Anda di halaman 1dari 13

Kaidah Ilal Ke 1 Wawu/Ya diganti Alif

.
Apabilah ada Wawu atau ya berharkah, jatuh sesudah harkah Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya tsb harus diganti dengan Alif seperti contoh asalnya , dan asalnya . Praktek Ilal : 1. asalnya ikut pada wazan . Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi .

2. asalnya ikut pada wazan .Ya diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi . 3. asalnya ikut pada wazan .Wawu diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi . 4. asalnya ikut pada wazan .Ya diganti Alif karena ia berharkah dan sebelumnya ada Huruf berharkah Fathah, maka menjadi *( .Alif pada lafazh dinamakan Alif Layyinah). Perhatian: (tambahan pada kaidah 15) 1. Kaidah ini berlaku pada Wau atau Ya dengan Harkah asli. Apabila harkah keduanya bukan asli atau baru, maka tidak boleh dirubah. Contoh . 2. Apabila setelah wawu atau ya itu ada huruf mati/sukun, maka diklarifikasikan sbb:
o

Jika Wawu atau Ya tsb bukan pada posisi Lam Fiil, maka tidak boleh diIlal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh: ., , Jika Wawu dan Ya tsb berada pada posisi Lam Fiil, maka tetap berlaku Kaidah Ilal ini. Contoh asalnya . Namun disyaratkan huruf yg mati/sukun setelah Wawu dan Ya tsb bukan huruf Alif dan huruf Ya tasydid, maka yang demikian juga tidak boleh di-Ilal. Contoh: ,, .

Kaidah Ilal ke 2 Huruf Wau/Ya Bina Ajwaf, dipindah pada huruf sebelumnya.

, , .
Apabila wau atau ya berharokat berada pada ain fiil Bina Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka harakat wawu atau ya tsb harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh: asalnya dan asalnya .

Praktek Ilal: asalnya ikut pada wazan . harkah wawu dipindah pada huruf sebelumnya, karena wawu-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadi asalnya ikut pada wazan harkah Ya dipindah pada huruf sebelumnya, karena Ya-nya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih yg mati/sukun, untuk menolak beratnya mengucapkannya, maka menjadi Perhatian: Perpindahan Syakal/Harakat/Tasykil/Tanda baca Wau atau Ya tersebut dalam Kaidah ini, tidak berlaku apabila setelah Wawu atau Ya terdapat Huruf yang di-tasydid-kan. Contoh:

Kaidah Ilal Ke 3

, , . ,
Apabila ada wawu atau ya jatuh sesudah alif zaidah, maka harus diganti hamzah, dengan syarat wau atau ya tersebut berada pada Ain Fiil kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah bentuk masdar. Contoh: asalnya dan asalnya dan asalnya Praktek Ilal: 1. asalnya ikut pada wazan . wawu diganti Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada Ain Fiil Isim Fail, maka menjadi 2. asalnya ikut pada wazan . Ya diganti Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada Ain Fiil Isim Fail, maka menjadi 3. asalnya ikut pada wazan wawu diganti Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada akhir kalimah Isim Masdar, maka menjadi . 4. asalnya ikut pada wazan Ya diganti Hamzah, karena jatuh sesudah Alif Zaidah dan berada pada akhir kalimah Isim Masdar, maka menjadi . Kaidah Ilal ke 4

.
2

Apabila wau dan ya berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka wau diganti ya. Kemudian ya yang pertama di-idgham-kan pada ya yang kedua. Contoh lafadz asalnya adalah dan asalanya adalah Praktek Ilal: 1. asalnya mengikuti wazan . wau diganti ya karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi . Kemudian ya yang pertama di-idghamkan pada ya yang kedua karena satu jenis, maka menjadi 2. asalnya mengikuti wazan . wau diganti ya karena berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka menjadi . Kemudian ya yang pertama di-idghamkan pada ya yang kedua karena satu jenis, maka menjadi Kaidah Ilal ke 5


