Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

I.

NOMOR PERCOBAAN

: IX ( Sembilan )

II.

NAMA PERCOBAAN

: Penentuan Kadar Tirosin Dalam Kasein

III.

TUJUAN PERCOBAAN

: Menentukan kadar tirosin dalam kasein serta dapat membuat kurva kalibrasinya.

IV.

LANDASAN TEORI

Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Fungsinya terutama ialah sebagai unsur pembentuk struktur sel, misalnya dalam rambut, wol, kolagen, jaringan penguhubung , membran sel, dan lain-lain. Selain itu dapat pula berfungsi sebagai katalis proses biokimia dalam sel. Protein aktif selain enzim, yaitu hormon, pebawa O2 (hemoglobin). Protein yang terikat pada gen, toksin, antibody/antigen, dan lain-lain. Protein dapat diklasifikasikan atas dasar beberapa kriteria, misalnya berdasarkan fungsinya, kelarutan, konformasi dan sebagainya. Berbagai protein globular mempunyai daya kelarutan yang berbeda di dalam air. Variabel yang mempengaruhi kelarutan ini adalah pH, kekuatan ion, sifat dielketrik pelarut dan temperatur. Pemisahan protein dari campuran dengan pengaturan pH didasarkan pada harga pH isoelektrik yang berbeda-beda untuk tiap macam protein. Pada umumnya molekul protein mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektriknya. Pada Ph isoelektriknya bebrapa protein akan mengendap dari larutan, sehingga dengan cara pengaturan pH larutan, masingmasing protein dalam campuran dapat dipisahkan satu dari yang lainnya dengan teknik yang disebut pengendapan isoelektrik. Salah satu fungsi protein adalah sebagai protein cadangan (makanan/nutrien). Protein cadangan disimpan untuk berbagai proses metabolisme dalam tubuh. Sebagai contoh misalnya : ovalbumin, merupakan protein yang terdapat pada 1 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

putih telur; kasein , merupakan protein susu; feritin merupakan tempat cadangan besi dalam limpa; zein merupakan protein dalam biji jagung. Kasein merupakan protein nutrien dan penyimpan, dan merupakan protein yang paling utama dalam susu, yang jumlahnya kira-kira 80 % dari total protein yang ada dalam susu. Protein susu terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kasein yang dapat diendapkan oleh asam dan renin dan protein whey yang dapat mengalami denaturasi oleh panas pada suhu kira-kira 65o C. Kasein terdapat dalam bentuk kasein kalsium, senyawa kompleks dari kalsium fosfat dan terdapat dalam bentuk partikel-partikel kompleks koloid yang disebut Micelles. Dalam kasein terdapat asam amino yaitu Tyrosin (Tyr).Tyrosin merupakan salah satu dari tujuh asam amino yang mempunyai gugus -R polar tetapi tidak bermuatan. Gugus R dari asam amino polar lebih larut di dalam air atau lebih hidrofilik dibandingkan asam amino non polar, karena golongan ini mengandung gugus fungsional yang membentuk ikatan hidrogen dengan air. Polaritas tyrosin disebabkan oleh gugus hidroksil yang terdapat didalamnya.. Dengan mikroskop elektron partikel-partikel kasein dalam susu segar nampak sebagai bulatan-bulatan yang terpusat dengan garis tengah sekitar 10 200 milimikron. Pasteurisasi tidak mengubah penyebaran kasein menyatu dengan butiran lemak. Partikel-partikel kasein dalam susu dapat dipisahkan dengan sentrifuga dengan kecepatan tinggi atau dengan penambahan asam. Pengasaman susu oleh kegiatan bakteri yaitu juga menyebabkan mengendapnya kasein. Bila terdapat cukup asam yang dapat mengubah pH susu menjadi kira-kira 5,2 5,3 akan terjadi pengendapan disertai dengan melarutnya garam-garam kalsium dan fosfor yang semula terikat pada protein secara berangsur-angsur. Pada titik isoelektrik pH 4,6 4,7 kasein diendapkan sehingga bebas dari semua garam anorganik. Sesudah pengendapan, kasein dapat dilarutkan kembali dengan menambah alkali sampai pH 8,5. Kasein terdiri dari campuran sekurang-kurangnya tiga komponen yang disebut kasein alpha, beta dan gamma. Kasein alpha adalah komponen utama yang jumlahnya mencapai 40 60 % dari total protein susu. Kasein dapat dirubah 2 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

