Anda di halaman 1dari 3

Kuat Tekan Kuat tekan adalah salah satu tolak ukur penting sesuai yang diisyaratkan dalam SNI

(Standar Nasional Indonesia ,. ASTM (American Standar for Testing Material), dan BS (British standard). Kuat tekan merupakan salah satu tolak ukur untuk melihat kemampuan mortar atau beton yang terbuat dari semen yang diuji terhadap beban yang diterimanya. Kuat tekan semen dipengaruhi oleh proses hidrasi semen (Partana, Eka, dkk dalam Lea .1998) Selain itu kuat tekan juga dipengaruhi oleh komposisi mineral utama. C3S memberikan kontribusi yang besar pada perkembangan kuat tekan awal, sedangkan C2S memberikan kekuatan semen pada umur yang lebih lama. Perkembangan kekuatan yang dihasilkan oleh rekasi c3 berjalan cukup cepat dan akan berlangsung pada minggu pertama sesudah pencampuran. Semen dengan kandungan c3s yang tinggi dan disuport oleh c3a (yang bersifat sebagai katalisator) akan mencapai sebagian besar kekuatannya pada umur 28 hari. Selanjutnya pengembangan atau pengikatan kekuatan adalah merupakan hasil reaksi hidrasi c2s. Reaksi ini berjalan lambat dan akan berlangsung terus dalam beberapa minggu atau bulan. Semen dengan kandungan c2s yang tinggi akan terus berkembang sampai umur 180 hari. Dan selanjutnya pada umur berikutnya pengaruh ini semakin kecil. Selain hal tersebut diatas kehalusan juga memberi kontribusi terhadap perkembangan kuat tekan, juga jumlah so3 yang optimal akan menaikkan kuat tekan. Pengujian kaut tekan bertujuan untuk mengontrol dan mengetahui kemampuan menerima beban tekan dari kubus mortar atau beton. Dalam hal ini pengujian menggunakan kubus 50x50x50 mm yang dibuat dengan perbandingan semen, pasir, dan air 1 :2,74:0,475 atau sejumlah air sehingga menghasilkan flow/sebaran diatas meja air sebesar 110 5 Factor-faktor yang mempengaruhi kuat tekan : 1. Kualitas semen Meliputi kehalusan dan komposisi semen. Makin halus partikel-partikel semen akan menghasilkan kuat tekan makin tinggi. Selain itu juga dipengaruhi oleh SO3 dan hilang pijar 2. Kualitas selain semen Meliputi kualitas agregat, kekuatan tekan agregat dan pasta, kekerasan permukaan, konsentrasi, ukuran agregat, cater cement ratio, volume udara, cara pengerjaan seperti pengadukkan, compacting, juga pengeringan dan umur mortar. Kapur bebas /Free Lime ( F.CaO) Kapur bebas adalah kapur yang terhidrasi menghasilkan Ca(OH)2 yang membuat volume kapur bebas lebih besar, sehinggai menyebabkan pengembangan volume pada saat pengikatan (settling time) pada akhirnya akan menyebabkan keretakkan dan kerusakan pada semen dan mortar yang sudah mengeras.

