Anda di halaman 1dari 8

ANATOMI DAN FISIOLOGI LARING Oleh : TUTUT SRIWILUDJENG T. RSUD Dr.

Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto


PENDAHULUAN : Mengapa kita harus punya suara yang baik ? ( Sound. Bunyi di alam, Voice. Suara manusia ). Manusia perlu kemampuan bersuara dengan baik untuk komunikasi! Memang bisa berkomunikasi tanpa suara seperti internet, tulisan dll. Tetapi dengan suara / ucapan kata bisa untuk mengutarakan perasaan (cinta), mengajar (untuk mahasiswa), berbunyi dengan nada tinggi rendah, dengan sepenuh hati dll. Manusia sebagai ciptaan Tuhan terakhir (Setelah Tuhan menciptakan binatang) mampu bersuara yang baik dibandingkan dengan binatang. Suara anak menangis ibuuu karena jatuh, lain dengan suara gembira ibuuu karena bertemu setalah lama berpisah oleh tsunami. Kadang seorang ibu mengatakan: kalau mendengar suaramu badanmu sakit ya? Manusia mampu bersuara macam macam: dalang, mampu menirukan suara Kresna lain dengan suara Petruk. Untuk bertemunya suara yang baik perlu anatomi dan fisiologi yang baik. Sebab kalau parau, komunikasi kurang sempurna 1. Bagaimana kita bisa bersuara yang baik ? Bagaimana anatomi dan fisiologi laring yang normal? Anatomi dan fisiologi laring harus bagus. Laring sebagai sumber suara (= organ suara ) oleh faring, mulut, gigi, bibir-hidung sebagai resonator diubah menjadi ucapan kata kata. 1 Tinggi nada (Pitch) tergantung panjang elastisitas dan masa korda vokalis. 1 Keras suara tergantung ketegangan korda vokalis dan tiupan udara dari paru.

Hormon testosteron mempengaruhi pertumbuhan korda vokalis. Pada pria dewasa korda vokalis memanjang 1
2

1 - 2 kali, sedangkan wanita hanya tambah beberapa mm 2

sehingga suara wanita 1 oktaf diatas suar pria. Pada pria nada C pada 125 Hz dan

pada wanita 250 Hz. 3 Anatomi : Korda vokalis tipis dan intak rata. Fisiologis korda vokalis harus dapat digerakkan ke medial Korda vokalis ini istilah untuk Surabaya / Sulawesi. Kalau istilah jakarta / Sumatera: pita suara. Istilah jawa tengah Plika vokalis.

Gambar 1 : Penampang frontal laring. Dikutip dari Subotta Korda vokalis sebetulnya bukan pita sebab merupakan lipatan : lihat gambar 1 tampak putih seperti pita karena sebagian tertutup oleh pilka ventrikularis. Korda vokalis ini tepinya tajam. (bisa ditumpul tebalkan : suara nada rendah) Organ laring : a. Organ / alat harus tunggal ( bermuara di atas paru paru ). Bayangkan kalau ada dua laring. Satu untuk melodi satu untuk bas?

b. Harus sempit : agar terlaksana terbentuk suara dengan baik : ruginya kalau sempit ini bisa sesak kalau ada kelainan yang menutup jalan napas seperti tumor, radang pada anak kecil dan paralysis abductor. 2. Bagaimana suara yang baik terbentuk. 2.1. Udara masuk paru paru dahulu untuk dapat dihembuskan keluar melalui laring. 2.2. Setelah udara dihembuskan, korda vokalis : - bergerak ke medial, - merapat di medial, perlu syaraf penggerak perlu staraf penggerak
3

