Anda di halaman 1dari 22

Tilik Kesehatan Melalui Urin Health News Tue, 24 Jun 2008 10:00:00 WIB Air seni alias air

kencing atau urin adalah cairan sisa yang dilepaskan oleh ginjal, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui proses urinasi (berkemih). Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring ginjal dan untuk menjaga kestabilan cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Komposisi urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial (jaringan penyokong). Tahu kondisi organ Materi yang terkandung di dalam urin bisa diketahui melalui urinalisis atau pemeriksaan urin. "Lewat urinalisis kita dapat mengetahui fakta tentang ginjal dan saluran urin. Selain itu, juga dapat diketahui mengenai faal berbagai organ tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, cortex adrenal, dan lain sebagainya," ungkap Dr. Yulia Anggraini dari Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan. Namun, ditambahkannya, memilih contoh (sampel) urin harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Ketika melakukan urinalisis memakai urin kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urin itu tidak banyak berbeda dari susunan urin 24 jam berikutnya. Namun, bila mengadakan pemeriksaan dengan sampel-sampel urin pada saat yang tidak menentu, seperti di waktu siang atau malam, dapat dilihat perbedaan yang jauh dari sampelsampel itu. Pemeriksaan urin lengkap di laboratorium akan melihat warna urin, kepekatannya, pH, berat jenis, sel darah putih, sel darah merah, sedimen, sel epitelial, bakteri, kristal, glukosa, protein, keton, bilirubin, darah samar, nitrit, dan urobilinogen. Infeksi saluran kemih Diabetes, seperti diungkapkan Dr. Lenni Damayanti dari bagian Medical Check Up RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi lewat sampel-sampel urin. Urin seorang penderita diabetes (diabetesi) mengandung gula, yang tidak bakal ditemukan dalam urin orang yang sehat. Tes urin bisa juga dipakai untuk melihat apakah seseorang mengalami gangguan hati atau tidak. Bisa dilihat dari bilirubin dan urobilinogennya negatif atau tidak. Lewat pemeriksaan urin pula, dapat diketahui apakah seseorang mengalami infeksi saluran kemih.

Seperti dilakukan Widyawati (45). Ia memeriksakan urin anaknya, Cahaya (10), di sebuah laboratorium di Jakarta Selatan. Kata Widyawati, anaknya mengalami panas tinggi dan mengeluh sakit saat buang air kecil. Tiga minggu lalu Cahaya keluar dari rumah sakit karena menderita demam berdarah dan gejala tifus. "Waktu di rumah sakit, air seninya berwarna keruh seperti susu cair dalam kaleng. Sekarang, saya amati, buang air kecilnya keruh dan ada butiran-butiran putih kecil," ujar ibu dua anak ini. Atas usul adiknya yang kebetulan seorang dokter, Widya mengambil sampel urin putrinya dan membawanya ke laboratorium. Hasilnya, dalam urin tersebut ada kandungan protein (albumin) dan sejumlah bakteri. Selanjutnya, sambil membawa hasil pemeriksaan, Widya membawa Cahaya ke dokter spesialis anak. Diagnosis dokter, Cahaya mengalami infeksi saluran kemih. Dokter pun memberinya antibiotik dan obat penurun panas. "Kira-kira empat hari kemudian, Cahaya tidak lagi mengeluh sakit ketika pipis. Warna urinnya pun kembali normal. Untuk memastikannya, saya kembali mengambil sampel air seni Cahaya untuk dibawa ke laboratorium. Tak lagi ada kandungan protein dalam air seninya," katanya lagi. Tanda dehidrasi Urin juga menjadi penunjuk dehidrasi (tubuh kekurangan cairan). Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin bening seperti air. Sebaliknya, orang yang mengalami dehidrasi, urinnya berwarna kuning pekat atau cokelat karena tubuh kehilangan garam dan mineral dalam jumlah yang banyak. Untuk mengembalikan urin Anda ke warna semula, cobalah minum larutan garam elektrolit, misalnya oralit. Bila oralit tak tersedia, cobalah larutan gula-garam. Cara membuatnya mudah saja, yakni larutkan satu sendok teh gula dan sejumput garam ke dalam 200 cc air matang. Bila dehidrasi tak membaik, perlu pemberian cairan infus. Nah, berwarna apakah urin Anda? Pengambilan Sampel Air Seni Menurut Wachyuni dari bagian Mikrobiologi RSVP Fatmawati, Jakarta Selatan, aria beberapa cara pengambilan sampel urin, yakni: 1. Urin sewaktu Untuk berbagai pemeriksaan digunakan urin sewaktu, yakni urin dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan secara khusus. Pemeriksaan ini baik untuk pemeriksaan rutin tanpa keluhan khusus.

2. Urin pagi Maksudnya, urin yang pertama-tama dikeluarkan di pagi hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat daripada urin yang dikeluarkan di siang hari. Pemeriksaan urin pagi baik untuk sedimen, berat jenis, protein, juga tes kehamilan. Sebaliknya, urin pagi tidak baik untuk pemeriksaan penyaring karena adanya glukosuria. 3. Urin postprandial Maksudnya, urin yang pertama kali dikeluarkan 1,5 - 3 jam sehabis makan. Sampel ini berguna untuk pemeriksaan glukosuria. 4. Urin 24 jam Sampel ini digunakan untuk mengetahui keandalan angka analisis. Untuk mengumpulkan urin 24 jam diperlukan botol besar, bervolume 1,5 liter atau lebih yang ditutup dengan baik. Botol harus bersih dan memerlukan zat pengawet. Cara mengumpulkan urin ini dikenal juga sebagai timed specimen, yakni urin siang 12 jam, dan urin malam 12 jam. Urin siang 12 jam dikumpulkan dari pukul 07.00 sampai 19.00. Sementara urin malam 12 jam, dikumpulkan dari pukul 19.00 sampai pukul 7.00 keesokan harinya. Adakalanya urin 24 jam ditampung terpisah-pisah dalam beberapa botol dengan maksud tertentu. Contohnya, pada penderita diabetes melitus untuk melihat banyaknya glukosa dari santapan satu hingga santapan berikutnya. 5. Urin 3 gelas dan 2 gelas pada laki-laki Urin jenis ini digunakan untuk pemeriksaan urologis. Selain itu, juga untuk mendapatkan gambaran tentang letak radang atau lesi lain, yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam air kencing pria. Tes HIV Lewat Urin Tes urin menjadi cara sederhana dan efektif untuk mengidentifikasi infeksi HIV, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Demikian yang dilaporkan para peneliti dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes, beberapa waktu lalu. "Kami yakin, tes urin berguna untuk mengidentifikasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak mau dites darah," kata Dr. Joseph B. Margolick dari The Johns Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters Health. Margolick dan koleganya memberikan hipotesis bahwa metode skrining yang nyaman dan tidak melukai dapat mendeteksi ODHA yang tidak mau mengikuti prosedur tes darah. Metode tersebut diterapkan di daerah yang berisiko tinggi.

