Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU LAPORAN TUTORIAL BLOK 17 UNIT PEMBELAJARAN 3

Osteodistrofia Fibrosa (ODF)

Disusun Oleh : MIFTAKHUL HIDAYATI 09/283096/KH/06177 KELOMPOK 4

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012


1 Learning Objective : 06177

Learning objectives : 1. Mampu menjelaskan tentang alkaline phospatase, phosphor dan calcium dalam metabolism 2. Mengetahui tantang Osteodistrofia Fibrosa meliputi : a. Etiologi b. Pathogenesis c. Gejala klinis d. Diagnose e. Terapi dan penanganan 3. Mengetahui ransum yang seimbang pada kuda

PEMBAHASAN 1. Alkaline phospatase, phosphor dan calcium dalam metabolism A. Faktor-faktor yang Meningkatkan Absorpsi Kalsium 1. Tingkat kebutuhan Peningkatan kebutuhan terjadi pada pertumbuhan, masa kebuntingan, menyusui, defisiensi kalsium. 2. Vitamin D Vitamin D meningkatkan absorpsi kalsium dari saluran cerna dan juga membantu mengontrol penyimpanan kalsium di tulang. Vitamin D meningkatkan absorpsi kalsium dengan menunjang transport aktif kalsium melalui epitel ileum yang memproduksi protein-pengikat kalsium. Dalam hal ini vitamin D yang digunakan adalah dalam bentuk aktif yaitu 1,25 dihidroksikolekalsiferol. 1,25-dihidroksikolekalsiferol berfungsi untuk meningkatkan absorpsi kalsium oleh usus dengan cara meningkatkan pembentukan protein pengikat kalsium di sel epitel usus. Protein pengikat kalsium ini berfungsi di brush border untuk mengangkut kalsium ke dalam sitoplasma sel dan selanjutnya kalsium bergerak melalui membran basolateral sel dengan cara difusi terfasilitasi. Langkah pertama dalam aktivasi vitamin D adalah mengubah vitamin D menjadi 25 hidroksikalsiferol dan proses in terjadi di hati. Dan selanjutnya 25 hidroksikalsiferol akan diubah lagi menjadi bentuk aktif dari vitamin D yaitu 1,25 hidroksikalsiferol. Proses ini terjadi di tubulus proksimal ginjal dan juga mendapat bantuan langsung dari PTH. 1,25 hidroksikalsiferol berfungsi sebagai suatu jenis hormon yang berfungsi untuk meningkatkan absorbsi kalsium oleh usus. 1,25 hidroksikalsiferol meningkatkan produksi protein pengikat kalsium di sel epitel usus. Protein ini berfungsi di brush border sel-sel tersebut untuk mengangkut kalsium ke dalam sitoplasma sel dan selanjutnya kalsium bergerak melalu membran basolateral sel dengan cara difusi terfasilitasi. Protein ini akan tetap berada di dalam sel selama beberapa minggu setelah 1,25 hidroksikalsiferol dibuang dari tubuh, sehingga

2 Learning Objective : 06177

memiliki efek yang berkepanjangan terhadap absorbsi kalsium. Efek lain yang ditimbulkan adalah pembentukakn ATPase terstimulasi kalsium di brush border sel epitel dan pembentukan suatu alkalin forfatase di sel epitel. 3. Asam klorida Asam Klorida yang dikeluarkan oleh lambung membantu absorpsi kalsium dengan cara menurunkan pH di bagian atas usus halus. 4. Makanan yang mengandung lemak Lemak meningkatkan waktu transit makanan melalui saluran cerna, dengan demikian memberikan waktu lebih banyak untuk absorpsi kalsium (Guyton dan Hall, 2006). Mekanisme Metabolisme Kalsium

B. Faktor-faktor yang Menghambat Absorbsi Kalsium 1. Kekurangan vitamin D bentuk aktif 2. Makanan tinggi serat karena mempercepat waktu transit makanan di dalam saluran cerna (Guyton dan Hall, 2006) C. Fungsi Kalsium 1. Membentuk serta mempertahankan tulang dan gigi yang sehat 2. Mencegah osteoporosis 3. Membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka

3 Learning Objective : 06177

Menghantarkan signal ke dalam sel-sel saraf Mengatur kontraksi otot Membantu transport ion melalui membrane Sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencemaan, energi dan metabolisme lemak (FKUI, 2006) Sekitar 50% kalsium total dalam plasma (5 mEq/L) berada dalam bentuk terionisasi (bentuk yang memiliki aktivitas biologis pada membran sel). Sisanya sekitar 40% terikat dengan protein plasma dan 10% lainnya dalam ikatan kompleks dalam bentuk non-ionisasi dengan anion-anion sepeerti pada fosfat dan sitrat. Konsentrasi ion Kalsium pada CES normalnya sekitar 2,4 mEq/L. Bila konsetrasi ion kalsium turun melewati batas normal (hipokalsemia), maka akan timbul rangsangan pada sel-sel saraf dan otot yang meningkat dengan nyata dan pada beberapa keadaan yang ekstrem dapat menyebabkan tetani hipokalsemik yang ditandai dengan kekekuan otot. Sedangkan pada keadaan dimana konsentrasi ion Kalsium melebihi nilai normalnya (hiperkalsemia), yang menekan ambang rangsang pada neuromuskular yang berakibat aritmia jantung (Guyton dan Hall, 2006). Perubahan konsentrasi ion hidrogen plasma dapat mempengaruhi derajat ikatan kalsium terhadap protein plasma. Pada pasien asidosis, lebih sedikit kalsium yang berkaitan dengan protein plasma. Sedangkan pada pasien alkalosis, jumlah ion kalsium yang terikat dengan protein plasma lebih besar. Ion kalsium secara aktif diabsorbsi ke dalam darah terutama dari duodenum dan jumlah absorbsi ion kalsium dikontrol sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan harian tubuh akan kalsium. Faktor penting yang mengontrol absorbsi kalsium adalah PTH yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid, dan vitamin D Dalam kondisi tertentu, ekskresi kalsium di feses dapat melebihi kalsium yang dicerna karena kalsium juga dapat disekresikan ke dalam lumen usus. Oleh karena itu, traktus gastrointestinal dan mekanisme regulasi yang mempengaruhi absorpsi dan sekresi kalsium intestinal berperan penting dalam homeostasis kalsium (FKUI, 2006). Hanya sekitar 50% kalsium plasma yang terionisasi, dan sisanya terikat plasma atau dalam ikatan kompleks dengan anion seperti fosfat. Maka hanya sekitar 50% kalsium inilah yang difiltrasi oleh glomerulus. Normalnya ada sekitar 99% kalsium yang difiltrasi akan direabsorbsi oleh tubulus (65% di reabsorbsi di tubulus proksimal, 25-30% direabsorbsi di ansa henle dan sekitar 4-9% direabsorbsi di tubulus distal dan koligentes) dan sisanya yang 1% disekresikan melalui urin. Ekskresi kalsium disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Dengan peningkatan asupan kalsium, juga terdapat peningkatan ekskresi kalsium dari ginjal. Dengan hilangnya kalsium, ekskresi kalsium oleh ginjal juga menurun karena terjadi peningkatan reabsorbsi kalsium oleh tubulus (Guyton dan Hall, 2006).

4. 5. 6. 7.