- bergetar : mucosal wave: karena hembusan udara dari paru. Getaran mucosal wave ini 0.5 1 mm/detik. dan kendor untuk nada rendah. Nanti pada patologi terlihat pada radang, korda vokalis menebal : nada rendah pada tumor : ada parau karena tidak dapat didekatkan ditipiskan. Ada 2 teori untuk terjadinya getaran korda vocalis ini: a. Teori Myeolastic aerodynamic yang mengatakan korda vokalis yang mula mula menutup, dibuka oleh hembusan udara dari paru 57. Korda vokalis akan membuka menutup lagi berganti ganti, terjadilah peregangan dan pemampatan udara akhirnya terjadi gelombang suara. b. Teori neurochronacxi yang mengatakan bahwa suara di bentuk oleh korda vokalis yang bergetar, digetarkan oleh N Recurens. 8 Teori neurochronacxi ini sudah ditinggalkan. 3. Bagaimana korda vokalis ini bergetar. Kalau dilihat dari penampang frontal, korda vokalis tampak membuka bagian inferior dahulu (karena didorong udara dari paru) kemudian disusul bagian superior. Ketika menutup juga bagian inferior dulu disusul bagian superior 12 Jadi membuka menutupnya korda vokalis tidak seketika bagian superior dan inferior bersamaan (gambar 2). 2.3 Korda vokalis dapat ditipiskan dan diregangkan : nada tinggi atau di tebalkan

Gerakan membuka dan menutup ini dilakukan oleh mukosa jadi disebut mucosal wave itulah sebabnya benjolan 1 mm seperti pada nodule akan mengakibatkan parau karena gerakan mucosal wave terganggu. Benjolan kecil mengakibatkan udara bocor sehingga suaranya parau dan tidak mampu menyuarakan suara panjang (Wktu Fonasi Maximum : WFM yang terbatas). Walaupun kasar Waktu Fonasi Maximum ini dapat dipakai untuk mengukur adakah kemajuan setelah diberi terapi bicara (Speech therapy).

Gambar 2: Penampang frontal mucosal wave : membuka bagian inferior dahulu menutup juga bagian inferior dahulu, jadi tidak bersamaan. Dikutip dari Damste.
12

Dengan stroboscopy dapat dipelajari bagaimana getaran korda vokalis ini. Prisip stroboscopy 12 : Vibrasi korda vokalis bergetar secara periodik. Kalau korda vokalis ini disinari dengan fase yang sama dengan vibrasi, korda vokalis akan tampak diam karena kesan mata kita yang terlambat melihatnya (after images). Pada stroboscopy tampak bahwa korda membuka dari bagian anterior menuju ke posterior, kemudian menutup bersamaan dan membuka lagi dst. Jadi membukanya bukan sekaligus seluruh pernmukaan korda vokalis, tetapi dari bagian anterior dahulu. (Gambar 3) Anatomi yang penting lainnya : subglotik merupakan jaringna ikat kendor, pada anak kecil jaringan ini banyak sekali yang mudah udim (Gambar 4). Sehingga laryngitis akuta anak kecil bisa sesak, sedangkan pada dewasa tidak sesak. Kebengkakan in dapat dihilangkan dengan suntikan kortikoesteroid dosis tinggi (0.3 mg/kg BB), kalau perlu dapat diulang 3 kali, jarak 3 menit. Karenanya sejak 1977 di RSU Dr. Soetomo laryngitis akut anak hamper tak pernah dilakukan

trakeotomi lagi. Dilakukan trakeotomi kalau udimnya tidak dapat dihilangkan dengan kortikoesteroid, biasanya karena laryngitis difteri primer atau benda asing.

Gambar 3 : Foto gerakan mucodal wave pada stroboscopy membuka bagian anterior dahulu lalu seluruhnya terbuka. Menutup bersamaan jadi tidak membuka menutup bersamaan.

Gambar 4 : Pada laryngitis akut anak jaringan subglotik yang kendor akan udim dan menutup jalan napas. Dikutip dari Gerling.

Untuk bergerak kemedial perlu banyak otot (5 pasang : m thyroarytenoideus lateralis, m Crico arytenoideus lateralis, m Crico thyrodeus, m thyroarytenoideus internus dan m arytenoideus obliqus dan tranversus) 1 Bandingkan dengan otot untuk bergerak ke lateral (1 pasang : m crico arytenoideus posterior). Karena untuk bergerak medial perlu untuk menghasilkan suara yang bagus : nada tinggi rendah, penekanan: merah, lembut pada kesedihan: jadi lebih complicate. Sedangkan otot untuk menggerakkan ke lateral waktu bernapas merupakan gerakan sederhana, tak perlu banyak otot. Kemampuan menggerakkan ke medial ini bisa gagal kalau ada kelumpuhan otot (peralisis). Kelumpuhan aduktor ini bisa disebabkan karena trauma pada n laryngeus inferor seperti pada post strumektomi, trauma leher, n laryngeus inferior sinistra memang lebih panjang karena harus turun dan melewati aorta, yang kanan hanya melewati a. Subclavia (Gambar 5). Karenanya mudah terganggu misalnya oleh aneurysma, mediastinis, aorta knop, Scwartze paru 5 . Dengan operasi, korda vokalis yang lumpuh ini didesak ke medial agar bertemu dengan sisi lainnya, sehingga suara terbentuk lagi. Pendesakan ini dengan jaringan Gore tex. Lihat papar berikut.

