Anda di halaman 1dari 16

Scenario PBL 4 Blok 30 Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya.

Ia seorang wanita karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12 tahun. Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku sebagai istri gelap suami S dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S telah lahir seorang anak laki-laki.B memnita kepada S agar mengawininya secara sah demi kepentingan anak lakilakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2 tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang wanita muda di caf, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah hubungan yang short time saja. A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari hubungannya dengan suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus dilakukakn agar dapat terlaksana permintaan tersebut. A. Pendahuluan Tiap sistem hukum yang ada di dunia memandang berbeda terhadap delik perzinahan sebagai bagian dalam delik-delik mengenai kesusilaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, perzinahan akan dipandang sebagai sebuah perbuatan yang asusila. Namun hal ini berbeda menurut masyarakat yang lebih bercorak individualis. Mereka menilai perzinahan sebagai bentuk perbuatan yang biasa dan tergantung kemauan tiap individu. Perzinahan akan dipandang tercela jika terjadi hal itu dilakukan dalam bingkai perkawinan. Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanya dapat terjadi jika ada persetubuhan yang dilakukan orang yang telah terikat dengan perkawinan. Sedangkan orang yang belum menikah dalam perbuatan ini adalah termasuk orang yang turut melakukan (medepleger). Ancaman pidana yang ditetapkan dalam pasal 284 ayat (1) KUHP adalah pidana penjara sembilan bulan, baik bagi pelaku yang telah menikah maupun bagi orang yang turut serta melakukan perbuatan zina itu. Ketentuan yang mengatur mengenai persaksian tidak diatur secara khusus dalam delik perzinahan menurut KUHP. Maka sistem pembuktian delik perzinahan sama dengan sistem pembuktian delik-delik yang lain. Artinya, alat bukti yang digunakan dalam membuktian adanya perbuatan zina ini seperti alat-alat bukti yang telah diatur dalam pasal 184 KUHAP, yaitu : 1. keterangan saksi; 2. keterangan ahli; 3. surat; 4. petunjuk; 5. keterangan terdakwa.
1

Selanjutnya pasal 185 ayat (3) mengatur bahwa keterangan seorang saksi saja cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya. Pasal 284 ayat (2) KUHP mengatur bahwa delik perzinahan adalah delik aduan absolut (absoluut klachdelicten) yang hanya dapat dituntut atas pengaduan suami atau isteri yang tercemar dengan adanya perzinahan itu (vide pasal 284 ayat (2) KUHP). Peran dokter dalam suatu kasus pembuktian perzinahan ataupun pembuktian identitas seorang anak dalam suatu kasus adalah dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan guna mendapatkan suatu bukti yang pasti tentang kasus tersebut dalam kasus ini dokter dituntut untuk bisa membuktikan anak si B merupakan anak dari si S. B. Aspek Hukum Pasal 284 KUHP Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan : 1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan zinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27 BW berlaku baginya; b. seorang wanita telah kawin yang melakukan jinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27 BW berlaku baginya/ 2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui, bahwa yang turut bersalah telah kawin b. seorang wanita yang tidak kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu padahal diketahui olehnya, bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. 2. tidak dilakukan penuntutan meaikan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bai mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tempo tiga bulan dikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja dan tempat tidur, karena alasan itu juga. 3. terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73 dan 75. 4. pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai. 5. jika bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena peceraian atau sebelumnya keputusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap. Pasal 3 UU no.1/1974 tentang perkawinan 1. Pada azasnya dalam suatu perkawinan, seorang pria hanya boleh mempunyai seorang suami. 2. Pangadilan dapat memberikan izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. C. Prosedur Medikolegal Persetujuan tindakan medik Peraturan menteri kesehatan No 585/menkes/Per/IX/1989 tentang persetujuan tindakan medik Pasal 1. Pemerkes No 585/menkes/Per/IX/1989 a. Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut;

b. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa diagnostik atau terapuetik; c. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh d. Dokter adalah dokter umum/dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerja dirumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan/bersama. Pasal 2. Pemerkes No 585/Menkes/per/IX/1989 1) Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. 2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan 3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan seteah pasien mendapat informasi yang ade kuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta resiko yang dapat ditimbulksnnya 4) Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien. Pasal 3 No 585/menkes/Per/IX/1989 1) Setiap tindakan medis yang mengandung resiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan 2) Tindakan medik yag tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam pasal ini tidak diperlukan persetujuan tertulis, cukup persetujuan lisan 3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat diberikan secara nyata atau diam-diam. Pasal 4 No 585/menkes/Per/IX/1989 1) Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak 2) Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi. 3) Dalam hal yang sebagaimana dimaksud ayat (2) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi. pasal 5 No 585/menkes/Per/IX/1989 1) informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik yang akan dilakukan, baik diagnostik maupun terapuetik. 2) Informasi diberikan secara lisan 3) Informasi harus diberikan secara jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal itu dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien.

4) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien. Pasal 9 No 585/menkes/Per/IX/1989 1) Bagi pasien dewasa yang berada di bawah pengampuan (cure tele) persetujuan diberikan oleh wali/curator. Pasal 12 No 585/menkes/Per/IX/1989 1. Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan medik 2. Pemberian persetujuan tindakan medik yang dilaksanakan di rumah sakit/klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab. Pasal 13 No 585/menkes/Per/IX/1989 1. Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan surat ozin prektek. D. Pemeriksaan Medis 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan fisik yang melihat ciri ciri fisik dari orang tuanya, misalnya warna rambut, warna kornea, bentuk muka dan lainnya. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditentukan secara pasti. Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium atau penunjang lainnya misalnya pemeriksaan paternitas. 2. Pemeriksaan Laboratorium a) Pemeriksaan Golongan Darah Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan penentuan golongan darah sebagai tes penyaring apa benar seorang anak mempunyai golongan darah yang sama dengan orang tuanya. Berikut langkah - langkah melakukan pemeriksaan laboratorium untuk penentuan golongan darah; Ambil beberapa tetes darah yang dipisahkan dengan kotak kotak yang didalamnya kemudian akan diberikan antibodi dari masing masing golongan darah. Lihat apakah tes terjadi aglutinasi atau tidak. Yang tidak beraglutinasi terhadap anti, itulah golongan darah anak tersebut. Anti A + + Anti B + + Anti AB + + + -

A B AB O

+ : Aglutinasi - : tidak aglutinasi

Ragu ayah ada berbagai kasus yang bisa muncul antaranya siapa ayah yang sebenarnya dari seorang anak
4

Bayi Ibu Pria I Pria II Pria III

Golongan Darah B MNS Rhesus + A MNS Rhesus + AB MNS Rhesus + O MNS Rhesus + A MNS Rhesus +

Pria I tidak dapat disingkirkan kemungkinan menjadi ayah si anak. Sedangkan pria II dan III pasti bukan ayah anak tersebut. Kasus yang lain yang biasa muncul adalah ayah curiga bahwa anak bukanlah anaknya yang sejati Golongan Darah O MNS Rhesus + A MNS Rhesus + B MNS Rhesus +

Anak Ibu Pria

Anak tersebut pastilah bukan anak dari pria diatas b) Pemeriksaan DNA DNA merupakan materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Setiap orang memiliki DNA yang unik. Dalam sel manusia, DNA dapat ditemukan di inti sel dan mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk suatu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap anak akan menerima setengah pasang kromoson dari ayah dan setengah pasang kromosom dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun ayah. Dalam hal ini ada dua tes, yaitu : - Tes paternitas Tes ini untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis. - Tes maternitas Tes DNA ini untuk menentukan apakah seorang perempuan adalah ibu biologis seorang anak. Tes ini bisa dilakukan untuk kasus dugaan bayi tertukar, bayi tabung, dan anak angkat. Selain di dalam inti sel, DNA juga bisa ditemukan di dalam mitokondria, yaitu bagian dari sel yang menghasilkan energi. DNA mitokondria hanya diturunkan dari ibu. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang tes paternitas dan maternitas. Siapa yang diperiksa?
5

Untuk tes paternitas yang diperiksa adalah ibu, anak, dan terduga ayah. Bisa saja hanya ayah dan anak yang diperiksa, jika ibu biologis tidak bersedia ikut tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah. Apa yang diperiksa? Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA. Mulai dari buccal swab (sel mukosa di pipi bagian dalam, diambil dengan alat khusus seperti cotton buds yang ujungnya dilengkapi dengan sisir kecil dari karet), darah, kuku, sampai rambut. Untuk bayi, jaringan bisa diambil dengan buccal swab atau jarum suntik kecil. Menurut Hera, yang paling efektif adalah darah karena bisa dapat banyak DNA. Namun, kini teknik pengambilan DNA makin lama makin sensitif, dalam arti bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan, seperti sidik jari yang menempel di suatu benda dan bekas lipstik. Adakah batasan usia? Tak ada batasan usia. Bahkan pada janin dan orang yang sudah meninggal. Pada tes paternitas sebelum anak dilahirkan (prenatal), tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari jaringan janin, umumnya pada usia kehamilan 10-13 minggu atau dengan cara amniosentesis (tes prenatal) pada usia kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli kebidanan kandungan.
Bagaimana prosedurnya?

