjutnya
dinamakan sebagai Random Index (RI) yang diperoleh berdasarkan serangkaian
perbandingan random atas 500 sampel. Suatu matriks yang dihasilkan dari
perbandingan yang dilakukan secara acak merupakan suatu matriks yang mutlak
tidak konsisten.
Perbandingan antara CI dengan RI akan diperoleh patokan untuk menentukan
tingkat konsistensi penilaian suatu matriks yang disebut sebagai Ratio
Consistency (RC)
RI
CI
RC = (2.21)

Dari 500 sampel matriks acak, dengan skala perbandingan 1-9 untuk beberapa
orde matriks diperoleh nilai rata-rata RI seperti sebagai berikut:
Tabel 2.4. Nilai Indeks Random
Orde
Matriks
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Indeks
Random
0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.41 1.45 1.48

31

Hasil penelitian suatu matriks perbandingan dalam pengolahan AHP adalah
konsisten apabila nilai rasio konsistensi (CR) tidak lebih dari 0.10. Apabila CR
0.10, maka hasil penilaian dapat diterima atau dipertanggungjawabkan. Jika tidak,
maka pengambil keputusan harus meninjau ulang masalah dan merevisi matriks
perbandingan berpasangan.
Pengujian pada persamaan (2.21) dilakukan untuk matriks perbandingan yang
didapatkan dari partisipan. Pengujian harus pula dilakukan untuk hirarki.
Prinsipnya adalah dengan mengalikan semua nilai CI dengan bobot suatu kriteria
yang menjadi acuan pada suatu matriks perbandingan berpasangan dan kemudian
menjumlahkannya. Jumlah tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai yang
diperoleh dengan cara yang sama tetapi untuk suatu matriks random. Hasil
akhirnya berupa suatu parameter yang disebut dengan Consistency Ratio
Hierarchy (CRH), dengan persamaan sebagai berikut:
RIH
CIH
CRH = (2.22)
dimana: CIH = Consistency Index of Hierarchy
RIH = Random Index of Hierarchy
Secara rinci, prosedur perhitungan dapat diuraikan dengan langkah-langkah
berikut:
1. Perbandingan antar elemen yang dilakukan untuk seluruh hirarki akan
menghasilkan beberapa matriks berpasangan. Setiap matriks akan mempunyai
beberapa hal berikut:
a. Suatu kriteria yang menjadi acuan perbandingan antara kriteria pada
tingkat hirarki dibawahnya.
b. Nilai bobot untuk kriteria acuan tersebut, relatif terhadap kriteria di tingkat
lebih tinggi.
c. Nilai CI untuk matriks perbandingan untuk matriks tersebut
d. Nilai RI untuk matriks perbandingan untuk matriks tersebut
32

2. Untuk setiap matriks perbandingan, kalikan nilai CI dengan bobot kriteria
acuan. Jumlahkan semua hasil perkalian tersebut, maka didapatkan
Consistency Index of Hierarchy (CIH).
3. Untuk setiap matriks perbandingan, kalikan nilai CI dengan bobot kriteria
acuan. Jumlahkan semua hasil perkalian tersebut, maka didapatkan Random
Index of Hierarchy (RIH).
4. Nilai CRH diperoleh dengan membagi CIH dengan RIH. Sama halnya dengan
konsistensi matriks perbandingan berpasangan, suatu hirarki disebut konsisten
apabila nilai CRH tidak lebih dari 0.10.


33

Bab 3
Kerangka Pemecahan Masalah


3.1. Flowchart Penelitian
Agar penelitian ini berjalan dengan sistematis, maka sebelumnya peneliti
membuat perencanaan tentang langkah-langkah pemecahan masalah yang akan
dilalui seperti tersaji pada gambar 3.1.

Studi Pendahuluan
Wawancara dengan Para Petinggi Perusahaan
di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA
Studi Pustaka
Tujuan Penelitian
Latar Belakang Masalah
Identifikasi Masalah
Pengolahan Data:
Menggunakan Metode Analitical
Hierarchy Process (AHP) diataranya:
- Menghitung rata-rata
- Menghitung Eigen Vektor
- Menghitung Eigen Value
- Menghitung indeks konsistensi
- Menghitung rasio konsistensi
Kesimpulan
Analisis
Pengumpulan Data:
1. Survei Lapangan di perusahaan
2. Wawancara dengan beberapa petinggi perusahaan
3. Observasi
Mulai
Selesai

Gambar 3.1. Flowchart Penelitian
34

3.2. Flowchart Pengolahan Data AHP (Analytical Hierarchy Process)
Agar penelitian ini berjalan dengan sistematis, maka sebelumnya peneliti
membuat pengolahan data dengan langkah-langkah pemecahan masalah yang
akan dilalui seperti tersaji pada gambar 3.2.
Menentukan faktor-faktor yang terlibat
dalam pengambilan keputusan
Menstrukturkan kriteria dan menyusun
hierarki
Melakukan Pembobotan Kriteria
Melakukan Pembobotan Alternatif
Menyusun Bobot terhadap
Keseluruhan Susunan
Memeriksa Kosistensi:
1. Melakukan Perataan
2. Menghitung Eigen vektor
3. Manghitung Eigen value
4. Menghitung Indeks Konsistensi
5. Menghitung Rasio Konsistensi
Mulai

Gambar 3.2. Flowchart Pengolahan Data AHP (Analytical Hierarchy Process)

35

3.3. Langkah-langkah Pemecahan Masalah Penelitian
1. Melakukan studi pendahuluan dengan observasi dan mewawancarai para
petinggi perusahaan di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA, untuk
mengetahui gambaran umum tentang perusahaan dan permasalahan yang
terjadi.
2. Melakukan studi kepustakaan untuk mendukung studi lapangan yang akan
dilakukan menggunakan acuan pada buku aplikasi teknik pengambilan
keputusan dalam manajemen rantai pasok serta materi-materi pada kuliah
proses pengambilan keputusan.
3. Membuat latar belakang masalah tentang penelitian yang akan dilakukan
yaitu Perusahaan mengalami permasalahan atau kebimbangan dalam
penentuan strategi kerja yang terjadi disaat pengambilan keputusan, peneliti
melakukan observasi dan wawancara dengan pegawai atau karyawan untuk
mengetahui permasalahan yang ada. Setelah melakukan penelitian terhadap
pegawai atau karyawan, maka diperoleh data tentang pendapat mengenai
penentuan urutan prioritas yang harus didahulukan mengenai beberapa hal
diantaranya masalah pelayanan konsumen, kerjasama industri dengan pesaing
dan pembinaan sumber daya manusia. Karena kebimbangannya tersebut
perusahaan meminta peneliti untuk melakukan penelitian mengenai urutan
mana yang menjadi prioritas utama dalam penentuan strategi kerja.
Berdasarkan pengamatan yang didapat tentang penentuan strategi kerja, maka
peneliti akan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process)
untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diperusahaan. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini, peneliti mengambil judul adalah Penentuan Urutan
Prioritas Strategi Kerja Dengan Menggunakan Metode AHP (Analytical
Hierarchy Process) Di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA
Bandung.
4. Melakukan identifikasi masalah mengenai kriteria, struktur hierarki,
perhitungan AHP (Analytical Hierarchy Process) dan penentuan model
hierarki.
36

5. Menentukan tujuan penelitian dari permasalahan yang ada untuk bisa
melakukan pengumpulan data-data yang diperlukan atas jawaban-jawaban
pada identifikasi masalah.
6. Mengumpulkan data-data seperti survei lapangan diperusahaan, hasil
wawancara dan observasi dengan beberapa petinggi perusahaan.
7. Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data berupa data
pengambilan keputusan berbentuk kuesioner dan disajikan dalam bentuk
Analytical Hierarchy Process (AHP).
8. Melakukan analisis terhadap latar belakang, identifikasi masalah, tujuan
penelitian, pengumpulan data dan pengolahan data yang telah dilakukan.
9. Menarik kesimpulan dari pengumpulan data, pengolahan data dan analisis
data yang telah diperoleh untuk menemukan pemecahan dari masalah yang
akan dicapai.
3.4. Langkah-langkah Pemecahan Masalah Pengolahan Data
1. Melakukan penyusunan Penentuan Urutan Prioritas Strategi Kerja Dengan
Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) di PT. SINAR SAKTI MATRA
NUSANTARA Bandung.
2. Menentukan faktor-faktor yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
Di dalam suatu pengambilan kepuusan dengan kriteria majemuk sering
melibatkan banyak faktor. Pengidentifikasian faktor-faktor yang terlibat akan
membantu terutama didalam mengidentifikasi tujuan atau kepentingan para
pakar dalam pengambilan keputusan, hal ini akan bermanfaat dalam
menstrukturkan masalah dan penyusunan hierarki
3. Menstrukturkan masalah dan menyusun hierarki.
Penstrukturkan masalah harus dilakukan selogis mungkin dan menyeluruh
artinya mampu menggambarkan masalah yang sesungguhnya.
4. Melakukan pembobotan kriteria.
Kriteria yang telah ditentukan sehubungan dengan tujuan utama dinilai
tingkat kepentingannya sehingga dapat diperoleh satu set bobot kriteria.
Bobot ini diperoleh dari penilaian para ahli terhadap kriteria yang kita buat.


37

5. Melakukan pembobotan alternatif
Pembobotan alternatif ini diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi
setiap alternatif yang ada, dilihat dari kriteria-kriteria yang telah disusun.
Untuk keperluan tersebut perlu dibuat matriks profil yang memuat penilaian
bagi tiap alternatif terhadap masing-masing kriteria.
6. Menyusun bobot terhadap keseluruhan susunan.
Pada tahap ini dilakukan penilaian alternatif terhadap tujuan utama dengan
tetap membandingkannya dengan kriteria-kriteria, sehingga didapat satu
bobot untuk tiap alternatif.
7. Memeriksa konsistensi
Dalam melakukan pemeriksaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Melakukan perataan terhadap jawaban para ahli dengan perataan
geometrik. Dari perhitungan, kemudian kita masukan ke dalam tabel
matriks berpasangan untuk tujuan.
b. Menghitung nilai Eigen Vector
Nilai Eigen Vektor = Mean / Mean ) 1 ......(
c. Menghitung Eigen Value
Hasil dari perhitungan eigen value ini berupa nilai
maks
, untuk
perhitungannya dimulai dengan mengalikan masing-masing nilai eigen
vector dengan matriks yang bersangkutan. Kemudian dicari jumlah eigen
value untuk masing-masing kriteria.
d. Menghitung Indeks Konsistensi (CI)
( )
1

=
n
n
CI
maks


) 2 ......(
e. Menghitung Rasio Konsistensi (CR)
RI
CI
RC =

) 3 ......(
8. Jika hasil nilai yang didapat lebih dari 10 persen maka penilaian data harus
diperbaiki dari awal. Namun apabila data telah sesuai maka dilakukan
analisis dan kesimpulan dari hasil yang telah diperoleh
38