menjadi lemak jika dibuat bersulfat basa dengan penambahan kapur sodium karbonat, boraks atau triethanolamine atau diubah menjadi suatu lapisan dalam pembuatan kertas. Protein juga memiliki molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asam-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein. Asam-asam amino ini terikat satu dengan yang lainnya oleh ikatan peptida. Protein mempunyai sifat yang sangat dipengaruhi oleh suhu tinggi, pH, dan pelarut organik. Jenis asam amino yang kita gunakan adalah Tirosin dengan rumus :
O OH HO NH2

Tirosin adalah salah satu jenis asam amino dalam protein. Tirosin ini mempunyai gugus fenol dan bersifat asam lemah. Tirosin dapat diperoleh dari kasein, yaitu protein dalam keju atau susu. Pada percobaan ini kita akan melakukan pemurnian tirosin dari kaseinnya dengan melarutkan tirosin ke dalam berbagai larutan yang bersifat asam, alcohol, maupun senyawa yang mengandung logam berat. Dengan demikian, kita harus memperhatikan sifat-sifat protein antara lain :

1. ionisasi Seperti asam amino, protein juga larut dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negative. Dalam suasanan asam molekul protein akan membentuk ion positif, sedangkan dalam suasana basa akan membentuk ion negative. Pada titik isolistriknya protein mempunyai muatan positif dan negative yang sama, sehingga tidak bergerak kea rah elektroda positif maupun negative apabila ditempatkan diantara kedua electrode tersebut. Ionisasi protein dapat digambarkan sebagai berikut : 3 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

protein+ kation

H+ + +proteinion zwitter

Protein memiliki titik isolistrik yang berbeda-beda sebagaimana yang tertera dalam table berikut : Tabel Titik Isolistrik Berbagai Protein : Protein Albumin telur Insulin Albumin serum Kasein Gelatine Globulin serum Fibroin Gliadin Sumber Telur Pancreas Darah Susu sapi Kulit sapi Darah Sutera Terigu pH isolistrik 4,55 4,90 5,3 5,35 4,88 4,6 4,8 4,85 5,4 5,5 2,0 2,4 6,5

Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umunya sifat fisika, dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik. Pada pH diatas titik isolistrik protein bermuatan negative, sedangkan di bawah titik isolistrik protein bermuatan negative. Oleh karena itu untuk megendapkan protein dengan ion logam, diperlukan pH larutan diatas titik isolistrik, sedangkan pengendapan oleh ion negative memerlukan pH dibawah titik isolistrik. Ion-ion posisitf yang mengendapkan protein antara lain ialah Ag+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, CU++, dan Pb++, sedangkan ion negative yang dapat mengendapkan protein adalah ion salisilat, triklorasetat, pikrat, tanat dan sulfosalisilat. Berdasarkan sifat tersebut putih teluratau susu dapat digunakan sebagai antidotum atau penawar racun apabila orang keracunan logam berat.

4 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

2. Denaturasi Protein akan mengalami koalgulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi apabila larutan protein berada pada titik isolistriknya. Protein yang terdenaturasi pada titik isolistriknya masih dapat alrut pada pH di luar titik isolistrik tersebut. Air ternyata diperlukan untuk proses denaturasi oleh panas. Disamping pH, sushu tinggi dan ion logam berat, denaturasi dapat pula terjadi oleh adanya gerakan mekanik, alcohol aseton, eter dan detergen.

3. Viskositas. Viskositas adalah tahanan yang timbul karena adanya gesekan antara molekulmolekul di dalam zat cair yang mengalir. Suatu larutan protein dalam air mempunyai viskositas atau kekentalan yang relative besar daripada viskositas air sebagai pelarutnya.

4. Kristalisasi Banyak protein yang telah diperoleh dalam bentuk kristal. Meskipun demikian proses kristalisasi untuk berbagai jenis protein tidak selalu sama, artinya ada yang dengan mudah dapat terkristalisasi, tetapi ada pula ynag sukar.