Setelah ditanya alasan dan latar belakangnya, klien harus menandatangani persetujuan tes paternitas atau tes DNA lainnya di atas materai. Klien juga harus menyerahkan identitas diri (KTP atau paspor) dan foto. Setelah itu baru diambil darahnya dengan dihadiri saksi. Apabila anak belum dewasa, diperlukan fotokopi surat kelahiran atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hal untuk membawa anak itu melakukan tes paternitas. Seberapa akurat? Tes DNA adalah 100 persen akurat jika dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99,99 persen probabilitas paternitas jika DNA terduga ayah dan DNA anak, cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang dites, 100 persen bukanlah merupakan ayah biologis anak itu. Dulu, konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah. Kini, begitu ada tes, dilakukan dua kali dengan dua orang pemeriksa (researcher) Jika hasil dari dua orang itu berbeda, pasti ada kesalahan. Lalu kami cek lagi. Semua researcher sudah diperiksa DNA-nya. Sehingga jika ada yang tidak match, jangan-jangan ada kontaminasi. Mungkin terkena DNA si researcher. Bagaimana prosesnya? Begini proses yang paling sederhana: setelah mengambil jaringan atau darah, (dalam darah ada plasma, serum, sel-sel darah merah, sel-sel darah putih), dengan suatu detergen, "dipecahkan" membran sel darah putih. Apapun yang ada di dalamnya akan keluar, termasuk DNA. Sekarang ada teknologi yang bisa menggandakan sampai jutaan kali fragmen suatu DNA yang akan diperiksa. Berapa lama?
6

Hasil tes DNA selesai dalam waktu 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel. Selain itu, seluruh informasi pasien, mengenai tes, dan hasil tes akan dijamin kerahasiaannya. Karena pertanyaan mengenai paternitas, sangat sensitif. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes. Tidak Bisa Dipaksakan Tes DNA tidak bisa dilakukan karena paksaan dari pihak ketiga. Namun, untuk keperluan pengadilan, jaksa dan polisi bisa meminta. Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dari polisi atau jaksa), maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum. Ada beberapa pemeriksaan DNA yang bias dilakukan,yaitu: 1. Konsep Polimorfisme Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang sama. Jika terdapat variasi / modifikasi pada suatu lokus yang spesifik (pada DNA) dalam suatu populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini di samping menunjukkan variasi individu, juga memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari yang lain. Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA. Polimorfisme protein antara lain ialah golongan darah, golongan protein serum, sistim golongan enzim eritrosit dan sistim HLA (Huma Lymphocyte Antigen). Polimorfisme DNA merupakan suatu polimorfisme pada tingkat yang lebih awal dibandingkan polimorfisme protein, yaitu tngkat kode genetik atau DNA. Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA (DNA fingerprint), VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism), secara Southern blot maupun dengan PCR (Polymerase Chain Reaction). Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan polimorfisme DNA menunjukan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme DNA menunjukkan tingkat polimorfis yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan terhadap banyak sistem. Kedua, DNA jauh lebih stabil dibandingkan protein, membuat pemeriksaan DNA masih dimungkinkan pada bahan yang sudah membusuk, mengalami mummifikasi atau bahkan pada jenazah yang tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat luas meliputi seluruh sel tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin untuk digunakan sebagai bahan pemeriksaan. Keempat, dengan ditemukannya metode PCR, bahan DNA yang kurang segar dan sedikit jumlahnya masih mungkin untuk dianalisis. 2. Pemeriksaan DNA Fingerprint Pemeriksaan sidik DNA pertama kali dperkenalkan oleh Jeffreys pada tahun 1985. Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang termasuk daerah noncoding atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa tertentu yang berulang sebanyak n kali. Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genommanusia sehingga dinamakan multilokus. Bagian DNA ini dimiliki oleh smua orang tetapi masing-masing individu mempunyai jumlah pengulangan yang berbeda-beda satu sama lain, sedemikian sehingga kemungkinan dua individu mempunyai fragmen DNA yang sama adalah sangat kecil sekali. Bagian DNA ini dikenal dengan nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya tersebar pada bagian ujung kromosom. Seperti juga DNA pada umumnya, VNTR ini diturunkan dari
7

