Anda di halaman 1dari 4

Hal-hal menarik dalam cerpen Godlob Tugas ini untuk memenuhi mata kuliah pengkajian cerpen yang ditujukan

kepada bpk. Abdul Hamid, M.Hum Oleh

Kezia Feronika S.M 180110110029 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Cerpen Godlob ini ditulis oleh Danarto, kumpulan cerpennya diterbitkan pada tahun 1974 dengan judul Godlob. Sedangkan Godlob sendiri merupakan judul cerpen danarto yang pernah dimuat di majalah Horison pada tahun 1968. Hampir setiap karya Danarto mempunyai unsur-unsur mistis seperti penggunaan kiasankiasan dalam cerpen Godlob ini, Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, laksana setan yang compang-camping, mereka buas dan tidak mempunyai ukuran secara umum kita mengetahui seperti apa itu burung gagak, simbol hitam yang melekat pada gagak yang membuatnya sangat familiar di mata kita, apalagi jika tinggal di pedesaan, tidak heran lagi jika bertemu dengan gagak. Warna hitam adalah warna kemuraman, yang selalu identik dengan kemurungan dan kedukaan tetapi di lain sisi burung gagak merupakan burung yang cerdas sehingga ia mampu memecahkan masalah yang menimpa dirinya dan pandai memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitarnya, disini, kita dibawa oleh Danarto untuk dapat menguasai lingkungan sekitar jika ada di dalam masalah yang sulit. Tiap mayat berpuluh-puluh gagak yang berpesta pora bertengger-tengger di atasnya, hingga padang gundul itu sudah merupakkan gundukan-gundukan semak hitam yang bergerak-gerak seolah-olah kumpulan kuman-kuman yang mengerikan. Menurut pendapat saya, di dalam kata-kata ini terkias keadaan bumi nusantara pada waktu penjajahan yang sangat memprihatinkan, rakyat dijajah, ada yang dibunuh, ditindas, serta perbuatan-perbuatan lain yang tidak memiliki prikemanusiaan, para penjajah seperti diibaratkan tertawa diatas pendertitaan rakyat yang negrinya direbut oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. ya, manusia adalah alang-alang.. Alang-alang adalah tanaman liar yang sangat mudah tumbuh bahkan di tempat yang hujannya sedikit. Siapapun tahu bahwa alang-alang adalah tumbuhan liar yang tak diinginkan keberadaannya.

Dibakar, dipotong, dibuang adalah nasib yang harus diterima sang alang-alang. Namun tak dipungkiri, alang-alang adalah ciptaan Yang Maha Kuasa, yang juga memiliki tempat dan manfaat di alam kehidupan ini.(Didit HP, Pendiri

Sanggar Alang Alang). Jika dilihat dari pendapat tersebut terlihat jelas bahwa manusia disamakan oleh penulis seperti alang-alang, secara umum orang-orang menganggap bahwa alang-alang merupakan suatu tumbuhan yang mempunyai sifat pengganggu, tetapi di sisi lain alang-alang memiliki suatu arti lain perhatikan saja pertumbuhan alang-alang, akarnya merantai tepat di garis tanah,, hal itu mengajarkan kita tentang bagaimana arti persahabatan yang tak terputus, saat panas berkepanjangan dan kekeringan melanda, alang-alang bisa mempertahankan hidupnya tanpa air untuk dapat mengolah zat hara tanah yang diserapnya, bunganya beterbangan meniti angin, pada saat meniti angin kita diajarkan supaya dapat bersosialisasi dengan orang lain, karena kita adalah manusia, dan manusia diciptakan oleh Yang Maha Esa sebagai pribadi yang sosial dalam arti tidak bisa hidup sendiri tanpa teman. Menurut saya, mengenai cerita Godlob ini keseluruhan menceritakan tentang keegoisan seorang ayah yang ingin anaknya memiliki gelar pahlawan dengan cara mencabut nyawanya, padahal posisi si pejuang muda tersebut merupakan anak kandung dari bapak tersebut, aneh memang kelakuan ayahnya tersebut, padahal nasib sudah ditentukan oleh sang pencipta,dan tidak untuk dirusak dengan cara konyol seperti itu. Mungkin sifat keputusasaan bapaknya, yang tidak mau

membantu anaknya yang memang saat itu kondisinya sedang lemah. Tidak hanya sampai disitu, sebelum detik-detik kematian anaknya itu bapaknya membacakan sebuah sajak yang seakan-akan menyudutkan seorang politikus, yang gemar menyiksa.