5. Sistem Koloid Molekul protein apabila dilarutkan dalam air mempunyai sifat koloid, yang tidak dapat menembus membrane atau kertas perkamen.

Pemurnian Protein Langkah awal yang dalam pemurnian protein ini ialah menentukan bahan alam yang akan diproses. Penentuan ini didasarkan pada kadar protein yang terkandung didalamnya. Tentu saja dipilih bahan alam yang mempunyai kadar protein tinggi dan mudah diperoleh. Analisis terhadap kadar protein dalam bahan alam tersebut perlu dilakukan untuk memperoleh data tentang kadar protein yang 5 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

akan dimurnikan. Setelah itu protein akan dilarutkan ke dalam air atau pelarut lainnya. Namun, disini juga harus diperhatikan sushu dan pH larutan agar tidak merusak protein. Dalam percobaan ini untuk menentukan kadar atau konsentrasi protein ini kita menggunakan spectrometer yang berfunsgi untuk menentukan transmittan maupun adsorbannya.

6 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

V.

ALAT DAN BAHAN

Alat : tabung reaksi gelas ukur beker gelas spectrometer Erlenmeyer Refluks kondensor Penangas air Statif dan klem Pipet tetes Corong Pemisah

Bahan : Kasein 1 gram NaOH 6 N 20 ml H2SO4 7 N 30 ml LarutanTirosina standard 1 ml HgSO4 (5%) 3 ml H2SO4 5 N H2SO4 7 N 2 ml NaNO2 (0,2%) 2 ml 12 ml air

VI.

PROSEDUR PERCOBAAN

Hidrolisa 1 gm kaseina dengan 20,0 ml NaOH 6 N pada reflks kondensor dalam penangas air selama 4 jam. Tanbahkan hati-hati 30 ml H2SO4 7 N.Campur. Tempatkan 1,0 ml hidrolisat ke dalam tabung yang bersih dan kering . Pada tabung-tabung lain pipet masing-masing 1 ml larutan tirosin standart dengan 5 macam kadar yang berbeda. Tambahkan 3 ml CuSO4 5 % dalam H2SO4 5 N pada semua tabung. Panaskan dalam penangas air yang mendidih selama 10 menit . Dinginkan dan tambahkan ke dalam masing-masing tabung 2 ml H2SO4 7 N dan 2 ml NaNO2 0,2 %. Campur dan tambahkan 12 ml air ke dalam masing-masing tabung. Baca ekstingsinya pada spektrofotometer dengan maks 470 nm.

7 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

VII.

HASIL PENGAMATAN

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

LARUTAN 0,1 % 0,2 % 0,3 % 0,4 % 0,5 % 0,6 % 0,7 % 0,8 % 0,9 % 1% Sampel Tirosin

ABSORBAN 0,174 0,289 0,402 0,511 0,723 0,916 1,076 1,215 1,427 1,808 1,074

8 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

VIII.

ANALISA DATA

Perhitungan regresi linier konsentrasi terhadap adsorbannya : X = konsentrasi Y = Adsorban (X) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 55 ABSORBAN ( Y ) 0,174 0,289 0,402 0,511 0,723 0,916 1,076 1,215 1,427 1,808 8,541 XY 0,174 0,578 1,206 2,044 3,615 5,496 7,532 9,72 12,843 18,08 61,288 X2 1 4 9 16 25 36 49 64 81 100 385

Slope( A)

N . XY X . Y N . X 2 X
2

10 (61,288 ) (55 )(8,541 ) 10 (385 ) 55


2

612,88 469,755 143,125 0,17 3850 3025 825

Intersept( B)

Y . X 2 . X . XY N . X 2 X
2

(8,541 )( 385 ) (55 )( 61,288 ) 10 (385 ) 55


2

9 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

3288,285 3370,84 82,555 0,10 3850 3025 825

Persamaan Regresi Linier :Y = AX + B Kurva standar : Y = 0,17X - 0,10


X Y 0 -0,10 1 0,07 2 0,24 3 0,41 4 0,58 5 0,75 6 0,92 7 1,09 8 1,26 9 1,43 10 1,6

Kurva Tirosin dalam Kasein


1.8 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 -0.2 0.07 0 -0.1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0.24 0.41 0.58 0.75 0.92 1.26 1.09 1.43 1.6

