Anda di halaman 1dari 22

Pemeriksaan Fisik

PEMERIKSAAN FISIK Musliha, S.Kep. Ns Pemeriksaan fisik memerlukan keahlian khusus, yaitu : infeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. Untuk menguasai keahlian tersebut, diperlukan latihan terus-menerus dalam mengajar mata untuk melihat, jari untuk meraba dan telinga untuk mendengar. Inspeksi Pemeriksa melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan pendekatan sistematik. Sementara melakukan anamnesis, pemeriksa memperhatikan hal-hal tertentu mengenai pasiennya : Penampilan umum Keadaan gizi Habitus tubuh Simetri Sikap tubuh dan gaya berjalan Cara berbicara Palpasi Palpasi adalah penggunaan sensasi taktil untuk menentukan ciri-ciri suatu system organ. Misalnya : meraba arteri radialis untuk pemeriksaan tekanan darah, atau menghitung denyut nadi. Perkusi Perkusi berkaitan dengan sensasi taktil dan bunyi yang dihasilkan apabila suatu pukulan keras dilakukan pada suatu daerah yang diperiksa. Misalnya : perkusi bunyi pekak digaris tengah perut bawah mungkin menunjukkan kandung kemih yang terdistensi. Auskultasi Auskultasi mencakup mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh organ dalam. Teknik ini memberikan informasi mengenai patofisiologi suatu organ. Misalnya : mendengar suara paru dengan menggunakan stetoskop.

Hal-hal yang perlu disiapkan dalam pemeriksaan fisik : 1. Persiapan alat : a. Stetoskop

b. Spigmomanometer c. Oto oftalmoskop d. Lampu senter kecil / light tes pen e. Palu refleks f. Garputala g. Peniti atau sekotak jarum h. Pita pengukur i. Kartu pemeriksa ketajaman visual j. Spatula lidah, lidi kapas, sarung tangan, kassa. 2. Mencuci tangan dengan sabun dan air 3. Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien, dan menggunakan tangan kanan. 4. Menjaga privacy pasien, pemeriksaan harusnya dilakukan dengan membuka daerah yang akan diperiksa saja, tanpa membuka daerah lain yang tidak perlu. 5. Tetap berkomunikasi dengan pasien 6. Pasien dengan kondisi khusus (penyakit menular : hepatitis, AIDS), perlu dipersiapkan alat tambahan seperti sarung tangan. PEMERIKSAAN FISIK MELIPUTI ; A. KEADAAN UMUM Menilai keadaan sakit pasien dan hasil inspeksi umum terhadap penderita dapat dilaporkan sebagai berikut : Pasien tampak sakit berat Pasien tampak sakit sedang Pasien tampak sakit ringan Pasien tampak tidak sakit B. MENILAI TANDA-TANDA VITAL 1. Menilai tingkat kesadaran 2. Pemeriksaan / Pengukuran dan Pencatatan Mengukur Tekanan Darah Menghitung nadi Mengukur Suhu tubuh Menghitung pernafasan Catatan hal umum yang mencolok C. PEMERIKSAAN SISTEMIK 1. Keadaan Rambut dan Higiene Kepala Rambut hitam, coklat, pirang, warna perak, berbau atau warna-warni bendera yang khas untuk defisiensi vitamin A, mudah rontok, kulit kepala kotor, berbau secara umum menunjukkan tingkat hygiene

seseorang. Pada kulit kepala bisa ditemui lesi seperti vesicular pustule, crusta karena varicela, dermatitis, jamur atau pedagogis 2. Kulit Pemeriksaan kulit meliputi pemeriksaan inspeksi dan palpasi a. Inspeksi 1) Hygiene kulit Penilaian atas kebersihan yang merupakan petunjuk umum atas kesehatan seseorang. 2) Kelainan-kelainan yang bisa nampak pada inspeksi : Macula Suatu bercak yang nampak berwarna kemerahan, permukaan kulit datar (tidak menonjol) dan ukurannya kurang dari 1 cm. misal : morbili / campak Erytema Suatu bercak kemerahan yang ukurannya lebih besar dari macula. Misal : crysipelas Papulla Suatu lesi kulit yang menonjol lebih tinggi daripada sekitarnya. Misalnya : gigitan nyamuk. Vesikula Suatu tonjolan kecil (kurang dari 1 cm) berisi cairan yang jernih. Misal : cacar air, herpes, simpleks. Jika tonjolannya besar-besar (lebih dari 1 cm) disebut bulla, misal : pada luka bakar. Pustule Suatu tonjolan berisi cairan nanah. Misal : impetigo, jerawat, infeksi kuman stafilokokus (bisul-bisul). Ulkus Suatu lesilaplit terbuka yang diakibatkan pecahnya vesikula atau pustule. Crusta Cairan tubuh yang mengering, bisa dari serum, nanah, darah dan sebagainya. Excoriasi Pengelupasan epidermis pada luka lecet / abrasi. Fissura Retak atau pecahnya jaringan kulit sehingga terbentuk celah retakan. Hal ini diakibatkan penurunan elastisitas jaringan kulit. Cicatrix Pembentukan jaringan ikat pada kulit sesudah penyembuhan luka. Hal ini bisa karena bakat (mempunyai kecenderungan untuk itu), ada pula yang spesifik : Cicatrix bekas irisan kulit pada seorang mofinis