Apabila Wau atau Ya menempati ujung akhir kalimah, dan ber-harakah dhammah, maka disukunkan. Contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal: 1. asalnya mengikuti wazan . Wau di ujung akhir kalimah ber-harakah dhammah, maka disukunkan menjadi . 2. asalnya mengikuti wazan . Ya di ujung akhir kalimah ber-harkah dhammah, maka disukunkan menjadi . Perhatian: 1. asalnya mengikuti wazan . Wau diganti Ya, karena jatuh sesudah harakah kasrah, maka menjadi ,kemudan Ya disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya maka menjadi ,kemudian Ya dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya dan Tanwin, maka menjadi 2. asalnya mengikuti wazan . Ya disukunkan karena beratnya harakah dhammah atas Ya maka menjadi ,kemudian Ya dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya dan Tanwin, maka menjadi 3. asalnya mengikuti wazan wau pada fa fiil diganti Hamzah, karena kedua wau berkumpul dalam satu kalimah, maka menjadi .Kemudian Ya dibuang untuk meringankannya, maka menjadi .Dan didatangkanlah tanwin sebagai pengganti dari Ya yang dibuang, maka menjadi . Kaidah Ilal ke 6


Apabila wau menempati ujung akhir kalimah empat huruf atau lebih, dan sebelum 3

wau tidak ada huruf yang didhammahkan, maka wau tsb diganti ya. Contoh: asalnya dan asalnya . Praktek Ilal: 1. asalnya mengikuti wazan wau diganti ya, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi 2. asalnya mengikuti wazan wau diganti ya, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi Perhatian: asalnya ikut wazan . wau diganti ya, karena berada pada akhir kalimah empat huruf dan sebelumnya bukan huruf yang didhammahkan, maka menjadi kemudian ya diganti alif karena berharkah jatuh sesudah harkah fathah, maka menjadi kemudian alif dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Alif dan Tanwin, maka menjadi Kaidah Ilal ke 7


Apabila wau ada diantara harkah fathah dan kasrah nyata, dan sebelumnya ada huruf mudharaah, maka wau tersebut dibuang. Contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal: 1. asalnya mengikuti wazan . wau dibuang karena ada diantara fathah dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudharaah, maka menjadi 2. asalnya mengikuti wazan . wau dibuang karena ada diantara fathah dan kasrah nyata dan sebelumnya ada huruf mudharaah, maka menjadi . Kemudian Dhad-nya difathahkan untuk meringankan huruf ithbaq juga huruf Halaq yaitu Ain, maka menjadi Perhatian:

Huruf Mudharaah : Huruf Halaq : Huruf Ithbaq :

Kaidah Ilal ke 8


Bilmana ada Wau jatuh setelah harkah Kasrah dalam Kalimah Isim atau Kalimah

Fiil, maka Wau tersebut harus diganti Ya. Contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal: 1. asalnya ikut wazan , wau diganti Ya karena jatuh sesudah harkah kasrah, maka menjadi 2. asalnya ( praktek Ilalnya telah disebut pada Kaidah Ilal ke 5) Kaidah Ilal ke 9

.
Jika ada Wau atau Ya sukun, bertemu dengan husuf sukun lainnya, maka Wau tau Ya tersebut dibuang, ini setelah memindahkan harakah keduanya (Wau atau Ya) kepada huruf sebelumnya (lihat kaidah Ilal ke 2). Contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal: 1. asalnya mengikuti wazan ,harkah Wau dipindah ke huruf sebelumnya, karena Wau berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun (lihat Kaidah Ilal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi ,maka Wau dibuang untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, maka menjadi ,kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi 2. asalnya mengikuti wazan ,harkah Ya dipindah ke huruf sebelumnya, karena Ya berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih mati/sukun (lihat Kaidah Ilal ke 2) untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi ,maka Ya dibuang untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, maka menjadi ,kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi Kaidah Ilal ke 10


Jika ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya berkumpul dalam satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada huruf yang kedua,ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah ilal ke 18 insyaallah), karena beratnya pengulangan/memilahmilahnya. contoh asalnya dan asalnya ,dan asalnya .

Praktek Ilal:

asalnya ikut pada wazan ,huruf dal yang pertama disukunkan untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi ,kemudian huruf Dal yang pertama di-idgamkan pada huruf Dal yang kedua, maka menjadi //asalnya mengikuti wazan ,harkah Dal yang pertama dipindah pada huruf sebelumnya untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi ,bertemu dua huruf mati/sukun yaitu kedua Dal, maka Dal yang kedua diberi harkah untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, baik diberi harkah kasrah karena kaidah; apabilah ada huruf mati mau diberi harkah, berilah harkah kasrah. atau diberi harkah fathah karena ia paling ringannya harkah. atau diberi harkah dhammah, karena mengikuti harkah Ain fiil pada fiil mudharinya, maka menjadi ,//kemudian Dal yang pertama di-idgham-kan pada Dal yg kedua maka menjadi ,//kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi .// Praktek Ilal untuk lafazh ada pada Kaidah Ilal ke 18, InsyaAllah.

