Anda di halaman 1dari 62

BAB 3 TINJAUAN PERENCANAAN MANAJEMEN PROYEK

3.1. URAIAN UMUM MANAJEMEN PROYEK Perkembangan serta kemajuan dalam bidang teknologi dan industri telah mendorong kita untuk melakukan beberapa aspek pengelolaan dan manajemen yang dituntut memiliki kinerja, kecermatan, ekonomis, kecepatan, ketepatan, ketelitian, serta keamanan yang tinggi (safety) sesuai dengan harapan. Manajemen dari suatu kegiatan baik dalam investasi kecil maupun besar dalam skala proyek memerlukan suatu metode, sumber daya, serta penerapan ilmu yang tepat dan telah teruji kualitasnya. Proyek merupakan gabungan dari sumber daya manusia ( SDM ), material, mesin, metode dan modal atau biaya dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan sasaran. Proyek bersifat sementara dan dalam kurun waktu yang dibatasi. Biasanya suatu proyek terjadi atau terbentuk karena suatu keperluan yang mendesak yaitu adanya tuntutan pengembangan dari suatu lokasi tertentu. Defenisi dari manajemen proyek yaitu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, waktu, mutu, dan keselamatan kerja.

16

Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan manajemen proyek untuk menciptakan berlangsungnya sebuah proyek, yaitu:

3.1.1. Perencanaan (Planning) Untuk mencapai tujuan dalam suatu proyek, diperlukan adanya suatu perencanaan yang matang yaitu dengan meletakkan dasar tujuan dan sasaran suatu proyek sekaligus menyiapkan segala program teknis dan administrasi agar dapat diimplementasikan. Tujuan perencanaan yaitu agar memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan dalam batasan waktu, mutu, biaya, dan keselamatan kerja. Perencanaan proyek dilakukan dengan cara studi kelayakan, rekayasa nilai, perencanaan area manajemen proyek ( biaya, mutu, waktu, kesehatan dan

keselamatan kerja, sumber daya, lingkungan, risiko, dan sistem informasi ).

3.1.2. Penjadwalan Merupakan implementasi dari perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek yang meliputi sumber daya ( biaya, tenaga kerja, peralatan, material ), durasi dan progress waktu untuk menyelesaikan proyek. Penjadwalan proyek mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya. Proses monitoring dan updating dalam suatu proyek harus selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis agar sesuai dengan tujuan proyek. Ada beberapa metode untuk mengelola penjadwalan proyek, yaitu Kurva S ( Hanumm Curve ), Barchart, Penjadwalan Linear ( Diagram Vektor ), Network

17

Planning waktu dan durasi kegiatan. Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana semula, maka dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi.

3.1.3. Pengendalian Proyek Pengendalian proyek sangat perlu dilakukan karena akan mempengaruhi hasil akhir dari suatu proyek. Tujuannya yaitu meminimalisir segala penyimpangan yang dapat terjadi selama berlangsungnya pembangunan proyek. Selain itu tujuan dari pengendalian proyek adalah sebagai kriteria tolak ukur yang harus dimiliki oleh pihak-pihak tertentu agar terciptanya suatu bentuk optimasi dari kinerja biaya, waktu, mutu dan keselamatan kerja. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian yaitu berupa pengawasan, pemerikasaan, dan koreksi yang dilakukan selama proses implementasi serta laporan atas apa yang terjadi selama pelaksanaan.

3.2. STRUKTUR ORGANISASI PROYEK Dalam sebuah proyek konstruksi, ada 3 unsur penting proyek agar bisa berjalan dengan baik yaitu owner, konsultan dan kontraktor. Pada proyek pembangunan Apartemen Margonda Residence III ini, beberapa pihak yang saling terkait dan saling berhubungan tersebut akan dijelaskan dalam gambar di bawah.

18

Pemberi Proyek PT. Propindo Sedayu

Konsultan Pengawas PT. Idea Five

Konsultan Perencana

Kontraktor

Konsultan Struktur PT. Idea Five

Kontraktor Utama PT. Cipta Kertasari Mas

Konsultan Arsitektur PT. Megatika International

Kontraktor ME PT. Trikarsa

Konsultan ME PT. Mitra Inti Pranata

Gambar 3.1 Struktur Organisasi dan Diagram Hubungan Kerja dalam Proyek

3.2.1. Pemberi Tugas atau Pemilik Proyek ( Owner ) Owner dapat diartikan sebagai pendana proyek, pemilik proyek atau pekerjaan dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu melaksanakannya sesuai dengan perjanjian dalam kontrak kerja. Bentuk pemberi tugas ini dapat berupa lembaga pemerintah, lembaga swasta, kelompok atau perseorangan. Pemilik proyek Apartemen Margonda Residence III adalah PT. Propindo Sedayu. Adapun deskripsi dari pemilik proyek adalah sebagai berikut :

19

Tugas Pemilik Proyek 1. 2. 3. Menyediakan lahan lokasi pembangunan proyek. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek. Mengurus dan menyelesaikan perizinan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan proyek. 4. 5. 6. Memberikan tugas kepada kontraktor atau pelaksana pekerjaan proyek. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan. Memberikan keputusan dan instruksi berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, pengaturan biaya dan waktu, serta perubahan yang mungkin terjadi. 7. Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor. Wewenang Pemilik Proyek 1. 2. 3. Membuat Surat Perintah Kerja (SPK). Menandatangani berita acara pemeriksaan pekerja. Memilih konsultan perencana arsitek (untuk membuat schematic design) dan kontraktor. 4. Meminta laporan dan penjelasan tentang pelaksanaan pekerjaan kepada pelaksana proyek baik secara lisan maupun tulisan. 5. Menerima atau menolak laporan-laporan dari pengawas, baik itu yang bersifat insidental maupun periodik. 6. Menentukan jumlah pembayaran dan melaksanakan kesepakatan kontrak dengan pihak kedua dan ketiga. 7. Menetapkan pekerjaan tambahan atau pengurangan.

20

8.

Mengesahkan adanya perubahan baik didalam design maupun pelaksanaan pekerjaan.

9.

Memerintahkan pembongkaran pekerjaan yang tidak memenuhi spesifikasi teknik.

10. Mengajukan complain atas pekerjaan yang kurang sesuai dengan kesepakatan atau menetapkan denda kepada kontraktor jika terjadi keterlambatan dalam menyelesaikan pekerjaan. 11. Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak.

3.2.2. Konsultan Pengawas Untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor, umumnya owner akan menunjuk badan atau perseorangan sebagai konsultan pengawas proyek agar segala pekerjaan yang dilakukan oleh pihak kontraktor sesuai dengan rancangan yang telah dibuat dan mutu pekerjaannya dapat tercapai secara maksimal. Pada proyek pembangunan Apartemen Margonda Residence III ini, konsultan pengawas adalah PT. Idea Five. Tugas Konsultan Pengawas 1. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan di lapangan. 2. Seperti halnya kontraktor, konsultan pengawas memiliki tugas membuat laporan kemajuan pekerjaan di lapangan. 3. Memeriksa gambar pelaksanaan (shop drawing) dan as built drawing.

21

4. Memeriksa laporan perkembangan kemajuan di lapangan dan hasil pekerjaan kontraktor. Wewenang Konsultan Pengawas Mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh PT. Propindo Sedayu yang bertindak sebagai pemberi tugas serta pengawas, konsultan perencana dan kontraktor utama, biasanya rapat diadakan seminggu sekali (sesuai dengan ketentuan dalam kontrak kerja). Tanggung Jawab Konsultan Pengawas Mengarahkan dan mengendalikan seluruh pekerjaan dan sumber daya untuk mencapai keberhasilan dalam aspek mutu, biaya, waktu, dan keselamatan dalam pekerjaan.

3.2.3. Konsultan Perencana Konsultan perencana dapat berupa perseorangan maupun badan hukum yang dipilih oleh pemilik proyek. Konsultan perencana ini mempunyai tugas mewujudkan rencana dan keinginan pemilik proyek dalam bentuk perencanaan struktur, arsitektur, maupun mekanikal dan elektrikal. Secara umum tugas konsultan perencana adalah membuat sketsa, gagasan yang memberikan gambaran pekerjaan yang meliputi pembagian ruang, rencana pelaksanaan, dimana semuanya itu mengikuti keinginan owner. Dalam proyek Apartemen Margonda Residence III, yang ditunjuk sebagai konsultan perencana arsitektur adalah PT. Megatika International sedangkan untuk struktur adalah PT.

