Anda di halaman 1dari 7

.

Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan, plastik juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen.

Sehubungan dengan sifat plastik yang memiliki permeabilitas terhadap gas dan uap air sehingga mampu melindungi produk yang dikemas dengan menjaga agar oksigen dan uapa air tetap berada di dalam kemasan pada kenyataannya ternyata plastik pengemas tidaklah secara absolut mampu menahan gas dan uap air tersebut karena film plastik permeabel terhadap gas dan uap air. Peremeabilitas terhadap gas dan uap air (Gas or water vapor permeability = WVP) yang banyak digunakan dalam teknologi pengemasan didefinisikan sebagai gram air per hari per 100 in2 permukaan kemasan, untuk ketebalan dan temperatur tertentu, dan kelembaban relatif di satu sisi 0% dan pada sisi lainnya 95%. Metode yang umum digunakan untuk mengukur permeabilitas uap ialah dengan metode gravimetri. Dalam metode ini digunakan suatu desikan yang bisa menyerap uap air dan menjaga supaya tekanan uap air tetap rendah disimpan dalam suatu mangkuk alumunium yang kemudian ditutup dengan film plastik yang akan diukur permeabilitasnya.

2. Permeabilitas : Permeabilitas suatu film kemasan adalah kemampuan melewatkan partikel gas dan uap air pada suatu unit luasan bahan pada suatu kondisi tertentu.. Nilai permeabilitas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sifat kimia polimer,, struktur dasar polimer, sifat komponen permeant. Umumnya nilai permeabilitas film kemasan berguna untuk memperkirakan daya simpan produk yang dikemas. Komponen kimia alamiah berperan penting dalam permeabilitas. Polimer dengan polaritas tinggi (polisakarida dan protein) umumnya menghasilkan nilai permeabilitas uap air yang tinggi dan permeabilitas terhadap oksigen rendah. Hal ini disebabkan polimer mempunyai ikatan hidrogen yang besar. Sebaliknya, polimer kimia yang bersifat non polar (lipida) yang banyak mengandung gugus hidroksil mempunyai nilai permeabilitas uap air rendah dan permeabilitas oksigen yang tinggi, sehingga menjadi penahan air yang baik tetapi tidak efektif menahan gas. Permeabilitas uap air merupakan suatu ukuan kerentanan suatu bahan untuk terjadinya proses penetrasi air. Permeabilitas uap air dari suatu film kemasan adalah laju kecepatan atau transmisi uap air melalui suatu unit luasan bahan yang permukaannya rata dengan ketebalan tertentu, sebagai akibat dari suatu perbedaan unit tekanan uap antara dua permukaan pada kondisi suhu dan kelembaban tertentu. Sedangkan permeabilitas film kemasan terhadap gas-gas, penting diketahui terutama gas oksigen karena berhubungan dengan sifat bahan dikemas yang masih melakukan respirasi. PENGEMASAN BAHAN PANGAN MODIFIED ATMOSPHERE PACKAGING (MAP) Saat ini permintaan konsumen akan kemasan bahan pangan adalah teknik pengemasan yang ramah lingkungan, produk yang lebih alami dan tanpa menggunakan bahan pengawet. Industri-industri pengolahan pangan juga berusaha untuk meningkatkan masa simpan dan keamanan dari produk. Teknologi pengemasan bahan pangan yang modern mencakup pengemasan atmosfir termodifikasi (Modified Atmosfer Packaging/MAP), pengemasan

