Anda di halaman 1dari 7

TEORI AKUNTANSI

ASET OLIVIA A31109015

Aset Aset merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi semantik berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu kewajiban dan ekuitas. Aset merepresentasikan potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan badan usaha untuk menyediakan barang dan jasa. PENGERTIAN Terdapat beberapa sumber dari definis aset, diantaranya adalah menurut FASB. FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya (SFAC No. 6, prg. 25) sebagai manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Hampir sama dengan itu IASC juga mendefinisi aset sebagai suatu sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lalu yang mana manfaat ekonomis masa depan diharapakan didapatkan oleh perusahaan. Sumber lain, yaitu AASB, mendefinisi aset sebagai potensial jasa atau manfaat ekonomis yang dikendalikan oleh pelaporan entitas sebagai hasil transaksi masa lalu atau kejadian masa lalu lainnya. APB No. 4 membedakan aset menjadi sumber ekonomik dan nonsumber ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang digolongkan sebagai sumber ekonomik yaitu: sumber produktif, produk yang merupakan keluaran kesatuan usaha, uang Klaim untuk menerima uang, hak kepemilikan atau investasi pada perusahaan lain. Definisi aset dalam kaitannya dengan tiga karakteristik penting: Manfaat ekonomi masa depan Pengendalian oleh sebuah entitas Peristiwa masa lalu

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus memiliki manfaat ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Manfaat ekonomik ini ditunjukkan oleh potensi jasa atau utilitas yang melekat padanya sebagai yaitu suatu daya atau kapasitas langka yang dapat dimanfaatkan kesatuan usaha dalam upayanya untuk mendapatkan pendapatan melalui kegiatan ekonomik. Disamping manfaat ekonomik, suatu objek bisa dikatakan sebagai aset, objek tersebut tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Artinya, untuk memiliki aset harus terdapat proses yang disebut dengan transfer kepemilikan. Krtieria lain yang merupakan penyempurnaan dalam pendefinisian objek sebagai aset adalah aset merupakan akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Selain beberapa karakteristik yang telah disebutkan, FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu melibatkan kos, berwujud, tertukarkan, terpisahkan, dan berkekuatan hukum. Karakteristik pendukung tersebut lebih menguatkan atau meyakinkan adanya aset tetapi tiadanya karakteristik pendukung tidak menghalangi suatu objek untuk memenuhi syarat sebagai aset. PENGUKURAN Pengukuran bukan merupakan suatu kriteria untuk mendefinisi aset, tetapi merupakan kriteria dalam pengakuan aset. Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran manfaat ekonomik masa mendatang. Yang dimaksud pengukuran disini adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek pada saat terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut. Aliran fisis suatu objek tersebut bisa terjadi secara ekonomik dan bisa terjadi secara akuntansi. PENILAIAN Penilaian adalah pnentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu pos aset pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada periode tertentu.

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

tujuan dari penilaian aset adalah merepresentasi atribut pos-pos aset yang berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai. Penilaian dapat didasarkan pada nilai masukan atau nilai keluaran, tergantung pada tujuan merepresentasi aset. Nilai Masukan Nilai masukan didasarkan atas jumlah rupiah yang harus dikeluarkan atau dikorbankan untuk memperoleh aset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha. Nilai masukan secara konservatif menunjukkan nilai maksimum objek atau jasa yang bersangkutan. Beberapa dasar dalam penilaian yang masuk dalam kategori nilai masukan adalah; kos historis, kos pengganti, dan kos harapan. Nilai Keluaran Nilai keluaran didasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya yang diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari kesatuan usahamelalui pertukaran atau konversi. Terdapat beberapa prosedur penilaian dalam kategori nlai keluaran, yaitu:harga jual masa lalu, harga jual sekarang, dan nilai terealisasi harapan. Penilaian Menurut FASB Tanpa memperhatikan sifat masukan dan keluaran, FASB menyarankan untuk tetap menggunakan makna penilaian yang sekarang dipraktikkan. FASB mengidentifikasi lima makna atau atribut yang dapat direpresentasikan dalam berbagai atribut penilaian. Bila dikaitkan dengan aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat disarikan berikut ini: 1. Historical cost

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

2. Current (replacement) cost 3. Current market value 4. Net Realizable value 5. Present (or discounted) value of future cash flows PENGAKUAN Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi, kejadian, atau keadaan tersebut. Disamping memenuhi definisi aset, kriteria keterukuran, keterpautan, dan keterandalan harus dipenuhi pula. Adapun kondisi perlu dan kondisi cukup yang merupakan penguji yang cukup rinci untuk mengakui aset: 1. Deteksi adanya aset. Untuk mengakui aset, harus ada transaksi yang menandai timbulnya aset. 2. Sumber ekonomik dan kewajiban. Untuk mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang langka, dibutuhkan, dan berharga. 3. Berkaitan dengan entitas. Untuk mengakui aset, kesatuan usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset. 4. Mengandung nilai. Untuk mengakui aset, suatu objek harus mempunyai manfaat yang dapat ditentukan besarnya secara moneter. 5. Berkaitan dengan waktu pelaporan. Untuk mengakui aset, semua penguji di atas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan. Apa yang dikemukakan diatas sebenarnya adalah apa yang disebut dengan kaidah pengakuan yang merupakan petunjuk teknis atau prosedur untuk menerapkan empat kriteria pengakuan FASB yaitu definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Masalah akuntansi yang menyangkut pengakuan biasanya berkaitan dengan masalah apakah suatu kos atau jumlah rupiah yang terlibat dalam transaksi, kejaian, atau keadaan tertentu dapat diasetkan. Hal ini biasanya berkaitan dengan antara lain: sewaguna, bunga

