Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR TEKNIK KIMIA MODUL 8A SPEKTROFOTOMETRI,HPLC,KARL FISCHER, DAN KROMATOGRAFI GAS

Nama NRP Nama Partner NRP Shift Tanggal Praktikum Tanggal Pengumpulan Nama Asisten

: Antonio Frian : 6210113 : Fauzan Prawira Haidi : 6210079 : Pagi(Jumat) : 21 April 2012 : 23 April 2012 : Maya

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

BAB I

TUJUAN

1. Mempelajari analisis instrumental menggunakan metode spektrofotometri 2. Mempelajari analisis instrumental menggunakan karl fischer 3. Mempelajari analisis instrumental menggunakan HPLC 4. Mempelajari analisis instrumental menggunakan kromatografi gas

BAB II HASIL PERCOBAAN

1. Penentuan maksimum maksimum = 470 nm 2. Kurva Standar Metode Grafis y = 556,94x a = 556,94 Metode Least Square y = 556,9384552 x a = 556,9384552 3. Penentuan Konsentrasi Sampel Ion Fe3+ 10-3M (ml) 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 %T 93.4 81.3 69.3 58.5 50.7 45.3 A 0.02965312 0.08990945 0.15926677 0.23284413 0.29499204 0.3439018 [Fe3+]Mgrafis 5.32429E-05 0.000161435 0.000285968 0.000418078 0.000529666 0.000617484 [Fe3+]MLSM 5.32431E-05 0.000161435 0.000285968 0.000418079 0.000529667 0.000617486

4. %Error Ion Fe3+ 10-3M (ml) 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 [Fe3+]Mteoritis 0.00015 0.00025 0.00035 0.00045 0.00055 0.00065 %Errorgrafis 64.5047057 35.426111 18.2949867 7.09386851 3.69713706 5.00238999 %ErrorLSM 64.50460729 35.42593185 18.29476007 7.093610815 3.696869943 5.002126488

5. Karl Fischer
Sampel Etanol Massa sampel 0.0599gram % air 18.1% %teoritis 20% %Error 10.49%

BAB III PEMBAHASAN

Metode Spektrofotometri Spektrofotometri adalah suatu metode analisis instrumental yaang dilakukan menggunakan alat spektrofotometer. Dalam metode ini, sinar monokromatik dilewatkan pada suatu larutan yang homogen dan berwarna yang diisi ke dalam kuvet. Intensitas sinar monokromatik berkurang karena ketika melewati larutan berwarna, intensitas sinar sebagian akan diserap, sebagian kecil dipantulkan dan sisanya diteruskan Sebelum melakukan pengukuran dengan spektrofotometer dilakukan kalibrasi dengan menggunakan kuvet yang telah diisi dengan larutan blanko. Larutan blanko adalah larutan yang tidak berwarna ( bening ) dan digunakan sebagai acuan/standar (100%T) dalam pengkalibrasian alat spektrofotometri. Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan larutan blanko. Larutan blanko adalah larutan yang tidak mengandung analit. Larutan blanko biasanya digunakan untuk kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. Larutan blanko dibagi menjadi 3, yaitu : Blanko kalibasi, yaitu larutan untuk membuat titik 0 konsentrasi dari grafik kalibrasi, hanya berisi pengencer untuk larutan standar Reagen blanko, yaitu larutan berisireagen untuk melarutkan sampel, pembacaan absorbansi untuk larutan biasanya dikurangi dari pembacaan sampe Metoda blanko, yaitu larutan yang diperlukan sama dengan sampel ditambah dengan reagen yang sama, mengalami kontak dengan alat yang sama, dan diperlakukan dengan prosedur yang sama . Saat melakukan kalibrasi alat spektrofotometer, larutan blanko diatur pada 100%T yang dimaksudkan bahwa keseluruhan sinar yang melewati larutan blanko diasumsikan seluruhnya diteruskan. Angka 100%T atau Absorbansi 0 menunjukkan bahwa tidak ada sinar yang diabsorb larutan blanko. Pada saat akan digunakan, kuvet harus dipastikan dalam keadaan bersih (tidak basah ataupun tidak ada sidik jari). Kuvet dibersihkan dengan tisu agar kotoran yang menempel hilang. Kotoran pada bagian luar kuvet akan mempengaruhi hasil yang ditunjukkan spektrofotometer. Dalam spektrofotometer digunakan pelarut yang dapat tembus cahaya di daerah cahaya tampak. Selain itu, pelarut tidak hanya harus melarutkan tetapi juga tidak menyerap sinar terlalu banyak. Dalam hal ini pelarut yang sesuai adalah aquadest. Dalam percobaan spektrofotometer harus dilakukan pada maksimum yaitu yang memberikan nilai absorbansi maksimum sedangkan harga %T transmitan minimum. Pengukuran dengan spektrofotometer dilakukan pada panjang gelombang maksimum karena pada ini perubahan absorbansi mencapai nilai maksimum, kepekaan chaya (sensitivitas) tinggi sehingga kesalahan pengukuran dapat diperkecil. Penentuan maksimum dilakukan dengan membuat grafik absorbansi ( dimana absorbansi sebagai sumbu y dan sebagai sumbu x)

