Anda di halaman 1dari 12

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri sebagai makanan bagi

i orang miskin . (Hr. Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Dalam surat At-Taubah, Allah berfirman,

Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. (Qs. At-Taubah:60)

Ayat di atas menerangkan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat. Jika kata zakat terdapat dalam Alquran secara mutlak, artinya adalah zakat yang wajib. Oleh sebab itu, ayat ini menjadi dalil yang menguraikan golongan-golongan yang berhak mendapat zakat harta, zakat binatang, zakat tanaman, dan sebagainya. Meskipun demikian, apakah ayat ini juga berlaku untuk zakat fitri, sehingga delapan orang yang disebutkan dalam ayat di atas berhak untuk mendapatkan zakat fitri? Dalam hal ini, ulama berselisih pendapat. Pertama, zakat fitri boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah pada surat At-Taubah ayat 60 di atas. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamakan zakat fitri dengan zakat, dan hukumnya wajib untuk ditunaikan. Karena itulah, zakat fitri berstatus sebagaimana zakat-zakat lainnya yang boleh diberikan kepada delapan golongan. An-Nawawi mengatakan, Pendapat yang terkenal dalam mazhab kami (Syafiiyah) adalah zakat fitri wajib diberikan kepada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat harta. (Al-Majmu) Kedua, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut, selain kepada fakir dan miskin. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim. Dalil pendapat kedua:
1. Perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

mewajibkan zakat fitri sebagai makanan bagi orang miskin . (Hr. Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani) 2. Berkaitan dengan hadis ini, Asy-Syaukani mengatakan, Dalam hadis ini, terdapat dalil bahwa zakat fitri hanya (boleh) diberikan kepada fakir miskin, bukan 6 golongan penerima zakat lainnya. (Nailul Authar, 2:7) 3. Ibnu Umar mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa memerintahkan zakat fitri dan membagikannya. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Cukupi kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari ini. (Hr. AlJuzajani; dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Yazid (perawi hadis ini) mengatakan, Saya menduga (perintah itu) adalah ketika pagi hari di hari raya. Dalam hadis ini, ditegaskan bahwa fungsi zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin ketika hari raya. Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu kemungkinan tujuan perintah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari raya adalah agar mereka tidak disibukkan dengan memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut, sehingga mereka bisa bergembira bersama kaum muslimin yang lainnya.

Di samping dua alasan di atas, sebagian ulama (Ibnul Qayyim) menegaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu anhum tidak pernah membayarkan zakat fitri kecuali kepada fakir miskin. Ibnul Qayyim mengatakan, Bab Zakat Fitri Tidak Boleh Diberikan Selain kepada Fakir Miskin. Di antara petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah mengkhususkan orang miskin dengan zakat ini. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah membagikan zakat fitri kepada seluruh delapan golongan, per bagianbagian. Beliau juga tidak pernah memerintahkan hal itu. Itu juga tidak pula pernah dilakukan oleh seorang pun di antara sahabat, tidak pula orang-orang setelah mereka (tabiin). Namun, terdapat salah satu pendapat dalam mazhab kami bahwa tidak boleh menunaikan zakat fitri kecuali untuk orang miskin saja. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang mewajibkan pembagian zakat fitri kepada delapan golongan. (Zadul Maad, 2:20) Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang berhak menerima zakat fitrah adalah fakir miskin saja. Catatan: Sebagian orang memberikan zakat fitri untuk pembangunan masjid, rumah sakit Islam, yayasan-yayasan Islam, atau pemuka agama. Apa hukumnya?

Jika kita mengambil pendapat bahwa zakat fitri hanya boleh diberikan kepada fakir miskin maka memberikan zakat fitri kepada masjid, yayasan Islam, atau tokoh masyarakat yang bukan orang miskin itu termasuk tindakan memberikan zakat kepada sasaran yang tidak berhak. Sebagian ulama menerangkan bahwa memberikan zakat kepada golongan yang tidak berhak itu dinilai sebagai tindakan durhaka kepada Allah dan kewajibannya belum gugur. Artinya, zakat fitrinya harus diulangi. Jika kita bertoleransi terhadap pendapat yang membolehkan pemberian zakat fitri kepada semua golongan yang delapan maka perlu diketahui bahwasanya masjid, yayasan Islam, atau pemuka agama tidaklah termasuk dalam delapan golongan tersebut. Masjid atau yayasan tidak bisa digolongkan sebagai fi sabilillah. Demikian pula terkait pemuka agama. Jika dia orang yang berkecukupan maka dia tidak berhak diberi maupun menerima zakat karena zakat ini adalah hak orang fakir miskin. Jika ada pemuka agama atau tokoh masyarakat yang menerima zakat atau bahkan meminta zakat maka berarti dia telah menyita hak orang lain.