Bab 4
Pengumpulan dan Pengolahan Data


4.1. Pengumpulan Data
4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan PT. Sinar Sakti Matra Nusantara
MATRA MACHINERY SERVICES bermula dari sebuah bengkel kecil di Bandung
pada bulan Juni 1969 seluas 30 m
2
dengan empat orang mekanik saja. Lima belas
tahun kemudian secara hukum didirikanlah CV MATRA (Akte Notaris Melly
Nathaniel SH No. 10/9 Agustus 1984-Bandung).
Tujuh tahun kemudian, sesuai dengan perkembangan status hukum perusahaan ini
ditingkatkan menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Sinar Sakti Matra
Nusantara Bandung, Akte Notaris Sabar Partakoesoema SH No.31/20 Mei 1991-
Bandung, yang kemudian setelah melalui beberapa perubahan diubah kembali dan
terakhir diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia Nomor
urut 3223, tambahan Berita Negara Republik Indonesia tanggal 2 April 2002
Nomor 27, Keputusan Mentri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Nomor C-
16144 HT.01.04 tahun 2001 tanggal 30 Oktober 2001. Selanjutnya berdasarkan
keterangan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham PT PT. Sinar Sakti
Matra Nusantara Bandung nomor 08 tanggal 09 Pebruari 2009 Notaris. R. Sabar
Partakoesoema, SH. diadakan perubahan Pemegang Saham dan Komisaris yang
baru.
Saat ini, berkat upaya dan kerja keras dari seluruh karyawan dan manajemen,
MATRA telah dikenal sebagai salah satu bengkel permesinan besar di Indonesia
berstandar tinggi yang ditangani oleh lebih dari 100 tenaga kerja terampil untuk
melayani kelanjutan kegiatan dunia industri.
MATRA memberikan pelayanan permesinan yang mencakup:
1. Pelayanan perbaikan turbin.
2. Pelayanan perbaikan mekanikal & tooling service.
3. Konsultasi teknik On-Line.
39

Melalui pelayanannya MATRA telah berhasil menciptakan efisiensi yang
maksimal dalam waktu dan biaya bagi para klien karena seluruh pekerjaan
dilaksanakan secara lokal di Bandung, sesuai dengan standar internasional. Untuk
memenuhi tujuan ini, MATRA secara berkelanjutan terus meningkatkan
keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan dan seminar serta
melakukan investasi pada peralatan dan mesin terbaru pada CNC, FMS dan
Machining Center.
Seiring dengan perkembangan teknologi, demi kenyamanan klien, kami juga
memberikan konsultasi on-line secara cuma-cuma melalui internet.
Setelah berkecimpung selama lebih dari tiga dekade, kami merasa berbahagia
bahwa kami telah berhasil menyumbangkan solusi terbaik kepada para klien kami
mulai dari toko donat, pabrik tekstil sampai instalasi besar di luar Pulau.
Termasuk juga industri pertahanan seperti, TNI, PINDAD, serta PLN dan
perusahaan industri asing maupun domestik ternama lainnya.
4.1.2. Struktur Organisasi
Pada dasarnya PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA adalah sebuah
perusahaan yang bergerak dibidang permesinan/perbengkelan, maka dari itu
mayoritas pendidikan karyawan adalah minimal lulusan SLTA/SMA untuk staf
administrasi dan luludan STM/SMK untuk operator.
Jumlah seluruh karyawan PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA sampai
dengan bulan juli 2009 sebanyak 97 orang, terdiri dari 15 orang karyawan wanita,
72 orang karyawan pria atau direkapitulasi sebagai berikut
40

Direktur Utama
Direktur Operasional
Ass. Direksi
Manager
Bengkel
Staf Ahli
Bidang Teknik
Manager
Pemasaran
Manager
Keuangan
Mgr/ Ass Mgr
Personalia &
Umum
Promosi
Spv & Adm
Keuangan
Kepala
Bengkel
Spv & Staf
Piutang
Spv & Staf
Akunting
Legal Officer
Staf Pers &
Umum/Sekretariat
Pemasaran &
Penjualan
Kepala Seksi
Pembelian
Barang Teknik
Spv Pengeluaran barang
Jadi & claim
Supervisor
Teknik
Staf Pers &
Umum/Sekretariat
Gudang Brg.
Teknik/Bahan
Baku
Operator
Mesin
Gudang
Perkakas/Tools
Adm
Supervisor

Gambar 4.1. Struktur Organisasi PT. Sinar Sakti Matra Nusantara Bandung

41

4.1.3. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan
Visi
Menjadi perusahaan unggul, maju, terpercaya dengan kinerja profesional.
Misi
Melakukan usaha dalam bidang permesinan dan mekanikal berstandar tinggi yang
ditangani oleh tenaga ahli dan terampil untuk melayani kelanjutan kegiatan dunia
industri nasional, berorientasi pada kepuasan pelanggan, serta berwawasan
lingkungan.
Tujuan
Memberi nilai tambah dan kepuasan konsumen/pelanggan melalui peningkatan
pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan menciptakan
mekanisme peningkatan efisiensi dan efektifitas melalui pengelolaan perusahaan
yang profesional dan kompetitif.
4.1.4. Kapasitas dan Kemampuan Perusahaan
Pelayanan Perbaikan Turbin
Melalui perpaduan antara keahlian dan know-how dunia teknologi turbin
internasional, MATRA memberikan pelayanan inspeksi turbin, pemeliharaan dan
overhaul serta produksi dan penggantian suku cadang serta rotating equipment.
Klien kami terutama datang dari berbagai sektor industri seperti pembangkit
listrik, pabrik gula, petrokimia, pupuk, pulp dan kertas, pertambangan serta
bidang-bidang lainnya.
Tidak masalah apakah menyangkut pembangkit tenaga generator atau turbin, tim
kami selalu siap untuk memberikan pelayanan servis yang memenuhi persyaratan
khusus sesuai dengan teknologi yang berstandar internasional.
Setelah pemeriksaan yang menyeluruh, para ahli turbin kami akan menentukan
kerusakan komponen, inefisiensi atau degradasi dari turbin yang diperbaiki untuk
kemudian mengembalikannya kepada kondisi yang prima dan memastikan bahwa
turbin tersebut berfungsi dengan maksimal kembali.


42

Pelayanan perbaikan turbin terdiri dari:
- Pemeriksaan menyeluruh pada seluruh units dan servis diagnostik.
- Identifikasi dan perbaikan kerusakan dalam sistem pemeliharaan.
- Pembersihan secara mekanik dan kimiawi.
- Reparasi shaft turbin dengan welding, powder, metal spray, ceramic coating
dan hardchrome plating.
- Balancing.
- Laporan evaluasi kondisi untuk seluruh pekerjaan mesin dan instrumentasi
terkait dilengkapi dengan sertifikasi pengetesan sesuai dengan kebutuhan.
Perbaikan lainnya yang berhubungan dengan turbin, selain itu pula MATRA
menerima pembuatan part turbin seperti:
- Disc
- Carbon ring
- Seal diaphragm
- Trip body
- Labyrinth
- Housing turbin
- Sudu
- Bearing
- Shaft
Semua pekerjaan tersebut dilaksanakan dengan kemampuan permesinan yang
berpresisi tinggi, mulai dari penentuan jadwal kerja dan anggaran kerja sampai
dengan penyelesaian pekerjaan.
Pel ayanan Per bai kan Mekani kal
MATRA memberikan pelayanan perbaikan mekanikal termasuk inspeksi, full
service dalam reparasi/overhaul serta pemeliharaan:
- Pelayanan uji performa, analisis dan diagnostik.
- Evaluasi kondisi permesinan serta peralatan terkait.
- Reparasi kerusakan pada sistem proses dan pemeliharaan.
- Reparasi journal bearing, rekondisi motor dan generator.
- Pembuatan gear, shaft, bushing, perlengkapan peralatan serta asesoris lainnya.
43

Teknisi berpengalaman MATRA memberikan pelayanan pembongkaran dan
pemasangan on site, perbaikan dan pemeliharaan berbagai jenis katup (Valve)
yang terdapat di dunia industri. Pelayanan perbaikan meliputi pelapisan
hardchrome plating, rubber, penggantian parts, uji khusus performa dan tes
tekanan untuk jenis katup: Globe Valves, Gate Valves, Plug Valves, Butterfly
Valves, dan lain sebagainya.
Tool i ng Ser vi ces
Berbekal pengalaman kami dalam Turbine Services dan Mechanical Services
selama lebih dari dua dekade , peralatan bantu (Tooling) merupakan suatu produk
yang telah memberikan kontribusi atas ketelitian dan keakuratan produk yang
kami hasilkan selama ini.
Assembly/Dis-assembly Tools, Special Equipment Tools, Supporting Tools yang
kami pergunakan selama ini menjadi keahlian tersendiri bagi kami selama ini dan
sejenis peralatan yang sama juga digunakan pada industri besar dalam membantu
meningkatkan kinerja produk baik dalam indusri perminyakan, otomotif, train
maupun aircraft production & maintenance.
Dengan berbekal keahlian dan pengalaman tersebut, kamipun memiliki
kemampuan melakukan rekayasa dan manufaktur dalam berbagai peralatan untuk
mendukung industri besar yang bergerak dibidang produksi & maintenance plant
antara lain:
- Assembly & Dis-assembly Tools untuk Turbine & Aircraft Engines.
- Ground Support Equipment, Scaffolding, Docking dsb.
- Transportation Equipments, Troulley, Sling, Engine Stand dsb.
- Test Equipment, Special Purpose Tools & Equipment.
- Jig & Fixtures.
Kons ul t as i Tekni s
Demi kelancaran dan kenyamanan komunikasi, MATRA menyediakan juga
kemudahan bagi anda berupa konsultasi teknis secara cuma-cuma, melalui
telepon, fax dan internet.
44

Masalah permesinan dan turbin diantaranya yang menyangkut program proses
produksi, evaluasi penggunaan suku cadang atau peralatan permesinan untuk
pabrik, perbaikan dan pemeliharaan mesin-mesin industri, dapat dikomunikasikan
untuk dicarikan solusi terbaik bagi perusahaan anda.
Hubungi Customer Service kami atau kirimkan masalah anda melalui e-mail.
Dengan senang hati kami akan melayani anda.
KONSULTASI TEKNIS :PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA
Alamat : Jl. A. Yani No. 726 Bandung 40282, Jawa Barat
Telepon : 022. 7202200
Fax : 022.7201143
E-mail : matra@bdg.centrin.net.id
Fas i l i t as
Perusahaan kami dilengkapi State of the Facilities untuk mendukung seluruh
pekerjaan baik Turbine Services, Mechanical Services dan Tooling Services
adalah sebagai berikut:
Mechanical Process :
- CNC Milling ST28N ATC/MC-Mazak sebanyak 1 Units
- Copy Milling Maching berbagai type dan ukuran sebanyak 3 Units
- Milling Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 15 Units
- CNC Lathe Quick Turn 8N-Mazak sebanyak 1 Units
- Lathe Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 33 Units
- Copy Lathe berbagai type dan ukuran sebanyak 3 Units
- Grinding Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 7 Units
- Surface Grinding berbagai type dan ukuran sebanyak 10 Units
- Crank Shaft Grinding berbagai type dan ukuran sebanyak 4 Units
- Shaping Machine Elliot berbagai ukuran sebanyak 4 Units
- Boring Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 5 Units
- Drilling Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 14 Units
- Jig Boring Machine Manex sebanyak 1 Units
- Corter Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 5 Units
- Honing Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 3 Units
45