Bekas suntikan BCG Ptechie Adalah bercak pendarahan yang terbatas, dan terletak di epidermis kulit, berukuran kurang dari 1 cm. Hematoma Perdarahan dibawah kulit yang umumnya berukuran lebih besar dan berwarna merah, biru, ungu sampai biru. Naevus Pigmentosus Andeng-andeng/tahi lalat, hiperpigmentasi pada suatu daerah kulit dengan batas tegas. Hiperpigmentasi Suatu daerah di kulit yang lebih tua warnanya dari kulit sekitarnya. Misal : hiperpigmentasi pada bekas luka-luka. Misal : cloasma-gravidarum : hiperpigmentasi khusus pada ibu hamil. Vitiligo/hipopigmentasi Daerah kulit yang tidak berpigmen/kurang pigmen daripada kulit sekitarnya. Misal : bekas luka bakar, tampak lebih putih. Tattoo Hiperpigmentasi buatan dengan memasukkan zat warna dengan tusukan-tusukan jarum. Hemangioma Suatu bercak kemerahan akibat pelebaran pembuluh-pembuluh darah setempat yang biasanya conginetal. Spider naevi Suatu pelebaran pembuluh-pembuluh darah arteriola dikulit yang khas bentuk dan arah aliran darahnya (keluar). Misal : pada penderita Cirrhosis Hepatis. Lichenifikasi Penebalan epidermis dan kekakuan kulit. Hal ini bisa terjadi akibat garukan-garukan yang kronik atau tertekan terus-menerus. Misal : pada kulit diatas os coccyges yang tertekan pada seseorang yang banyak duduk. Striae Suatu garis-garis putih kulit yang bisa ditemui pada kulit perut wanita hamil, kulit orang-orang yang sangat gemuk (daerah gluteal, lipat bahu, ketiak, ini karena regangan kulit yang melebihi ekstisitasnya). Mongolian spot Suatu bercak kebiruan yang sering didapat didaerah gluteal-lumbal bayibayi dari ras : Oriental, Indian, Amerika, Negro. Uremie Frost = Bedak ureum, salju ureum dikulit merupakan kristal halus ureum yang terjadi akibat menguapnya keringat pasien uremia sehingga dikulit tertinggal bedak ureum.

Anemie = Pucat, bisa dilihat pada telapak tangan, mucosa bibir, conjungtiva palpebra, warna dasar kuku karena kurangnya kadar haemoglobin (Hb). Cyanosis Tampak kulit berwarna kebiruan akibat jumlah Reduced Hb melebihi kadar 5g%, akibat kegagalan transport oksigen atau menumpuknya CO2 di jaringan, juga tampak pada telapak tangan, mucosa bibir warna dasar kuku. Misal : pada penyakit jantung, paru-paru, gangguan SSP, dan Hipoglikemi. Ieterus Warna kuning-kuning kehijauan yang bisa tampak dikulit, telapak tangan, dan selera mata karena kadar bilirubin yang tinggi pada penyakit-penyakit hati, ieterus neonatorum fisiologik, dan ieterus neonatorum patologik. Hak ini dibedakan dengan Carotenemia ieterus : Warna kuning oranye Tidak didapat pada selera mata Palpasi Pada palpasi, pertama-tama dirasakan kehangatan kulit, (dinginhangat-demam), kemudian kelembabannya, pasien dehidrasi terasa kering dan pasien hipertyroidisme berkeringat terlalu banyak. Texture kulit Dirasakan halus, lunak, lentur, pada kulit normal. Teraba kasar pada defisiensi vitamin A, hipotyroid, terlalu sering mandi, banyak ketombe atau diaper-rash (diselakangan bayi) akibat popok pada bayi. Turgor Dinilai pada kulit perut dengan cubitan ringan. Bila lambat kembali ke keadaan semula, menunjukkan turgor turun pada pasien dehidrasi. Krepitasi Teraba ada gelembung-gelembung udara dibawah kulit akibat fraktura tulang-tulang iga atau trauma leher yang menusuk kulit sehingga udara paru-paru bisa berada dibawah kulit dada. Edema Adalah terkumpulnya cairan tubuh dijaringan tubuh lebih daripada jumlah semestinya. Misal : - Pitting edema : bila menjadi cekung setelah penekanan pada tempattempat pretibial, saklrum, jari-jari, kelopak mata. - Pada penyakit : jantung, ginjal, hipoprotenemia. - Non pitting edema : tidak menjadi cekung setelah penekanan, pada mixedema (hipotyroid), beri-beri. Mata

a. Palpebrae Edema palpebrae mudah tampak, karena cairan edema mudah terkumpul dipalpebrae karena jaringan palpebrae sangat longgar, dan lebih tampak bila pasien bangun tidur atau pasien berbaring lama. Sesuai dengan hukum gravitasi : bila edema tidak menyeluruh, bisa terjadi edema palpebrae hilang / berkurang setelah pasien beraktivitas dengan posisi tegak karena kemudian cairan lebih banyak terkumpul diekstremitas bawah. Selain edema, peradangan (Blepharitis, hordeolum/bintitan) juga dapat ditemui. Kelopak mata yang selalu tertutup/tidak mampu membuka disebut PTOSIS, dan kelopak mata yang bisa menutup rapat (terus terbuka) disebut LAGOPHTHALMUS. b. Selera dan Konjungtiva Ieterus tampak lebih jelas diselera dibanding pada kulit. Etehnik memeriksa selera dengan 2 jari menarik palpebrae, pasien melihat kebawah. Radang pada conjungtiva bisa terjadi, baik pada conjungtiva bulbi maupun conjungtiva palpebrae. Keadaan anemic bisa diperiksa pada warna yang pucat pada conjungtiva palpabrae inferior. Pendarahan sub-conjungtival bisa juga terjadi baik pada conjungtiva palpebrae bulbi maupun palpebrae. Rembesan darah diconjungtiva palpebrae akan menimbulkan warna kebiruan diseluruh kelopak mata, disebut Black eye atau Brill hematom bila mengenai kedua mata. c. Tekanan bola mata/tekanan intraokuler (T.I.O) Dengan dua jari telunjuk memeriksa membandingkan T.I.O bola mata kiri dan kanan dengan cara tekanan berganti pada bola mata atas dengan kelopak mata tertutup. Keadaan normal bila kiri dan kanan sama. Kewaspadaan terhadap glaucoma umumnya pada pasien berumur 40 tahun. d. Pupil Dan Refleks Cahaya Pupil normal berbentuk bulat, sama besar (isokor) diameternya kira-kira 3 mm, bila disinari diameternya akan mengecil kiri dan kanan yang disebut refleks cahaya langsung dan tak langsung. e. Visus/ ketajaman penglihatan Visus/ketajaman penglihatan diperiksa pada setiap mata. Kiri dan kanan satu persatu, dengan menggunakan Optotype Snellen yang dipasang pada jarak 6 meter dari penderita. Teknik pemeriksaan : pasien diminta menyebut huruf/angka yang ditunjuk oleh pemeriksa. Kemampuan menyebut sampai deretan huruf yang mana tercantum ditepi Optotype Snellen : Visus mata Emetrop diberi angka 6/6 Visus 6/60 hanya bisa menghitung jari-jari dari jarak 6 meter

