Anda di halaman 1dari 32

Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang

menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Tarifat mendefinisikan alHijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti manu yaitu mencegah, contohnya: Mencegah diri kita dari penglihatan orang lain. Dari berbagai pengertian bahasa yang di atas maka kita bisa mengambil sebuah kesimpulan seperti apa yang dikatakan oleh Al-Zabidy dalam kitabnya Taj al-Urus bahwa yang dimaksud dengan al-Hijab adalah segala sesuatu yang menghalangi antara kedua belah pihak. Artinya ada sebuah benda yang menghalangi penglihatan kita terhadap orang lain, contohnya, ketika ada dua orang sedang berbicara, tetapi ditengah-tengah mereka terdapat tembok yang besar, sehingga dengan adanya tembok yang besar itu, mengakibatkan kedua orang itu tidak melihat satu sama lain. nahtembok inilah yang dinamakan al-Hijab. Sedangkan menurut istilah syara, al-Hijab adalah suatu tabir yang menutupi semua anggota badan wanita, kecuali wajah dan kedua telapak tangan dari penglihatan orang lain. Dalam agama kita yaitu Islam, hal ini bertujuan untuk menghindari fitnah di antara dua jenis manusia yang berbeda, yaitu pria dan wanita, dikarenakan dari ujung rambut hingga ujung kaki bagi wanita, semua merupakan aurat yang harus ditutupi, kecuali telapak tangan dan wajah tentunya. Sedangkan bagi kaum pria, bertujuan agar bisa Ghadul Bashar atau menundukan pandangan, selain itu juga dapat mencegah dari perbuatan berkhalwat atau berdua-duaan ditempat sepi antara lawan jenis, dan lain sebagainya yang bertujuan untuk mehindari dari berbagai bentuk maksiat yang dibisikan syeitan melalu pendengaran kita. Karena syeitan akan terus menggoda hingga orang yang dituju syeitan itu bisa mengikuti perintah dan langkah syeitan. Naudzubillah tsumma naudzubillah Dalam al-Quran pun disebutkan tentang al-Hijab ini, walaupun satu ayat, tetapi bermakna sangat dalam sekali terhadap definisi al-Hijab itu sendiri, sehingga ayat ini diberi nama dengan Ayat Hijab, ayat ini terdapat di surat al-Ahzab ayat 53, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. Ayat ini turun berkenaan dengan hak istri-istrinya Nabi Muhammad Saw.. Pada suatu ketika Umar bin Khaththab ra. Bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang kewajiban memakai hijab bagi istri-istrinya Nabi Muhammad Saw. ketika bertemu dengan orang lain, maka turunlah ayat tersebut sebagai jawaban. Sedangkan dalam kitab al-Islam wa Qadhaya al-Marah alMuashirah di katakan bahwa, ayat ini turun berkenaan dengan kekhawatiran Nabi Muhammad Saw. terhadap kecantikan istri beliau. yaitu Zainab binti Jahsy.

Selain itu, tujuan dari ayat di atas terhadap istri-istri Nabi Muhammad Saw. adalah agar mewajibkan kepada mereka (istri-istri Nabi Muhammad Saw.) untuk menutupi semua anggota badan selain wajah dan telapak tangan, dengan memakai tabir ketika berada di antara orang lain yang bukan muhrim. Sedangkan yang dimaksud dengan al-Hijab pada ayat di atas adalah, tabir pembatas yang menghalangi wanita dari penglihatan orang lain, tetapi bukan sesuatu yang dipakai seperti pakaian, celana maupun jilbab akan tetapi berbentuk sebuah pemisah seperti tembok, hordeng dan lain sebagainya. Mengacu pada ayat di atas bahwa ketika pada zaman Nabi Muhammad Saw., ada orang asing yang datang kepada istri beliau untuk bertemu dikarenakan ada sesuatu urusan, maka Nabi pun mengizinkannya akan tetapi memerintahkan agar istrinya bertemu dibalik tabir. Al-Hijab dalam pengertian sebagai tabir penghalang tidak diwajibkan kepada wanita yang bukan istri Nabi Muhammad Saw., perintah Nabi di atas bukan perintah untuk semua wanita, tetapi khusus bagi istrinya beliau saja. Oleh karena itu, di zaman sekarang tidak ada satu pun wanita yang melakukan seperti itu, dikarenakan kekhususannya. Coba bayangkan jika itu tidak dikhususkan akan tetapi malah diperintahkan oleh semua wanita, mungkin akan banyak efek dan kendala yang dihadapi oleh wanita, akan tidak adanya wanita karier, akan tidak adanya wanita yang berpolitik dan lain sebagainya. Belum lagi serangan-serangan dari para orientalis yang saat ini belum menemukan satupun kekurangan dalam Islam, mungkin akan mengkritik tentang masalah ini, jika seandainya perintah ini bagi seluruh wanita. Maka pantaslah jika Islam adalah agama yang mudah dan juga fleksibel bagi pemeluknya, sehingga pemeluknya pun tidak akan merasa keberatan ataupun kesusahan ketika menjalankan syariat-syariat Allah, sehingga malulah kita terhadap Allah SWT. yang memberikan kemudahan kepada umat Nabi Muhammad Saw. akan tetapi kita tidak menjalankan syariatnya Allah SWT, Naudzubillah. Wallahualam

Definisi, Hukum, Keutamaan Hijab


Sep 15 Posted by pustakasunnah Keutamaan Hijab Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul. Allah Subhanahu wa Taala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taala: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak pula bagi perempuan yang muminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah Subhanahu wa Taala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala: Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (Q.S An-Nur: 31) Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah. (Q.S. Al-Ahzab: 33) Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (Q.S. Al-Ahzab: 53) Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (Q.S. Al-Ahzab: 59) Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Wanita itu aurat maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya. Hijab itu iffah (kemuliaan) Allah Subhanahu wa Taala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda Iffah (menahan diri dari maksiat). Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. (Q.S. AlAhzab: 59) Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), karena itu mereka tidak diganggu. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah karena itu mereka tidak diganggu sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka. Allah Hijab Subhanahu itu wa Taala kesucian berfirman:

Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari

belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (Q.S. Al-Ahzab: 53) Allah Subhanahu wa Taala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mumin, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. (Q.S. Al-Ahzab: 32) Hijab itu pelindung Rasulullah Shalallahu alaihi wassalambersabda: ( ) Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan Sabda beliau yang lain: (( )) Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya. Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya. Allah Hijab Subhanahu itu wa Taala taqwa berfirman:

Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. (Q.S. Al-Araaf: 26) Hijab itu iman Allah Subhanahu wa Taala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Taala juga berfirman: Dan istri-istri orang beriman. (Q.S. Al-Ahzab: 59) Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Muminin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu. Hijab itu haya (rasa malu)

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: (( )) Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu. Sabda beliau yang lain: Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga. Sabda Rasul yang lain: (( )) Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat. Hijab itu ghirah (perasaan cemburu) Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu berkata: Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu. Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi: 1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang 2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan. 3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan. 4. Longgar dan tidak sempit atau ketat. 5. Tidak memakai wangi-wangian. 6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir. 7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. 8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang. Jangan berhias terlalu berlebihan Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan. Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mumin di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai jalan tengah yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami dengar dan kami taat Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: ) 47) ) 48) Dan mereka berkata: Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya). Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. (Q.S. An-Nur: 47-48) irman Allah yang lain: (51) ) 52) Sesungguhnya jawaban orangorang mumin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: Kami mendengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (Q.S. An-Nur: 51-52) Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka. Aisyah berkata: Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya. (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.
Secara bahasa, hijab artinya "penutup" atau " penghalang". Dalam pembagian, seluruh ahli waris terkadang menerima bagian warisan dan terkadang pula sama sekali tidak menerima bagian, kecuali lima ahli waris, yaitu : anak laki-laki, anak perempuan, bapak, ibu, dan suami / istri. Nah, bagi ahli waris yang karena ada ahli waris yang lain sehingga ia tidak menerima bagian atau berkurang bagiannya disebut mahjub (terhalang), yaitu terkena hijab. Maksud hijab dalam fiqih mawaris adalah penutup / penghalang ahli waris yang semestinya mendapat bagian menjadi tidak mendapat bagian atau tetap menerima warisan, tapi jumlahnya berkurang karena ada ahli waris lain yang lebih dekat pertalian kekerabatannya. Dilihat dari penghalang atas seluruh bagian atau sebagainya, hijab dibagi menjadi dua macam : 1. Hijab hirman, yaitu penghalang yang menyebabkan ahli waris tidak mendapatkan warisan sama sekali

karena ada ahli waris yang lebih dekat pertalian kerabatnya. 2. Hijab nuqshan, yaitu penghalang yang dapat mengurangi bagian yang seharusnya diterima oleh ahli waris. Misalnya istri bisa mendapat satu per empat warisan, karena ada anak maka ia mendapt satu per delapan

Hijab; sebuah Telaah Umum

Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya.

