Anda di halaman 1dari 11

GANGGUAN SUARA DALAM LAUT Apa itu gelombang suara?

Suara adalah gelombang mekanik yang merupakan osilasi dari tekanan ditularkan melalui padat , cair , atau gas , terdiri dari frekuensi dalam kisaran pendengaran dan dari tingkat yang cukup kuat untuk didengarkan, atau sensasi dirangsang pada organ pendengaran oleh getaran tersebut . Suara atau bunyi adalah energi gelombang yang berasal dari sumber bunyi, yaitu benda yang bergetar. Gelombang bunyi merupakan gelombang mekanik yang dapat merambat melalui medium. Gelombang bunyi adalah gelombang longitudinal sehingga mempunyai sifat-sifat dapat dipantulkan (reflection), dapat dibiaskan (refraction), dapat dilenturkan (difraction), dan dapat dibiaskan (interferention). Gelombang suara ada sebagai variasi tekanan dalam media, seperti udara. Mereka diciptakan oleh getaran suatu benda, yang menyebabkan udara sekitarnya bergetar. Udara bergetar kemudian menyebabkan gendang telinga manusia untuk bergetar, yang otak menafsirkan sebagai suara. Gelombang suara perjalanan melalui udara dalam banyak cara yang sama seperti gelombang air perjalanan melalui air. Bahkan, sejak gelombang air yang mudah untuk melihat dan memahami, mereka sering digunakan sebagai analogi untuk menggambarkan bagaimana gelombang suara berperilaku. Sifat-sifat Gelombang Bunyi atau bunyi 1. Pemantulan gelombang bunyi Pemantulan gelombang bunyi dapat memberikan dampak merugikan dan menguntungkan, antara lain : timbulnya gaung/gema di dalam ruangan yang luas, pemanfaatan bunyi untuk mengukur kedalaman sumur.

2. Interferensi gelombang bunyi Dua sumber bunyi dari dua pengeras suara yang berasal dari sebuah audio generator akan menghasilkan gelombang-gelombang bunyi yang koheren, yaitu dua gelombang dengan frekuensi sama, amplitudo sama, dan beda fase tetap. Jika rapatan bertemu rapatan atau regangan bertemu regangan maka terjadi penguatan bunyi (konstruktif) sehingga bunyi terdengar semakin keras. Jika regangan bertemu rapatan maka terjadi pelemahan bunyi (destruktif) sehingga bunyi terdengar semakin lemah. Jenis-jenis gangguan gelombang suara di laut. Dalam sejarah perkembangan ilmu fisika, umumnya gangguan gelombang terjadi diakibatkan oleh suatu keadaan dimana terdapat kombinasi atau berbaurnya dua macam gelombang. Gelombang-gelombang itu memperkuat satu sama lain, baik mengimbangi maupun menganggu satu sama lain. Contohnya apabila terdapat dua gelombang yang sama terjadi pada satu ketika dan sefasa, maka gelombang tersebut akan saling memperkuat. Namun bila berlainan fasanya, kedua gelombang tersebut akan saling mengganggu sehingga tidak ada suara yang dihasilkan. Dalam hal gangguan gelombang suara, kita harus mengetahui jenis gelombang apa gelombang suara itu. Gelombang suara adalah gelombang mekanik atau biasa disebut gelombang longitudinal. Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan gelombang longitudinal atau gelombang mekanik ini, yaitu : 1. Gelombang suara dapat merambat dengan laju tertentu melalui medium tertentu. 2. Medium yang dilewati gelombang hanya bergerak bolak-balik pada posisi setimbangnya karena medium tidak merambat seperti gelombang 3. Gelombang bisa terjadi jika suatu medium bergetar atau berosilasi. Suatu medium bisa bergetar atau berosilasi jika dilakukan usaha alias kerja pada medium tersebut. Dalam hal ini, ketika usaha atau kerja dilakukan pada suatu medium maka energy dipindahkan ke medium tersebut.

Kemudian sifat-sifat gelombang suara adalah : 1. Dapat dipantulkan 2. Dapat dibelokkan 3. Dapat diresonansikan 4. Dapat dipadukan 5. Dapat dilenturkan Pada kesempatan kali ini medium yang di asumsikan adalah air. Dimana permasalahannya adalah tentang jenis-jenis gangguan gelombang suara di laut. Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal. Air bersifat polar dan memiliki tegangan permukaan yang besar karena disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air. Berbeda lagi dengan air laut dimana terdapat sifat-sifat utama yang tidak bisa direkayasa oleh para peneliti untuk mengetahui bagaimana keadaan di dalam bagan air laut tersebut. Untuk itulah para peneliti berinisiatif untuk membuat suatu peralatan yang dapat mengetahui struktur atau keadaan permukaan di dasar laut. Namun sehebat apapun teknologi manusia ciptakan tidak dapat menghilangkan efek gangguan dari sifat utama air laut tersebut. Gangguan gelombang suara di laut disebabkan oleh : 1. kesalahan pengguna (user) kesalahan pengguna sering kali tidak dapat dihindari karena data yang diambil terkadang tidak valid atau tidak akurat. Sehingga diciptakannya alat bantu seperti SONAR. 2. keterbatasan kemampuan alat

