Anda di halaman 1dari 9

LINTASAN ELEKTRON DALAM MEDAN MAGNET (EFBT) I.

Tujuan Percobaan Menentukan dan menghitung muatan spesifik e/m melalui defleksi sinar elektron oleh medan magnetik homogen. II. Latar Belakang Masalah Salah satu sifat dari elektron adalah selalu berputar pada orbitnya ketika tidak ada energi luar yang memaksanya untuk berpindah dari satu kulit ke kulit yang lain baik menuju kulit yang terluar maupun kulit yang berada lebih dalam dari pada kulit yang sedang ditempatinya. Agar pergerakannya dapat teratur dan tidak dipengaruhi oleh gaya luar maka dibuat suatu sistem ideal yang konservatif, dimana tidak ada gaya luar dan energi dari luar yang dapat mempengaruhi pergerakan elektron stersebut. Maka digunakanlah suatu ruang vaccum yang dinamakan Helmholtz Coil With Holder (HC) tempat elektron bergerak. Maka diperlukan suatu pencipta medan magnet pada kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi pergerakan elektron dalam ruang vaccum Helmholtz Coil With Holder (HC). III. Teori Dasar Elektron merupakan suatu partikel yang memiliki suatu massa tertentu dan memiliki muatan dengan nilai yang sangat tertentu. Karena elektron memiliki suatu nilai muatan tertentu dan memiliki massa yang tertentu maka akan menimbulkan suatu muatan spesifik yang merupakan perbandingan dari muatan yang dimiliki oleh elektron tersebut dengan nilai massa yang juga dimiliki oleh elektron tersebut. Dari ide tersebut maka dicari nilai muatan spesifik tersebut dengan bantuan dari medan magnetik homogen yang dapat mendefleksikan sinar elektron sehingga dari sini akan dipancarkan suatu sinar defleksi pada suatu tabung hampa udara/vakum yang berbentuk suatu lintasan yang melingkar dengan suatu jari-jari tertentu akibat dari besar kecilnya tegangan dan arus yang diberikan baik pada pemancar elektronnya sendiri maupun besar tegangan dan arus yang dialirkan pada kumparan yang dimaksudkan untuk menciptakan medan magnet yang

diinginkan sehingga besar medan magnet tersebut dapat mempengaruhi pergerakan elektron. Ketika elektron lepas dari kulitnya karena dipancarkan oleh pemancar elektron maka elektron tersebut menerima energi, dan ketika elektron tersebut kembali pada kulitnya elektron tersebut akan memancarkan energi dengan disertai sinar yang merupkan defleksinya yang biasa disebut sinar foton tetapi pada percobaan ini frekuensinya sangat lemah karena energi yang dilepaskannyapun sangat lemah. Pada saat elektron keluar dari pemancar elektron maka ia akan langsung terpengaruhi oleh suatu medan yang sengaja dibuat yaitu medan magnet homogen, sehingga dari sini akan timbul suatu gaya yang biasa disebut gaya lorentz yang disebabkan oleh interaksi dari muatan yang dimiliki oleh elektron yang bergerak dan besar kuat medan magnetik homogen disertai dengan kecepatan dari elektron tersebut bergerak. Gaya yang dialami partikel bermuatan yang bergerak dalam medan magnetik Sebuah penghantar berarus mengalami suatu gaya ketika diletakan dalam suatu medan magnetik. Arus listrik dapat dipandang sebagai suatu partikel yang bermuatan yang sedang bergerak, sehingga kita berpikir medan magnetik yang bekerja pada partikel-partikel yang bermuatan, seperti ion-ion atau elektronelektron, menyebabkan timbulnya gaya pada paritkel-partikel tersebut. Gaya yang dikerjakan pada penghantar tidak lain adalah resultan gaya-gaya yang bekerja pada elektron-elektron yang bergerak dalam penghantar tersebut. Dari hasil suatu pengamatan diperoleh kesimpulan yaitu : Partikel bermuatan yang bergerak di dalam suatu daerah medan magnetik akan mengalami gaya. Gaya ini disebut gaya lorentz. Jika muatan listrik adalah e dan bergerak dengan kecepatan v maka kuat arus adalah sebagai berikut :

q t
q l lq t t

Dengan demikian diperoleh:

il

lintasan yang ditempuh oleh suatu muatan dalam suatu selang waktu sama dengan besar kecepatan ( v l / t ), sehingga :
l t il qv il q

selanjutnya kita masukan hubungan ini ke rumus gaya Lorentz sehingga kita dapatkan rumusan sebagai berikut :

