Anda di halaman 1dari 21

PENANGANAN GAWAT DARURAT

Disusun Oleh: 1. Choirul Anam 2. Dwi Rosyidatun NH 3. Linda 4. Rosalia Rahayu 5. Salman 6. Yunana Tri YD

AKPER BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO 2012

A. PENGERTIAN Definisi Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat artinya perlu mendapatkan penanganan secepatnya untuk menghilangkan ancaman nyawa korban. Tubuh kita terdiri dari berbagai sel-sel, dan sel-sel ini akan tetap hidup jika pasokan oksigen tidak terhenti. Kematian ada dua jenis, yaitu mati klinis dan mati biologis. Klinis apabilla seorang penderita henti nafas dan henti jantung. Waktunya 6-8 menit setelah terhentinya pernafasan dan system sirkulasi tubuh. Sedangkan biologis mulai terjadi kerusakan sel-sel otak dan waktunya lebih dari 8 menit setelah berhentinya system pernafasan dan sirkulasi. B. LINGKUP PELAYANAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT Pelayanan keperawatan gawat darurat meliputi pelayanan keperawatan yang ditujukan kepada pasien gawat darurat yaitu pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya / anggota badannya (akan menjafi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secara cepat dan tepat. C. KETENAGAAN Peran, Fungsi dan Kewenangan Perawat Peran dan fungsi perawat gawat darurat : 1. Melakukan triage, menkaji dan menetapkan dalam spektrum yang lebih luas terhadap kondisi kinis pada berbagai keadaan yang bersifat mendadak mulai dari ancaman nyawa sampai kondisi kronis. 2. Mengkaji dan memberikan asuhan keperawatan terhadap individu-individu dari semua umur dan berbagai kondisi. 3. 4. 5. 6. Mengatur waktu secara efisien walaupun informasi terbatas. Memberikan dukungan emosional terhadap paien dan keluarganya. Memfasilitasi dukungan spiritual. Mengkoordinasi berbagai pemeriksan diagnostik dan memberikan

pelayanan secara multi disiplin. 7. Dokumentasikan dan komunikasikan informasi tentang pelayanan yang telah diberikan serta kebutuhan untuk tindak lanjut. 8. Memfasilitasi rujukan dalam rangka menyelesaikan masalah kegawat daruratan.

9.

Memfasilitsi tindak lanjut perawatan dengan memenfaatkan sumber-sumber yang ada di masyarakat.

10. Membantu idividu dalam beradaptasi terhadap kegiatan sehari-hari. 11. Menyiapkan persiapan pemulangan pasien secara aman melalui pendidikan kesehatan dan perencanaan pasien (discharge planning) 12. Mengkoordinasikan dan melaporkan kepada institusi terkait terhadap kejadian-kejadian yang dianggap perlu(kejadian kriminal,penykit

DBD,Diarhae,kecelakan lalu lintas,bencana/ KLB dan lain-lain) 13. Jika terjadi KLB/bencana komunikasi kepada seluruh tim pelayanan gawat darurat terkait,baik pelayanan pra rumah sakit,maupun intra rumah sakit. 14. Merespon secara cepat dan memfasilitasi terhadap bencana yang terdapat di komunitas dan institusi. Kewenangan Perawat a. Kewenangan seorang perawat dalam pertolongan gawat darurat didasarkan pada kemampuan perawat memberikan pertolongan gawat darurat yang diperoleh melalui pendidikan maupun pelatihan khusus. b. Perawat yang mendapat pelatihan khusus tersebut memperoleh sertifikat yang diakui oleh profesi keperawatan maupun profesi kesehatan lainnya. c. Perawat yang telah mendapat sertifikat tersebut memperoleh izin untuk melaksanakan kewenangannya. Kompetensi Perawat Gawat Darurat Berdasarkan peran dan fungsi tersebut di atas,maka perawat yang bekerja di rumah sakit harus memiliki kompetensi khusus,yang diperoleh melalui pelatihan Basic Trauma Life Suport (BTLS) dan Basic Cardiology Life Suport (BCLS) atau Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD).Sedangkan perawat yang bekerja di Puskesmas minimal memiliki kompetensi BLS. Kompetensi tersebut meliputi: pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ditingkatkan/ dikembangkan dan dipelihara sehingga menjamin perawat dapat melaksanakan peran dan fungsinya secara profesional. Kompetensi tersebut diuraikan berdasarkan pendekatan dan sistem fungsi tubuh sebagai berikut: 1. Sistem pernapasan a. Mengetahui adanya sumbatan jalan nafas b. Membebaskan jalan nafas praktek keperawatan gawat darurat sesuai lingkup