Untuk menyelidiki manfaat tes urin, selama periode waktu tiga tahun, peneliti melakukan skrining terhadap lebih dari 1.700 orang. Penelitian dilakukan 1 sampai 2 sesi di gereja, dapur restoran, balai pertemuan masyarakat, serta tempat berlangsungnya tes. Secara keseluruhan diketahui 210 orang (12 persen) positif HIV. Di antara mereka yang diketahui positif ini 169 orang (80 persen) sebelumnya pernah mengikuti tes, tetapi hasilnya negatif. Secara keseluruhan 87 persen dari mereka yang hasil tesnya positif mau kembali untuk mengambil hasilnya. Kebanyakan dari mereka mau dirujuk ke pelayanan kesehatan. Para peneliti menekankan, orang yang dites di pusat pelayanan kesehatan masyarakat cenderung kembali untuk mengambil hasil tesnya. Menurut Margolick, pendekatan tersebut dapat meningkatkan pengawasan di daerah yang termasuk tinggi infeksi HIV. Diharapkan mereka bisa membantu orang untuk mendapatkan akses pengobatan HIV, sehingga akan meningkatkan kesehatan penderitanya secara bermakna. Membaca Arti Warna Urin Dijelaskan Dr. Lenni Damayanti, umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya diuresis (peningkatan pembentukan kencing). Makin besar diuresis, makin muda warna urin. Warna normal urin berkisar antara kuning muda hingga kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa zat, terutama urochrom dan urobilin. jika contoh urin bukan dalam gradasi kuning, bisa disebut abnormal, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut. Meski demikian, warna abnormal juga belum tentu karena penyakit berat. Bisa saja disebabkan hasil metabolisme abnormal yang berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan. Apa yang berkaitan dengan warna urin? 1. Kuning Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin, urochrom. Zat warna abnormal: bilirubin. Pengaruh obat-obat: santonin, riboflavin, atau pengaruh permen. Indikasi penyakit: tidak ada (normal). 2. Hijau Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan (indoxilsulfat). Pengaruh obat-obat: methyleneblue, evan's blue. Indikasi penyakit: obstruksi (penyumbatan usus kecil). 3. Merah Zat warna normal dalam jumlah besar: uroerythrin. Zat warna abnormal: hemoglobin, porfirin, porfobilin.

Pengaruh obat-obat: santonin, amidopyrin, congored, atau juga zat warna makanan. Indikasi penyakit: glomerulonevitis nefitit akut (penyakit ginjal), kanker kandung kencing. 4. Cokelat Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin. Zat warna abnormal: bilirubin, hematin, porfobilin. Indikasi penyakit: hepatitis. 5. Cokelat tua atau hitam Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan. Zat warna abnormal: darah tua, alkapton, melamin. Pengaruh obat-obat: derivat fenol, argyrol. Indikasi penyakit: sindroma nefrotika (penyakit ginjal). 6. Serupa susu Zat warna normal dalam jumlah besar: fosfat, urat. Zat warna abnormal: pus, getah prostat, chylus, zat-zat lemak, bakteri-bakteri, protein yang membeku. Indikasi penyakit: infeksi saluran kencing, kebocoran kelenjar limfa. Sumber: Senior

BAB II TINJAUAN TEORITIS PEMERIKSAAN KIMIA DARAH/SERUM UNTUK PENYAKIT JANTUNG NILAI NORMAL PEMERIKSAAN ENZIM JANTUNG No. Jenis Pemeriksaan Satuan Bayi Anak Dewasa Pria Wanita 1 CPK/CK Ug/ml 5-35 5-25 IU/L 5-580 0-70 30-180 25-150 2 CKMB U/L 10-13 3 LDH U/L 80-240 4 SGOT/AST U/L s/d 37 s/d 31 5 SGPT/ALT U/L s/d 42 s/d 32 1. CK/CPK (creatin posfo Kinase) Enzim berkonsentrasi tinggi dalam jantung dan otot rangka, konsentrasi rendah pada jaringan otak, berupa senyawa nitrogen yang terfosforisasi dan menjadi katalisastor dalam transfer posfat ke ADP (energy) Kadarnya meningkat dalam serum 6 jam setelah infark dan mencapai puncak dalam 16-24 jam, kembali

