Anda di halaman 1dari 8

Provisional measures Jika pada suatu waktu dalam proses beracara terjadi hal-hal yang akan membahayakan subjek

dari applikasi yang diajukan, maka pihak applicant dapat meminta MI untuk mengindikasikan usaha-usaha perlindungan (interim measures of protection) atau keputusan sela (provisional measures). MI dapat meminta para pihak untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan efektifitas keputusan MI atas permintaan Keputusan Sela tersebut. Ketentuan mengenai Keputusan Sementara ini diatur di dalam Aturan Mahkamah pasal 73-78

Doktrin Forum Prorogatum Menurut doktrin forum prorogatum, yurisdiksi seperti ini (propogated jurisdiction) timbul manakala hanya satu negara yang menyatakan dengan tegas persetujuannya atas jurisdiksi Mahkamah. Kesepakatan pihak lainnya diberikan secara diam-diam, tidak tegas, atau tersirat saja. Dalam sengketa the Corfu Channel Case (1948), Mahkamah menyimpulkan bahwa surat dari Wakil Menteri Luar Negeri Albania merupakan pernyataan kesepakatan pemerintah Albania agar sengketanya diselesaikan oleh Mahkamah. Di luar itu, kesepaktan untuk menyerahkan sengketa kepada yurisdiksi Mahkamah dapat pula disimpulkan dari tindakan suatu negara. Dalam kasus the Rights of Minorities in Polish Upper Silesia (1928), mahkamah permanen Internasional menyatakan bahwa yurisdiksi dapat tersirat dari tindakan-tindakan suatu negara. Misalnya, negara tersebut menyerahkan argumenargumennya atas pokok sengketa, tanpa membuat pernyataan mengenai keberatannya atas yurisdiksi Mahkamah.1

The Optional Clause Berdasarkan pasal 36 ayat 2 Statuta menyatakan bahwa negara-negara peserta pada Statuta dapat setiap waktu menyatakan penerimaan wajib ipso facto yurisdiksi Mahkamah dan tanpa adanya perjanjian khusus terhadap negara yang menerima kewajiban serupa atas semua sengketa hukum mengenai: 1) penafsiran suatu perjanjian 2) setiap masalah hukum internasional

Sengketa lainnya yang berlangsung menurut doktrin forum prorogatum ini adalah the Mavrommatis Palestine Concessions (Greece vs UK), PCIJ Series A., No. 2, 1924.

3) eksistensi suatu fakta yang jika terjadi akan merupakan suatu pelanggaran kewajiban internasional 4) sifat dan ruang lingkup ganti rugi yang dibuat atas pelanggaran kewajiban internasional 2 Klausul ini merupakan jalan tengah sewaktu pembahasan tentang yurisdiksi ICJ berlangsung di San Fransisco. Jalan tengah ini lahir dari kelompok yang menghendaki yurisdiksi memaksa dari ICJ. Kelompok lainnya adalah mereka yang menentang yurisdiksi memaksa tersebut.3 Dengan adanya klausul ini, negara-negara tidak diharuskan untuk membuat pernyataan demikian berdasarkan pasal 36 ayat 2 Statuta karena semata-mata ia adalah peserta pada Statuta Mahkamah. Misalnya, Indonesia sampai saat ini tidak pernah membuat pernyataan seperti itu. Namun, manakala suatu negara membuat pernyataan demikian maka yurisdiksi Mahkamah sifatnya menjadi memaksa terhadap persoalan-persoalan yang dinyatakan secara khusus. Pasal 36 ayat 5 Statuta menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat berdasarkan Stauta PICJ akan terus berlaku berdasarkan Statuta Mahkamah Internasional. Pasal 36 ayat 3 membolehkan pernyataan-pernyataan demikian dirumuskan atas suatu dasar yang tidak disyaratkan atau tunduk pada syarat resiprositas.4 Meskupun pasal 36 ayat 2 tidak secara khusus memberikan hak-hak demikian itu, negaranegara acap kali membuat pernyataan-pernyataan yang tunduk pada persyaratan-persyaratan. Persyaratan yang dibuat biasanya berkaitan dengan hal-hal berikut: a) sengketa-sengketa yang forum penyelesaian sengketanya telah ditetapkan. b) sengketa-sengketa yang timbul sebelum suatu tanggal yang pasti yang mana biasanya adalah tanggal dibuatnya pernyataan. c) sengketa-sengketa yang timbul sebagai akibat dari adanya perselisihan d) sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah-masalah yang menjadi yurisdiksi pengadilan setempat dari negara yang membuat pernyataan sebagaimana ditetapkan oleh hukum internasional atau bahkan oleh negara yang bersangkutan. e) persyaratan mengenai sengketa dengan negara tertentu, misalnya antara negara-negara anggota persemakmuran atau sengketa dengan negara-negara yang negaranya tidak memiliki
2