Konsentrasi protein yang sebenarnya dalam larutan Albumin :

Konsentrasi Larutan pada saat 0,1 % Y = 0,174 0,174 = 0,17X - 0,10 X = 1,61

Konsentrasi Larutan pada saat 0,2 % Y = 0,289 0,289= 0,17X - 0,10 X = 2,28

Konsentrasi Larutan pada saat 0,3 % Y = 0,402 10

PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

0,161 = 0,17X - 0,10 X

= 2,95

Konsentrasi larutan pada saat 0,4 % Y = 0,511 0,186 = 0,17X - 0,10 X = 3,59

Konsentrasi larutan pada saat 0,5 % Y = 0,723 0,252 = 0,17X - 0,10 X = 4,84

Konsentrasi larutan pada saat 0,6 % Y = 0,916 0,288 = 0,17X - 0,10 X = 5,97

Konsentrasi larutan pada saat 0,7 % Y = 1,076 0,292 = 0,17X - 0,10 X = 6,91

Konsentrasi larutan pada saat 0,8 % Y = 1,215 0,295 = 0,17X - 0,10 X = 7,73

Konsentrasi larutan pada saat 0,9 % Y = 1,427 0,298 = 0,17X - 0,10 X = 8,98

Konsentrasi larutan pada saat 1 % Y = 1,808 0,307 = 0,17X - 0,10 X =11,22 11

PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

Kurva Pada Absorban dan Konsentrasi

X Y

1,61

2,28

2,95

3,59

4,84

5,97

6,91

7,73

8,98

11,22

0,174 0,289 0,402 0,511 0,723 0,916 1,076 1,215 1,427 1,808

Kurva hubungan antara absorban dan konsentrasi pada larutan tirosin dalam kasein
2 1.8 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1.61 2.28 2.95 3.59 4.84 5.97 6.91 7.73 8.98 11.22 0.174 0.289 0.402 0.511 0.723 1.076 0.916 1.215 1.427 1.808

12 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

IX.

REAKSI
O O

HO

NH 3

NaOH
HO NH2

Na

H2O

O
O

2 HO NH 3
+

H2SO 4 2
HO NH 3
+

OH

SO 4

O OH HO NH2

HgSO 4

O C O Hg CH 2 CH NH 2
++

O O C

+
OH

SO 4

HO

NH 2 CH CH 2

13 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

X.

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini dilakukan untuk menentukan besar kandungan atau kadar tyrosin yang ada dalam kasein yang telah dibuat pada percobaan

sebelumnya. Di mana kasein yang diperoleh berasal dari susu yang mengandung protein. Pada percobaan ini digunakan 1 gram kasein. Kasein ini kemudian direfluks kondensor dalam penangas air dengan penambahan larutan NaOH dan asam sulfat untuk menghidrolisa kasein tersebut sehingga dibebaskan asam amino tyrosin yang terkandung di dalam kasen tersebut. Saat kasein dihidrolisa dengan NaOH, kasein akan tercampur dan terikat secara sempurna dalam suhu yang stabil sehingga larutan bersifat basa. Dan ketika larutan ditambahkan dengan asam sulfat, maka akan terjadi pengikatan asam oleh basa dalam larutan kasein itu. Kemudian kandungan alkohol yang terdapat dalam larutan ini akan dilepaskan sehingga akan menimbulkan warna. Warna larutan yang ditimbulkan dari hasil refluks ini adalah cokelat. Setelah itu larutan tyrosin ini ditambahkan dengan 3 ml HgSO4 5 % dalam H2SO4 5 N dipanaskan menghasilkan larutan bening, didinginkan dan ditambahkan larutan H2SO4 7 N dan larutan NaNO2 0,2 % larutan menjadi warna coklat kemerahan. Penambahan larutan-larutan ini bertujuan untuk membentuk kompleks berwarna. Pada percobaan ini digunakan larutan standar sebagai pengkalibrasi dan juga sebagai acuan dalam menentukan kadar minimum suatu analit yang masih bisa dideteksi oleh spektrometer (limit deteksi). Dari hasil pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 470 nm diperoleh harga absorbansi yang sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam tabung. Di mana semakin tinggi konsentrasi larutan, maka harga absorbansinya semakin besar. Dan juga dapat kita ketahui bahwa dari kelima tabung yang diuji, semakin besar konsentrasi larutan tyrosin, maka warna yang ditimbulkan dari reaksi kompleks semakin pekat sesuai dengan semakin besarnya kuantitas analit yang ada dalam larutan. Harga ini sesuai dengan hukum Lambert-Beer bahwa harga absorbans sebanding dengan konsentrasi analit yang dirumuskan melalui persamaan : A = a.b.c dimana A

