BAB I PENDAHULUAN 1.4. Kandungan dan Kegunaan 1.4.

1 Kandungan Temulawak terdiri dari fraksi pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Fraksi pati merupakan kandungan yang terbesar (Pati 48,18%-59,64%). Makin tinggi tempat tumbuh maka kadar pati semakin tinggi. Pati temulawak terdiri dari abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kalium, natrium, kalsium magnesium, besi, mangan, dan kadmium (Sidik, 1985) Fraksi kurkuminoid (1,60%-2,20%) yang terdapat pada rimpang, kurkuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning kurkumin dan turunannya (Kunia, 2006) dan minyak atsiri (6,00%-10,00%) yaitu isofuranogermakren, trisiklin, allo-aromadendren, germakren, xanthorrizol (Setiawan, 2000). Selain itu pada daging buah (rimpang) temulawak mempunyai beberapa kandungan senyawa kimia antara lain berupa fellandrean dan turmerol atau yang sering disebut minyak menguap, serta kamfer, glukosida, foluymetik karbinol. Pada buah mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak (Laksmi, 2007). Ditemukan juga senyawa aktif lain yaitu: Germacrene, Xanthor-rhizol, Alpha-Betha-Curcumena (Riana, 2006).

1.4.2 Kegunaan Kurkuminoid secara klinis berkhasiat mencegah penyakit jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penggumpalan darah, penambah nafsu makan, pengobatan hepatitis, penurun kadar kolesterol darah, mencegah stroke (Sidik,2006). Selain itu kurkumin sebagai acnevulgaris, anti inflamasi (anti radang), antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu). Kandungan kurkumin dan monodesmetoksi kurkumin yang bersifat antitumor (Kunia, 2006). Minyak atsiri pada temulawak terdiri atas 32 komponen yang secara umum bersifat meningkatkan produksi getah empedu dan mampu menekan pembengkakan jaringan, membersihkan perut, dan memperlancar ASI serta dapat membunuh mikroba atau fungistatik. Xanthorrizol salah satu komponen minyak atsiri pada percobaan invitro berkhasiat mengobati kanker payudara, paru-paru dan ovarium dan pencegah rusaknya email gigi (mencegah plak) (Laksmi, 2007). Zat warna kuning temulawak (kurkuminoid) dan minyak atsiri mempunyai kemampuan mempercepat regenerasi sel-sel hati yang mengalami kerusakan akibat pengaruh racun kimia (Kunia, 2006). ISOLASI SENYAWA AKTIF 3.2. Pengujian 3.2.2. Isolasi Kurkuminoid i. Metode Sokletasi Pada proses isolasi kurkuminoid menggunakan metode sokletasi. Pada metode sokletasi ini bahan yang akan diekstraksi berada pada sebuah kantung ekstraksi (kertas, karton, dan sebagainya). Di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinu (perkolator). Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan di antara labu suling dan suatu aliran balik dan dihubungkan dengan melalui pipa pipet. Labu tersebut berisi pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipa pipet, dia berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan membawa keluar bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimal secara otomatis ditarik ke dalam labu, dengan demikian zat yang terekstraksi tetimbun melalui penguapan kontinu dari bahan pelarut murni. Pada cara ini orang membutuhkan bahan pelarut yang sangat sedikit juga ekstrak secara terus-menerus diperbaharui artinya dimasukkan bahan pelarut bebas bahan aktif (pembaharuan terusmenerus dari perbedaan konsentrasi). Keburukannya tentu saja disebabkan, bahwa dibutuhkan suatu ekstraksi beberapa jam pada umumnya dan dengan demikian kebutuhan energinya tinggi (listrik)