Office of Legal Affairs, Handbook on the Peaceful Settlement of Disputes between States, United Nations, New York, 1992, hlm. 72-73. 3 Peter Malanczuk, Akehursts Modern Introduction to International Law, Routledge, London, 1997,hlm. 284. 4 J.G. Merrils, International Dispute Settlement, Grotus Publications Ltd, Cambridge, 1995, 184-185.

hubungan diplomatik f) persyaratan untuk tujuan-tujuan tertentu yang pihak lainnya telah pula menerima optional clause ini (resiprositas); g) persyaratan mengenai perjanjian multilateral tertentu h) persyaratan mengenai masalah-masalah hukum laut Karena persyaratan-persyaratan demikian dibuat atas dasar resiprositas maka Mahkamah memiliki yurisdiksi hanya pada ruang lingkup atas masalah-masalah yang berada atau yang dinyatakan dalam pernyataan itu. Karena itu, yurisdiksi Mahkamah berdasarkan pasal 36 ayat 2 bisa dikelompokkan dalam dua bagian: (1) salah satu pihak dapat menggantungkan pada suatu yang dibuatnya untuk membatasi yurisdiksi Mahkamah (2) salah satu pihak dapat menyandarkan pada persyaratan-persyaratan yang dibuat oleh salah satu pihak yang mencoba untuk membuat yurisdiksi atas dasar resiprositas sebagai suatu pembatasan atas yurisdiksi Mahkamah.5 Kemudian ada dua alasan utama di mana Mahkamah berkeberatan atau menolak untuk menyelesaikan sengketa yang diserahkan kepadanya. (1) Instrumen kesepakatan perjanjian (acta compromis) para pihak yang berisi penyerahan sengketa ke Mahkamah tidak lagi mempunyai kekuatan hukum atau berlaku. Alasan ini tampak dalam sengketa the Temple of Preah Vihear (Cambodia v Thailand) (ICJ Rep. 1961, p. 17); the Aerial Accident of 10 March 1953 (United States v Czechoslovakia) (ICJ Rep. 1956, p. 6). Alasan lain, suatu sengketa dikesampingkan oleh satu pihak dengan dibuatnya persyaratan terhadap instrumen perjanjian (misalnya dalam sengketa the Military and Paramilitary Activities in and Against Nicaragua (Nicaragua v United States) (ICJ Rep. 1984, p. 392); (2) Sengketa tidak dapat diterima karena tidak adanya dasar hukum (jus standi), misalnya dalam sengketa the South West Africa (Ethiopia v South Africa, Liberia v South Africa) (ICJ Rep. 1962, p. 319), atau karena tidak ditaatinya prinsip exhaustion of local remedies, misalnya dalam sengketa the Interhandel (Switzerland v United States) (ICJ Rep. 2957, p. 105)45; atau karena sebenarnya tidak adanya sengketa di antara para pihak, misalnya dalam sengketa the Rights of Passage over Indian Territory (Portugal v India) (ICJ Rep. 1957, p. 125).

Interhandel Case (Preliminary Objections), ICJ Reports, 1959, hlm. 6.