Allahu alam. Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah). Artikel www.KonsultasiSyariah.com Kata Kunci Terkait: sedekah, "zakat fitrah", zakat fitri, kadar zakat, uang zakat, yang berhak menerima zakat

About the author

Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Mahasiswa Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.com, KonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus UGM.

Seorang Wajib Zakat


Seorang peternak di suatu daerah didatangi oleh Ubay bin Ka'ab, sahabat Nabi SAW yang diutus beliau untuk memungut zakat dari orang tersebut. Setelah menerima informasi

tentang jumlah ternaknya, Ibnu Kaab berkata, "Engkau wajib mengeluarkan zakat, seekor anak unta yang berusia setahun!" Mendengar penuturan Ubay, orang tersebut berkata, "Apa gunanya seekor anak unta yang berusia setahun? Engkau tidak dapat mengambil susunya atau menungganginya. Aku memiliki seekor unta betina yang telah dewasa, ambillah itu sebagai gantinya." Kaab berkata, "Tugas yang diberikan kepadaku, tidak membenarkan aku mengambil lebih dari apa yang ditetapkan oleh syariat. Tetapi peternak tersebut agak memaksa untuk menerima unta betina dewasanya, sedang Ibnu Kaab tidak berani menerima sesuatu melebihi dari wewenangnya yang ditetapkan syara. Karena itu ia berkata, "Sekarang ini Rasulullah dalam perjalanan, saya akan menghadap beliau, jika beliau tidak berkeberatan, aku akan menerimanya, jika sebaliknya, aku tidak bisa menerimanya kecuali apa yang kutentukan sebelumnya." Akhirnya orang tersebut mengikuti Ubay bin Kaab menemui Rasulullah SAW, sambil membawa unta betinanya. Ketika telah sampai, ia berkata pada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, wakilmu telah datang kepadaku untuk mengumpulkan zakat. Demi Allah, aku belum pernah memperoleh kesempatan untuk membayar sesuatu kepada engkau atau wakilmu. Setelah kuhitung kekayaanku dan keberitahukan kepadanya, ia hanya menetapkan zakatku seekor anak unta yang berumur setahun, padahal anak unta seperti itu belum bisa memberikan manfaat apaapa. Karena itu kuusulkan untuk menerima unta betina yang telah dewasa sebagai gantinya, tetapi wakilmu tidak berani menerimanya tanpa persetujuanmu." Nabi SAW tersenyum mendengar penjelasan peternak tersebut, kemudian bersabda, "Memang benar, hanya sekedar itulah yang wajib kau keluarkan seperti ditetapkan wakilku, tetapi jika engkau ingin memberikan lebih dari yang ditetapkan, itu dibolehkan." Orang tersebut merasa puas dan sangat gembira dengan penjelasan Nabi SAW, dan menyerahkan unta betina dewasa kepada beliau. Nabi SAW pun mendoakan keberkahan bagi orang tersebut.

http://percikkisahsahabat.blogspot.com/2012/02/seorang-wajib-zakat.html

Sejarah Penerapan Syariah Zakat


Dalam catatan Ma'sum Djauhari, sejarah zakat ini pada mulanya berupa infaq yang harus dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin dan kepentingan pembelaan agama. Sementara jumlah banyak dan sedikitnya sendiri tidak atau