normal setelah 72 jam. Peningkatan CPK merupakan indicator penting adanya kerusakan miokardium. Nilai normal : Dewasa pria : 5-35 Ug/ml atau 30-180 IU/L Wanita : 5-25 Ug/ml atau 25-150 IU/L Anak laki-laki : 0-70 IU/L Anak wanita : 0-50 IU/L Bayi baru lahir : 65-580 IU/ No. Peningkatan CPK Penyebab 1. Peningkatan 5 kali atau lebih atau lebih dari nilai normal Infark jantung Polimiositis Distropia muskularis duchene 2. Peningkatan ringan/sedang (2-4 kali nilai normal) Kerja berat Trauma Tindakan bedah Injeksi I.M Miopati alkoholika Infark miokard/iskemik berat Infark paru/edema paru 3. Dengan hipitiroidisme Psikosis akut Sumber. FK.Widmann, 1994 2. CKMB (Creatinkinase label M dan B) Jenis enzim yang terdapat banyak pada jaringan terutama otot, miokardium, dan otak. Terdapat 3 jenis isoenzim kreatinase dan diberu label M (muskulus) dan B (Brain), yaitu : Isoenzim BB : banyak terdapat di otak Isoenzim MM : banyak terdapat pada otot skeletal Isoenzim MB : banyak terdapat pada miokardium bersama MM Otot bergaris berisi 90% MM dan 10% MB Otot jantung berisi 60% MM dan 40% MB Peningkatan kadar enzim dalam serum menjadi indicator terpercaya adanya kerusakan jaringan pada jantung. Nilai normal kurang dari 10 U/L Nilai > 10-13 U/L atau > 5% total CK menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi enzim. Klinis: Peningkatan kadar CPK dapat terjadi pada penderita AMI, penyakit otot rangka, cedera cerebrovaskuler. Peningkatan iso enzim CPK-MM, terdapat pada penderita distrofi otot, trauma hebat, paska operasi, latihan berlebihan, injeksi I.M, hipokalemia dan hipotiroidisme. Peningkatan CPK-MB : pada AMI, angina pectoris, operasi jantung, iskemik jantung, miokarditis, hipokalemia, dan defibrilasi jantun. Peningkatan CPK-BB : terdapat pada cedera cerebrovaskuler, pendarahan sub arachnoid, kanker otak, cedera otak akut,syndrome reye, embolisme pulmonal dan kejang. Obat-obat yang meningkatkan nilai CPK : deksametason, furosemid, aspirin dosis tinggi, ampicillin, karbenicillin dan klofibrat. 3. LDH (laktat dehidrogenase) Merupakan enzim yang melepas hydrogen dari suatu zat dan menjadi katalisator proses konversi laktat menjadi piruvat. Tersebar luas pada jaringan terutama ginjal, rangka, hati dan miokardium. Peningkatan

LDH menandakan adanya kerusakan jaringan. LDH akan meningkat sampai puncak 24-48 jam setelah infark dan tetap abnormal 1-3 minggu kemudian. Nilai normal : 80-240 U/L Kondisi yang meningkatkan LDH No. Peningkatan LDH Kondisi atau penyebab 1 Peningkatan 5X nilai normal atau lebih Anemia megaloblastik Karsinoma metastasis Shok dan hypoxia Hepatitis Infark ginjal 2 Peningkatan sedang (3-5 X normal) Miokard infark Infark paru Kondisi hemolitik Leukemia Infeksi mononukleus Delirium remens Distropia otot 3 Peningkatan ringan (2-3Xnormal) Penyakit hati Nefrotik sindrom Hipotiroidisme Kolagitis Sumber. FK.Widmann,1994 4. Troponin Merupakan kompleks protein otot globuler dari pita I yang menghambat kontraksi dengan memblokade interaksi aktin dan myosin. Apabila bersenyawa dengan Ca++ , akan mengubah posisi molekul tropomiosin sehingga terjadi interaksi aktin-miosin. Protein regulator ini terletak didalam apparatus kontraktil miosit dan mengandung 3 sub unit dengan tanda C, I, T. Peningkatan troponin menjadi pertanda positif adanya cedera sel miokardium dan potensi terjadinya angina. Nilai normal < 0,16 Ug/L 5. SGOT (Serum glutamik oksaloasetik transaminase) Adalah enzim transaminase sering juga disebut juga AST (aspartat amino transferase) katalisatorkatalisator perubahan asam amino menjadi asam alfa ketoglutarat. Enzim ini berada pada serum dan jaringan terutama hati dan jantung. Pelepasan enzim yang tinggi kedalam serum menunjukan adanya kerusakan terutama pada jaringan jantung dan hati. Pada penderita infark jantung, SGOT akan meningkat setelah 12 jam dan mencapai puncak setelah 24-36 jam kemudian, dan akan kembali normal pada hari ke-3 sampai hari ke-5. Nilai normal : Laki-laki s/d 37 U/L Wanita s/d 31 U/L Kondisi yang menyebabkan peningkatan SGOT No. Peningkatan SGOT Kondisi/penyebab 1 Peningkatan ringan (< 3X normal) 2 Peningkatan sedang (3-5X normal) 3 Peningkatan tinggi (>5X normal)

Sumber:Fk.Wimann,1994 6. SGPT (serum glutamik pyruvik transaminase): Merupakan enzim transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam jaringan tubuh terutama hati. Sering disebut juga ALT (alanin aminotransferase). Peningkatan dalam serum darah mengindikasikan adanya trauma atau kerusakan pada hati. Nilai normal : Laki-laki : s/d 42 U/L Wanita : s/d 32 U/L a. Peningkatan SGOT/SGPT : > 20X normal : hepatitis virus, hepatitis toksis. b. Penigkatan 3-10x normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronik aktif, obstruksi empedu ekstra hepatic, sindrom reye, dan infark miokard (AST>ALT). c. Peningkatan 1-3X nilai normal : pancreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, dan sirosis biliar.

7. HBDH (alfa hydroxygutiric dehidrogenase) Merupakan enzim non sfesifik. Untuk diagnostic miokard infark. Pemeriksaaan ini bertujuan untuk membedakan LDH 1,2 dan LDH 3,4. Penigkatan HBDH biasanya juga menandai adanya miokard infark dan juga diikuti peningkatan LDH.