F ilB sin F qvB sin


karena lintasan gerak elektron berupa lingkaran dan tegak lurus dengan arah medan magnetik yang diciptakan oleh kumparan maka antara medan magnetik dengan arah kecepatan elektron bergerak memiliki sudut 900, dengan demikian diperoleh rumus sebagai berikut:

F qvB
Selanjutnya pada lintasan elektron yang berbentuk lingkaran maka akan timbul gaya yang menuju pusat yang disebut gaya sentripetal dengan perumusan :

v2 F m R
B
F

Elektron pada medan magnetik homogen Suatu elektron yang bergerak dalam suatu medan elektrostatik yang homogen mengalami suatu gaya konstan pada penyusunan potensialnya. Hasilnya, hukumhukum yang berhubungan dengan permulaan elektron sama dengan hukum pada suatu benda yang dipengaruhi oleh medan gravitasi setelah ditemukannya kecepatan yang sangat tinggi yang tak terjangkau.

Dari Hukum II Newton diperoleh :

m
dimana: m

d 2x Ee dt 2

= massa dari elektron = 9.107 x 10-31 x t = panjang dalam meter = waktu dalam second

dV dx

merupakan gradien dari potensial, volt permeter

e = muatan elektron = 1,602 x 10-19 dari persamaan pertama diperoleh

dx e Et dt m

meter per second

konstanta diatas menjadi nol karena kecepatan diberikan bernilai nol pada saat t = 0. Integral terhadap waktu memberikan kita rumusan sebagai berikut :

1 e Et 2 2m

meters

pada keadaan ini konstanta bernilai nol lagi untuk permulaan elektron yang bergerak dari tempat yang tidak memiliki potensial. Ketika

V Ex terjadi elektron menjadi jatuh. Pada keadaan persamaan

sebelumnya energi kinetik diberikan oleh permulaan elektron sederajat dengan energi yang hilang atau dilepaskan, Solusi untuk v selanjutnya menjadi :

2 Exe m
e 2U 2 A2 m B xr

2eV m

meter per second

Sehingga muatan spesifik dapat dihitung dengan persamaan :

IV.

Hipotesis Muatan spesifik merupakan salah satu sifat dari elektron yang dipengaruhi oleh besar massa yang dimilikinya.Medan magnetik homogen diperlukan pada

percobaan ini untuk membantu mendefleksikan sinar elektron yang akan terpancar ketika elektron sedang milintas pada suatu lintasan tertentu yang kontinu. Medan magnet ini diciptakan dari suatu kumparan kawat berarus sebagai sumber dari medan magnetnya. Dengan menggunakan gaya lorentz maka elektron yang sedang bergerak akan terpengaruhi oleh medan magnet ini. Hal ini sesuai dengan kaidah lorentz pada tangan kanannya sebagai patokan arah gaya lorentz terhadap medan magnet ketika ada suatu partikel elektron yang sedang bergerak.

V.

Kerangka Pemikiran Medan magnet ini diciptakan dari suatu kumparan kawat berarus elemen foil dengan arah arus tertentu sehingga medan magnet yang diciptakannya dapat berarah tepat masuk ke dalam Helmholtz Coil With Holder (HC) yang didalamnya terdapat elektron yang sedang bergerak. Dari kondisi seperti ini maka lintasan elektron akan tepengaruhi oleh medan magnet. Dari sini maka elektron akan memancarkan sinar yang disebut sebagai defleksi sinar elektron. Dari sinilah dapat kita tentukan muatan spesifik e/m yang dijadikan tujuan dari pengamatan ini.

VI.