belum ada batasan. Baru pada tahun ke dua setelah Hijrah, zakat kemudian dijadikan pokok ibadah yang harus dilakukan oleh setiap muslim apabila telah memiliki harta pada batas-batas yang ditetapkan. Masih menurut Djauhari, dalam keterangan Ibrahim dalam bukunya Pengantara Hukum Islam, zakat diwajibkan setelah turun wahyu sebagaimana tertera di dalam al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 277, yang artinya kurang lebih sebagai berikut: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh lagi mendirikan shalat dan membayar zakat, untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa ketakutan atas mereka dan tiada rasa berduka cita bagi mereka. Menurut penuturan Munawar Kholil di bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, perintah wajib zakat mal ini telah disampaikan semenjak permulaan Islam (sebelum Hijrah) hanya saja pada saat itu belum ditentukan macam-macam harta maupun kadar harta yang harus dizakati, berupa jumlah zakatnya dan mustahiknya pada saat itu baru diperuntukkan bagi fakir dan miskin saja. Baru pada tahun ke dua Hijriyah, macam-macam harta yang wajib dizakati serta jumlah prosentase zakat dari harta masing-masing, kemudian ditetapkan secara spesifik. Awal dari ditetapkannya bentuk harta yang wajib dizakati adalah setelah turunnya wahyu yang terdapat dalam al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 267, (lihat Ma'sum Djauhari, tt, hlm: 156) yang artinya kurang lebih sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." Setelah ayat ini turun kewajiban zakat kemudian dirinci lagi melalui ayat-ayat yang turun kemudian maupun melalui penjelasan dari Rasulullah, sehingga ketetapan wajibnya jakat menjadi kewajiban yang spesipik.

Pengertian Zakat
Secara bahasa zakat berarti membersihkan. Dengan demikian zakat dianggap sebagai pajak keagamaan yang bertujuan membersihkan harta kekayaan seseorang. Menurut Aghnides, zakat berarti pertumbuhan dan perkembangan (seperti kalimat zakat al-zar yang berarti zakat hasil tanaman). Pajak tersebut disebut demikian karena zakat mengacu terhadap pertambahan harta kekayaan seseorang di dunia dan memberi manfaat keagamaan (thawah) di hari kemudian. Dilihat dari pembahasan fiqh tentang basis-basis keuangan Islam, zakat dan shadaqah digunakan secara bergantian. Namun jika melihat kata zakat, yang

berasal dari bahasa Arama, memiliki arti yang lebih spesifik daripada shadaqah yang diberikan dengan sukareladan secara tidak langsung mengungkapkan pemberian yang bersifat amaliah umum. (Irfan Mahmud Raana, System Ekonomi Pemerintahan umar Ibn al-Khatab, terj. Mansuruddin Djoely, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990, hlm: 75) Secara terminologis,menurut Akmad Akbar Susamto(ibid), zakat merupakan bagian dari harta yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat, untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya menurut ajaran Islam. Kewajiban zakat sangat fundamental, dan berkaitan erat dengan aspek-aspek ketuhanan maupun sosial ekonomi. Secara sederhana, menurut Ma'sum Dauhari (tt: 155), zakat menurut pengertian secara istilah syar'i adalah kadar harta yang tertentu, diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu pula. Aspek-aspek ketuhanan antara lain dapat ditelusuri dalam ayat-ayat al-Qur'an yang menyebut masalah zakat, yang menyebutkan persoalan zakat sebanyak 30 kali dan termasuk di antaranya 27 ayat yang menyandingkan kewajiban zakat bersama-sama dengan kewajiban shalat dalam satu tempat bersamaan (lihat misalnya surah al-Baqarah [2]: 83, 110; An-Nisa[4]:77; At-Taubah [9]:5,11,18,71; Maryam[19]:31,55; Al-Anbiya[21]: 73; Al-Hajj[22]:41; An-Nur[24]:55-56; AnNaml[27]:3; dan Lukman[31]:4). Rasulullah pun menegaskan bahwa zakat merupakan kewajiban yang termasuk pada pilar utama yang menegakkan rukun Islam (sabdanya berbunyi: "Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, Engkau mengerjakan Shalat, membayar zakat, dan Shaum di bulan Ramadhan" [H.R. Bukhary dan Muslim]). (ibid) Apakah ada beberapa bentuk pajak seperti zakat pernah dipraktekan sebelum datangnya Islam di Arab, yang kemudian diambil alih oleh Islam dan kemudian disesuaikan untuk memenuhi keperluan tertentu, ataukah ini memang sebuah istilah tertentu yang diciptakan Islam? Untuk menjawab persoalan ini, menurut Raana, tidaklah ada informasi yang jelas. Dengan karakter suku-sukunya yang pengembara dan tidak adanya system sosio-ekonomi yang diterima secara luas di negeri tersebut, sulit kiranya bagi kita untuk memastikan apakah ada pajak seperti itu sebelum Islam. Namun Hitti berpendapat, zakat, merupakan istilah pajak yang sudah lama digunakan, berasal dari Arab bagian selatan. Menurut dia prinsifprinsif dasarnya sesuai dengan zakat, yang menurut Pliny, para saudagar Arab bagian selatan mempersembahkannya kepada Tuhannya sebelum mereka diijinkan menjual rempah-rempah. Namun hal ini masih dipertanyakan sebab dalam faktanya, menurut Raana, jika kita menerima pandangan ini, kita tidak bisa menjelaskan sebab-sebab penolakan suku-suku di seluruh Arab untuk membayar zakat. (Ra'ana, Ibid., hlm: 76)