ADVISORY OPINION Berdasarkan atas Piagam Mahkamah Internasional (ICJ Statue), ditentukan bahwa Mahkamah Internasional memiliki yurisdiksi atau wewenang atas : 1. Yurisdiksi untuk memeriksa dan memutus sengketa antar Negara yang diserahkan kepadanya (contentius jurisdiction), dan, 2. Yurisdiksi untuk memberikan pandangan atau nasehat hukum (advisory jurisdiction). Yurisdiksi Mahkamah untuk memeriksa dan mengadili sengketa antar Negara adalah dalam ruang lingkup Mahkamah sebagai sebuah lembaga peradilan internasional, dimana Negara yang terlibat dalam suatu sengketa dengan Negara lainnya sepakat untuk secara damai menyelesaikan sengketa yang terjadi melalui mekanisme penyelesaian oleh Mahkamah Internasional. Putusan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional dalam hal ini adalah bersifat final dan mengikat bagi para pihaknya. Sedangkan, yurisdiksi untuk memberikan nasihat atau pertimbangan hukum (Advisory Opinion) adalah hanya terhadap organ utama atau organ PBB lainnya. Nasihat atau pendapat hukum tidak diberikan kepada Negara, namun negara dapat ikut serta dalam keterlibatanpersidangan Mahkamah (dalam proses pemberian nasihat). Nasihat hukum yang diberikan terbatas sifatnya,yaitu hanya yang terkait dengan ruang lingkup kegiatan atauaktivitas dari 5 badan utama dan 16 badan khusus PBB.

Dasar hukum mengenai hal tersebut terdapat dalam pasal 96 Piagam PBB. Isi ketentuan pasal ini berbunyi sebagai berikut:

i) Majelis Umum atau Dewan Keamanan dapat meminta Mahkamah Internasional untuk memberikan nasihatnya mengenai masalahmasalah hukum yang diserahkan kepadanya; ii) Organ-organ atau badan-badan khusus PBB lain, setiap saat dapat memohon nasihat Mahkamah Internasional mengenai masalah-masalah hukum yang timbul dari ruang lingkup kegiatannya.

Dasar hukum lainnya yang juga memberi wewenang yang lebih luas kepada Mahkamah untuk memberikan nasihatnya disamping organ-organ utama atau khusus PBB, terdapat pula dalam pasal 65 Piagam. Pasal ini menyatakan, Mahkamah dapat memberikan pendapatnya atau nasihatnya mengenai setiap masalah hukum yang diserahkan kepadanya atas permohonan badanbadan manapun juga yang diberi wewenang atau yang sesuai dengan Piagam PBB untuk

membuat permohonan demikian.

Dasar hukum jurisdiksi Mahkamah dalam memberikan nasihat hukumnya ini biasanya termuat pula dalam konstitusi, konvensi, statuta, atau instrumen-instrumen perjanjian lainnya. Misalnya, perjanjian markas besar atau konvensi mengenai hak-hak istimewa dan kekebalan suatu organisasi internasional (publik). Contoh konstitusi atau konvensi yang memuat hak untuk meminta nasihat hukum pada Mahkamah antara lain adalah Konstitusi ILO (9 Oktober 1946), Konstitusi FAO (16 Oktober 1945), Konstitusi UNESCO (16 November 1945), Konstitusi WHO (22 Juli 1946), Konvensi IMCO (yang berubah menjadi IMO) (6 Maret 1948), Statuta IAEA (24 Oktober 1956), dll.

Perihal atau Masalah Hukum yang Diajukan Untuk Mendapat Advisory Opinion Serta Sifat Kekuatan Hukumnya Terhadap Badan Yang Mengajukan Pertanyaan.

Perihal masalah hukum yang Mahkamah Internasional berikan nasihat hukumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok berkut:

(1) keanggotaan suatu negara terhadap organisasi internasional, misalnya sengketa the Conditions for the Admission of a State to Membership in the United Nations Case (1948); (2) penafsiran perjanjian, misalnya dalam sengketa the Interpretation of Peace Treaties case (1950); (3) pembayaran iuran pada organisasi internasional, misalnya sengketa the Certain Expenses of the United Nations case (1962); (4) status wilayah, misalnya the Eastern Sahara case (1975), the South West Africa (Namibia) (1950);53 (5) status hukum suatu organisasi internasional, misalnya dalam sengketa the Reparation for Injuries Suffered in the Service of the United Nations (1949); dan (6) dampak atau akibat hukum dari tindakan suatu negara.

Kekuatan hukum nasihat yang diberikan oleh Mahkamah ini tidaklah mengikat. Organisasi internasional (publik) yang meminta nasihat hukum tersebut bebas untuk

melaksanakan atau menolak nasihat hukum tersebut. Namun dalam praktek, badan badan atau organ-organ yang memohon nasihatnya dari Mahkamah telah menghormatinya dengan seksama6. Bahkan beberapa nasihat hukum Mahkamah telah memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan hukum internasional. Contoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah pendapat hukum Makamah dalam sengketa the Reparation Case (1949). Dalam sengketa ini nasihat hukum Mahkamah memberikan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan hukum internasional, yakni memberikan penjelasan hukum mengenai personalitas dan kemampuan hukum organisasi internasional dalam hukum internasional.