Visus 6/300 hanya bisa melihat gerak jari-jari dari jarak 6 meter Visus 6/tak terhingga hanya bisa melihat terang-gelap Mata buta/anopsia tidak bisa melihat terang sama sekali. Hidung Diperiksa septum hidung, ditengah atau tidak, ada benda asing, secret hidung, jernih, purulent, pendarahan, peradangan mucosa, polip. Pemeriksaan ini menggunakan speculum hidung atau pasien diminta membesarkan rongga hidungnya. Telinga Memeriksa canalis : bersih, berserumen atau bernanah. Sesudah canalis bersih atau dibersihkan maka membrane tympani dapat diperiksa. Membrane tympani yang butuh dengan posisi baik akan memantulkan refleks cahaya politzer pada penyinaran lampu senter. Lubang perforasi kecil bisa tampak, atau tidak tampak sama sekali karena membrane tympani sudah jebol total. Membrane tympani utuh dengan politzer negative (tidak ada) menunjukkan keadaan kedudukan berubah : cembung (ada nanah ditelinga tengah) atau cekung karena retraksi (tekanan telingan tengah lebih rendah lebih rendah dari atmosfir). Pemeriksaan fungsi pendengaran : tes Rinne, Weber, dan Schwabach, dengan menggunakan garputala. Tes rinne Frek. Garputala = 256 Hz Hasil positif atau negative Tes weber Frek. Garputala = 512 Hz Hasil lateralisasi ke kiri/kanan atau tidak ada lateralisasi Tes schwabach Frek. Garputala = 512 Hz Hasil memendek atau sama dengan pemeriksa Mulut, Gigi, Lidah, Tosil dan Pharyux Rongga mulut : diperiksa bau mulut, radang mucosa (stomatitis), dan adanya aphtae (sariawan). Labio/Palate/Gnato schizis juga dilaporkan. Gigi : diperiksa adanya makanan, karang gigi, carries, sisa akar gigi yang tanggal, pendarahan, abses, benda asing (gigi palsu), keadan gusi = meradang/gingivitis dan ada tidaknya radang jaringan penyangga gigi (periodontitis). Lidah : kotor/coated akan ditemui pada keadaan hygiene mulut yang kurang, demam thypoid, tidak suka makan, pasien koma, perhatikan pula tepi lidah yang hiperemik yang dapat ditemui pada pasien thypoid fever.

Tonsil : tonsilla palltina berada diantara pilar Plica tonsilaris. Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan : ~ T 0 bila sudah dioperasi ~ T 1 ukuran yang normal ~ T 2 pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah ~ T 3 pembesaran mencapai garis tengah, dan ~ T 4 pembesaran melewati garis tengah. Tonsil diperiksa apakah meradang atau tidak. Kadang-kadang didapati nanah melekat (GO) atau membrane putih perak melekat pada dfteria. Infeksi/ceries pada gigi seringkali menjadi focus infeksi terhadap tonsil sehingga peradangan menjadi kronik. Pharynx : dinding belakang oro pharynx diperiksa apakah ada peradangan, pembesaran adenoid dan lender/secret yang ada. Leher Kelenjar getah bening Pembesaran kelenjar getah bening dapat terjadi karena infeksi difokus lain, seperti di : pharynx, gigi, larynx, dan telinga. Infeksi toxoplamosis memberi gejala pembesaran kelenjar getah bening leher juga. Kelenjar thyroid Kelenjar thyroid diperiksa mula-mula dengan inspeksi atas, bentuk, dan besarnya bila pembesarannya telah nyata. Dengan cara palpasi satu tangan dari samping atau dua tangan dari arah belakang, jari-jari meraba permukaan kelenjar dan pasien diminta menelan. Dalam keadaan normal, kelenjar tyroid tidak dapat dirasakan ada sesuatu yang dapat diraba, saat menelan kelenjar tyroid akan ikut naik turun. Hal ini memastikan bahwa yang diraba tadi adalah benar kelenjar tyroid. Palpasi tyroid dilaporkan tentang bentuknya, simetris atau tidak, diraba keras atau kristik, ataukah noduler (berbenjol). Auskultasi tyroid : bila ditemukan adanya Bruit tyroid mungkin ini suatu keganasan karena darah dan pembuluh darah bertambah banyak. Kaku kuduk Setiap rangsang meningeal, baik karena peradangan maupun perdarahan Sub-arachnoid (S. S. H) menimbulkan kekakuan otot-otot leher/Spasme otot ini disebutkaku kuduk/tengkuk yang merupakan ciri atas adanya iritasi/rangsangan meningeal Thoraks Untuk memeriksa daerah thoras, diperlukan ingatan kembali tentang garis-garis imaginer : Linea mid-sternalis