Hijab; sebuah Telaah Umum


Oleh: Husna Thahirah

Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putraputra mereka, atau putra putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (QS. an-Nur: 31) Muqadimah Dilihat dari bentuk fisik, hijab hanya merupakan pakaian penutup bagi wanita. Tapi di sisi lain, ia memiliki makna lebih dari itu. Hijab juga memberikan nilai ruhani (spiritual) dan dapat membentuk kehidupan yang lebih baik bagi pemakai hijab itu sendiri dan lingkungannya. Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain.

Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya. Defenisi Hijab Satar atau yang sering juga dikenal sebagai hijab, dalam bahasa Arab sama-sama memiliki makna penutup.[1] Lalu apakah hijab hanya diperuntukkan bagi muslim saja atau tidak? Hijab sebenarnya diperuntukkan bagi siapa saja, hanya saja muslim mengenakannya karena merupakan sebuah kewajiban, sedang orang-orang selainnya dikarenakan adat atau hanya untuk bergaya. Hijab dikenal sebagai pakaian wanita yang menganut agama samawi atau yang tidak beragama sekalipun. Kegunaan hijab berubah dengan adanya tujuan yang berbeda-beda serta adat istiadat yang ada, sehingga jadilah hijab sebagai hiasan. Sedang yang dimaksud Islam bahwa wanita diwajibkan berhijab yaitu: wanita harus menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan tangan dari pandangan orang-orang yang bukan muhrimnya. Sejarah Hijab 1. Sebelum datangnya agama samawi: Sebenarnya tidak diketahui secara pasti kapan hijab itu dikenakan dan muncul dari mana, hanya saja dapat diperkirakan bahwa sebelum datangnya agama, hijab sudah dikenakan dan dikenal di kalangan para wanita. Gambar-gambar bersejarah peninggalan zaman Firaun memperlihatkan bahwa wanita-wanita zaman itu menggunakan penutup kepala. Hijab juga dikenakan oleh orang orang Yunani, Arab, Yahudi dan India. Sedangkan pada zaman Arab jahiliah, laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan hijab (walaupun namanya berbeda tapi fungsinya sama). Orang-orang Arab sendiri memang menganggap hijab sebagai lambang kemuliaan dan martabat bagi wanita yang mengenakannya, sehingga tak heran jika pada zaman itu pun banyak wanita yang mengenakan hijab. Selain itu, hijab juga merupakan pakaian yang sering digunakan oleh orang-orang Arab untuk menghindari badai, angin dan debu yang beterbangan saat mereka melakukan perjalanan 2. Ketika datangnya agama samawi: Saat itu, hijab sering digunakan oleh wanita yang menganut agama samawi untuk beribadah dan penyucian diri. Dalam kepercayaan mereka, hijab merupakan sarana penyucian dan merupakan sebuah hal yang suci untuk dilakukan. Dalam Kitab Injil, Perjanjian Lama, Kitab Kejadian ayat 24 diceritakan bahwa ada seorang wanita yang membuka penutup mukanya. Ketika wanita itu melihat Ishaq, ia segera turun dari untanya. Wanita itu bertanya kepada seorang budak perihal Ishaq. Budak itu mengatakan bahwa Ishaq adalah tuannya. Kemudian wanita itu kembali menutup wajahnya.[2] Dari sini dapat dipahami, bahwa wanita pada waktu itu tidak akan ke luar kecuali mengenakan hijab (penutup) terlebih dahulu dan bahkan mengenakannya ketika ingin bertemu dengan seseorang.

Jadi, hijab memang sudah terkenal di kalangan wanita sebelum dan sesudah datangnya agama samawi Wacana Hukum: Hijab sebagai Hukum Allah Pada dasarnya, manusia selalu mencari kesempurnaan melalui berbagai wasilah. Ia akan selalu berupaya untuk mengetahui apa dan bagaimanakah jalan yang dapat membawanya untuk menjadi manusia sempurna. Di sisi lain, Allah telah mengutus para Nabi, Rasulullah saww dan Aimmah Makshumin as untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan hakiki atau kepada hal-hal yang maslahat bagi manusia itu sendiri sehingga manusia tidak salah melangkah dan dapat sampai kepada tujuan penciptaan yaitu Allah swt. Nabi saww telah menjelaskan cara-cara dan bahkan langsung mencontohkannya agar kita dapat berjalan di jalan yang dikehendaki Allah dan tidak menyeleweng darinya. Cara yang telah Nabi jelaskan dan contohkan adalah berupa ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Ketaatan inilah yang merupakan jalan agar kita sampai kepada Allah swt. Hukum-hukum inilah yanga akan membawa manusia menuju cahaya Ilahi.[3] Mengapa harus Hukum Allah? Manusia memang memiliki kemampuan berfikir dan membuat hukum-hukum sendiri. Akan tetapi hukum-hukum itu tidak akan mampu membawa manusia kepada kesempurnaan karena hukumhukum itu dibuat sesuai keinginan manusia dan sebatas kemampuan berfikirnya. Apakah hukum itu merupakan maslahat atau tidak bagi manusia, akan terikat erat dengan kepentingan dan pandangan yang dimilikinya. Sehingga kesempurnaan, nilai maksimal dari hasil berfikir dan rencana pelaksanaan dari fikiran itu akan dilaksanakan sebatas nilai yang terikat oleh keterbatasan kemampuan manusia itu sendiri. Hukum atau aturan bukan saja merupakan perintah atau larangan tapi juga dapat merupakan tuntunan dan arahan untuk sampai pada tujuan tertentu. Allah-lah yang menciptakan manusia dengan lengkap dan menyediakan semua sarana bagi kehidupannya. Maka Allah-lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kehidupan manusia. Maka hukum-hukum yang datang dari Allah merupakan sarana yang sempurna untuk sampai pada tujuan sempurna yaitu Kesempurnaan Yang Maha Sempurna. Ketika manusia (baik individu maupun komunitas) berpegang teguh pada hukum-Nya maka ketaatan tersebut akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan akan terciptalah sebuah kehidupan ilahi. Jika sudah demikian, Allah pun akan mencurahkan berkat dan rahmat-Nya bagi mereka: Dan kalau saja penduduk desa tersebut beriman dan bertaqwa pasti akan Kami bukakan bagi mereka berkat dari langit. (QS: alAraf : 96) Hijab dalam Islam

Islam telah menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud berhijab, karena pada jaman sebelum Islam terdapat sebagian kecil wanita yang menggunakan hijab dengan benar dan sebagian besar lainnya menggunakan hijab secara salah, baik dalam alasan pemakaian dan pelaksanaan hijab itu sendiri. Disebutkan bahwa wanita pada pra dan awal Islam sering menggunakan gelang kaki dan perhiasanperhiasan lainnya. Mereka kadang-kadang menunjukkan perhiasan yang mereka kenakan itu dan tidak menutup aurat mereka dengan benar. Ketika mereka berjalan, suara gemerincing gelang kaki membuat wanita-wanita ini menjadi pusat perhatian orang banyak.[4] Pada dasarnya wanita-wanita ini tidak dapat dikatakan menutup atau berhijab karena mereka membuat aib sendiri. Maka turunlah surat yang mewajibkan wanita-wanita ini menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Setelah turunnya ayat al-Quran yang memerintahkan penggunaan hijab, maka wanita-wanita beserta suami atau sanak saudara dan yang ada di sekitar mereka saling mengingatkan satu sama lain untuk menggunakan hijab dengan baik. Wanita-wanita ini menggunakan kain hitam yang panjang dan lebar sehingga tertutup seluruh auratnya. Kain yang dikenakan wanita-wanita itu dulu, sekarang kita kenal sebagai abaah.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa di dalam Islam wanita bukannya tidak diperbolehkan menggunakan perhiasan sama sekali. Yang tidak diperbolehkan adalah memamerkan perhiasan yang dikenakan dengan tujuan untuk menarik perhatian orang lain. Islam bahkan menganjurkan wanita untuk memakai perhiasan dan memamerkannya kepada suaminya. Dan ganjaran pahala yang dijanjikan untuk perbuatan ini juga tidaklah sedikit.

