Anda di halaman 1dari 3

SHORT WAVE DIATHERMY

Short wave diathermy yaitu suatu alat kesehatan yang merupakan alat terapi yang menggunakan pemanasan yang dalam pada jaringan tubuh manusia dengan merubah energi elektromagnetik menjadi energi panas. Frekuensi yang diperbolehkan pada pemakaian short wave diathermy adalah 13,66 MHz, 27,12 MHz, dan 40,68 MHz. Frekuensi yang paling sering digunakan pada short wave diathermy adalah 27,12 MHz, karena pada frekuensi 27,12 MHz tidak mempengaruhi sensor motorik pada jaringan tubuh yang akan diterapi sehingga tidak menimbulkan gerak atau kaget dari jaringan tubuh yang akan diterapi. Panjang

gelombang yang sesuai dengan frekuensi ini adalah 22,11 dan 7,5 meter, sedangkan frekuensi 27,12 MHz dengan panjang gelombang 11 meter. Short wave diathermy dapat bekerja sebagai induksi dan kapasitas, yaitu pada penggunaan induksi dengan meletakkan pasien pada medan magnet, yang menerima temperatur tinggi pada jaringan yang kaya cairan. Sedangkan pada penggunaan kapasitansi ditujukan untuk jaringan yang memiliki kandungan cairan sedikit seperti tulang dan lemak. Short wave diathermy menawarkan terapi secara continue. Pemanasan alat yang dilakukan antara 5-10 menit, dan waktu yang diperlukan untuk melakukan proses terapi yaitu 10-30 menit.

DOSIS Untuk pengobatan yang optimal SWD diberikan selama 20 menit, sehingga temperatur jaringan akan mencapai keadaan yang menyenangkan, peningkatan sirkulasi darah akan sangat maksimum. Intensitas pengobatan tergantung dari sensasi panas yang dirasakan oleh pasien. Walaupun energi yang dihasilkan dapat di kendalikan dari mesin, tapi ketepatan dari panas yang dihasilkan hanya dapat disesuaikan dengan menanyakan kepada pasien. Frekuensi pengobatan dapat diberikan setiap hari atau selang seling sesuai indikasinya. Faktor yang menentukan intensitas pengobatan adalah respon pengobatan dan kemampuan pasien terhadap pengobatan. Sebaiknya diberikan 1 - 2 kali perhari.

DOSIS YANG DISARANKAN PADA PENGGUNAAN SWD

Pada praktek penggunaan SWD, energi elektromegnetik yang dialirkan dari alat SWD harus diatur sedemikian rupa kepada jaringan yang menerimanya tanpa terjadi temperatur yang akan menginvasif, seorang ahli terapi harus memperhatikan respon panas dari pasien sebagai petunjuk untuk dosis yang digunakan. Masalah yang paling sering muncul apabila mendapatkan pasien yang memiliki sensasi panas yang tidak normal atau lebih rendah sehingga sulit untuk mengetahui apakah dosis sudah sesuai untuk pasien, karena respon yang diberikan kadang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Setiap orang yang akan dilakukan terapi harus dilakukan tes untuk sensasi nyeri dan panas sebelum memulai terapi untuk mengetahui apakah ada defisit dari saraf sensoris kulit. Pada evaluasi pasien, seorang ahli terapi harus menentukan tingkat dari kondisi pasien yang sedang diterapi apakah dalam fase akut, subakut atau kronik. Dengan mengetahui tahapan dari kondisi pasien kita harus mengetahui efek jangka panjang yang terjadi. Setelah mengetahui kondisi pasien akan diikuti dengan pemilihan alat yang cocok SWD atau MWD dengan aplikasi yang sesuai untuk mengantarkan energi yang dihasilkan baik perubahan termal maupun nontermal yang mempengaruhi jaringan. Evaluasi harus selalu dilakukan ketika didapatkanya tulang yang mencolok, implant besi, atau permukaan besi pada daerah yang diobati. Pada penggunaan SWD secara terus menerus pada daerah yang terdapat tulang yang menonjol atau besi akan menyebabkan kerusakan dari jaringan. Selama dilakukan evaluasi, pasien harus ditempatkan keadaan yang paling menyenangkan selama pengobatan. Pakaian dan celana serta ikat pinggang harus dilepas dari permukaan tubuh yang akan di obati. Ketika menggunakan SWD atau MWD secara kontinyu, seorang ahli terapi harus selalu memikirkan reaksi biologi yang dihasilkan yang tergantung dari peningkatan suhu jaringan pada akhir pengobatan. Menurut Thom, dosis rendah dari SWD yang berkelanjutan yang diberikan dalam jangka panjang lebih evektif daripada penggobatan yang intensif yang diberikan dalam jangka waktu yang pendek.

Dosis panas ataupun jumlah dari energi yang dihantarkan ke jaringan per unit waktu sangat penting ketika hasil pengobatan yang spesifik diinginkan. Dosis yang sering digunakan pada penggunaan SWD ataupun SWD yang pulsasi adalah: 1. Dosis 1 Paling rendah : dibawah titik dari setiap sensasi panas (Proses terapi) 2. Dosis 2 Sensasi panas rendah - sedang : baru terjadi (subakut, proses penyembuhan dari terapi) 3. Dosis 3 Sensasi panas sedang - berat, tetapi masih menyenangkan diberikan untuk terapi. Proses sub akut(proses terapi yang parah) dan penyembuhan dari terapi. 4. Dosis 4 Pemanasan tinggi yang menghasilkan sensasi yang dapat ditoleransi dengan baik untuk proses yang kronis. Ambang nyeri harus ditemukan sehingga panas yang digunakan harus lebih rendah dari toleransi panas yang maksimal.