Linea sternalis Linea medio-clavicularis Linea axilaris anterior, media, dan posterior Linea scapularis Linea vertebralis Angulus Ludovici, Angulus Costae,dan Areus Costae. Pemeriksaan thorax dilakukan secara berurutan meliputi : infeksi, palpasi, dan auskultasi. a. Inspeksi Diamati bentuk thorax apakah biasa/normal, ataukah ada kelainan bentuk seperti : kiposis, lordosis, scoliosis, gibbus (kiposis yang ektrim). Bentuk yang lain : bentuk dada burung (pigeon chest) sternum menonjol, bentuk dada tukang sepatu/cekung (Funnel chest) barrel chest (besar menggembang muka belakang). Diamati pernapasan pasien seperti : Terdengar stridor/inspirasi/expirasi ~ Menghitung frekuensi pernapasan yang normalnya 12 20x/menit dan juga perbandingan frekuensi napas dengan HR yang kira-kira = 1 : 4. napas yang lebih dari 20x/menit disebut Tachypnea. Bila kurang dari 12x/menit disebut Bradipnae. ~ Catat juga pola/irama pernapasannya, apakah teratur, periodic Cheynes Stokes, B..Kassmaul (cepat-dalam), hiperveatilasi (hanya dalam) atau irama satu-satu pada pasien sebelum meninggal. ~ Amati juga ada tidaknya dyspnea (setiap ketidaknyamanan bernapas dalam bentuk apapun) - tanda-tanda retraksi intereostals - tanda-tanda retraksi supra sternal - pernapasan cuping hidung - dleffort inspirasi, seperti pada difteria. - dleffort expirasi, seperti pada asma bronchiate, dan orthopnoe, lebih nyaman bernapas pada posisi duduk. Ada dua hal lain yang dihubungkan dengan fungsi pernapasan adalah pengamatan cyanosis disekitar bibir, mulut dan dasar kuku. Clubbing of the finger (seperti ujung pemukul genderang) Amati pula suara batuk yang kita dengar (produktif, kering, whooping, pendek-pendek/ dehem-dehem) b. Palpasi Palpasi pada dinding thorax menggunakan seluruh telapak tangan dan jari, kiri dan kanan dengan maksud meraba dan merasakan getaran dinding dada sewaktu pasien mengucapkan tujuh puluh tujuh . Berulang-ulang. Getaran yang dirasakan disebut Vokal-fremitus). Umumnya pemeriksaan ini bersifat membandingkan bagian mana yang

lebih bergetar atau kurang bergetar. Pemadatan jaringan paru (pneumonia, keganasan) akan terasa lebih bergetar pada Plcural effitson dan Peneumo thorax akan terasa lebih bergetar pada pleural effusion dan Pneumo thorax akan terasa kurang bergetar.

c. Perkusi Perkusi dinding thorax dengan cara mengetuk dengan jari tengahtengah kiri yang ditempelkan dengan erat didinding dada dicelah intereostal. Penilaian suara yang ditimbulkan oleh perkusi Sonor adalah suara perkusi jaringan paru yang normal Redup adalah suata perkusi jaringan yang lebih padat/konsolidasi paru-paru seperti Pneumonia. Pekak adalah suatu perkusi jaringan yang padat seperti pada : Hypersonor/ tympani adalah suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong seperti : daerah caverne-caverne paru, penderita asma kronik terutama dengan bentuk dada Barrel-chest akan terdengar seperti ketukan benda-benda kosong, bergema. Perkusi dilakukan dengan cara membandingkan kiri-kanan pada setiap daerah permukaan thorax. d. Auskultasi Auskultasi paru adalah mendengarkan suara pada dinding thorax dengan menggunakan stetoskop, caranya : pasien diminta bernapas cukup dalam dengan mulut terbuka dan letakkan stetoskop secara sistematik dari atas kebawah dengan membandingkan kiri-kanan. Ada tiga suara yang didengar pada pemeriksaan auskultasi : Suara napas Suara ucapan (tujuh puluh tujuh .) Suara tambahan 1) Suara napas a) Vesicular, suara napas vesicular terdengar disemua lapangan paru yang normal. Bersifat halus, nada rendah, inspirasi lebih panjang dari expirasi.

b) Broncho-vesicular, suara napas broncho-vesicular terdengar didaerah percabangan bronchus dan trachea. Jadi sekitar sternum dan region intercapular, nadanya sedang lebih kasar dibandingkan vesicular, inspirasi sama panjang dengan expirasi.

c) Bronchial, suara panas bronchial terdengar trachea (leher) dan supra Strenal noch. Bersifat kasar, nada tinggi, inspirasi lebih pendek dibandingkan dengan expirasi.

Catatan : Bila didapat suara broncho-vesicular atau bronchinal dilapangan paru (yang semestinya vesticular), tentu merupakan suatu kelainan. Bila tidak terdengar suara sama sekali, hal ini bisa karena paruparunya colaps/atelektasis atau pleural effusion yang banyak jumlahnya. Jumlah cairan pleura yang tidak banyak bisa menimbulkan suara vesicular yang melemah. Bila terdengar suara seperti tiupan pada mulut botol, disebut suara Amforik merupakan suara resonansi dari rongga-rongga Caverne yang ada dalam paru-paru. 2) Suara Ucapan Penderita diminta mengucapkan tujuh puluh tujuh, berulang-ulang setiap sesudah inspirasi secara berbisik dengan intonasi yang sama kuat. Pemeriksaan mendengarkan dengan stetoskop secara sistematik disemua lapangan paru serta membandingkannya kiri dan kanan. Suara normal : perlu mengenal atau membiasakan mendengar pada orang sehat. Intensitas dan kualitas dikiri sama dengan kanan. Bronchoponi : suara terdengar jelas ucapannya dan lebih keras dibandingkan daerah sisi yang lain. Umumnya ini akibat dari adanya proses pemadatan/konsolidasi paru. Pectoriloquy : suara terdengar jauh dan tidak jelas (=ngngrenyem). Bisa terdapat effusion atau atelektasis. Egophony : suara bergema seperti seorang yang hidungnya tersumbat (= bindeng) dan terasa dekat. Suara semacam ini bisa didapat pada pemadatan paru yang disertai caverne/berongga-rongga besar. 3) Suara tambahan Pada pernapasan normal tidak didapati suara tambahan. Suara tambahan menunjukkan ada kelainan. Macam-macam suara tambahan : a) Rales, bunyi yang dihasilkan oleh exudat lengket saat saluran-saluran halus pernapasan mengembang pada inspirasi : Rales halus, terdengar meritik halus pada akhir inspirasi jadi pendek Rales sedang, terdengar lebih kasar dan ditengah fase akhir inspirasi.