4 Learning Objective : 06177

D. Faktor yang Mempengaruhi Reabsorbsi Kalsium adalah : 1. Konsentrasi fosfat plasma Peningkatan konsentrasi fosfat plasma akan merangsang peningkatan reabsorbsi kalsium olah ginjal. Dan sebaliknya, jika terjadi penurunan konsentrasi fosfat plasma akan menimbulkan penurunan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. 2. Asidosis metabolik dan Alkalosis metabolic Asidosis metabolik merangsang terjadinya peningkatan reabsorbsi kalsium oleh ginjal, sedangkan pada alkalosis metabolik terjadi penurunan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. 3. Tekanan darah Peningkatan tekanan darah menimbulkan penurunan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. Sedangkan pada penurunan tekanan darah merangsang peningkatan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. 4. Hormon Paratiroid Peningkatan PTH merangsang peningkatan reabsorbsi kalsium oleh ginjal, dan sebaliknya. Hormon Paratiroid (PTH) menyediakan mekanisme yang kuat untuk mengatur konsentrasi kalsium lewat pengaturan reabsorbsi usus, ekskresi ginjal dan pertukaran ion-ion antara CES dan tulang. Naiknya konsentrasi kalsium terutama kerana dua hal, yaitu efek PTH yang meningkatkan absorbsi kalsum dan fosfat dari tulang dan efek yang cepat dari PTH dalam mengurangi ekskresi kalsium oleh ginjal (Guyton dan Hall, 2006). Menurut Guyton dan Hall, 2006, PTH mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan phospat. Efek tersebut antara lain: a. Fase cepat absorpsi kalsium PTH dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari dua tempat dalam tulang, yaitu : 1) Dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak dalam tulangnya sendiri 2) Disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang. Osteoblas dan osteosit membentuk suatu sistem sel yang saling berhubungan satu sama lain, yang menyebar diseluruh permukaan tulang kecuali sebagian permukaan kecil yang berdekatan dengan osteoklas. Diantara membran osteositik dan tulang ada sedikit cairan tulang. Membran osteositik nantinya akan memompa ion kalsium dari cairan tulang ke cairan ekstrasel, menciptakan suatu konsentrasi ion kalsium di dalam cairan tubuh hanya 1/3 dari konsentrasi kalsium di dalam CES. Bila pompa osteositik sangat aktif, maka konsentrasi kalsium dalam cairan tulang menjadi sangat aktif, sehingga konsentrasi kalsium di dalam cairan tulang menjadi rendah dan kalsium fosfat yang nantinya akan diabsorbsi dari tulang ke CES. Efek ini disebut osteolisis. Bila pompa menjaditidak aktif,

5 Learning Objective : 06177

konsentrasi ion kalsium dalam cairan tulang naik lebih tinggi dan garam-garam kalsium fosfat ditimbun lagi di dalam matriks tulang. Letak peran PTH dalam proses ini adalah pertama, membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor untuk mengikat PTH. PTH nantinya akan mengaktifkan pompa kalsium dengan kuat sehingga menyebabkan perpindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat dari cristal tulang amorf yang terletak dekat dengan sel. PTH diyakni merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari membran sel memindahkan ion kalsium yang tersisa ke dalam CES. b. Fase Lambat Pada fase ini, yang berperan adalah Osteoklas. Walaupun pada dasarnya osteoklas tidak memiliki membran reseptor untuk PTH. Aktifasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap, yaitu: 1) Aktifasi yang berlangsung dengan segera dari osteoklas yang sudah terbentuk 2) Pembentukan osteoklas baru Kelebihan PTH selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem osteoklastik berkembang dengan baik. Dan karena pengaruh rangsangan PTH yang kuat, oleh karena itu pertumbuhan in berlanjut terus-menerus selama berbulan-bulan. Setelah kelebihan PTH selama berbulan-bulan menyebabkan kelemahan tulang dan menimbulkan rangsangan sekunder pada osteoblas untuk memperbaiki kelemahan tulang. Salah satu pengatur absorbsi dan sekresi kalsium pada tulang adalah PTH. Bila konsentrasi kalsium CES turun dibawah normal, kelenjar paratiroid langsung dirangsang untuk meningkatkan produksi PTH. Hormon ini nantinya bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorbsi kalsium dari tulang sehingga sejumlah besar kalsium dilepaskan dari tulang ke CES untuk mempertahankan keseimbangan kalsium. Bila konsentrasi ion klasium pada CES menurun, maka sekresi PTH akan diturunkan pula dan hampir tidak akan terjadi resorbsi. Dan produksi kalsium yang berlebihan tadi nantinya akan dideposit ke tulang dalam rangka pembentukan tulang yang baru. Tulang sebernarnya tidak mempunyai persediaan kalsium yang banyak. Dalam jangka panjang, asupan kalsium ini harus diimbangi dengan ekskresi kalsium oleh traktus gastrointestinal dan ginjal. Pengaturan absorbsi kalsium ini adalah PTH. Jadi PTH mengatur konsentrasi kalsium melalui 3 efek : 1) Merangsang reabsorbsi tulang 2) Merangsang aktifitas vitamin D, yang nantinya akan meningkatkan reabsorbsi kalsium pada gastrointestinal 3) Meningkatkan secara langsung reabsorbsi kalsium oleh tubulus ginjal