Para ulama sepakat bahwa wanita wajib berhijab karena adanya ayat al-Quran yang memerintahkan wanita untuk berhijab. Salah satu ayat yang di gunakan sebagai dalil adalah Surah anNur ayat 31: Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Sayyid Miqdad (Ketua Maktab Perwakilan Wali Amr Muslimin, Sayyid Ali Khamenei di Libanon) berpendapat bahwa yang maksud dari ayat ini adalah bahwa wanita harus menutupi dirinya dengan baju yang dapat menutupi seluruh auratnya dan melarang menggunakan perhiasan di wajah ataupun di tangan.[5]

Jika seorang wanita keluar dari rumahnya lalu masuk dalam kumpulan masyarakat dan dia menyebabkan pria melihatnya sedang ia juga melihat pria tersebut, maka wanita ini tidak akan terlepas dari dua kemungkinan:

1. Ia keluar bukan karena suatu keperluan penting tapi atas dasar keinginannya sendiri untuk mencari perhatian pria atau agar wajah, bentuk tubuh dan gerak-geriknya dilihat dan diperhatikan. Islam memerintahkan wanita-wanita seperti ini untuk meninggalkan dan menghindari hal ini karena dapat memberikan kesan yang buruk bagi pria atau wanita. Dalam sebuah hadist disebutkan: Sesungguhnya pandangan (kepada wanita) merupakan salah satu panah dari panah iblis yang mengenai hati. 2. Ia keluar karena suatu keperluan penting sehingga keperluan itulah yang memaksanya untuk keluar. Hal ini diperbolehkan dalam Islam, asalkan keluarnya itu tidak menyalahi hukum-hukum Allah swt yakni diiringi dengan hukum syariah yang mewajibkannya menggunakan hijab ketika berkumpul bersama masyarakat. Islam hanya mewajibkan wanita menggunakan hijab ketika ia ingin keluar dari rumah dan akan bertemu dengan orang yang bukan muhrimnya. Hijab diperlukan untuk mencegah terjadinya kefasadan dan akhlak buruk yang pada akhirnya akan memberikan efek buruk pada masyarakat. Dengan hijabnya, wanita dapat bekerja dengan leluasa, terhormat dan dapat berkumpul dengan masyarakat tanpa ada keburukan atau hal yang buruk akan menimpanya atau menghalangi kerjanya karena ia bebas melaksanakan kegiatannya. Ia akan terjaga dan merasa aman, demikian juga dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.[6]

Hijab wanita bukan menjadi pembatas kebebasan di dalam berkarir malah memberikan wanita peluang yang bagus dan mudah dalam beribadah sekaligus bekerja. Banyak peluang kerja seperti dokter, guru, petani dan lainnya yang dapat diambil wanita tanpa harus melepas hijabnya. Orang lainpun akan menghormati kegigihan mereka yang selalu menjaga hijabnya dan dapat menjadi pedoman bagi wanitawanita lain untuk selalu taat di dalam melaksanakan kewajiban agama Islam.

Islam mewajibkan wanita menggunakan hijab agar wanita selalu terjaga kehormatanya karena wanita memiliki peran yang penting di dalam masyarakat. Islam juga ingin menyatakan bahwa wanita memiliki posisi yang sama dengan laki laki di dalam berjihad dan beribadah ataupun bekerja. Wanita merupakan bagian dari masyarakat yang jika wanita di dalamnya berubah maka masyarakat akan berubah pula. Adanya perubahan tersebut mungkin akan menyebar, cepat atau lambat, tetapi pada akhirnya ia akan merubah keseluruhan masyarakat.

Sebagian wanita masa kini menganggap hijab adalah adat kuno atau pakaian orang-orang yang berpikiran kuno dan fanatik terhadap agama. Wanita begini beranggapan bahwa sekarang adalah masa modern yang tidak memerlukan hijab lagi untuk menjaga kehormatan, orang akan menghormati orang

lain karena pangkat, harta atau kekuasaan yang mereka miliki, bukan karena menggunakan hijab ataupun tidak. Pandangan mereka ini dapat dikritisi karena sebenarnya wanita yang menggunakan hijab lebih modern dari wanita yang tidak berhijab. Kenapa? Karena arus pikir wanita berhijab lebih tajam dengan memikirkan hal lebih jauh yaitu hari perhitungan. Wanita yang menggunakan hijab sudah mengetahui masa depan mereka bahwa kelak akan ada hari akhir. Dengan berhijab wanita siap menghadapi masa depan yang menjanjikan kemenangan serta kebahagiaan yang abadi. Jadi wanita yang modern adalah wanita yang menggunakan hijab.

Pangkat, harta ataupun kekuasaan bukanlah sebab orang menjadi terhormat karena harta atau kekuasaan sebenarnya tidak pernah dimiliki oleh manusia. Pada hakikatnya harta dan kekuasaan hanya milik Allah swt semata. Orang yang beranggapan bahwa materilah jalan satu-satunya untuk dapat menjadi terhormat, maka ia akan selalu mengejar materi. Cara berfikir begini sangat naif. Individu yang demikian sebenarnya tidak dapat melihat hakikat materi sehingga dengan mudah dia dapat mengatakan bahwa hanya dengan materi orang akan menjadi terhormat. Pada kenyataannya banyak orang menjual diri sehingga dapat dikatakan bahwa harga diri (kehormatan) sudah tidak ada harganya karena mereka menjualnya dengan harga yang rendah. Bagaimana mereka dapat melihat harta sebagai suatu kehormatan dan kekuatan untuk menjadi sempurna?

Dapatkah uang atau harta membeli kehormatan seseorang? Jawabannya tidak. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Contoh di atas hanya berupa sebuah kiasan saja karena ada wanita yang mau menerima uang dengan balasan memberikan atau menunjukkan apa saja yang ada pada dirinya kepada orang yang telah memberikan uang. Mereka disebut sebagai orang yang murahatau rendah dan dianggap sebagai wanita-wanita yang telah menjual kehormatannya. Karena pada wanita terdapat hal-hal yang seharusnya disembunyikan atau ditutupi dari orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Akan tetapi mereka mau menunujukkannya asal ada uang untuk membayar kerugian.

Maka wanita yang mampu menutup dirinya dan menjaga dirinya memiliki suatu kehormatan besar dalam dirinya. Wanita yang tidak menganggap hijab sebagai hal yang penting maka yang akan ia dapatkan adalah celaan dan hal-hal rendah yang akan menjadikannya lemah dan orang lain akan dengan leluasa mengambil kesempatan dari kelemahan ini. Keutamaan Berhijab Di dalam kehidupannya, setiap manusia memiliki beberapa hubungan:

1. Hubungan antara dirinya dengan Allah, seperti sholat, puasa serta kewajiban-kewajiban lainnya yang telah diberikan Allah sehingga ia dapat membangun hubungan yang kuat antara dirinya dengan Allah swt. 2. Hubungan manusia dengan manusia lain, seperti menikah, jual beli dan lain sebagainya. 3. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti apa yang harus dimakan dan diminum. Hubungan ini merupakan hal penting dalam membangun keperibadian yang kukuh dan kuat serta menanamkan kemauan dalam melaksanakan suatu perbuatan karena perbuatan itu akan memberikan efek tertentu pada dirinya. 4. Hubungan manusia dengan masyarakat, seperti menjaga kebersihan atau keamanan bersama. 5. Hubungan masyarakat dengan Allah swt, seperti melaksanakan hukum Allah dan mengetahui kewajiban dan larangan umum sehingga terbentuk hubungan yang kuat dengan Allah dan tercipta kesejahteraan bersama.