- Conrod Machine sebanyak 2 Units
- Sawing Machine berbagai type dan ukuran sebanyak 4 Units
- Polishing Machine Danit sebanyak 1 Units
- Grafier Machine 1 : 10 sebanyak 1 Units
- Tapping Machine sebanyak 1 Units
4.1.5. Utilitas dan Lingkungan Perusahaan
Energi yang digunakan pada perusahaan PT. SINAR SAKTI MATRA
NUSANTARA untuk menjalankan mesin-mesin dan alat-alat lainnya adalah
menggunakan tenaga listrik PLN dan generator yang merupakan suatu unsure
pokok dalam aktivitas suatu perusahaan. Basarnya daya listrik yang digunakan
perusahaan adalah sebesar 23.000 watt/220 volt. Tapi ada juga beberapa mesin
yang menggunakan pembangkit listriknya dari tenaga diesel. Dalam penggunaan
maupun pengadaan air diperusahaan ini diambil dari air ledeng yang mengalir dari
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandung. Adapun keperluan yang
digunakan oleh perusahaan tidaklah terlalu banyak. Sisa dari hasil produksi atau
sampah yang berupa geram dan scrapt dikumpulkan dalam sebuah tong sampah
yang kemudian pada setiap minggunya diambil oleh petugas kebersihaan.
Limbah industri yang dihasilkan oleh perusahaan adalah berupa air yang dialirkan
ke kolam sehingga tidak mempengaruhi lingkungan sekitar. Adapun pencemaran
udara tidak ada karena mesim-mesin yang digunakan hampir tidak mengeluarkan
asap sehingga tidak akan berpengaruh terhadap lingkungan.
4.1.6. Pengambilan Keputusan menurut Para Pakar
Pada penelitian ini. untuk mendapatkan data-data yang akan diolah didapat dari 5
pakar/ahli yang memahami permasalahan. terdiri dari Ahmad Yadi. Muchlis
Djihadi. Tini Sumartini. Berry dan Subeno. dari pohon hirarki yang mengenai
Perencanaan Strategi Kerja pada PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA di
Bandung. Untuk pengambilan data pada perusahaan tersebut. yang akan diambil
dari lima pakar diatas yaitu:
1. Ahmad Yadi
Beliau menjabat supervisor bagian teknik yang ada diperusahaan. Pada
pengalaman Beliau. untuk mengambil suatu keputusan sangat besar
46

pengaruhnya bagi kehidupan pada masa kini maupun pada masa yang akan
datang. Karena keputusan merupakan solusi dari persoalan yang bersifat unik.
tak pasti. jangka panjang dan kompleks. Pada dasarnya keputusan yang diambil
merupakan suatu alternatif yang dianggap layak dimana orang lain belum tentu
dapat menerima alasan-alasan ataupun bukti-bukti yang boleh dijelaskan secara
ilmiah.
2. Muchlis Djihadi
Bapak Muchlis Djihadi diperusahaan menjabat sebagai marketing. Menurut
buku yang telah dibacanya yang berjudul Judgment in Mangerial Decision
Making. yang menjelaskan 6 langkah yang dapat ditempuh untuk pendekatan
pengambilan keputusan yaitu:
a. Definisikan Permasalahan
b. Identifikasi Kriteria
c. Pembobotan Kriteria
d. Membangkitkan Alternatif
e. Menilai setiap alternatif untuk setiap alternatif
f. Menghitung Keputusan yang Optimal
3. Berry
Bapak Berry menjabat sebagai Kepala Bengkel yang ada diperusahaan. Pada
pengambil keputusan yang rasional akan mengikuti kelima langkah berikut ini
yaitu:
1. Mendefinisikan permasalahan secara lengkap.
2. Mengetahui semua alternatif yang relevan.
3. Mengidentifikasikan seluruh kriteria sesuai dengan tujuan secara tepat.
4. Menafsirkan setiap alternatif untuk setiap kriteria secara tepat
5. Menghitung dan memilih alternatif dengan nilai tertinggi secara tepat.
4. Subeno
Bapak Kendi Siswanto diperusahaan menjabat sebagai staff Front Office.
5. Tini Sumartini
Ibu Tini Sumartini diperusahaan menjabat sebagai sekertariat umum.
47

Struktur hierarki ini dimaksudkan untuk mengetahui kriteria dan subkriteria yang
bertujuan untuk menciptakan tingkatan-tingkatan baru dan menatanya secara
logis, sehingga tingkatan-tingkatan itu saling berkaitan satu sama lain secara wajar
dalam menentukan strategi kerja untuk perusahaan tersebut. Dari struktur hierarki
yang terdapat pada model gambar 4.2 pada bagian kriteria hanya terdapat 6
kriteria (level 1) dan subkriteria ada 12 (level 2) terbagi atas kriteria yaitu:
1. Pemasaran
Dalam pemasaran ini sangat berpengaruh dalam strategi kerja, karena
pemasaran berperan penting untuk memasarkan produk kemasyarakat,
menjalin kerjasama dengan industri lain untuk memasarkan produk dan proses
jual beli bahan baku serta memberikan pembinaan bagi karyawan dalam
memasarkan produk tersebut. Kriteria ini dibagi menjadi subkriteria
diantaranya adalah sosial ekonomi untuk mengatur memasarkan produk ke
konsumen dengan baik dan pesaing untuk mengatur persaingan antar
perusahaan dalam menjaring konsumen.
2. Manajemen
Manajemen sangat berperan dalam perusahaan, karena membantu pelayanan
konsumen untuk dapat melakukan pembayaran dan mebina kemampuan
karyawan dalam mengelola keuangan. Kriteria ini dibagi menjadi subkriteria
diantaranya adalah manajemen keuangan mengatur bidang keuangan dan
manajemen skill mengatur kemampuan karyawan dalam mengelola manajemen
3. Penanaman
Dengan adanya penanaman akan membuat karyawan maupun konsumen
merasa nyaman saat berada diperusahaan dan membina karyawan untuk
memelihara serta dapat menanggulangi pencemaran udara. Kriteria ini
disederhanakan menjadi subkriteria yaitu penghijauan untuk mengatur
kenyamanan dan mencegah polusi untuk mengatur pembuangan limbah
4. Lahan
Dengan adanya lahan yang memadai, pegawai dapat bekerja dengan baik.
Kriteria ini dibagi menjadi subkriteria yaitu lokasi strategis untuk
memudahkan konsumen dalam bertransaksi dan kualitas tanah.
48

5. Tenaga Kerja
Sementara untuk tenaga kerja sendiri, harus mampu melayani masyarakat
dengan baik dalam hal kualitas produk, mampu menggunakan mesin-mesin
yang berteknologi tinggi dalam berkerja agar dapat bersaing dengan industri
lain dan memberikan pelatihan kepada operator maupun karyawan. Pada
tenaga kerja dibagi atas subkriteria yaitu teknologi digunakan untuk mengelola
data perusahaan dan sumber daya manusia harus mampu menjalankan kegiatan
perusahaan.
6. Pengolahan
Pengolahan ini sangat penting dalam strategi kerja, karena hasil pengolahan ini
akan membuat konsumen merasa puas atas produk yang dipesan dan akan
dapat bersaing dengan industry lainnya serta membina karyawan untuk
terampil dalam pembuatan produk. Kriteria ini dibagi menjadi subkriteria yaitu
sistem kerja untuk mengatur kegiatan kerja dalam perusahaan agar berjalan
dengan baik dan proses produksi untuk mengatur pembuatan produk agar tidak
terjadi kesalahan..
Dan pada bagian alternatif (pilihan) terdapat 3 variabel yaitu:
1. Pelayanan Konsumen
2. Kerjasama Industri dengan Pesaing
3. Pembinaan SDM
Setelah melakukan penstrukturan hierarki yang terdiri dari beberapa kriteria dan
subkriteria dalam menentukan strategi kerja, maka selanjutnya mengaplikasikan
dalam bentuk model hierarki adalah sebagai berikut:







49

Adapun Model Hirarki Penentuan Strategi Kerja pada PT. SINAR SAKTI
MATRA NUSANTARA Bandung adalah sebagai berikut:
Model Hirarki Tujuan Penentuan Strategi Kerja

Penentuan Strategi Kerja
Penanaman Manajemen Lahan Tenaga Kerja Pemasaran Pengolahan
S
o
s
i
a
l

E
k
o
n
o
m
i
P
e
s
a
i
n
g
M
a
n
a
j
e
m
e
n

S
k
i
l
l
M
a
n
a
j
e
m
e
n

K
e
u
a
n
g
a
n
P
e
n
g
h
i
j
a
u
a
n
M
e
n
c
e
g
a
h

P
o
l
u
s
i
L
o
k
a
s
i

S
t
r
a
t
e
g
i
s
S
D
M
T
e
k
n
o
l
o
g
i
S
i
s
t
e
m

K
e
r
j
a
P
r
o
s
e
s

P
r
o
d
u
k
s
i
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
Pembinaan
SDM
Tujuan
Kriteria
Sub Kriteria
Alternatif
K
u
a
l
i
t
a
s

t
a
n
a
h

Gambar 4.2. Model Hierarki Penentuan Strategi Kerja
50

4.1.7. Hasil Kuesioner
Kriteria
Tabel 4.1. Hasil Kuesioner Kriteria
No Kriteria
Penilaian
1 2 3 4 5
1 Pemasaran vs Manajemen 1/3 3/5 1 3 3/5
2 Pemasaran vs Penanaman 5 3 5 3 5
3 Pemasaran vs Lahan 5 5 5 3 5
4 Pemasaran vs Tenaga Kerja 3 1/3 1 3 1
5 Pemasaran vs Pengolahan 3 1/3 3 3 3/5
6 Manajemen vs Penanaman 5 5 3 3 3
7 Manajemen vs Lahan 5 5 5 3 3
8 Manajemen vs Tenaga Kerja 3 1/3 3/5 1 1
9 Manajemen vs Pengolahan 3 1/3 3 3 1/3
10 Penanaman vs Lahan 1/3 3/5 1 1 1
11 Penanaman vs Tenaga Kerja 1/5 1/5 1/5 1/3 1/5
12 Penanaman vs Pengolahan 1/5 1/5 1/5 1/3 1/3
13 Lahan vs Tenaga Kerja 1/5 1/5 1/5 1/3 1/3
14 Lahan vs Pengolahan 1/5 1/3 1/3 1/5 1/3
15 Tenaga Kerja vs Pengolahan 1/3 3/5 1 3 1

Sub Kriteria
Tabel 4.2. Hasil Kuesioner Sub-Kriteria
Kriteria Sub Kriteria
Penilaian
1 2 3 4 5
pemasaran Sosial Ekomoni vs Pesaing 1/3 3 3 1/3 3/5
Manajemen Manj Skill vs Manj Keuangan 3 3 3 1/3 3
Penanaman Penghijauan vs Mencegah Polusi 1 3 3 3 1
Lahan Lokasi Strategis vs Kualitas Tanah 3 3 3 5 3
Tenaga Kerja Teknologi vs SDM 3 3 3 1/3 3/5
Pengolahan Sistem Kerja vs Proses Produksi 1/3 1/3 3 3/5 3
51

Alternatif
Tabel 4.3. Hasil Kuesioner Alternatif
Sub Kriteria Alternatif
Penilaian
1 2 3 4 5
Sosial Ekomoni
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 3/5 3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3 1/3 3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 1/3 3/5 3 3/5
Pesaing
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 1/3 1/3 3 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3/5 3 1/3 3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3 3
Manjemen Skill
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 1/3 1/3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3/5 3/5 1/3 1/3 3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3/5 3 1/3 3 3
Manjemen Keuangan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3/5 1/3 3 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3 1/3 1/3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 3/5
Penghijauan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 1/3 3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3/5 1/3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 3/5 3/5 3/5 1/3
Mencegah Polusi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 3 5/3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 5/3 1/3 3 1/3 5/3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3/5 3/5 1/3 1/3 3/5





52

Sub Kriteria Alternatif
Penilaian
1 2 3 4 5
Lokasi Strategis
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3/5 3 3/5 3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 5/3 3 5/3 3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 3 3/5 3 3/5
Kualitas Tanah
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3/5 1/3 3 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3/5 3
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 3/5
Teknologi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3/5 1/3 3/5 1/3 3
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3/5 3 3/5 3/5
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3 3/5
SDM
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 5/3 3 3/5 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1/5 3/5 1/3 1/5 1/5
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 1/3 3/5 1/5 3/5
Sistem Kerja
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3 3/5 1/3 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3/5 1/3 3/5 3/5 3/5
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 1/3 3/5 1/3
Proses Produksi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3/5 1/3 3/5 3/5 3/5
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1/3 3 1/3 1/3 3/5
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 1/3