dan heksan. aseton. ekstrasi (difusi) dari bahan kandungan sel yang masih utuh. alkaloida) (Voigt. Proses ini akan berjalan kontinu sampai semua ekstrak terekstraksi. Setelah waktu ini sebaiknya ditetapkan antara bahan yang diekstraksi dalam bagian sebelah dalam sel dengan yang masuk ke dalam cairan dan dengan demikian difusi akan berakhir. Alat       1 Set alat sokletasi Erlenmeyer Kertas saring Pipet volume 10 mL Neraca analitik penangas air b. melunakan) adalah cara ekstraksi yang sederhana. dapat bekerja negatif terhadap bahan tumbuhan yang peka terhadap suhu (glikosida. darinya bahan pelarut diuapkan. yang langsung berhubungan dengan labu. Pada metode sokletasi yang mengisolasi senyawa kurkuminoid ini dapat dipilih beberapa pelarut yaitu etanol. Pemanasan yang bergantung dari lama ekstraksi.selanjutnya ekstrak dipanaskan dalam bagian tengah alat. Metode Maserasi Maserasi (macerare = mengairi. Labu yang sudah berisi pelarut tersebut dipanaskan pada suhu tertentu sampai mendidih. masing-masing farmakope mencantumkan 4-10 hari. Kemudian dimasukkan ke dalam alat soklet. Bahan  Etanol B. Bahan yang dihaluskan sesuai dengan persyaratan farmakope (umumnya terpotong-potong atau diserbukkasarkan) disatukan dengan bahan ekstraksi. Ditambahkan pelarut lagi kira-kira sampai setengahnya. ii. Pada proses ini uap pelarut akan naik dan bersentuhan dengan kondensor. Kurang lebih diperlukan lima hari untuk mendapatan hasil (larutan bahan dari sel akan rusak yang terbentuk pada penghalusan. Waktu maserasi adalah berbeda-beda. Dimana uap akan terkondensasi dan menetes di atas sampel dan selanjutnya merendam sampel tersebut. . Pelarut etanol ditambahkan dari bagian atas sampai tumpah ke dalam labu. Cara Kerja Metode Sokletasi Untuk cara kerja sokletasi yaitu pertama-tama yang harus dilakukan adalah serbuk sampel dibungkus dengan kertas saring atau tempat tertentu. Alat dan Bahan a. A. Selama proses ini serbuk sampel akan terekstraksi. 1994). Apabila ekstrak sudah sampai pada batas “pipa u” maka ekstrak akan turun ke labu dan akan mendidih kembali. Deposisi tersebut disimpan terlindungi dari cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok kembali. terutama dari titik didih bahan yang digunakan.

Alat dan Bahan a.5 cm). Bahan  Etanol B. Anhidrat asetat-asam sulfat.Persyaratan untuk ini adalah pengulangannya pengocokannya diposisi (kira-kira tiga kali sehari). lalu cairannya dituang dan disaring (Voigt. diperiksa dibawah sinar UV 365. Semakin besar perbandingan ekstrak terhadap cairan ekstrasksi akan semakin baik hasil yang diperoleh. Cara Kerja Metode Maserasi Untuk cara kerja maserasi yaitu pertama-tama yang harus dilakukan adalah serbuk sampel dimasukkan ke dalam gelas piala atau tempat seperti botol terbalik. Kemudian ditambahi pelarut etanol sampai sampel terendam. serbuk cuplikan sebanyak 0. Waktu pengembangan : Deteksi : a. Alat       Gelas piala dengan tutup Gelas ukur Pipet tetes Pipet volume 10 mL Alat pendingin balik Batang pengaduk b. Cairan maserasi dan cairan yang diperoleh melalui perasan disatukan dengan mencuci sisa perasan dengan bahan ekstraksi diberikan pada kandungan atau jumLah yang telah diperoleh. . Hasil ekstraksi disimpan dingin beberapa hari. Keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif.setelah maserasi maka deposisi diperas (kain pemeras) dan sisanya diperas habis. tersebut berlaku untuk memperoleh kandungan bahan ekstraktif dan untuk menyeimbangkan kembali kehilangan saat penguapan yang terjadi pada penyarian dan pengepres. Uji Kualitatif Secara KLT (pembuktian adanya Flavonoid Kurkuminoid) Fase diam : Silika gel G Fase gerak : Klorofom-benzena-etanol 98% (45: 45:10 %v/v) Atau Kloroform-etanol 96%-asam asetat glasial (94:5:1 %v/v) Cuplikan : Ekstrak. Untuk ini digunakan pengepres tingtur (pengepres kincir) atau pengepres hidrolik. Diaduk sekali-sekali. Melalui usaha ini dijamin suatu keseimbangan konsentrasi bahan ekstraktif yang lebih cepat ke dalam cairan. 1994). Secara teoritis pada suatu maserasi.1 g diekstrasi dengan 1 mL etanol selama 30 menit sambil dikocok JumLah totolan : filtrat ditotolkan 5 µl untuk bercak dan 10 µl un tuk pita (1. Pelarut diganti setiap waktu tertentu. Terakhir akan didapatkan hasil berupa ekstrak dan gunakan pelarut yang tidak mudah menguap 3. A. suatu penyumbatan dan dengan demikian ekstraksi absolut tidaklah mungkin. Proses mencuci.