Dari hubungan-hubungan di atas muncullah beberapa hak-hak, antara lain: 1. Hak manusia untuk taat kepada perintah Allah swt dan membangun dirinya, seperti ibadah. 2. Hak keluarga dan masyrakat, seperti warisan dan lain sebagainya. 3. Hak ekonomi, seperti khumus, zakat dan lain sebagainya. 4. Hak berjihad, berperang dan wajib militer untuk mempertahankan agamanya dan menjaga saudara sesama muslim. 5. Hak politik dan yang berhubungan dengannya.[7]

Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas dan menghubungkannya dengan permasalahan hijab, maka kita dapat menyimpulkan bahwa: 1. Wajib bagi kita membangun masyarakat yang islami (ilahi). Untuk membangun masyarakat islami, harus dimulai dari dari hal-hal kecil terlebih dahulu yaitu dimulai dari individu-individu, sehingga ketika individu-individu ini digabungkan akan terbentuk sebuah gabungan yang besar (masyarakat). Masalah hijab dengan sisi ketaatannya merupakan masalah yang asas (penting) dari suatu bangunan

individu kemanusiaan. Maka untuk membangun suatu bangunan masyarakat yang kokoh dan kuat kita harus menguatkan pondasinya terlebih dahulu sehingga dapat membangun bangunan yang kokoh di atasnya. Hijab merupakan pondasi karena hijab tak lain adalah iman dan takwa. Hijab dapat membawa manusia sampai kepada tingkat spiritual yang tinggi dan memahami jati dirinya yang real dan menjadikannya manusia yang sempurna. Hijab merupakan penolong atau wasilah untuk sampainya manusia kepada tingkat pemahaman maknawi yang tinggi dan agung. 2 Hijab merupakan perisai bagi wanita, karena dengan hijab kehormatan wanita akan terjaga. Islam menganggap hijab merupakan suatu hal yang penting dalam menjaga kehormatan wanita. Bukan berarti kehormatan pria tidak penting karena masalah kehormatan bukan hanya dimiliki oleh wanita saja. Hanya saja kehormatan wanita lebih ditekankan untuk terus dijaga karena pria memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding wanita (terkadang pria menzalimi wanita), maka untuk mengimbangi kekuatan ini wanita harus menjaga dirinya dengan berhati-hati melalui pemakaian hijab. 3. Dengan menjaga hijab wanita akan lepas dari dosa dan pria yang melihatnya pun tidak akan berdosa. Wanita muslim yang tidak menjaga hijabnya akan mendapat dosa dan pria bukan muhrim yang melihatnya pun akan terkena dosa. Wanita yang membuka hijabnya sama saja dengan wanita yang tidak berpakaian sama sekali dan menjadikannya rendah di hadapan orang lain. Maka hijab merupakan pengaman atau penjaga nilai kemanusiaan. 4. Kewajiban berhijab sama halnya dengan kewajiban sholat dan puasa, hanya saja kewajiban berhijab ini dikhususkan untuk wanita. Sebenarnya dengan berhijab wanita dapat membangun suatu ikatan dengan Allah swt sekaligus ikatan yang lebih luas dan besar dengan masyarakat. Manusia tidak dapat dapat membangun atau melakukan sesuatu pekerjaan besar jika hidup sendiri karena itu manusia tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya (masyarakat). Manusia memiliki hubungan dan kebutuhan dengan manusia lainnya untuk bertahan hidup dan mencapai kesempurnaan. Dengan menggunakan hijab wanita telah membuktikan komitmennya kepada Allah dan juga kepada masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang sempurna sebagaimana yang diinginkan Allah. Ketika manusia melaksanakan hukum-hukum Allah swt dengan penuh disiplin, maka ia akan dapat membangun diri dan masyrakatnya. Dengan mengetahui hubungannya dengan Allah dan adanya hak-hak dalam setiap perbuatan, manusia dapat mentaati Allah swt sehingga ia dapat menjadi manusia sempurna (insan kamil). Ketika manusia telah menjadi insan kamil, ia akan melihat dengan mata Allah dan kuat dengan kekuatan Allah swt. Contoh insan kamil adalah Nabi Muhammad saw, beliau mengetahui berbagai hal karena beliau mengetahui kebenaran dan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah swt. Beliau juga amat memahami hak Allah swt dan manusia lainnya sehingga beliau menjadi manusia yang tidak berbuat kesalahan dan terjaga dari kesalahan (makshum). Hijab di Masa Kini

Banyak wanita di zaman ini menganggap hijab membatasi kebebasan wanita di dalam beraktivitas dan berkomunikasi dengan masyarakat. Wanita seperti ini ingin menyingkirkan hijab dan menjadi wanita yang bebas. Yang mereka sebut sebagai kebebasan adalah tidak adanya larangan terhadap setiap perbuatan yang ingin mereka lakukan, seperti berkumpul dengan pria, bersenangsenang kemana saja dengan pria, atau bahkan melakukan hubungan tanpa nikah.

Padahal wanita yang menggunakan hijab bukan berarti dia tidak bebas dalam melakukan segala aktivitas yang ia inginkan atau berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Hijab menyelamatkan wanita dari kerusakan yang ada. Di zaman modern ini nilai akhlak mulai hilang dan banyak manusia yang keluar dari aturan agama. Harga diri hancur melalui interaksi bebas dan tanpa batasan hukum antara wanita dan pria. Inikah yang disebut sebagai kebebasan? Atau ia malah menghancurkan keperibadian seseorang dan memasukkannya ke dalam lembah kegelapan? Jika ini yang disebut sebagai kebebasan maka ini adalah suatu hal yang sangat sangat buruk. Kebebasan bukan berarti kita dapat menghancurkan sesuatu dengan leluasa dan berbuat seenaknya terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Setiap manusia memiliki hak atas diri sendiri dan terhadap orang lain, maka untuk memberikan hak masing-masing yang harus dilakukan adalah mengikuti aturan yang disepakati bersama sehingga tidak terjadi kerugian apa pun dalam penerimaan hak itu.

Wanita memiliki hak yang sama seperti halnya pria, wanita dapat bekerja dan beraktivitas seperti pria. Wanita yang berhijab dapat bekerja dengan terhormat dan terjaga haknya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Islam tidak mengajarkan bahwa wanita yang berhijab tidak boleh berkomunikasi dengan yang lain atau tidak boleh beraktivitas seperti halnya pria. Islam ingin menjaga kehormatan, akhlak dan hak wanita. Islam menjaga wanita dengan mengajarkan bahwa wanita dapat keluar karana ada kepentingan bukan keluar untuk dapat menjadi pusat perhatian, berghibah dan menjadi celaan orang lain. Namun sayangnya, sebagian wanita menggunakan hijab dengan menggunakan pakaian yang tidak menutupi dirinya dengan baik dari pandangan orang lain, karena pakaian yang dikenakannya amat ketat atau trasparan, sehingga bentuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Dalam hal ini, sama saja ia tidak menutup dirinya atau berhijab. Karena masih mempertunjukkan tubuhnya, tidak ada bedanya ia menggunakan baju yang transparan atau baju yang ketat karena tujuan keduanya yaitu untuk menarik perhatian orang lain.

Yang seharusnya dilakukan wanita adalah menggunakan baju yang dapat menutup seluruh auratnya tanpa memperlihatkan bentuk tubuhnya. Kita dapat melihat perbedaan antara masyrakat yang wanitanya lebih banyak menggunakan hijab, seperti Iran, dengan yang lebih sedikit, seperti di Amerika. Kerusakan dan kezaliman terhadap wanita di Iran lebih sedikit dibanding Amerika. Iran memberikan hakhak pada wanita dengan memberikan peluang dan kebebasan dalam melaksanakan semua kegiatan

yang mereka inginkan tanpa harus melepas hijab. Sedangkan di Amerika, wanita kehilangan hak untuk dapat memperbaiki sisi spiritualnya dan hak untuk menggunakan hijab tidak diberikan. Seyogyanya, berdasarkan konsep kebebasan model mereka, kezaliman, kerusakan fisik dan spiritual akan berkurang di Amerika. Namun nyatanya semakin meningkat.

