Anda di halaman 1dari 13

NILAI

PARAF

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA KLINIK


UJI KETELITIAN PIPETASI

Disusun: JONO SUGIHARTO / A. 0920026 DWI SASWITA / A. 0920028 SALLY KIRANA / A. 01030073

Kelas / Kelompok

: KARYAWAN 2009/2 : 24-03-2012 : 30-03-2012

Tanggal Praktikum Tanggal Masuk Laporan

Asisten Laboratorium : Novi Irwan F., S.Farm., Apt. Rival Ferdiansyah, S.Farm., Apt.

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA YAYASAN HAZANAH

Laporan Praktikum Kimia Klinik

PERCOBAAN 1 UJI KETELITIAN PIPETASI


1.1. TUJUAN PERCOBAAN

Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengetahui cara menggunakan pipet piston (clinipette), serta membandingkan ketelitian dengan pipet gelas. 2. Mengetahui cara mengukur konsentrasi sampel dengan menggunakan alat

spektrofotometer.

1.2. TEORI

Spektrofotometri Uv-Vis a. Prinsip pengukuran spektrofotometri Uv-Vis. 1. Hukum Lambert Beer Konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi (absorbansi) dan berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan. A = a.b.c = Dimana:

a = absorptivitas b = tebal kuvet c = konsentrasi sampel A = absorbansi T = transmitan

2. Suatu senyawa bila dikenai REM pada tertentu akan mengalami eksitasi ke keadaan yang lebih tinggi. Pada saat terjadi eksitasi molekul menyerap energi yang disebut sebagai nilai absorbansi (A). A= Dimana: Io = cahaya yang masuk I = cahaya yang ditransmisikan

Laporan Praktikum Kimia Klinik

b. Bagan spektrofotometri Uv-Vis

c. Sumber Cahaya Lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang antara 350-900).

Lampu Deteurium

Lampu Tungsen

d. Monokromator dan Filter Digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.

Laporan Praktikum Kimia Klinik

e. Kuvet Kaca : gelombang sinar tampak Kuarsa : sinar ultaviolet

KMnO4 a. Nama sinonim : potasium pemanganat b. Berat molekul : 158,03 c. Pemerian d. Kelarutan : tidak berbau, rasa agak manis, bewarna ungu. : larut dalam air panas, sedikit larut dalam air dingin, larut dalam aseton,

metanol dan asam sulfat.

Pipet Ukur Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diinginkan. Volume yang dipindahkan dikeluarkan mengikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar.

Pipet ukur mempunyai fungsi hampir sama dengan pipet tetes biasa, kecuali : 1. Garis skala volum pada pipet ukur tidak hanya satu tapi ada beberapa skala, volum pipet seukuran hanya ada satu. 2. Tingkat ketelitian pengukuran pipet ukur lebih kecil dari tingkat ketelitian pengukuran pipet seukuran.

Laporan Praktikum Kimia Klinik

Cara kalibrasi pipet ukur dilakukan terhadap sekelompok volum tertentu, misalnya untuk pipet ukur dengan kapasitas 25 mL, kalibrasi dilakukan pada volum 5 mL, 10 mL, 15 mL, 20 mL, dan 25 mL. Pipet ukur dikalibrasi untuk memungkinkan sebuah alat gelas memindahkan satu interval volume, dan ukurannya yang umum adalah 1 ml dan 10 ml. Pipet ini kurang akurat bila dibandingkan dengan pipet pindah, dan pipet ini tidak digunakan di dalam laboratorium kimia analitik. Jika ingin memindahkan suatu larutan dengan volume sangat kecil, digunakan alat suntik gelas yang akurat (misalnya, alat suntik Hamilton) atau mikropipet otomatis.

Pipet Piston/Mikropipet Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 l. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1l sampai 20 l, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 l. Mikropipet digunakan untuk memindahkan secara akurat suatu larutan/cairan dalam volume kecil. Pipet biasa seperti pipet gelas tidak memiliki keakuratan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml), sedangkan mikropipet memiliki keakuratan dan ketepatan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml).