6 Learning Objective : 06177

5. Volume CES Peningkatan CES menimbulkan penurunan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. Sedangkan penurunan CES merangsang peningkatan reabsorbsi kalsium oleh ginjal. 6. Kalsitonin Kalsitonin adalah hormon peptida yang disekresikan oleh kelenjar tiroid yang kerjanya berlawana dengan PTH, yaitu menurunkan konsentrasi kalsium plasma. Adapun kerja kalsitonin di dalam tubuh adalah sebagai berikut kalsitonin mamberikan efek pengurangan kerja absorpsi osteoklas dan mungkin efek osteolitik dari membran osteositik di seluruh tulang, sehingga dapat menggeser keseimbangan penimbunan kalsium sesuai dengan cepatnya pertukaran garam-garam kalsium. Dan kalsitonin memberikan efek penurunan pembentukan osteoklas yang baru (Guyton dan Hall, 2006). Mekanisme metabolisme Fosfat

7 Learning Objective : 06177

2. Osteodistrofia Fibrosa (ODF) a. Etiologi Osteo Distrofia Fibrosa (Bran disease, Millers disease, Big Head Disease, Nutritional Secondary Hyperparathyroidism) merupakan suatu penyakit metabolisme akibat hewan kekurangan diet kalsium yang terjadi secara kronis. Penyakit ini umumnya terjadi pada kuda, akan tetapi juga bisa menyerang pada mamalia lain (Subronto dan Tjahajati, 2004). Defisiensi kalsium biasanya terjadi karena: 1) Mengkonsumsi pakan yang terlalu tinggi kandungan fosfornya dan rendah kalsium. Biji-bijian dan dedak merupakan pakan yang tinggi kandungan fosfornya (Stewart, 2005). 2) Merumput pada padang rumput yang banyak kandungan oksalatnya (Stewart, 2005). Umumnya rumput pada daerah tropis dan subtropis yang banyak mengandung oksalat, sebagai contoh rumput setaria (Setaria sphacelata), Panicum spp. (rumput gajah, rumput guinea), pangola, kikuyu, buffel, dan green panic (Widodo, 2004). b. Pathogenesis Oxalate pada rumput dan phytates pada oat akan berikatan dengan kalsium pada usus. Kalsium yang berasal dari pakan tidak bisa diabsorbsi oleh usus dan level kalsium dalam darah menurun. Level kalsium yang menurun menstimulasi glandula parathyroid untuk mereleasekan hormone parathyroid. Hormon ini akan membongkar kalsium dalam tulang dan dimobilisasi ke darah agar level level kalsium dalam darah berada dalam kondisi normal dan benar untuk melakukan fungsi jantung dan muskulus. Tulang-tulang pada muka yang merupakan tulang pipih, yang akan tampak membengkak karena bagian tulang yang tidak berkalsium akan digantikan oleh jaringan fibrus. Kaki dan tulang muka akan mengalami demineralisasi dan akan diperparah dengan kebuntingan atau laktasi pada kuda (Stewart, 2005). c. Gejala klinis 1) Kuda mengalami kepincangan karena hyperparathyroidisme nutrisional 2) Terjadi degenerasi pada keadaan akut peradangan dari sendi 3) Kuda berdiri pada tiga kakinya 4) Pada kuda berumur satu tahun, gigi gerigi susu terlambat tinggal, sementara gigi gerigi baru telah tumbuh di belakangnya hingga terbentuk 2 baris gigi. Bentuk gigi yang mestinya tanggal tetap berukuran kecil, dengan jarak antara 2 gigi yang bersebelahan agak jarang. 5) Sukar mengunyah tampak sekali pada kuda tua maupun muda 6) Penderita menjadi kurus, lemah, dan mudah terkena infeksi (Subronto dan Tjahajati, 2004)

8 Learning Objective : 06177

d. Diagnose 1) Melalui anamnesa riwayat pemberian pakan pada kuda. 2) Dengan melihat gejala klinis. 3) Pemeriksaan laboratorium (darah dan urin). 4) Analisa Radiologis (Sinar X) e. Terapi dan penanganan Terapi yang diharapkan segera memberikan hasil hampir tidak ada. Koreksi terhadap pakan merupakan satu-satunya cara penyembuhan. Semua pakan hijauan perlu dianalisis kandungan oxalatnya. Untuk pakan harian yang terdiri dari bekatul dan batang maupun daun kacang tanah disarankan ditambah CaCO3 sebanyak 30-50 g/hari. Diharapkan dengan penambahan tersebut rasio Ca dan P dapat mencapai 1,0 atau 1,2:1 (Subronto dan Tjahajati, 2004).