Di Amerika, banyak orang yang kehilangan hubungan saudara satu sama lain atau tidak akan diterima lagi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya karena hijab yang dikenakan dan karena ketaatan mereka kepada syariat dan hukum-hukum Allah swt. Ini terjadi karena sedikitnya pemahaman masyarakat terhadap hukum Ilahi terutama dalam masalah hijab. Hijab wajib dikenakan oleh wanita dan merupakan hak wanita untuk menggunakan hijab dan taat serta berpegang teguh terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi saww. Kebanyakan orang tidak memahami akan kewajiban ini, mereka menganggap bahwa hijab hanya akan menyusahkan kehidupan atau menyebutnya sebagai hal kuno. Mereka tidak memahami bahwa hijab adalah aturan Allah. Pada dasarnya mereka tidak takut pada Allah melainkan takut pada tanggapan orang-orang yang tidak tahu menahu akan kewajiban ini.

Manusia sebenarnya sudah diberikan akal untuk berfikir dan mencari kebenaran agama ilahi. Dengan akal pula manusia dapat melihat bahwa hijab bukan hanya diperuntukkan pada zaman Nabi saja melainkan untuk selamanya, hingga hari kiamat nanti. Allah pasti mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seluruh manusia baik jaman sekarang atau yang akan datang. Semuanya sudah diatur oleh Allah swt. Tidak mungkin Allah membiarkan manusia begitu saja tanpa diberi petunjuk. Maka apa yang Allah swt perintahkan pasti berguna, baik untuk masa sekarang dan masa akan datang. Jadi hijab adalah kebutuhan wanita mulai dulu sampai saat ini dan untuk yang akan datang. Jangan takut kehilangan saudara atau takut dengan tanggapan orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran hijab dan bersyukurlah karena anda mengetahui kebenaran dan melaksanakannya sehingga anda berada dalam kebenaran. Perlu diingat bahwa wajib bagi wanita muslim yang memiliki potensi (kemampuan ilmu dan retorika) untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak masyarakat yang tidak tahu agar dapat berjalan bersama menuju kebenaran. Hijab dan Tantangan Para pencari harta yang haus akan kekuasaan duniawi selalu menginginkan orang lain agar tunduk dalam kekuasaannya. Mereka melihat bahwa orang-orang yang taat kepada agamanya akan sulit untuk tunduk dan dikuasai dan bahkan mereka berpotensi untuk menjadi pemberontak, bahkan menjadi benalu bagi kekuasaan mereka. Maka penguasa-penguasa itu berusaha menghilangkan atau merubah pemahaman orang-orang yang taat dengan agamanya. Mereka melakukan berbagai cara, memberi janjijanji kebahagiaan dunia ataupun intimidasi, dengan harapan orang-orang beragama itu lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Seperti yang terjadi di Prancis saat ini, mereka (pemerintah Prancis) melarang wanita-wanita menggunakan hijab dan mempersulit semua urusan mereka. Dalam pandangan mereka, keberadaan wanita-wanita yang masih menjaga hijabnya akan menumbuhkan manusia yang taat dan menghalangi kesempatan mereka untuk menguasai dunia. Hal inilah yang mereka takutkan.

Hijab bukanlah sebuah masalah tetapi merupakan pembebas manusia dari kekuatan zalim. Yang haus akan kekuasaanlah yang akan menyelewengkan pemahaman manusia dari kebenaraan agama Islam, sehingga apa saja yang muncul dari agama Islam menjadi hal yang bermasalah di dalam pandangan orang-orang awam. Karena sesungguhnya mereka(penguasa zalim) takut dengan kekuatan orang-orang beriman yang taat kepada perintah Allah swt. Orang-orang yang haus akan kekuasaan ini tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka akan selalu melakukan berbagai cara untuk memusnahkan segala sesuatu yang menghambat cita-cita mereka. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah melarang penggunaan hijab. Atau menyuruh orang-orang yang tidak berakhlak untuk menggunakan hijab sehingga masyrakat kemudian menilai bahwa orang yang menggunakan hijab itu buruk akhlaknya. Banyak cara lain lagi yang dilakukan oleh penguasa zalim.

Yang harus dilakukan ulama Islam adalah memberikan pemahaman yang jelas bagi orang-orang awam sehingga mereka mampu menilai bahwa hukum-hukum Allah merupakan penyelamat dan pembebas manusia. Semua ini merupakan tantangan bagi orang-orang yang taat beragama dan perlu diketahui bahwa musuh-musuh Islam tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Maka kita, muslimin, harus waspada dan selalu berpegang teguh kepada hukumhukum Allah swt sehingga tidak terjerumus dan menjadi budak orang-orang yang zalim.[8]

Kesimpulan: o Hijab merupakan salah satu hukum Allah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh wanita muslimah. Kewajiban ini tidak ada hubungannya dengan kekunoan atau tidak, kewajiban ini merupakan hal yang harus dikerjakan. Dalih kuno atau modern bukan merupakan alasan untuk tidak menggunakan hijab.

o Hijab juga merupakan wasilah bagi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan maka wanita membutuhkan hijab dalam perjalanannya menuju kesempurnaan karena menggunakan hijab pada dasarnya merupakan permasalahan taabudi. o Pembahasan sejarah atau alasan-alasan lain yang bukan syari tentang hijab menunjukkan bahwa hijab memang perlu dan harus digunakan. Ketika manusia melaksanakan kewajiban ini kemudian orang lain mendapatkan faedahnya atau sebaliknya, orang lain tidak mendapatkan faedah sama sekali bukanlah merupakan dalil untuk menggunakan hijab atau tidak menggunakannya. o Hijab juga tidak membatasi wanita dalam berkarir sebaliknya wanita dapat berkarir dengan leluasa tanpa ada hal-hal yang membuatnya berdosa bahkan ia dapat berkarir sekaligus menjalankan hukum Allah swt. o Hijab bukanlah sebuah masalah, tetapi karena sebagian kalangan yang tidak menyukai orang-orang yang taat kepada hukum Allah swt, atau menganggap mereka telah menghalangi jalan untuk meraih kenikamatan duniawi maka hijab menjadi sebuah permasalahan di mata mereka. Jadi, hijab adalah suatu kewajiban Ilahi yang harus dikerjakan. Allah memerintahkan manusia untuk melakukan segala sesuatu yang pasti berguna dan memiliki maslahat bagi hidup manusia. Inilah jalan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kesempurnaan maka manusia harus melaksanakannya untuk sampai kepada kesempurnaan tersebut.[]

Bagaimana realisasi hijab antara ikhwan dan akhwat? Apa yang dinamakan kaku dan tidak? Jawaban Assalamu alaikum Wr. Wb. Seorang isteri boleh melayani tamu-tamu suaminya di hadapan suami, asal dia melakukan tata kesopanan Islam, baik dalam segi berpakaiannya, berhiasnya, berbicaranya dan berjalannya. Sebab secara wajar mereka ingin melihat dia dan dia pun ingin melihat mereka. Oleh karena itu tidak berdosa untuk berbuat seperti itu apabila diyakinkan tidak terjadi fitnah suatu apapun baik dari pihak isteri maupun dari pihak tamu. Sahal bin Saad al-Anshari berkata sebagai berikut: "Ketika Abu Asid as-Saidi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi dan sahabat-sahabatnya, sedang tidak ada yang membuat makanan dan yang menghidangkannya kepada mereka itu kecuali isterinya sendiri, dia menghancurkan (menumbuk) korma dalam suatu tempat yang