Pada percobaan ini diperoleh maksimum sebesar 470nm. Dalam spektrofotometer ini, hukum lambert beer digunakan sebagai persamaan dasar: -logT=-log =A=a.c.t Dimana: T= fraksi intensitas sinar yang diteruskan oleh media setebal t dengan konsentrasi C It= intensitas sinar keluar Io= Intensitas sinar datang A= Absorban a= absorbtivitas spesifik c= Konsentrasi t= tebal media Kalibrasi dilakukan pada spektrofotometer bertujuan untuk menyesuaikan keadaan alat dengan keadaan lingkungan pada saat itu. Selain itu, sebelum digunakan, spektrofotometer harus dipanaskan terlebih dahulu (5-15 menit) yang bertujuan untuk menstabilkan kerja sinar monokromatis sehingga setelah digunakan dapat mencapai ketelitian maksimal. Besarnya energ yang diterima oleh media yang dilewati sinar dapat dihitung oleh persamaan: E=h.f=h. Dimana: E= energi radiasi yang diterima oleh media h= tetapan planck = 6x10-27 Erg/s f= frekuensi (Hz) c= kecepatan cahaya = 3x1010cm/s = panjang gelombang sinar yang mengenai media Larutan dengan warna tertentu hanya dapat menyerap radiasi pada tingkat energi tertentu pula. Hal ini menyebabkan panjang gelombang yang mengenai larutan tersebut diharapkan memberi penyerapan energi maksimum. Dalam percobaan ini, dibuat larutan standar dengan mereaksikan Fe3+ dengan KSCN, HNO3 dan aquadest. Reaksi yang timbul dari pencampuran tersebut adalah terbentuk senyawa kompleks [Fe(CNS)6]3- yang berwarna kuning kejinggaan. Pada campuran diatas HNO3 berfungsi untuk mencegah terjadinya hidrolisis. Penentuan kurva standar dan konsentrasi sampel dilakukan dengan 2 cara, yaitu metode kuadrat terkecil dan grafis. Untuk metode grafis didapatkan persamaan

y = 556,94x dan untuk metode least square didapatkan y = 556,9384552 x . Spektrofotometer dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi zat. Oleh karena itulah, spektrofotometer dapat digunakan untuk mencari konsentrasi sampel Fe3+. Cara kerja Spektrofotometer adalah: 1. Alat disambungkan ke listrik, dinyalakan tombol pengatur o pada posisis ON dan biarkan memanas selama 5 menit. 2. Atur panjang gelombang ke skala/besar yang diinginkan. 3. Dengan posisi tempat sampel tertutup dan kosong, atur skala dengan pengatur o pada maksimum dan transmitan 0% 4. Tandai bagian tepi tube yang berisi larutan blanko dengan pensil ( lakukan hal yang sama pada semua tube) 5. Masukkan larutan blanko ke dalam tempat sampel. Atur tombol pengatur hingga terbaca 100% Transmitan, 0 absorban pada meteran. 6. Pindahkan larutan blanko dari tempat sampel, ganti dengan larutan yang diukur( dianalisa) 7. Tutup kover dan baca absorban

Gambar alat beserta keterangannya:

Bagian bagian pada gambar: 1. Layar: untuk menampilkan hasil analisa dari spektrofomoteri 2. Sumber cahaya: Tempat munculnya cahaya untuk menganalisa sampel 3. Kuvet: media untuk menaruh sample yang nantinya akan di masukkan ke dalam spektrofotometer 4. Tempat kuvet dimasukkan: di tempat ini dimasukkan kuvet untuk dianalisa. Spektrofotometri memiliki beberapa keuntungan, yaitu: Dapat digunakan secara luas Memiliki nilai kepekaan yang tinggi Keselektifannya cukup baik Tingkat ketelitiannya cukup tinggi.

Spektrofotometri terdiri dari beberapa jenis berdasar sumber cahaya yang digunakan. Diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Spektrofotometri Vis (Visible) 2. Spektrofotometri UV (Ultra Violet) 3. Spektrofotometri UV-Vis 4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

1. Spektrofotometri Visible (Spektro Vis)

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, itu bisa putih, merah, biru, hijau, selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible). Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 C) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu. Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible.

Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil. Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar protein terlarut (soluble protein). Protein terlarut dalam larutan tidak memiliki warna. Oleh karena itu, larutan ini harus dibuat berwarna agar dapat dianalisa. Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin. Saat protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana sedikit basa, ikatan peptide pada protein akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi pada panjang gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi intensitas warna biru menandakan banyaknya senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti semakin besar konsentrasi protein terlarut dalam sample.

2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel. Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi.

Sebagai contoh pada analisa protein terlarut (soluble protein). Jika menggunakan spektrofotometri visible, sample terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka bila menggunakan spektrofotometri UV, sample dapat langsung dianalisa. Ikatan peptide pada protein terlarut akan menyerap sinar UV pada panjang gelombang sekitar 280 nm. Sehingga semakin banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin besar. Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain analat yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa.

3. Spektrofotometri UV-Vis Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.

4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m. Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.

Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan dibandingkan dengan signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk metode ini harus dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan dari gugus fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva yang diperoleh. Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut Near Infrared Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan pada industri pakan dan pangan guna analisa bahan baku yang bersifat rutin dan cepat. Gas Chromatography Kromatografi gas adalah salah satu cara pemisahan komponen yang mudah menguap dari suatu campuran. Tujuan dari kromatografi gas adalah untuk memisahkan komponenkomponen dalam suatu bahan kimia, sekaligus mendeteksi komponen apa saja yang terkandung. Pada pemisahan dengan komponen ini, komponen dipisahkan menjadi 2 fasa: fasa gerak(gas) dan fasa diam(padat atau cair). Dasar dari pemisahannya adalah interaksi komponen dengan fasa diam juga dipengaruhi titik didih dan polaritas komponen, Kolom pada kromatografi ada 2 yaitu kolom polar dan kolom non polar. Jika digunakan kolom polar dan diinjeksikan campuran ( berupa komponen polar dan nonpolar maka komponen yang akan keluar lebih dahulu adalah komponen non polar ) Cara kerja Kromatografi gas: 1. Cuci alat penyuntik dengan aseton dengan cara mengisi alat suntik dengan penuh dan menyuntikkan aseton bekas ke tisu, ulangi 2-3 kali 2. Masukkan sampel ke dalam alat suntik. Akan ada gelembung yang timbul pada alat suntik dengan menggerakan penyuntik naik atau turun ketika jarum ada di sampel. 3. Pastikan pencatat dalam posisi menyala. Atur garis awal menggunakan o pada pencatat. 4. Suntikkan sampel ke kolom A atau kolom B. Pegang alat suntik dan dorong jarum ke penyuntik. 5. Tandai waktu penyuntikkan pada pencatat dengan mengatur o setelah sampel

disuntikkan. 6. Bersihkan jarum setelah penyuntikan 7. Catat pengaturan dari pencatat selama percobaan 8. Catat pengaturan dari gas kromatografi selama percobaan. Tombol di bagian bawah tengah dari GC dapat diatur agaar dapat membaca suhu kolom, suhu detektor, dan suhu tempat penyuntikkan