53

4.2. Pengolahan Data
Menentukan Rata-rata Geometrik
1. Level 1
Tabel 4.4. Rata-rata Geometrik pada Level 1
Kriteria
Penilaian
Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5
Pemasaran vs Manajemen 1/3 3/5 1 3 3/5 0,36 0,8152
Pemasaran vs Penanaman 5 3 5 3 5 1125 4,0760
Pemasaran vs Lahan 5 5 5 3 5 1875 4,5144
Pemasaran vs Tenaga Kerja 3 1/3 1 3 1 3 1,2457
Pemasaran vs Pengolahan 3 1/3 3 3 3/5 5,4 1,4011
Manajemen vs Penanaman 5 5 3 3 3 675 3,6801
Manajemen vs Lahan 5 5 5 3 3 1125 4,0760
Manajemen vs Tenaga Kerja 3 1/3 3/5 1 1 0,6 0,9029
Manajemen vs Pengolahan 3 1/3 3 3 1/3 3 1,2457
Penanaman vs Lahan 1/3 3/5 1 1 1 0,2 0,7248
Penanaman vs Tenaga Kerja 1/5 1/5 1/5 1/3 1/5 0,0005333 0,2215
Penanaman vs Pengolahan 1/5 1/5 1/5 1/3 1/3 0,0008889 0,2453
Lahan vs Tenaga Kerja 1/5 1/5 1/5 1/3 1/3 0,0008889 0,2453
Lahan vs Pengolahan 1/5 1/3 1/3 1/5 1/3 0,0014815 0,2717
Tenaga Kerja vs Pengolahan 1/3 3/5 1 3 1 0,6 0,9029


54

2. Level 2
Tabel 4.5. Rata-rata Geometrik pada Level 2
Kriteria Sub Kriteria
Penilaian Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5
pemasaran Sosial Ekomoni vs Pesaing 1/3 3 3 1/3 3/5 0,6 0,9029
Manajemen Manj Skill vs Manj Keuangan 3 3 3 1/3 3 27 1,9332
Penanaman Penghijauan vs Mencegah Polusi 1 3 3 3 1 27 1,9332
Lahan Lokasi Strategis vs Kualitas Tanah 3 3 3 5 3 405 3,3227
Tenaga Kerja Teknologi vs SDM 3 3 3 1/3 3/5 5,4 1,4011
Pengolahan Sistem Kerja vs Proses Produksi 1/3 1/3 3 3/5 3 0.6 0,9029














55

3. Level 3
Tabel 4.6. Rata-rata Geometrik pada Level 3
Sub Kriteria Alternatif
Penilaian
Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5
Sosial Ekomoni
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 3/5 3 48,6 2,1743
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3 1/3 3 26,9973 1,9331
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 1/3 3/5 3 3/5 0,11998 0,6544
Pesaing
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 1/3 1/3 3 3/5 0,0666 0,5818
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3/5 3 1/3 3 5 1,4011
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3 3 243 3
Manjemen Skill
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 1/3 1/3 3 1,2457
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3/5 3/5 1/3 1/3 3 0,11998 0,6544
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3/5 3 1/3 3 3 5,3995 1,4011
Manjemen Keuangan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3/5 1/3 3 3/5 0,11998 0,6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3 1/3 1/3 2,99940 1,2457
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 3/5 9,72000 1,5759
Penghijauan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 1/3 3 26,9973 1,9331
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3/5 1/3 1,0799 1,0155
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 3/5 3/5 3/5 1/3 0,023995 0,4743
Mencegah Polusi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3 3 3 5/3 135 2,6673
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 5/3 1/3 3 1/3 5/3 0,9257 0,9847
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3/5 3/5 1/3 1/3 3/5 0,023995 0,4743

56

Sub Kriteria Alternatif
Penilaian
Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5
Lokasi Strategis
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 3/5 3 3/5 3 9,72 1,5759
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 5/3 3 5/3 3 75 2,3714
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 3 3/5 3 3/5 1,079892 1,0155
Kualitas Tanah
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3/5 1/3 3 3/5 0,119976 0,6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3/5 3 9,72 1,5759
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 3/5 9,72 1,5759
Teknologi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3/5 1/3 3/5 1/3 3 0,11998 0,6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3 3/5 3 3/5 3/5 1,944 1,1422
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3/5 3 3/5 9,72 1,5759
SDM
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3 5/3 3 3/5 3/5 5,4 1,4011
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1/5 3/5 1/3 1/5 1/5 0,001600 0,2759
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1/3 1/3 3/5 1/5 3/5 0,007998 0,3807
Sistem Kerja
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 1/3 3 3/5 1/3 3/5 0,119976 0,6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 3/5 1/3 3/5 3/5 3/5 0,043195 0,5334
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 1/3 3/5 1/3 0,599880 0,9028
Proses Produksi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 3/5 1/3 3/5 3/5 3/5 0,0432 0,5334
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1/3 3 1/3 1/3 3/5 0,0666 0,5818
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 3 3 3 3/5 1/3 5,3995 1,4011


57

A. Perhitungan Analytic Hierarchy Process (AHP)
Perbandingan Antar Kriteria (Level 1)
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj

Level 1 Pemasaran Manajemen Penanaman Lahan Tenaga Kerja Pengolahan
Pemasaran
1 0.8152 4.0760 4.5144 1.2457 1.4011
Manajemen
1.2267 1 3.6801 4.0760 0.9029 1.2457
Penanaman
0.2453 0.2717 1 0.7248 0.2215 0.2453
Lahan
0.2215 0.2453 1.3797 1 0.2453 0.2717
Tenaga Kerja
0.8027 1.1076 4.5144 4.0760 1 0.9029
Pengolahan
0.7137 0.8027 4.0760 3.6801 1.1076 1
Jumlah Kolom
4.2099 4.2425 18.7262 18.0713 4.7230 5.0667

Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 1 Pemasaran Manajemen Penanaman Lahan Tenaga Kerja Pengolahan
Pemasaran 0.2375 0.1921 0.2177 0.2498 0.2638 0.2765
Manajemen 0.2914 0.2357 0.1965 0.2255 0.1912 0.2459
Penanaman 0.0583 0.0640 0.0534 0.0401 0.0469 0.0484
Lahan 0.0526 0.0578 0.0737 0.0553 0.0519 0.0536
Tenaga Kerja 0.1907 0.2611 0.2411 0.2255 0.2117 0.1782
Pengolahan 0.1695 0.1892 0.2177 0.2036 0.2345 0.1974

Contoh Perhitungan:
- Pemasaran vs Pemasaran
2375 . 0
2099 . 4
1
= = Vij

- Pemasaran vs Manajemen
1921 . 0
2425 . 4
8152 . 0
= = Vij

58

- Pemasaran vs Penanaman
2177 . 0
7262 . 18
0760 . 4
= = Vij

Hitung prioritas relatif dari setiap kriteria dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 1 Pemasaran Manajemen Penanaman Lahan
Tenaga
Kerja
Pengolahan
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pemasaran
0.2375 0.1921 0.2177 0.2498 0.2638 0.2765 1.4374 0.2396
Manajemen
0.2914 0.2357 0.1965 0.2255 0.1912 0.2459 1.3862 0.2310
Penanaman
0.0583 0.0640 0.0534 0.0401 0.0469 0.0484 0.3111 0.0519
Lahan
0.0526 0.0578 0.0737 0.0553 0.0519 0.0536 0.3449 0.0575
Tenaga Kerja
0.1907 0.2611 0.2411 0.2255 0.2117 0.1782 1.3083 0.2180
Pengolahan
0.1695 0.1892 0.2177 0.2036 0.2345 0.1974 1.2119 0.2020
Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 1 Pemasaran Manajemen Penanaman Lahan Tenaga Kerja Pengolahan
Pemasaran
0.2396 0.1883 0.2114 0.2596 0.2716 0.2830
Manajemen
0.2939 0.2310 0.1908 0.2344 0.1969 0.2516
Penanaman
0.0588 0.0628 0.0519 0.0417 0.0483 0.0496
Lahan
0.0531 0.0567 0.0716 0.0575 0.0535 0.0549
Tenaga Kerja
0.1923 0.2559 0.2341 0.2344 0.2180 0.1824
Pengolahan
0.1710 0.1855 0.2114 0.2116 0.2415 0.2020
Perhitungan:

2229 . 1
3171 . 1
3472 . 0
3130 . 0
3987 . 1
4535 . 1
2020 . 0
2180 . 0
0575 . 0
0519 . 0
2310 . 0
2396 . 0
1 , 1076 . 1 , 6801 . 3 , 0760 . 4 , 8027 . 0 , 7137 . 0
9029 . 0 , 1 , 0760 . 4 , 5144 . 4 , 1076 . 1 , 8027 . 0
2717 . 0 , 2453 . 0 , 1 , 3797 . 1 , 2453 . 0 , 2215 . 0
2453 . 0 , 2215 . 0 , 7248 . 0 , 1 , 2717 . 0 , 2453 . 0
2475 . 1 , 9029 . 0 , 0760 . 4 , 6801 . 3 , 1 , 2267 . 1
4011 . 1 , 2457 . 1 , 5144 . 4 , 0760 . 4 , 8152 . 0 , 1


59

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0540 . 6
0417 . 6
0383 . 6
0308 . 6
0560 . 6
0664 . 6
2020 . 0
2180 . 0
0575 . 0
0519 . 0
2310 . 0
2396 . 0
:
2229 . 1
3171 . 1
3472 . 0
3130 . 0
3987 . 1
4535 . 1
=

0479 . 6
6
0540 . 6 0417 . 6 0383 . 6 0308 . 6 0560 . 6 0664 . 6
=
+ + + + +
= maks
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00958 . 0
1 6
6 0479 . 6
1
=


=
n
n maks
CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
007726 . 0
24 . 1
00958 . 0
= = =
RI
CI
CR

Ringkasan pengolahan pada level 1 terhadap kriteria adalah sebagai berikut:
Level 1 Bobot (EV)
Pemasaran
0.2396
Manajemen
0.2310
Penanaman
0.0519
Lahan
0.0575
Tenaga Kerja
0.2180
Pengolahan
0.2020
maks = 6.0479 CI = 0.00958 CR = 0.007726






60

B. Perbandingan Antar Sub-Kriteria (Level 2)
1. Pemasaran
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 2 Sosial Ekomoni Pesaing
Sosial Ekomoni
1 0.9029
Pesaing
1.1076 1
Jumlah Kolom
2.1076 1.9029
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 2 Sosial Ekomoni Pesaing
Sosial Ekomoni
0.4745 0.4745
Pesaing
0.5255 0.5255
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria pelayanan atau kriteria dengan
merata-ratakan bobot yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i.
Prioritas relatif sub-kriteria I dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Sosial Ekomoni Pesaing Jumlah Baris Bobot (EV)
Sosial Ekomoni
0.4745 0.4745 0.9490 0.4745
Pesaing
0.5255 0.5255 1.0510 0.5255






61

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2 Sosial Ekomoni Pesaing Jumlah
Sosial Ekomoni
0.4745 0.4745 0.9490
Pesaing
0.5255 0.5255 1.0510
Perhitungan:

0510 . 1
9490 . 0
5255 . 0
4745 . 0
1 , 1076 . 1
9029 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
5255 . 0
4745 . 0
:
0510 . 1
9490 . 0
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria pemasaran adalah
sebagai berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Sosial Ekomoni
0.4745
Pesaing
0.5255
maks = 2.00 CI = 0 CR =~



62

2. Manajemen
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj

Level 2 Manj Skill Manj Keuangan
Manj Skill 1 1.9332
Manj Keuangan 0.5173 1
Jumlah Kolom 1.5173 2.9332
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Manj Skill Manj Keuangan
Manj Skill 0.6591 0.6591
Manj Keuangan 0.3409 0.3409
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria fasilitas atau kriteria dengan
merata-ratakan bobot yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i.
Prioritas relatif sub-kriteria I dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Manj Skill Manj Keuangan Jumlah Baris Bobot (EV)
Manj Skill 0.6591 0.6591 1.3181 0.6591
Manj Keuangan 0.3409 0.3409 0.6819 0.3409