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

selama masa konstruksi aset tetap, riset dan pengembangan, eksplorasi minyak dan gas bumi, rugi selisih kurs valuta asing, dan sumber daya manusia. PENYAJIAN Prinsip akuntansi berterima umum, terutama standar akuntansi menetapkan penyajian dan pengungkapan tiap pos-pos aset. Walaupun aset didefinisi secara umum sebagai manfaat ekonomik di masa datang yang dikuasai kesatuan usaha dan yang benar-benar timbul dari transaksi yang sah, tiap pos aset didefinisi lebih lanjut atau spesifik sesuai dengan sifat pos tersebut. secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan pengungkapan aset sebagai berikut: 1. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian atas dalam neraca berformat laporan. 2. Aset diklasifikasikan menjadi aset lancar dan tetap. 3. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling lancar dicantumkan pada urutan pertama. 4. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan (misalnya metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang). ISU-ISU BAGI AUDITOR Pengauditan nilai wajar menciptakan kesulitan bagi auditor karena memerlukan penerapan model penilaian, dan secara frekuensi, penggunaan dari penilaian para ahli. Pengauditan untuk nilai wajar aset telah diidentifikasi oleh Chief Executive Officer (CEO) perusahaan pengauditan global Grant Thornton LLP sebagai salah satu dari 10 topik yang top untuk penelitian lebih lanjut. Secara historis dan terutama, auditor sudah membuktikkan dengan pernyataan yang diverifikasi meskipun sebagai profesi, kami telah membahas isu-isu terkait

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

dengan penurunan nilai, sampai saat ini, tidak seperti dalam ruang lingkup yang luas sebagai nilai pengauditan yang wajar tanpa adanya pasar yang telah meminta penggunaannya. Menilai kewajaran nilai wajar dalam kondisi seprti itu membutuhkan banyak penilaian para ahli. Dalam sebuah sintesis dari penelitian sampai saat ini, Martin, Rich, dan Wilks berpendapat bahwa aset lebih (atau kewajiban) yang diukur pada nilai wajar, auditor perlu memahami lebih lanjut tentang model-model penilaian dan proses manajemen yang menentukan inputs untuk model-model, bahkan ketika spesialis penilai digunakan. Untuk pengembangan dan pendekatan audit yang efektif, auditor perlu memahami proses perusahaan klien dan pengendalian yang relevan untuk menetukan nilai wajar, dan membuat penilaian tentang apakah metode dan asumsi pengukuran perusahaan klien tepat dan cenderung memberikan dasar yang memadai untuk pengukuran nilai wajar. Martin, dkk. juga menunjukkan bahwa auditor perlu menilai potensi bias dan kesalahan manajemen yang mungkin dalam menerapkan model penilaian,

mengidentifikasi input pasar, dan membuat asumsi-asumsi yang diperlukan. Jika manajer memiliki insentif untuk melebih-lebihkan aset, maka auditor perlu menyadari komponen penting dari model penilaian yang akan membuat ini lebih mudah bagi manajer untuk dicapai. Menggunakan nilai wajar untuk aset tampil lebih menarik bagi manajemen (dan kurang berisiko bagi auditor) selama periode kenaikan nilai aset, selama investasi saham pasar meledak dalam daftar surat-surat berharga yang secara umum meningkat dan aturan akuntansi (misalnya IAS 39/AASB 139) mengharuskan mereka pada kondisi tertentu yang diukur pada nilai wajar dengan kenaikan nilai yang diakui dalam laba rugi. Penurunan saham dan pasar obligasi pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 mendorong beberapa investor dan manajer untuk menyalahkan aturan nilai akuntansi

TEORI AKUNTANSI
ASET OLIVIA A31109015

yang adil untuk membesar-besarkan kerugian bagi keuangan perusahaan. Reilly melaporkan klaim beberapa manajer bahwa karena kerugian pada investasi pada saham dan obligasi belum direalisasi, menuliskan aset tersebut adalah berlebihan gejolak pasar. Namun, usulan lain bahwa nilai wajar memberikan pengungkapan yang lebih dan investor dan manajer akan mendapatkan masalah yang lebih cepat. Kegagalan oleh tim audit untuk menggunakan prosedur yang memadai untuk mengujii dan menyimpulkan nilai aset jangka panjang (berwujud atau tidak berwujud) yang dilaporkan oleh Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) pada tahun 2007 melaporkan kesimpulan temuan-temuan dari inspeksi audit perusahaan. Kebanyakan masalah ditemukan oleh PCAOB terkait dengan pengujian nilai aset untuk pemulihan dalam model biaya historis, namun masalah serupa akan timbul ketika menilai pernyataan nilai wajar. Situasi khusus yang memerlukan penggunaan nilai wajar untuk berbagai aset dalam kombinasi bisnis. harga pembelian harus dialokasikan secara tepat untuk aset yang diperoleh dan kewajiban individu yang diasumsikan, pada neraca yang dimaksudkan sebagai goodwill. Biaya yang dialokasikan untuk goodwill didasarkan pada nilai wajar aset dan kewajiban individu pada tanggal akuisisi. PCAOB mengidentifikasi kegagalan melalui auditor untuk melakukan prosedur audit yang memadai untuk menguji alokasi dari harga pembelian dan nilai wajar yang diperkirakan diberikan untuk aset yang diperoleh.