c. Memberikan nafas buatan d. Melakukan resusitasi kardio pulmoner e. Mengetahui tanda-tanda trauma torak f. Memberikan pertolongan pertama pada trauma torak 2. Sistem sirkulasi (Jantung) a. Mengetahui tanda-tanda aritmia jantung,syok b. Memberikan pertolongan pertama pada aritmia jantung c. Mengetahui adanya henti jantung d. Memberikan pertolongan pertama pada henti jantung e. Mengatur posisi baring 3. Sistem Vaskular a. Menghentikan perdarahan dengan menekan atau memasang tourniquet b. Melakukan kolaborasi untuk pemasangan infus/tranfusi 4. Sistem Saraf a. Mengetahui tanda-tanda koma dan memberi pertolongan pertama b. Memberikan pertolongan pertama pada trauma kepala c. Mengetahui tanda-tanda stroke dan member prtolongan pertama d. Mengetahui tanda-tanda kelainan neurologis e. Memberikan petolongan pertama pada kelainan neorologis 5. Sistem Immunologi a. Mengetahui tanda-tnda syok anafilaksis b. Memberikan pertolongan pertama 6. Sistem Gastro Intestinal a. Mengetahui tanda-tanda akut abdomen 7. Sistem Skeletal a. Mengetahui tanda-tanda patah tulang b. Mampu memasang bidai c. Mmpu mentransportasi penderita dengan patah tulang 8. Sistem Kulit a. Memberikan pertolongan pertama b. Memberikan pertolongan pada luka bakar 9. Sistem Farmakologi a. Mampu memberikan pertolongan pertama pada keracunan b. Mampu memberikan pertolongan pertama pada penyalagunaan obat

c. Mampu memberikan pertolonga pertama pada gigitan binatang 10. Sistem Seproduksi a. Mengenal kelainan darurat obstetric b. Mampu melakukan pertolongan pertama gawat darurat kebidanan 11. Aspek Psikologis a. Mampu mengidentifikasi gangguan psiko sosisal b. Mmpu memberikan pertolongan pertama Komponen atau fase pra rumah sakit. 1. Akses Akses dari masyarakat kedalam system adalah yang paling penting karena kalau masyarakat tidak minta tolong, maka SPGDT (system

penanggulangan penderita gawat darurat terpadu) Sebaik apapun tidak ada gunanya. Alses yang bisa dihubungi oleh masyarakat berdasarkan menparpostel adalah polisi (110), pemadam kebakaran (113), AGD (118). 2. Komunikasi. a. Pusat komunikasi (118) b. Pusat komunikasi ke RS c. Pusat komunikasi ke pusat instalasi lain d. Ambulan ke ambulan e. Ambulan ke RS Tugas pusat komunikasi Menerima permintaan tolong. Mengirim unit yang dibutuhkan. Memonitor kegiatan pertolongan. Memonitor kesiapan RS. Bekerja sama dengan instalasi lain. 3. Orang awam Mereka adalah orang pertama yang menemukan korban. Untuk dapat menyelamatkan hidup dan mencegah kecacatan korban, maka mereka harus mampu: Cara minta tolong. Cara melakukan pertolongan. Cara menghentikan perdarahan. Cara memasang bidai atau balut.