Rales kasar, terdengar lebih lama, yaitu pada seluruh fase inspirasi. Rales seringkali ditemui pada peradangan jaringan paru (PneumoriaTBC). b) Ronchi, ciri khas ronchi adalah nada rendah dan sangat kasar terdengar baik pada inspirasi maupun expirasi. Ciri lain ronchi adalah akan hilang bila pasien disuruh batuk. Ronchi terjadi apabila terkumpulnya cairan mucus dalam trachea atau bronchus-bronchus besar (misalnya oedem paru) c) Wheezing, adalah bunyi musical terdengar ngiiiik atau pendek ngiik. Yang bisa didapat pada fase inspirasi atau expirasi, bahkan biasanya lebih jelas pada expirasi. Wheezing terjadi karena ada exudat lengket tertiup aliran udara dan bergetar nyaring. Biasanya, didapat pada bronchitis acuta. Bila hanya terdengar pada fase expirasi, ini akibat udara melewati celah sempit bronchial. d) Pleural Friction-Rub, suatu bunyi yang terdengar kering persis seperti suara gosokan amplas pada kayu. (Catatan : rales dan ronchi terdengar basah karena seperti gemericik cairan). Pleural friction-rub terjadi karena peradangan pleura, terdengar sepanjang fase pernafasan (inspirasi sepenuhnya). Paling jelas suara ini terdengar didaerah posterolateral bawah dinding thorax. Jantung Inspeksi Pengamatan pertama mencari ictus cordis yaitu denyutan dinding thorax karena pukulan ventrikel kiri pada dinding thorax. Bila normal, akan berada di ICS-5 pada linea medio clavikularis kiri selebar 1 cm saja. Dengan mengetahui letak ictus, secara tidak langsung bisa diperoleh gambaran tentang ada tidaknya pembesaran jantung (pembesaran jantung ictus cordis bisa sampai pada linea axillaries anterior). Bulging precordial adalah daerah precordial yang lebih menonjol dari dinding thorax yang lain, menunjukkan kemungkinan pembesaran ventrikel kanan atau aneurysma pangkal aorta. Palpasi a. Pada ictus cordis, meraba ictus cordis dengan telapak jari II-III-IV (seringkali juga ictus tidak tampak namun bisa teraba). Dirasakan kekuatan pukul dan lebarnya ictus cordis yang normal tidak lebih dari 1 cm2. Kalau terasa lebih lebar dan pukulannya kuat serta letaknya bergeser ke kiri berarti hipertropi ventrikel kiri (hipertensi yang lama) Hitung frekuensi jantung / heart rate (HR) Pada palpasi dihitung frekuensi jantung (HR) selama 1 menit penuh serta diamati teratur tidaknya denyut jantung. Kemudian

membandingkan HR dengan frekuensi nadi yang telah kita hitung sebelumnya. b. Memeriksa ada tidaknya Thrill, yaitu getaran ictus cordis tidak lain ini adalah murmur (auskultasi) derajat 5-6 yang karena keras/kasarnya dapat kita raba. Perkusi Pada pemeriksaan perkusi ditentukan batas-batas jantung, karena daerah jantung terdengar pekak. Pembesaran jantung yang dapat diperiksa dengan perkusi adalah pembesaran ventrikel kanan kurang dapat ditentukan dengan perkusi karena pembesarannya lebih kearah antero posterior. Auskultasi Auskultasi jantung yaitu mendengar bunyi jantung dengan alat stetoskop. Untuk itu diperlukan suasana yang tenang agar bunyi jantung terdengar baik. Mula-mula gunakanlah sisi membrane dengan tekanan kuat untuk mendengar nada-nada yang lebih tinggi, kemudian sisi bell dengan tekanan ringan untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah. a. Bunyi jantung (BJ) BJ adalah bunyi menutupnya katup Mitral dan Trikuspidalis BJ H adalah bunyi menutupnya katup Aorta dan Pulkuspidalis Ada lima tempat mendengar BJ untuk empat buah katup : Katup Aorta/A di ICS-2 linea sternalis kanan untuk BJ II-A Katup Pulmonalis/P di ICS-2 linea sternalis kiri dan ICS-3 linea sternalis kiri untuk untuk BJ II-P Katup Tricuspidalis/T di ICS-4 linea sternalis kiri untuk BJ I-T Katup Mitral/M di ICS -5 linea medio-clavicularis kiri (apex) untuk BJ I-M Pada keadaan normal BJ II (A dan P) dan BJ I (T dan M) adalah bunyi tunggal. Bila pasien disuruh inspirasi dalam, bisa terjadi bunyi terbelah (split) pada BJ II karena pada inspirasi dalam tekanan intra thorakal berkurang, darah lebih banyak ke paru-paru, artinya atrium kanan dan ventrikel kanan memompa lebih banyak darah ke paru-paru. Bila tetap terdengar split pada saat inspirasi maupun ekspirasi, ini merupakan tanda yang cukup spesifik untuk ASD atau stenosis katup P. Bunyi jantung III/BJ III (kalau ada) BJ III didengar didaerah M BJ III terdengar sesudah BJ II dengan jarak cukup jauh, namun tidak melewati separuh fase diasnotic, nadanya rendah (sehingga lebih jelas dengan sisi bell). Pada anak-anak dan orang muda, bukan merupakan

