Anda di halaman 1dari 2

Perang Aceh

OPINI | 07 September 2010 | 21:48 Dibaca: 2242 menilai Bermanfaat Komentar: 5 1 dari 1 Kompasianer

ACEH adalah provinsi terujung di pulau Sumatera, Indonesia. Karena alasan sejarah, Aceh diberikan otonomi khusus oleh pemerintah pusat Indonesia. Aceh pada zaman dahulu kala adalah negeri yang amat kaya dan makmur. Kekusaannya mencapai bagian barat Minangkabau dan Perak di Malaysia. Aceh juga telah menjalin hubungan Internasional dengan negara-negara dunia seperti Belanda, Inggris dan Turki Utsmani, Sayangnya, Aceh terlibat perang yang sangat panjang ketika Belanda mengumumkan perang pada tanggal 26 maret 1873. Namun, Belanda dibuat kewalahan karena Mereka masih tetap tidak bisa menjajah Aceh pada tahun 1883, 1892 dan 1893. Belanda pun berpikir Mereka telah gagal merebut Aceh.

Namun, keadaa berbalik karena salahseorang ahli dari universitas Leiden berpura-pura masuk Islam dan mempelajari kelemahan orang Aceh dari dalam masyarakat Aceh. Ia kemudian menyarankan kepada Belanda untuk menyerang ulama Aceh dan merangkul sultan Aceh untuk membantu Mereka dengan diming-imingi harta. Akhirnya, strategi itu berhasil. Kesultanan Aceh pada akhirnya jatuh seluruhnya pada 1904. Pada saat itu, hampir seluruh Aceh dikuasai. Pada masa setelah itu, Aceh gencar membangun hubungan dengan bangsa-bangsa lain di Nusantara. Aceh kian aktif dalam gerakan nasional Indonesia. Pada saat Jepang mengobarkan perang mengusir kolonialis Eropa dari Asia, tokoh-tokoh penting Aceh berunding dengan pihak Jepang membahas masalah kemungkinan Jepang mendarat di ACeh dan mengusir Belanda. Akhirnya, pada 9 Februari 1942, militer Jepang mendarat di ACeh. Pada awalnya, Jepang bersikap baik kepada rakyat Aceh dengan menghormati ritus dan agama Islam di Aceh. Namun, seiring bergulirnya waktu, Jepang berulah dengan melecehkan kaum perempuan Aceh. Jepang juga memerintahkan rakyat Aceh untuk membungkuk ke arah matahari ketika fajar tiba. Rakyat Aceh kemudian kembali melawan. Perlawanan paling terkenal adalah perlawanan Tengku Abdul Jalil, seorang ulama dari daerah Bayu, Lhokseumawe.

Ketika seluruh wilayah Indonesia direbut kembali oleh Belanda pada agresi Belanda yang kedua, Aceh melalui radio RRI Rimba Raya dengan lantang mengatakan bahwa Indonesia belum sepenuhnya direbut oleh Belanda karena masih ada ACeh yang tidak berhasil diduduki oleh Belanda. Sebelumnya, telah terjadi kesepakatan antara presiden Indonesia pertama, Soekarno, dengan seorang ulama, pemimpin spiritual dan panglima militer tertinggi di Aceh yang bernama Tgk. Abu Daud Beureueh. Pada saat itu, Soekarno meminta rakyat Aceh untuk memberi sumbangan berupa harta dan perlawanan karena memang ACeh dikenal sangat susah ditaklukkan oleh Belanda. Abu Daud Beureueh yang merupakan pimpinan dari Persatuan Ulama Seluruh Aceh, menawarkan syarat dengan membebaskan rakyat Aceh menerapkan Syariat Islam di Aceh jika nanti Aceh bersedia memberi bantuan dan pada akhrinya Indonesia menang melawan Belanda. Soekarno setuju dan akhirnya Aceh menyumbangkan seluruh harta, semangat dan jiwanya untuk mempertahankan Indonesia dari kembali jatuh ke tangan Belanda. Salahsatu sumbangan yang terkenal adalah sebuah pesawat pertama Indonesia yang digunakan untuk ber diplomasi meminta dukungan ke berbagai negara dunia agar mengakui kemerdekaan Indonesia sehingga Belanda harus minggat dari Indonesia dengan aturan PBB. Namun, Aceh dikhianati. Aceh tak diberi keleluasaan untuk menerapkan syariat Islam dan bahkan provinsi Aceh digabungkan dengan provinsi Sumatera Utara yang rata-rata penduduknya adalah Kristen. Tgk. Abu Daud Beureuh yang telah berjasa menggerakkan rakyat Aceh untuk membantu Indonesia tidak menerima kenyataan tersebut dan akhrinya beliau dituduh sebagai pemberontak. Aceh memang tidak pernah luput dari sejarah perang. Mulai dari melawan Belanda, Jepang dan akhirnya berperang dengan saudara serumpunnya sendiri, yaitu pemerintahan Indonesia. Akar permasalahannya cukup pelik. Setelah perlawanan yang dilancarkan oleh Tgk. Abu Daud Beureueh berakhir dengan hasil yang tak juga diberi keleluasaan untuk menerapkan syariat Islam, perlawanan rakyat ACeh dilanjutkan oleh murid kesayangannya yang juga cucu salahsatu pahlawan perlawanan Aceh melawan Belanda, Tgk. Cik Di Tiro. Hasan tiro, itulah nama murid Tgk.Abu Daud Beureueh yang melanjutkan perlawanan rakyat Aceh dengan mendirikan organisasi GAM. GAM adalah singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka. GAM didirikan pada tanggal 1976. Setelah sekian lama berseteru dengan Indonesia yang menyebabkan banyak sekali kerugian harta dan jiwa di pihak rakyat ACeh, akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2005 GAM dan pemerintahan RI menandatangani perdamaian seteah sebelumnya Aceh di guncang gempa bumi dahsyat dan diterjang Tsunami terparah didalam sejarah dunia. Kini Aceh sedang berbenah diri untuk mengejar berbagai ketertinggalan dari provinsi lain di Indonesia yang sebelumnya terpuruk oleh konflik dan bencana Tsunami. THX.
http://politik.kompasiana.com/2010/09/07/perang-aceh/