Cara transportasi yang baik. 4. Orang awam khusus. (polisi, PMK, saatpam, SAR) Orang awam khusus seperti orang awam biasa, ditambah dengan pengetahuan sesuai dengan bidangnya seperti polisi biomedik KLL, persalinan, luka tembak atau tusuk. 5. Ambulan gawat darurat 118. o AGD (URBAN) harus mampu mencapai tempat kejadian 6-8menit untuk mencegah kematian karena sumbatan jalan nafas, henti nafas, henti jantung, perdarahan massif. Tugasnya adalah: Melakukan PHCLS (pre hospital cardiac life support) dan PHTLS (pre hospital trauma life support) dan masalah gawat darurat lainnya. Berkomunikasi dengan pusat komunikasi, RS dan ambulan lainnya. Melakukan transportasi penderita dari tempat kejadian ke RS atau dari RS ke RS. Menjadi RS lapangan dalam penanggulangan bencana. o AGD (RURAL) dapat dikembangkan dengan puskesmas keliling menjadi AGD 118 rural. Peralatan cukup dengan peralatan PPGD dasar. TAHAPAN-TAHAPAN Tahap pre hospital Yang harus diperhatikan adalah menjaga airway, breathing control perdarahan, dan syok, imobilisasi penderita dan pengiriman ke rumah sakit terdekat yang cocok, sebaiknya ke suatu pusat trauma. Harus diusahakan untuk mengurangi waktu tanggap (respons time). Jangan sampai terjadi bahwa semakin tinggi tingkatan paramedic, semakin lama penderita berbeda di TKP. Harus menyertai penderita keterangan yang akan dibutuhkan dirumah sakit yaitu: waktu kejadian, sebab kejadian, riwayat penderita dan mekanisme di rumah sakit, dapat menerangkan jenis perlakuan dan beratnya perlakuan.

Tindakan pre hospital untuk orang awam


Cari bantuan dokter atau perawat atau telfon 118. Apakah keadaan aman atau bisakah anda amankan dengan menjauhkan korban dari bahaya.? Tidak. Tindakan darurat. Usahakan pengangakutan segera ke rumah sakit.

Ya. Apakah korban sadar atau merespon ketika anda panggil?

Ya. Apakah korban bernafas?

Ya. Apakah korban masih anak-anak atau bayi?

Tidak. Tindakan darurat. Periksa apakh ada cedera serius dan tangani sesuai kebutuhan. Usahakan pengangakutan segera ke rumah sakit.

Tidak. Tindakan darurat. Periksa apakh ada cedera serius dan tangani sesuai kebutuhan. Usahakan pengangakutan segera ke rumah sakit.

Ya. Tindakan darurat. Usahakan pengangakutan segera ke rumah sakit.

Tidak. Adakah tanda denyut atau kewajaran warna kulit?

Tidak. Tindakan darurat. Lakukan RJP dan nafas buatan. Lakukan sampai korban menunjukjan tanda pulih atau bantuan medis datang.

Terasakah ada denyut atau tanda peredaran darah?

Tidak. Lakukan RJP selama 1 menit. Segera bawa ke rumah sakit bila belum ada yang mencarikan. Lanjutkan penangangan korban sampai menunjukan tanda pulih atau bantuan medis datang.

Hal yang harus dilakukan tim 118 Pengkajian. Primary survey 1. Airway dan cervical control. Kaji: a. Bersihan jalan nafas. b. Ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. c. Distress pernafasan. d. Tanda perdarahan di jalan nafas, muntahan, edema laring. 2. Breathing dan ventilasi. Kaji: a. Frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada. b. Suara pernafasan melalui hidung atau mulut. c. Udaara yang dikeluarkan dari jalan nafas. 3. Circulation. Kaji: a. Denyut nadi carotis. b. Tekanan darah. c. Warna kulit, kelembapan kulit. d. Tanda perdarahan internal dan eksternal. 4. Disability. Kaji: a. Tingkat kesadaran. b. Gerakan ekstremitas. c. Glascow coma scale (GCS) d. Ukuran dan respon pupil terhadap cahaya. 5. Exposure dan environment control. Kaji: tanda trauma

sekunder.pengkajian sekunder dilakukan setelah masalah ABC yang ditemukan pada pengkajian primer diatasi. A. Pengkajian secara cepat tentang ABC 1. Pernyataan pasien tentang kepatenan jalan nafas a. Jalan nafas paten ketika bersih saan ber bicara dan tidak ada jalan nafas yang mengganganggu. b. Jika jalan nafas tidakpaten bertimbangkan bertimbangkan kebersihan daerah mulut dan menempatkan alat bantu napas. 2. Apakah pernpasan pasien efektif

a.