63

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2 Manj Skill Manj Keuangan Jumlah
Manj Skill 0.6591 0.6591 1.3182
Manj Keuangan 0.3409 0.3409 0.6818
Perhitungan:

6819 . 0
3181 . 1
3409 . 0
6591 . 0
1 , 5173 . 0
9332 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
3409 . 0
6591 . 0
:
6818 . 0
3182 . 1
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria manajemen adalah
sebagai berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Manj Skill 0.6591
Manj Keuangan 0.3409
maks = 2.00 CI = 0 CR =~



64

3. Penanaman
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 2 Penghijauan Mencegah Polusi
Penghijauan 1 1.9332
Mencegah Polusi 0.5173 1
Jumlah Kolom 1.5173 2.9332
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 2 Penghijauan Mencegah Polusi
Penghijauan 0.6591 0.6591
Mencegah Polusi 0.3409 0.3409
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria dengan merata-ratakan bobot
yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2
Penghijauan Mencegah Polusi
Jumlah Baris Bobot (EV)
Penghijauan 0.6591 0.6591 1.3181 0.6591
Mencegah Polusi 0.3409 0.3409 0.6819 0.3409








65

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2 Penghijauan Mencegah Polusi Jumlah
Penghijauan 0.6591 0.6591 1.3182
Mencegah Polusi 0.3409 0.3409 0.6818
Perhitungan:

6819 . 0
3181 . 1
3409 . 0
6591 . 0
1 , 5173 . 0
9332 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
3409 . 0
6591 . 0
:
6818 . 0
3182 . 1
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria penanaman adalah
sebagai berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Penghijauan 0.6591
Mencegah Polusi 0.3409
maks = 2.00 CI = 0 CR =~


66

4. Lahan
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 2
Lokasi Strategis Kualitas Tanah
Lokasi Strategis 1 3.3227
Kualitas Tanah 0.3010 1
Jumlah Kolom 1.3010 4.3227
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 2
Lokasi Strategis Kualitas Tanah
Lokasi Strategis 0.7687 0.7687
Kualitas Tanah 0.2313 0.2313
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria dengan merata-ratakan bobot
yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Lokasi Strategis Kualitas Tanah Jumlah Baris Bobot (EV)
Lokasi Strategis 0.7687 0.7687 1.5374 0.7687
Kualitas Tanah 0.2313 0.2313 0.4626 0.2313








67

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2
Lokasi Strategis Kualitas Tanah Jumlah
Lokasi Strategis 0.7687 0.7687 1.5374
Kualitas Tanah 0.2313 0.2313 0.4626
Perhitungan:

4626 . 0
5374 . 1
2313 . 0
7687 . 0
1 , 3010 . 0
3227 . 3 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
2313 . 0
7687 . 0
:
4626 . 0
5374 . 1
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria lahan adalah sebagai
berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Lokasi Strategis 0.7687
Kualitas Tanah 0.2313
maks = 2.00 CI = 0 CR =~


68

5. Tenaga Kerja
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 2
Teknologi SDM
Teknologi 1 1.4011
SDM 0.7137 1
Jumlah Kolom 1.7137 2.4011
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 2
Teknologi SDM
Teknologi 0.5835 0.5835
SDM 0.4165 0.4165
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria dengan merata-ratakan bobot
yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Teknologi SDM Jumlah Baris Bobot (EV)
Teknologi 0.5835 0.5835 1.1670 0.5835
SDM 0.4165 0.4165 0.8330 0.4165








69

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2
Teknologi SDM Jumlah
Teknologi 0.5835 0.5835 1.1670
SDM 0.4165 0.4165 0.8330
Perhitungan:

8330 . 0
1670 . 1
4165 . 0
5835 . 0
1 , 7137 . 0
4011 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
4165 . 0
5835 . 0
:
4165 . 0
1670 . 1
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria tenaga kerja adalah
sebagai berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Teknologi 0.5835
SDM 0.4165
maks = 2.00 CI = 0 CR =~


70

6. Pengolahan
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 2
Sistem Kerja Proses Produksi
Sistem Kerja 1 0.9029
Proses Produksi 1.1076 1
Jumlah Kolom 2.1076 1.9029
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 2
Sistem Kerja Proses Produksi
Sistem Kerja 0.4745 0.4745
Proses Produksi 0.5255 0.5255
Hitung prioritas relatif dari setiap sub-kriteria dengan merata-ratakan bobot
yang sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 2 Sistem Kerja Proses Produksi Jumlah Baris Bobot (EV)
Sistem Kerja 0.4745 0.4745 0.9490 0.4745
Proses Produksi 0.5255 0.5255 1.0510 0.5255








71

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 2
Teknologi SDM Jumlah
Sistem Kerja 0.4745 0.4745 0.9490
Proses Produksi 0.5255 0.5255 1.0510
Perhitungan:

0510 . 1
9490 . 0
5255 . 0
4745 . 0
1 , 1076 . 1
9029 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
00 . 2
00 . 2
5255 . 0
4745 . 0
:
0510 . 1
9490 . 0
=

00 . 2
2
00 . 2 00 . 2
maks =
+
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0
1 2
2 00 . 2
1 n
n maks
=


=

CI
4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
~
0
0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 2 terhadap sub-kriteria pengolahan adalah
sebagai berikut:
Level 2 Bobot (EV)
Sistem Kerja 0.4745
Proses Produksi 0.5255
maks = 2.00 CI = 0 CR =~


72

C. Perbandingan Antar Alternatif (Level 3)
a. Sosial Ekonomi
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 2.1743 1.9331
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4599 1 0.6544
Pembinaan SDM 0.5173 1.5282 1
Jumlah Kolom 1.9772 4.7025 3.5875
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.5058 0.4624 0.5389
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2326 0.2127 0.1824
Pembinaan SDM
0.2616 0.3250 0.2787
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.5058 0.4624 0.5389 1.5071 0.5024
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
0.2326 0.2127 0.1824 0.6277 0.2092
Pembinaan SDM
0.2616 0.3250 0.2787 0.8653 0.2884

73

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.5024 0.4549 0.5576 1.5148
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2310 0.2092 0.1888 0.6290
Pembinaan SDM
0.2599 0.3197 0.2884 0.8680
Perhitungan:

8680 . 0
6290 . 0
5148 . 1
2884 . 0
2092 . 0
5024 . 0
1 , 5282 . 1 , 5173 . 0
6544 . 0 , 1 , 4599 . 0
9331 . 1 , 1743 . 2 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0097 . 3
0067 . 3
0157 . 3
2884 . 0
2092 . 0
5024 . 0
:
8680 . 0
6290 . 0
5148 . 1
=

0107 . 3
3
0097 . 3 0067 . 3 0157 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00535 . 0
1 3
3 0107 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00922 . 0
58 . 0
00535 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria sosial
ekonomi adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.5024
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.2092
Pembinaan SDM
0.2884
maks = 3.0107 CI = 0.00535 CR = 0.00922
74

b. Pesaing
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.5818 1.4011
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.7189 1 3
Pembinaan SDM 0.7137 0.3333
1
Jumlah Kolom
3.4326 1.9151 5.4011
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.2913 0.3038 0.2594
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.5008 0.5222 0.5554
Pembinaan SDM
0.2079 0.1741 0.1851
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.2913 0.3038 0.2594 0.8545 0.2848
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
0.5008 0.5222 0.5554 1.5784 0.5261
Pembinaan SDM
0.2079 0.1741 0.1852 0.5672 0.1891


75

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.2848 0.3061 0.2649 0.8558
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4896 0.5261 0.5671 1.5828
Pembinaan SDM
0.2033 0.1754 0.1891 0.5678
Perhitungan:

5677 . 0
5828 . 1
8558 . 0
1891 . 0
5261 . 0
2848 . 0
1 , 3333 . 0 , 7137 . 0
3 , 1 , 7189 . 1
4011 . 1 , 5818 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0037 . 3
0086 . 3
0049 . 3
1891 . 0
5261 . 0
2848 . 0
:
5677 . 0
5828 . 1
8558 . 0
=

0057 . 3
3
0037 . 3 0086 . 3 0049 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00285 . 0
1 3
3 0057 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00491 . 0
58 . 0
00535 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria pesaing
adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.2848
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.5261
Pembinaan SDM
0.1891
maks = 3.0057 CI = 0.00285 CR = 0.00491
76

c. Manajemen Skill
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 1.2457 0.6544
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.8028 1 1.4011
Pembinaan SDM 1.5282 0.7137
1
Jumlah Kolom
3.3310 2.9594 3.0555
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.3002 0.4209 0.2142
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2410 0.3379 0.4586
Pembinaan SDM
0.4588 0.2412 0.3273
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.3002 0.4209 0.2142 0.9353 0.3118
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
0.2410 0.3379 0.4586 1.0375 0.3458
Pembinaan SDM
0.4588 0.2412 0.3273 1.0273 0.3424


77

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.3118 0.4308 0.2241 0.9667
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2503 0.3458 0.4798 1.0759
Pembinaan SDM
0.4764 0.2468 0.3424 1.0656
Perhitungan:

0656 . 1
0759 . 1
9667 . 0
3424 . 0
3458 . 0
3118 . 0
1 , 7137 . 0 , 5282 . 1 ,
4011 . 1 , 1 , 8028 . 0
6544 . 0 , 2457 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
1123 . 3
1110 . 3
1004 . 3
3424 . 0
3458 . 0
3118 . 0
:
0656 . 1
0759 . 1
9667 . 0
=

1079 . 3
3
1123 . 3 1110 . 3 1004 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
05395 . 0
1 3
3 1079 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
0930 . 0
58 . 0
05395 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria manajemen
skill adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.3118
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.3458
Pembinaan SDM
0.3424
maks = 3.1079 CI = 0.05395 CR = 0.0930
78

d. Manajemn Keuangan
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.6544 1.2457
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.5282 1 1.5759
Pembinaan SDM 0.8028 0.6346 1
Jumlah Kolom 3.3310 2.2889 3.8216
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.3002 0.2859 0.3260
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4588 0.4369 0.4124
Pembinaan SDM
0.2410 0.2772 0.2617
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.3002 0.2859 0.3260 0.9121 0.3040
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
0.4588 0.4369 0.4124 1.3080 0.4360
Pembinaan SDM
0.2410 0.2772 0.2617 0.7799 0.2600


79

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.3040 0.2853 0.3238 0.9131
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4646 0.4360 0.4097 1.3103
Pembinaan SDM
0.2441 0.2767 0.2600 0.7808
Perhitungan:

7808 . 0
3103 . 1
9131 . 0
2600 . 0
4360 . 0
3040 . 0
1 , 6346 . 0 , 8028 . 0
5459 . 1 , 1 , 5282 . 1
2457 . 1 , 6544 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0031 . 3
0053 . 3
0036 . 3
2600 . 0
4360 . 0
3040 . 0
:
7808 . 0
3103 . 1
9131 . 0
=

004 . 3
3
0031 . 3 0053 . 3 0036 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
002 . 0
1 3
3 004 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00345 . 0
58 . 0
002 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria manajemen
keuangan adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.3040
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.4360
Pembinaan SDM
0.2600
maks = 3.004 CI = 0.002 CR = 0.00345
80

e. Penghijauan
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 1.9331 1.0155
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.5173 1 0.4743
Pembinaan SDM 0.9847 2.1085
1
Jumlah Kolom
2.5020 5.0417 2.4898
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.3997 0.3834 0.4079
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2067 0.1983 0.1905
Pembinaan SDM
0.3936 0.4182 0.4016
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.3997 0.3834 0.4079 1.1910 0.3970
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
0.2067 0.1983 0.1905 0.5956 0.1985
Pembinaan SDM
0.3936 0.4182 0.4016 1.2134 0.4045