Dalam kromatografi gas, fase bergerak (atau fase gerak) adalah pembawa gas, biasanya sebuah inert gas seperti helium atau tidak reaktif gas seperti nitrogen . Fase diam adalah lapisan mikroskopik dari cairan atau polimer pada inert solid mendukung, dalam sepotong kaca atau logam tubing disebut kolom (penghormatan kepada kolom fraksionasi digunakan dalam penyulingan). Alat yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut kromatografi gas (atau aerograph, gas pemisah). Bagian bagian dari GC: a. Gas pembawa: gas pembawa berupa nitrogen sebelum digunakan harus disaring dahulu b. Gas pembakar: merupakan campuran dari udara dan oksigen c. Injektor: tempat masuknya sampel yang disuntikkan ke dalam kolom GC d. Pemanas kolom

e. f. g. h.

Kolom: tempat terjadinya proses kromatografi gas Detektor: digunakan untuk mendeteksi komponen sampel Sistem pengolahan data Pencatat: untuk memperoleh rekaman hasil GC berupa waktu retensi

Faktor- faktor yang mempengaruhi pemisahan GC: 1. Polaritas dari komponen-komponen polar yang akan bergerak lebih lambat, terutama bila kolom yang dilaluinya polar 2. Temperatur kolom: menaikkan suhu kolom akan menambah kecepatan semua komponen dalam campuran 3. Laju alir gas melalui kolom: menambah kecepatan aliran gas pembawa akan menambahkan kecepatan semua komponen yang bergerak melalui kolom 4. Panjang kolom: Semakin panjang kolom, maka akan semakin banyak waktu untuk pemisahan 5. Kemudahan komponen untuk menguap: zat yang mudah menguap akan bergerak lebih cepat dibanding dengan komponen yang mendidih lebih tinggi 6. Polaritas kolom: semua komponen akan bergerak lebih lambat pada kolom polar, tetapi komponen polar akan menunjukan efek lebih besar.

Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi Gas Kromatografi Gas memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan metode kromatografi lainnya, kelebihannya antara lain: 1) Analisis dapat dilakukan dengan cepat 2) Sensivitasnya tinggi 3) Mampu mengidentifikasi konstituen renik 4) Batas deteksi sampai dengan 10-9 g/L 5) Dapat dilengkapi sistem komputer untuk mengontrol bagian- bagian kromatogram dan menyimpan data hasil percobaan dalam memorinya. Sedangkan kekurangan kromatografi Gas di antaranya adalah: 1) Teknik kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap 2) Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam umlah besar. Pemisahan pada tinkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain. 3) Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fasa diam dan zat terlarut. Aplikasi Kromatografi Gas dalam kehidupan 1. Metode ini digunakan untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester selain itu juga untuk analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah. 2. Gas Liquid Chromatography (GLC) sangat berperan penting dalam upaya memonitor

dan mengendalikan distribusi pencemaran dalam lingkungan, misalnya dalam Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) USA menjalankan suatu program yang efektif untuk memonitor kadar pestisida dalam tanah diberbagai tempat di negeri itu dengan cara kromatografi gas. 3. GLC juga dapat digunakan untuk identifikasi dan pengelompokan pemonitoran gas- gas pernafasan selama anestesi, penelusuran senyawa organik dan organisme hidup pada planet lain. High Performance Liquid Chromatograph Kromatografi cair berperforma tinggi (high performance liquid chromatography, HPLC) merupakan salah satu teknik kromatografi untuk zat cair yang biasanya disertai dengan tekanan tinggi. Seperti teknik kromatografi pada umumnya, HPLC berupaya untuk memisahkan molekul berdasarkan perbedaan afinitasnya terhadap zat padat tertentu. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fase cair dan zat padatnya merupakan fase diam (stasioner). Teknik ini sangat berguna untuk memisahkan beberapa senyawa sekaligus karena setiap senyawa mempunyai afinitas selektif antara fase diam tertentu dan fase gerak tertentu. Dengan bantuan detektor serta integrator kita akan mendapatkan kromatogram. Kromatorgram memuat waktu tambat serta tinggi puncak suatu senyawa. HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi, didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebihcepat. HPLC memperbolehkan penggunaan partikel yang berukuran sangat kecil untuk material terpadatkan dalam kolom yang mana akan memberi luas permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase diam dan molekul-molekul yang melintasinya. Hal ini memungkinkan pemisahan yang lebih baik dari komponen-komponen dalam campuran. Perkembangan yang lebih luas melalui kromatografi kolom mempertimbangkan metode pendeteksian yang dapat digunakan. Metode-metode ini sangat otomatis dan sangat peka. Prinsip kerja HPLC mirip dengan Column Chromatography, hanya saja ada beberapa penambahan untuk HPLC ang menyebabkanHPLC memiliki peforma yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem Column Chromatography Campuran atau larutan yang hendak dipisahkan terdiri dari dua fase yaitu fase bergerak (mobile phase) dan fase diam (stationary phase). Dalam hal ini fase bergerak adalah larutan atau campuranyang hendak dipartsi dan fase diam adalah material yang tersimpan dalam kolom HPLC (contoh :partikel silica). Larutan yang hendak dikromatogafi atau mobile phase akan bergerak melalui kolomdan molekul-molekul dari larutan tersebut akan terpisah secara perlahan-lahan. Molekul-molekulyang tingkat interaksinya lebih tinggi dengan fase diam akan tertinggal di belakang dan kemudianterpisah dari molekul-molekul lainnya. Hasilnya, larutan yang dimasukkan di awal proseskromatografi akan tampak seperti pita-pita terpisah. Di akhir kolom HPLC