kemampuan alat yang diciptakan manusia tidak mampu memanipulasi eadaan atau kondisi lingkungan yang ingin diketahui. Ini dikarenakan sifat utama air laut. Misal densitas ini sangat berpengaruh pada suhu dan tekanan dimana semakin besar densitasnya semakin cepat gelombang atau sinyal yang dikeluarkan oleh alat bantu tersbut (SONAR) untuk menerima sinyal tersebut, namun sebaliknya jika densitas rendah semakin lama sinyal yang ditembakkan untuk kembali ke recivernya. 3. kondisi perairan kondisi perairan juga sangat berpengaruh dalam pengambilan data menggunakan gelombang suara. Karena harus memperhitungkan waktu seperti pagi, siang, atau sore. Contohnya siang hari, saat siang hari fitoplankton naik kepermukaan untuk berfotosintesis. Saat pengambilan data, data akan tidak valid akibat terjadinya pembelokan yang diakibatkan oleh plankton. Atau bisa juga dikarenakan terdapat banyak gelembung gas yang dihasilkan oleh fitoplankton tersebut. Apa saja sumber pencemaran udara di laut? Pencemaran suara di laut atau juga dapat disebut kebisingan laut merupakan salah satu issu yang cukup menarik dalam beberapa tahun ini. Studi mengenai dampak pencemaran suara di laut atau bising laut menghasilkan beberapa kesimpulan yang cukup menarik, diantaranya yaitu dampak bising laut ini terutama terhadap mamalia laut. Tidak banyak orang mengetahui bahwa ternyata pencemaran suara di laut juga memberikan dampak yang berarti terhadap mamalia laut serta mahluk hidup lainnya di laut. Karena diketahui bahwa mamalia laut menggunakan suara sebagai alat komunikasi serta untuk kewaspadaan dalam mengenali lingkungannya. Akibat dari sensitifitas yang dimiliki oleh mahluk hidup, maka terdapat batas toleransi terhadap frekuensi tertentu suara yang masih dapat dianggap tidak mengganggu. Apabila kemudian suara itu memiliki frekuensi di luar batas toleransi

maka akan dapat menimbulkan gangguan. Dampak dari kebisingan yang terjadi di laut dapat di lihat perubahan perilaku mamalia laut. Sebelum tahun 1950 diperkirakan level dari pencemaran suara di laut belumlah terlalu tinggi. Ikan-ikan paus di lautan dapat berkomunikasi satu sama lain dengan lancar menggunakan sonar. Demikian pula hal nya dengan ajing laut untuk keperluan mencari makanan, mencari pasangan dan berkomunikasi satu sama lain. Namun pada penelitian sejak selang tahun 1950-1975 ternyata telah terjadi kenaikan level sebesar sepuluh desibel yang sebelumnya dalam kurun 150 tahun aktifitas manusia di laut berpengaruh sedikit terhadap polusi suara di lautan. Dalam skala tersebut, 10 desibel merupakan suatu angka yang cukup signifikan, yang dalam hitungan logaritmik angka tersebut naik sepuluh kali lipatnya. Suara juga merambat lebih cepat dan lebih jauh di dalam air dibanding di udara. Intensitas tinggi suara di lautan juga tidak berkurang dalam ratusan mil. Sumber-sumber pencemaran di laut adalah: 1. Sumber alami

Suara di laut yang timbul akibat proses alami terbagi dalam dua yaitu proses fisika serta proses biologi. Proses fisika ini antara lain : aktivitas tektonik, gunung api dan gempa bumi, angin, gelombang. Sedangkan contoh dari aktivitas biologis misalnya suara dari ikan paus yang memiliki kemampuan Echolocation, Echolocation adalah kemampuan binatang dalam memproduksi frekuensi yang sedang atau tinggi serta mendeteksi echos dari suara ini untuk menentukan jarak dari suatu objek, dan untuk mengenali keadaan fisik di sekitarnya. 2. Lalu Lintas Kapal Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut menimbulkan kebisingan yang berpengaruh pada ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara 1000Hz. Kapal-kapal Tanker Besar yang beroperasi mengangkut minyak biasanya mengeluarkan suara dengan level 190 desibel atau sekitar 500Hz. Sedangkan untuk ukuran kapal yang lebih kecil biasanya hanya menimbulkan gelombang suara