22

Idea Five, dan PT. Mitra Inti Pranata ditunjuk sebagai konsultan perencana Mechanical Electrical. Adapun tugas, wewenang, dan kewajiban konsultan perencana secara terperinci adalah: Tugas Konsultan Perencana 1. Membuat perencanaan secara lengkap yang terdiri dari gambar rencana (schematic design) dan rencana kerja beserta syarat-syaratnya. 2. Membuat gambar-gambar denah yang belum lengkap dengan

spesifikasinya. 3. Untuk konsultan perencana struktur, membuat peraturan dan syarat-syarat kegiatan berupa Rencana Kegiatan dan Syarat-Syarat Struktur (RKS). 4. Khusus konsultan mekanikal elektrikal, mengawasi pelaksanaan di lapangan untuk mengurangi kesalahan dalam hal kehilangan jalur-jalur elektrik selama proses pelaksanaan konstruksi. Wewenang Konsultan Perencana 1. Memberikan usulan serta pertimbangan kepada pengguna jasa dan pihak kontraktor tentang pelaksanaan pekerjaan. 2. Memberikan usulan serta pertimbangan kepada pengguna jasa dan pihak kontraktor tentang penggunaan material dan bahan yang digunakan meskipun tidak menentukannya secara langsung. Tanggung Jawab Konsultan Perencana Bertanggung jawab atas usulan serta pertimbangan kepada pengguna jasa dan pihak kontraktor tentang pelaksanaan pekerjaan.

23

3.2.4. Kontraktor Pelaksana Kontraktor pelaksana adalah pihak yang telah diterima penawarannya (telah memenangkan tender) dan telah menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK) dengan pemilik proyek (owner). Sehubungan dengan pelaksanaan proyek sehingga kontraktor pelaksana bertanggung jawab secara langsung pada owner, dan dalam melaksanakan pekerjaannya diawasi oleh tim pengawas (dimana di proyek ini merangkap sebagai owner) dan dapat berkonsultasi secara langsung dengan tim pengawas baik di proyek maupun di dalam kantor. Kontraktor dipilih setelah memenangkan tender melalui pelelangan terbatas yang diadakan owner. Pada proyek pembanunan Apartemen Margonda Residence III, yang dipilih sebagai kontraktor pelaksana adalah PT. Cipta Kertasari Mas. Tugas Kontraktor Pelaksana 1. Menyiapkan sumber daya manusia (tenaga kerja), material, perlengkapan (peralatan), dan jasa yang diperlukan sesuai dengan spesifikasi, dengan memperhatikan biaya pelaksanaan, waktu pelaksanaan, kualitas pekerjaan, dan keamanan pekerjaan. 2. Mengikuti instruksi pemilik proyek (owner) sesuai kesepakatan dalam kontrak. 3. Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan pekerjaan (progress) dan menghadiri rapat koordinasi.

24

Wewenang Kontraktor Pelaksana Berhak mengajukan permohonan untuk mendapatkan perpanjangan waktu pelaksanaan kepada owner dalam hal keterlambatan pekerjaan yang diakibatkan oleh hal bersifat diluar dugaan (sesuai dengan ketentuan dalam kontrak kerja). Tanggung Jawab Kontraktor Pelaksana 1. Bertanggung jawab terhadap resiko yang terjadi, seperti kebakaran, kerusuhan, pencurian, dan keselamatan kerja. 2. Melakukan perbaikan dalam setiap adanya kerusakan-kerusakan atau kekurangsempurnaan pekerjaan akibat kelalaian selama pelaksanaan dengan menanggung semua biayanya. 3. Menyelesaikan proyek sesuai dengan ketentuan (spesifikasi) dan time schedule yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja serta bertanggung jawab penuh atas hasil pelaksanaan pekerjaan.

PT. Cipta Kertasari Mas sebagai kontraktor pelaksana Apartemen Margonda Residence III dan tempat dimana penulis mendapatkan banyak ilmu selama melaksanakan kerja praktek ini memiliki struktur organisasi yang dapat dilihat di bawah ini.

25

Project Manager Ir. Effendi

QC dan K3 Narso H.S

Koordinator Pelaksana Anto

Project Arsitek Ir. Kristanto

Order Material Sudarso Wakil Koor Pel Suganda Shop Drawing Sudarso Kamiso ADM/File Engineering Sony Keuangan Kamiso

Koordinator Surveyor Kamiso

Struktur Bagong

Anggota Ibrahim,Erwin,Wawan

Kepala Gudang Jhoni

Kepala Mekanik Anto Kribo

Divisi Peminjaman Alat Agus

Divisi Permintaan Bahan Juratno

Divisi Perawatan Alat Subandi

Divisi Listrik Penerangan Mamat

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Pekerjaan Struktur Apartemen Margonda Residence III

Penjelasan lebih lengkap mengenai tanggung jawab serta tugas-tugas pemegang jabatan para pelaksana di proyek ini adalah sebagai berikut.

26

3.2.4.1. Kepala Proyek (Project Manager) Kepala proyek atau project manager merupakan pimpinan tertinggi dari suatu proyek, dimana kepala proyek dituntut untuk memahami dan menguasai rencana kerja proyek secara keseluruhan dan mendetail. Selain itu, juga harus mampu mengkoordinasikan seluruh kegiatan bawahannya agar dapat dipastikan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan juga dapat berjalan mengikuti program kerja yang direncanakan dalam jangka waktu dan biaya tertentu. Disamping project manager dituntut untuk memiliki keterampilan manajemen, project manager juga harus mampu menguasai sumber daya manusia yang dibebankan kepadanya secara efisien dan produktif. Oleh karena itu, project manager harus memilik wawasan sosial yang luas, baik terhadap pihak di dalam yang bersangkutan, maupun kepada pihak luar yang terkait. Tugas Project Manager a. 1. 2. Tahapan perencanaan : Membuat rencana pelaksanaan proyek. Melakukan perencanaan untuk pelaksanaan di lapangan berdasarkan rencana pelaksanaan proyek. b. 1. Tahapan pelaksanaan : Memimpin kegiatan pelaksanaan proyek dengan memberdayagunakan sumber daya yang ada. 2. Melakukan pengendalian terhadap perencanaan pada proses kegiatan pelaksanaan di lapangan.

27

c. 1.

Tahapan evaluasi : Melakukan evaluasi hasil kegiatan pelaksanaan kerja dengan

membandingkan terhadap rencana. 2. 3. Menghitung laba atau rugi dari proyek. Membuat laporan tentang kemajuan pekerjaan, kepegawaian, keuangan, peralatan, dan persediaan bahan di proyek secara berkala. Wewenang Project Manager 1. Menyeleksi subkontraktor yang menjadi mitra dalam proyek Margonda Residence III. 2. 3. Mengatur dan mengontrol Rencana Anggaran Biaya (RAB). Memprakarsai, mengawasi, dan memeriksa efektivitas pelaksanaan perbaikan dan pencegahan. Tanggung Jawab Project Manager a. 1. Tahapan pelaksanaan Bertanggung jawab atas rapat-rapat koordinasi di proyek baik dengan owner ataupun mitra usaha selama dilaksanakannya proyek. 2. 3. Menjalankan implementasi ISO 9001. Bertanggung jawab untuk menjamin bahwa inspeksi dan pengujian mutu dilaksanakan sesuai rencana. b. 1. Tahapan evaluasi Dibantu site manager dan site engineer bertanggung jawab terhadap terselenggaranya laporan-laporan yang ditetapkan sehubungan dengan proses kontrol.

28

2. 3.

Mempertanggungjawabkan perhitungan laba atau rugi dari proyek. Tahapan pertanggungjawaban : membuat laporan pertanggungjawaban kepada pemilik proyek.

3.2.4.2. Site Manager Proyek Apartemen Margonda Residence III memiliki site manager yang memegang kendali pada proses konstruksi dan bertanggung jawab langsung kepada project manager, mewakili dan bertindak untuk dan atas nama project manager dalam melaksanakan pekerjaan proyek jika project manager berhalangan hadir. Adapun rincian lebih jelas untuk pekerjaaan site manager sebagai berikut. Tugas Site Manager 1. Membantu project manager dalam menangani technical planning di lapangan juga menaati project quality plan. 2. Membina hubungan kerja di dalam proyek baik. 3. Bersama seluruh team memeriksa dan mengevaluasi biaya subkontraktor. 4. Membahas hasil rapat dengan owner dan konsultan pengawas. 5. Bersama project manager membuat dan mengontrol Rencana Anggaran Biaya (RAB). 6. Menyelidiki sebab-sebab terjadinya ketidaksesuaian. 7. Memprakarsai dan mengawasi tindakan efektivitas perbaikan dan pencegahan.

29

Wewenang Site Manager 1. Menangani, mengatur, dan mengkoordinir pekerjaan di tempat konstruksi atau lapangan. 2. Mengadakan surat-menyurat dengan wakil owner dan konsultan pengawas berkaitan dengan kegiatan di lapangan. 3. Memeriksa laporan biaya proyek. 4. Menyelenggarakan rapat-rapat intern. 5. Mengevaluasi kemajuan proyek secara berkala bersama seluruh team proyek dalam membahas hal-hal berikut: a. b. c. d. e. Kemajuan (progress) rencana dan actual. Consumer Complain. Membahas hasil kerja subkontraktor. Memeriksa dan mengkoordinir gambar pelaksanaan. Mempelajari, melaksanakan, dan mengevaluasi time schedule s curve. Tanggung Jawab Site Manager a. Tercapainya tujuan proyek yaitu bahwa proyek dapat selesai tepat pada waktunya, mutu sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan serta biaya pelaksanaan tidak melampaui RAB. b. Mendata semua biaya yang menyimpang dari RAB. c. Membuat pelaksanaan proyek agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan

30

3.2.4.3. Quantity Surweyor Quantity surveyor adalah pihak yang menaksir dan menetapkan jumlah dan biaya, bahan, serta upah yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah bangunan. Selain itu quantity surveyor juga bertugas mendapatkan keterangan spesifikasi, kuantitas dalam dokumen kontrak, dan menetapkan gambar konstruksi. Tugas dari Quantity Surveyor 1. Melakukan market survey untuk mendapatkan harga material bahan bangunan yang akan digunakan dengan mengacu technical specification dan dokumen bestek. Seorang quantity surveyor yang sudah berpengalam dapat menentukan kisaran harga bahan yang pernah digunakan sebelumnya. 2. Melakukan perhitungan terhadap Analisa Harga Satuan (AHS) berikut harga satuan pekerjaan (HSP) sesuai kebijakan manajemen proyek. Ada kalanya dalam proyek-proyek dari pemerintah disyaratkan menggunakan analisa standar sesuai SNI. Dalam proyek-proyek swasta digunakan analisa sesuai dengan kebijakan dan pengalaman sendiri termasuk didalamnya koefisien tenaga kerja dan bahan yang juga sangat besar pengaruhnya dalam menentukan besaran harga satuan pekerjaan. 3. Melakukan perhitungan quantity masing-masing pekerjaan dari gambargambar kerja yang sudah disiapkan oleh masing-masing bagian mulai dari arsitek, sipil, geotek, watsan, mekanikal dan elektrikal. Perhitungan quantity harus dilakukan dengan keakuratan yang tinggi dan tidak mengikutsertakan interest dari beberapa pihak yang berkepentingan.

31

4. Melakukan perkalian antara quantity dan harga satuan pada tiap-tiap item pekerjaan. Kemudian menjumlahkan masing-masing sub total pada tiap kelompok pekerjaan dan menjumlahkan sub-sub menjadi grand total di bagian paling bawah tabel Bill Of Quantity. Wewenang Quantity Surveyor Memasukkan item pekerjaan dalam form Bill Of Quantity yang terstandar untuk masing badan usaha. Tanggung Jawab Quantity Surveyor Bertanggung jawab secara langsung kepada project manager dalam menangani kontrak yang dibuat, serta membuat rencana kerja dan syaratsyaratnya demi kelancaran suatu proyek.

3.2.4.4. Quality Control Quality control ditetapkan sebagai jaringan yang mendukung kegiatan quality assurance, dan memiliki wewenang serta tanggung jawab untuk menjamin bahwa seluruh persyaratan mutu atau kualitas untuk proyek harus dilaksanakan, dalam proyek pembangunan Apartmen Margonda Residence III dimana pihak kontraktor utama yaitu PT. Cipta Kertasari Mas memiliki divisi khusus yang dinamakan team quality control (QC) team ini terdiri dari banyak personil dengan tugas berbeda satu sama lainnya. Secara garis besar tugas dari quality control adalah:

32

Tugas Quality Control 1. 2. 3. Melaksanakan, mengarsipkan, dan mengendalikan prosedur proyek. Membandingkan dan mengarsipkan catatan-catatan untuk dokumen. Menyediakan informasi mengenai kebutuhan material yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek, baik dalam bentuk volume, jenis, dan gambar kerja. Wewenang Quality Control 1. Melakukan kontrol terhadap perbaikan atas prosedur kegiatan yang menyimpang. 2. Memastikan tahapan pekerjaan yang dapat dilanjutkan jika telah memenuhi standar mutu yang disyaratkan. Tanggung Jawab Quality Control 1. 2. Menjamin seluruh persyaratan mutu atau kualitas. Mengusahakan, melaksanakan, dan menjamin semua kegiatan dengan kualitas yang benar, sesuai dengan program-program proyek.

3.2.4.5. Drafter Drafter atau drafting specialists memiliki tujuan utama untuk

mempersiapkan gambar kerja yang efisien berdasarkan gambar kontrak dan spesifikasi teknis sebelum pelaksanaan pekerjaan tersebut dimulai. Hasil gambar kerja tersebut tidak langsung dapat digunakan namun harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pihak konsultan.

33

Tugas Drafter 1. Membuat shop drawing atau gambar kerja secara benar, jelas, efisien, dan tepat waktu. 2. Membuat as built drawing berdasarkan shop drawing dan kondisi existing lapangan (aktual pelaksanaan). 3. 4. Membuat gambar detail setiap pekerjaan yang rumit. Memastikan semua gambar desain mempunyai judul, nomor gambar, nomor issue, dan detail lainnya sesuai dengan persyaratan gambar untuk proyek. 5. Memastikan semua gambar tersimpan dalam soft copy di tempat yang benar. 6. Melakukan koordinasi dengan pihak yang terkait (struktur, arsitektur dan ME) dan eksternal (konsultan perencana). 7. Melakukan tertib administrasi gambar. Tanggung Jawab Drafter 1. 2. Menyelesaikan shop drawing yang akurat dan tepat waktu. Memudahkan pelaksanaan di lapangan dengan referensi perencana. 3. 4. Menyelesaikan as built drawing dengan tepat waktu. Melaksanakan dan menjamin disetujuinya shop drawing. gambar

34

3.2.4.6. Supervisor Supervisor adalah pihak atau orang yang di tingkat pelaksanaan suatu proyek bertanggung jawab atas pekerjaan karyawan secara tepat dan efisien sesuai dengan tugas yang ditentukan oleh atasannya. Di bawah supervisor terdapat subkontraktor pekerjaan tertentu atau juga mandor. Supervisor ini mempunyai hubungan kerja yang tetap dengan kontraktor. Tugas dari Supervisor 1. 2. 3. Memantau pekerjaan lapangan berdasarkan quality plan. Melaksanakan prosedur sistem instruksi kerja yang berkaitan dengan tugas. Melaksanakan metode konstruksi yang menghasilkan mutu produk sesuai spesifikasi teknis dan peraturan standar yang berlaku. Wewenang Supervisor 1. 2. Memprakarsai tindakan perbaikan dan pencegahan. Mengawasi dan memeriksa efektivitas. Tanggung Jawab Supervisor 1. Bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan di lapangan sesuai dengan gambar kerja dan kualitas yang telah ditetapkan. 2. Bertanggung jawab atas pekerjaan karyawan secara tepat dan efisien sesuai dengan tugas yang ditentukan oleh atasannya.

35

3.2.4.7. Safety Engineer Para safety engineer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Lingkungan (K3L) di lingkungan proyek seperti alat-alat perlengkapan dasar dapat berfungsi sebagaimana yang dibutuhkan ketika ada benda-benda terjatuh. Untuk mengatur kegiatan dan kebijakan K3L ini, project manager menunjuk seorang safety manager yang memiliki tugas, tanggung jawab, dan wewenang sebagai berikut. Tugas Safety Engineer 1. Mempersiapkan barikade, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Alat Perlindungan Diri (APD), rambu, poster, dan spanduk K3L yang diperlukan pada tempatnya. 2. 3. Mempersiapkan lingkungan kerja yang aman. Merencanakan kegiatan safety seperti inspeksi safety, meeting safety, laporan safety, dan penilaian K3L subkontraktor. 4. Memberikan subkontraktor. Tanggung Jawab Safety Engineer 1. Menjamin kesuksesan implementasi dan terus terjaganya kualitas sistem pengaturan keamanan. 2. Bertanggung jawab mengontrol kualitas sistem pengaturan keamanan untuk memastikan kebijakan dan prosedur yang telah dibuat diaplikasikan dengan benar. briefing kepada pembantu pelaksana, mandor, dan

36

3.2.4.8. Surveyor Surveyor atau yang disebut pelaksana ukur merupakan suatu pekerjaan yang difungsikan untuk menentukan koordinat-koordinat suatu bangunan di lapangan yang telah ditentukan dalam gambar rencana. Pekerjaan ini biasa disebut menentukan as dan biasanya menggunakan alat bantu berupa water pass dan theodolite. Tugas Surveyor 1. 2. Bersama tim proyek menetapkan referensi titik awal proyek. Membuat titik referensi bantuan untuk mempermudah kontrol kebenaran pengukuran. 3. 4. Menetapkan asumsi-asumsi yang diperlukan dalam pengukuran. Mengukur letak atau koordinat-koordinat dari bangunan, baik tiang pancang, kolom dan juga shear wall yang sudah sesuai dengan koordinat lokal (X,Y) dan global (N,E). 5. Dengan menggunakan alat sifat datar (water pass) menentukan elevasi tanah dan bangunan. 6. 7. Memberi tanda letak koordinat yang telah diukur dengan stek. Melaksanakan kalibrasi alat ukur secara periodik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 8. Melaksanakan pemeriksaan atau pemeliharaan rutin peralatan alat ukur yang digunakan. 9. Melaksanakan marking untuk keperluan pelaksanaan proyek.

10. Melakukan tertib administrasi yang berhubungan dengan tugasnya.

37

Tanggung Jawab Surveyor 1. Bertanggung jawab atas akurasi dari hasil pengukuran. Oleh karena kegiatan bongkar suatu pekerjaan akibat salah pengukuran memakan biaya yang mahal maka keakuratan dalam pengukuran merupakan hal terpenting, dengan demikian hal ini harus dihindari. 2. Bertanggung jawab atas terjaganya titik awal proyek dan referensi agar selalu aman serta tidak berpindah tempat dan posisi. 3. Menjamin hasil kesesuaian pengukuran di lapangan terhadap gambar pelaksana. 4. Menjamin selama pengukuran dilakukan, bahwa alat terpasang sesuai syarat dan benar, tanpa ada pengukuran yang dilakukan dalam keadaan nivo bergerak dan sebagainya.

3.2.4.9. Subkontraktor Subkontraktor memiliki tugas dan wewenang untuk pekerjaan yang dilaksanakannya langsung kepada kontraktor pelaksana. Pengadaan subkontraktor dilakukan apabila dalam suatu pelaksanaan pekerjaan terdapat keterbatasan alat dan kontraktor utama sendiri kurang memiliki keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tersebut. Subkontraktor dalam proyek Apartemen Margonda Residence III ini dipilih oleh kontraktor pelaksana setelah adanya penawaran dari para subkontraktor.

38

Tugas Subkontraktor 1. Melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh kontraktor utama sesuai dengan gambar rencana (shop drawing). 2. Mematuhi peraturan dan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam kontrak. 3. Menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. 4. Menghadiri dan mengikuti rapat yang diadakan kontraktor utama sehubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakannya. Wewenang Subkontraktor Menerima dan meminta biaya pelaksanaan dari kontraktor pelaksana sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Tanggung Jawab Subkontraktor 1. Bertanggung jawab terhadap hasil kerja yang telah dilaksanakan kepada kontraktor utama. 2. Menyelesaikan seluruh pekerjaannya dalam kurun waktu yang telah ditentukan. 3. Memberikan laporan baik secara tertulis ataupun lisan tentang hasil pekerjaan dan progress-nya secara berkala kepada kontraktor pelaksana.

39

3.3.

MANAJEMEN PELAKSANAAN PROYEK

3.3.1. Laporan Kemajuan Proyek Di dalam pelaksanaan proyek diperlukan adanya pengelolaan yang baik dan terarah walaupun suatu proyek tentu memiliki keterbatasan namun diusahakan seminimal mungkin sehingga tujuan akhir suatu proyek bisa tercapai. Biaya, mutu, waktu, kesehatan dan keselamatan kerja, sumber daya, lingkungan, risiko, dan sistem informasi merupakan hal-hal yang perlu dikelola dalam manajemen proyek sedangkan dalam manajemen pelaksanaan proyek di lapangan ini membahas tentang kemajuan proyek konstruksi yang dapat dilihat melalui laporan baik harian , mingguan, ataupun bulanan. Laporan-laporan dibuat oleh kontraktor pelaksana PT. Cipta Kertasari Mas yang kemudian akan dilaporkan kepada pengawas dimana dalam proyek ini sebagai pengawas adalah PT. Idea Five.

3.3.1.1. Laporan Harian Laporan harian ini berisikan monitoring pekerjaan yang disusun oleh pihak pelaksana proyek dengan cara pemetaan gambar dan tertulis. Laporan ini dilakukan setiap hari dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan hal-hal yang telah dikerjakan apakah sesuai dengan rencana atau tidak untuk mengontrol peningkatan pelaksanaan proyek serta mendapatkan gambaran seberapa jauh hasil pekerjaan yang telah dicapai dalam masa satu hari. Laporan ini berisikan hal-hal mengenai:

40

a. Pekerjaan yang telah dilaksanakan. b. Daftar peralatan yang tersedia dan digunakan di lapangan. c. Monitoring cuaca. d. Daftar pengadaan material yang dipakai. e. Waktu dan jam kerja. f. Jumlah tenaga kerja. g. Kejadian-kejadian khusus lain.

3.3.1.2. Laporan Mingguan Laporan mingguan dibuat berdasarkan laporan harian selama 7 hari yang disusun secara tertulis untuk mengetahui peningkatan pelaksanaan pekerjaan proyek di lapangan. Laporan ini dibahas dalam rapat mingguan dan ditandatangani oleh pihak kontraktor serta disetujui oleh pengawas. Laporan mingguan memuat hal-hal sebagai berikut : a. b. Jenis pekerjaan yang telah diselesaikan Kemajuan dalam satu minggu dan presentase akumulasi pekerjaan yang telah diselesaikan hingga minggu tersebut.

3.3.1.3. Laporan Bulanan Hasil dari monitoring harian yang telah disusun menjadi laporan harian serta mingguan selanjutnya disusun menjadi laporan bulanan yang menunjukkan tingkat peningkatan pekerjaan dalam kurun waktu satu bulan. Laporan bulanan dibuat dengn maksud agar pemilik proyek dapat mengontrol penggunaan dana dan

41

prestasi kerja selama satu bulan sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui dalam tender proyek. Isi laporan bulanan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Rangkuman pekerjaan selama satu bulan dan perbandingannya terhadap rencana yang tealh ditetpkan. b. Pengeluaran biaya dan progress pelaksanaan dalam kurun waktu satu bulan disesuaikan dengan kurva s rencana ( planning and actual ). c. d. e. Status gambar yang telah selesai dibuat ( drawing status ). Pengaturan biaya anggran proyek dan biaya pengeluaran proyek. Penjelasan atas usaha yang dilakukan untuk mengurangi ketidaksesuaian agar realisasi tercapai sesuai dengan yang direncanakan, termasuk penjelasan upaya antisipasi dan perbaikan. f. g. Rangkuman ijin pelaksanaan ( SPIP ). Foto-foto dokumentasi bangunan yang dilihat dari berbagai sisi ( photo progress ) sebagai tolak ukur kemajuan. h. Rencana kerja untuk bulan selanjutnya.

3.3.2. Pelaksanaan Disiplin Kerja Tingat kedisiplinan dalam kerja dirasakan sanagt penting agar staf PT. Cipta Kertasari Mas dapat menciptakan lingkunagn kerja yang kondusif dan proyek yang dikerjakan dapat terselesaikan tepat sesuai waktu yang telah ditetapkan. untuk itulah dianggap perlu dikeluarkannya suatu tata tertib karyawan dalam perusahaan. Adapun tata tertib diantaranya :

42

3.3.2.1 Waktu Kerja Jam kerja dalam proyek Margonda Residence III untuk para staf berlaku dari Senin s/d Sabtu dengan keterangan sebagai berikut : 1. 2. 3. Masuk kerja : Jam 08.00 WIB Pulang Kerja : Jam 16.00 WIB Istirahat : Jam 12.00 - 13.00 WIB

Kecuali jam kerja untuk pekerjaan di lapangan dilakukan setiap hari. Jam kerja untuk pekerjaan lapangan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.1 Jam Kerja Untuk Tenaga Kerja di Lapangan No. 1 2 3 4 Shift I Istirahat II Ekstra Jam Kerja 08.00-12.00 12.00-13.00 13.00-14.00 +16.00 Lembur Normal Keterangan

3.3.2.2 Jam Lembur Bagi karyawan yang bekerja terus selama 1 (satu) jam atau lebih dihitung setelah jam 16.00 WIB, atau bahkan bisa bekerja seampai 24 jam penuh maka kelebihan waktu kerjanya bisa diperhitungkan sebagai jam lembur ( storing ). Besarnya uang lembur per jam untuk para pekerja di lapangan diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sedangkan untuk para staf yang bekerja lembur, kelebihan waktu kerjanya tidak ditukar dengan uang atau waktu cuti melainkan hanya akan mendapatkan makan malam.

43

3.3.2.3 Tidak Masuk Kerja Bagi karyawan yang tidak dapat masuk kerja karena sakit selama 1( satu ) hari atau lebih, harus ada bukti surat keterangan dari dokter. Bila tidak ada surat keterangan dari dokter, maka akan dipotong hak cutinya.

3.3.2.4 Hak Cuti Bagi Karyawan Bagi karyawan PT. Cipta Kertasari Mas, hak cuti yang diterima adalah 12 hari per tahun. Sedangkan untuk izin maksimal 2 hari tiap bulan dan meminta izin kepada kepala divisi.

3.3.3. Masalah dan Solusi Dalam suatu pelaksanaan proyek konstruksi tidak mungkin akan selalu berjalan mulus tanpa halang rintangan, tentu selalu dijumpai permasalahan yang dapat menghambat pelaksanaan dan mengurangi waktu kerja efektif. Masalah yang timbul dapat disebabkan karena adanya cuaca yang kurang mendukung, faktor lingkungan, birokrasi, faktor teknis seperti kerusakan alat, penyediaan material yang kurang memadai, ataupun kesalahan pada saat pelaksanaan. Seluruh masalah yang muncul pada saat pelaksanaan menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana yaitu PT. Cipta Kertasari Mas. Pada bagian ini akan dibahas pula mengenai upaya penyelesaian masalah yang terjadi dalam proyek Apartemen Margonda Residence III selama masa kerja praktek di pihak kontraktor sehubungan dengan teknis pelaksanaan dan lingkungan.

44

3.3.3.1 Potensi Masalah 1. a. Engineering Kualitas penyajian shop drawing oleh kontraktor masih banyak yang berstatus revisi dan tindak lanjut perbaikan masih lambat. b. Keterlambatan pengajuan approval material yang mempengaruhi proses persetujuan dan kebutuhan pemasangan di lapangan yang dapat

mengakibatkan proses pekerjaan lainnya tertunda. c. Kerusakan alat seperti komputer dan tidak ada mesin foto kopi yang menyebabkan terhambat. 2. a. Lapangan Kualitas tenaga kerja yang kurang akan mengakibatkan kecepatan kerja untuk mengejar target work plan tidak tercapai. b. Kondisi cuaca yang tidak menentu menghambat pelaksanaan pekerjaan di lapangan. c. Kerusakan alat-alat yang yang digunakan dalam pengerjaan konstruksi, seperti Tower Craine pada tanggal 10 Oktober 2011 dll. d. Kesalahan dalam metoda pelaksanaan terhadap perencanaan prosedur pelaksanaan menyebabkan kendala pembangunan semakin kompleks. 3. a. Safety Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) belum dilaksanakan secara benar sesuai pekerjaan dan area yang dikerjakan. pendistribusian dan penyelesaian pekerjaan menjadi

45

Gambar 3.3 Pekerja yang Tidak Menggunakan APD di Lapangan b. c. Kepedulian pekerja terhadap aspek keselamatan kerja masih kurang. Kehadiran pekerja dalam safety morning masih kurang, sehingga sosialisasi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja tidak maksimal. 4. a. Quality Metode pelaksanaan pekerjaan struktur tidak berjalan seperti yang seharusnya sehingga menyebabkan hasil pengecoran kurang sempurna seperti: 1. Terdapat bagian keropos atau ketidaksempurnaan beton.

Gambar 3.4 Keropos Pada permukaan Shear Wall dan dinding STP

46

2.

Besi tulangan menonjol ke luar akibat bekisting dan pemasangan beto decking tidak sempurna.

Gambar 3.5 Besi pelat keluar 3. Pergeseran tiang bor dari as rencana. Pergeseran tiang bor dari as rencana pada pondasi GWT (Ground Water Tank). Pada saat melakukan pengeboran di as rencana pada kedalaman 18 meter terdapat lensa yang tidak dapat menembus mata bor sehingga titik bor dipindahkan sejauh 50 cm dati titik bor rencana.

Gambar 3.6 Pergeseran titik bore pile dari titik as rencana 47

b.

Kontrol dari quality control di lapangan masih terjadi kekurangan, sehingga terjadi pekerjaaan yang tidak sesuai antara lain :

1.

Terjadi kebocoran air semen pada saat proses pengecoran yang dikarenakan bekisting yang tidak rapat dan kebersihan bekesting yang kurang terutama di area sambungan kepala kolom dan tangga.

2.

Ketidaktelitian pekerja lapangan, sehingga sering terjadi kebocoran beton segar dari bucket saat pengecoran dapat mengenai pekerja yang ada di sekitarnya dan bukan area yang akan dicor.

3.

Terjadinya hujan pada saat proses pengecoran pelat lantai dan balok.

3.3.3.2 Solusi 1. a. Engineering Peningkatan kualitas engineering dan drafter PT. Cipta Kertasari Mas dalam pembuatan shop drawing dan koordinasi lebih intensif dengan pihak owner selaku manajer bila ada ketidakjelasan untuk produksi shop drawing. b. Segera memperbaiki atau menyewa kembali alat-alat yang kondisinya lebih baik agar produktivitas pekerja tidak terhambat. 2. a. Lapangan Peningkatan kualitas tenaga kerja ataupun mengambil tenaga-tenaga kerja yang sudah berpengalaman di bidangnya sehingga memudahkan pengerjaan dan mempercepat waktu pelaksanaan konstruksi.

48

b.

Mendatangkan tenaga ahli untuk memperbaiki alat-alat yang tidak dapat berfungsi ( tower craine ) sehingga pengerjaan konstruksi tidak tertunda terlalu lama.

c.

Mencari metode pelaksanaan yang tepat agar pekerjaan lapangan tetap dapat dilaksanakan.

3. a.

Safety Diberlakukannya sanksi bagi para pelaksana bila lalai dalam penggunaan alat pelindung diri dan ketidakhadiran dalam safety meeting.

b.

Diberikan suatu pengarahan oleh pihak safety mengenai resiko yang ditanggung apabila tidak mengamalkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan benar.

4. a.

Quality Metode pelaksanaan pekerjaan struktur tidak berjalan seperti yang seharusnya

1. Pada kasus beton yang mengalami keropos, pihak kontraktor melakukan tindakan perbaikan. Metode perbaikannya yaitu: Permukaan beton yang keropos dipotong sampai ditemukan bagian beton keras. Setelah itu bersihkan dan siram dengan air. Lapisi dengan calbound untuk merekatkan beton. Diplester dan ditutup dengan bahan Powerbond. Haluskan permukaan beton tersebut.

49

Gambar 3.7 Penanganan Beton Keropos 2. Untuk Bekisting dan pemasangan beton decking dapat diambil solusi dengan meningkatkan kualitas pekerja di lapangan diantaranya memberi pengarahan kepada tukang. 3. Untuk kasus seperti pada GWT (Ground Water Tank), solusi yang diambil pada masalah ini adalah pemindahan titik bor sejauh 50 cm dari as rencana dan memperbesar ukuran pile cap dari 100 x 100 cm menjadi 120 x 180 cm. b. Kontrol dari quality control di lapangan masih terjadi kekurangan

1. CPA (Corrective and Preventive Action) dengan cara pengendalian di lapangan perihal mutu, dilakukan inspeksi mulai dari pemasangan bekisting, besi sampai dengan saat pengecoran dan melakukan perbaikan segera sesuai metode perbaikan. 2. Melakukan pemberhentian pengecoran untuk menjaga kualitas pada beton dengan konsukuensi akan terjadinya keterlambatan dalam penjadwalan. 3. Perlu evaluasi untuk kualitas atau skill pekerja, dan bila perlu adanya pergantian atau tambahan tenaga pekerja yang lebih berpengalaman.

50

3.4.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK Pengawasan dan pengendalian dalam suatu proyek konstruksi merupakan

sesuatu yang penting dilaksanakan secara ketat untuk menghindari hal-hal yang merugikan terutama bila berada dalam kondisi rentang waktu yang sempit karena pada saat-saat itulah sering terjadi kelalaian untuk mutu yang harus dicapai. Umumnya pengawasan proyek bersifat preventif sejauh mana peningkatan pekerjaan dan memeriksa apakah pekerjaan tersebut sudah memenuhi spesifikasi gambar rencana dan tujuan yang telah dibuat. Sedangkan pengendalian perlu dilakukan sebagai tindak lanjut dari pengawasan untuk mengontrol kualitas pekerjaan agar sesuai dengan rencana. Dalam proyek, pengawasan dan pengendalian ini tentu mutlak adanya selain untuk mendapatkan hasil yang memuaskan juga memiliki tujuan sebagai berikut: a. Untuk memastikan bahwa aturan kerja yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan penyimpangan dan kesalahan yang seminimal mungkin. b. Peningkatan efisiensi pekerjaan sehingga dapat meminimalkan

pengeluaran proyek (pengendalian biaya). c. Memperoleh kualitas bangunan yang sesuai dengan perencanaan (pengendalian mutu). d. Dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditetapkan sehingga baik pihak owner maupun pelaksana tidak ada yang merasa dirugikan karena adanya keterlambatan (pengendalian waktu).

51

Oleh karena itu, dalam usaha terciptanya tujuan-tujuan tersebut dibutuhkan beberapa pertimbangan yang meliputi: a. b. c. d. Tenaga kerja dan dana yang tersedia. Metode pelaksanaan yang tergantung dari sifat dan jenis pekerjaan. Material dan peralatan yang tersedia. Waktu. Untuk bagian pengendalian hasil pekerjaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijadikan pedoman meliputi: a. Ketentuan standar dan tolak ukur dalam menilai hasil pekerjaan dan ketepatan waktu. b. Pemeriksaan yang teliti. c. Menyamakan hasil yang telah dicapai dengan rencana yang telah dibuat. Tindakan koreksi berupa evaluasi terhadap pelaksanaan proyek terutama apabila terdapat permasalahan agar tidak terulang dalam pelaksanaan selanjutnya.

3.4.1. Pengendalian Biaya Proyek Pengendalian biaya di proyek ini dilakukan oleh bagian cost control yang merupakan sub bagian dari commercial manager dengan cara membuat rekapitulasi biaya yang telah dikeluarkan. Besarnya biaya yang telah dikeluarkan ini akan dibandingkan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Untuk setiap pembelian material dan besarnya biaya yang dikeluarkan saat membayar upah pekerja tiap minggu akan dicatat oleh bagian ini untuk

52

menghitung pengeluaran dan melakukan evaluasi dengan membandingkannya terhadap rencana pembiayaan awal yang terdapat pada s curve. Hasil total dari pengeluaran yang telah dilakukanpun dibutuhkan untuk membuat kurva actual work dalam s curve. Pengendalian biaya pelaksanaan proyek terkait erat dan sangat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: a. b. Pengendalian waktu pelaksanaan proyek. Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan proyek (efek dari pekerjaan ulang, finishing, pembongkaran, dan lainnya yang harus menambah biaya lagi). c. Pengendalian sistem manajemen operasional proyek yang bersangkutan, yang kurang baik atau tidak konsisten dalam pelaksanaannya atau penerapannya (efek penambahan biaya karena inefektive dari cara dan sistem kerja serta efisiensi kenyataan biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncanakan). Dalam melakukan pembayaran gaji dan upah para pekerja di proyek Apartemen Margonda Residence III, ada 4 macam sistem yang digunakan yaitu: a. Upah dan Gaji Bulanan Gaji dan upah bulanan yaitu pembayaran yang dilakukan setiap bulan kepada para pekerja tetap (staf) dan tidak tetap. Untuk para staf memiliki perbedaan untuk saat-saat tidak hadir kerja dengan suatu alasan maka tidak akan dipotong gaji bulanannya.

53

b.

Upah Mingguan Upah mingguan yaitu upah yang dibayarkan pada akhir minggu

berdasarkan volume pekerjaan yang dicapai. Hasil pekerjaan diperiksa setiap hari Sabtu dan sistem pembayarannya yaitu dari kontraktor melalui pihak administrasi membayar kepada bos borong atau mandor setiap 2 minggu sekali lalu mandor yang akan mengatur. c. Upah Harian Upah harian diperhitungkan secara harian tergantung pada jenis pekerjaannya namun pembayarannya dilakukan seminggu sekali yaitu setiap hari Sabtu. Pembayaran upah dihitung dari jumlah hadir sedangkan besar kecilnya upah per harinya tergantung keterampilan dan prestasi kerja orang yang bersangkutan. d. Upah Lembur Pembayaran upah lembur disesuaikan dengan perjanjian yang telah disetujui oleh pekerja sebelum kerja lembur dilaksanakan. Jam lebur ini dihitung untuk pekerjaan yang dilakukan diatas pukul 16.00 sedangkan untuk para staf yang bekerja lembur tidak lagi mendapatkan gaji tambahan namun hanya mendapat bagian tambahan makan malam.

54

3.4.2. Pengawasan dan Pengendalian Mutu Dalam proyek dikenal beberapa aspek penilaian dalam pengendalian mutu, yaitu mutu bahan, alat, dan pekerja. Pengendalian mutu dilapangan dilaksanakan dengan 2 macam cara, yaitu pengawasan pekerjaan dan uji mutu dari setiap pekerjaan yang akan atau telah dilaksanakan. Pengendalian mutu pekerjaan dan bahan mutlak diperlukan dengan tujuan agar kualitas pekerjaan sesuai rencana.

3.4.2.1 Pengawasan dan Pengendalian Mutu Material Dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan maka kualitas hasil yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh mutu material yang digunakan. Cara pengendalian mutu yang digunakan dalam proyek Margonda Residence III yaitu berupa pengawasan langsung dan tes bahan. Dalam tujuan mencapai kualitas bahan yang baik maka digunakan standar mutu dalam perencanaan konstruksi yang meliputi: a. b. c. d. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971) Peraturan Semen Portland Indonesia (NI 08) Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961 (PKKI - 1961) Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk bangunan Gedung (SNI 031729-2002) e. f. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) 1984 ASTM (American Society for Testing and Material) Penyediaan materialnya pun tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan agar kekurangan dan berlebihnya material dapat dihindari.

55

Adapun dalam proses pengadaan material untuk proyek Apartemen Margonda Residene III ini telah melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

Gambar 3.8 Proses Pengadaan Material

a.

Mempelajari Material (Study) Pada awal pemilihan material akan dipelajari terlebih dahulu material apa

saja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek dengan mengacu pada gambar bestek dan spesifikasi teknis yang direncanakan.

b.

Penyelidikan Material (Inquiry) Tahap selanjutnya yaitu pihak kontraktor menyelidiki apakah material

yang dibutuhkan tersedia di pasaran kemudian dilanjutkan dengan memilih material yang paling cocok untuk kemudian diajukan kepada direksi pengawas. 56

c.

Persetujuan Material (Approval) Jenis material yang telah dipilih oleh PT. Cipta Kertasari Mas selaku

kontraktor pelaksana kemudian diajukan kepada PT. Propindo Sedayu selaku pengawas sekaligus owner untuk dipertimbangkan. Apabila dinilai spesifikasi yang dipilih sesuai dengan gambar bestek dan spesifikasi yang dibutuhkan maka material tersebut disetujui. d. Pembelian (Purchase) Pembelian material menjadi tanggung jawab pihak PT. Cipta Kertasari Mas sebagai kontraktor terutama bagian logistik yang bertanggung jawab akan tersedianya material yang dibutuhkan untuk pekerjaan. e. Pengiriman (delivery) Setelah pemesanan maka pihak supplier akan mengirimkan material yang dipesan oleh PT. Cipta Kertasari Mas. f. Penyimpanan Material Setelah material didatangkan maka akan disimpan pada tempat kosong untuk stok material sebelum digunakan. g. Tes Material Untuk beberapa material seperti beton dan baja maka akan dilakukan pengujian di laboratorium yang meliputi pengujian: 1. 2. 3. Slump test untuk beton ready mix Compression test untuk sampel beton ready mix Uji tarik dan uji lengkung baja

57

h.

Pemasangan (Instalation) Setelah memenuhi persyaratan dan melalui pengujian material maka akan

digunakan untuk pemasangan. Adapun pengujian bahan-bahan yang dilakukan pada proyek konstruksi Apartemen Margonda Residence III yaitu meliputi pengendalian mutu bahan: 1. Beton 1.a. Slump Test Pengujian slump bertujuan untuk mengukur angka kemerosotan campuran beton. Angka slump menunjukkan besarnya viskositas/plastisitas dan kadar air semen dalam campuran beton segar. Dalam proyek Apartemen Margonda

Residence III, nilai slump yang digunakan yaitu 12 untuk beton K-350 dan K-400. Pengujian angka slump dilakukan dengan menggunakan kerucut Abrams (Abrams Cone) serta melalui prosedur sebagai berikut: a. Alat uji slump terdiri dari kerucut Abrams yang memiliki diameter atas 10 cm dan diameter bawah 20 cm serta tinggi kerucut 30 cm, dan tongkat baja dengan panjang 60 cm dan diameter 16 mm. b. Kerucut Abrams diletakkan pada bidang datar dan rata yang tidak menyerap air, umumnya menggunakan alas berupa tripleks dan ketika pelaksanaan kerucut ditekan supaya kokoh. c. Adukan campuran beton diambil secukupnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam kerucut dalam 3 lapis yang kira-kira masing-masing lapis berisi 1/3 isi kerucut. Tiap lapis ditusuk dengan tongkat baja 25 sampai 30 kali agar adukan yang masuk dalam kerucut lebih padat.

58

Gambar 3.9 Pelaksanaan Slump Test d. Adukan yang berserakan dan jatuh di sekitar kerucut dibersihkan lalu permukaannya diratakan kemudian kerucut ditarik vertikal perlahan-lahan. e. Setelah kerucut Abrams terbuka maka sesegera mungkin dihitung penurunan puncak kerucut terhadap tingginya semula. f. Hasil pengukuran beda tinggi inilah yang disebut nilai slump dan merupakan ukuran kekentalan adukan beton. g. Adukan beton dengan hasil slump yang tidak memenuhi syarat maka tidak boleh digunakan. Ada tiga kemungkinan slump yang akan terjadi :

True Slump

Shear Slump Gambar 3.10 Jenis Slump

Collapse Slump

59

Gambar 3.11 Hasil Pengujian Slump Test

1.b.

Uji Kuat Tekan Beton (Compression Test or Crushing Test) Pengujian kuat tekan beton bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan

beton karakteristik dalam suatu campuran beton pada umur tertentu serta untuk mengetahui kuat tekan maksimum yang dapat diterima beton sebelum mengalami kehancuran. Dari hasil pengujian kuat tekan ini pula dapat diketahui waktu yang diizinkan untuk pembongkaran bekesting baik untuk pelat dan balok maupun kolom. Pengujian kuat tekan beton untuk proyek Apartemen Margonda Residence III dilakukan di laboratorium PBI yang mana sebelumnya dalam penentuan trial mix, sampel beton diuji di Laboratorium Beton Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti. Pengendalian mutu beton dan pelaksanaan harus memenuhi standar mutu dan persyaratan yang ada dalam SNI 03-2847-2002. Beton yang digunakan adalah

60

beton ready mix dengan mutu beton K-350 dan K-400 serta kuat tekan 28 hari untuk beton struktural seperti balok, sloof, pelat lantai, dan shear wall. Untuk setiap pengiriman beton ready mixed dari satu batch yang dipilih secara acak harus diambil benda uji silinder: Truk pertama Truk ke 2 sampai ke 5 Truk ke 6 sampai ke 10 : 1 x 4 benda uji : 2 x 4 benda uji : 3 x 4 benda uji

Truk ke 10 sampai berikutnya : 1 x 4 benda uji Dari setiap set benda uji (4 silinder), satu benda uji digunakan untuk percobaan kekuatan beton umur 7 hari, dan dua benda uji untuk percobaan kekuatan beton umur 28 hari, dan satu contoh disimpan untuk test jika perlu. Cara-cara pengujian beton dengan crushing test memiliki beberapa prosedur yaitu: 1. 2. Cetakan beton silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm disiapkan. Sebagian dari adukan beton yang telah diuji slump nya dimasukkan ke dalam cetakan yang dibagi menjadi 3 lapisan yang sama. Tusuk-tusuk sebanyak 25 kali pada tiap lapisan. 3. Ratakan bagian atasnya dan bersihkan adukan beton yang jatuh dan berserakan di sekitar cetakan. 4. Beri kode dan tanggal pengecoran pada tiap silinder beton.