terdapat detector yangakan mengidentifikasi molekul-molekul yang keluar dari kolom dan telah berinteraksi dengan stationary phase. Syarat dari penggunaan HPLC untuk sampelnya adalah: Sampel yang diguanakan tidak mudah menguap Tidak boleh ada bakteri Tidak boleh ada gelembung udara Jika sampel berupa padatan harus dilarutkan lebih dahulu Pada HPLC terdapat sebuah flter untuk menyaring jika sampel terkontaminasi bakteri/gelembung udara. Filter yang digunakan adalah filter membrane dengan ukuran 0,2-0,4m HPLC bekerja berdasarkan kepolaritasan, semakin panjang kolom HPLC, semakin baik hasil yang diperoleh. Apabila larutan yang digunakan terlalu pekat, maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Pada HPLC terdapat detector, prinsip kerjanya adalah berdasarkan indeks biasnya.Fungsinya adalah untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Senyawa yang digunakan pada HPLC biasanya berupa cairan yang tidak mudah menguap. Beda senyawa menyebabkan waktu retensinya berbeda-beda pula. Waktu retensi adalah waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi . Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ke tinggian puncak gelombang yang maksimum dari senyawa itu . Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berb eda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada: Tekanan y ang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut Kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel) Komposisi yang tepat dari pelarut Temperatur pada kolom Itulah sebabnya kontrol harus dilakukan dengan baik jika menggunakan waktu retensi sebagai acuan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa. HPLC memiliki 2 fasa yang berbeda, yaitu fasa gerak dan fasa diam, berdasarkan perbedaan fasa tersebut, HPLC dibagi menjadi 2, yaitu: Fasa normal HPLC, pada fasa ini, fasa gerak dari larutan bersifat polar dan fasa diamnya merupakan senyawa non polar Fasa balik HPLC, pada fasa ini, fasa geraknya berupa senyawa non polar, sedangkan fasa diamnya merupakan fasa yang senyawanya bersifat polar Cara kerja HPLC : 1. Sampel yang akan dianalisis ditempatkan 2. Fasa gerak disedot oleh pompa, memasuki degaser untuk menghilangkan gas yang ada di dalam fasa gerak 3. Dimasukkan dalam oven untuk dihilangkan sampel yang mengandung uap dan dipompa. Dan menghilangkan gelembung udara

4. Larutan sampel dianalisis jika mengandung bakteri maka di filtrasi dengan filter membrane ukuran 0,2-0,4 m 5. Sampel masuk ke dalam kolom dimana panjang kolom sesuai dengan senyawa yang akan dianalisis. 6. Hasil dari kolom akan masuk ke detector, dimana akan diditeksi berdasarkan indeks bias 7. Detektor dihubungkan dengan computer pada layar, pada monitor akan ditampilkan kromatogram berupa grafik, dan dapat diketahui waktu retensi masing-masing sampel yang digunakan. Faktor yang mempengaruhi kerja HPLC 1. Kecepatan alir fase gerak , kecepatan alir yang sangat lambat akanmenyebabkan terjadinya difusi longitudinal, sedangkan bila terlalu cepat akanmenyebabkan terjadinya transfer masa non ekuilibrium, sehingga terjadipelebaran pita kromatogram 2. Ukuran partikel fase diam, semakin kecil ukuran partikel maka efisiensi semakinbaik Tetapi menyebabkan tekanan dalam kolom semakin besra sehinggadibutuhkan kekuatan pompa yang semakin besar. 3. Panjang kolom, semakin panjang akan semakin besar harga efisiensi kolom,tetapi dapat menyebabkan terjadinya pelebaran pita. 4. Viskositas fase gerak , semakin kecil harga viskositas fase gerak maka efisiensikolom semakin besar. 5. Temperatur, semakin tinggi temperatur maka viskositas semakin rendah danefisiensi kolom menjadi lebih besar. 6. Volume ekstra kolom, semakin besar volume ekstra kolom maka kemungkinanterjadinya pelebaran pita semakin besar, sehingga efisiensi semakin berkurang. 7. Jumlah sampel dan volume sampel, bila jumlah maupun volume sampel sangatbesar (overload) maka kemungkinan terjadinya pelebaran pita semakin besar,sehingga efisiensi semakin berkurang

HPLC memiliki beberapa keunggulan, yaitu 1. Dapat mendeteksi sampel dalam jumlah kecil 2. Dapat mengetahui waktu retensi, konsentrasi tiap komponen 3. Dapat mengetahui luas area dari masing-masing komponen. Sedangkan kerugian dari penggunaan HPLC yaitu : 1. 2. 3. 4. Larutan harus dicari fase diamnya terlebih dulu Hanya bisa digunakan untuk asam organik Harus mengetahui kombinasi yang optimum antara pelarut, analit, dan gradien elusi Harganya mahal sehingga penggunaannya dalam lingkup penelitian yang terbatas

Jenis-jenis HPLC: Partition chromatography Kromatografi partisi adalah kromatografi pertama yang dikembangkan. Kromatografi partisi mengggunakan solvent, pada permukaan dari kertas.Molekul partisi antara fasa stasioner cair dan eluent dikenal sebagai kromatografi interaksi hidrofilik, metode ini memisahkan berdasarkan kepolaran. Analit polar difusi ke dalam fasa diam dan asosiasi dengan fasa stasioner dan dipertahankan. Kekuatan retensi meningkat seiring dengan meningkatnya polaritas analit, dan interaksi antara analit polar dan fasa stasioner polar

meningkatkan waktu elusi. Kekuatan interaksi bergantung pada gugus fungsi dalam analit molekul yang meningkatkan partitsi tetapi juga dapat meliputi interaksi elektrostatik dan donor kapabilitas hidrogen. Semakin polar solvent dalam fasa gerak maka akan mengurangi waktu retensi pada analit, dimana pelarut yang hidrofobik umumnya meningkatkan waktu retensi. Normal-phase chromatography