81

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.3970 0.3838 0.4107 1.1915
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2054 0.1985 0.1918 0.5957
Pembinaan SDM
0.3909 0.4186 0.4045 1.2140
Perhitungan:

2140 . 1
5957 . 0
1915 . 1
4045 . 0
1985 . 0
3970 . 0
1 , 1085 . 2 , 9847 . 0
4743 . 0 , 1 , 5173 . 0
0155 . 1 , 9331 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0012 . 3
0010 . 3
0013 . 3
4045 . 0
1985 . 0
3970 . 0
:
2140 . 1
5957 . 0
1915 . 1
=

0012 . 3
3
0012 . 3 0010 . 3 0013 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
0006 . 0
1 3
3 0012 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
001035 . 0
58 . 0
0006 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria penghijauan
adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.3970
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.1985
Pembinaan SDM
0.4045
maks = 3.0012 CI = 0.0006 CR = 0.001035
82

f. Mencegah Polusi
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 1.9331 0.9847
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.5173 1 0.4743
Pembinaan SDM 1.0156 2.1085 1
Jumlah Kolom 2.5328 5.0417 2.4590
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan
Konsumen
0.3948 0.3834 0.4004
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2042 0.1983 0.1929
Pembinaan SDM
0.4010 0.4182 0.4067
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan
Konsumen
0.3948 0.3834 0.4004 1.1786 0.3929
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2042 0.1983 0.1929 0.5954 0.1985
Pembinaan SDM
0.4010 0.4182 0.4067 1.2259 0.4086


83

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan
Konsumen
0.3929 0.3837 0.4024 1.1790
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.2032 0.1985 0.1938 0.5955
Pembinaan SDM
0.3990 0.4185 0.4086 1.2261
Perhitungan:

2261 . 1
5955 . 0
1790 . 1
4086 . 0
1985 . 0
3929 . 0
1 , 1085 . 2 , 0156 . 1
4743 . 0 , 1 , 5173 . 0
9847 . 0 , 9331 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0007 . 3
0000 . 3
0008 . 3
4086 . 0
1985 . 0
3929 . 0
:
2261 . 1
5955 . 0
1790 . 1
=

0005 . 3
3
0007 . 3 0000 . 3 0008 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00025 . 0
1 3
3 0005 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00043 . 0
58 . 0
00025 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria mencegah
polusi adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.3929
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.1985
Pembinaan SDM
0.4086
maks = 3.0005 CI = 0.00025 CR = 0.00043
84

g. Lokasi Strategis
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 1.5759 2.3714
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.6346 1 1.0155
Pembinaan SDM 0.4217 0.9847
1
Jumlah Kolom
2.0562 3.5607 4.3869
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.4863 0.4426 0.5406
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3086 0.2808 0.2315
Pembinaan SDM
0.2051 0.2766 0.2280
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.4863 0.4426 0.5406 1.4695 0.4898
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3086 0.2808 0.2315 0.8209 0.2736
Pembinaan SDM
0.2051 0.2766 0.2280 0.7097 0.2366


85

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.4898 0.4312 0.5609 1.4819
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3108 0.2736 0.2402 0.8246
Pembinaan SDM
0.2066 0.2695 0.2366 0.7127
Perhitungan:

7127 . 0
8246 . 0
4819 . 1
2366 . 0
2736 . 0
4898 . 0
1 , 9847 . 0 , 4217 . 0
0155 . 1 , 1 , 6346 . 0
3714 . 2 , 5759 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0131 . 3
0139 . 3
0255 . 3
2366 . 0
2736 . 0
4898 . 0
:
7127 . 0
8246 . 0
4819 . 1
=

0175 . 3
3
0131 . 3 0139 . 3 0255 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00875 . 0
1 3
3 0175 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
0151 . 0
58 . 0
00875 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria lokasi
strategis adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.4898
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.2736
Pembinaan SDM
0.2366
maks = 3.0175 CI = 0.00875 CR = 0.0151
86

h. Kualitas Tanah
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.6544 1.5759
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.5282 1 1.5759
Pembinaan SDM 0.6346 0.6346 1
Jumlah Kolom 3.1628 2.2889 4.1518
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.3162 0.2859 0.3796
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4832 0.4369 0.3796
Pembinaan SDM
0.2006 0.2772 0.2409
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.3162 0.2859 0.3796 0.9817 0.3272
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4832 0.4369 0.3796 1.2997 0.4332
Pembinaan SDM
0.2006 0.2772 0.2409 0.7187 0.2396


87

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.3272 0.2835 0.3775 0.9882
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.5000 0.4332 0.3775 1.3107
Pembinaan SDM
0.2076 0.2749 0.2396 0.7221
Perhitungan:

7221 . 0
3107 . 1
9882 . 0
2396 . 0
4332 . 0
3272 . 0
1 , 6346 . 0 , 6346 . 0
5759 . 1 , 1 , 5282 . 1
5759 . 1 , 6544 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0138 . 3
0256 . 3
0202 . 3
2396 . 0
4332 . 0
3272 . 0
:
7221 . 0
3107 . 1
9882 . 0
=

0199 . 3
3
0138 . 3 0256 . 3 0202 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00995 . 0
1 3
3 0199 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
0172 . 0
58 . 0
00995 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria kualitas tanah
adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.3272
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.4332
Pembinaan SDM
0.2396
maks = 3.0199 CI = 0.00995 CR = 0.0172
88

i. Teknologi
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.6544 1.1422
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.5282 1 1.5759
Pembinaan SDM 0.8755 0.6346 1
Jumlah Kolom 3.4037 2.2889 3.7181
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.2938 0.2859 0.3072
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4490 0.4369 0.4238
Pembinaan SDM
0.2572 0.2772 0.2690
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.2938 0.2859 0.3072 0.8869 0.2956
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4490 0.4369 0.4238 1.3097 0.4366
Pembinaan SDM
0.2572 0.2772 0.2690 0.8034 0.2678


89

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.2956 0.2857 0.3059 0.8872
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.4518 0.4366 0.4220 1.3104
Pembinaan SDM
0.2588 0.2770 0.2678 0.8036
Perhitungan:

8037 . 0
3104 . 1
8872 . 0
2678 . 0
4366 . 0
2956 . 0
1 , 6346 . 0 , 8755 . 0
5759 . 1 , 1 , 5282 . 1
1422 . 1 , 6544 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0011 . 3
0014 . 3
0014 . 3
2678 . 0
4366 . 0
2956 . 0
:
8037 . 0
3104 . 1
8872 . 0
=

0013 . 3
3
0011 . 3 0014 . 3 0014 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00065 . 0
1 3
3 0013 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00112 . 0
58 . 0
00065 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria teknologi
adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.2956
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.4366
Pembinaan SDM
0.2678
maks = 3.0013 CI = 0.00065 CR = 0.00112
90

j. SDM
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 1.4011 0.2759
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.7137 1 0.3807
Pembinaan SDM 3.6240 2.6266 1
Jumlah Kolom 5.3377 5.0278 1.6567
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.1873 0.2787 0.1665
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.1337 0.1990 0.2298
Pembinaan SDM
0.6789 0.5224 0.4105
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.1873 0.2787 0.1666 0.6326 0.2109
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.1337 0.1989 0.2298 0.5624 0.1875
Pembinaan SDM
0.6789 0.5224 0.6036 1.8049 0.6016


91

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.2109 0.2627 0.1660 0.6396
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.1505 0.1875 0.2291 0.5671
Pembinaan SDM
0.7642 0.4924 0.6017 1.8583
Perhitungan:

8583 . 1
5691 , 0
6396 . 0
6017 . 0
1875 . 0
2109 . 0
1 , 6266 . 2 , 6240 . 3
3807 . 0 , 1 , 7137 . 0
2759 . 0 , 4011 . 1 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0884 . 3
0352 . 3
0327 . 3
6017 . 0
1875 . 0
2109 . 0
:
8583 . 1
5691 . 0
6396 . 0
=

0521 . 3
3
0884 . 3 0352 . 3 0327 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
02605 . 0
1 3
3 0521 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
04491 . 0
58 . 0
02605 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria SDM adalah
sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.2109
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.1875
Pembinaan SDM
0.6016
maks = 3.0521 CI = 0.02605 CR = 0.04491
92

k. Sistem Kerja
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.6544 0.5334
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.5282 1 0.9028
Pembinaan SDM 1.8746 1.1076 1
Jumlah Kolom 4.4028 2.7620 2.4363
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.2271 0.2369 0.2190
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3471 0.3621 0.3706
Pembinaan SDM
0.4258 0.4010 0.4105
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.2271 0.2369 0.2190 0.6830 0.2277
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3471 0.3621 0.3706 1.0798 0.3599
Pembinaan SDM
0.4258 0.4010 0.4105 1.2373 0.4124


93

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.2277 0.2355 0.2200 0.6832
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3479 0.3599 0.3724 1.0802
Pembinaan SDM
0.4268 0.3986 0.4124 1.2378
Perhitungan:

2378 . 1
0802 . 1
6832 . 0
4124 . 0
3599 . 0
2277 . 0
1 , 1076 . 1 , 8746 . 1
9028 . 0 , 1 , 5282 . 1
5334 . 0 , 6544 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0015 . 3
0014 . 3
0004 . 3
4124 . 0
3599 . 0
2277 . 0
:
2378 . 1
0802 . 1
6832 . 0
=

0011 . 3
3
0015 . 3 0014 . 3 0004 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00055 . 0
1 3
3 0011 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
00095 . 0
58 . 0
00055 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria sistem kerja
adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.2277
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.3599
Pembinaan SDM
0.4124
maks = 3.0011 CI = 0.00055 CR = 0.00095
94

l. Proses Produksi
Bobot setiap kolom j dijumlahkan menjadi total kolom. Total dari setiap kolom
ini dilambangkan dengan Sij.

=
=
n
1 i
ij
Sj
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen 1 0.6544 0.5334
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
1.5282 1 0.9028
Pembinaan SDM 1.8746 1.1076
1
Jumlah Kolom
4.4028 2.7620 2.4363
Bagi setiap kriteria dalam matriks dengan jumlah total kolomnya. Hasil dari
pembagian ini dilambangkan dengan Vij.
j
ij
S

= Vij
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan SDM
Pelayanan Konsumen
0.2271 0.2369 0.2190
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3471 0.3621 0.3706
Pembinaan SDM
0.4258 0.4010 0.4105
Hitung prioritas relatif dari setiap alternatif dengan merata-ratakan bobot yang
sudah dinormalisasikan dari setiap baris ke-i. Prioritas relatif kriteria i
dilambangkan dengan Pi.
j
ij
S

= Vij

Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Baris
Bobot
(EV)
Pelayanan Konsumen
0.2271 0.2369 0.2190 0.6830 0.2277
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3471 0.3621 0.3706 1.0797 0.3599
Pembinaan SDM
0.4258 0.4010 0.4105 1.2373 0.4124


95

Menghitung Ratio Konsisten
1. Kalikan setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan dengan
prioritas relatif (bobot EV) yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing
dan jumlahkan.
Level 3
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
Pembinaan
SDM
Jumlah
Pelayanan Konsumen
0.2277 0.2355 0.2200 0.6832
Kerjasama Industri
dengan Pesaing
0.3479 0.3599 0.3724 1.0802
Pembinaan SDM
0.4268 0.3986 0.4124 1.2378
Perhitungan:

2378 . 1
0802 . 1
6832 . 0
4124 . 0
3599 . 0
2277 . 0
1 , 1076 .. 1 , 8746 . 1
9028 . 0 , 1 , 5282 . 1
5334 . 0 , 6544 . 0 , 1

2. Menghitung eigenvalue maksimum ( maks)
0015 . 2
0014 . 2
0004 . 3
4124 . 0
3599 . 0
2277 . 0
:
2378 . 1
0802 . 1
6832 . 0
=

