Anda di halaman 1dari 2

Masalah gigi mulut dan penatalaksanaan pada anak penderita sindroma down Eko Sri Yuni Astuti, Putu

Yetty Nugraha dan Lidya Yasi Pilimon


Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar PENDAHULUAN Sindroma down pertama kali dikenalkan oleh Dr. John Langdon Down tahun 1866. Oleh para ahli dari Amerika dan Eropa pada tahun 1970, nama mongoloid direvisi menjadi downs syndrome sesuai dengan nama penemu pertama kali. SINDROMA DOWN Sindroma down adalah suatu kelainan pada perkembangan mental dan fisik seseorang pada saat dilahirkan akibat adanya abnormalitas perkembangan kromosom 21. Sindroma down dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu: a. trisomi 21, terjadi karena adanya ekstra kromosom pada rantai nomor 21 b. sindroma down tipe translokasi, terjadi pembelahan sel dengan tidak tepat sementara sel lainnya tetap bereproduksi secara normal. c. sindroma down tipe mosaik. Secara umum penderita sindroma down memiliki kekhasan fisik, seperti : - bentuk kepala relatif kecil dengan bagian belakang agak mendatar (brachycephaly) - bentuk wajah bulat (rounded face), - hidung datar dan kecil (flattened nasal bridge), - hipotonia (otot yang lemah) yang menyebabkan pertumbuhan terganggu Kelainan kromosom pada penderita sindroma down dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik anak, yaitu : hipotonia, penyakit jantung bawaan, infeksi telinga bagian tengah atau dalam, infeksi saluran pernafasan kronis dan keterbelakangan mental. MASALAH GIGI DAN MULUT PADA ANAK PENDERITA SINDROMA DOWN 1). Kelainan Gigi Kelainan gigi berukuran mikrodonsia, bentuk mahkota gigi seperti konus, anodonsia sebagian dan gigi supernumerary. Penatalaksanaan : menggunakan space maintener, sedangkan pada gigi permanen dilakukan perawatan prostodontik yang bertujuan menggantikan gigi yang hilang. 2). Keterlambatan Erupsi Gigi Penatalaksanaan : tidak melakukan tindakan apapun yang bersifat klinis hingga proses pertumbuhan gigi terjadi secara normal. 3). Penderita sindroma down memiliki karies gigi yang lebih sedikit dibandingkan dengan anak anak dan orang dewasa yang normal, hal ini disebabkan keterlambatan erupsi gigi sulung dan gigi permanen, tidak adanya benih gigi permanen dan ukuran gigi kecil sehingga jarak diantara gigi gigi lebar menyebabkan plak mudah dibersihkan. 4). Bernafas Melalui Mulut Penatalaksanaan : perawatan ortodontik yang bertujuan mengembalikan fungsi oklusi gigi 5). Kasus gigitan terbuka anterior pada penderita sindroma down, mengakibatkan kelainan fonologik yaitu mengakibatkan terjadinya gangguan mastikasi dan kesulitan

dalam mengucapkan huruf vokal. 6). Penyakit Periodontal Penatalaksanaan : pemeriksaan rongga mulut secara berkala, skeling dan root planing, penggunaan obat kumur klorheksidin serta terapi antibiotik sistemik. PEMBAHASAN Sindroma down merupakan suatu kelainan pada perkembangan mental dan fisik seseorang pada saat dilahirkan karena adanya abnormalitas perkembangan kromosom 21 yang dipengaruhi oleh adanya kegagalan pembelahan sel, kondisi ini akan menghasilkan tambahan kromosom pada rantai 21 sehingga berjumlah tiga, yang seharusnya masing masing rantai hanya terdapat dua kromosom sehingga jumlah total 46, namun pada penderita sindroma down kromosomnya menjadi 47. Kelainan perkembangan kromosom pada penderita sindroma down dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik anak, yaitu : 1). Hipotonia, berdampak pada perkembangan motorik (anak menjadi sulit bergerak) dan terjadi kelainan wicara, kesulitan mengunyah, menelan, mulut terbuka serta lidah sering terjulur keluar. 2). abnormalitas perkembangan struktur jantung 3). Gangguan pendengaran pada penderita sindroma down disebabkan oleh ukuran telinga yang lebih kecil dan lebih rendah dibandingkan dengan anak anak normal 4). menurunkan pertahanan tubuh dan respon hospes terhadap infeksi SIMPULAN Penderita sindroma down memiliki kelainan perkembangan kromosom 21 yang berdampak pada perkembangan dentokraniofasial sehingga menimbulkan masalah gigi dan mulut seperti : kelainan gigi dalam hal bentuk, ukuran dan jumlah, keterlambatan erupsi, karies gigi, penyakut periodontal serta maloklusi. Berbagai perawatan dilakukan untuk mengatasi masalah gigi dan mulut, seperti perawatan konservasi gigi, prostodonsi, periodonsi, bedah mulut serta ortodonsi. Perawatanperawatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan penderita sindroma down serta kerjasama antara orang tua dan dokter gigi agar perawatan dapat berhasil dengan baik.