Normal phase HPLC (NP HPLC) merupakan metode yaang mengeksplorasi perbedaan kepolaran antara analit dalam campuran dengan fase diam. semakin kuat interaksi fase diam dengan analit, semakin lama retensi analit. Seperti halnya teknik kromatografi cair, pemisahan NP HPLC adalah proses kompetisi. Molekul analit bersaing melakukan adsorpsi dengan molekul fase gerak pada permukaan fase diam. Semakin kuat fase gerak berinteraksi dengan fase diam, maka semakin rendah interaksi antara fase diam dengan analit, dan dengan demikian semakin rendah retensi analit. Fase gerak NP HPLC didasarkan pada pelarut nonpolar (seperti heksana, heptana, dll) dengan sedikit penambahan senyawa polar. Senyawa polar yang biasa digunakan adalah alkohol (metanol, etanol, atau isopropanol). Variasi konsentrasi senyawa polar pada fase gerak dimaksudkan untuk mengontrol retensi analit dalam kolom. Karena kepolarannya yang dominan, penambahan senyawa polar ke dalam fase gerak relatif sedikit, meskipun hanya 1 %v/v variasi senyawa polar pada fase gerak biasanya menghasilkan perubahan retensi analit yang signifikan. Bahan yang digunakan pada fase diam dalam normal phase HPLC biasanya berpori oksida seperti silika (SiO2) atau alumina (Al2O3). Permukaan fase diam ditutupi dengan gugus OH, yang membuat permukaan menjadi sangat polar. Retensi analit pada permukaan semacam ini sangat sensitif terhadap variasi komposisi fase gerak. Modifikasi kimiawi fase diam juga dapat digunakan dalam HPLC fase normal. Trimethoxy glycidoxypropyl silanes (nama umum: diol-fase) adalah bahan dengan polaritas permukaan lebih rendah yang digunakan untuk memodifikasi silika. Kepadatan permukaan Kelompok OH pada fase diol adalah pada tingkat 3-4mol/m2, sedangkan pada silika silanols kepadatan permukaannya adalah pada tingkat 8mol/m2. Dengan menggunakan fase diam jenis diol dan pengubah polaritas eluen [ester (etil asetat) bukan dari alkohol] memungkinkan untuk meningkatkan pemisahan analit dan meningkatkan reproduktifitas dibandingkan dengan menggunakan silika. Pemilihan normal phase HPLC berhubungan dengan kelarutan sampel dalam fase gerak. Dengan pelarut utama nonpolar, biasanya normal phase HPLC dipilih sebagai metode untuk pemisahan senyawa yang sangat hidrofobik, yang tidak larut dengan senyawa polar

atau air (yang menunjukan interaksi yang sangat kuat dengan Reverse Phase HPLC). Displacement chromatography Prinsip dasar dari kromatografi ini adalah molekul yang memiliki afinitas tinggi terhadap matriks kromatografi akan mengikat secara efektif dan mengganti ion molekul dengan afinitas yang lebih rendah. Kecepatan dari komponen melewati kolom bergantung pada berbagai faktor. Tetapi untuk 2 substansi yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda akan menunjukkan perbedaan substansial dalam interaksi antara biomolekul dengan matriks kromatografi. Reversed-phase chromatography (RPC) Reversed phase HPLC (RP-HPLC) memiliki fasa diam yang nonpolar dan aqueous/ Salah satu dari fasat diam adalah silika.Dengan fasa diam seperti ini, waktu retensi menjadi lebih lama untuk molekul yang kurang polar, sedangkan molekul elute polar lebih cepat. Reversed phase HPLC bekerja berdasarkan prinsip interaksi hidrofobik, yang datang dari simetri yang tinggi dalam struktur air dipolar dan memerankan semua proses dalam sains kehidupan. RP-HPLC memperbolehkan pengukuran dari gaya interaksi dari moplekul. Susunan struktur dari analit mempengaruhi waktu retensi. Analit dengan permukaan yang hidrofobik tertahan lebih lama karena tidak berinteraksi dengan struktur air. Waktu retensi meningkat dengan permukaan yang hidrofobik. Faktor penting yang mempengaruhi fasa gerak adalah pH karena dapat mengubah sifat hidrofobik dari analit.

Size-exclusion chromatography Size-exclusion chromatography (SEC), memisahkan partikel berdasarkan ukuran. Umumnya kromatografi dengan resolusi rendah. Kromatografi ini juga penting untuk menentukan struktur tersier dan quartener dari protein. Kromatografi ini sering digunakan untuk menganalisis protein dan polimer. Kromatografi ini bekerja dengan menahan partikel kecil yang lewat, partikel yang besar tidak dapat masuk ke dalam pori sehingga mengalir dengan lebih cepat. Maka molekul besar melewati kolom dengan lebih cepat, sebaliknya semakin kecil molekul maka waktu retensi semakin lama. Ion-exchange chromatography Dalam ion-exchange chromatography (IC), retensi didasarkan pada atraksi antara ion solute dan tempat bermuatan terhadap fasa diam. Ion memliki muatan yang sama tidak termasuk. Tipe dari Ion exchanger meliputi:

Resin polystyrene, hal ini memperbolehkan pertukaran ion yang meningkatkan

stabilitas dari rantai. Semakin tinggi kemungkinan pertukaran rantai, waktu kesetimbangan poun meningkat dan meningkatkan selektivitas. Selulosa dan dextran ion exchanger- Keduanya memiliki pori yang besar dan muatan yang rendah sehingga cocok untuk pemisahan protein. Silika berpori

Pada umumnya, penukar ion lebih memilih ion yang tinggi dan memiliki radius yang kecil. Bioaffinity chromatography Proses Kromatografi ini bergantung pada sifat biologis substansi yang aktif untuk membentuk kestabilan, spesifik dan kompleks bolak balik. Susunan dari kompleks ini meliputi partisipasi dari molekul umum seperti interaksi Van der Waals, interaksi elektrostatik, dan ikatan hidrogen serta interaksi hidrofobik. Aqueous normal-phase chromatography Aqueous normal-phase chromatography (ANP) adalah sebuat teknik kromatografi yang meliputi fasa gerak dan kromatografi fasa terbalik dan fasa normal organik kromatografi. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan selektivitas unik untuk komponen yang hidrofilik.

