Anda di halaman 1dari 13

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah Tahun anggaran 2012

A. LATAR BELAKANG Rumusan ekowisata atau 'ecotourism' sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain, rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut: "Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people." "Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Definisi ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector CeballosLascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus. Definisi di atas telah telah diterima luas oleh para pelaku ekowisata. Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh: 1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat eksploatatif terhadap sumber daya alam. 2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat. 3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat. 4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi ('economical benefit') dari lingkungan yang lestari. 5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan

alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidup penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual. Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah, seni dan budaya yang sangat besar sebagai daya tarik pariwisata dunia. Ahli biokonservasi memprediksi bahwa Indonesia yang tergolong negara Megadiversity dalam hal keaneka ragaman hayati akan mampu menggeser Brasil sebagai negara tertinggi akan keaneka jenis, jika para ahli biokonservasi terus giat melakukan pengkajian ilmiah terhadap kawasan yang belum tersentuh. Bayangkan saja bahwa Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui, 16% reptilia and amfibia, 17% burung, 25% ikan, dan 15% serangga, walaupun luas daratan Indonesia hanya 1,32% seluruh luas daratan yang ada di dunia (BAPPENAS, 1993). Di dunia hewan, Indonesia juga memiliki kedudukan yang istimewa di dunia. Dari 500-600 jenis mamalia besar (36% endemik), 35 jenis primata (25% endemik), 78 jenis paruh bengkok (40% endemik) dan 121 jenis kupu-kupu (44% endemik) (McNeely et.al. 1990, Supriatna 1996). Sekitar 59% dari luas daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis atau sekitar 10% dari luas hutan yang ada di dunia (Stone, 1994). Sekitar 100 juta hektar diantaranya diklasifikasikan sebagai hutan lindung, yang 18,7 juta hektarnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Namun Demikian sampai saat ini kita harus menanggung beban berat sebagai negara terkaya keaneka ragaman hayati di kawasan yang sangat sensitif, karena biota Indonesia tersebar di lebih dari 17,000 pulau. Oleh karena itu bukan saja jumlah populasi setiap individu tidak besar tetapi juga distribusinya sangat terbatas. Ini harus disadari oleh pemerintah, sehingga Indonesia harus merumuskan suatu kebijakan dan membuat pendekatan yang berbeda di dalam pengembangan sistem pemanfaatan keaneka ragaman hayatinya, terutama kebijakan dalam pengembangan pariwisata yang secara langsung

memanfaatkan sumber daya alam sebagai aset. Pengembangan sumber daya alam yang non-ekstraktif, non-konsumtif dan berkelanjutan perlu diprioritaskan dan dalam bidang Pariwisata pengembangan seperti ekowisata harus menjadi pilihan utama. VISI EKOWISATA INDONESIA Melihat potensi yang dimiliki Indonesia, maka Visi Ekowisata Indonesia adalah untuk menciptakan pengembangan pariwisata melalui penyelenggaraan yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), melibatkan dan menguntungkan masyarakat setempat, serta menguntungkan secara komersial. Dengan visi ini Ekowisata memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal. Penetapan Visi Ekowisata di atas di dasarkan pada beberapa unsur utama: 1. Ekowisata sangat tergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya. Kekayaan keaneka-ragaman hayati merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata, sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk ekowisata.

Pengembangan ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat

internasional, nasional, regional dan lokal. 2. Pelibatan Masyarakat. Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta kawasan daya tarik wisata, dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada tingkat pengelolaan. 3. Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya. Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat setempat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya. 4. Pertumbuhan pasar ekowisata di tingkat internasional dan nasional. Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata baik ditingkat internasional maupun nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berprilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat

meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya setempat. 5. Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan. Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif dan non-konsumtif sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat.

Penyelenggaraan

yang

memperhatikan

kaidah-kaidah

ekowisata,

mewujudkan

ekonomi berkelanjutan. EKOWISATA JAWA TENGAH Di Jawa Tengah kawasan hutan yang berpotensi dapat mendukung ekowisata sebagian besar berada di kawasan hutan dengan fungsi Produksi dan sebagian kecil di hutan konservasi yang berupa Taman Wisata Alam dan Taman Hutan Raya dengan potensi sangat bervariasi dari panorama indah alam pegunungan, air terjun dengan berbagai karakteristiknya, air panas alami dengan berbagai kandungan mineralnya, kawasan pantai, hutan payau, bentukan-bentukan alam akibat proses geologi seperti gua-gua, tlogo-tlogo, fauna dan flora yang khas atau menikmati tour dengan menggunakan lokomotif tua atau ingin mengetahui pengelolaan hutan tanaman. Ekowisata di Jawa Tengah antara lain : 1. TWA Tlogo Warno / Tlogo Pengilon 2. Puncak Lawu 3. Waduk Kedung Ombo 4. Taman Wisata Alam Grojoga Sewu 5. Taman Hutan Raya Ngargoyoso 6. Baturaden 7. Pancuran Tujuh 8. Telaga Sunyi 9. Kebun Raya Baturaden 10. Taman Nasional Karimun Jawa 11. Jumprit 12. Gonoharjo 13. Guci 14. Tritih di Kab. Cilacap 15. TWA Gunung Selok di Kab. Cilacap 16. Pancuran Tiga di Kab. Banyumas