aktif (Active Packaging) dan Smart Packaging, bertujuan untuk semaksimal mungkin meningkatkan keamanan dan mutu bahan sebagaimana bahan alaminya. Pengemasan atmosfir termodifikasi (MAP) adalah pengemasan produk dengan menggunakan bahan kemasan yang dapat menahan keluar masuknya gas sehingga konsentrasi gas di dalam kemasan berubah dan ini menyebabkan laju respirasi produk menurun, mengurangi pertumbuhan mikrobia, mengurangi kerusakan oleh enzim serta memperpanjang umur simpan. MAP banyak digunakan dalam teknologi olah minimal buah-buahan dan sayuran segar serta bahan-bahan pangan yang siap santap (ready-to eat). Saat ini MAP telah berkembang dengan sangat pesat, hal ini didorong oleh kemajuan fabrikasi film kemasan yang dapat menghasilkan kemasan dengan permeabilitas gas yang luas serta tersedianya adsorber untuk O2, CO2, etilen dan air. Ahli-ahli pengemasan sering menganggap bahwa MAP merupakan satu dari bentuk kemasan aktif, karena banyak metode kemasan aktif juga memodifikasi komposisi udara di dalam kemasan bahan pangan. Ide penggunaan kemasan aktif bukanlah hal yang baru, tetapi keuntungan dari segi mutu dan nilai ekonomi dari teknik ini merupakan perkembangan terbaru dalam industri kemasan bahan pangan. Keuntungan dari teknik kemasan aktif adalah tidak mahal (relatif terhadap harga produk yang dikemas), ramah lingkungan, mempunyai nilai estetika yang dapat diterima dan sesuai untuk sistem distribusi.

5.

Data pengamatan Perubahan berat selama penyimpanan Sampel Perubahan berat selama penyimpanan Hari 1 319.79 1 322.60 2 322.63 322.65 322.69 322.72 322.76 Hari 2 319.86 Hari 3 319.86 Hari 4 319.90 Hari 5 319.93 Hari 6 319.96

Catatan : berat wadah sampel pada sampel 1 = 271.24 Pada sampel 2 = 274.92

Pada praktikum kali ini, akan dilakukan uji permeabilitas uap air dari kemasan plastic dengan melibatkan bahan- bahan penyerap air ( desikan ) seperti silica gel dan garam. Pada praktikum ini, sampel plastic yang digunakan adalah PVC, HDPE, LDPE, PP tipis dan PP tebal. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan desikan kedalam mangkuk lalu tutup dengan menggunakan kemasan plastic. Timbang beratnya selama 5 hari. Untuk perbandingan, dibuat kontrolnya dengan cara menutup mangkuk dengan sampel plastic tanpa diisi dengan desikan. Setelah melakukan prosedur tersebut, didapatkan hasil penimbangan sebagai berikut: HDPE Waktu Control Silica Gel Garam

0 111.3586 137.7913 167.5978 3 111.3750 137.9285 167.6546 4 111.3323 137.9307 167.6216 5 111.3471 137.9802 167.6458 6 111.3779 138.0441 167.6684 7 111.3901 138.0955 167.6905

Berdasarkan hasil diatas, didapatkan data bahwa sampel mengalami peningkatan berat setiap harinya. Terkecuali pada sampel garam, didapatkan bahwa pada hari keempat mengalami penurunan berat. Hal tersebut menandakan bahwa pada hari ke empat, uap air atau kadar air pernah keluar dari bahan pangan menuju ke lingkungan. Semakin meningkat berat sampel, maka permeabilitasnya semakin tinggi. Hal tersebut menandakan bahwa plastic HDPE memiliki permeabilitas yang tinggi. Semakin tinggi permeabilitasnya, maka semakin mudah gas dan uap air untuk masuk menembus kemasan. Menurut literature, HDPE memiliki densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan LDPE. Semakin tinggi nilai densitasnya, maka semakin rendah permeabilitasnya. Dapat dikatakan bahwa kemampuan HDPE untuk tidak tertembus oleh gas dan uap air lebih baik dibandingkan dengan LDPE. PVC Waktu Control Silica Gel Garam 0 126.8028 144.9698 152.0279 3 126.8380 145.1548 152.0964 4 126.7913 145.1537 152.0423 5 126.8007 145.2095 152.0415 6 126.8084 145.2517 152.0402 7 126.7976 145.2817 151.8790