Perbedaan antara HPLC dan GC HPLC Fisa diam berupa adsorben yang tidak boleh larut dalam fasa gerak. Ukuran yang lebih kecil (5 s/d 10 mm) dan tekanan sampai 6000 psi. Ukuran yang kecil dari fasa diam menyebakan fasa diam mempunyai luas permukaan yang besar, keseimbangan antar fasa menjadi lebih baik dan efisien pemisahan dipertinggi. Fasa gerak merupakan suatu cairan. GC Fasa diam berupa suatu cairan bertitik didih tinggi dan proses serapannya lebih banyak berupa partisi yang berupa padatan dan adsopsi memainkan peranan utama.

Fasa diam

Fasa gerak

Kolom

fase gerak adalah gas seperti helium, hidrogen, atau nitrogen. Ada 2 tipe: Ada dua tipe utama kolom Kolom analitik dengan dalam kromatografi gas-cair. performance tinggi, diameter Tipe pertama, tube panjang dan dalam 1-6 mm tipis berisi material padatan;

- Kolom preparative, diameter lebih besar Tabung kolom dibuat dari kaca dan baja tahan karat. Panjang kolom 0,3-6 meter atau lebih, rata-rata 0,9 m. Kolom yang lebih panjang akan menghasilkan resolusi bertambah baik, tetapi perlu tekanan tinggi. Tabung kolom dapat dikelilingi selubung air (water jacket) untuk pengaturan suhu. Jenis isi kolom (kemasan kolom) tergantung cara kromatografi yang dipakai (adsorpsi, partisi, atau penukaran ion).

Tipe kedua, lebih tipis dan memiliki fase diam yang berikatan dengan pada bagian terdalam permukaannya. Kolom biasanya dibuat dari baja tak berkarat dengan panjang antara 1 sampai 4 meter, dengan diameter internal sampai 4 mm. Kolom digulung sehingga dapat disesuakan dengan oven yang terkontrol secara termostatis. Kolom dipadatkan dengan tanah diatomae, yang merupakan batu yang sangat berpori. Tanah ini dilapisis dengan cairan bertitik didih tinggi, biasanya polimer lilin. Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor ionisasi nyala merupakan detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada detektor alternatif lainnya. Dalam mekanisme reaksi detektor ionisasi nyala, pembakaran senyawa organik merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektronelektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan kondensasi dalam detektor.

Detektor

Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultraviolet.

Detektor yang paling banyak digunakan adalah detektor fotometer sinar tampak atau sinar ultraviolet, dan detektor indeks bias. Fungsi detektor untuk mendeteksi adanya komponen cuplikan, dan mengukur banyaknya komponen. Syaratsyarat yang baik detektor adalah mempunyai kepekaan tinggi, gangguan noise sedikit, daerah respon linear cukup luas, memberikan respon terhadap semua tipe senyawa, dan tidak peka terhadap perubahan kecepatan aliran dan perubahan suhu.

Jumlah sample

Sampel cuplikan harus dimasukkan ke dalam kolom sebagai lapisan setipis mungkin. Ukuran sampel sekitar 1-20 L. Dua cara untuk melakukan injeksi: cara injeksi dan katup pemasukan cuplikan mikro (microsampling valve)

Sample harus mudah menguap dan memiliki kstabilan termal pada suhu pengoperasian. Sampel dimasukkan ke dalam aliran gas melalui lubang injeksi yang terletak pada bagian atas kolom. Suatu aliran gas yang sinambung mengelusi komponen-komponen dari kolom dan kemudian mencapai detektor yang dihububngkan dengan suatu sistem pencatat. Berikut diagramnya

Prinsip pemisahan / Prinsip kerja

Mula-mula solven diambil melalui pompa Solven ini kemudian masuk ke dalam katup injeksi berputar, yang dipasang tepat pada sample loop. Dengan pertolongan mikrosiring, sample dimasukkan ke dalam sample loop yang kemudian bersamasama dengan solven masuk ke dalam kolom. Hasil pemisahan dideteksi oleh detektor yang ditampilkan oleh perekam/recorder. Tekanan solven diatur dengan pengatur dan pengukur tekanan. Pompa memasok solven pada tekanan

Ada tiga hal yang dapat berlangsung pada molekul tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom: Molekul dapat berkondensasi pada fase diam. Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase diam Molekul dapat tetap pada fase gas Dari ketiga kemungkinan itu, tak satupun yang bersifat permanen. Hasil akan direkam sebagai urutan puncak-puncak; setiap

konstan hingga tekanan 4500 psi dengan laju alir rendah, yakni beberapa milliliter per menit. Output akan direkam sebagai rangkaian puncak-puncak, dimana masing-masing puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor dan menerap sinar UV. Sepanjang anda mengontrol kondisi kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang diperoleh, tentunya, anda (atau orang lain) sudah mengukur senyawa-senyawa murninya dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama. Jika anda menginjeksi suatu larutan yang mengandung senyawa murni X yang telah diketahui jumlahnya pada instrumen, anda tidak hanya dapat merekam waktu retensi dari senyawa tersebut, tetapi anda juga dapat menghubungkan jumlah dari senyawa X dengan puncak dari senyawa yang dihasilkan.

puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama.

Area dibawah puncak sebanding dengan jumlah setiap senyawa yang telah melewati detektor, dan area ini dapat dihitung secara otomatis melalui komputer yang dihubungkan dengan monitor. Area yang akan diukur tampak sebagai bagian yang berwarna hijau dalam gambar yang disederhanakan. Perlu dicatat bahwa tinggi puncak tidak merupakan masalah, tetapi total area dibawah puncak. Dalam beberapa contoh tertentu, bagian kiri gambar adalah puncak tertinggi dan memiliki area yang paling luas. Hal ini tidak selalu merupakan hal seharusnya. Mungkin saja sejumlah besar satu senyawa dapat tampak, tetapi dapat terbukti dari kolom dalam jumlah relatif sedikit melalui jumlah yang lama.