ANALISA PEMERIKSAAN URINE 1. Pemeriksaan Berdasarkan Warna Urine No Warna urine Penyebab patologis Penyebab non patologis 1 Merah Ada hemonglobin, mioglobin dan porfirin ( berarti ada perdarahan saluran kencing ) - Oleh karena obat tertentu - Karena zat warna dari makanan tertentu, misal biet, senna, robarber 2 Jingga Zat warna empedu - Karena obat-obat: antiseptic saluran kencing, pyridium, dan obat fenothiazin 3 Kuning - Urine pekat - Keberadaan urobilin dan bilirubin - Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif 4 Hijau - Keberadaan biliverdin - Keradaan bakteri pseudomonas - Obat preparat vitamin dan obat psikoaktif 5 Biru Tak patologis Deuretika tertentu 6 Coklat - Keberadaanhematin asam, mioglobin dan zat warna empedu - Obat-obat nitrofurantioin, levodova 7 Hitam/ hampir hitam Keberadaab melanin, kaskara, senyawa besi dan fenol - Obat levodova, kaskara, senyawa besi dan fenol 2. Analisa berdasarkan keberadaan gula dalam urine No Gula dalam urine Penafsiran 1 Urine+bersama hiperglikemi - Penyakit DM - Penyakit endokrien, hipertiroidisme, dan feokromositosis - Pankreatits, Ca pancreas - Dispusi SSF: asfiksia, perdarahan/ tumor hipotalamus

- Gangguan metabolismeberat: luka bakar berat, uremia, penyakit hati berat, sepsis - Obat kortikosteroid dan thiazid 2 Urine+, tanpa hiperklikimia Disfungsi tubulus ginjal, kehamilan, gu;la non glucose 3. Penafsiran keberadaan protein dalam urine No Keberadaan protein dalam urine Tafsiran gangguan organ/ penyakit 1 Proteinurea ringan

<0,5 gr / hari - Orang sehat setelah kerja jasmani berat - Kondisi demam, stress emosi, hipertensi - Disfungsi tubulus ginjal - Ginjal polikistik - Infeksi saluran urine distal - Hemoglobinuria karena hemolisis berat 2 Protein urea sedang 0,5- 3 gr/ hari - Glumerulonefritis kronis - Gagal jantung kongesti - Nefropatie DM - Pielonefritis - Myeloma multiple - Preeklamsia 3 Proteinuria berat <3 gr / hari - Glumerulonefritis akut - Glumerulonefritis kronis berat - Nefrosis lipoid - Nefropatie DM berat - Nefritis pada lupus - Penyakit amiloid 4. Penafsiran keberadaan hemoglobin dalam urine No Keadaan hemoglobinuria Tafsiran gangguan organ/ penyakit 1 Eritrosit utuh dalam sediment tanpa silinder - Cemaran darah mentruasi - Akibat aktifitas jasmani berat - Trauma pada saluran kencing - Sistitis - Kencing batu - Tumor ginjal - Hipertensi berat - Penggunaan obat anti koagulan - Penyakit sel sabit 2 Eritrosit utuh diikuti adanya selinder eritrosit, selinder bergranula dan proteinuria - GNC - Nefritis - Poliarthritis - Nefropatie alergi 3 Dalam sedimen tak ada eritrosit utuh - Lisis eritrosit dalam sirkulasi

- Hemolisis tranfusi/ tranfusi darah hemolisis

5. Tafsiran keberadaan silinder dalam urine No Jenis slinder Penafsran 1 Hialin 1. Gerak badan berat pada orang normal 2. Gagl jantung kongesti 3. Nepropatie DM 4. Glumerulo nefritis kronis 2 Eritrosit 1. Glumerulonefritis akut 2. Endokarditis bacterial 3. Nefritis lupus 4. Infark ginjal 3 Lekosit 1. Pyelonefritis akut 2. Nefritis 4 Epithel 1. Nekrosis tubuler 2. Infeksi cytomelogavirus 3. Keracnan logam berat atau ssalisilat 5 Granuler (butir kasar/halus) 1. Sindrom nefrotik 2. Pyelonefritis 3. Glumerulonefritis 4. Keracunan tinbal 6 Lilin 1. Atropi tubulus ginjal berat 6. Penafsiran terhadap kadar bilirubin serum, bilirubin urine dan urobilin urine No Bilirubin serum Bilirubin urine Orobilin urine Tapsiran 1 Indirek meningkat Direk normal ( n ) Negative ( - ) Meningkat Hemolisis 2 Indirek normal Direk ( n ) meningkat Negative ( - ) Meningkat Kerusakan sel hati awal 3 Indirek meningkat Direk meningkat Meningkat Meningkat Kerusakan sel hati berat 4 Indirek ( n ) Direk meningkat Meningkat Negative ( - ) Obstruksi salauran empedu ekstra atau infra empatik 7. Pemeriksaan Bence Jones Adalah pemeriksaan urine untuk mendeteksi keberadaan protein patologis dengan cara mencampur urine dengan asam asetat dan dipanaskan. Dinyatakan positif apabila terjadi kekeruhan pada saat urine dingin. Biasanya dilakukan pada penderita Myeloma Multiple. Reaksi bence jones (+) dapatjuga terjadi pada tumor tulang dan leukemia. 8. Pemeriksaan 5 Hidroxyindolo Acetic Acid ( 5-HIAA) 5 HIAA adalah zat yang banyak ditemukan pada penderita dengan sindrom carcinoid,dimana penghasilan serotonin berlebihan. 5 HIAA adalah derifat indol hasil metabolisme serotonin berlebihan. Tes dilakukan dengan menggunakan reagen Ehrlich, dan dinyatakan neormal apabila didalam tes terjadi warna biru yang jelas.