Dalam menggunakan mikropipet, yang perlu diperhatikan adalah volume cairan yang akan dipindahkan. Ada beberapa jenis mikropipet berdasarkan volumenya, jenis mikropipet yang sering digunakan memiliki kisaran 10-100 mikro liter (l) dan 100-1000 mikro liter (l). Pada penggunaanya, biasanya dilakukan kombinasi pemakaian kedua jenis mikropipet ini, misalnya untuk memindahkan 1030 l cairan, maka digunakan pipet jenis pertama untuk memindahkan 30 l dan pipet jenis kedua untuk memindahkan cairan sebanyak 1000 l. Pemilihan jenis pipet yang tepat ini penting untuk menghemat waktu.

Laporan Praktikum Kimia Klinik

Cara Penggunaan : 1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. 2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle/ujung mikropipet. 3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama/first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi. 4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm. 5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip. 6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan. 7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua/second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip. 8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar.

1.3. ALAT DAN BAHAN Alat : a. Spektrofotometer b. Pipet piston (Clinipette) c. Pipet gelas (Volume pipette) d. Kuvet e. Labu ukur 500 mL dan 10 mL Bahan : a. Larutan KMnO4 b. Aquadest.

1.4. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Membuat larutan baku KMnO4 a. Larutan induk dibuat dengan melarutkan KMnO4 dengan konsentrasi 500 ppm. b. Larutan kemudian diencerkan menjadi 50 ppm, dan diukur nilai absorbansinya. c. Larutan 50 ppm kemudian diencerkan menjadi 45 ppm, 40 ppm, 35 ppm, dan 30 ppm. 2. Mengukur konsentrasi larutan baku dan diatur sampai diperoleh absorbansi A=0,2-0,8 3. Mengukur konsentrasi setiap larutan pada = 546

Laporan Praktikum Kimia Klinik

4. Membandingkan pengukuran absorbansi (A) untuk setiap cara pemipetan dengan melihat harga standar deviasi. SD =

1.5. PENGAMATAN 1. Pipet Gelas No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Absorbansi I 0,443 0,524 0,577 0,646 0,765 II 0,442 0,521 0,596 0,684 0,770 III 0,471 0,554 0,633 0,700 0,788

2. Pipet Piston No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Absorbansi IV 0,502 0,572 0,619 0,715 0,727 V 0,384 0,455 0,552 0,643 0,788 VI 0,598 0,703 0,779 0,840 0,918

Laporan Praktikum Kimia Klinik

1.6. PERHITUNGAN 1. Standar Deviasi (SD) Pipet Gelas No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Rataan SD Absorbansi I 0,443 0,524 0,577 0,646 0,765 0,591 0,122 II 0,442 0,521 0,596 0,684 0,770 0,602 0,129 III 0,471 0,554 0,633 0,700 0,788 0,629 0,123 Rataan 0,452 0,533 0,602 0,677 0,774 0,607 0,125 SD 0,016 0,018 0,028 0,028 0,012 0,021 0,117

a. SD Kelompok I SD = b. SD Kelompok II SD = c. SD Kelompok III SD = d. SD Masing-masing Konsentrasi 30 ppm = 35 ppm = 40 ppm = 45 ppm = 50 ppm = e. SD Keseluruhan SD = = 0,117 = 0,016 = 0,018 = 0,028 = 0,028 = 0,012 = 0,123 = 0,129 = 0,122

Laporan Praktikum Kimia Klinik

2. Standar Deviasi (SD) Pipet Piston No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Rataan SD Absorbansi IV 0,502 0,572 0,619 0,715 0,727 0,627 0,095 V 0,384 0,455 0,552 0,643 0,788 0,564 0,159 VI 0,598 0,703 0,779 0,840 0,918 0,768 0,123 Rataan 0,495 0,577 0,650 0,733 0,811 0,653 0,126 SD 0,107 0,124 0,117 0,100 0,098 0,109 0,148

a. SD Kelompok IV SD = b. SD Kelompok V SD = c. SD Kelompok VI SD = d. SD Masing-masing Konsentrasi 30 ppm = 35 ppm = 40 ppm = 45 ppm = 50 ppm = e. SD Keseluruhan SD = = 0,117 = 0,107 = 0,124 = 0,117 = 0,100 = 0,098 = 0,123 = 0,159 = 0,095