17. Curug Cipendok di Kab. Banyumas 18. Goa Jatijajar di Kab. Kebumen 19. Goa Petruk di Kab. Kebumen 20. Pantai Logending di Kab. Kebumen 21. Waduk Wadaslintang di Kab. Kebumen 22. Waduk Sempor di Kab. Kebumen 23. Deles Indah di Kab. Klaten 24. Gunung Bromo di Kab. Karangnyar 25. Pringgondani di Kab. Karangnyar 26. Sekipan di Kab. Karanganyar 27. Cinde Laras di Kab. Grobogan 28. Sendang Coyo di Kab. Grobogan 29. Goa Terawang di Kab. Blora 30. Loko Tour di Kab. Blora 31. TWA Sumber Semen di Kab. Rembang 32. Banyu Urip Kab. Pati 33. Gunung Muria di Kab. Pati 34. Curug Semirang di kab. Semarang 35. Wanawisata Penggaron di Kab. Semarang 36. TWA Tuk Songo di Kab. Semarang 37. Bumi Perkemahan Umbul Songo Kab. Semarang 38. Goa Kiskendo di Kab. Kendal 39. Adinusa di Kab. Batang 40. Curug Genting di Kab. Pekalongan 41. Waduk Cacaban Kab. Tegal 42. Waduk Malahayu Kab. Brebes

B. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10.Tahun 2009 tentang kepariwisataan 2. Undang-undang No. 23 th 1997 tentang Penglolaan Lingkungan Hidup 3. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam 5. Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam 7. Peraturan Pemerintah No 67 tahun 1996 tentang penyelenggaraan kepariwisataan 8. Peraturan Pemerintah nomor 18 tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam 9. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Pembangunan Pariwisata yang Berdasarkan Pelestarian Lingkungan. 10. Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1979 tanggal 13 Agustus 1979 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I. 11. Keppres Nomor 30/ Tahun 1969 tentang Pengembangan Kepariwisataan Nasional. 12. Inpres Nomor 16 tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata. 13. Inpres Nomor 3 tahun 1989 tahun Kampanye Nasional Sadar Wisata. 14. Inpres Nomor 7 Tahun 1987 tentang Penyederhanaan Perizinan dan Retribusi di Bidang Usaha Pariwisata. 15. Peraturan Menteri Dalam Negeri no 33 tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah 16. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.67/UM.001/MKP/2004 tentang Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata di Pulau Pulau Kecil 17. Keputusan Menhut No. 446/Kpts-II/1996 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberian dan Pencabutan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam 18. Keputusan Menhut No. 447/Kpts-II/1996 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pengusahaan Pariwisata Alam 19. Keputusan Menhut No. 441/Kpts-II/1994 tentang Sarana Prasarana Pengusahaan Pariwisataan Alam 20. Keputusan Menhut No. 878/Kpts-II/1992 tentang Tarif Pungutan Masuk ke Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Laut 21. Keputusan Menhut No. 441/Kpts-II/1990 tentang Pengenaan Iuran Pungutan Usaha di Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Laut

C. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan manfaat dari penyusunan pekerjaan ini adalah mengidentifikasi dan membuat rencana pengembangan ekowisata propinsi Jawa Tengah yang dapat digunakan sebagai pedoman pengendalian pelaksanaan kegiatan ekowisata di Jawa tengah.