14 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

adalah absorbansi, a adalah koefisien ekstingsi, b adalah lebar kuvet, dan c adalah konsentrasi analit. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penentuan kadar zat dengan menggunakan spektrofotometer yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu : analit harus memiliki gugus yang dapat menggeser serapan cahaya ke arah daerah tampak, dan juga sampel yang digunakan harus memiliki warna monokromatis (atau bersifat monokromatik). Jika sampel tidak berwarna, maka harus direaksikan dengan senyawa lain agar membentuk suatu senyawa kompleks yang berwarna (seperti yang kita lakukan pada percobaan ini). Pada pengukuran dengan spektrofotometer, analit diletakkan di dalam kuvet untuk menghindari pengaruh luar dimana kuvet yang digunakan berupa sel kaca yang permukaannya halus (bersih) dan permukaan yang kasar. Sedangkan yang digunakan untuk meneruskan energi cahaya dalam daerah tampak adalah kuvet yang halus (bersih) agar dapat meneruskan. Dan permukaan yang kasar tidak digunakan untuk meneruskan cahaya.

15 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

XI.

KESIMPULAN

1.

Tirosin adalah salah satu asam amino yang terdapat dalam protein yaitu kasein utama dalam susu. Tirosin ini memiliki gugus Fenol dan bersifat asam lemah.

2. Penambahan asam pada asam amino akan menyebabkan konsentrasi H + berikatan dengan ion COO- membentuk gugus COOH. 3. Penambahan basa pada asam amino menyebabkan konsentrasi OHmengikat ion-ion H+yang terdapat pada gugus NH3+. 4. Pada perhitungan analisa datanya, semakin besar konsentrasi larutan asam amino maka semakin besar pula nilai adsorbannya. 5. Dari hasil pengukuran diperoleh harga absorbansi yang sebanding lurus dengan konsentrasi larutan. Semakin besar konsentrasi larutan maka harga absorbansinya semakin besar. 6. Penambahan NaNO2 bertujuan untuk mengubah larutan yang awalnya bening pada saat penambahan dengan H2SO4 menjadi coklat kemerahan saat penambahan NaNO2. 7. Analit memiliki gugus kromofor yang dapat menggeser serapan cahaya kearah daerah tampak 8. Kondensor merupakan tempat terjadinya proses kondensasi dimana pada saat larutan menguap menjadi cair uapnya tidak keluar ataupun habis. 9. Semakin besar konsentrasi larutan tirosin yang digunakan, maka warna yang ditimbulkan akan semakin pekat, sesuai dengan semakin besarnya kuantitas analit yang ada dalam larutan.

16 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

XII.

DAFTAR PUSTAKA

K.A. Buckle, dkk. 1985. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia : Jakarta. Lehninger, Albert. 1995. Dasar dasar Biokimia Jilid 1, Erlangga : Jakarta.

Martoharsono, Soeharsono. 1998. Biokimia Jilid 1, Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

Wirahadikusumah, Muhamad. 1989. Biokimia Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. ITB : Bandung

17 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

XIII.

JAWABAN PERTANYAAN

1. Hitung rendemen kasein tersebut ? Jawab : 2. Buat kurva kalibarasi dari tirosin dan hitung kadar tirosin dalam kasein ? Jawab :

18 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV

XIV.

GAMBAR ALAT Gelas Ukur

Rak Tabung

Bunsen Spritus

Erlenmeyer

Tabung Reaksi

Pipet Tetes

Refluks

Botol Aquadest

Gelas Kimia

Kaki Tiga

Spatula

Kassa Asbes

Spektrometer

19 PEGI YULIANTI ( 06091410007 ) KELOMPOK : IV