sekitar160-170 desibel. Kapal-kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual yang disebut "white noise" yang memiliki kebisingan konstan. White noise dapat menghalangi komunikasi antara mamalia di laut sampai batas untuk area yang lebih kecil. Selain kapal Tanker juga Kapal-kapal besar lainnya sejenis Cargo yang membawa petikemas memiliki kebisingan yang cukup menimbulkan pencemaran suara di laut. 3. Eksplorasi dan Ekspoitasi Gas dan Minyak Kegiatan eksplorasi dan ekspoitasi gas dan minyak banyak menggunakan survei seismik, pembangunan anjungan minyak/rig, pengeboran minyak, dll. Kebanyakan dari survei seismik saat ini menggunakan airguns sebagai sumber suara, alat ini merupakan alat berisi udara yang memproduksi sinyal akustik dengan cepat mengeluarkan udara terkompresi ke dalam kolom air. Metoda tersebut dapat menciptakan suara dengan intensitas sampai dengan 255 desibel. Pengaruhnya terhadap hewan lainnya juga dapat menimbulkan kerusakan pendengaran akibat dari tekanan air yang ditimbulkan. Seperti layaknya penggunaan dinamit, airguns juga berpengaruh terhadap pendengaran manusia secara langsung. Pulsa sinyal akustik ini dapat menimbulkan konflik terhadap mamalia laut, seperti misalnya paus jenis mysticete, sperm, dan beaked yang menggunakan frekuensi suara yang rendah. Begitu juga dalam aktivitas pembangunan rig dan pengeboran minyak dimana dalam operasionalnya setiap hari banyak menghasilkan suara serta menimbulkan kebisingan yang beresiko bagi mamalia laut. 4. Penelitian Oseanografi dan Perikanan Pernah diadakan survei dengan menggunakan Acoustic Thermography of Ocean Climate (ATOC) dimana digunakan kanal suara untuk memperlihatkan ratarata temperatur laut. Sistem ini digunakan untuk penelitian mengenai faktor temperatur laut. Akibatnya terhadap hewan-hewan di laut terbukti bahwa mereka bergerak menjauh (terutama Paus jenis tertentu) namun selang beberapa saat mereka kembali untuk mencari makanan. Deruman dari Speaker yang dipasang

berkekuatan 220 desibel tepat di sumbernya, dan terdeteksi sampai dengan 11000 mil jauhnya. Dari penyebab diatas terdapat juga penyebab lainnya yang tidak disebutkan di sini, salah satunya adalah kegiatan perikanan para nelayan yang menggunakan peledak atau pukat harimau yang tidak hanya menimbulkan polusi suara namun juga merusak secara langsung ekosistem di laut itu sendiri. 5. Kegiatan Militer Ada beberapa aktivitas yang dilakukan militer yang menghasilkan sumber suara yang menimbulkan kebisingan di laut. Salah satu contohnya yaitu aktivitas kapal naval milik US.Army yang menggunakan sonar aktif ketika berlatih dan dalam aktivitas rutin. Angkatan Laut Amerika (NAVY) pernah mengembangkan suatu sistem yang dinamakan Low Frequency Active Sonnars (LFA) untuk keperluan militernya. Dalam penggunaannya, terbukti bahwa terdapat beberapa efek negatif terhadap kehidupan dan perilaku mamalia di lautan. Terhadap ikan paus efek tersebut ternyata mengganggu jalur migrasi dan untuk jenis ikan paus biru dan ikan paus sirip adalah terhentinya proses komunikasi satu sama lain. Bahkan setelah melalui beberapa penelitian, maka pengunaan LFA tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Beberapa penyelam NAVY yang menerima transmisi dari sekitar 160 desibel akibat sistem tersebut terbukti terkena gangguan seperti vertigo, gangguan terhadap gerakan tubuh serta gangguan di daerah perut dan dada. Bukti-bukti lainnya dari pengaruh akibat sonar yang dihasilkan ini di sebutkan oleh Vonk and Martin (1989), Simmonds and Lopez-Jurado (1991), Frantzis (1998) dan Frantzis and Cebrian (1999) mereka menganggap bunyi keras yang ditimbulkan oleh aktifitas militer ini telah menyebabkan terdamparnya paus jenis beaked di Pulau Canary dan Laut Ionia. Selain itu paus jenis sperm mengalami perubahan kelakuan dalam vokalisasi dalam merespons sonar ini.

