Anda di halaman 1dari 2

1

HUBUNGAN LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF DAERAH DALAM PERUMUSAN PERATURAN DAERAH


(Studi Kasus Proses Perumusan Perda Tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan Menurut Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 di Kabupaten Mojokerto). The Relation between Local Executives and Legislatives in Formulating the Local Regulation (A Case stuy in the process of Formulating Local Regulation on Village and Kelurahan Government According of the law number 22, 1999 on Mojokerto Regency). Didik Chusnul Yakin Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Brawijaya , Malang. Yuli Andi Gani dan M. Irfan Islamy. Dosen Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang ABSTRAK Hubungan legislatif dan Eksekutif Daerah Dalam Proses Perumusan Peraturan Daerah pada masa orde baru cenderung didominasi oleh pihak eksekutif. Dengan diberlakukannya Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan seiring dengan gencarnya Reformasi di bidang Politik telah membuka jalan dalam rangka mengubah dominasi eksekutif dalam Perumusan suatu Peraturan daerah. Permasalahan dalam penelitian adalah: 1) Bagaimana mekanisme proses perumusan Peraturan Daerah mengenai Pemerintahan Desa dan Kelurahan yang dilakukan oleh Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Mojokerto ?; 2) Bagaimana hubungan yang terjadi antara Legislatif dan Eksekutif dalam proses perumusan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan?; 3) Faktor-faktor penunjang dan penghambat apa sajakah yang mempengaruhi proses perumusan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan yang dilakukan oleh Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Mojokerto ? Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan, menganalisis dan mengintepretasikan: (1) mekanisme proses perumusan Peraturan Daerah tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan yang dilakukan oleh Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Mojokerto; (2) hubungan yang terjadi antara Legislatif dan Eksekutif dalam proses perumusan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan; (3) faktor-faktor penunjang dan penghambat yang mempengaruhi proses perumusan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan yang dilakukan oleh Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan studi kasus, dengan maksud untuk mendapatkan deskripsi yang mendalam mengenai hubungan Legislatif dan Eksekutif Daerah dalam proses perumusan Peraturan Daerah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi. Sesuai tujuan penelitian, analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu model interaktif dengan melalui prosedur pengumpulan data, penyajian data, penarikan kesimpulan/penarikan verifikasi lalu kembali lagi ke pengumpulan data apabila data

masih kurang. Sedangkan keabsahan data digunakan teknik pemeriksaan yang didasarkan atas kreteria derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan dan kepastian. Lokasi penelitian yang dipilih di Kabupaten Mojokerto dengan pertimbangan Kabupaten tersebut menurut pengamatan sementara, anggota lembaga legislatifnya telah menggunakan hak inisiatif dalam penyusunan Perda mengenai Pemerintahan Desa dan Kelurahan, dimana hal ini termasuk hal yang sangat baru setelah 33 tahun hak inisiatif tidak pernah digunakan. Disisi lain Kabupaten Mojokerto termasuk Kabupaten yang paling awal di Jawa Timur yang melakukan penyusunan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan menurut Undang undang Nomor 22 tahun 1999. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pembahasan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan di Kabupaten Mojokerto sesuai dengan Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 telah berlangsung lebih baik dibandingkan masa sebelumnya (orde baru). Tahap-tahap Pembicaraan yang telah diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD telah dilalui dengan baik dan terjadi diskusi publik. DPRD di era reformasi sekarang ini berupaya untuk memberdayakan dirinya dengan mengambil peranan yang lebih besar dalam proses perumusan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan dengan menggunakan hak inisiatifnya dalam penyusunan Perda, walaupun disana-sini masih banyak kelemahan terutama masalah kemampuan sumber daya manusia. Hubungan Legislatif dan Eksekutif Daerah dalam proses Perumusan Peraturan Daerah tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan di Kabupaten Mojokerto berlangsung lebih interaktif. Suasana Pembahasan Perda terasa lebih hidup dan semarak karena terjadi perdebatan dan diskusi. Legislatif mendominasi pembahasan Perda, berbeda dengan era sebelumnya dimana eksekutif sangat berperan. Kondisi ini menghilangkan kesan Legislatif sebagai tukang stempel (rubber stamp). Namun demikian dalam pembahasan Perda para anggota DPRD masih banyak diwarnai kepentingan golongan (partai) yang justru kontraproduktif dan menghambat terselesaikannya Perda. Faktor penunjang dalam proses penyusunan Perda tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan di Kabupaten Mojokerto adalah suasana reformasi dan kondisi daerah, Legitimasi wakil rakyat, pengalaman eksekutif dalam penyusunan Perda serta penguasaan lapangan (medan) baik oleh eksekutif maupun legislatif. Sedangkan Faktor penghambatnya adalah: Lemahnya rekrutmen Sumber daya manusia DPRD, lebih ditonjolkannya kepentingan partai, terlalu berorientasi pada materi, Peraturan Tata Tertib DPRD yang kurang akomodatif, kurang kooordinasi tim eksekutif dan sikap tidak mau mengalah dari pihak eksekutif maupun legislatif. Pada akhirnya dengan diberlakukannya Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 dimana kedudukan DPRD terpisah dengan Pemerintah Daerah, ini bukan bertujuan untuk menempatkan lembaga tersebut pada posisi saling berlawanan akan tetapi untuk menguatkan kemandirian masing-masing lembaga dan mencegah terjadinya tumpang tindih kewenangan yang terkait dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Demikian halnya dalam proses perumusan Peraturan Daerah seyogyamya DPRD (legislatif) dan Pemda (Eksekutif) bekerjasama karena mereka mempunyai kedudukan yang sama dan saling menjadi mitra (Pasal 16 ayat 2). Dengan kerjasama tersebut diharapkan akan mampu merumuskan Perda yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi dan kepentingan masyarakat.