Pernapasan efektif ketika warna kulit dalam batasan normal dan capillary refill kurang dari 2 detik

b.

Jika pernafasan tidak efektif pertimbangkan pemberian oksigen dan penempatan alat bantu.

3. Apakah pasien merasakan nyeri atau tidak nyaman pada tulang belakang? a. Imubilitas yang nyeri atau tidak nyaman dengan collar spina jika injuri kurang dari 48 jam. b. Tembatkan leher pada collar yang keras dan imubilisasi daerah tulang belakang yang mengangkat pasien dengan stretcher. 4. Apkah serkulasi pasien efektif? a. b. Sirkulasi efektif ketika nadi redialis baik dan kulit hangat serta kering. Jika sirkulasi tidak efektif petimbangkan penempatan-penempatan pasien pada posisi recumbent, membuat jalan naps masuk didalam intravena untuk pemberian bolus cairan 200 ml. 5. Apakah ada bahaya pada pasien? a. Gunakan GCS dan hapalan AVPU untuk mengevaluasi kerusakan daya ingat akibat trauma pada pasien. b. Pada GCS nilai didapat dari membuka mata, verbal terbaik dan motorik terbaik. c. AVPU A : Untuk membantu pernyataan daya ingat pasien kesadaran respon terhadap suara dan disorientasi pada orang waktu dan tempat. V : Untuk pernyataan verbal pasein terhadap respon suara tetapi tidak berorientasi penuh pada orang waktu dan tempat. P : Untuk pernyatan nyeri pada pasien yang tidak respon pada suara tetapi respon terhadap rangsangan nyeri pada bagaimana seperti tekanan pada tangan. U : Untuk yang tidak responsive terhadap rangsangan nyeri. Pemasangan ventilator makanik untuk mempertahankan jalan napas surval primer (primary survey). Penilaian keadaan penderita dan prioritad terapi dilakukan perdasarkan jenis perlakuan, stabilitas tanda-tanda vital dan mekanisme ruda paksa, berdasarkan penilaian:

A. Airway (jalan napas) dengan control servikal. B. Breating dan vintilasi. C. Cirkultion dengan control bendarahan. D. Exposure/environmental control: buka baju penderita, tetapi cegah hipotermia. Yang penting pada fase pra-RS adalah ABC, lakukan resusitas dimna perlu, kemudian feksasi penderita, lalu transportasi. 1. Penjaga Airway dengan control servikal Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran airway. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan napas yang dapat disebab benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur larinks atau terchea. Usaha untuk menbabatkan jalan napas harus melindugi vertebra servikal karena kemungkinan patahnya tulang servikal harus selalu diperhitungkan. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift atau jaw thrustselama memeriksa dan memperbaiki jalan napas, harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstrensi, fleksi atau rotasi dari leher. Kemungkinan patahnya tulang servikal diduga bila ada: a. b. c. d. Trauma dengan penurunan kesadaran. Adanya luka karena trauma di atas klavikula. Setiap multi -trauma (trauma pada 2 regio atau lebih). Juga harus waspada terhadap kemungkinan patah tulang belakang bila biomekanik trauma mendukung. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal, harus dipakai alat imobilisasi. Bila alat imubilisasi ini harus dibuka sementara, maka kepala harus dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. Bila ada jalan napas, maka dilakukan penanganan sesuai HBD. 2. Breathing (dan ventilasi) Jalan napas yang baik tidak menjanin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernapas mutlak untuk prtukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi: fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diagfragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat.