kedua orangtua menurut hukum Mendel, sehingga keberadaanya dapat dilacak secara tidak langsung dari orangtua, anak maupun saudara kandungnya. Jeffreys dan kawan - kawan menemukan bahwa suatu fragmen DNA yang diisolasi dari DNA yang terletak dekat dengan gen globin mansuai ternyata dapat melacak VNTR ini secara simultan. Pelacak DNA (probe) multilokus temuannya ini dinamakan pelacar Jeffreys yang terdiri dari beberapa probe, diantaranya 16.6 dan 16.15 yang paling sering digunakan. Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi DNA dari sel berinti, lalu memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl, sehingga DNA menjadi potongan-potongan. Potongan DNA ini dipisahkan satu sama lain berdasarkan berat molekulnya (panjang potongan) dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose. Dengan menempatkan DNA pada sisi bermuatan negatif, maka DNA yang bermuatan negatif akan ditolak ke sisi lainnya dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen DNA. Fragmen DNA yang tleha terpisah satu sama lain di dalam agar lalu diserap pada suatu membran nitroselulosa dengan suatu metode yang dinamakan metode Southern blot. Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu diproses untuk membuat DNA-nya menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi), baru kemudian dicampurkan dnegan pelacak DNA yang telah dilabel dengan bahan radioaktif dalam proses yang dinamakan hibridisasi. Pada proses ini pelacak DNA akan bergabung dengan fragmen DNA yang merupakan basa komplemennya. Untuk menampilkan DNA yang telah ber-hibridisasi dengan pelacak berlabel ini, dipaparkanlah suatu film diatas membran sehingga film akan terbakar oleh adanya radioaktif tersebut (proses autoradiografi). Hasil pembakan film oleh sinar radioaktif ini akan tampak pada fil berupa pita-pita DNA yang membentuk gambaran serupa Barcode (label barang di supermarket). Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak DNA umumnya dapat dihasilkan sampai 20-40 buah pita DNA per-sampelnya. Pada kasus identifikasi mayat tak dikenalm dilakukan pembandingan pita korban dengan pita orangtua atau anak-anak tersangka korban. Jika korban benar adalah tersangka maka akan didapatkan bahwa separuh pita anak akan cocok dengan ibunya dan separuhnya lagi cocok dengan pita ayahnya. Hal yang sama juga dapat dilakukan pada kasus ragu ayah (disputed paternity). Pada kasus perkosaan, dilakukan pembandingan pita DNA dari apus vagina dengan pita DNA tersangka pelaku. Jika tersangka benar adalah pelaku, maka akan dijumpai pita DNA yang persis pola susunannya. 3. Analisis VNTR Lain Setelah penemuanny Jeffreys ini, banyak terjadi penemuan VNTR lain. Metode pemeriksaanpun menjadi beraneka ragam dengan menggunakan enzim restriksi, sistim labeling pelacak dan pelacak yang berbeda, meskipun semua masih menggunakan metode Southern blot seperti metode Jeffreys. Setelah kemudian ditemukan suatu pelacak yang dinamakan pelacak lokus tunggal (singel locus), maka mulailah orang mengalihkan perhatiannya pada metode baru ini. Pada sistim pelacakan dengan pelacak tunggal, yang dilacak pada suatu pemeriksaan hanyalah satu lokus tertentu saja, sehingga pada analisis selanjutnya hanya akan didapatkan dua pita DNA saja. Karena pola penurunan DNA ini juga sama, maka satu pita berasal dari ibu dan pita satunya berasal dari sang ayah.
8