Kaidah Ilal ke 11 Dua Hamzah berkumpul yang kedua diganti huruf yg sesuai dengan Harakah sebelumnya
Tinggalkan komentar Go to comments

.
Jika terdapat dua huruf Hamzah berkumpul sejajar dalam satu kalimah, yang nomor dua sukun, maka huruf hamzah ini harus diganti dengan huruf yang sesuai dengan harakah Hamzah yang pertama. contoh asalnya dan asalnya . Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan ;berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti alif, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah fathah. maka menjadi


asalnya mengikuti wazan ;berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi


asalnya mengikuti wazan berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti Ya, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah kasrah. maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan ;berkumpul dua Hamzah dalam satu kalimah dan yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua tsb diganti wau, karena ia sukun dan sebelumnya ber-harkah dhammah. maka menjadi kemudian wau-nya dibuang untuk meringankan ucapan, maka menjadai selanjutnya hamzah-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi Perhatian : Wau pada lafazh dibuang untuk meringankan ucapan, sedangkan pada lafazh cukup tanpa membuang wau, karena menjaga dari keserupaan dengan fiil amar-nya lafazh .

Kaidah Ilal ke 12 Wau atau Ya sukun bukan asli jatuh setelah Fathah diganti Alif
Tinggalkan komentar Go to comments

.
Wau atau ya yang sukun, keduanya tidak boleh diganti Alif, kecuali jika sukunnya tidak asli dengan sebab pergantian harkat keduanya pada huruf sebelumnya (lihat kaidah ilal ke 2). Contoh: asalnya dan asalnya . Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan harkah wau dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih sukun, karena beratnya mengucapkan, maka menjadi ( lihat kaidah Ilal ke 2). Kemudian wau diganti alif, karena asalnya wau berharkah dan sekarang ia jatuh sesudah harkah fathah (lihat kaidah Ilal ke 1). Maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan harkah Ya dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelumnya ada huruf shahih sukun, karena beratnya mengucapkan, maka menjadi ( lihat kaidah Ilal ke 2). Kemudian Ya diganti Alif, karena asalnya Ya berharkah dan sekarang ia jatuh sesudah harkah fathah (lihat kaidah Ilal ke 1). Maka menjadi .

Kaidah Ilal ke 13 Wau akhir isim mutamakkin setelah dhammah diganti ya


Tinggalkan komentar Go to comments

.
Jika ada wau berada di akhir kalimah jatuh sesudah harkah dhammah didalam asal kalimah Isim yang Mutamakkin (bisa menerima tanwin), maka wau tsb diganti ya, kemudian setelah itu harkah dhammah diganti kasrah. Contoh: asalnya dan asalnya . Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan wau diganti ya karena berada di akhir kalimah Isim Mutamakkin dan sebelumnya ada harkah dhammah, maka menjadi kemudian huruf Thanya dikasrahkan untuk memantaskan Ya. Maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan wau diganti ya karena berada di akhir kalimah Isim Mutamakkin dan sebelumnya ada harkah dhammah, maka menjadi kemudian huruf Dalnya dikasrahkan untuk memantaskan Ya. Maka menjadi .

Kaidah Ilal ke 14 Ya sukun setelah dhammah harus diganti wau


Tinggalkan komentar Go to comments


Jika terdapat Ya sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan maka ya tersebut harus diganti wau. contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan ya yang nomor dua diganti wau karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan, maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan ya diganti wau karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan, maka menjadi .

Isim Maful dari Fiil Mutal Ain, Wau Mafulnya dibuang menurut Imam Sibawaihi Kaidah Ilal ke 15
Tinggalkan komentar Go to comments


Sesungguhnya Isim Maful jika ia terbuat dari Fiil Mutal Ain (Bina Ajwaf) maka 9

wajib membuang wau mafulnya menurut Imam Syibawaihi (menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fiilnya). contoh: asalnya dan asalnya Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan harkah wau dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelum ada huruf shahih mati untuk menolak berat maka menjadi ( lihat ilal ke 2), kemudian bertemu dua huruf mati (dua wau) untuk menolak beratnya mengucapkan maka wau mafulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi) maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan harkah Ya dipindah pada huruf sebelumnya karena ia berharkah dan sebelum ada huruf shahih mati untuk menolak berat maka menjadi ( lihat ilal ke 2), kemudian bertemu dua huruf mati (ya dan wau) untuk menolak beratnya mengucapkan maka wau mafulnya dibuang (menurut Imam Sibawaehi)maka menjadi .