Kedudukan Zakat Dalam Islam


Pertanyaan kenapa mesti ada zakat? Merupakan permasalahan yang patut diutarakan untuk mendapatkan jawaban atas keberadaan juga fungsi adanya zakat dalam Islam.

Dalam teori sosiologi, kemiskinan akan berakibat keresahan jika terjadi dalam situasi yang berhadapan secara kontras dengan kemewahan. Kedudukan inilah yang mengantarkan Daniel Lerner dianggap sebagai bapak modernisasi dan sekaligus harus mencabut teorinya beberapa tahun kemudian. Menurut Lerner teknologi modern akan mengubah masyarakat tradisional kearah modern sebab, media massa akan berdiri sebagai pembimbing masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dan kemiskinan menjadi kemakmuran. Setelah sepuluh tahun penulisan bukunya, akhirnya dia dipaksa harus mencabut dan merevisi ulang teorinya. Hal ini terjadi lantaran, apa yang jadi kenyataan ternyata malah sebaliknya. Media massa ternyata malah merupakan penyebab terjadinya ekspektasi orang-orang miskin. Lewat media, orang-orang miskin menyaksikan kehidupan yang mempesonakan mereka. Mereka ingin meniru kehidupan seperti itu sementara keadaan pemerintah sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan itu, dan pada akhirnya mereka frustasi. Dalam penuturan Jalaluddin Rahmat, keresahan ini oleh para ilmuwan sosial digambarkan dengan istilah deprivation. Dari sifat keresahan ini rentan sekali kaitannya dengan keresahan sosial (social unrest), yang pada akhirnya berujung pada disintegrasi social.(Lihat. Jalaluddin Rakhmat, 2004: 232-233) Jika yang muncul demikian maka jelas yang terjadi dalam hubungan kehidupan sosial adalah kekacauan. Dari pemaparan di atas jelas yang menjadi akar permasalahan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat adalah adanya kekontrasan antara kemiskinan dan kekayaan. Tanpa adanya persepsi yang menimbulkan kecemburuan sosial, permasalahan social unrest tidak akan terjadi. Oleh sebab itu Islam tidak melarang umatnya untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya asalkan ia mampu menjaga kestabilan kondisi sosial (mencegah terjadinya social unrest) yakni dengan mendistribusikan kekayaannya kepa-da orang yang kurang beruntung. Dengan kata lain, di tengah kekayaan yang berhasil dikumpulkannya itu, umat jangan lupa mengeluarkan harta haknya para mustahiq zakat, yang utamanya fakir dan miskin. Dalam posisi seperti inilah hukum zakat diterapkan. Dengan melihat tujuan zakat dan faktor terjadinya permasalahan hubungan sosial, maka jelas bahwa kedudukan zakat dalam Islam, selain sebagai tempat membuktikan ketaatannya terhadap aturan-aturan Allah SWT., zakat menjadi wahana untuk menetralisir hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketidak harmonisan kehidupan bermasyarakat juga kesejahteraan hidup masyarakat itu sendiri. Dengan zakat juga mengantarkan orang-orang muslim kearah yang lebih mulia. Dengan kekuatan financial yang dimilikinya, seorang muslim yang sadar zakat dan menunaikan kewajibannya itu, dia telah menguatkan agama dan para saudaranya. Pantas jika Rasulallah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. menganjurkan kepada para amilin zakat, atau siapapun yang menerima harta zakat, untuk mendoakan mereka, "allahumma shalli alaihim", sebuah doa yang sama dengan yang biasanya diucapkan untuk Rasulallah saw. (shalawat).