Adanya jumlah pita yang sedikit ini menguntungkan karena interpretasinya menjadi lebih mudah dan sederhana. Keuntungan lainn adalah ia dapat mendeteksi jumlah pelaku perkosaan. Jika pada usap vagina korban ditemukan ada 6 pita DNA misalnya, maka pelaku perkosaan adalah 3 orang (satu orang 2 pita). Kelemahannya adalah jumlah pita yang sedikit membuat kekuatan diskriminasi individunya lebih kecil, sehingga perlu identifikasi personal selain kasus perkosaan, perlu dilakukan pemeriksaan dengan pelacakan beberapa lokus sekaligus. Secara umum, metode Jeffreys dan pelacak multilokus dianjurkan untuk kasus identifikasi personal, sedang untuk kasus perkosaan menggunakan metode dengan pelacak lokus tunggal. 4. Pemeriksaan RFLP Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat adanya variasi panjang fragmen DNA setelah dipotong dengan enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi mempunyai kamampuan memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu sehingga akan menghasilkan potonganpotongan DNA tertentu. Adanya mutasi tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat DNA yang biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong sehingga membentuk fragmen DNA yang lebih panjang. Variasi inilah yang menjadi dasar metode analisis RFLP. VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungguhnya adalah salah satu jenis RFLP, karena variasi fragmennya didapatkan setelah pemotongan dengan enzim restriksi. Metode pemeriksaan RFLP dapat dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga dengan metode PCR. 5. Metode PCR Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan menggunakan enzim polimerase DNA. Kelompok Cetus pada tahun 1985 menemukan bahwa DNA yang dicampur dengan deoksiribonukleotida trifosfat atau dNTP (yang terdiri dari ATP, CTP, TTP dan GTP), enzim polimerase DNA dan sepasang primer jika dipanaskan, didinginkan lalu dipanaskan lagi akan memperbanyak diri dua kali lipat. Jika siklus ini diulang sebanyak n kali, maka DNA akan memperbanyak diri 2n kali lipat. Yang dimaksud dengan primer adalah fragmen DNA untau tunggal yang sengaja dibuat dan merupakan komplemen dari bagian ujung DNA yang akan diperbanyak, sehingga dapat diibaratkan sebagai patok pembatas bagian DNA yang akan diperbanyak. Siklus proses PCR diawali dengan pemanasan pada suhu tinggi, yang berkisar antara 90-95 derajat Celsius (fase denaturasi). Pada suhu ini DNA untai ganda (double stranded) akan terlepas menjadi 2 potong DNA untai tunggal (single stranded). Proses ini dilanjutkan dengan pendinginan pada suhu tertentu (fase penempelan prier atau primer annealing) yang dihitung dengan rumus Thein dan Walace: Suhu = 4(G + C) + 2(A + T) G, C, A dan T adalah jumlah basa Guaninm Sitosin, Adenin dan Timin pada primer yang digunakan. Pada fase ini primer akan menempel pada basa komplemennya pada DNA untai tunggal tadi. Selanjutnya, siklus diakhiri dengan pemansan kembali antara 70-75 derajat Celsius (fase ekstensi atau elongasi), yang akan membuat primer memperpanjang diri membentuk komplemen dari untai tunggal dengan menggunakan bahan dNTP. Pemeriksaan dengan metode PCR hanya dimungkinkan jika bagian DNA yang ingin diperbanyak telah diketahui urutan basanya. Tahapan selanjutnya adalah menentukan dan menyiapkan primer yang merupakan komplemen dari basa pada ujung-ujung bagian yang akan
9

diperbanyak. Pemeriksaan PCR sendiri merupakan suatu proses pencampuran antara DNA cetakan (template) yang akan diperbanyak, dNTP, primer, enzim polimerase DNA dan larutan buffer dalam reaksi 50 ul atau 100 ul. Campuran ini dipaparkan pada 3 suhu secara berulang sebanyak n buah siklus (biasanya di bawah 35 siklus). Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya menjadi amat sederhana. DNA hasil perbanyakan dapat langsung dianalisis dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose atau gel poliakrilamide. LokusDNA yang dapat dianalisis dengan mteode PCR, meliputi banyak sekali lokus VNTR maupun RFLP lainnya, diantaranya lokus D1S58 (dulu disebut D1S80) dan D2S44. Metode analisis dengan PCR ini begitu banyak disukaisehingga penemuan-penemuan lokus DNA polimorfik yang potensial untuk analisis kasus forensik terus terjadi tanpa henti setiap saat. Pada masa sebelum berkembangnya teknologi bio-molekuler, identifikasi personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme protein, seperti golongan darah, dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan pertama, ia hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena protein cepat rusak oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan kesimpulan eksklusi yaitu "pasti bukan" atau "mungkin". Pada metode konvensional, untuk mempertinggi ketepatan kesimpulan pada kelompok yang tak terkesklusi, pemeriksaan harus dilakukan terhadap banyak sistim sekaligus. Penemuan DNA fingerprint yang menawarkan metode eksklusi dengan kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidik jari. Dengan mulai diterapkannya metode PCR, kemampuan metode ini untuk memperbanyak DNA jutaan samapi milyaran kalomemungkinkan dianalisisnya sampel forensik yang jumlahnya amat minim, seperti analisis kerokan kuku (cakaran korban pada pelaku), bercak mani atau darah yang minim, puntung rokok dsb. Kelebihan lain dari pemeriksaan dengan PCR adalah kemampuannya untuk menganalisis bahan yang sudah berdegradasi sebagian. Hal ini penting karena banyak dari sampel forensik merupakan sampe postmortem yang tak segar lagi. Interpretasi hasil Setelah dilakukan pemeriksaan DNA pada tersangka ayah, anak, dan ibu maka ketiga hasil pemeriksaan DNA tersebut dimasukkan dalam suatu tabel FCM (father child mother). Pada setiap lokusnya, dicari fragmen DNA maternal, yaitu fragmen DNA anak yang sama dengan salah satu fragmen DNA ibunya. Kemudian fragmen DNA anak satunya, yang merupakan fragmen DNA paternal (berasal dari ayah) dibandingkan dengan kedua fragmen DNA tersangka ayah. Jika ditemukan ada fragmen DNA tersangka ayah yang sama dengan fragmen DNA paternal anak, maka pria tersebut dinyatakan mungkin merupakan anak dari pria tersebut. Jika DNA paternal anak tidak sama dengan salah satu DNA tersangka ayah, maka komposisi tersebut dapat dinyatakan sebagai ekslusi (2,3,4,5). Ditemukannya dua ekslusi atau lebih pada panel 10 atau 15 lokus memastikan bahwa anak tersebut bukan anak pria tersebut. Contoh hasil pemeriksaan paternitas yang menunjukkan bahwa tersangka pria adalah ayah biologis dari seorang anak. No Lokus Tn. X Anak B Ny. M kesimpulan 01 CSFIPO 11 , 12 11 , 11 11 ,11 mungkin
10