Laporan Praktikum Kimia Klinik

1.7. PEMBAHASAN Uji pipetasi membandingkan dua buah penggunaan pipet antara pipet piston (micropipet) dengan pipet ukur biasa, serta mengukur ketelitian kedua pipet tersebut dalam pipetasi larutan menggunakan alat spektrofotometri Uv-Vis. Pengujian dilakukan dengan larutan KMnO4 yang dapat diserap pada sinar tampak/visibel dengan panjang gelombang 546. Penggunaan larutan KMnO4 tidaklah mutlak digunakan pada percobaan kali ini, bahan lain dapat digunakan pada percobaan kali ini, asalkan memenuhi persyaratan dapat diserap/diukur oleh alat spektrofotometri Uv-Vis. Seperti diketahui bahwa alat spektrofotometri dapat menyerap pada panjang gelombang Ultraviolet/Uv untuk zat-zat kromofor dan Sinar tampak/Visibel untuk zat-zat bewarna. Penggunaan KMnO4 mungkin dimaksudkan karena bahannya termasuk mudah larut dalam air, sebagai bahan pelarutnya, air mudah didapat, murah dan tidak toksik. KMnO4 juga relatif lebih murah, dan stabil pada kondisi larutan. Pengukuran secara kualitatif menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis, memiliki keuntungan yang lebih baik dibanding metode lain seperti titrasi. Spektrofotometri Uv-Vis memiliki sensitifitas yang tinggi, mudah untuk digunakan, pengukuran yang cepat dan spesifisitas yang tinggi. Karenanya pengukuran menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis merupakan metode yang tepat untuk menguji ketelitian dua macam pipet piston dan pipet ukur. Pengukuran KMnO4 pada rentang konsentrasi 30-50 ppm, dengan nilai absorbansi 0,2-0,8 seperti yang dipersyaratkan pada pengukuran alat Spektrofotometri Uv-Vis. Metode pengukuran dari 6 kelompok dibagi menjadi 2 metode, kelompok 1, 2, dan 3 menggunakan metode pipet ukur, sedangkan kelompok 4, 5, dan 6 menggunakan pipet piston. Hasil perhitungan pengukuran KMnO4 seperti yang terlihat pada tabel berikut; Tabel Pengukuran Metode Pipet Ukur No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Rataan SD Absorbansi I 0,443 0,524 0,577 0,646 0,765 0,591 0,122 II 0,442 0,521 0,596 0,684 0,770 0,602 0,129 III 0,471 0,554 0,633 0,700 0,788 0,629 0,123 Rataan 0,452 0,533 0,602 0,677 0,774 0,607 0,125 SD 0,016 0,018 0,028 0,028 0,012 0,021 0,117

Laporan Praktikum Kimia Klinik

Tabel Pengukuran Metode Pipet Piston No 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi 30 ppm 35 ppm 40 ppm 45 ppm 50 ppm Rataan SD Absorbansi IV 0,502 0,572 0,619 0,715 0,727 0,627 0,095 V 0,384 0,455 0,552 0,643 0,788 0,564 0,159 VI 0,598 0,703 0,779 0,840 0,918 0,768 0,123 Rataan 0,495 0,577 0,650 0,733 0,811 0,653 0,126 SD 0,107 0,124 0,117 0,100 0,098 0,109 0,148

Perhitungan standar deviasi(SD) berdasarkan 3 jenis perhitungan: Pertama, SD dihitung berdasarkan pengukuran untuk masing-masing kelompok tiap metode, sehingga diperoleh nilai SD untuk masing-masing kelompok I = 0,122, kelompok II = 0,129, kelompok III = 0,123 dengan rataan SD dari ketiga kelompok pipet ukur ini adalah 0,125. Begitupun untuk metode pipet piston nilai SD untuk masing-masing kelompok IV = 0,095, kelompok V = 0,159, kelompok VI = 0,123 dengan rataan nilai SD dari ketiga kelompok pipet piston ini adalah 0,126. Kedua, SD dihitung berdasarkan pengukuran untuk masing-masing konsentrasi tiap metode, sehingga diperoleh nilai SD untuk masing-masing konsentrasi 30 ppm = 0,016, 35 ppm = 0,018, 40 ppm = 0,028, 45 ppm = 0,028, 50 ppm = 0,012 dengan rataan SD 0,021 untuk metode pipet ukur. Begitupun untuk metode pipet piston nilai SD dari masing-masing konsentrasi 30 ppm = 0,107, 35 ppm = 0,124, 40 ppm = 0,117, 45 ppm = 0,100, 50 ppm = 0,098 dengan rataan nilai SD 0,109 Ketiga, SD dihitung berdasarkan semua data secara keseluruhan/global untuk masing-masing metode. Metode pipet ukur memiliki nilai SD 0,117 dan metode pipet piston memiliki nilai SD 0,148