Selain itu kehadiran Ca(OH)2 juga dapat menimbulkan pelemahan daya lekat pada unsure-unsur pengisi mortar dimana maksimal 2 % freelime yang tterkandung didalam semen, sebab sekain tinggi kadar freelime maka kualitas semen akan semakin berkurang sehingga akan menyebabkan semen itu semakin mudah mengalami keretakan. Dilihat bahwa adanya kapur bebas ini disebabkan oleh 2 hal ; a. Jumlah kapur yang digunakan berlebihan dengan keperluan untuk bereaksi dengan SiO2, Al2O3, Fe2O3. b. Reaksi yang berlangsung dialam tanur kurang sempurna.walaupu CaO sesuai kebutuhan, tetapi tidak bisa bersenyawa dengan oksida-oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3. Seperti yang telah diketahui, proses pembakaran didalam tanur putar berlangsung pada suhu yang tinggi dari suhu disosiasi CaCO3 (896 C) lalu Cao hasil disosiasi dibakar keras (hard-burn). Disamping itu Cao mengkristal dan tercampur bersama Kristal-kristal materi lainnya (intercristallised). Kedua kejadian menyebabkan Cao yang dihasilkan lambat bereaksi dengan air. Pada waktu semen digunakan, selain panas hidrasi senyawa-senyawa mineral potensial juga terjadi hidrasi CaO bebas. CaO + H2O Ca(OH)2 Reaksi hidrasi berlangsung lambat sekali, baru selesai pada waktu pengikatan semen sudah terlampaui. Padahal Ca(OH)2 mempunyai volume lebih besar dari CaO. Pertambahan volume ini (ekspansi) terjadi pada saat semen sudah tidak plastis lagi. Akibatnya timbul keretakan yang dapat merendahkan mutu semen. (Taufik, Dede. 2011) Hilang Pijar /Loss on Ignation (LOI) Hilang pada pemijaran adalah tes yang digunakan dalam analisis kimia anorganik khususnya dalam analisis mineraldenga jalan memijarkan contoh pada suhu tertentu, sehingga zat mudah terbang akan terlepas sampai pada posisi konstan. pengujian sederhana biasanya dilakukan dengan menempatkan beberapa gram bahan dalam wadah yang telah diketahui bobotnyakemudian dimasukkan kedalam tungku yang suhunya dapat dikontrol dan ditempatkan selama waktu tertentu. Kemudian setelah itu didinginkan dan ditimbang kembali, proses pemanasan dapat diulang untuk memastikan bahwa sudah tidak terjadi perubahan berat. Variasi dari pengujian ini adalah perubahan yang diakibatkan oleh suhu, hal ini disebut Thermogravity (Rudianto. 2010). Hilang pijar dilaporkan sebagai hilangnya bagian dari suatu material atau oksida dari suatu mineral. Zat muudah terbang pada hilang pijar adalah air terikat dan karbon dioksida dari karbonat, dan ini dapat digunakan sebagai pengujian kualitas. Hilang pijar pada semen terutama terutama disebabkan oleh terjadinya penguapan air Kristal yang berasal dari gypsum serta penguapan CO2. Pada semen yang baru

diproduksi, nilai hliang pijar berkisar antara 0,5 % - 0,8 % sesuai dengan jumlah Kristal yang terdapat dalam gypsum (Supatmo, Lilo. 2011). Kehalusan (Blaine) Kehalusan semen merupakan salah satu syarat mutu fisika semen karena akan menentukan luas permukaan partikel-partikel semen pada saat hidrasi. Semakin halus semen maka kekuatan, panas hidrasi, dan kebutuhan air per satuan berat semen akan semakin tinggi, serta reaksi hidrasi akan semakin cepat. Disamping itu, haltersebut dapat menyebabkan semakin singkatnya settling time serta mudah terjadinya shrinkage sehingga menimbulkan keretakan pada konstruksi beton. Semen yang mempunyai kehalusan terlalu tinggi akan mudah menyerap air dan CO2 dari udara. Jika semen terlalu kasar, maka kekuatan, plastisitas dan kestabilannya akan berkurang. Oleh karena tu untuk menjaga agar semen dapat diapaki dengan baik, kehalusannya harus dijaga ( Supatmo, Lilo. 2011). Pengujian kehalusan ini menggunakan alat blaine. Alat ini dihgunakan untuk mengukur ukuran partikel berdasarkan sifat porositas sampel semen. Porositas adalah perbandingan volume rongga didalam semen. Cara kerja alat ini berdasarkan ketinggian cairan dibutil platat dalam kedua kedua kolom adalah sama. Cairan dikolom sebelah kanan dibuat lebih tinggi dari sebelahnya lalu dihitung berapa detik waktu yang diperlukan untuk mencapai tingkat yang sama.