Contoh Advisory Opinion Mahkamah Internasional

WESTERN SAHARA CASE ADVISORY OPINION OF I.C.J. REPORTS 1975

FAKTA-FAKTA HUKUM Sahara Barat (Western Sahara) adalah negara koloni Spanyol antara tahun 1884-1976, Western Sahara dikenal juga dengan nama Spanish Sahara. Western Sahara berbatasan dengan Maroko di utara, Mauritania di selatan, Aljazair di timur, dan Samudera Atlantik di barat. Berdasarkan atas Resolusi 1514 (XV) tanggal 14 Desember tahun 1960 mengenai penyerahan kemerdekaan terhadap negara-negara koloni, Majelis Umum PBB (MU) mendesak Spanyol bahwa Sahara Barat harus mendapatkan dekolonisasi dari Spanyol berdasarkan asas menentukan nasib sendiri (self-determination). Spanyol menyetujui usulan referendum untuk menentukan nasib Sahara Barat, dibawah pengawasan PBB. Raja Hassan, kepala Negara Maroko melalui menteri luar negerinya pada tanggal 30 September dan 2 Oktober 1974 menyampaikan pernyataan kepada Majelis Umum PBB bahwa dengan adanya suatu keterikatan historis antara Western Sahara dan Maroko, maka Western Sahara seharusnya menjadi bagian dari Maroko. Dengan alasan yang sama, Mauritania mengemukakan hal yang serupa.

Malanczuk, op.cit, hlm. 289

Dengan adanya tanggapan dari Maroko dan Mauritania terkait status Western Sahara setelah referendum, Majelis Umum PBB mengajukan pertanyaan untuk pendapat hukum (advisory opinion) dari Mahkamah DIAJUKAN KEPADA Internasional MAHKAMAH mengenai kasus ini.PERTANYAAN YANG UNTUK MENDAPAT

INTERNASIONAL

ADVISORY OPINION a. Apakah pada masa kolonisasi Spanyol, Sahara Barat merupakan sebuah wilayah tak dimiliki siapapun (terra nullius)? Apabila jawabannya tidak, mengacu kepada pertanyaan kedua, b. Hubungan hukum apakah yang terdapat antara wilayah ini dengan Maroko maupun Mauritania ?

PENDAPAT MAHKAMAH INTERNASIONAL

1. Mahkamah berpendapat bahwa asas self-determination dapat dipertimbangkan untuk proses pembebasan Sahara Barat. 2. Menjawab pertanyaan dari Majelis Umum PBB. Dalam Advisory Opinion-nya, Mahkamah mengutarakan sebagai berikut : a. Pada saat Sahara Barat dibawah kolonisasi Spanyol, wilayah tersebut bukanlah merupakan terra nullius. b. Mahkamah berpendapat bahwa memang benar adanya terdapat iktan historis antara wilayah Sahara Barat dengan Mauritania maupun Maroko tetapi hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk kedaulatan territorial di western sahara antara maroko ataupun Mauritania

SUMMARY

Western sahara bukanlah merupakan wilayah terra nullius karena telah ada organisasi sosial dan politik yang diwakili oleh para kepala suku yang memegang kendali atas wilayah tersebut. Dalam kasus western sahara ini dapat dilihat bahwa faktor ikatan sejarah saja tidak dapat digunakan untuk menyatakan sebuah wilayah merupakan bagaian dari wilayahnya. Dimana Negara tersebut harus dapat membuktikan telah melakukan internal maupun internasional act trerhadap wilayah tersebut dan juga melakukan efektif control terhadap wilayah yang telah diklaimnya tersebut.

Western sahara dapat dikatakan merupakan wilayah bebas dimana tidak kedaulatan personality maupun badan hukum di wilayah tersebut. Sehingga western sahara memilki hak untuk menentukan nasibnya sendiri (self determination). Hal ini sesuai dengan Resolusi MU No. 1514(XV) dan juga merupakan suatu prinsip hukum umum (ius cogens) dalam hukum internaisonal.