10

Laporan Praktikum Kimia Klinik

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, ketiga nilai SD dapat mewakili untuk dibandingkan dan diinterpretasikan hasil percobaannya. Sehingga dapat diperoleh tabel berikut; Tabel Perbandingan Standar Deviasi Tiap Metode No. 1. 2. 3. Cara Perhitungan Pertama (Per Kelompok) Kedua (Per Konsentrasi) Ketiga (Per Keseluruhan) Nilai Rataan Standar Deviasi Metode Pipet Ukur 0,125 0,021 0,117 Metode Pipet Piston 0,126 0,109 0,148

Dari tabel diatas nilai standar deviasi dengan cara perhitungan pertama, kedua dan ketiga metode pipet piston relatif lebih besar dibanding dengan metode pipet ukur. Perbedaan ini memberikan makna bahwa pipet ukur memiliki ketelitian relatif lebih baik dibanding pipet piston. Namun hasil percobaan ini belum tentu memberikan hasil yang sesungguhnya, untuk menguji apakah hasil percobaan dapat dipertanggungjawabkan perlu dilakukan validasi metode percobaannya. Pertama, hasil percobaan yang telah dilakukan sangat dipengaruhi oleh keterampilan praktikan saat melakukan pipetasi dan pengenceran. Pipetasi menggunakan pipet ukur yang tidak tepat dalam pembacaan skala volumenya akan mengakibatkan nilai pengukuran menjadi salah, pengukuran dapat bertambah maupun berkurang dari nilai sebenarnya. Sedangkan pengenceran yang tidak tepat sesuai volumenya juga akan mengakibatkan pengukuran menjadi kurang atau berlebih dari nilai yang diharapkan. Kedua, hasil percobaan juga dipengaruhi keadaan pipet piston, bisa saja pipet piston yang digunakan sudah tidak akurat lagi, seperti yang diketahui bahwa setiap alat ukur harus dikalibrasi secara berkala untuk menilai kondisi alat ukur tersebut masih memenuhi standar yang ditetapkan atau tidak. Penggunaan pipet piston yang salah maka hasilnya tidak optimal atau volume yang diambil tidak sesuai. Agar penggunaan pipet piston optimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti: 1. Konsisten speed dan kelancaran saat menekan dan melepaskan tombolnya. 2. Konsisten tekanan pada plunger pada pertama. 3. Konsisten dan cukup saat memasukkan tip ke dalam cairan. 4. Posisi tip pada cairan Posisinya Hampir Vertikal dari pipet. 5. Menghindari semua gelembung udara. 6. Tidak pernah meletakkan pada side pipet atau pipet membalikkan jika cairan di ujung.

11

Laporan Praktikum Kimia Klinik

1.8. KESIMPULAN Dari hasil percobaan pipetasi, dengan membandingkan hasil pengukuran dan perhitungan standar deviasi antara pipet piston dan pipet ukur menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis. Seperti yang terlihat pada tabel berikut;

No. 1. 2. 3.

Cara Perhitungan Pertama (Per Kelompok) Kedua (Per Konsentrasi) Ketiga (Per Keseluruhan)

Nilai Rataan Standar Deviasi Metode Pipet Ukur 0,125 0,021 0,117 Metode Pipet Piston 0,126 0,109 0,148

Nilai standar deviasi pipet ukur lebih kecil dibanding pipet piston, yang memberikan makna ketelitian pipet ukur relatif lebih baik dibanding pipet piston. Tetapi nilai ini bukan menjadi harga mutlak, karena percobaan sangat dipengaruhi keterampilan praktikan dan kondisi pipet piston yang digunakan.

1.9. PERTANYAAN DAN TUGAS 1.

12