9. Pemeriksaan Benzidin Pemeriksaan pada urinene maupun feases yang bertujuan mendeteksi keberadaan hemoglobin dan deerifatnya pada urine atau feases. Tes dilakukan dengan mencampur bahan pemeriksaan dengan larutan benzidin, dan dinyatakan hasil: a. Negative (-) apabila tidak ada perubahan warna ( tetap samar-samar kehijauan) b. Positif 1 (+) warna hijau c. Positif 2 (++) biru hijau d. Positif 3 (+++) biru e. Positif 4 (++++) biru tua Biasanya tes dilakukan pada penderita yang dicurigai adanya perdrahan pada saluran kencing maupun pencernaan 10. Pemeriksaan Sulkowitch Pemeriksaan untuk mengetahui kadar kalsium dalam urine yang dikeluarkan oleh ginjal, dengan menggunakan reagen sulkowitch ( asam oxalate, aluminiium oxalate, asam asetat glacial, dan aquadest ). Bahan urine yang digunakan adalah urine 24 jam yang sebelumnya pasien di puaskan dari makanan / minuman yang mengandung kalsium. Interpretasi hasil : Negative (-) : tidak terjadi kekeruhan Positif 1(+) : adakekeruhan halus Positif 2 (++) : ada kekeruhan sedang Positif 3 (+++) : kekeruhan agak berat dalam waktu < 20 detik Positif 4 (++++) : terjadi kekeruhan berat dan seketika Nilai normal sampai dengan posiif 1 (+) Positif 3 (+++) sampai positif 4 (++++)berarti kaadar kalsium dalam urine tinggi dan merupakan akibat dari hiperkalsemia 11. Galli Mainini Test Adalah test dengan cara menyuntikan urine wanita yang diduga hamil kedalam tubuh katak jantan. Apabila dalam urine katak jantan terdapat spermatozoa hasil sekresi maka tes dinyatakan (+) atau ada kehamilan 12. Esbach Adalah pemeriksaan kuantitatif albumin dalam urine dengan cara mencampurkan larutan asam pikrat 1% dalam air dan larutan asam sitrat 2% dalam air dengan urine. Hasil positif dilihat dengan adanya kekeruhan dan tinggkat kekeruhan sesuai dengan kuantitatif protein. 13. Pemeriksaan Reduksi Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya glukosa dalam urine dengan menggunakan reagen (missal : benedict, fehling, nylander) Dinyatakan negative (-) apabilka tidak ada perubahan warna, tetap biru sedikit kehijauan (tidak ada glukosa) Positif 1 (+) : warna hijau kekuningan dan keruh (terdapat 0,5-1% glukosa) Positif 2 (++) : warna kuning keruh (terdapat 1-1,5% glukosa) Posistif 3 (+++) : warna jinga, seperti lumpur keruh (2-3,5% glukosa) Positif 4 (++++) : merah keruh (> 3,5% glukosa) Normal : urine reduksi negative

Reduksi + dalam urine memnunjukan adanya hiperglikemia di atas 170 mg%, karena nilai ambang batas ginjal untuk absorbs glukosa adalah 170 mg%. reduksi + disertai hiperglikemia menandakan adanya penyakit diabetes mellitus. 14. Glukosa Kuantitatif Urine Pemeriksaan untuk mengukur jumlah glukosa dalam gram/24 jam dengan menggunakan reagen benedict kuantitatif.

15. Keton Pemeriksaan untuk menemukan keberadaan zat keton dalam urine meliputi aseton, asam asetoasetat, asam beta hidroksi butirat. Bahan yang digunakan adalah urine segar karena benda keton ini mudah menguap. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mencampurkan urine dengan reagen (Rothera, Gedhadt) dan diamati adanya perubahan warna. Dinyatakan positif (+) apabila terjadi warna ungu kemerahan pada batas kedua cairan. Makin cepat terjadi warna ungu dan makin tua warnanya menggambarkan makin tinggi konsentrasi keton dalam urine. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang mengalami gangguan metabolisme berat terutama pada penderita DM 16. Bilirubin dalam Urine Merupakan tes (missal: percobaan busa, Harrison)untuk melihat keberadaan bilirubin dalam urine. Bilirubin normal dalam urine negative (-). Bilirubin + menunjukkan adanya proses hemolisis, gangguan hati dan gangguan empedu. 17. Urobilinogen dalam Urine Urobilinogen merupakan senyawa tak berwarna dibentuk dalam usus dengan mereduksi bilirubin, diekskresikan melalui feaces dan urine dan teroksidasi dalam bentuk urobilin. Tes untuk melihat keberadaan urobilinogen dalam urine diperlukan bahan segar. Normalnya negative (). 18. Urobilin Urobilin merupakan pigmen empedu, tidak berbentuk, berwarna kecoklat-coklatan. Pemeriksaan terhadap keberadaan urobilin dengan menggunakan reagen tertentu (missal: Schlezinger). Hasil positif 1(+), atau positif 2(++) dilihat dari adanya fluoresensi hijau. 19. Pemeriksaan Darah Samar dalam Urine Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya hemoglobin dalam urine dengan metode tertentu (missal: benzidine tes atau guayac tes). Dinyatakan positif apabila ada perubahan warna menjadi hilau (+) sampai biru tua(++++). Dinyatakan negatif apabila tak ada perubahan warna. Tes + berarti ditemukan hemoglobin dalam urine yang mungkin disebabkan oleh pendarahan atau radang pada ginjal/saluran kencing. 20. Pemeriksaan Kloride dalam Urine Bertujuan untuk menetapkan jumlah/kuantitatif klorde dalam urine 24 jam. Biasanya menggunakan metode cepat yaitu Fantus. 21. Pemeriksaan benda-benda Nitrogen Pemeriksaan bertujuan menemukan benda-benda nitrogen terutama nitrit, urea, kreatinin dalam urine.