Dada Penderita harus dibuka untuk melihat pernapasan yang baik.Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru.Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura.Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi yang berat adalah tension pneumo thorax dan hemathorax. 3. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan a. Volume Darah dan curah jantung (cardiac output) yang mungkin dapat diatasi dengan terapi yang cepat di rumah sakit Suatu keadaan hipertensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemi, sampai terbukti sebaliknya.Dengan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dan status hemodinamik penderita/ Ada 3 observasi yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik ini yakin kesadaran,warna kulit dan nadi. o Tingkat Kesadaran Bila volume darah menurun perfusi otak dapat berkurang, yang akan mengakibatkan penurunan kesadaran (walaupun demikian kehilangan darah dalam jumlah bayak belum tentu mengakibatkan gangguan kedaran). o Warna Kulit Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Penderita trauma yang kulitnya kemerahan, trauma pada wajah dan ekstremitas, jarang yang dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang pucat, merupakan tanda hopovolemia. Bila memang disebabkana hipovolemia maka ini menandakan kehilangan darah minimal 30% darah. o Nadi Nadi yang besar seperti arteri femoralis atau arteri carotis harus diperiksa bilateral, untuk kekuatan nadi,kecepatan dan irama. Pada syok nadi akan kecil dan cepat. Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan tanda normo volomia. Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda

hipovolemia, namun harus diingat sebab lain yang dapat menyebabkannya. Nadi yang tidak teratur biasanya merupakan tanda gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi dari nadi sentral arteri.

Tekanan Darah Jangan terlalu percaya pada tekanan darah menentukan syok karena a. b. Tekanan Darah sebelumnya tidak diketahui Diperlukan kehilangan volume darah lebih dari 30% untuk dapat terjadi penurunan tekanan darah c. Kontrol Perdarahan: Eksternal Internal Rongga thorax Rongga abdomen Fraktur pelvis Fraktur tulang panjang

Perdarahan hebat dikelola pada survey primer. Perdarahan eksternal dikendalikan dengan penekanan langsung pada luka JANGAN DIJAHIT DULU. Spalk udara (pneumatic splinting divice) juga dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan. Spalk jenis ini harus digunakan tembus cahaya untuk pengawasan perdarahan. Tourniquet jangan dipakai karena merusak jaringan. Pemakaian Hemostal memerlukan waktu dan dapat merusak jaringan sekitar seperti syaraf dan pembuluh darah. Perdarahan dalam rongga toraks, abdomen, sekitar fraktur atau sebagai akibat dari luka tembus, dapat menyebabkan perdarahan besar yang tidak terlihat. 4. Disability Menjelang akhir survei primer dievaluasi keadaan neurologist secara cepat. Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil. GCS (Glasgow Coma Scale) adalah sistem scoring yang sederhana dan dapat meramal kesudahan (outcome) penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau dan penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan perlukaan pada otak sendiri. Perubahan kesadaran menuntut dilakukannya pemeriksaan terhadap keadaan ventilasi, perfusi dan oksigenasi. Alkhohol dan obat-obatan dapat menganggu tingkat kesadaran penderita. Walaupun demikian bila sudah disingkirkan kemungkinan hipoksia atau

hipovolemia sebagai sebab penurunan kesadaran, maka trauma kapitis dianggap sebagai penyebabnya sampai terbukti sebaliknya. 5. Exposure, Kontrol Lingkungan Exposure dilakukan dirumah sakit, tetapi dimana perlu dapat membukak pakaian, misalnya : membuka baju untuk melakukan pemeriksaan fisik thoraks. Dirumah sakit penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya untuk evaluasi penderita. Setelah pakaian dibuka, penting agar penderita tidak kedinginan. Harus dipakaikan selimut hangat, ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah hangat. Secundary Survey a. Fokus assessment b. Head to toe assessment Survai sekunder dilakukan hanya setelah survai primer selesai,resusitasi dilakukan pada penderita stabil. Survai sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination), termasuk pemeriksaan tanda vital. Pada penderita yang tidak sadar atau gawat, kemungkinan untuk luput dalam mengdiagnosis cukup besar, dan merupakan pertolongan yang besar bagi dokter yang bertugas dirumah sakit apabila dilaporkan kelainan yang ditemukan pada survai sekunder. Sekali lagi ditekankan bahwa survey hanya dilakukan apabila penderita telah stabil. Pengkajian head to toe 1. Pengkajian kepala leher dan wajah. a. Periksa wajah. Adakah luka atau laserasi, perubahan tulang wajah dan jaringan lunak, adakah perdarahan serta benda asing. b. Periksa mata, telinga, hidung, mulut. Adakah tanda-tanda perdarahan, benda asing, deformitas, laserasi, perlukaan. c. Amati bagian kepala, adakah depresi tulang kepala, tulang wajah, kontusio atau jejas, hematom, serta krepitasi tulang. d. Kaji adanya kaku leher.