Kecepatan alir fase diam diatur sesuai keinginan. Bahan   Natrium sulfat anhidrat Fase gerak: klorofom-benzena-etanol 98% (45: 45:10 %v/v) Atau Kloroform-etanol 96%-asam asetat glasial (94:5:1 %v/v) B. (Sthal. menyerupai pita). Alat dan Bahan a. Terakhir kolom dielusi sampai semua komponen keluar dari kolom. Kemudian eluat ditampung pada botol kecil secara manual atau otomatik. Kemudian keran dibuka perlahan sampai semua sampel masuk ke dalam fase diam. Asam borat-metanol. Cara Kerja b.2. Proses Kromatografi Kolom Pertama yang harus dilakukan yaitu sampel dimasukkan ke bagian atas fase diam secara perlahan dan merata (dibuat setipis mungkin. 1985) 3. . Bila terdapat kandungan kurkumin dari Curcuma xanthorrhizae maka pada saat diperiksa dibawah sinar UV 365 nm. Pemisahan Dengan Kromatografi Kolom A.4. Alat        Glasswool atau kapas Kolom Gelas piala Pipet tetes Batang pengaduk Pipet volum Gelas ukur b. Saat permukaan atas sampel sampai pada permukaan atas fase diam.b. fase gerak ditambahkan secara perlahan. akan terlihat fluoresensi yang berwarna kuning kelabu pucat.

Cara Kerja Pertama kristal dilarutkan dalam pelarutnya (etanol) pada gelas piala. Eluat dalam bentuk kristal tersebut dimurnikan dengan cara rekristalisasi.5. Metode Pemurnian Rekristalisasi Setelah eluat keluar dari kolom maka eluat tersebut didiamakan beberapa saat sampai pelarutnya menguap dan senyawa kurkuminnya mengalami kristalisasi (membentuk kristal). Lalu dalam keadaan panas disaring.2. i. . Filtrat hasil saringan didinginkan sampai terbentuk kristal. kemudian dipanaskan sambil diaduk-aduk. Alat dan Bahan Alat      Gelas piala Batang pengaduk Corong penyaring Kertas saring Alat pemanas Bahan   Kristal kurkumin Etanol ii. Pemurnian Senyawa Kurkuminoid a.3.

50. Pelarut tersebut kemudian diuapkan sampai didapatkan bantuk kristalnya. Pelaksanaan Pemurnian Secara KLT Fase diam : Silika gel G Fase gerak : Klorofom-benzena-etanol 98% (45: 45:10) Atau Kloroform-etanol 96%-asam asetat glasial (94:5:1 %v/v).60 dengan pelarut yang digunakan kloroform-etanol 96%-asam asetat glasial (94:5:1 %v/v). Metode Pemurnian Secara KLT Untuk pemurnian secara KLT ini fraksi yang memiliki spot/noda yang sama dengan nilai Rf dan warna yang sama pada pustaka maka spot/noda tersebut dikerok kemudian dilarutkan dalam pelarut etanol. fraksi II 0.30. Waktu pengembangan : . Adapun nilai Rf dari kurkumin tersebut berdasarkan pustaka yaitu fraksi I 0.5 cm).2. fraksi III 0. Cuplikan :fraksi kurkumin yang didapat dari kromatografi kolom JumLah totolan : filtrat ditotolkan 5 µl untuk bercak dan 10 µl un tuk pita (1.(sampai eluen mendekati batas atas plat) .

ITB. Jilid I. Jakarta. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.comrubrikone_news. 2006 Temulawak.net.iptek. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. G. (online). Anonim 4. Jakarta. Yogyakarta. Dalimartha Setiawan. . Jilid V. 2006. Flora. IsolasiTemulawak. Ginsengnya Indonesia net.. V. Gerakan Nasional Minum Temulawak (http://www. Jakarta.pikiran rakyat Sidik. Materia Medika Indonesia.(online). C. Inventaris Tanaman ObatIndonesia. Voight Rudolf. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. 2005. 2000. diakses 1 Oktober 2007). Steenis. 1989.2005.DAFTAR PUSTAKA Anonim 1.id/ind/cakara_ Tanaman obat. Gajahmada University Press.(http://www. Trubus Agriwidya. Jilid III. Anonim 2. Materia Medika Indonesia.id/ind/cakrawala_ temulawak. Egon Sthal. 1985. Kabela. Analisis Obat Kromatografi dan Miroskopi. Bandung. Departemen Kesehatan dan Kesejahterahan Sosial Republik Indonesia Badan Penelitian dan pengembangan Kesehatan 2000. Kunia. 1994. Jakarta.(http://www. G. 1979. Pradnya Paramita.majalah-farmacia. Anonim 3. 2000. J. diakses 1 Oktober 2007). diakses 1 Oktober 2007).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful