Anda di halaman 1dari 5

SEISMIK REFRAKSI

SEISMIK REFRAKSI Seismik refraksi biasa digunakan untuk penentuan atau pemodelan geologi bawah permukan dengan target dangkal biasanya untuk menentukan bidang lapuk (weathering zone). Gelombang seismik bekerja berdasarkan prinsip penjalaran gelombang secara fisis yang memenuhi beberapa hokum di bawah ini yaitu: Asas Fermat yaitu penjalaran gelombang dari satu titik ke titik lainnya menjalar melalui lintasan terpendek. Prinsip Huygens yaitu setiap titik yang dilalui muka gelombang akan menjadi sumber gelombang baru. Prinsip Snellius yaitu gelombang akan dipantulkan atau dibiaskan pada bidang batas antara dua medium, yang memenuhi persamaan berikut: Di mana: i : Sudut datang r : Sudut bias V1 : Kecepatan gelombang pada medium 1 V2 : Kecepatan gelombang pada medium 2 Pada metode seismik kondisi bawah permukaan bumi dianggap berlapis-lapis dengan anggapan setiap kondisi batuan menjalarkan gelombang dengan karakter tertentu. Semakin besar kedalaman maka semakin besar pula kecepatan rambat gelombang, hal ini dikarenakan kondisi batuan yang semakin kompak. Apabila penjalaran gelombang melalui kondisi batuan dengan densitas dan elastisitas yang berbeda, maka akan terjadi pemantulan dan pembiasan pada gelombang tersebut. Prinsip utama yang dipakai metode seismik refraksi ialah penerapan waktu tiba, baik gelombang langsung maupun gelombang refraksi sendiri. Mengingat kecepatan gelombang P lebih besar daripada gelombang S maka kita hanya memperhatiakan gelombang P. Apabila yang kita tinjau adalah gelombang primer (P-Wave) maka akan terjadi empat gelombang baru yaitu P-refreksi (PP1), gelombang S-refreksi (PS1), gelombang P-refraksi (PP2), gelombang S-refraksi (PS2). Dari hukum Snellius yang diterapkan pada kasus tersebut diperoleh: Di mana : Vp1 : Kecepatan gelombang-P di medium 1 Vp2 : Kecepatan gelombang-P di medium 2 Vs1 : Kecepatan gelombang-S di medium 1 Vs2 : Kecepatan gelombang-S di medium 2

Gambar 1. Pemantulan dan pembiasan gelombang

Penjalaran gelombang pada dua medium berlapis datar (horizontal) Pada kasus 2 medium yang berlapis datar kita lakukan pengukuran seperti gambar berikut:

gambar 2. Lintasan penjalaran gelombang bias Pada titik A diberikan getaran sehingga timbul gelombang seismik yang menjalar dari titik A ke titik B kemudian dibiaskan menuju titik C lalu dipantulkan menuju titik D dalam hal ini D kita sebut sebagai Geophone. Waktu keseluruhan yang diperlukan untuk penjalaran gelombang diatas ialah: T = TAB + TBC + TCD Berdasarkan waktu tiba gelombang dapat kita buat grafik hubungan jarak dengan waktu tiba yakni:

gambar 3. Grafik hubungan jarak dan waktu tiba Berdasarkan grafik hubungan jarak dan waktu tiba dapat kita tentukan harga V1 (kecepatan gelombang pada medium 1), V2 (kecepatan gelombang pada medium 2), Ti (waktu penggal atau intercept time) dan X0 (jarak kritis). Maka dapat kita tentukan: Persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi: Kedalaman lapisan di bawah geophone dapat kita tentukan dengan beberapa cara yaitu apabila ditinjau dari waktu penggalnya (Ti), maka untuk x = 0 besar T = Ti adalah: Harga X0 dapat kita tentukan dari data titik perpotongan grafik T1 dan T2 yang diperoleh. Metode Akuisisi Data Sebelum melakukan pengambilan data perlu dilakukan penentuan parameter-parameter lapangan dengan tujuan untuk meminimalkan noise sehingga menghasilkan S/N yang tinggi. Beberapa parameter lapangan yang mempengaruhi kualitas data antara lain, Sistem penembakan, Offset (jarak antara shot point dengan channel), Jarak shot point, Jarak antara channel dan, Sampling rate. Sampling rate berpengaruh pada batas frekuensi tertinggi yang akan direkam alat, akibat adanya aliasing. Frekuensi aliasing akan terjadi apabila frekuensi yang terekam lebih besar daripada frekuensi Nyquist-nya. Besarnya frekuensi nyquist dapat kita tentukan dengan persamaan berikut:

Dengan ketentuan: Fq : frekuensi nyquist t : besarnya laju pencuplikan Hal-hal yabg perlu diperhatikan pada saat akuisisi data ialah noise yang terjadi, karena ini akan mempengaruhi kualitas data yang akan kita peroleh. Ada beberapa noise yang biasa timbul antara lain angin, aliran sungai, benda-benda yang bergerak (pohon, aktivitas manusia, dll). Hal ini dapat kita tekan dengan mengusahakan agar tidak ada benda yang bergerak pada saat pengukuran dan juga melakukan penumpukan data (stacking) karena karakter dari noise biasanya acak.
(http://leanwijaya.blogspot.com/2008/11/seismik-refraksi.html?zx=61ff7e2e0c17ae6b)

Seismik refraksi
Metoda seismik refraksi mengukur gelombang datang yang dipantulkan sepanjang formasi geologi di bawah permukaan tanah. Peristiwa refraksi umumnya terjadi pada muka air tanah dan bagian paling atas formasi bantalan batuan cadas. Grafik waktu datang gelombang pertama seismik pada masing-masing geofon memberikan informasi mengenai kedalaman dan lokasi dari horison-horison geologi ini. Informasi ini kemudian digambarkan dalam suatu penampang silang untuk menunjukkan kedalaman dari muka air tanah dan lapisan pertama dari bantalan batuan cadas.

[sunting] Seismik refleksi


Metoda seismik refleksi mengukur waktu yang diperlukan suatu impuls suara untuk melaju dari sumber suara, terpantul oleh batas-batas formasi geologi, dan kembali ke permukaan tanah pada suatu geophone. Refleksi dari suatu horison geologi mirip dengan gema pada suatu muka tebing atau jurang.Metoda seismic repleksi banyak dimanfaatkan untuk keperluan Explorasi perminyakan, penetuan sumber gempa ataupun mendeteksi struktur lapisan tanah. Seismic refleksi hanya mengamati gelombang pantul yang datang dari batas-batas formasi geologi. Gelombang pantul ini dapat dibagi atas beberapa jenis gelombang yakni: Gelombang-P, Gelombang-S, Gelombang Stoneley, dan Gelombang Love.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Metoda_seismik#Seismik_refraksi)