02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13

FGA TH01 TPOX VWA D3S1358 D5S818 D7S820 D8S1179 D13S317 D16S539 D18S51 D21S11

12 , 15 08 , 12 15 , 15 19 , 21 11 , 12 08 , 11 07 , 09 14 , 16 12 , 14 08 , 11 14 , 16 14 , 14

15 , 16 08 , 11 15 , 15 19 , 22 10 , 12 09 , 11 07 , 07 14 , 18 14 , 15 08 , 09 16 , 18 13 , 14

16 , 18 11 , 12 14 , 15 20 , 22 10 , 22 09 , 11 07 , 08 17 , 18 15 , 15 08 , 09 15 , 18 13 , 15.2

mungkin mungkin mungkin Mungkin mungkin mungkin mungkin mungkin mungkin mungkin mungkin mungkin

Keterangan : 1. Pada setiap lokus (daerah) DNA yang diperiksa, setiap anak memiliki sepasang pita DNA, yang dinyatakan sebagai angka yang menunjukkan panjangnya DNA. 2. Satu pita anak pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ibunya (pita materal), sedangkan satu pita lainnya pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ayah kandungnya (pita paternal) 3. Eksklusi artinya terdapat ketidaksesuaian (tidak sama) DNA paternal anak dengan DNA tersangka ayah pada lokus tersebut. 4. Seorang pria dikatakan AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak, jika pita paternal anak sama dengan salah satu DNA pria tersebut pada setiap lokus DNA yang diperiksa. 5. Seorang pria dikatakan BUKAN AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak jika dua atau lebih lokus DNA yang diperiksa didapat ada ketidaksesuaian (eksklusi) DNA paternal anak dengan DNA pria tersebut. 6. Pada tabel diatas didapatkan pada semua lokus DNA ditemukan kesesuaian DNA paternal anak B dengan DNA Tuan X. Hal ini menunjukkan bahwa anak B adalah benar anak biologis Tuan X. Paternity Index 5.540.619, menunjukkan bahwa Tuan X 5.540.619kali lebih mungkin merupakan ayah biologis dari anak B dibandingkan pria lngain yang diambil secara acak dari dalam populasi yang sama. 7. Probability of paternity pada kasus ini adalah 99,99998%

MANFAAT TES DNA Karena sebagian DNA didapat dari ayah biologik dan sebagian lagi didapat dari ibu, maka profil DNA seseorang menunjukkan beberapa persamaan dengan profil DNA ayah/ibu dan saudara-saudaranya. Itulah mengapa, tes DNA ini mempunyai banyak kegunaan: Dapat dilakukan oleh wanita yang memerlukan bukti ayah dari anaknya kepada lelaki yang menolak mengakui anak tersebut sebagai anaknya. Dapat menolong ayah yang ingin mencari kebenaran identitas anaknya demi ketenangan pikirannya.
11

Dapat menolong anak angkat yang sedang membuktikan siapa orang tua

kandungnya. Dapat menolong seseorang yang mencari salah satu orang tuanya yang telah bercerai lama. Dapat digunakan untuk mencari nenek moyangnya demi kepentingan klaim asuransi. Dapat digunakan untuk mencari tahu apakah kedua anak tersebut kembar identik atau bukan. Dapat mencari tahu apakah anak mereka anak kandungnya atau bukan, terutama pada kasus anak yang tertukar di rumah sakit. Dapat menentukan apakah beberapa orang tersebut saudara kandungnya atau bukan. Dapat digunakan untuk mencari seseorang yang terlibat dalam tindakan kriminal, seperti pembunuhan, perampokan, ataupun pemerkosaan.