Area yang berada dibawah puncak sebanding dengan jumlah X yang melalui detektor, dan area ini dapat dihitung secara otomatis melalui layar komputer. Area dihitung sebagai bagian yang berwarna hijau dalam gambar (sangat sederhana). Jika larutan X kurang pekat,

area dibawah puncak akan Pengukuran area selain tinggi berkurang meskipun waktu puncak dapat dipergunakan retensi akan sama. Misalnya, dalam hal ini.

Ini berarti dimungkinkan mengkalibrasi instrumen sehingga dapat digunakan untuk mengetahu berapa jumlah substansi yang dihasilkan meskipun dalam jumlah kecil. Meskipun demikian, harus berhati-hati. Jika anda mempunyai dua substansi yang berbeda dalam sebuah campuran (X dan Y), dapatkah anda mengatakan jumlah relatifnya? Anda tidak dapat mengatakannya jika anda menggunakan serapan UV sebagai metode pendeteksinya.

Metode Karl Fischer Titrasi karl fischer adalah metode titrasi klasik dalam kimia analisis dengan menggunakan coulometri dan volumetri untuk menentukan kadar air dalam suatu sampel menggunakan reagen karl fischer. Penggabungan dari 2 metode ini disebut bipotentiometri. Prinsip kerja dari alat ini adalah didasarkan pada reaksi antara Iodium dan SO2 dalam suatu medium yang mengandung air.Tujuan dari metode ini adalah untuk menentukan kadar air di suatu sistem yang berisi kelebihan SO2. Pada karl fischer terdapat tabung diatas masing-masing molecular shift dan silica gel, silica gel berfungsi untuk menyerap air. Seiring dengan penyerapan air semakin lama maka silika gel ini berubah warna menjadi merah dan harus diganti. Cara mengubah kembali menjadi warna biru harus dipanaskan sehingga air yang terserap menguap. Pelarut yang digunakan umumnya adalah metanol dan reagennya adalah I2. I2 akan bereaksi degan air membentuk HI, maka dari itu perlu dilakukan standardisasi dengan menggunakan natrium tartarat hidrat. Reagen karl fischer dapat digunakan untuk titrasi. Umumnya, 1 mL reagen ini bernilai sama dengan 5mL air, namun kemampuan reagen ini dapat menurun seiring waktu, sehingga tingkat ketelitiannya semakin berkurang. Contohnya saja dalam percobaan kali ini yang menghasilkan %error sangat besar, hal ini dikarenakan (menurut penjelasan asisten) reagen karl fischer yang dipakai sudah sangat menurun kemampuannya, 1mL reagen hanya bernilai sekitar 1,5 mL air. Kelebihan penggunaan metode karl fischer antara lain adalah:

Hanya membutuhkan jumlah sampel yang sedikit Memiliki keakuratan dan tingkat ketelitian yang tinggi Selektivitas terhadap air Persiapan sampel mudah Membutuhkan waktu cukup singkat untuk menganalisis Cocok untuk menganalisis padatan, cairan, dan gas Bebas dari senyawa yang mudah menguap Reagen pengukur hampir tidak terbatas Sedangkan kelemahan dari alat ini adalah: Hanya dapat digunakan untuk mengukur kadar air Harganya mahal Cara mengoperasikannya cukup rumit Cara kerja karl fischer adalah : 1. Tekan F3 (pump) jika di dalam tabung terdapat pelarut yang sudah jenuh, hal ini dilakukam untuk mengeluarkan pelarut tersebut. 2. Tekan tombol biru dan F3 untuk mengisi buret. Buret diisi minimal 40 mL agar elektroda terendam dan magnet stirrer tidak terpental. 3. Alat harus distandardisasi dengan menggunakan natrium tartarat hidrat. (tekan F2 untuk memulai standardisasi) 4. Sampel dimasukkan ke dalam tempat sampel, jika sampel berupa larutan, dimasukkan dengan alat berupa suntikan dan jika berupa padatan dapat langsung dimasukkan ke dalam tabung 5. Sebelum sampel diinjeksikan, alat berupa suntikan di timbang dan di Tare terlebih dahulu, kemudian larutan sampel diambil dan ditimbang sesuai rentang angka yang dihasilkan pada layar,ditimbang, dam ditare kembali, kemudian sampel diinjeksikan ke dalam tabung, setelah itu, suntikan ditimbang kembali dan hasil penimbangan merupakan massa sampel, massa sampel diinput ke dalam karl fischer dan dilakukan titrasi. 6. Ditunggu beberapa saat sampai pada monitor muncul nilai R yang yang menunjukkan % kadar air dalam sampel.

Bagian bagian pada gambar 1. 2. 3. 4. 5. Reagen Karl fischer: Karl fischer mengandung (ROH), basa (B), SO2 and I2 Limbah: tempat pembuangan sisa analisa Adsorben: untuk menyerap air, karena mesin ini sangat peka terhadap air Pump: untuk menghisap sisa analisa Pelarut: Biasanya berisi methanol atau I2

Reaksinya : BI2 + BSO2 + B + H2O 2BH+I + BSO3 BSO3 + ROH BH+ROSO3

BAB IV KESIMPULAN 1. Pengukuran dengan spektrofotometri dilakukan dengan panjang gelombang yang memiliki %T minimum atau absorbansi maksimum 2. Absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi tetapi berbanding terbalik dengan nilai %T 3. Pemisahan menggunakan GC didasarkan pada interaksi dengan fasa diam, polaritas serta titik didih komponen 4. Karl Fischer sangat peka terhadap air, serta pengukurannya sangat akurat 5. HPLC memiliki performa yang lebih baik dari Gas Chromatography 6. Silika gel yang sudah penuh dengan air berwarna merah, dan yang masih bagus berwarna biru. 7. Cara mengembalikan silika gel menjadi biru dengan dipanaskan