Qawaidul Ilal ke 17 Huruf Ta pada wazan diganti Dal


Tinggalkan komentar Go to comments

.
Jika Fa Fiil wazan berupa huruf Dal, atau Dzal, atau Zay, maka huruf Ta (Ta zaidah wazan ) yang jatuh sesudah huruf-huruf tersebut harus diganti Dal, demi mudahnya mengucapkannya. Digantinya Ta dengan Dal karena dekatnya makhraj keduanya. contoh: asalnya dan asalnya dan asalnya . Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan Ta diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi .kemudian dal yang pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi .


10

asalnya mengikuti wazan Ta diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta yang jatuh susudah huruf Dal dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi .kemudian Huruf Dal diganti Dzal kerena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi kemudian dzal yang pertama di-idghamkan pada dzal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi ( .juga boleh dibaca Dal dengan di-ilal sbb: kemudian Huruf Dzal diganti Dal kerena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi kemudian dal yang pertama di-idghamkan pada dal yang kedua karena satu jenis, maka menjadi ).


asalnya mengikuti wazan Ta diganti Dal karena demi mudahnya pengucapan huruf Ta yang jatuh susudah huruf Zay dan karena dekatnya makhraj keduanya, maka menjadi .

Kaidah Ilal ke 18 Fa Fiil pada wazan diganti Ta


Tinggalkan komentar Go to comments

( . ) .
Jika Fa Fiil wazan berupa huruf wau, atau Ya, atau Tsa, maka huruf Fa Fiilnya tersebut harus diganti Ta karena sukarnya mengucapkah huruf Layn () sukun dengan huruf yang diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf layin ( ) bersifat Jahr sedangkan huruf Ta bersifat Hams. Contoh: asalnya dan asalnya dan asalnya ( .penting) dan apabila Fa Fiil-nya tsb berupa huruf Tsa, boleh mengganti Tanya wazan dengan Tsa, karena keduanya sama-sama bersifat Hams. contoh: asalnya .

Praktek Ilal:


asalnya mengikuti wazan Wau diganti Ta untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya,

11

karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta bersifat Hams, maka menjadi kemudian Ta pertama di-idghamkan pada Ta kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan Wau diganti Ta untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta bersifat Hams, maka menjadi kemudian Ta pertama di-idghamkan pada Ta kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi .


asalnya mengikuti wazan huruf Tsa diganti Ta karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi kemudian Ta pertama di-idghamkan pada Ta kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi Dan boleh juga dibaca Tsa dengan Praktek Ilal sbb: asalnya mengikuti wazan huruf Ta diganti Tsa karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi kemudian Tsa pertama di-idghamkan pada Tsa kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi

Penting untuk diketahui:


asalnya mengikuti wazan huruf Hamzah yang kedua diganti Ya karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf berharkah kasrah, maka menjadi kemudian huruf Ya diganti Ta (tanpa mengikuti kias*) maka menjadi . * Pergantian Ya dengan Ta tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz.

Kaidah Ilal ke 19 Huruf Ta wazan dan diganti dg huruf yang berdekatan makhrajnya
Tinggalkan komentar Go to comments


12

.
Jika Fa Fiil wazan dan berupa huruf , , , , maka boleh Ta dari kedua wazan tersebut diganti dengan huruf yang mendekati dalam Makhrajnya, kemudian huruf yang pertama di-idghamkan pada huruf yang kedua, demikian ini setelah huruf yang pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrajnya tersebut, dijadikan serupa dengan huruf yang kedua. berikut memasang Hamzah Washal agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. contoh:
asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya dan asalnya .

Praktek Ilal :


asalnya mengikuti wazan huruf Ta yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi maka Ta yang pertama di-idghamkan pada Ta yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi


asalnya mengikuti wazan huruf Ta diganti Tsa karena berdekatan Makhrojnyamaka menjadi kemudian huruf Tsa yang pertama disukunkan sebagai sebab syarat idgham maka menjadi maka Tsa yang pertama di-idghamkan pada Tsa yang kedua karena dua huruf sejenis, berikut mendatangkan Hamzah di permulaannya agar memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Maka menjadi Perhatian : Ilal dalam Kaidah ke 19 ini cuma bersifat Jaiz atau boleh, bukan suatu ketentuan musti. Sebagai pengalaman bagi kita, karena ini jarang ditemukan. dan yang banyak digunakan adalah berupa bentuk asalnya.

13

Anda mungkin juga menyukai