E. Etika Profesi Kedokteran Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberaoa rules dibawahnya. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah : a) prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent. b) prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. c) prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memoerburuk keadaan pasien. d) prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. 1. Etika Klinik Jonsen, Siegler, dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik, yaitu : a) medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostic dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi meis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah beneficence dan nonmaleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin informed consent. b) patient preferences perlu memperhatikan nilai (value) dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomi. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer sikap dan keputusannya,
12

pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai, dan keyakinan yang dianut pasien, dll. c) quality of life aktualisasi salah satu tujuam kedokteran, yaitu memperbaiki, menjaga, atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, nonmaleficence, dan autonomi, d) contextual features dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budayaa, kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum. 2. Hak Pasien Dan Kewajiban Dokter Berdasarkan hubungan kontrak di atas, muncullah hak-hak pasien yang pada dasarnya terdiri dari 2 hak, yaitu : 1. the rights to health care 2. the rights to self determination Secara tegas the World Medical Association telah mengeluarkan Declaration of Lisbon on the Rights of the Patient (1991), yaitu hak memilih dokter secara bebas, hak dirawat oleh dokter yang bebas dalam membuat keputusan klinis dan etis, hak untuk menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi yang adekuat, hak untuk dihormati kerahasiaan dirinya, hak untuk mati secara bermartabat, dan hak untuk menerima atau menolak dukungan spiritual atau moral. UU Kesehatan menyebutkan beberapa hak pasien, sperti hak atas informasi, hak atas second opinion, hak untuk memberikan persetujuan atau menolak suatu tindakan medis, hak untuk kerahasiaan, hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan, dan hak untuk memperoleh ganti rugi apabila ia dirugikan akibat kesalahan tenaga kesehatan. Di sisi lain, para pasien juga memiliki kewajiban, demikian pula dokter juga memiliki hak. Namun yang lebih utama dibicarakan adalah kewajiban dokter yang dimilikinya sejak dia mengucapkan sumpah dokter. Kewajiban tersebut adalah : 1. kewajiban profesi sebagaimana terdapat dalam lafal sumpah dokter, kode etik kedokteran, standar perilaku profesi (SOP) dan standar pelayanan medis (SPM) 2. kewajiban yang lahir oleh karena adanya hubungan dokter-pasien UU Praktik Kedokteran pasien memiliki hak untuk mendapatkan penjelasan lengkap tentang rindakan medis sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 45 ayat (3), meminta pendapat dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis. Adapun pasal 45 ayat (3) menyatakan tentang penjelasan tersebut diatas sekurang-kurangnya meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tibdakan medis yang akan dilakukan, alternative tindakan lain dan risikonya, risiko dan komplikasi yang dilakukan. Di sisi lain, pasien berkewajiban memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya, mematuhi nasihat dan petunjuk dokter, mematuhi ketentuan yang berlaku disarana pelayanan kesehatan, dan memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
F. Aspek Sosial Agama 13

1. Dampak Perselingkuhan Apapun jenis perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, dampak negatifnya terhadap perkawinan amat besar dan berlangsung jangka panjang. Perselingkuhan berarti pula penghianatan terhadap kesetiaan dan hadirnya wanita lain dalam perkawinan sehingga menimbulkan perasaan sakit hati, kemarahan yang luar biasa, depresi, kecemasan, perasaan tidak berdaya, dan kekecewaan yang amat mendalam. Istri-istri yang amat mementingkan kesetiaan adalah mereka yang paling amat terpukul dengan kejadian tersebut. Ketika istri mengetahui bahwa kepercayaan yang mereka berikan secara penuh kemudian diselewengkan oleh suami, maka mereka kemudian berubah menjadi amat curiga. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan bukti-bukti yang berkaitan dengan perselingkuhan tersebut. Keengganan suami untuk terbuka tentang detil-detil perselingkuhan membuat istri semakin marah dan sulit percaya pada pasangan. Namun keterbukaan suami seringkali juga berakibat buruk karena membuat istri trauma dan mengalami mimpi buruk berlarut. Secara umum perselingkuhan menimbulkan masalah yang amat serius dalam perkawinan. Tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan perceraian karena istri merasa tidak sanggup lagi bertahan setelah mengetahui bahwa cinta mereka dikhianati dan suami telah berbagi keintiman dengan wanita. Pada perkawinan lain, perceraian justru karena suami memutuskan untuk meninggalkan perkawinan yang dirasakannya sudah tidak lagi membahagiakan. Bagi para suami tersebut perselingkuhan adalah puncak dari ketidakpuasan mereka selama ini. Bagi pasangan yang memutuskan untuk tetap mempertahankan perkawinan, dampak negatif perselingkuhan amat dirasakan oleh istri. Sebagai pihak yang dikhianati, istri merasakan berbagai emosi negatif secara intens dan seringkali juga mengalami depresi dalam jangka waktu yang cukup lama. Rasa sakit hati yang amat mendalam membuat mereka menjadi orang yang amat pemarah, tidak memiliki semangat hidup, merasa tidak percaya diri, terutama pada masa-masa awal setelah perselingkuhan terbuka. Mereka mengalami konflik antara tetap bertahan dalam perkawinan karena masih mencintai suami dan anak-anak dengan ingin segera bercerai karena perbuatan suami telah melanggar prinsip utama perkawinan. 2. Proses Healing Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami memberikan dampak negatif yang luar biasa terhadap istri. Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan. Selain itu terjadi pula perubahan mood yang begitu cepat sehingga membuat para istri serasa terkuras tenaganya. Kondisi ini, yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan, sama sekali tidak mudah untuk dilalui. Salah satu perasaan yang secara intens dirasakan adalah kesedihan dan kehilangan. Perasaan sedih semakin mendalam pada saat-saat menjelang ulang tahun pernikahan, ulang tahun pasangan, dan tanggal pada saat terbukanya perselingkungan. Kesedihan akibat perselingkuhan dapat dijelaskan melalui model proses berduka dari KublerRoss yang terdiri dari 5 tahapan: a) Tahap Penolakan Awal tahap ini diwarnai dengan perasaan tidak percaya, penolakan terhadap informasi tentang perselingkuhan suami. Dalam beberapa istri merasa mati rasa yang merupakan respon perlindungan terhadap rasa sakit yang berlebihan. Bila tidak berlarut-larut, penolakan ini menjadi mekanisme otomatis yang menghindarkan diri dari luka batin yang dalam. b) Tahap Kemarahan
14