Peningkatan kadar benda nitrogen dalam urine menggambarkan kondisi metabolism dari protein mulai dari intake, absorpsi, perombakan, metabolisme, destruksi dan ekskresinya. Pengukuran kreatinin memerlukan bahan urine 24 jam dan hasilnya dapat menggambarkan kondisi fungsi ginjal. Nilai normal ekskresi kreatinin pada wanita: 0,8 1,7 gr/hr; pria: 1,0 1,9 gr/hr 22. Pregnosticon Planotes (PPT) Pemeriksaan untuk menemukan adanya Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dalam urine. Pemeriksaan bertujuan untuk mendeteksi adanya kehamilan pada wanita. Hasil positif menandakan adanya tanda kehamilan pada wanita. 23. PPT Titrasi Merupakan tes immunologic dengan Human Aglutinin Inhibitor (HAI) untuk melihat keberadaan HCG dalam urine. Dengan pemeriksaan ini hasilnya lebih cepat, akurat dan sensitive karena dalam titer terendah pun sudah dapat terdeteksi. Normal dalam 20 hari setelah pembuahan HCG +:500 SI/hari. Keakuratan untuk deteksi kehamilan adalah 95-98%. Pada saat ini sudah dikembangkan oleh pabrik alat tes kehamilan yang praktis dan mudah dilakukan oleh masyarakat, hasilnya akurat missal: prognosticon, gravindex, gonovis, deco dan lai-lain. 24. HCG EIA (test Pack) Adalah pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan HCG dengan metode Enzyme Immuno Assay (EIA). Penggunaan sama dengan pemeriksaan HCG diatas. 25. Asam Urat Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin dan sulit larut dalam air. Konsentrasi tinggi dalam urine dapat membentuk batu asam urat dan mencerminkan kadar asam urat dalam darah yang tinggi dengan segala akibatnya. Pemeriksaan asam urat (uric acid) dalam urine bertujuan untuk mendeteksi asam urat secara kuantitatif dan kualitatif. Biasanya dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal, penyakit gout, radang sendi, batu ginjal/saluran kencing. 26. Pemeriksaan Kimia Urine yang Dipermudah Pada saat ini pabrik alat kesehatan menciptakan bermacam-macam alat yang mudah dilakukan masyarakat, praktis dan hasilnya akurat untuk pemeriksaan urine, yang berupa kertas, plastic maupun tablet. Kertas/plastic/tablet tersebut mengandung reagen tunggal atau gabungan yang dapat mendeteksi keberadaan suatu zat secara sendiri-sendiri atau beberapa zat sekaligus. Alat-alat tersebut antara lain: No. Nama Alat/ Bentuk Kandungan reagen Manfaat 1. Albustix (stik/kertas) Bromphenol blue dan salisilat Mendeteksi protein dalam urine, dinyatakan +: terjadi warna kuning biru 2. Albutes (tablet) Sda 3. Clinistix (stik/tes tape) Glukosa oksidasa dan orthotolidin Deteksi glukosa dalam urine. +: warna biru 4. Clinitest

(tablet) Na hidroksida dan kuprisulfat Deteksi glukosa +: warna menjadi kuning/jingga 5. Galatest (serbuk) Garam bismuth Deteksi glukosa +: warna abu-abu sampai hitam 6. Ketostix (stik/kertas) Na nitoprussida, asam amino asetat, dinatrium posfat Deteksi keton dalam urine (asam asetoasetat, aceton) +: berunah warna menjadi ungu - sampai merah 7. Acetest (tablet) Sda Sda 8. Hemastix (kertas) Peroksidan dan orthotolidin Deteksi darah samar (Hb) +: berubah warna menjadi hijau biru 9. Occultist (tablet) Sda Sda 10. Ictotest (tablet) Nitrobenzenadiazonium P toluene sulfonat Deteksi bilirubin dalam urine 11. Labstix (kertas) Kombinasi reagen Deteksi glukosa, protein, keton, darah samar, PH 12. Hemacombistix Sda Sda 27. Fenil Keton Urie (FKU) Pemeriksaan Guthrie Merupakan pemeriksaan skrening untuk mendeteksi adanya defisiensi enzim hepar yaitu Fenilalanin hidroksidase. Adanya akumulasi penilanin dalam darah dan jarinagan yang berasal dari susu dan prolduk protein lain yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan retardasi mental. Apabila fenilanin dalam serum mencapai 4mg/ dl setelah minum susu 3-5 hari disebut tes Guthriepositif (+). Pemeriksaan FKU pada urine dilakukan setelah bayi berumur 3-4 minggu dan diulang 1-2 minggu kemudian. Nilai FKU 15 mg / dl atau lebih besar dapat digunakan sebagai indicator nyang signfikan adanya kerusakan otak. Nilai normal: FKU: negatif, Guthrie. Negatif. Pada anak: 0,5-2,0 mg/ dl Peningkatan FKU dapat terjadi pada bayi lahir dengan berat badan rendah, encephalopatihepatik, septicemia, galaktosemia, obat aspirin dosis besar.

28. Katekolamin Urie Merupakan hormon epinefrin dan norepinefrin yang diproduksi oleh kelenjaar medulla suprarenalis. Pada orang normal dan setelah latihan atau olahraga produksi katekolamin akan menigkat. Apabila ditemukan kadar katekolamin dalam urine: 3-100 kali lebih besar dari normal menunjukkan adanya penyakit feokromositoma. Penigkatan dalam jumlah sedang ditemukan pada jumlah kasus psikiarti dan anak yang menderita neuroblastoma mligna. Nilai normal dalam urine dewasa : total < 100 ug/ 24 jam, aktifitas tinggi : < 0,59 umol/ 24 jam epinefrin urie : 10-90 ug/ 24 jam peningkatan katekolamin ditemukan pada penderita feokromositoma, stress berat, septikemi, shock, luka bakar, peritonitis, neuroblastoma maligna, gangguan psikiatri terutana depresi/ maniakdepresif, dan obat-obatan antibiotic, antihipertensi, adrenslin, isoproterenol, insulin, devolopa, aminof ilin, klorpromasin, dan vitamin C dan B dosis tinggi.

29. Ketosteroid-17 dalam Urine (17-KS) Merupakan hasil metabolisme hormon testosteron yang berasal dari testis dan glandula suprarenalis. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya disfungsi kortek adrenal. Penurunan kadar 17-KS menuhnjukkan hipofungsi kortek adrenal (misal pada penyakit Addisons) hipogonadisme, hipopituitarisme, miksedema, nefrosis, dan obat-obat: deuretik, tiazid, estrogen, kontrasepsi oral, reserpin, klordiazepoksida, promazin, quinidin, meprobamat, dan salisilat. Peningkatan kadar 17-KS ditemukan pada hiperfungsi kortek adrenal, sindrom cushings, karsinoma adrenocorte, tumopr testis, tumor ovarium, infeksi dan stres hebat, serta obat-obat: ACTH, antibiotika, fenitoin, deksametason, dan spironolakton.