Ketentuan zakat sendiri telah ditetapkan oleh Allah swt baik dalam jumlah pengambilannya maupun post-post tempat dana zakat itu disalurkan. Dengan demikian penetapan-penetapan baik itu pengambilan dari orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat, maupun pendistribusian harta zakat itu sendiri, manusia tidak memiliki kewenangan merumuskannya. Persentase yang ditetapkan kewajiban zakat memiliki pertimbangan akan usaha yang dikerjakan untuk mendapatkannya, sehingga dalam bentuk ini, prosentase zakat memiliki perbedaan. Bagi harta yang dihasilkan lewat usaha yang ringan memiliki prosentase yang lebih tinggi dibanding harta yang dihasilkan lewat usaha yang sulit. Sebagai contoh, Islam memberi kewajiban zakat lebih besar pada tanaman yang diairi oleh hujan dibanding dengan tanaman yang diari lewat tenaga sendiri. Begitupula yang terjadi pada harta hasil temuan atau barang tambang yang kedudukan pendapatannya bisa dibilang luar biasa sehingga zakat yang dibebankan adalah 20% dan harta temuan sebesar 50%, meskipun keadaan si penemu memiliki hutang. Harta yang di dalamnya terdapat kewajiban zakat, antara lain: 1. Harta simpanan Yaitu harta yang disimpan dan tidak digunakan selama setahun. Di dalamnya termasuk kelebihan pendapatan tahunan yang setelah dihitung pengeluaran setiap tahun. Harta ini tidak diinvestasikan dalam perdagangan atau industri dan tidak pula mengalami perputaran (harta diam) dalam satu tahun. Besar persenan zakat yang harus diambil adalah 2.5% sementara nishab zakatnya adalah dari 40 dirham ke atas. 2. Barang tambang dan harta temuan Barang-barang ini dikenai kewajiban zakat sebesar 20% bagi barang tambang dan 50% untuk barang temuan. 3. Modal perdagangan Barang-barang yang diperdagangkan, apapun bentuknya, dikenai kewajiban zakat sebesar 2.5%. zakat tijaroh (jual-beli) dikenakan pada jumlah modal yang digunakan sehingga yang diperintahkan Rasulallah saw adalah mengambil zakat barang dagangan yang hendak dijual. Tatkala Khalifah Umar lewat di depan Abu Amar Bin Hammas yang sedang menjual kulit, beliau berkata: keluarkan zakat hartamu!, Ya amirul muminin, ini hanya kulit! ujar Hammas. Umar berkata: taksirlah kemudian keluarkan zakatnya!. (R As-Syafi'I, Ahmad, Abdurrazaq, dan Ad-Daraquthniy). Di kalangan fuqaha hadits ini sangat terkenal dan menunjukan kalau zakat tijarah tidak ada nishabnya. 4. Hewan ternak dan sawaim