BAB V DAFTAR PUSTAKA

http://wahyuriyadi.blogspot.com/2009/07/macam-spektrofotometri-dan-perbedaannya.html http://jawigo.blogspot.com/2009/12/kromatografi-gas.html http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Fischer_titration http://www.scribd.com/doc/88650421/ANALISIS-HPLC http://sanagory.blogspot.com/2012/02/jenis-hplc.html http://en.wikipedia.org/wiki/High-performance_liquid_chromatography http://yi2ncokiyute.blogspot.com/2010/12/kromatografi-gas.html http://orgchem.colorado.edu/hndbksupport/GC/GC.html http://www.wfu.edu/chem/courses/organic/GC/index.html Underwood,A.L dan Day, R.A.2002.Analisis Kimia Kuantitatif, edisi keenam.Erlangga:Jakarta http://mel-rizky.blogspot.com/2012/02/perbedaan-hplc-dan-gc.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Spektrofotometer http://www.polarislabs.com/test-explanations/water-by-karl-fischer.php

LAMPIRAN A DATA PERCOBAAN A. Spektrofotometri


maksimum : 470 nm Warna: merah 1. Pembuatan Kurva Standar
Ion Fe3+ 10-3M (mL) 0 1 2 3 4 5 6 KSCN (mL) 3 3 3 3 3 3 3 HNO3 1 1 1 1 1 1 1 Aquadest 6 5 4 3 2 1 0 V total 10 10 10 10 10 10 10 %T 99.5 83.4 82.1 66.5 59.6 52.4 46.7

2. Penentuan Konsentrasi Sampel


Ion Fe3+ 10-3M (mL) 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 KSCN (mL) 3 3 3 3 3 3 HNO3 1 1 1 1 1 1 Aquadest 6 5 4 3 2 1 V total 10 10 10 10 10 10 %T 93.4 81.3 69.3 58.5 50.7 45.3

B. Karl Fischer

Sampel Etanol

Massa sampel 0.0599gram

% air 18.1%

%teoritis 20%

%Error 10.49%

LAMPIRAN B HASIL ANTARA

A. Spektrofotometer
1. Penentuan maksimum maksimum : 470 nm

2. Penentuan Kurva Standar Ion Fe3+ 10-3M (m) 0 1 2 3 4 5 6 %T 99.5 83.4 82.1 66.5 59.6 52.4 46.7 [Fe3+]M 10 4

[Fe3+]2 10 A A.[Fe3+] 10 -4 0 0.078833949 0.171313686 0.531535064 0.899014961 1.403343565 1.984098717 5.068139942


8

0 1 2 3 4 5 6

0.002177 0.078834 0.085657 0.177178 0.224754 0.280669 0.330683 1.179952

0 1 4 9 16 25 36 91

Metode Grafis y a = 556,94x = 556,94

Metode Least Square y a = 556,9384552 x = 556,9384552

3. Penentuan Konsentrasi Sampel Ion Fe3+ 10-3M (ml) 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 %T 93.4 81.3 69.3 58.5 50.7 45.3 A 0.02965312 0.08990945 0.15926677 0.23284413 0.29499204 0.3439018 [Fe3+]Mgrafis 5.32429E-05 0.000161435 0.000285968 0.000418078 0.000529666 0.000617484 [Fe3+]MLSM 5.32431E-05 0.000161435 0.000285968 0.000418079 0.000529667 0.000617486

4. %Error Ion Fe3+ 10-3M (ml) 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5 5.5 [Fe3+]Mteoritis 0.00015 0.00025 0.00035 0.00045 0.00055 0.00065 %Errorgrafis 64.5047057 35.426111 18.2949867 7.09386851 3.69713706 5.00238999 %ErrorLSM 64.50460729 35.42593185 18.29476007 7.093610815 3.696869943 5.002126488

LAMPIRAN C GRAFIK

Penentuan Kurva Standar


0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 0.0002 0.0004 [Fe3+] 0.0006 0.0008 A Series1 Linear (Series1) y = 556.94x R = 0.9844

Penentuan konsentrasi sampel


0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 A 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0.0002 0.0004 0.0006 0.0008 [Fe3+] Metode Least Square Metode Grafis Linear (Metode Grafis) Linear (Metode Grafis)

LAMPIRAN D CONTOH PERHITUNGAN

a. Perhitungan konsntrasi Fe3+ teoritis Larutan Standar V Fe3+ = 1 mL, V total=10mL, [Fe3+]=10-3M [Fe3+] =

=10-4M

Konsentrasi Sampel V Fe3+ = 1,5mL, Vtot = 10mL, [Fe3+] = 10-3 M [Fe3+] =

=
= 1,5.10-4M b. Perhitungan Kurva standar dengan least square %T [Fe3+] A = 83,4 = 10-4 = -Log T = -Log 83,4 = 0.078834 A.[Fe3+] [Fe3+]2 A.[Fe3+] [Fe3+]2 a= = 0.078834 x 10-4 = 7,8834 x 10-6 = [10-4]2 = 10-8 = 5.068139942.10-4 = 91.10-8

= 556,9384552

Maka : y = 556,9384552 x A [Fe3+]

c. Perhitungan kurva standar dengan metode grafis Diperoleh persamaan y = 556.94x Maka berdasarkan metode ini, diperoleh nilai A sebesar 556,94

d. Perhitungan konsentrasi larutan sampel Metode Grafis, Run I, A [Fe3+] a = 556,94 = 0.02965312 = = = 5.32429.10-5M

Least square Run I, A [Fe3+]

a= 556,9384552 = 0.02965312 = = = 5.32431.10-5M

e. % Error Run I, Teoritis = 1,5.10-4M

Metode Grafis : % error =|

|x100% |x100%

=| =64.50470575 %

Least Square =| =| =64.50460729% |x100%

|x100%