Nilai normal : Dewasa pria : 8-25 mg/24 jam Wanita : 5-15 mg/24 jam Bayi : < 1 mg/24 jam Anak 1-3 tahun : < 2 mg/24 jam Anak 3-6 tahun : < 3 mg/24 jam Remaja wanita : 3-12 mg/24 jam Lansia : 4-8 mg/24 jam 30. Hidroksi Kortikosteroid-17 (17-OHCS) Urine Merupakan hasil metabolism hormon steroid dari kortek adrenal dan dikeluarkan melalui urine (24 jam). Pemeriksaan bertujuan untuk mengkaji fungsi hormon adrenal. Penurunan 17-OHCS terdapat pada penyakit addisons, sindrom androgenital, hipopituitarism, hipotiroid, penyakit hati, dan obat-obat: kalsium glukonas, deksametason, fenitoin, reserfin, dan prometasin. Peningkatan 17-OHCS terdapat pada sindrom Cushings, kanker adrenal, hiperpituitarism, hipertiroidism, stres berat, eklampsia, dan obat-obat: penicillin, eritromycin, kortison, asetazolamid, vitamin C, tiazid, digoksin, estrogen, kontrasepsi oral, quinidin, spironolakton,dan paraldehid.

Nilai normal : Dewasa pria : 5-15 mg/24 jam Wanita : 3-13 mg/24 jam Rata- rata : 2-12 mg/24 jam Lansia : lebih rendah dari dewasa Anak 2-4 tahun : 1-2 mg/24 jam Anak 5-12 thn :6-8 mg/24 jam Bayi : < 1 mg/24 jam

31. Pregnanetriol urine Merupakan zat sintesis kortikoid yang digunakan untuk mendiagnosa adanya hiperplasi adrenokortikal congenital. Penurunan kadar menunjukkan hipofungsi hipofise anterior. Peningkatan kadar terdapat pada sindroma adrenogenital, hiperfungsi dan hiperplasi adrenokortikal kongenita, dan tumor adrenal.

Normal : Dewasa pria : 0,4-2,4 mg/24 jam Wanita : 0,5-2,0 mg/24 jam Anak : 0-1,0 mg/24 jam Bayi : 0-0,2 mg/24 jam 32. Tes urine atas obat-obatan Pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan metabolik yang berasal dari obat. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar obat dalam urine sesbagai presentasi kadar obat dalam plasma dan sebagai indicator toksisitas obat. No. Nama Obat Indicator tes + dalam urine Keterangan 1. Aspirin/salsilat Perubahan warna urine menjadi merah anggur yang mantap 2. Fenotiazin dan derivatnya Ungu kemerahan Langsung 3. PAS (para amino salisilat) Coklat merah 4. Fenol dan derivatnya Ungu

33. Tes urine atas obat-obatan narkotik, miras, psikotropik. No. Jenis narkotik Nilai Normal Keterangan 1. Amphetamin (Extacy,shabu) - Stimulans 2. Cocain - Stimulans analgetik 3. Opiat (morfin,heroin) 4. Benzodiazepin - Tranguilizer minor 5. Barbiturat - Tranguilizer minor 6. Mertaquolon (mandax) 7. Alcohol - Depresan 8. Amytriptilin - Depresan 9. Imipramin - Depresan 10. LSD - Halusinogen 11. Ganja - dep/Stimulans 12. Haloperidol - Tranguilizer mayor 13. Chlorpromazine - Tranguilizer mayor

KOMPONEN DARAH DAN FUNGSINYA


Posted on Mei 9, 2011 by pascal karlos

Hematologi Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya darah. Terdiri dari dua komponen: 1. Korpuskuler adalah unsur padat darah yaitu sel-sel darah Eritrosit, Lekosit, Trombosit. 2. Plasma Darah adalah cairan darah. Fungsi Umum Darah: 1. Transportasi (sari makanan, oksigen, karbondioksida, sampah dan air) 2. Termoregulasi (pengatur suhu tubuh) 3. Imunologi (mengandung antibodi tubuh) 4. Homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pH regulator) Eritrosit (Sel Darah Merah): Merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Berbentuk Bikonkaf, warna merah disebabkan oleh Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah untuk mengikat Oksigen. Kadar Hb inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan penyakit Anemia. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa . Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu). Lekosit (Sel Darah Putih) Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 9000 sel/cc darah. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 9000 sel/cc darah. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya infeksi (misalnya radang paru-paru). Lekopeni Berkurangnya jumlah lekosit sampai di bawah 6000 sel/cc darah. Lekositosis Bertambahnya jumlah lekosit melebihi normal (di atas 9000 sel/cc darah). Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh di luar pembuluh darah.

Kemampuan lekosit untuk menembus dinding pembuluh darah (kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut Diapedesis. Gerakan lekosit mirip dengan amoeba Gerak Amuboid. Jenis-jenis Lekosit Granulosit Lekosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar (granula). Jenisnya adalah eosinofil, basofil dan netrofil. Agranulosit Lekosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granola. Jenisnya adalah limfosit dan monosit. Eosinofil mengandung granola berwama merah (Warna Eosin) disebut juga Asidofil. Berfungsi pada reaksi alergi (terutama infeksi cacing). Basofil mengandung granula berwarna biru (Warna Basa). Berfungsi pada reaksi alergi. Netrofil (ada dua jenis sel yaitu Netrofil Batang dan Netrofil Segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit. Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh. sel T4 = imunitas seluler sel B4 = imunitas humoral Monosit merupakan lekosit dengan ukuran paling besar Disebut pula sel darah pembeku. Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000 500.000 sel/cc. Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembeku (Hemostasis) antara lain adalah Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor) Jika seseorang secara genetis trombositnya tidak mengandung faktor tersebut, maka orang tersebut menderita Hemofili. Plasma Darah Terdiri dari air dan protein darah Albumin, Globulin dan Fibrinogen. Cairan yang tidak mengandung unsur fibrinogen disebut Serum Darah. Protein dalam serum inilah yang bertindak sebagai Antibodi terhadap adanya benda asing (Antigen). Zat antibodi adalah senyawa Gama Globulin. Tiap antibodi bersifat spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacam-macam. - Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen = Presipitin. - Antibodi yang dapat menguraikan antigen = Lisin. - Antibodi yang dapat menawarkan racun = Antitoksin. Komponen plasma yellowish clear liquid, composed of water, proteins and other solutes. Water = 90%

Proteins = (all synthesized by the liver) Albumin = 54%, regulates osmotic pressure Globulins = 38%, alpha and beta globulins in transport, gamma globulins in defense (antibodies) Fibrinogen = 7%, coagulation Other solutes = Electrolytes Na+, K+, Ca++, Mg++ Nutrients glucose, amino acids, fatty acids, monoglycerides Gases O2, N2, CO2 Regulatory substance hormones, enzymes Vitamins Wastes Sumber:nurdin,s.si penuntun hematologi 2011/stikes mega rezky makassar

Komponen darah & fungsinya?