dibuat dari batu sejak malam hari. Maka setelah Rasulullah s.a. W. Selesai makan, dia sendiri yang berkemas dan memberinya minum dan menyerahkan minuman itu kepada Nabi." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dari hadis ini, Syaikhul Islam Ibnu Hajar berpendapat: "Seorang perempuan boleh melayani suaminya sendiri bersama orang laki-laki yang diundangnya ..." . Tetapi tidak diragukan lagi, bahwa hal ini apabila aman dari segala fitnah serta dijaganya hal-hal yang wajib. Begitu juga sebaliknya, seorang suami boleh melayani isterinya dan perempuan-perempuan yang diundang oleh isterinya itu. Namu wajib diperhatikan soal etika pergaulan dalam Islam dan batas tabarruj yang selanjutnya disebut kesopanan Islam, yaitu hendaknya dia dapat menepati hal-hal sebagai berikut: A. Ghadh-dhul Bashar (menundukkan pandangan), sebab perhiasan perempuan yang termahal ialah malu, sedang bentuk malu yang lebih tegas ialah: menundukkan pandangan, seperti yang difirmankan Allah: "Katakanlah kepada orang-orang mumin perempuan hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya." B. Tidak bergaul bebas sehingga terjadi persentuhan antara laki-laki dengan perempuan, seperti yang biasa terjadi di gedung-gedung bioskop, ruangan-ruangan kuliah, perguruan-perguruan tinggi, kendaraan-kendaraan umum dan sebagainya di zaman kita sekarang ini. Sebab Maqil bin Yasar meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. Pernah bersabda sebagai berikut: "Sungguh kepala salah seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya." (Riwayat Thabarani, Baihaqi, dan rawi-rawinya Thabarani adalah kepercayaan) C. Pakaiannya harus selaras dengan tata kesopanan Islam. Wallahu alam bis-shawab. Waassalamu alaikum Wr. Wb.

Wikimu Today : Menteri Perhubungan memberi batas waktu hingga 15 Februari 2012 kepada Mandala A... Jumat, 23-03-2012

Sejarah Awal Diperintahkannya Hijab Bagi Wanita Muslim


Kamis, 25-02-2010 09:31:45 oleh: Ajeng Tiara Kanal: Opini Sebelum perintah berhijab bagi wanita diturunkan, dikisahkan dalam Sahih Bukhari, tentang kebiasaan buang hajat orang-orang pada masa Rasulullah SAW. Air untuk berwudhu sangat sulit didapat, tak jarang mereka bertayamum ataupun mandi junub dengan debu. Perkiraan saya pada masa itu tentu belum ada toilet bilas yang bisa bersih hanya dengan menekan sebuah tombol atau tuas. Apalagi eco washer yang tak perlu mengotori tangan kiri untuk melakukan tugas bersihbersihnya. Berhubung belum adanya toilet modern dan peradaban yang masih dibilang kuno, pada masa itu mereka menyediakan sebuah lahan atau tanah lapang khusus untuk buang hajat. Bersih-bersih bisa dilakukan dengan cara peper, cukup dengan tiga buah batu atau tiga helai daun kering. Orang di bagian barat belahan bumi masa kini menggantinya dengan gulungan olahan kulit pohon yang diproses menjadi serat halus yang dikenal dengan nama tissue. Entah mengapa mereka dibilang lebih modern padahal cara bebersihnya masih lebih terbelakang daripada orang timur yang kalau tidak kena air tidak nyaman rasanya. Lalu apa hubungannya dengan cara buang hajat dengan hijab? Berhubung acara buang hajat dilakukan di tanah lapang terbuka, maka ada aturan bahwa wanita hanya boleh keluar untuk buang hajat pada malam hari. Saat langit gelap dan tidak banyak orang

berkeliaran. Khalifah Umar sudah memberi ide pada Rasulullah untuk memerintahkan agar para wanita memakai hijab saat melakukan ritual tersebut. Tetapi Rasulullah mungkin punya pertimbangan sendiri sehingga ia tidak menanggapi ide Khalifah Umar tersebut. Sampai pada suatu saat, salah satu istri Rasulullah SAW yakni Saudah binti Zam'an yang keluar pada malam hari sekitar waktu Isya untuk buang hajat. Berhubung postur Saudah yang lebih tinggi dari pada wanita lain , bukan bermaksud mengintip tetapi membuat ia dengan mudahnya dikenali oleh Khalifah Umar pada saat sedang menjalankan ritual buang hajat tersebut. Berkatalah Khalifah Umar "Hai Saudah, sungguh mengenal aku pada postur tubuhmu" Sejak saat itulah Allah mulai menurunkan perintah untuk berhijab bagi kaum wanita muslim yang bisa ditemukan dalam banyak surat dan ayat dalam Al-Qur'an. Siapa yang menyangka kan, kalau sebuah aturan yang menjadi ciri khas dan kewajiban wanita muslim ini diturunkan dari sebuah kebiasaan yang sepele tapi juga wajib macam buang hajat ini.

Sumber Hadist Riwayat Bukhari

Tag/Label ajengtiara, hijab, jilbab, muslimah, opini Penilaian anda Biasa Warta terkait Lumayan Menarik Berguna

Kirim ke Teman

* Email Teman:

Pisahkan tiap email dengan titik koma. Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com * Email anda: 3 komentar pada warta ini

Kamis, 25-02-2010 14:45:17 oleh: Muhammad Affip

Bukannya memakai kerudung dan menutupi muka dengan kain dilakukan juga oleh lelaki di Arab, tebaran debu pasir saya rasa yang jadi sebab adanya kebiasaan itu.

Jumat, 26-02-2010 21:06:59 oleh: Ajeng Tiara

Mungkin maksud anda NIQAB (cadar/penutup wajah) bukan Hijab (penutup aurat)

Sabtu, 27-02-2010 19:37:53 oleh: Pandu H A

Saudariku, pahamilah makna kasiyatun ariyatun An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ariyatun. Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya. Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah. Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240) Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut. Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan, Makna kasiyatun ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang. (Jilbab Al Marah Muslimah, 125-126) Al Munawi dalam aidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ariyatun, Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya. ( aidul Qodir, 4/275) Hal yang sama juga dikatakan oleh

Tambahkan komentar anda * Nama lengkap: * Email: tidak ditampilkan untuk umum
Hal-hal yang perlu diperhatikan : - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar. - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum. - Tidak beriklan di kolom komentar ini. - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat. - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.

* Komentar:

tersedia 20

Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

<p>Your browser does not support iframes.</p>

MAU KIRIM WARTA / FOTO ? Silakan klik ikon kirim di samping, bila Anda hendak kirim warta atau foto.

Siapa saja boleh mengirim warta atau foto yang informatif.

PALING BERGUNA (bulan ini)


Jujur, Dituduh, dan Disedot Bank Mandiri Cara Mudah Melacak Pasangan Pramuka Katakan Tidak Pada Narkoba Ciri-ciri Fisik Anak Indigo, Adakah Pada Anak Anda? Pengalaman Menjadi Nasabah PT Prudential Life Assurance

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)


Pengalaman Ikut Asuransi Prudential (1375) Manakah Susu Formula Terbaik? (1272) Ciri-ciri Fisik Anak Indigo, Adakah Pada Anak Anda? (1025) Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme (973) 9 Penderitaan yang Ditanggung Anak Indigo (894) Kenakalan Remaja, Faktor Penyebab dan Tips Menghadapinya (852) Pengalaman Menjadi Nasabah PT Prudential Life Assurance (753) Osteoarthritis (pengapuran) Atau Osteoporosis (tulang keropos) ? (647) Sms Selamat Pagi (521) Arti Nama Putera-puteri Anda.... (490)

TERBARU

Master of Facebook (8): Kapan Kuliahnya Kok Tiba-tiba Diwisuda?