Pendamparan lainnya terjadi pada bulan maret 2000 di Bahama, 17 mamalia laut (termasuk 2 spesies paus jenis beaked dan minke). Pendamparan ini terjadi akibat latihan militer Amerika yang menggunakan sonar. Dampak Pencemaran Suara Terhadap Mamalia Laut Pencemaran suara di laut dapat berdampak terhadap beberapa hal. Dampak yang terjadi pun berbeda pada setiap hal itu. Salah satu yang terkena dampak oleh pencemaran suara di laut ini adalah mamalia laut. Mamalia laut tinggal di lingkungan dimana tidak terdapat cahaya yaitu di kedalaman yang jauh dari permukaan. Pada kedalaman lebih dari 200 meter cahaya tidak lagi menembus laut, dengan keadaan ini maka mamalia laut mengandalkan suara di bandingkan cahaya sebagai alat utama dalam berkomunikasi serta untuk lebih berhati-hati dari keadaan lingkungan sekitarnya. Mamalia laut memanfaatkan suara untuk beberapa tujuan, yaitu untuk navigasi, komunikasi, menarik perhatian mangsa dan vokalisasi mamalia laut. Bila terjadi pencemaran suara maka mamalia tersebut akan mengalami perubahan dalam hal perilaku. Terdapat beberapa klasifikasi efek fisik langsung yang dapat mempengaruhi mamalia laut, yaitu : 1. Tidak berhubungan langsung Merusak jaringan tubuh Kejang urat yang disebabkan tekanan udara yang tiba-tiba

2. Berhubungan langsung Merusak telingan Gangguan pendengaran sementara ataupun permanen

3. Kelakuan Perubahan perilaku

Modifikasi perilaku Bepindah tempat dari area (jangka panjang atau pendek) Berpotensi dipengaruhi oleh efek kimulatif yang negatif Peka terhadap suara

Hal diatas dapat terjadi karena Gangguan bunyi-bunyi dapat saja menghasilkan frekuensi atau intensitas yang dapat berbentrokan atau bahkan menghalangi suara/bunyi biologi yang penting, yang menjadikan tidak terdeteksi oleh mamalia laut. Dampak pencemaran suara ini pernah terjadi pada bulan Maret 2000 yaitu terdamparnya belasan mamalia laut di Kepulauan Bahama dan terdamparnya beberapa paus di Pulau Canary Spanyol dan di Laut Lonia dekat Bali.

Penanggulangan Gangguan Suara Di Laut Untuk mengurangi atau menanggulangi dampak dari polusi suara di laut diperlukan identifikasi daerah dimana terdapat mamalia laut yang rawan terhadap pencemaran suara serta mengusahakan agar di daerah tersebut kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran suaranya bisa dikurangi. Contohnya di perairan pantai Lovina, Kabupaten Buleleng Bali dan di perairan Teluk Kiluan, Lampung merupakan salah satu jalur migrasi lumba-lumba di Indonesia. Karena pada saat migrasi kelompok lumba-lumba melakukan atraksi melompat-lompat dan sangat menarik perhatian, pemerintah daerah setempat memusatkan kegiatan pariwisata di lokasi ini. Setelah ditetapkan sebagai daerah pariwisata, kapal-kapal berukuran besar tidak mungkin diizinkan lewat karena dapat membahayakan kehidupan lumba-lumba sebagai daya tarik wisata tersebut. Selain itu sonar yang digunakan dalam kegiatan militer pun dapat mengganggu kelompok mamalia laut. Cara untuk meminimalisir gangguan tersebut adalah dengan menembakkan suara didaerah yang bukan merupakan habitat paus

10

atau lumba-lumba. Atau dapat juga dengan menembakkan suara ketika kelompok mamalia tersebut melakukan migrasi sementara di bulan-bulan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA Supangat, Agus. Pencemaran Suara di Laut. Majalah Inovasi Online PPI Jepang Vol.6/XVIII/Mar 2006. Diakses dari http://io.ppijepang.org pada tanggal 1 Desember 2011. http://www.docstoc.com/docs/25954630/Kajian-Bioakustik-Terhadap-TingkahLaku-Lumba-Lumba-Hidung-Botol. diakses pada tanggal 1 Desember 2011. http://agungborn91.wordpress.com/2010/11/18/sonar-sebagai-teknologikomunikasi-di-dalam-laut/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Air. Diakses pada tanggal 30 November 2011. http://sudomo-gis.com/Tulisan/Hidrografi_SifatFisikAirLaut.pdf. tanggal 30 November 2011. http://www.scribd.com/doc/60779341/JENIS-JENIS-GELOMBANG. Diakses pada tanggal 30 November 2011. Diakses pada

11

http://www.scribd.com/doc/24839450/Pengertian-Gelombang. tanggal 30 November 2011.

Diakses

pada

http://www.fi.edu/fellows/fellow2/apr99/soundvib.html. Diakses pada tanggal 29 November 2011. WDCS Sciences Report, Ocean of Noise, Whale and Dolphin Conversation Society. Diakses dari http://www.wdcs.org pada tanggal 29 November 2011. Pringgodigdo, Abdul Gafar., dan Hasan Shadily. 1973. Ensiklopedi Umum. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.