5 bulan lalu (Penentu Putusan) Lapor Penyalahgunaan

Sign in untuk Memilih Jawaban Terbaik


Jawaban (2)

Penjawab 1
Eritrosit= membawa makanan u diedarkan ke seluruh tubuh. Leukosit= membunuh bibit penyakit dan menawarkan racun. Hemoglobin= zat warna pada darah
o o

5 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

Penjawab 2
Eritrosit (Sel Darah Merah): Merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Berbentuk Bikonkaf, warna merah disebabkan oleh Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah untuk mengikat Oksigen. Kadar Hb inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan penyakit Anemia. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa . Hemoglobin

dirombak kemudian dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu). Lekosit (Sel Darah Putih) Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 9000 sel/cc darah. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 9000 sel/cc darah. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya infeksi (misalnya radang paru-paru). Lekopeni Berkurangnya jumlah lekosit sampai di bawah 6000 sel/cc darah. Lekositosis Bertambahnya jumlah lekosit melebihi normal (di atas 9000 sel/cc darah). Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh di luar pembuluh darah. Kemampuan lekosit untuk menembus dinding pembuluh darah (kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut Diapedesis. Gerakan lekosit mirip dengan amoeba Gerak Amuboid. Jenis-jenis Lekosit Granulosit Lekosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar (granula). Jenisnya adalah eosinofil, basofil dan netrofil. Agranulosit Lekosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granola. Jenisnya adalah limfosit dan monosit. Eosinofil mengandung granola berwama merah (Warna Eosin) disebut juga Asidofil. Berfungsi pada reaksi alergi (terutama infeksi cacing). Basofil mengandung granula berwarna biru (Warna Basa). Berfungsi pada reaksi alergi. Netrofil (ada dua jenis sel yaitu Netrofil Batang dan Netrofil Segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit. Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh. sel T4 = imunitas seluler sel B4 = imunitas humoral Monosit merupakan lekosit dengan ukuran paling besar Disebut pula sel darah pembeku. Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000 500.000 sel/cc. Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembeku (Hemostasis) antara lain adalah

Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor) Jika seseorang secara genetis trombositnya tidak mengandung faktor tersebut, maka orang tersebut menderita Hemofili. Plasma Darah Terdiri dari air dan protein darah Albumin, Globulin dan Fibrinogen. Cairan yang tidak mengandung unsur fibrinogen disebut Serum Darah. Protein dalam serum inilah yang bertindak sebagai Antibodi terhadap adanya benda asing (Antigen). Zat antibodi adalah senyawa Gama Globulin. Tiap antibodi bersifat spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacam-macam. - Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen = Presipitin. - Antibodi yang dapat menguraikan antigen = Lisin. - Antibodi yang dapat menawarkan racun = Antitoksin. Komponen plasma yellowish clear liquid, composed of water, proteins and other solutes. Water = 90% Proteins = (all synthesized by the liver) Albumin = 54%, regulates osmotic pressure Globulins = 38%, alpha and beta globulins in transport, gamma globulins in defense (antibodies) Fibrinogen = 7%, coagulation Other solutes = Electrolytes Na+, K+, Ca++, Mg++ Nutrients glucose, amino acids, fatty acids, monoglycerides Gases O2, N2, CO2 Regulatory substance hormones, enzymes Vitamins Wastes
o

5 bulan lalu

Melakukan Pemeriksaan Darah Lengkap Salah satu pemeriksaan yang sering dilakukan di rumah sakit maupun laboratorium adalah cek darah lengkap (complete blood count, CBC).

Pemeriksaan darah lengkap mampu mendeteksi berbagai macam gangguan yang bermanifestasi di dalam darah, oleh karena itu pemeriksaan ini biasanya menjadi rangkaian pemeriksaan awal saat pasien berobat di rumah sakit. Selain sebagai pemeriksaan awal, hitung darah lengkap juga kerap dilakukan pada pemeriksaan rutin atau medical check-up. Banyak gangguan yang dapat dideteksi melalui cek darah lengkap, antara lain adalah anemia, berbagai macam penyakit infeksi, leukemia, dll. Jika pada hitung darah lengkap ditemukan gangguan, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan yang spesifik terhadap gangguan tersebut. Pada hitung darah lengkap, dilakukan pemeriksaan terhadap beberapa komponen darah, yaitu : 1. Sel darah merah, yaitu sel yang berfungsi membawa oksigen. 2. Sel darah putih, berguna sebagai pertahanan tubuh dalam melawan kuman penyebab infeksi. 3. Hemoglobin, protein yang dikandung sel darah merah, yang mampu mengikat oksigen. 4. Hematokrit, perbandingan (dalam persen) antara sel darah merah dan jumlah plasma darah. 5. Trombosit, yaitu sel yang membantu penggumpalan darah jika terjadi perdarahan. Nilai rujukan hitung darah lengkap disajikan berikut ini. Perlu diingat bahwa setiap pusat layanan kesehatan atau laboratorium, mempunyai nilai rujukan yang sedikit berbeda. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh jenis alat yang digunakan untuk pemeriksaan. 1. Hitung sel darah merah : pria (4,7-6,1 juta sel/mikroliter); wanita (4,2-5,4 juta sel/mikroliter). 2. Hitung sel darah putih : 4.000-10.000 sel/mikroliter. 3. Hemoglobin : pria (13,8-17,2 mg/dL); wanita (12,1-15,1 mg/dL). 4. Hematokrit : pria (40,7%-50,3%); wanita (36,1%-44,3%). 5. Hitung trombosit : 150.000-400.000 trombosit/mikroliter.
www.wartamedika.com

medicastore.com/penyakit/160/Biologi_Darah.html