Setelah melewati masa penolakan, istri akan mengalami perasaan marah yang amat dahsyat. Mereka biasanya akan sangat memaki-maki suami atas perbuatannya tersebut, sering menangis, bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap suami. Kemarahan seringkali dilampiaskan pula kepada wanita yang menjadi pacar suami. Keinginan istri untuk balas dendam kepada suami amatlah besar, yang muncul dalam bentuk keinginan untuk melakukan perselingkuhan atau membuat suami sangat menderita. c) Tahap Bargaining Ketika perasaan marah sudah agak mereda, maka istri akan memasuki tahap bargaining. Karena menyadari kondisi perkawinan yang sedang dalam masa krisis maka istri berjanji melakukan banyak hal positif asalkan perkawinan tidak hancur. Misalnya saja berusaha untuk lebih perhatian pada suami, menjadi pasangan yang lebih ekspresif dalam hubungan seksual, atau lebih merawat diri. Keputusan ini kadang tidak rasional karena seharusnya pihak yang berselingkuh yang harus memperbaiki diri dan meminta maaf. d) Tahap Depresi Kelelahan fisik, perubahan mood yang terus menerus, dan usaha-usaha untuk memperbaiki perkawinan dapat membuat istri masuk ke dalam kondisi depresi. Para istri kehilangan gairah hidup, merasa sangat sedih, tidak ingin merawat diri dan kehilangan nafsu makan. Mood depresif menjadi semakin buruk bila istri meyakini bahwa dirinyalah yang salah dan menyebabkan suami berselingkuh. e) Tahap Penerimaan Setelah istri mencapai tahap penerimaan, barulah dapat terjadi perkembangan yang positif. Penerimaan terbagi menjadi dua tipe. Pertama, penerimaan intelektual yang artinya menerima dan memahami apa yang telah terjadi. Kedua, penerimaan emosional yang artinya dapat mendiskusikan perselingkuhan tanpa reaksi-reaksi berlebihan. Proses menuju penerimaan tidak sama bagi semua orang dan rentang waktunya juga berbeda. Selain perasaan sedih dan marah, para istri juga mengalami obsesi terhadap perselingkuhan suami. Sepanjang hari mereka tidak bisa melepaskan diri dari berbagai pertanyaan dan detil-detil perselingkuhan. Banyak istri yang menginterogasi suaminya berkali-kali untuk memastikan bahwa suami tidak berbohong dan menceritakan keseluruhan peristiwa.

Daftar Pustaka
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Jilid 2. Jakarta :

Pustaka Dwipar. 2007


15

2. Staf Pengajar Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu

Kedokteran Forensic. Cetakan ke-2. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997 3. Idries, AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara 4. Asam Deoksiribonukleat. Diunduh dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_deoksiribonukleat, 20 januari 2010 5. Etika Kedokteran Indonesia dan Penanganan Pelanggaran Etika di Indonesia, diunduh dari http://astaqauliyah.com/2006/12/04/etika-kedokteranindonesia-dan-penanganan-pelanggaran-etika-di-indonesia, 19 January 2010

16