61

Nama Proyek Nama Kontraktor Mutu Beton

MR III CKM PLT LT 8 9 Z2 K 350 26 - 8

Lokasi Pengecoran Kode Nomor Benda Uji

Gambar 3.12 Penulisan Kode Pada Sampel Beton 5. Diamkan selama 24 jam kemudian rendam dalam air (curing) selama waktu tertentu lalu bawa ke laboratorium untuk uji kuat tekan beton umur 4, 7, 21, dan 28 hari. 6. Ambil benda uji dari bak perendam dan bersihkan dengan kain untuk menghilangkan kotoran yang menempel. 7. 8. 9. Timbang berat benda uji dan hitung luas permukaannya. Letakkan benda uji pada mesin tekan secara sentris. Mesin tekan dioperasikan dengan penambahan beban yang konstan antara 2-4 kg/cm2 per detik. 10. Pembebanan dilakukan sampai benda uji retak kemudian mencatat beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.

62

Untuk mencari kuat tekan beton dari hasil pengujian digunakan rumus:
K uat tekan beton = bacaan pada dial x 101,97 luas penam pang tekan : 0,83

Keterangan : 1 kN Angka konversi silinder = 101,97 kg = 0,83

1.c.

Perawatan Beton Perawatan beton dimulai setelah bekesting beton dilepas dan bertujuan

untuk mencegah penguapan berlebih yang dapat mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses hidrasi serta menghindari terjadinya perbedaan suhu yang sangat berlebih pada beton. Pelaksanaan perawatan beton (curing) dapat dilakukan dengan berbagai cara baik menggunakan plastik ataupun karung sebagai penutup beton, maupun dengan penyiraman beton menggunakan air yang telah ditambahkan zat aditif seperti yang digunakan dalam proyek Apartemen Margonda Residence III. Lamanya waktu perawatan tergantung pada : 1. 2. 3. 4. Jenis semen yang digunakan. Kekuatan beton yang direncanakan. Perbandingan antar luas dengan volume. Kondisi dan keadaan cuaca disekelilingnya.

63

Gambar 3.13 Curing Pada Kolom 2. Baja Tulangan Pengendalian dan pengujian baja tulangan dilakukan untuk mengetahui tingkat mutu dari tulangan yang di pakai dalam pelaksanaan pekerjaan di proyek. Untuk setiap diameter tulangan yang di pakai dalam proyek Apartemen Margonda Residence III ini akan diambil sample masing-masing sepanjang 1 meter yang akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian kuat tarik baja dan lengkung statis baja. Setiap 1 meter besi yang diuji tersebut dianggap mewakili 100 ton material besi yang datang.

Gambar 3.14 Baja Tulangan

64

2.a.

Pengujian Visual Terhadap Tulangan Pemeriksaan visual tulangan yaitu meliputi pemeriksaan diameter tulangan

dengan jangka sorong, pemeriksaan tulangan terhadap karat serta cacat luar yang dapat menyebabkan berkurangnya daya ikat baja tulangan terhadap beton.

Gambar 3.15 Posisi Pengukuran Diameter Tulangan Ulir dengan Jangka Sorong Pengukuran diameter tulangan ulir di lapangan dengan jangka sorong dilakukan pada titik A, B, C untuk 1 batang tulangan sepanjang 12 m. Untuk tiap titik dilakukan dengan posisi I, II, dan III. Hasil rata-rata dari hasil pengukuran tiga posisi tersebut menjadi diameter pada satu titik. Sedangkan untuk mendapatkan diameter satu batang tulangan yaitu dengan merata-ratakan diameter dari ketiga titik A, B, dan C.

65

2.b.

Uji Kuat Tarik Baja Pengujian mutu baja tulangan dilakukan di Laboratorium Uji Mekanik

Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) BPPT (Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Uji Tarik baja dilakukan pada sample tulangan berbagai diameter dengan alat mesin uji tarik sehingga didapatkan data tegangan leleh, kuat tarik baja, dan regangan baja. Tabel 3.2 Hasil Uji Kuat Tarik Baja Tulangan

Diameter No. (mm) 1 2 3 4 5 6 7 13 13 16 16 19 19 22

Ao (mm2) 132,7 136,8 208,7 211,2 289,5 286,5 378,7

Fy (kN) 49,2 61,9 78,7

Fm (kN) 71,5 80,7 129,1

y
2

u
2

e Kode

(N/mm ) (N/mm ) (%) 370,7 452,3 377,1 540,1 495,9 559,5 565,9 538,7 589,7 618,7 608,8 579,6 650,9 646,9 56 58 42 42 46 46 42 Ex. IS Ex. IS Ex. IS Ex. IS Ex. MS Ex. MS Ex. IS

114,1 128,6 143,6 167,8 160,3 186,5 213,2 243,7

Keterangan : Ao : Luas penampang Fm : Beban tarik Fy : Beban luluh e : Elongasi y : Kuat luluh u : Kuat tarik

66

2.c.

Uji Lengkung Statis Tulangan Uji lengkung statis dilakukan di Laboratorium Uji Mekanik Balai Besar

Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) BPPT (Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi) terhadap sample berbagai diameter tulangan dengan mesin uji lengkung statis sehingga hasilnya didapatkan gaya maksimum yang dapat ditahan baja tulangan sampai mengalami sudut lengkung 180.

Tabel 3.3 Hasil Uji Lengkung Statis Baja Tulangan Dia meter (mm) 13 13 16 16 19 19 22 Gaya Max (kN) 8.1 8.2 12.0 16.4 16.7 26.6 36.0 Sudut Lengkung (derajat) 180 180 180 180 180 180 180 Ex. IS Ex. IS Ex. IS Ex. IS Ex. MS Ex. MS Ex. IS Baik Baik Baik Retak pada bagian ulir Baik Baik Retak pada bagian ulir Kode Keterrangan

No.

1 2 3 4 5 6 7

3.

Semen Pengujian dan pemeriksaan semen sebatas dilakukan melalui pengamatan

visual terhadap bungkus semen yang ada. Untuk bungkus semen yang dinilai rusak dan telah sobek maka semen tersebut tidak akan digunakan dan akan dikembalikan ke supplier.

67

4.

Kayu dan Plywood Pemeriksaan terhadap material seperti kayu dan plywood dilakukan secara

visual untuk mengetahui kualitas serta dimensi bahan yang digunakan dan menentukan sesuai atau tidaknya untuk digunakan sebagai bekesting beton. 5. Pasir Pemeriksaan pasir dilakukan secara visual terhadap warna serta kandungan lempung pada pasir. Pemeriksaan lempung ini dikerjakan dengan cara menggenggam pasir kemudian melepaskannya lagi. 6. Air Pengendalian terhadap air yang digunakan haruslah bebas dari bahan organik, garam, zat asam, ataupun minyak dan kotoran-kotoran lainnya dalam jumlah cukup besar yang dapat mengurangi ketahanan beton dan baja tulangan. Sedangkan apabila terdapat keraguan terhadap air yang digunakan dapat dilakukan pengetesan di laboratorium untuk mendapatkan keterangan tentang kelayakan air. Dalam hal pengendalian material agar terjaga kelancaran pelaksanaan proyek dan mengurangi sampah yang dihasilkan (waste) maka diperlukan pula beberapa kebijakan oleh Material Manager yang meliputi : a. Menggunakan material baru sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Struktur dan tidak membolehkan pekerja untuk membawa serta memiliki material bekas untuk mencegah penyalahgunaan bahan.

68

b.

Menyetujui dan memesan material hanya sebesar kebutuhan yang dibutuhkan dalam kurun waktu terbatas.

c.

Material sisa yang masih berkualitas baik dan sekiranya masih dapat digunakan untuk keperluan pelengkap disimpan dan dicatat secara khusus untuk menghindari terjadinya kehilangan.

3.4.2.2 Pengawasan dan Pengendalian Mutu Alat Peralatan yang digunakan dalam proyek adalah bagian terpenting dalam pelaksanaan pekerjaan struktur. Tertundanya pekerjaan sering kali disebabkan oleh kerusakan alat dan semua alat yang digunakan dalam proyek Apartemen Margonda Residence III menjadi tanggung jawab pihak kontraktor, PT. Cipta Kertasari Mas, termasuk untuk service rutin dan perbaikan bila terjadi kerusakan. Oleh karena itu, kontraktor memiliki bagian mekanik yang bertugas menjaga, merawat, dan mengatur penggunaaan alat-alat agar tetap dapat digunakan secara maksimal. Untuk kerusakan yang masih dalam batas kemampuan mekanik akan dikerjakan sendiri, akan tetapi bila tingkat kerusakan alat sudah melebihi batas maka akan diserahkan pada bengkel pusat dan karena itu dipertimbangkan pula penggunaan alat pengganti agar target penyelesaian tetap tercapai.