Gambar 5 : Laryngeus inferior yang kiri meliwati aorta knop. Dikutip dari Bailey

Kalau ada kelumpuhan (paralysis) abduktor : tidak dapat ke lateral, jadi korda voklais di garis tengah, bisa mengakibatkan sesak inspirasi kalau bilateral. Kalau unilateral (50%) belum sesak. Pada tumor laring tertutup sampai 90% baru sesak, karena penderita bernapas (inspirasi) secara perlahan lahan, adaptasi dan karena tumor tumbuh perlahan lahan. Hal ini jelas merugikan penderita karena baru ada gejala sesak kalau tumor sudah hampir menutup yang tentu menyulitkan trakeotomi. Padahal ada gejala sangat dini : benjolan 1 mm sudah parau. Jadi suara parau yang menetap dan progresif perlu diperiksa siapa tahu gejala dini tumor laring. Jadi apa akibatnya kalau anatomi dan fisiologi abnormal? Korda vokalis tak mampu : 1. 2. 3. 4. digerakkan ke medial karena paresis abduktor : parau merapat di garis median : kalau ada benjolan Nodule : parau ditipiskan ditebalkan : radang : suara besar digerakkan ke lateral pada paresis abductor : kalau bilateral akan sesak : terjadi stridor inspirator. Demikianlah sedikit anatomi dan fisiologi laring, terutama hal korda vokalisnya, sebagai dasar untuk dapat mengerti penyakit penyakit yang menyebabkan suara parau dan terapinya. KEPUSTAKAAN 1. Wit de G : inleiding in de keel neus oorhelkunde 2de druk Utrecht Erven J Bijleved 1986: 131 135. 2. Gerling PG and Hammelberg E. Keel Neus en Oorhelkunde Haarlem, de Erven F Bohn 1971: 33-36. 3. Petcu LG, Sasaki CT. laryngeal Anatomy and Physiology. In : Ballenger JJ, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear Head, and Neck 14 th ed. Philadelpia : Lea & Febiger, 1991: 494. 4. Subotta Atlas of human anatomy, CD interactif 5. Jongkes LBW Keel neus en oorheelkunde 2de druk Agon Elsvier Amsterdam Brussel 1972: 35.

6. Kircher JA. Physiology of the Larynx. In Paparella MM, Shumrick DA, eds. Otolaryngology Vol 1-3 rd ed. Philadelpia : WB Saunders. Co, 1991:339. 7. Portman G Diseases of the Ear Nose and Troath the William & Wilkins Co 1951: 494-96. 8. Zemlin WR Speech and Hearing scince, anatomy and Physiology Englewood Cliffs New Jersey Printice Hall Inc 1968: 139-40. 9. Rontal E. Rontal M and Rolnick ML. objective evaluation of vocal pathology using voice sperthography Ann otol Rhinol Laryngol 1975; 84: 662-71. 10. Coates GM Schenk HP and Miller MV Otolaryngology WF prior Co 1956: 9-30 11. Moore GP Observation on Laryngeal diseases laryngeal behavior and voices. Ann otol Rhinol Laryngol 1976; 85: 553-64. 12. Damste PH. Disorders of the voice. In : Kerr AG, Groves J, Stell PM, eds. Scott Browns Otolatyngology. Vol : laryngology 5 th Ed. London : Butterwood 1987:128 13. Soedjak S. Measuring the maximum phonation time to evaluate a hoarse voice. OthoRhinolarynggica Indonesiana. Vol XXVII June 1995 : 457-463. 14. Berke GS. Voice disorders and phonosurgery. In : BaileyBJ, Pillsbury HL, eds. Head and Neck surgery otolaryngology Vol 1. Philadelpia : JB Lippiancott co, 1993:649.iancott co, 1993:649.

Editing By : Enong