e. Nyeri tulang servikal dan tulang belakang, deviasi trachea, distensi vena leher, perdarahan, edema, kesulitan mnenelan, emfisema subkutan, dan krepitasi tulang. 2. Pengkajian dada. a. Pernafasan, irama, kedalaman dan karakter pernafasan. b. Pergerakan dinding anterior dan posterior. c. Palpasi krepitas tulang dan emfisema subcutan. d. Amati penggunaan otot bantu nafas. e. Perhatikan tanda-tanda injury atau cedera. Petekiae, perdarahan, sianosis, abrasi, dan laserasi. 3. Pengkajian abdomen dan pelvis. a. Stuktur tulang dan keadaan dinding abdomen. b. Tanda-tanda cedera eksternal, adanya luka tusuk, laserasi, abrasi, distensi abdomen, jejas. c. Masa. Besarnya, lokasi, mobilitas. d. Nadi femoralis. e. Nyeri abdomen, tipe dan lokasi nyeri. f. Bising usus. g. Distensi abdomen. h. Genitalia dan rectal. Perdarahan, cedera pada meatus, ekimosis, tonus, spinter ani. 4. Ekstremitas. a. Tanda injuri eksternal. b. Nyeri. c. Pergerakan dan kekuatan otot ekstremitas. d. Sensasi keempat anggota gerak. e. Warna kulit. f. Denyut nadi perifer. 5. Tulang belakang. a. Jika tidak didapati cedera atau fraktur tuylang belakang, maka pasien dimiringkan untuk mengamati: Deformitas tulang belakang. Tanda-tanda perdarahan. Laserasi.

Jejas. Luka. b. Palpasi deformitas tulang belakang. 6. Pemeriksaan penunjang. a. Radiologi dan scanning. b. Pemeriksaan laborat seperti gas darah

D. PENATALAKSANAAN GAWAT DARURAT Langkah 1: Proteksi diri (bisa juga memakai masker, handscon, kacamata gugle dll) Langkah 2: Amankan Lingkungan, pindahkan pasien ketempat yang aman dari bahaya atau yang kondusif untuk melakukan pertolongan. Langkah 3: Cek kesadaran korban, periksa kesadaran korban dengan menepuk bahu dan memanggil dengan suara keras. Langkah 4: Meminta bantuan (telpon Ambulans, dokter, etc), sebut lokasi kejadian dan keadaan korban dengan jelas, dan minta warga laen siapa tau ada yg bisa bantuin nolong.. Langkah 5: - Posisi korban: letakan di lantai atau alas yang keras dan rata (memudahkan kita melakukan resustasi jantung paru [rjp] nantinya gan). - Posisi penolong: berada di sebelah kanan pasien,dengan posisi kaki diantara dua bahu korban (supaya tidak memakan waktu dan menghabiskan tenaga untuk pindah2 tempat Langkah 6: A. Airway:Bebaskan jalan nafas dari sumbatan pangkal lidah, - Cross finger (jempol dan telunjuk menyilang untuk membuka mulut, sedangkan jari tengah ato jari pada tangan laen digunakan untun membersihkan mulut (finger sweep)

- Finger sweep (membersihkan mulut pasien) dengan kasa atau kain. Jangan menggunakan tisu! Karena tisu mudah menyerap air (meluber).