0011 . 3
3
0015 . 3 0014 . 3 0004 . 3
maks =
+ +
=
3. Menghitung indeks konsistensi (consistency index) yang dilambangkan dengan
CI.
00055 . 0
1 3
3 0011 . 3
1 n
n maks
=


=

CI

4. Menghitung rasio konsistensi (consistency ratio) yang dilambangkan dengan
CR
000948 . 0
58 . 0
00055 . 0
RI
CI
= = = CR

Ringkasan pengolahan pada level 3 (alternatif) terhadap sub-kriteria proses
produksi adalah sebagai berikut:
Level 3 Bobot (EV)
Pelayanan Konsumen
0.2277
Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.3599
Pembinaan SDM
0.4124
maks = 3.0011 CI = 0.00055 CR = 0.000948
96

D. Perhitungan Bobot Global
Perhitungan bobot global merupakan perhitungan untuk mengetahui bobot kriteria
secara keseluruhan. Adapun perhitungan global adalah sebagai berikut:
a. Level 1
Fokus atau Goal (1.00)
Kriteria-Kriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 1.00)
Pemasaran 0.2396 0.2396
Manajemen 0.2310 0.2310
Penanaman 0.0519 0.0519
Lahan 0.0575 0.0575
Tenaga Kerja 0.2180 0.2180
Pengolahan 0.2020 0.2020

b. Level 2
Kriteria Pemasaran
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.2396)
Sosial Ekomoni
0.4745 0.1137
Pesaing
0.5255 0.1259

Kriteria Manajemen
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.2310)
Manj Skill 0.6591 0.1523
Manj Keuangan 0.3409 0.0787

Kriteria Penanaman
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0519)
Penghijauan 0.6591 0.0342
Mencegah Polusi 0.3409 0.0177

97

Kriteria Lahan
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0575)
Lokasi Strategis 0.7687 0.0442
Kualitas Tanah 0.2313 0.0133

Kriteria Tenaga Kerja
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.2180)
Teknologi 0.5835 0.1272
SDM 0.4165 0.0908

Kriteria Pengolahan
Subkriteria-Subkriteria
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.2020)
Sistem Kerja 0.4745 0.0958
Proses Produksi 0.5255 0.1062
c. Level 3
Sub Kriteria Sosial Ekonomi
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.1137)
Pelayanan Konsumen
0.5024 0.0571
Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2092 0.0238
Pembinaan SDM
0.2884 0.0328


Sub Kriteria Pesaing
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.1259)
Pelayanan Konsumen 0.2848 0.0359
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.5261 0.0662
Pembinaan SDM 0.1891 0.0238

98

Sub Kriteria Manajemen Skill
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.1523)
Pelayanan Konsumen 0.3118 0.0475
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.3458 0.0526
Pembinaan SDM 0.3424 0.0521

Sub Kriteria Manajemen Keuangan
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0787)
Pelayanan Konsumen 0.304 0.0239
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.436 0.0343
Pembinaan SDM 0.26 0.0205

Sub Kriteria Penghijauan
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0342)
Pelayanan Konsumen 0.397 0.0136
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.1985 0.0068
Pembinaan SDM 0.4045 0.0138

Sub Kriteria Mencegah Polusi
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0177)
Pelayanan Konsumen 0.3929 0.0070
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.1985 0.0035
Pembinaan SDM 0.4086 0.0072









99

Sub Kriteria Lokasi Strategis
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0442)
Pelayanan Konsumen 0.4898 0.0216
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.2736 0.0121
Pembinaan SDM 0.2366 0.0105

Sub Kriteria Kualitas Tanah
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0133)
Pelayanan Konsumen 0.3272 0.0044
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.4332 0.0058
Pembinaan SDM 0.2396 0.0032

Sub Kriteria Teknologi
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.1272)
Pelayanan Konsumen 0.2956 0.0376
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.4366 0.0555
Pembinaan SDM 0.2678 0.0341

Sub Kriteria SDM
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0908)
Pelayanan Konsumen 0.2109 0.0191
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.1875 0.0170
Pembinaan SDM 0.6016 0.0546










100

Sub Kriteria Sistem Kerja
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.0958)
Pelayanan Konsumen 0.2277 0.0218
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.3599 0.0345
Pembinaan SDM 0.4124 0.0395

Sub Kriteria Proses Produksi
Alternatif
Prioritas
Lokal
Global
(lokal x 0.1062)
Pelayanan Konsumen 0.2277 0.0242
Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.3599 0.0382
Pembinaan SDM 0.4124 0.0438

101

E. Perhitungan Bobot Global Keseluruhan
Kriteria Sub Kriteria
Alternatif
Pelayanan Konsumen Kerjasama Industri dengan Pesaing Pembinaan SDM
Pemasaran 0.2396
Sosial Ekonomi 0.4745 0.0571 0.0238 0.0328
Pesaing 0.5255 0.0359 0.0662 0.0238
Total Pemasaran 0.0930 0.0900 0.0566
Manajemen 0.2310
Manj Skill 0.6591 0.0475 0.0526 0.0521
Manj Keuangan 0.3409 0.0239 0.0343 0.0205
Total Manajemen 0.0714 0.0869 0.0726
Penanaman 0.0519
Penghijauan 0.6591 0.0136 0.0068 0.0138
Mencegah Polusi 0.3409 0.0070 0.0035 0.0072
Total Penanaman 0.0206 0.0103 0.0210
Lahan 0.0575
Lokasi Strategis 0.7687 0.0216 0.0121 0.0105
Kualitas Tanah 0.2313 0.0044 0.0058 0.0032
Total Lahan 0.0260 0.0179 0.0137
Tenaga Kerja 0.2180
Teknologi 0.5835 0.0376 0.0555 0.0341
SDM 0.4165 0.0191 0.0170 0.0546
Total Tenaga Kerja 0.0567 0.0725 0.0887
Pengolahan 0.2020
Sistem Kerja 0.4745 0.0218 0.0345 0.0395
Proses Produksi 0.5255 0.0242 0.0382 0.0438
Total Pengolahan 0.0460 0.0727 0.0833
Total Bobot Keseluruhan 0.3137 0.3504 0.3359
102

Jadi dari hasil kuesioner pengambilan keputusan tentang Penentuan Urutan
Prioritas Strategi Kerja di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA dengan
menggunakan metode AHP (Analitical Hierarchy Process) didapatkan hasil dari
perbandingan antar alternatif adalah sebagai berikut:
Pelayanan Konsumen : 0.3137 = 31.37 %
Kerjasama Industri dengan Pesaing : 0.3504 = 35.04 %
Pembinaan SDM : 0.3359 = 33.59 %
Total Hasil Perhitungan adalah 100 %


103

Bab 5
Analisis


Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data dari penelitian yang telah
dilakukan di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA Bandung, maka pada
bagian ini akan dilakukan analisis dan pembahasan mengenai Penentuan Strategi
Kerja Dengan Menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process).
5.1. Analisis Pendapat
Setelah melakukan pengumpulan dan pengolahan data yang didapat dari 5 orang
yang memahami permasalahan ini terdiri dari Ahmad Yadi, Muchlis Djihadi, Tini
Sumartini, Berry dan Subeno. Sehingga menurut mereka, didapatkan hasil sebagai
berikut:
1. Ahmad Yadi
Beliau mengatakan, untuk mengambil suatu keputusan sangat besar
pengaruhnya bagi kehidupan pada masa kini maupun pada masa yang akan
datang. Karena keputusan merupakan solusi dari persoalan yang bersifat unik.
tak pasti. jangka panjang dan kompleks. Pada dasarnya keputusan yang diambil
merupakan suatu alternatif yang dianggap layak dimana orang lain belum tentu
dapat menerima alas an ataupun bukti yang boleh dijelaskan secara ilmiah.

Dalam pernyataannya, beliau memberikan beberapa kriteria/bagian dalam
pengambilan keputusan diantaranya yaitu pemasaran, manajemen, SDM,
teknologi, lahan yang memadai, serta sistem pengolahan yang berupa cara
produksi dan sistem kerja dari mesin.

2. Muchlis Djihadi
Menurut buku yang telah dibacanya yang berjudul Judgment in Mangerial
Decision Making. Beliau memberikan kriteria dalam penerapan pengambilan
keputusan yaitu: Sistem Pengolahan, Lokasi Strategis perusahaan, Sistem
Pemasaran, Penghijauan, Manajemen serta SDM yang ada diperusahaan.

104

3. Berry
Pada pengambil keputusan yang rasional akan Mengidentifikasikan seluruh
kriteria sesuai dengan tujuan secara tepat. Beliau memberikan beberapa
masukan tentang pengambilan keputusan dalam hal tentang penghijauan,
penanaman, pencegahan polusi, kualitas tanah serta drainase/penyerapan air
yang baik

4. Sementara untuk Subeno dan Tini Sumartini, suatu keputusan sanganlah
penting dalam menjalankan sebuah kehidupan, apalagi dalam sebuah
persaingan dalam dunia bisnis. Hal yang utama dalam pengambilan keputusan
yaitu adanya menejemen yang handal, pemasaran yang luas serta didukung
oleh SDM dan teknologi yang berkualitas
5.2. Analisis Struktur Hirarki dan Model Hierarki
Dalam penyusunan struktur hirarki diawali dengan menentukan tujuan umum,
dilanjutkan dengan menentukan kriteria-kriteria, setelah itu menentukan
subkriteria dan diakhiri dengan menentukan alternatif-alternatif pada tingkatan
paling bawah. Setelah melakukan perundingan dengan para pimpinan perusahaan,
maka didapatkan hasil dari struktur hirarki.
Adapun pemilihan struktur hirarki pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan hirarki, yaitu perencanaan strategi kerja.
2. Kriteria, yaitu pemasaran, manajemen, tenaga kerja, penanaman, lahan serta
pengolahan.
3. Subkriteria, yaitu pemasaran: sosial ekonomi dan pesaing, manajemen:
manajemen skill dan manajemen keuangan, tenaga kerja: teknologi dan SDM,
penanaman: penghijauan dan mencegah polusi, lahan: lokasi strategis dan
kualitas tanah, serta pengolahan: sistem kerja dan proses produksi
4. Alternatif, yaitu pelayanan konsumen, kerjasama industri dengan pesaing dan
pembinaan SDM
Penyusunan model keputusan adalah suatu cara untuk mengembangkan
hubungan-hubungan logis yang mendasari persoalan keputusan ke dalam suatu
105

model matematis, yang mencerminkan hubungan yang terjadi diantara faktor-
faktor yang terlibat.
Model proses pengambilan keputusan menurut Simon (1960) terbagi 3 yaitu:
a. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup
problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukkan diperoleh,
diproses dan diuju dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
b. Design
Tahap ini merupakan proses menemukkan, mengembangkan dan menganalisis
alternatif tindakan yang yang bias dilakukan. Tahap ini meliputiproses untuk
mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi.
c. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif
tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian
diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.
Tetapi langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk pembuatannya:
Pelajari lingkungan agar problema yang dinyatakan dapat real.
Rumuskan representasi permasalahan dengan selektif, buat asumsinya dan
simflikasikan. Tetapkan tujuan dan variable keputusannya secara eksplisit.
Buatkan modelnya
Terjemahkan dan kuantifikasikan dalam bentuk simbol-simbol matematik.
Inilah beberapa langkah yang diperlukan dalam pembuatan suatu model
keputusan. Namun sekali lagi konsep itu tidak baku, artinya masih banyak lagi
cara lain dalam pembuatan model. Adapun model hirarki tujuan perencanaan
strategi kerja adalah sebagai berikut:
106

Perencanaan Strategi Kerja
Penanaman Manajemen Lahan Tenaga Kerja Pemasaran Pengolahan
S
o
s
i
a
l