Binatang, baik yang sedang digembala maupun yang hendak dijual, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2.5% tapi binatang yang dipelihara selain tujuan itu tidak dikenakan zakat. Sebelum masa khalifah Umar, masa Rasulallah saw dan Abu Bakar, kuda tidak dimasukan pada hewan yang mesti dizakati dikarenakan pada masa itu kuda dipelihara bukan untuk mata pencaharian (berternak atau dijual belikan), sementara umar menetapkan zakat atas hewan kuda lantaran pada zamannya, kuda sudah menjadi hewan ladang mata pencaharian masyarakat. Dengan demikian maka, hewan terkena zakat jika didalamnya dijadikan lading pencarian pengahasilan (berternak atau jual beli). Jumlah zakat yang diambil dari hewan ternak ini adalah berpareasi dan keterangan lebih lengkapnya dapat dilihat dalam hadits dari Shahabat Anas di kitab fiqih Bulughul Maram. 5. Emas dan perak Emas dan perak, baik mentahan ataupun sudah dibentuk, merupakan barang wajib zakat. Meskipun sebenarnya kedua barang ini berbeda dengan barang dagangan lain, penentuan nishabnya biasanya disamakan dengan barang dagangan. Besar persenan zakat dari barang ini adalah 2.5% 6. Tanaman hasil pertanian Istilah yang dipakai dalam zakat ini biasanya dengan kata usyr atau 1/10 hal ini disebabkan jumlah zakat yang dibebankan berbeda dengan jumlah yang ditetapkan pada barang lain sehingga menjadi ciri khas. Ketentuan jumlah 1/10 atau 10% jika tanaman pertanian dihasilkan dengan pengairan yang tidak membutuhkan tenaga atau biaya besar. Sedangkan bagi kondisi sebaliknya, zakat yang dibebankan adalah 5%. Adapun nisabnya tergantung jenis tanaman itu sendiri, jika jumlah hasil panen mencapai 5 wasq atau sekitar 18 mound. (Irfan Mahmud Raana, ibid, hlm: 77-97, dengan beberapa tambahan dari sumber lainnya)

Bahan Bacaan
1. Irfan Mahmud Raana, System Ekonomi Pemerintahan umar Ibn al-Khatab, terj. Mansuruddin Djoely, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990 2. Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim, Mizan, Bandung, 2004 3. Ahmad Hassan, Pengajaran Shalat, Diponegoro, Bandung, 2004 4. Ibn Hajar al-Astqalany, Bulughu Al-Maram, al-Hidayah, Surabaya, tt 5. H. Mahmud Aziz Siregar, MA., Islam Untuk Berbagai Aspek Kehidupan, Tiara Wacana Yogya, Jogjakarta, 1999 6. Akmad Akbar Susamto, Zakat Sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak; Sebuah Tinjauan Makroekonomi, SIMPONAS 1: Sistem Ekonomi Islam, P3EIFEUII, Yogyakarta 13-14 Mart 2002 7. Ma'sum Djauhari, Antaran Sejarah Muslim, Aji Sakti, Jakarta, tt

http://media-purnawarman.blogspot.com/2010/04/sejarah-pengertian-hukum-dankedudukan.html

Sejarah Awal Mula Kewajiban Zakat


Jumat, 24 Desember 2010 08:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kewajiban yang dikenal sebagai zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun, permasalahan zakat tidak bisa dipisahkan dari usaha dan penghasilan masyarakat. Demikian juga pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam buku 125 Masalah Zakat karya Al-Furqon Hasbi disebutkan bahwa awal Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, zakat belum dijalankan. Pada waktu itu, Nabi SAW, para sahabatnya, dan segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah) masih disibukkan dengan cara menjalankan usaha untuk menghidupi diri dan keluarganya di tempat baru tersebut. Selain itu, tidak semua orang mempunyai perekonomian yang cukup -- kecuali Utsman bin Affan -- karena semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki ditinggal di Makkah. Kalangan anshar (orang-orang Madinah yang menyambut dan membantu Nabi dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah) memang telah menyambut dengan bantuan dan keramahtamahan yang luar biasa. Meskipun demikian, mereka tidak mau membebani orang lain. Itulah sebabnya mereka bekerja keras demi kehidupan yang baik. Mereka beranggapan pula bahwa tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah. Keahlian orang-orang muhajirin adalah berdagang. Pada suatu hari, Sa'ad bin Ar-Rabi' menawarkan hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, tetapi Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak lama, berkat kecakapannya berdagang, ia menjadi kaya kembali. Bahkan, sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa dagangannya. Selain Abdurrahman, orang-orang muhajirin lainnya banyak juga yang melakukan hal serupa. Kelihaian orang-orang Makkah dalam berdagang ini membuat orang-orang di luar Makkah berkata, ''Dengan perdagangan itu, ia dapat mengubah pasir sahara menjadi emas.'' Perhatian orang-orang Makkah pada perdagangan ini diungkapkan dalam Alqur'an pada ayatayat yang mengandung kata-kata tijarah: ''Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (QS An-Nur:37) Tidak semua orang muhajirin mencari nafkah dengan berdagang. Sebagian dari mereka ada yang menggarap tanah milik orang-orang anshar. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dan kesukaran dalam hidupnya. Akan tetapi, mereka tetap berusaha mencari nafkah sendiri karena tidak ingin menjadi beban orang lain. Misalnya, Abu Hurairah. Kemudian Rasulullah SAW menyediakan bagi mereka yang kesulitan hidupnya sebuah shuffa (bagian masjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mereka disebut