Tujuan penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah ini adalah menyusun dokumen identifikasi dan rencana pengembangan ekowisata propinsi Jawa Tengah D. SASARAN KEGIATAN Sasaran dari penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah ini adalah : 1) Teridentifikasi obyek-obyek ekowisata Propinsi Jawa Tengah 2) Tersusunnya rencana sarana dan prasarana pendukung ekowisata Jawa Tengah 3) Tersusunnya arahan pengembangan kegiatan ekowisata Jawa Tengah 4) Tersusunnya strategi konservasi lingkungan ekowisata Jawa Tengah 5) Tersusunnya rencana investasi kegiatan ekowisata Propinsi Jawa Tengah E. RUANG LINGKUP KEGIATAN Ruang Lingkup kegiatan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata ini adalah seluruh lingkup wilayah propinsi Jawa Tengah. Dengan substansi kegiatan berupa : 1) Identifikasi obyek-obyek ekowisata Propinsi Jawa Tengah Invetarisasi obyek-obyek ekowisata di Jawa Tengah menemukenali kawasan-kawasan yang berpotensi menjadi ekowisata di Jawa Tengah 2) Rencana sarana dan prasarana pendukung ekowisata Jawa Tengah Identifikasi kondisi sarana dan prasarana eksisting Analisis proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana kawasan Rencana pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana kawasan

3) Arahan pengembangan kegiatan ekowisata Jawa Tengah Analisis potensi dan permasalahan pengembangan ekowisata Rencana arahan pengembangan ekowisata Jawa Tengah

Rumusan rekomendasi arahan pengembangan

4) Strategi konservasi lingkungan ekowisata Jawa Tengah Identifikasi kondisi eksisting ekowisata Jawa Tengah Analisis zonasi aktifitas ekowisata Jawa Tengah Rumusan strategi konservasi ekowisata Jawa Tengah

5) Rencana investasi kegiatan ekowisata Propinsi Jawa Tengah Analisis potensi investasi ekowisata Jawa Tengah Indikasi program investasi ekowisata Jawa Tengah Rencana investasi ekowisata Jawa Tengah

F. MASUKAN (INPUT) 1. Sumber Daya Manusia. a Tenaga Profesional Tenaga ahli pada penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut: a) Tenaga Ahli Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota) Sebagai Tim Leader dengan latar belakang pendidikan S1 lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan pengalaman pekerjaan di bidang pariwisata minimal 6 tahun. b) Tenaga Ahli Lingkungan Tenaga ahli lingkungan dengan latar belakang pendidikan S1 Teknik Lingkungan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan pengalaman pekerjaan minimal 4 tahun c) Tenaga Ahli Pariwisata Tenaga ahli lingkungan dengan latar belakang pendidikan S1 Pariwisata perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan pengalaman pekerjaan minimal 4 tahun. d) Tenaga Ahli Arsitektur kota Tenaga ahli arsitektur dengan latar belakang pendidikan S1 Teknik Arsitektur lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan pengalaman pekerjaan minimal 4 tahun terutama di bidang urban desain. b Tenaga Pendukung Tenaga pendukung meliputi tenaga administrasi, surveyor, drafter, a) Tenaga administrasi

Tenaga administrasi dengan latar belakang pendidikan sekurang kurangnya SLTA dengan pengalaman kerja di bidang keuangan dan administrasi minimal 2 tahun b) Surveyor Tenaga surveyor dengan latar belakang pendidikan minimal D3 semua jurusan c) Drafter Tenaga drafter dengan latar belakang pendidikan minimal D3 dengan latar belakang teknik sipil atau teknik arsitektur. 2. Peralatan Sewa Peralatan yang dibutuhkan oleh konsultan. Adapun peralatan tersebut meliputi sewa peralatan penunjang seperti : Komputer, Printer, Kendaraan.

G. KELUARAN (OUTPUT) Output penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah terdiri dari dokumen rencana yang disajikan kedalam suatu bentuk laporan. Laporan tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu laporan pendahuluan, laporan antara, dan laporan akhir. 1. Laporan Pendahuluan Laporan Pendahulaun sekurang kurangnya berisi pemahaman konsultan terhadap lingkup pekerjaan, konsep pendekatan dan metodologi studi, program kerja, dan jadwal pelaksanaan pekerjaan, termasuk daftar kebutuhan data dan rencana survey lapangan. Laporan Pendahuluan ini dibuat sebanyak sepuluh eksemplar. 2. Laporan Antara Laporan Antara berisi antara lain: analisis awal wilayah perencanaan, kondisi disik wilayah, kecenderungan perkembangan ekonomi, pengembangan wilayah, hasil identifikasi lapangan, analisis awal perkiraan perkembangan pariwisata. Laporan ini dibuat sebanyak sepuluh eksemplar. 3. Laporan Akhir Laporan Akhir berisi kajian rinci kondisi fisik wilayah perencanaan, kondisi ekonomi dan proyeksi perkembangan pariwisata, analisis terhadap rencana tata ruang wilayah,