kelainan jantung. Pada orang dewasa/tua yang disertai tanda dan gejala payah jantung lain, seperti oedem, dyspnea, BJ III merupakan tanda yang khas. Suara/irama BJ pada decompatiocordis kiri disebut Irama pacu kuda/Gallop rhythm. Irama pacu kuda/gallop rhythm adalah BJ III timbul akibat getaran derasnya pengisian diasnotic dari atrium kiri ke ventrikel kiri yang sudah membesar, darah jatah ke ruang lebar kemudian timbul getaran. b. Fase sistolik dan fase diastolic Fase sistolik yaitu fase antara BJ I dan BJ II Fase diastolic yaitu fase antara BJ II dan BJ I berikutnya Fase diasnotic lebih lebar/lama dari pada fase sistolik dengarkan baikbaik apakah didapat suara-suara tambahan pada fase sistolik, fase diasnotic atau kedua-duanya. Suara tambahan ini disebut Bising Jantung = Murmur ( ) c. Bising Jantung/Murmur ( ) Murmur adalah fibrasi/getaran yang terjadi didalam jantung atau pembuluh darah besar yang diakibatkan oleh bertambahnya arus turbulensi darah. Arus darah yang normal adalah stream line.

Bila darah melewati celah yang sempit terjadilah arus turbulensi, hal inilah yang menimbulkan bising.

Bila didengar murmur harus dikaji lebih lanjut tentang : 1. Tempatnya (M.T.P) dan perjalannya/menjalar atau tidak menjalar 2. terjadinya pada fase atau diasnotic 3. derajatnya 4. tinggi rendahnya nada 5. kualitasnya Abdomen Pada pemeriksaan abdomen kita harus mengingat pembagian daerah

abdomen menurut : 9 Regio - Epigastrica - Hipocondrica - Umbilicalis - Lumbalis kiri kanan - Hipogastriea - Iliaca (=inguinal kiri-kanan) 4 Kwadran - Kwadran kanan atas - Kwadran kiri atas - Kwadran kanan bawah - Kwadran kiri bawah Khusus pemeriksaan abdomen urutannya adalah inspeksi, auskultasi, barulah palpasi dan perkusi, karena palpasi dan perkusi bisa menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas peristaltic usus sebelum diperiksa. Inspeksi 1. Pada inspeksi perlu disimak abdomen membusung/membuncit atau datar saja, tepi perut menonjol (flank) atau tidak, umbicilus menonjol atau tidak. 2. Amati bayangan/gambaran bendungan pembuluh darah vena dikulit abdomen. Aliran normal pembuluh darah kulit abdomen berasal dari pertengahan abdomen, ada yang menuju atas, ada yang menuju bawah, dan tidak terlalu menonjol. 3. Inspeksi juga mengamati apakah didaerah abdomen tampak benjolan-benjolan/masa. Laporkan dalam bentuk dan letaknya. Auskultasi Segera dilakukan sesudah inspeksi, stetoskop diletakkan didaerah epigastrium dan 4 kwardan abdomen. Suara peristaltic usus terdengar normal antar 5 35 kali per menit. Bila bunyi peristaltic keras dan panjang maka disebut Borborygmi, hal ini ditemui pada gastroenteristis atau obstruksi usus. Peristaltic yang berkurang ditemui pada ileus paralitik. Apabila setelah 5 menit tidak terdengar bunyi peristaltic sama sekali baru dikatakan peristaltic negative/tidak ada (para pasien post operasi). Palpasi Sebelum anda lakukan palpasi, bertanyalah apakah ada bagian perut pasien yang terasa nyeri (spontan) tanpa palpasi, sebab bila pasien menyatakan ada, daerah tersebut harus dipalpasi terakhir. Palpasi abdomen dimulai dengan palpasi umum terhadap keseluruhan dinding

abdomen untuk mencari tanda nyeri umum (peritonitis, pancreatitis). Kemudian mencari dengan perabaan ada/tidaknya masa/benjolan (tumor, faeces). Periksa juga turgor kulit perut untuk menilai hidrasi pasien. Sesudah itu periksalah dengan tekanan pada region Iliaca (Adnexitis, KET), barulah kita secara khusus melakukan palpasi hepar dan lien. Palpasi Hepar Tehnik palpasi hepar dengan telapak tangan dan jari kanan dimulia dari kwadran kanan bawah berangsur-angsur naik mengikuti irama napas dan gembungan perut, dan berupayalah merasakan sentuhan tepi hepar pada tepi jari telunjuk. Pembesaran hepar menuju arah inferior. Pada keadaan normal hepar berada dibelakang arcus-costa sehingga tidak teraba. Apabila hepar dapat diraba, dibuat deskripsi sebagai berikut : 1. Ukuran hepar dari tepi bawah arcus costa (dalam cm atau lebar jari) 2. Perabaan keras, lunak atau biasa 3. Tepi hepar : tajam atau tumpul 4. Permukaan rata atau berbenjol-benjol 5. Nyeri tekan atau tidak. Hepar membesar pada keadaan-keadaan : Bendungan karena dekomp cordis Malnutrisi Gangguan fungsi hati hati/radang hati (hepatitis, Thypoid fever, malaria, dengue, tumor hepar dan sebagainya) Hepar yang teraba 1 jari pada bayi dan anak-anak merupakan keadaan yang sering ditemui, hal ini bukan berarti suatu pembesaran hepar. Palpasi Lien Teknik palpasi lien dengan cara bi-manual (=2 tangan), jari-jari tangan kiri mengangkat dengan cara mengait dinding perut kiri atas arah belakang, sedangkan jari-jari tangan kanan berupaya meraba lien dari arah depan abdomen kiri atas, mencari/meraba lien yang ditandai dengan adanya incissura linalis. Pembesaran lien mengikuti arah garis yang melewati umbilicus menuju kwadran kanan bawah abdomen. Lien membesar didapat pada Thypoid fever. Dengue fever, Leucemia, dan lain sebagainya. Harus hati-hati melakukan palpasi pada lien yang membesar karena mengakibatkan rupture lien. Palpasi titik Me Burney Titik Me Burney berada pada batas sepertiga luar dan dua pertiga dalam dari garis imaginer yang menghubungkan umbicilus dengan SIAS

kanan. Pada radang akut Appendix akan didapat nyeri tekan dan nyeri lepas, yaitu rasa nyeri timbul saat daerah ini ditekan maupun dengan mendadak dilepaskan.