Ahlush Shuffa (penghuni shuffa). Belanja (gaji) para Ahlush Shuffa ini berasal dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan muhajirin maupun anshar yang berkecukupan. Setelah keadaan perekonomian kaum Muslimin mulai mapan dan pelaksanaan tugas-tugas agama dijalankan secara berkesinambungan, pelaksanaan zakat sesuai dengan hukumnya pun mulai dijalankan. Di Yatsrib (Madinah) inilah Islam mulai menemukan kekuatannya. Disyariatkan Ayat-ayat Alqur'an yang mengingatkan orang mukmin agar mengeluarkan sebagian harta kekayaannya untuk orang-orang miskin diwahyukan kepada Rasulullah SAW ketika beliau masih tinggal di Makkah. Perintah tersebut pada awalnya masih sekedar sebagai anjuran, sebagaimana wahyu Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 39: ''Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)''. Namun menurut pendapat mayoritas ulama, zakat mulai disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah. Di tahun tersebut zakat fitrah diwajibkan pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal diwajibkan pada bulan berikutnya, Syawal. Jadi, mula-mula diwajibkan zakat fitrah kemudian zakat mal atau kekayaan. Firman Allah SWT surat Al-Mu'minun ayat 4: ''Dan orang yang menunaikan zakat''. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan zakat dalam ayat di atas adalah zakat mal atau kekayaan meskipun ayat itu turun di Makkah. Padahal, zakat itu sendiri diwajibkan di Madinah pada tahun ke-2 Hijriah. Fakta ini menunjukkan bahwa kewajiban zakat pertama kali diturunkan saat Nabi SAW menetap di Makkah, sedangkan ketentuan nisabnya mulai ditetapkan setelah Beliau hijrah ke Madinah. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi SAW menerima wahyu berikut ini, ''Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan'' (QS Al-Baqarah: 110). Berbeda dengan ayat sebelumnya, kewajiban zakat dalam ayat ini diungkapkan sebagai sebuah perintah, dan bukan sekedar anjuran. Mengenai kewajiban zakat ini ilmuwan Muslim ternama, Ibnu Katsir, mengungkapkan, ''Zakat ditetapkan di Madinah pada abad kedua hijriyah. Tampaknya, zakat yang ditetapkan di Madinah merupakan zakat dengan nilai dan jumlah kewajiban yang khusus, sedangkan zakat yang ada sebelum periode ini, yang dibicarakan di Makkah, merupakan kewajiban perseorangan semata''. Sayid Sabiq menerangkan bahwa zakat pada permulaan Islam diwajibkan secara mutlak. Kewajiban zakat ini tidak dibatasi harta yang diwajibkan untuk dizakati dan ketentuan kadar zakatnya. Semua itu diserahkan pada kesadaran dan kemurahan kaum Muslimin. Akan tetapi, mulai tahun kedua setelah hijrah -- menurut keterangan yang masyhur -- ditetapkan besar dan jumlah setiap jenis harta serta dijelaskan secara teperinci. Menjelang tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah SAW telah memberi batasan mengenai aturan-aturan dasar, bentuk-bentuk harta yang wajib dizakati, siapa yang harus membayar zakat, dan siapa yang berhak menerima zakat. Dan, sejak saat itu zakat telah berkembang dari sebuah praktik sukarela menjadi kewajiban sosial keagamaan yang dilembagakan yang diharapkan dipenuhi

oleh setiap Muslim yang hartanya telah mencapai nisab, jumlah minimum kekayaan yang wajib dizakati.
Redaktur: Siwi Tri Puji B Reporter: Nidia Zuraya

STMIK AMIKOM