analisis perkiraan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang pariwisata, konsep rencana, analisis kelayakan, serta analisis investasi, serta analisis lain yang diperlukan. Selain berisi analisis-analisis terkait pada laporan akhir minimal berisi rencana penyediaan sarana dan prasarana pendukung wisata, rencana dan arahan pengembangan kegiatan, strategi konservasi kawasan, dan rencana investasi kawasan. Laporan ini dibuat sebanyak sepuluh eksemplar. 4. Penyajian Laporan Laporan dibuat dalam bentuk tertulis yang dilengkapi dengan gambar gambar, peta, tabel, foto dan lainnya dengan ketentuan sebagai berikut; a) Kertas ukuran A4 plain paper 80 gram dengan pembatas kertas berwarna b) Tulisa tegak standar, jelas, huruf cetak bukan dot matrix, spasi 1,5 dengan warna tulisan dan gambar menyesuaikan. c) Kulit buku/cover HVS 100 gram

H. HASIL (OUTCOME) Hasil penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah ini berupa Identifikasi, arahan, strategi, dan rencana pengembangan wisata. Termasuk didalamnya rencana investasi pariwisata dalam jangka waktu lima tahun kedepan. Serta rencana terkait pengembangan strategi konservasi kawasan. Sehingga dalam 5 tahun kedepan, ekowisata di Jawa Tengah akan dapat menarik investor dan terus berkembang pesat sehingga dapat menambah pendapatan masyarakat di sekitar tempat wisata dan juga memberikan PAD bagi Pemerintah Daerah.

I.

TEMPAT PELAKSANAAN Lokasi kegiatan penyusunan pekerjaan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah meliputi wilayah seluruh wilayah. Propinsi Jawa Tengah.

J. JADWAL WAKTU PELAKSANAAN Jadwal waktu pelaksanaan kegiatan adalah 6 bulan (180 hari kalender)

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Uraian Kegiatan Pekerjaan Persiapan Penyusunan laporan pendahuluan Paparan laporan pendahuluan Revisi laporan pendahuluan Pengumpulan laporan pendahuluan Survey lapangan Penyusunan laporan antara Paparan laporan antara Revisi laporan antara Pengumpulan laporan antara Penyusunan laporan akhir Paparan laporan akhir Revisi Laporan akhir Pengumpulan laporan akhir

Bulan 1 1 2 3 4 5

Bulan 2 6 7 8 9

Bulan 3 10 11 12 13

Bulan 4 14 15 16 17

Bulan 5 18 19 20 21

Bulan 6 22 23 24

K. PERSYARATAN TEKNIS 1. Kriteria Umum Penyusunan Identifikasi dan Pengembangan Ekowisata Provinsi Jawa Tengah yang akan dilaksanakan harus memperhatikan Kriteria Umum yng disesuaikan berdasarkan Fungsi dan Kompleksitas meliputi: a) Menjamin kawasan-kawasan ekowisata di Jawa Tengah memiliki daya tarik, nyaman, aman dengan memperhatikan aspek kelestarian potensinya b) Menjamin pengembangan kawasan ekowisata di Jawa Tengah berdasarkan karakteristik lingkungan, wujud budaya daerah sehingga seimbang, sesuai dan selaras dengan lingkungan c) Menjamin terwujudnya tata ruang yang dapat memberikan keseimbangan dan searah dengan visi dan misi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. d) Menjamin dapat dimanfaatkan dengan tetap memelihara lingkungan e) Menjamin terwujudnya kawasan-kawasan ekowisata Jawa Tengah dengan dukungan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. f) Menjamin terpenuhinya kebutuhan yang cukup baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya tempat wisata ekologi (ekowisata) sesuai dengan fungsinya. 2. Kriteria Khusus Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan ketentuan khusus dan spesifik berkaitan dengan identifikasi dan pengembangan ekowisata yang direncanakan baik dari segi fungsi maupun segi teknis lainnya, misalnya: a) Dikaitkan dengan upaya pelestarian atau konservasi alam b) Ketentuan rencana pengembangan merupakan wujud implementasi penataan ruang dan aktivitas yang sesuai dengan lingkungannya. c) Sarana-prasarana dibangun di zona/blok pemanfaatan dan tidak lebih dari 10% dari zona/blok tersebut. d) Tidak merubah bentang alam. e) Menggunakan arsitektur setempat. f) Tinggi bangunan tidak melebihi tinggi tajuk. Solusi dan batasan batasan kontekstual, seperti faktor sosial budaya, geografi, klimatologi, dan lain sebagainya.

L. ANGGARAN Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan APBD Propinsi Jawa Tengah Tahun 2012 dengan nilai pagu Rp 475.000.000,- (empat ratus tujuh puluh lima juta rupiah)