Perkusi Perkusi dilakukan dengan cara yang sama seperti perkusi thorax. Suara perkusi abdomen yang normal adalah tympani. Masa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar, ascites, vesika urinaria, masa tumor). Perkusi dilakukan pada semua kwadran. Pada pemeriksaan penderita ascites : cairan dalam rongga perut berada dibawah, perkusi dimulai dari tengah abdomen dengan posisi pasien terlentang, menyusuri dinding abdomen, terus ke lateral abdomen. Perubahan suara dari tympani menjadi pekak merupakan batas cairan ascites yang ada. Kemudian pasien dipindah posisi berbaring miring. Maka daerah lateral abdomen yang semula pekak setelah berada diatas akan menjadi tympani karena cairan berpindah, sebaliknya daerah umbilicus menjadi pekak, hal ini disebut shifting dullness. Perkusi ginjal dilakukan didinding abdomen belakang pada costo-vertebral. Dengan diatasi telapak tangan kiri, kita lakukan perkusi dengan sisi ulnar kepalan tangan kanan. Pada peradangan/infeksi saluran kemih akan didapat tanda nyeri pada perkusi. Kelenjar limfe inguinal, Genetalia dan anus a. Kelenjar limfe inguinal diperiksa dengan palpasi, teraba membesar, nyeri tekan atau tidak, pembesaran dan nyeri merupakan petunjuk adanya infeksi dari daerah tungkai, kelamin, atau metastase tumor testis/prostate. b. Pemeriksaan genetalia externa Pria : Diperiksa apakah kulit sekitar kelamin mengalami infeksi/jamur/kutu (pediculosispubis) Testis kiri kanan, ada/tidak, hidrocele, radang (orchitis) Mulut uretra; discharge nanah (GO) Ulcus dicorona glandis Phymosis (preptium tidak bisa ditarik) Lesi herpes, condyloma acuminate Keganasan, dsb Wanita : Bila tersedia, pemeriksaan sebaiknya dilakukan diatas meja ginekolog, bila tidak lakukan dengan posisi anatomi. Amati vulva secara

keseluruhan adakah prolapsus uteri, amati secret vaginal : Normal-jernih-tidak gatal Lochea rubra sampai 3 hari post partum Lochea alba 9 hari post partum Coklat : mungkin monilia/candida Putih mucoid : infeksi stafilokokus Streptokokus Putih berbusa : trichomonas vaginalis Kuning kehijauan, lengket : GO c. Pemeriksaan anus Anus diperiksa bersamaan dengan genetalia pada wanita. Pada pasien laki-laki, posisi pasien berbaring miring dengan lulut terlipat menempel diperut/dada. Diperiksa adanya : haemoroid externa, fissure, fistula, tanda keganasan Lengan dan Tungkai a. Pemeriksaan oedema Edema biasa terjadi didaerah pretibia, mallcolus, dorsum pedis, jari-jari. Selain itu edema juga bisa terjadi di palpabrae atau didaerah tulang sacrum, terlebih pada pasien yang berbaring lama. Edema diperiksa dengan menekankan jari dipermukaan kulit dan kecekungan yang terjadi akan tidak segera hilang (pitting edema). Hal ini terjadi karena terkumpulnya cairan dijaringan extraseluler lebih banyak dari biasanya (decomp cordis, nefrotik). b. Menilai rentang gerak (ROM = Range of Motion) Diperiksa simetrisitas lengan dan tungkai, panjang dan besarnya dibandingkan antara sisi kiri dan kanan. Keadaan ini patogenik seperti : polio, fraktur tulang dan kelumpuhan. Gerakan pasif ke berbagai arah dinilai apakah mengalami hambatan/keterbatasan gerak yang mungkin akibat dari kelainan sendi atau jaringan disekitar sendi. Untuk lebih jelasnya penilaian rentang gerak dapat dilihat pada lampiran. c. Uji kekuatan otot Diawali dengan memeriksa Tonus Otot (ketegangan otot). Trofi otot (ukuran otot) dengan cara inspeksi palpasi. Bandingkan antara kiri dan kanan. Kekuatan otot dinilai dengan angka nol sampai lima : 0 Otot sama sekali tidak mampu bergerak tampak berkontraksipun tidak,bila lengan/tungkai dilepaskan akan jatuh 100% pasif. 1

Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh. 2 Mampu menahan tegak yang berarti mampu menahan gaya gravitasi saja, tapi dengan sentuhan akan jatuh. 3 Mampu menahan tegak walaupun sedikit didorong tetapi tidak mampu melawan tekanan/mendorong dari pemeriksa. 4 Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain 5 Kekuatan utuh d. Menilai refleks-refleks disiologik Refleks fifiologik diperiksa pada ketukan tendon yang akan dijawab dengan kontraksi otot. Diperiksa refleks tendon : biceps, patella, achiles. Untuk lebih jelas lihat gambar pada lampiran.