Master of Facebook (7): Teman Kuliah Warga Negara Asing Dua Jam Bersama Letjen TNI (Marinir/Purn) Safzen Noerdin Master of Facebook (6): Kuliah Dengan Otak Penuh Beban Harga BBM Melonjak, Kehidupan Orang Miskin Terancam Melatih Anak Terampil Berkomunikasi Master of Facebook (5): Mengapa Tak Kuliah di Unair? Menjadi Philanthropist, Kewajiban Orang Kaya Master of Facebook (4): Bagaimana Kuliah Lagi Tanpa Mengganggu Perekonomian Keluarga? Carica Dieng

50 TAG / LABEL TERPOPULER aceh anak anak-anak aneka anwar anwariansyah bisnis buku cerpen cinta dow jones film film-musik
finansial gaya hidup guru indonesia intermeso internet islam jakarta jalan jogja kehidupan kesehatan kiat korupsi kuliner menulis olahraga

opini

papua pemilu pendidikan perempuan peristiwa politik pramuka puisi

renungan ritapunto saham sby sekolah sosial tni ukirsari wall street wikimu yulius
Tag/Label:

Lorenzo: Ancaman Yamaha Tetap Stoner

ATM BCA Juanda Dibobol, Pelaku Ditangkap Penjualan Motor Bakal 12 Juta Unit Sarapan Diet dengan Rumput Laut Nyepi, Pecalang Kawal Umat Muslim Hamilton Belum Terbendung di Free Practice II

Link Wikimu

Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini


<a id="lnkw ikimu" href=" target="_blank"> <img src="http://w w w .w ik style="border:0" alt="

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL


Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu

Testimoniku: Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)

Testimoniku Terbaru: rizky pada motor tossa 100cc ranukumbolo pada Kawasaki Kaze R Don Martino pada Suzuki Shogun 125 R SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya


Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..! Suaraku: Mohammad Solehan : yap...saya juga udah lama pake simpati dan pastinya banyak sms promo yang sering nongol di hp saya apalagi kalo habis isi pulsa..... tips ; langsung jangan hiraukan...langsung delet aja

Suara kita selengkapnya... (14 komentar)

Suara Kita Terbaru: aulazqfqjkr pada Lion Air Dimasuki Penyusup bcggaytnd pada Tarif Tol Jakarta Naik 20%! rddcpmrjdey pada Benarkah SBY Tebang Pilih? DARI ADMIN

Rekan-rekan, Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar. Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke info@wikimu.com salam, 21 April 2009

Admin.
Beranda Tentang Wikimu Indeks Kanal Pasang Iklan
Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB) COPYRIGHT 2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY
Beranda

Tentang Wikimu

Indeks

Kanal Pasang Iklan

Sejarah Hijab

Murtadha Matahhari
Pengetahuan saya tentang sejarah tidaklah sempurna. Kita baru bisa memberikan pandangan tentang berbagai budaya suku dan bangsa yang ada sebelum munculnya Islam, ketika kita memiliki pengetahuan dan wawasan sejarah yang sempurna. Namun ada satu hal yang telah diterima oleh semua kalangan yaitu bahwa sebelum kedatangan agama Islam budaya hijab telah ada pada sebagian suku dan bangsa.

Pada berbagai sumber yang telah saya baca berkenaan dengan hal ini, dijelaskan bahwa telah terdapat hijab di Iran Kuno dan kaum Yahudi. Begitu pula di India, terdapat kemungkinan adanya hijab. Namun hijab yang terdapat di semua kaum ini lebih ketat dari hijab yang terdapat dalam hukum Islam. Adapun di kalangan kaum Arab Jahiliyah tidak terdapat hijab, karena hijab muncul di kalangan Arab melalui perantaraan agama Islam. Will Durant dalam The History of Civilization (Sejarah Peradaban) tentang kaum Yahudi dan kitab Talmud menuliskan: "Apabila seorang wanita melanggar ketentuan-ketentuan hukum Yahudi, seperti keluar rumah tanpa mengenakan sesuatu yang menutupi kepalanyadan berkumpul dengan orang-orang atau mengungkapkan perasaannya pada laki-laki atau berbicara dengan suara keras sehingga terdengar oleh tetangga maka suaminya berhak mentalaknya tanpa memberikan mahar."[1] Oleh karena itu, hijab yang terdapat pada kaum Yahudi lebih keras dan lebih berat dari hijab Islamsebagaimana yang akan dipaparkan pada pembahasan berikutnya secara terperinci. Dalam buku yang sama, berkaitan dengan masyarakat Iran Kuno, Will Durant berkata: "Di zaman MajusiZoroaster(penyembah api)wanita mempunyai kedudukan yang tinggi, mereka berinteraksi dengan masyarakat dengan bebas dan wajah tanpa penutup..."[2] Lantas ia melanjutkan perkataannya: "Setelah zaman Darwisy kedudukan wanita menjadi rendah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan elit (kaya). untuk Para wanita miskin terpaksa harus keluar rumah bekerja, berkumpul dengan orang-orang dan harus melindungi diri mereka sendiri. Sedangkan kebiasaan para wanita mengurung diri di dalam rumah ketika sedang haid terus berlangsung sehingga akhirnya aktivitas sosial mereka terhenti dan hal inilah yang kemudian dianggap sebagai penyebab munculnya hijab di kalangan kaum muslimin. Para wanita dari kalangan sosial atas juga tidak berani untuk keluar rumah kecuali dengan memakai penutup muka. Mereka tidak pernah diberi izin untuk berhubungan dengan laki-laki secara terang-terangan. Bahkana para wanita yang telah bersuami tidak berhak melihat laki-laki lain walaupun laki-laki itu adalah ayah atau saudara laki-laki mereka sendiri. Dari peninggalan lukisan-lukisan Iran Kuno tidak terlihat satu pun paras muka seorang wanita, begitu pula namanya..."[3] Berdasarkan penjelasan Will Durant ini, maka jelaslah bahwa hijab yang sangat ketat berlaku di Iran Kuno sehingga ayah dan saudara laki-laki sekalipun dianggap bukan muhrim bagi wanita yang telah bersuami. Lebih jauh, Will Durant berpendapat bahwa peraturan keras adat dan agama Majusi tentang wanita yang harus dikurung di dalam kamar selama masa haid dan diasingkan dari semua orang, adalah penyebab munculnya budaya hijab di zaman Iran Kuno. Peraturan dan adat seperti ini juga dikenakan bagi wanita haid di kalangan penganut agama Yahudi. Tetapi, apakah maksud Will Durant dari pernyataan: Perkara ini (mengurung wanita haid) merupakan sebab diwajibkannya hijab di kalangan wanita penganut agama Islam?. Apakah yang dimaksud adalah bahwa sebab munculnya hijab di dalam Islam adalah peraturan keras yang terjadi pada para wanita haid? Kita mengetahui bahwa tidak pernah ada peraturan seperti ini di dalam ajaran Islam. Wanita haid dalam Islam hanya mendapatkan dispensasi untuk tidak