Metode Eksperimen a. ALAT-ALAT Perlengkapan untuk percobaan Lintasan elektron dalam medan magnet ini terdiri dari : 1. Fine Beam tube (FBT) Digunakan sebagai tabung hampa udara untuk menempatkan electron sehingga bebas bergerak . 2. Helmholtz Coil With Holder (HC) Digunakan untuk menempatkan FBT dan kumparan sehingga keduanya saling berhubungan. 3. Tesla meter Digunakan untuk mengukur besar medan magnetic. 4. Tangansial B Probe

5. Stabilis power supply Digunakan untuk memberikan tegangan masukan pada rangkaian sehingga rangkaian percobaan dapat berjalan dengan baik. 6. Volt meter Digunakan untuk mengukur tegangan yang mempengaruhi rangkaian EFBT. 7. Controllable Current Source Digunakan untuk mengontrol besarnya aliran arus yang dimasukan kedalam rakaian sehingga pemancaran elektron lebih terencana. 8. AV meter Digunakan untuk mengukur arus dan tegangan. 9. Jangka sorong Digunakan untuk mengukur diameter lingkaran dari lintasan elektron yang berupa defleksi sinar elektron. 10. Kabel-kabel penghubung Digunakan untuk menyambungkan rangkaian yang satu ke rangkaian yang lainnya.

b. PROSEDUR PERCOBAAN A. Kalibrasi Arus terhadap Medan Magnet (B= f (I)) 1. Mengangkat Fine Beam Tube dengan hati-hati, simpan di tempat yang aman 2. Menempatkan Tangential B-Probe yang sudah dihubungkan dengan tesla meter ditengah-tengah antara kedua kumparan Helmholtz ! 3. Menghubungkan input kumparan Helmholtz dengan Controllable Curent source!(Lihat gambar) 4. Menghubungkan tesla meter dan controllable curent source dengan

jaringan PLN 220 V! 5. Menyalakan tesla meter dan controllablecurent source, catat angka yang ditunjukkan tesla meter untuk setiap variasi yang diberikan (0 2 A) !

B. Pengamatan Jari-jari Lintasan Elektron sebagai fungsi dari Tegangan r = f(Ua), Pada Arus Konstan.

1. Memastikan sumber arus dan sumber tegangan dalam keadaan mati. 2. Membuat Rangkaian seperti pada gambar. 3. Mengangkat tangential B-Probe, tempatkan dengan hati-hati FineBeamTube pada tempat semula. 4. Menyalakan Stabillis Power Supply dan Contollable Curent source. 5. Dengan memvariasikan tegangan anoda pada arus koil konstan, dengan mengatur e dan f, mengukur jarak e dan f sebagai diameter lintasan electron untuk setiap variasi tegangan anoda. 6. Melakukan percobaan 5 minimal 10 variasi tegangan (100 V 300 V) 7. Melakukan prosedur 5 dan 6 untuk arus konstan yang berbeda.

C. Pengamatan Jari-jari Lintasan Elektron sebagai fungsi dari Medan Magnet r = f(B) Pada Tegangan konstan. 1. Memastikan Sumber arus den sumber tegangan dalam keadaan mati. 2. Membuat rangkaian seperti pada gambar. 3. Menyalakan Stabilis Power Supply dan Controllable Curent Source. 4. Dengan memvariasikan aus koil pada tegangan anoda konstan, mengamati dan mencatat perubahan diameter lintasan untuk setiap varisi arus koil dengan mengatur e dan f . 5. Melakukan percobaan 4 minimal 10 variasi tegangan (1 A 2 A). 6. Melakukan prosedur 4 dan 5 untuk tegangan anoda konstan yang berbeda.

D. Mencatat Arus Sebagai fungsi dari Tegangan Anoda (I = f (Ua)) Pada Jari-jari konstan. 1. Memastikan sumber arus dan sumber tegangan dalam keadaan mati. 2. Membuatlah rangkaian seperti gambar. 3. Menyalakan Stabillis Power Supply dan controllable current source, masukkan tegangan anoda maksimum (300 V), atur arus sehingga lintasan electron mempunyai diameter tertentu. 4. Memvariasikan tegangan anoda (300 V 100 V), atur kembali arus setiap variasi tegangan sehingga diameter lintasan elektron sama dengan diamter pada keadaan awal. (minimal 10 variasi).

5. Mengulangi langkah 3-4, untuk diameter lintasan elektron tertentu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Halliday & Resnick. Physics Part 1 & 2. Combined Edition. John Wiley & Sons, Inc. 1978. Karl R. Spangenberg, 1948. VACCUM TUBES, McGraw Hill Book Company.INC. New York. Sears & Zemansky. College Physics. Third edition. Addison-Wesley Publishing Company, Inc. 1961. Serway & Raymond. Physics for Scientists and Engineers. Second edition. Saunders College Publishing. 1985.