3. Ransum yang seimbang pada kuda Sumber energi yang dibutuhkan kuda berasal dari karbohidrat pada tanaman forages (cellulosa) rumput-rumputan, biji-bijian (grain), protein dan lemak. Rumput hijau memiliki kandungan energi dan nutrisi lebih tinggi dibanding yang sudah tua dan kering (Parrakasi, 1983). Pengaturan pemberian pakan dapat dilakukan 2-3 kali sehari yaitu pagi, siang, sore hari tergantung dari kuda dan fungsi kuda tersebut. Air bersih yang tidak terkontaminasi harus diberikan sebagai asupan sehari-hari secara bebas sesuai kebutuhannya (Jacoebs, 1994). Kuda membutuhkan makan rumput minimum 1% (satu persen) dari berat badannya. Pemberian rerumputan yang berlebihan juga kurang baik karena akan menyebabkan perut kuda buncit dan kurang atletis. Vitamin yang diperlukan kuda A. B, C, D, E, K. Pada saat otot-otot kuda melakukan konstraksi, energi dibakar bersama oksigen. Muncul unsur radikal bebas yang beracun sebagai akibat proses oksidasi ini. Vitamin E adalah unsur yang diperlukan untuk membuang radikal bebas ini. Kekurangan vitamin E kuda akan mengalami kram otot, kecapaian (fatigue), ngilu, kejang,tandon dll. Vitamin E akan mengembalikan kesehatan otot setelah berlatih ataupun bertanding. Vitamin B1 (thiamine) dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam merubah carbohidrat yang diperoleh dari makanan menjadi tenaga untuk kerja otot. Biasanya diberikan lewat suntikan vitamin B complex (Cunha, 1980).

9 Learning Objective : 06177

Table ransum kuda Berat badan Bk Energy (Mcal) Istirahat 200 3,0 8,24 400 5,04 13,8 500 5,96 16,3 600 6,83 18,7 Kerja ringan 200 3,8 10,44 400 6,68 18,3 500 7,96 21,8 600 9,23 25,3 Kerja sedang 200 4,79 13,16 400 8,69 23,80 500 10,4 28,69 600 12,3 33,35 Bunting 200 3,16 8,7 400 5,41 14,88 500 6,31 17,35 600 7,25 19,95 Laktasi 200 5,54 15,24 400 8,91 24,38 500 10,4 27,62 600 10,9 30,02 (Parakasi,1896)

TDN

Protein kasar 0,300 0,505 0,597 0,684 0,384 0,678 0,804 0,930 0,483 0,871 1,047 1,229 0,364 0,613 0,725 0,837 0,750 1,118 1,317 1,404

Protein tercerna 0,16 0,26 0,31 0,34 0,20 0,33 0,42 0,49 0,255 0,460 0,553 0,649 0,216 0,375 0,443 0,502 0,480 0,745 0,829 0,876

Vit A 5 10 12 15 5 10 12 13 10 20 25 30 10 20 25 30 10 20 25 30

Karoten

Ca

Fosfor

1,87 3,14 3,72 4,26 2,37 4,16 4,96 5,71 2,91 5,40 6,51 7,61 1,97 3,37 3,93 4,52 3,46 5,53 6,26 6,80

12,5 25,0 35,2 37,0 12,5 25,0 31,2 37,5 12,5 25,0 35,2 37,0 25,0 50,0 63,3 75,0 25,0 50,0 63,3 75,0

0,008 0,016 0,020 0,024 0,008 0,016 0,020 0,024 0,009 0,017 0,020 0,025 0,010 0,019 0,024 0,028 0,034 0,043 0,047 0,052

0,006 0,008 0,012 0,016 0,006 0,008 0,012 0,016 0,007 0,013 0,016 0,019 0,006 0,015 0,020 0,025 0,023 0,035 0,038 0,039

10 Learning Objective : 06177

DAFTAR PUSTAKA

Cunha, T.J. 1980. Horse Feeding and Nutrition. Academic Press New York London, Toronto, Sydney, San Fransisco. Jacoebs, T. N. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Kanisius. Yogyakarta.

NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA. Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung. Stewart, Jennifer H. 2005. Hyperparathyroidism) Big Head or Bran Disease (Nutritional Secondary diakses dari www.mitavite.com.au/.../Big%20Head%

20or%20 Bran%20Disease.pdf pada tanggal 26 April 2011 Subronto dan Tjahajati, Ida. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.

11 Learning Objective : 06177