E
k
o
n
o
m
i
P
e
s
a
i
n
g
M
a
n
a
j
e
m
e
n

S
k
i
l
l
M
a
n
a
j
e
m
e
n

K
e
u
a
n
g
a
n
P
e
n
g
h
i
j
a
u
a
n
M
e
n
c
e
g
a
h

P
o
l
u
s
i
L
o
k
a
s
i

S
t
r
a
t
e
g
i
s
S
D
M
T
e
k
n
o
l
o
g
i
S
i
s
t
e
m

K
e
r
j
a
P
r
o
s
e
s

P
r
o
d
u
k
s
i
Pelayanan
Konsumen
Kerjasama
Industri dengan
Pesaing
Pembinaan
SDM
Tujuan
Kriteria
Sub Kriteria
Alternatif
K
u
a
l
i
t
a
s

t
a
n
a
h

Gambar 5.1. Model Hirarki Tujuan Perencanaan Strategi Kerja









107

5.4. Analisis Perhitungan
Rata-rata Geometri
Untuk level 1
Tabel 5.1. Rata-rata Geometrik pada Level 1
Kriteria Jumlah Rata-rata
Pemasaran vs Manajemen 0,36 0,8152
Pemasaran vs Penanaman 1125 4,0760
Pemasaran vs Lahan 1875 4,5144
Pemasaran vs Tenaga Kerja 3 1,2457
Pemasaran vs Pengolahan 5,4 1,4011
Manajemen vs Penanaman 675 3,6801
Manajemen vs Lahan 1125 4,0760
Manajemen vs Tenaga Kerja 0,6 0,9029
Manajemen vs Pengolahan 3 1,2457
Penanaman vs Lahan 0.2 0.7248
Penanaman vs Tenaga Kerja 0.0005333 0.2215
Penanaman vs Pengolahan 0.0008889 0.2453
Lahan vs Tenaga Kerja 0.0008889 0.2453
Lahan vs Pengolahan 0.0014815 0.2717
Tenaga Kerja vs Pengolahan 0.6 0.9029

Untuk level 2
Tabel 5.2. Rata-rata Geometrik pada Level 2
Kriteria Sub Kriteria Jumlah Rata-rata
pemasaran Sosial Ekomoni vs Pesaing 0.6 0.9029
Manajemen Manj Skill vs Manj Keuangan 27 1.9332
Penanaman Penghijauan vs Mencegah Polusi 27 1.9332
Lahan Lokasi Strategis vs Kualitas Tanah 405 3.3227
Tenaga Kerja Teknologi vs SDM 5.4 1.4011
Pengolahan Sistem Kerja vs Proses Produksi 0.6 0.9029







108

Untuk level 3
Tabel 5.3. Rata-rata Geometrik pada Level 3
Sub Kriteria Alternatif Jumlah Rata-rata
Sosial
Ekomoni
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
48.6 2.1743
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 26.9973 1.9331
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 0.11998 0.6544
Pesaing
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.0666 0.5818
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 5 1.4011
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 243 3
Manjemen
Skill
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
3 1.2457
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.11998 0.6544
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 5.3995 1.4011
Manjemen
Keuangan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.11998 0.6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 2.99940 1.2457
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 9.72000 1.5759
Penghijauan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
26.9973 1.9331
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1.0799 1.0155
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 0.023995 0.4743
Mencegah
Polusi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
135 2.6673
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.9257 0.9847
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 0.023995 0.4743
Lokasi
Strategis
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
9.72 1.5759
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 75 2.3714
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 1.079892 1.0155
Kualitas
Tanah
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.119976 0.6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 9.72 1.5759
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 9.72 1.5759
Teknologi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.11998 0.6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 1.944 1.1422
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 9.72 1.5759
SDM
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
5.4 1.4011
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.001600 0.2759
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 0.007998 0.3807

109

Sub Kriteria Alternatif Jumlah Rata-rata
Sistem Kerja
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.119976 0.6544
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.043195 0.5334
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 0.599880 0.9028
Proses
Produksi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan
Pesaing
0.0432 0.5334
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.0666 0.5818
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM 5.3995 1.4011

Prioritas Relatif
Untuk level 1
Tabel 5.4. Bobot (EV) pada Level 1
Kriteria Bobot (EV)
Pemasaran 0.2396
Manajemen 0.2310
Penanaman 0.0519
Lahan 0.0575
Tenaga Kerja 0.2180
Pengolahan 0.2020

Untuk level 2
Tabel 5.5. Bobot (EV) pada Level 2
Kriteria Sub Kriteria Bobot (EV)
Pemasaran
Sosial Ekomoni 0.4745
Pesaing 0.5255
Manajemen
Manj Skill 0.6591
Manj Keuangan 0.3409
Penanaman
Penghijauan 0.6591
Mencegah Polusi 0.3409
Lahan
Lokasi Strategis 0.7687
Kualitas Tanah 0.2313
Tenaga Kerja
Teknologi 0.5835
SDM 0.4165
Pengolahan
Sistem Kerja 0.4745
Proses Produksi 0.5255





110

Untuk level 3
Tabel 5.6. Bobot (EV) pada Level 3
Sub Kriteria Alternatif Bobot (EV)
Sosial
Ekomoni
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing 0.5024
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM 0.2092
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.2884
Pesaing
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2848
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.5261
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.1891
Manjemen
Skill
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.3118
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.3458
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.3424
Manjemen
Keuangan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.3040
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.4360
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.2600
Penghijauan
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.3970
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.1985
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.4045
Mencegah
Polusi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.3929
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.1985
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.4086
Lokasi
Strategis
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.4898
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.2736
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.2366
Kualitas
Tanah
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.3272
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.4332
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.2396
Teknologi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2956
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.4366
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.2678
SDM
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2109
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.1875
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.6016
Sistem
Kerja
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2277
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.3599
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.4124
Proses
Produksi
Pelayanan Konsumen vs Kerjasama Industri dengan Pesaing
0.2277
Pelayanan Konsumen vs Pembinaan SDM
0.3599
Kerjasama Industri dengan Pesaing vs Pembinaan SDM
0.4124

111

Rasio Konsistensi
Untuk level 1
maks = 6.0479 CI = 0.00958 CR = 0.007726
Untuk level 2
maks = 2.00 CI = 0 CR =~
Untuk level 3
Sosial Ekomoni : maks = 3.0107 CI = 0.00535 CR = 0.00922
Pesaing : maks = 3.0057 CI = 0.00285 CR = 0.00491
Manjemen Skill : maks = 3.1079 CI = 0.05395 CR = 0.0930
Manjemen Keuangan : maks = 3.004 CI = 0.002 CR = 0.00345
Penghijauan : maks = 3.0012 CI = 0.0006 CR= 0.001035
Mencegah Polusi : maks = 3.0005 CI = 0.00025 CR = 0.00043
Lokasi Strategis : maks = 3.0175 CI = 0.00875 CR = 0.0151
Kualitas Tanah : maks = 3.0199 CI = 0.00995 CR = 0.0172
Teknologi : maks = 3.0013 CI = 0.00065 CR = 0.00112
SDM : maks = 3.0521 CI = 0.02605 CR = 0.04491
Sistem Kerja : maks = 3.0011 CI = 0.00055 CR = 0.00095
Proses Produksi : maks = 3.0011 CI = 0.00055 CR= 0.000948


106

Bab 6
Kesimpulan Dan Saran


Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan di
PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA Bandung, maka pada bagian ini
akan dilakukan kesimpulan dan saran mengenai Penentuan Urutan Prioritas
Strategi Kerja Dengan Menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarchy
Process).
6.1. Kesimpulan
Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data berdasarkan analisis, peneliti dapat
menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam pengambilan keputusan melalui beberapa proses yang bertahap, sejak
proses identifikasi masalah, mencatat, mendiagnosa dan mendifinisikan
masalah, mencari dan memilih solusi dan pada akhirnya menerapkan
keputusan. Jadi setelah melakukan pengambilan kuesoiner dari beberapa
pimpinan perusahaan mengenai penentuan strategi kerja yang terdiri dari
beberapa kriteria dan subkriteria. Pada kriteria terdiri dari pemasaran,
menajemen, penanaman, lahan, tenaga kerja dan pengolahan, sedangkan
subkriteria terdiri dari kriteria-kriteria diatas yaitu sosial ekonomi, pesaing,
manajemen keuangan, manajemen skill, penghijauan, mencegah polusi, lokasi
strategis, kualitas tanah, teknologi, sumber daya manusia, sistem kerja dan
proses produksi
2. Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode
AHP (Analytical Hierarchy Process) adalah memberikan usulan kepada
pengambil keputusan mengenai tingkat-tingkat kepentingan yang harus
didahulukan dalam menentukan bobot prioritas kepentingan dalam
menentukan strategi kerja. Penentuan prioritas dalam struktur hierarki
dirancang dalam suatu tatanan hierarki yang menunjukan suatu tingkat
kepentingan dari pengaruh antara kriteria satu dengan kriteria lainnya,
subkriteria satu dengan subkriteria lainnya dan alternatif satu dengan
107

alternatif lainnya. Setelah struktur hierarki jadi, maka selanjutnya membuat
model hierarki yang terdiri daru beberapa level diantaranya tujuan hierarki,
kriteria, subkriteria dan pemilihan (alternatif)
3. Setelah mendapatkan hasil dari perhitungan bobot global keseluruhan dalam
matrik perbandingan berpasangan, didapatkan hasil perbandingan antar
alternatif dalam penentuan strategi kerja sebagai berikut:
Pelayanan Konsumen : 0.3137 = 31.37 %
Kerjasama Industri dengan Pesaing : 0.3504 = 35.04 %
Pembinaan SDM : 0.3359 = 33.59 %
Maka dari urutan prioritas yang utama diprioritaskan dalam menentukan
strategi kerja adalah kerjasama industri dengan pesaing sebesar 0.3504 atau
35.04 %.
6.2. Saran
Setelah melakukan penelitian di PT. SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA,
peneliti merasakan banyak manfaat dan kesan yang menarik terhadap perusahaan
ini. Dalam melakukan wawancara, observasi, pengamatan dan menganalisis,
peneliti akan menyampaikan beberapa saran bagi perusahaan agar meningkatnya
kapasitas produksi dan produktivitas yang tinggi agar dapat tercapai dengan baik.
Beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan adalah:
1. Pihak perusahaan hendaknya lebih menekankan pada kerjasama industri
dengan pesaing yang efektif untuk mempermudah jalinan kerjasama dengan
perusahaan dengan sebaik-baiknya, sehingga baik operator maupun pekerja
lainnya dapat mengetahui keinginan pesaing.
2. Untuk meningkatkan produktivitas pekerja, maka pihak perusahaan PT.
SINAR SAKTI MATRA NUSANTARA mengadakan suatu program yang
dapat menunjang kepegawaian pekerja atau operator untuk lebih giat lagi
dalam bekerja diantaranya adalah dengan adanya pelatihan-pelatihan sehingga
kualitas pekerja secara perlahan-lahan akan dapat meningkatkan produktivitas.

DAFTAR PUSTAKA


Dermawan, Rizky (2005), Model Kuantitatif Pengambilan Keputusan dan
Perencanaan Strategis. CV Alfabeta, Bandung.
Maghfiroh, Nurul dan Marimin (2010), Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan
dan Manajemen Rantai Pasok. IPB Press, Bogor.
Mangkusubroto, K. dan L. Trisnadi (1987). Analisa Keputusan. Ganeca Exact,
Bandung.
Rachman, Abdul (2005), Proses Penentuan Urutan Proritas dengan Menggunakan
Metode Analitical Hierarchy Process (AHP). UNISBA, Bandung.
Saaty, T. L (1983), Decision Making For Leaders: The Analytical Hierarchy
Process for Decision in Complex World. RWS Publication, Pittsburgh
Sudirman, A (1998), Pengambilan Keputusan Stratejik. Grasindo, Jakarta
Suryadi dan Ramadhani (1998), Sistem Pendukung Keputusan. Media
Komputindo, Jakarta.