69

3.4.2.3 Pengawasan dan Pengendalian Mutu Pekerja Tenaga kerja yang bekerja sesuai dengan kemampuannya dapat menunjang keefektifan suatu proyek (the right man in the right place) sehingga diperlukan suatu pengendalian mutu pekerja. Untuk penunjukan mandor dilakukan sesuai dengan prestasi ketika menyelesaikan bagian proyek yang pernah ditangani dan untuk para staf, dilakukan perekrutan mahasiswa yang berkualitas yang sudah teruji dalam masa kerja praktek ataupun melalui pembukaan lowongan pekerjaan lain.

3.4.3 Pengendalian Waktu Pelaksanaan Pengawasan dan pengendalian waktu dibutuhkan agar pekerjaan yang dilakukan sesuai target dan tidak melebihi batas waktu yang direncanakan. Pengendalian waktu pada proyek umumnya dilakukan melalui pembuatan master schedule yang merupakan sistem pengendalian waktu pelaksanaan pada seluruh bagian pekerjaan dengan menetapkan alokasi waktu serta urutan penyelesaian dari awal hingga akhir dan dapat digunakan untuk mengukur prestasi pekerjaan terhadap lamanya pelaksanaan. Sebelum melaksanakan suatu pekerjaan di lapangan, maka kontraktor harus membuat rencana kerja (master schedule) tersebut sebagai pengontrol dan pengendali. Rencana kerja harus mendapat persetujuan dari pihak PT. Propindo Sedayu selaku konsultan pengawas dan owner.

70

Fungsi dari time schedule adalah: a. Sebagai pedoman bagi kontraktor agar dapat memperkirakan hal-hal yang berkaitan dalam pelaksanaan pekerjaan seperti waktu yang tersedia bagi tiap jenis pekerjaan, pengadaan material dan peralatan bila pekerjaan akan berlangsung, jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan, besar dana yang harus disediakan. b. Sebagai alat kontrol terhadap lamanya waktu pelaksanaan proyek. Adanya keterlambatan penyelesaian akan menimbulkan pengaruh terhadap anggaran biaya pelaksanaan. Oleh karena itu untuk pengendaliannya akan dibandingkan waktu rencana dan waktu aktual pelaksanaan yang terdapat di dalam kurva s sehingga akan dapat diketahui kemajuan dan kemunduran pelaksanaan proyek. Dari hasil laporan harian dan laporan bulanan diolah sehingga menjadi actual s curve. Apabila kurva s pelaksanaan tersebut berada dibawah kurva s rencana maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan dan sebaliknya bila berada diatas kurva s rencana berarti pelaksanaan terselesaikan lebih cepat. Dalam mengatasi dan mengendalikan kemungkinan keterlambatan tersebut maka dilakukan beberapa solusi: a. b. c. Dilakukan penambahan tenaga disaat pekerjaan mencapai optimum. Mengadakan jam kerja tambahan (kerja lembur). Pengecekan pengadaan material yang selalu siap apabila suatu pekerjaan akan berlangsung dan pengadaan peralatan yang berteknologi lebih tinggi. d. Menempatkan tenaga ahli pada tiap pekerjaan sesuai keahliannya sehingga akan tercipta keselarasan pekerjaan.

71

3.4.4 Pengendalian Keselamatan Kerja Dalam rangka peningkatkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan dapat terlaksana dengan efektif dan berkesinambungan, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sehingga dapat terwujud kondisi kerja yang sehat, nyaman, serta aman maka management PT. Cipta Kertasari Mas membentuk panitia Pembinaan Keselamatan Kerja dan Lingkungan (P2K3L) yang diketuai oleh project manager sendiri. Dasar hukum yang menunjang pelaksanaan K3L (Kesehatan dan Keselamatan Kerja Lingkungan) ini yaitu:

Pasal 27 (2) UUD 1945

Pasal 9 dan 10 UU No.14/1969

UU. KK No. 1/ 1970

Peraturan Pelaksanaan

Peraturan Khusus

PP Parlemen

Gambar 3.16 Dasar Hukum Pelaksanaan K3L

72

Pengendalian keselamatan para pekerja di dalam proyek diawasi oleh bagian safety dengan cara pembuatan peraturan-peraturan seperti kewajiban penggunaan alat pelindung diri sesuai bidang pekerjaan, keperluannya berupa: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Helm proyek. Safety shoes. Safety belt. Masker. Sarung tangan. Pelindung dada dan mata. Tutup telinga (ear plug). Pakaian kerja. Alat proteksi lingkungan: barikade (police line), safety net, safety quick, volley net, railing temporary, tangga temporary, dan rambu.

73

Gambar 3.17 Penerapan Keselamatan Kerja di Proyek Apartemen Margonda Residence III

74

3.5

KONTRAK KERJA Kontrak kerja merupakan suatu kesepakatan atau perjanjian yang

dilakukan oleh dua pihak atau lebih antara pihak owner atau yang mewakilinya dengan kontraktor sebagai pelaksana dan terikat secara hukum sehingga menimbulkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak yang membuat kontrak. Pada proses awal suatu proyek, jenis kontrak dan pembuatan anggaran proyek merupakan bagian dari suatu rencana yang terkait dengan masalah pengawasan dan pengendalian proyek terutama dalam hal biaya. Di dalam pembangunan proyek konstruksi ada 2 jenis kontrak yang umumnya digunakan berdasarkan bentuk imbalan, yaitu :

3.5.1 Kontrak dengan Harga Tetap (Fixed Price) Dalam kontrak jenis ini, harga tetap disepakati untuk menyelesaikan seluruh lingkup pekerjaan hingga selesai sesuai dengan kontrak. Jika total biaya yang dikeluarkan kontraktor di akhir pembangunan lebih besar dari biaya dalam kontrak dan terjadi pembetulan perhitungan perincian harga penawaran karena adanya kesalahan aritmatik maka harga penawaran total tidak boleh diubah. Kontrak dengan harga tetap dibagi lagi menjadi 3 macam, yaitu kontrak Lump Sum, kontrak Harga Satuan, dan kontrak Daftar Volume.

75

3.5.1.1 Kontrak Lump Sum (Lump Sum Contract) Pada kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan biaya tetap. Perubahan dan semua resiko kesalahan perhitungan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penyedia jasa (kontraktor). Secara rinci ciri dari kontrak lump sum yaitu: 1. 2. 3. 4. Penyelesaian seluruh pekerjaan. Batas waktu tertentu. Harga satuan pasti dan tetap. Semua resiko ditanggung penyedia barang atau jasa.

3.5.1.2 Kontrak Harga Satuan (Unit Rates or Remeasurement Contract) Pada kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan dimana masing-masing pekerjaan mempunyai harga satuan tetap, tetapi jumlah sebenarnya dari tiap pekerjaan hanya berupa taksiran. Kemudian pada akhir proyek, quantity pekerjaan yang terlaksana akan dihitung ulang (remeasured) untuk menentukan nilai akhir proyek. Sehingga bila disimpulkan ciri dari kontrak harga satuan ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penyelesaian seluruh pekerjaan. Batas waktu tertentu. Harga satuan pasti dan tetap. Spesifikasi teknis tertentu. Volume pekerjaan sementara. Pembayaran didasarkan hasil pengukuran pekerjaan yang dilaksanakan.

76

3.5.1.3 Kontrak Daftar Volume (Bill of Quantity Contract) Pada kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan diamana masing-masing pekerjaan mempunyai harga satuan yang tetap dan volume pekerjaan berdasarkan gambar rencana.

3.5.2 Kontrak dengan Harga Tidak Tetap (Cost Plus or Fixed Fee Contract) Pada kontrak semacam ini, pihak pemilik membayar semua biaya (jasa dan material) yang dikeluarkan untuk melaksanakan proyek yang diatur dalam kontrak ditambah dengan sejumlah uang dalam bentuk upah yang umumnya dinyatakan dalam persentase terhadap actual cost. Kontrak ini memberikan kebebasan yang besar bagi pemilik proyek, karena dapat menentukan pekerjaan-pekerjaan yang perlu dan tidak perlu dilakukan, menyetujui atau menolak harga yang diajukan oleh kontraktor dalam pembelian barang tertentu. Pemilik proyek menanggung resiko seluruhnya atas beban biaya proyek, termasuk hal-hal yang belum diketahui sewaktu penandatanganan kontrak, misalnya perubahan nilai tukar mata uang. Sesuai dengan data dalam proyek pembangunan Apartemen Margonda Residence III, jenis kontrak yang digunakan adalah kontrak harga tetap lump sum (lump sum fixed price contract) dengan sistem pembagian kerja berupa kontrak rancang bangun (design and build). Dengan sistem kontrak seperti ini pihak kontraktor melakukan pengawasan dan pengendalian pada biaya dan pelaksanaan yang sangat ketat agar tidak terjadi kerugian.

77