melakukan beberapa ibadah seperti shalat dan puasa serta larangan berhubungan seksual dengan suaminya selama masa haid. Dan tidak ada larangan baginya dalam hal interaksi dengan orang lain sehingga ia terpaksa harus mengurung diri pada saat itu. Dan jika yang dimaksud Will Durant dari pernyataan tersebut adalah munculnya hijab di kalangan wanita muslim merupakan penularan dari adat dan kebiasaan penduduk Iran setelah mereka memeluk Islam, adalah sebuah analisa yang tidak benar. Karena sebelum orang-orang Iran masuk Islam, ayat-ayat yang berkaitan dengan hijab telah diturunkan. Dari ucapannya yang lain, dapat dipahami bahwa Will Durant berpendapat bahwa hijab muncul dan berkembang di antara kaum muslimin melalui perantaraan orang-orang Iran yang masuk Islam dan larangan berhubungan seksual dengan wanita haid cukup memberikan pengaruh dalam perintah mengenakan hijab bagi para wanita muslimah, atau paling tidak dalam pengasingan mereka di saat haid. Ia melanjutkan: Hubungan antara Iran dan Arab adalah salah satu penyebab meluasnya hijab dan homoseks di wilayah Islam. Laki-laki Arab pada waktu itu takut akan rayuan wanita tetapi mereka selalu tergila-gila akan hal itu. Maka mereka berusaha membalasnya dengan menutupi pengaruh alami wanita melalui sikap mendua yang biasa dimiliki para lelaki berkaitan dengan kesucian dan keutamaan wanita.[4] Sahabat Umar berkata pada kaumnya: Bermusyawarahlah dengan wanita akan tetapi kerjakanlah yang berbeda dengan pendapat mereka. Pada abad pertama, para wanita muslim tidak memakai hijab, laki-laki bisa bertemu dengan mereka, berjalan, pergi ke mesjid dan shalat bersama. Hijab baru ditetapkan pada zaman Walid Kedua (126-127 H). Pengurungan terhadap wanita muncul setelah adanya larangan bagi suami untuk berhubungan seksual dengan wanita pada saat-saat haid dan nifas mereka."[5] Di halaman lain, Will Durant menuliskan: "Rasulullah telah melarang wanita memakai baju longgar, akan tetapi sebagian orang-orang Arab tidak melaksanakan perintah ini. Pada saat itu, semua kalangan memiliki perhiasan. Para wanita memakai baju pendek dengan sabuk yang berkilauan, pakaian lebar dan berwarna-warni. Mereka mengurai rambut atau mengikatnya dengan indah dan kadang-kadang mereka memakai celak dan benang sutra hitam pada rambutnya. Biasanya mereka merias dirinya dengan permata atau bunga. Kemudian pada tahun 97 Hijriah mereka memakai penutup (cadar) wajah dari bawah mata mereka dan setelah itu kebiasaan ini menjadi meluas di kalangan mereka."[6] Sedangkan dalam karyanya tentang orang Iran Kuno, Will Durant menyatakan: "Tidak ada larangan dalam nikah mutah. Nikah mutah ini sama seperti kesenangan di kalangan orangorang Yunani dan bebas untuk dilakukan. Bahkan mereka terang-terangan melakukan dan memperlihatkannya pada masyarakat dan mereka (para wanita) hadir di perjamuan para lelaki sedangkan istri resminya dikurung di dalam rumahnya. Adat kebiasaan Iran kuno tersebut akhirnya menyebar ke dalam Islam."[7] Will Durant berbicara sedemikian rupa seolah-olah di zaman Rasulullah tidak ada secuilpun peraturan tentang hijab wanita dan beliau hanya melarang wanita memakai baju lebar! Dan sampai akhir abad pertama dan awal abad kedua para wanita muslim berinteraksi tanpa memakai hijab. Tentu saja hal ini tidak benar dan sejarah pun telah membuktikannya. Tidak bisa diragukan

bahwa wanita pada zaman jahiliah memang seperti yang dipaparkan oleh Will Durant, namun Islam telah mengadakan perombakan besar-besaran dalam hal ini. Aisyah selalu memuji-muji para wanita Anshar dan berkata demikian: "Keselamatan bagi para wanita Anshar. Setelah ayatayat surah Nur turun, tidak terlihat seorang pun dari mereka keluar rumah seperti sebelumnya. Mereka menutupi kepalanya dengan jilbab hitam, seolah-olah ada burung gagak bertengger di kepalanya."[8] Kent Gubino, dalam bukunya Tiga Tahun di Iran, meyakini bahwa hijab yang sangat keras di zaman Dinasti Sasani masih tersisa ketika Islam masuk di kalangan orang-orang Iran. Ia juga berkeyakinan bahwa hijab yang ada di Iran Sasani bukan hanya penutup bagi wanita tetapi menyembunyikan dan mengasingkan wanita di dalam rumah. Di saat yang sama, para raja dan keluarganya memperlakukan wanita dengan semena-mena. Apabila mereka melihat wanita cantik di suatu rumah, maka mereka akan mengambil dan membawanya dengan paksa. Adapun Jawahir Nehru, mantan perdana menteri India, juga berkeyakinan bahwa hijab dalam Islam muncul melalui bangsa-bangsa non muslim seperti Roma dan Iran kuno. Dalam karyanya yang berjudul Menilik Sejarah Dunia pada jilid pertama halaman 328, selain memuji-muji peradaban Islam dan perubahan yang muncul setelah Islam, ia menyatakan: "Berkaitan dengan kondisi para wanita, telah terjadi sebuah perubahan besar dan sangat menakjubkan secara berangsur-angsur. Sebelumnya, tidak adat kebiasaan hijab di kalangan para wanita Arab. Mereka hidup dalam kondisi yang tidak terpisah dan tersembunyi dari kaum laki-laki. Mereka hadir di tempat umum, pergi berlalu lalang ke masjid dan pengajian, bahkan kadang mereka sendiri yang memberikan pelajaran dan petuah. Tetapi, setelah bangsa Arab mencapai kemajuan, secara berangsur-angsur mereka meniru adat kebiasaan dua emperatur tetangga yaitu Romawi dan Persia. Bangsa Arab telah mengalahkan emperatur Roma dan mengakhiri kekuasaan emperatur Persia. Tetapi malah mereka sendiri yang tertular kebiasaan dan adat buruk kedua emperatur ini. Menurut beberapa sumber, adat kebiasaan pemisahan wanita dari laki-laki dan hijab yang terdapat di kalangan Arab muncul karena pengaruh emperatur Konstatinopel dan bangsa Persia". Adalah tidak benar jika dikatakan bahwa hanya karena pengaruh interaksi muslim Arab dengan muslim non Arab yang memeluk Islam setelahnya, hijab menjadi lebih ketat dari yang ada di zaman Rasulullah saww. Dari ungkapan Nehru dapat diambil kesimpulan bahwa dalam bangsa Romawi juga terdapat hijab (mungkin berasal dari pengaruh bangsa Yahudi) dan adat memiliki selir berasal dari bangsa Romawi dan Persia yang kemudian menyebar di kalangan para khalifah Islam. Di India pun, hijab sangat ketat dan keras. Akan tetapi belum jelas, apakah hijab di India telah ada sebelum masuknya Islam atau setelah masuknya Islam ke India? Dan apakah orang-orang Hindu menerima hijab karena pengaruh kaum muslimin khususnya kaum muslimin Iran? Namun yang pasti adalah bahwa hijab orang-orang India sangat ketat dan keras sekali, seperti hijab orang Iran Kuno. Will Durant juga menyatakan bahwa hijab di India muncul melalui perantaraan kaum muslimin Iran.[9] Sedangkan Nehru berkata: "Sangat disesalkan, tradisi buruk ini sedikit demi sedikit

menjadi bagian dari Islam. Dan penduduk India mempelajari hal itu sewaktu orang-orang Islam mendatangi wilayahnya". Nehru berkeyakinan bahwa hijab muncul di India melalui perantaraan kaum muslimin yang datang ke India. Namun, jika kita menerima bahwa salah satu sebab munculnya hijab ialah karena kecenderungan untuk bertapa dan meninggalkan segala bentuk kenikmatan, maka hijab di India telah muncul sejak masa-masa sebelum datangnya Islam. Karena kawasan India merupakan pusat lama pertapaan dan pengkebirian segala bentuk kenikmatan materi. Sementara itu, Bernard Russel dalam karyanya Pernikahan dan Etika, pada halaman 135 menyatakan: "Etika seksual yang terdapat pada masyarakat beradab (maju) bersumber pada dua hal. Pertama kecenderungan untuk konsisten pada jiwa kebapakan, kedua keyakinan para pertapa tentang tercelanya cinta. Etika seksual pada masa sebelum munculnya agama Masehi dan di kalangan para raja di kawasan Timur Jauh, hingga kini hanya bersumber pada hal pertama. Kecuali India dan Iran Kuno karena kehidupan pertapaan muncul dari sana dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia". Dengan demikian hijab telah ada sebelum kemunculan Islam dan Islam bukanlah pelopor pertama hijab. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah batasan hijab dalam Islam sama dengan batasan hijab dalam bangsa-bangsa kuno atau tidak? Begitu juga, apakah sebab dan filsafat hijab dalam pandangan Islam sama persis dengan sebab dan falsafah hijab dalam pandangan non Islam? Hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.[U Banin Jufrie] Rujukan:

[1] Will Durant , The Story of Civilization, jilid 12, hal 30. [2] Ibid, jilid 1, hal 552. [3] Ibid. [4] Ibid, jilid 11, hal 112. [5] Ibid. [6] Ibid, hal 111. [7] Ibid, jilid 11, hal 223. [8] Kasyaf, di bawah penjelasan surah Nur ayat 31. [9] Ibid, jilid 2.