e. Mencari refleks patologik Refleks patoligik Babinsky normal tidak ditemui. Caranya : dengan menggoreskan benda berujung tumpul pada telapak kaki. (lihat gambar pada lampiran). Babinsky positif bila ibu jari kaki dan jari-jari kaki lainnya mengalami dorsofleksi (ini artinya patologis). Babinsky negative bila ibu jari kaki dan jari-jari kaki lainnya mengalami plantarfleksi (ini artinya fisiologis atau normal). f. Mencari tanda khusus Clubbing of the finger, ujung jari seperti tongkat genderang (pada penyakit jantung bawaan, kronik, TBC). Terjadi pada semua keadaan dimana jaringan kekurangan oksigen secara menahun/lama. Spider naevi, pelebaran arteriola pada pasien cirosis hepatic yang sudah lanjut. Uremic frost, didapat pada pasien uremia, setelah keringat yang mengandung ureum menguap, tertinggal bedak ureum. Pemeriksaan dengan perabaan dan bukan saat pasien baru saja dimandikan. Payudara pada pasien wanita Inspeksi Periksalah apakah tampak retraksi kulit daerah mamae akibat tarikan

ligamentum cowperi seperti kulit jeruk (peau de orange). Adakah discharge berbau dari puting susu, ulkus, bayangan benjolan yang tampak sehingga tidak simetris bentuknya. Palpasi Lengan kanan pasien ditopang dengan kiri pemeriksa, tangan kanan pemeriksa melakukan palpasi pada setiap kwadrat mamae pasien dan fossa axilarisnya. Hal-hal yang perlu diperiksa adalah : Ukuran massa, diuraikan dalam centimeter, dan posisinya dicatat (ekor, atas luar, atas dalam, bawah luar, bawah dalam) Bentuk massa Delimitasi, apakah mempunyai tepi yang jelas, seperti pada kista? Atau difus seperti pada karsinoma? Kosistensi, karsinoma sekeras batu, kista lebih elastis Mobilitas lesi. Apakah lesi itu dapat digerakkan dengan bebas, sedangkan karsinoma biasanya biasanya melekat pada kulit, otot dibawahnya atau dinding dada. Columna Vertebralis Pasien pada posisi duduk, membelakangi pemeriksa Inspeksi Amati bentuk dan susunan Columna Vertebralis akan adanya kelainankelainan seperti scoliosis, kyposis, gibbas, meningocele, spina bivida. Palpasi Tekanlah prosesus spinosus dari cervical sampai lumbo sacral mencari tanda nyeri yang mungkin didapat, seperti pada pasien HNP. Uji Saraf Cranial Uji saraf cranial sudah merupakan pemeriksaan khusus neurologik yang rutin bagi pasien penyakit saraf. Nervus I Olfactorius-penghidu Fungsi penghidu diperiksa dengan bau-bauan seperti terasi, tembakau, wangi-wangian, dengan mata tertutup pasien diminta untuk menyebutkan aroma apa yang dicium. Nervus II Opticus-penglihatan Diperiksa dengan pemeriksaan visus terhadap setiap mata. Digunakan kartu Snellen yang dipasang pada jarak 6 meter dari pasien. Visus ditentukan dengan kemampuan membaca jelas deretan huruf-huruf

yang ada. Nervus III Okulomotorius Diperiksa dengan meminta pasien membuka dan menutup kelopak mata, memeriksa refleks pupil terhadap cahaya, refleks akomodasi dan diameter pupil. Nervus IV Troclearis Diperiksa dengan meminta pasien menggerakkan bola mata kearah atas dan bawah. Nervus V Trigeminus Diperiksa dengan meminta pasien membuka dan menutup rahang, menggerakkan rahang lateral, memeriksa refleks, cornea, sensori wajah dengan memberi rangsang nyeri (jarum), suhu (panas atau dingin), texture (kain, kertas, wool). Nervus VI Abducens Diperiksa dengan meminta pasien untuk menggerakkan bola mata kearah lateral. Nervus VII Fasialis Diperiksa dengan meminta pasien untuk menggerakkan otot-otot wajahnya, dan memberi rangsang rasa pada 2/3 lidah anterior (asam, manis, asin) dan minta pasien untuk menyebutkan dengan mata tertutup. Nervus VIII Vestibulokoklearis Fungsi keseimbangan dengan tes Romberg; penderita berdiri tegak dengan mata tertutup, bila pasien terhuyung-huyung dan jatuh artinya keseimbangan tidak baik (tes Romberg positif). Keseimbangan juga diperiksa dengan berdiri satu tumit atau berjalan pada garis lurus. Pemeriksa pendengaran : Test Rinne (garputala 256 Hz) : Penala digetarkan, tangkainya ditempelkan pada poros. Mastoidens, saat suara tidak terdengar pindahkan pada muka liang telinga, bila suara masih terdengar berarti Rinne (+). Rinne positif bisa berarti tuli perseptif, sedangkan tuli konduktif memberi hasil Rinne (-). Test Weber (garputala 512 Hz) Penala digetarkan tangkainya ditempelkan pada garis tengah kepala.

Pasien diminta menyebutkan sisi telinga mata yang lebih keras mendengar. Jawaban bias salah satu terdengar lebih keras atau sama keras. Satu sisi lebih keras disebut lateralisasi ke kiri atau ke kana. Bila lebih keras dikiri bisa berarti 2 hal : Telinga kiri tuli konduktif Telinga tuli perseptif

Sama keras bisa pula berarti 3 hal : Kedua telinga normal Kedua telinga tuli konduktif Kedua telinga tuli perseptif Test Schwabach Maksud pemeriksaan ini adalah membandingkan hantaran suara antara pemeriksa dengan pasien. Syarat pemeriksa pendengarannya normal. Setelah penala digetarkan, ditempelkan pada poros. Martoideus pasien, segera saat tidak terdengar suara pasien memberi tanda. Lalu segera pindahkan penala ke poros. Martoideus pemeriksa, bila masih terdengar, dikatakan scwabach pasien memendek (lebih pendek dari pendengaran pemeriksa). Bila urutan pemeriksaan dibalik hasilnya tetap memendek, berarti ada gangguan pada system cochlea pasien (tuli perseptif). Nervus IX & X Glosopharygeus dan Vagus Diperiksa letak uvula, ditengah atau deviasi serta kemampuan menelan pasien. Nervus XI Accessorius Diperiksa dengan kemampuan mengangkat bahu kiri dan kanan dan gerakan kepala ke kiri dan kanan. Nervus XII Hipoglosus Diperiksa dengan kemampuan menjulurkan lidah pada posisi lurus, gerakan lidah mendorong pipi kiri dan kanan dari arah dalam.