PVC merupakan bahan pengemas yang biasa digunakan untuk mengemas mentega, margarine dan minyak karena memeiliki ketahanan terhadap minyak dan memiliki permeabilitas yang rendah. Pada sampel control, terjadi keanehan pada setiap pengamatannya. Berat sampel akan menurun setelah mengalami kenaikan berat selama 2 hari. Pada sampel silica gel, didapatkan hasil bahwa sampel kenaikan berat secara konstan namun tidak pada hari ke 4 yang mengalami penurunan dari berat sebelumnya. Pada sampel garam, didapatkan bahwa terjadi penurunan secara konstan kecuali pada hari ketiga yang

mengalami peningkatan berat dari hari sebelumnya. Apabila membandingkan antara berat silica gel dengan garam, didapatkan bahwa garam merupakan desikan yang paling baik dalam menyerap air dan gas.

PVC merupakan plastic tebal yang sangat mudah menyerap air dan melepaskannya kembali ke lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat pada control dimana tiap 2 hari, sampel mengalamai kenaikan berat lalu dilanjutkan dengan penurunan berat. Hal tersebut menandakan bahwa air atau gas mudah masuk dan keluar dari kemasan, sehingga dapat dikatakan bahwa permeabilitas plastic PVC sangat tinggi. Apabila membandingkan permeabilitas antara PVC dan HDPE, didapatkan hasil bahwa permeabilitas PVC sedikit lebih rendah. LDPE Waktu Control Silica Gel Garam 0 124.8679 152.2099 161.3996 3 124.8691 152.3208 161.4206 4 124.8767 152.3764 161.4424 5 124.8537 152.2809 161.4133 6 124.4575 152.4223 161.4189 7 124.8576 152.4575 161.4223

LDPE merupakan salah satu plastic yang kuat, agak tembus cahaya fleksibel dan permukaannya sedikit berlemak. Berdasarkan hasil diatas, didapatkan bahwa berat sampel mengalami peningkatan setiap harinya. Hal tersebut menandakan bahwa plastic LDPE memiliki permeabilitas yang tinggi. Menurut literature, kemasan LDPE memiliki daya proteksi yang baik terhadap uap air namun tidak untuk gas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kenaikan berat tersebut disebabkan oleh adanya gas- gas seperti oksigen yang masuk dari lingkungan menembus kemasan. PP ( Tebal dan Tipis ) PP Tebal Waktu Control Silica Gel Garam 0 119.3009 148.8609 158.6546 3 119.9379 148.9990 158.7210 4 119.3196 149.0117 158.6987 5 119.3130 149.0312 158.6870

6 119.3180 149.0303 158.6956 7 119.3189 149.0979 158.7016

PP Tipis Waktu Control Silica Gel Garam 0 113.2124 145.3932 153.3473 3 113.2314 145.4757 153.3760 4 113.1981 145.4642 153.3419 5 113.1923 145.4701 153.3295 6 113.2149 145.5138 153.3556 7 113.2146 145.5324 153.3544

Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Monomer polypropilen diperoleh dengan pemecahan secara thermal naphtha (distalasi minyak kasar) etilen, propylene dan homologues yang lebih tinggi dipisahkan dengan distilasi pada temperatur rendah. Dengan menggunakan katalis Natta- Ziegler polypropilen dapat diperoleh dari propilen.

Polipropilen memiliki sifat-sifat sebagai berikut: Ringan, mudah dibentuk, transpasan dan jernih dalam bentuk film. Tetapi dalam bentuk kemasan kaku maka PP tidak transparan. Kekuatan terhadap tarikan lebih besar dibandingkan PE. Pada suhu rendah akan rapuh. Dalam bentuk murni pada suhu -30C mudah pecah sehingga perlu ditambahkan PE atau bahan lain untuk memperbaiki ketahanan terhadap benturan. Tidak dapat digunakan untuk kemasan beku. Lebih kaku dari PE dan tidak mudah sobek sehingga dalam penanganan dan distribusi. Permeabilitas uap air rendah, permeabilitas gas sedang. Tidak baik untuk mengemas produk yang peka terhadap oksigen. Tahan terhadap suhu tinggi sampai 150C, sehingga dapat digunakan untuk mengemas produk pangan yang memerlukan proses sterilisasi.