Membuka jalan nafas (tanpa alat) :Head tilt (tengadah kepala), Chin lift (topang dagu), Jaw thrust (angkat rahang bawah. Dilakukan pada pasien dugaan cedera leher gan, misalnya jatuh dari lantai atas)

Langkah 7:B. Breathing: Periksa apakah korban bernafas! Look, Listen and Feel! Posisi tetap chin lift & head tilt Dekatkan pipi penolong kemulut dan hidung korban, mata penolong melihat ke dada.

Benda Masuk Hidung : jangan mencoba mengorek benda tersebut dengan jari jungkirkan bayi/anak tsb dengan memegang kaki nya, punggung ditepuk2 diantara kedua belikat. Langkah 8: Jika korban TIDAK BERNAFAS:Lakukan ventilasi inisial (nafas buatan) sebanyak 2x (cepat dan dalam).

Langkah 9: C. Check Circulation (cek nadi) Cek nadi karotis (1,5-2cm dari bagian tengah leher ke arah lateral/nyamping) Tahan 5-10 detik.

Langkah 9.1: jika nadi ada, tetapi nafas tidak ada : Lakukan nafas buatan sebanyak 12x/menit ( posisi leher pasien ekstensi (head tilt), tutup hidung pasien Cek pernafasan dengan LLF (look, listen, feel) Jika tidak ada lakukan lagi ventilasi buatan sebanyak 12x/menit Cek pernafasan dengan LLF (look, listen, feel)

Jika masih tidak ada, maka lakukan evaluasi total (A.B.C) Bila kemungkinan jalan nafas masih tersumbat, cek lagi pernafasan

Jika tidak ada,lakukan lagi ventilasi, jika ada cek lagi nadi karotis Jika ada maka-> PAS (recovery position)

Langkah 9.2: Jika nadi tidak ada Lakukan kompresi jantung luar dengan perbandingn 30:2 (30x kompresi dan 2x nafas buatan) sebanyak 5 siklus Cek Nadi Jika tidak ada lakukan lagi kompresi dengan perbandingn 30:2 selama 5 siklus. Melakukan kompresi 1. Letakkan dua jari kita ke ulu hati (kalo bahasa awamnya), tp kalo bahasa kerennya itu 'procesus xipoideus'. 2. Lalu letakkan telapak tangan kita di atas dua jari itu (diatas ulu ati) 3. Kepalkan tangan diatas tangan satunya. 4. Kompresi (menekan secara berulang) dibagian itu selama 30x, dg posisi tangan tegak lurus, karena menumpu pada bahu, jadi usahakan bahu tegap) 5. Setelah 30x, berikan 2 kali nafas buatan, lanjut lagi 30x kompresi, dan begitu seterusnya sampai 5 siklus.. ini bisa dilakukan bergantian (bila ada 2 penolong) bila salah satu penolong lelah, pergantian dilakukan pada saat

menghitung..misal:"25,26 ganti -> penolong lain langsung menggantikan,trus dilanjutkan dg cepat, 27, 28, 29, 30.

setelah 5 siklus. Cek nadi, jika ada maka cek pernapasan(LLF) Jika tidak ada lakukan ventilasi buatan 12x/menit, begitu seterusnya gan (cek nadi, cek nafas) Jika ada-> PAS (recovery position) miring ke kiri.

Catatan : kompresi kedalamnya 4-5 cm Dewasa: dua tangan Anak2 : satu tangan Bayi : 2 jari masih ada pertimbangan lain sebelum melakukan pertolongan pertama ini, misalnya patah tulang rusuk, dll. Bantuan dihentikan jika : Penolong sudah lelah, Bantuan sudah dating, Pasien sudah sadar, Pasien sudah meninggal (Lihat pupil mata, akan melebar jika sudah meninggal).

DAFTAR PUSTAKA

Davidson, Sue. And Smith, Tony. 2006. Dokter di Rumah Anda. Jakarta: Dian Rakyat. Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Jogjakarta: Nuha Medika.