Tahan terhadap asam kuat, basa dan minyak. Pada suhu tinggi PP akan bereaksi dengan benzene, silken, toluene, terpentin asam nitrat kuat. Apabila membandingkan antara literature dan hasil praktikum, maka dapat dinyatakan bahwa adanya perubahan yang tidak konstan ( kenaikan maupun penurunan berat ) disebabkan adanya gas yang masuk dan keluar dari lingkungan kedalam kemasan. Selain menghitung perubahan berat, suatu permebailitas kemasan plastic juga dapat diketahui dengan cara menghitung nilai b nya dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: B = (( jumlah gas atau uap air )( ketebalan))/(( area)(waktu)(beda tekanan)) Dengan menggunakan persamaan, berikut adalah hasil perhitungan b nya: SAMPEL KONTROL SILICA GEL GARAM PVC 1,534x10-9 9,1037x10-8 4,39x10-8 LDPE -1,82x10-5 4,39x 10-4 4,01x10-5 HDPE 1,8525 x 10-4 1,9392 x 10-5 -4,0645 x 10-6 PP TIPIS 3,8924x10-6 2,4628x10-4 1,256x10-5 PP TEBAL 9,0991 x 10-6 1,1980 x 10-4 2,375 x 10-5

Menurut literature, semakin kecil nilai b nya maka permeabilitasnya akan semakin baik. Hal tersebut didasarkan pada jumlah gas atau uap air dalam kemasan yang semakin sedikit sedangkan waktunya mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil diatas, didapatkan bahwa nilai b PVC paling kecil diantara keempat sampel. Hal tersebut menandakan bahwa sampel PVC merupakan kemasan berpermeabilitas rendah terhadap gas atau uap air. Berdasarkan nilai b hasil praktikum, didapatkan tingkatan sampel plastic dari permeabilitas rendah ke permeabilitas tinggi yaitu PVC, PP Tipis, PP Tebal, HDPE lalu LDPE. Namun apabila membandingkan dengan literature, plastic PVC merupakn plastic yang paling tidak stabil karena terpengaruh oleh factorfactor lingkungan.

VI. KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum diatas, didapatkan kesimpulan bahwa PP memiliki permeabilitas paling baik dibandingkan sampel plastic lainnya. Sebagian dari plastic memiliki permeabilitas yang baik terhadap uap air dan jenis lainnya memiliki permeabilitas yang baik terhadap gas. Kenaikan maupun penurunan berat tiap harinya, mungkin dikarenakan adanya gas maupun uap air yang masuk dan keluar dari lingkungan. Apabila membandingkan kemampuan kerja silica gel dan garam, didapatkan bahwa kemampuan garam untuk menyerap uap air dan gas lebih baik dibandingkan dengan silica gel. Berdasarkan nilai b hasil praktikum, didapatkan tingkatan sampel plastic dari permeabilitas rendah ke permeabilitas tinggi yaitu

PVC, PP Tipis, PP Tebal, HDPE lalu LDPE.

DAFTAR PUSTAKA Buckle, K.A., dkk. 1987. Ilmu Pangan. UI-Press : Jakarta Bachriansyah, S. 1997. Identifikasi Plastik. Makalah Pelatihan Teknologi Pengemasan Industri Makanan dan Minuman, Departemen Perindustrian dan Perdagangan : Bogor. Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott, 1988, Plastic Materials Properties and Aplications. cations. Chapman and Hall Publishing, New York. Brody. A.L. 1972. Aseptic Packaging of Foods. Food Technology. Aug. 70-74. Brydson J.A. 1975. Platic Materials. 3th. Newnes-Butterworths. London Herudiyanto, Marleen,Ir.,M.S. 2003. Pengemasan. Program Studi Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Industri Pertanian Faperta UNPAD.