Anda di halaman 1dari 15

BAB I TUJUAN DAN PRINSIP

1.1 TUJUAN Mengetahui kadar asam salisilat yang terkandung dalam krim anti jerawat yang beredar di pasaran 1.2 PRINSIP Menentukan kadar asam salisilat dengan membandingkan serapan / transmisi zat yang dianalisis ( asam salisilat ) dengan zat murni. Jumlah radiasi yang diserap tergantung pada panjang gelombang radiasi dan struktur senyawa. Hubungan antara kadar dengan intensitas sinar yang diserap oleh sampel yang di analisis dinyatakan oleh hukum Lambert-Berr

BAB II PENDAHULUAN

Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan.Salah satu penyakit kulit yang selalu menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda adalah jerawat. Penyakit ini tidak fatal namun merisaukan karena dapat mengurangi kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan wajah si penderita yang dapat menganggu kelancaran jalur komunikasi, baik dengan sesama teman, sesama karyawan, apalagi pacar atau suami. Meskipun kebanyakan jerawat pada masa remaja atau dewasa muda, ditempat peredileksi (muka, leher, lengan atas, dada, dan punggung), tetapi nyatanya jerawat dapat datang kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja. Jerawat dapat timbul sewaktu stress (menghadapi ujian), sesudah makan banyak lemak dan karbohidrat, atau sedang biasa-biasa saja. Dewasa ini terdapat ribuan kosmetik di pasar bebas. Kosmetika tersebut adalah produk pabrik kosmetika di dalam dan luar negeri yang jumlahnya telah mencapai angka ribuan. Preparat kosmetika yang tidak hanya dapat merawat, membersihkan, memperbaiki daya tarik dan mengubah rupa seperti tercanntum dalam defenisi kosmetika, tetapi juga dapat mempengaruhi struktur dan faal kulit seperti pada obat topikal disebut juga kosmetik medik. Dengan adanya kosmetik medik maka ada preparat antara kosmetika medik dan obat topikal (medik) meskipun kemudian dipertanyakan mengenai batas antara ketiganya (kosmetik, kosmedik, dan obat). Untuk jalan keluarnya dilakukanlah pembatasan bahwa kosmetik medik terbatas pada penggunaan zat yang menguntungkan atau memberikan manfaat pada kulit badan si pemakai. Untuk tujuan tersebut dilakukan pemilihan bahan aktif dan prmbatasan kadarnya bila dimasukkan dalam kosmetik medik, diantaranya adalah asam salisilat < 2%, sulfur <3%, estrogen <1000 iu/ounce. Namun betapapun rendahnya dosis yang dipakai penggunaan kosmetik medik ini masih selalu harus diperhitungkan karena besarnya dosis kumulatif yang di absorpsi kulit pada pemakaian kosmetik yang terus-menerus, tidak dapat diperkirakan. Ada bahan kosmetik yang sudah dapat diterima sebagai bahan yang aman bagi kosmetika, sebagian lagi masih dianggap perlu perhatian dan diberikan pembatasan pemakaiannya dan sebagian lagi dilarang.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 KOSMETIKA (1) 3.1.1 Pengertian Kosmetika Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan. Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang dikenakan pada kulit manusia untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik serta mengubah rupa, karena terjadi kontak antara kosmetik dengan kulit, maka ada kemungkinan kosmetik diserap oleh kulit dan masuk ke bagian yang lebih dalam dari tubuh. Kontak kosmetika dengan kulit menimbulkan akibat positif berupa manfaat kosmetik, dan akibat negatif atau merugikan berupa efek samping kosmetik. 3.1.2 Krim Anti Jerawat Krim didefenisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim, krim tipe minyak dalam air ( M/A) dank rim tipe air dalam minyak (A/M). Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik. Komposisi krim anti jerawat yang umum yaitu : Bahan iritan / pengelupas, misalnya sulfur ( 4-8%), resorsinol ( 15% ), Asam salisilat ( 2-5% ), Benzoil peroksida ( 2,5-10% ), asam vitamin A ( 0,025-0,1% ), dan asam aseleat ( 15-20% ).

3.2 ASAM SALISILAT (1) 3.2.1. Sifat asam salisilat Secara kimia asam salisilat disintesis pada tahun 1860 dan telah di gunakan secara luas dalam terapi dermotologis sebagai suatu agen keratolitik. Digunakan pada bagian luar tubun yang pada kulit sebagai antiseptik lemah serta keratolitikun (melarutkan sel-sel kulit mati). Agen ini berupa bubuk berwarna putih yang mudah larut dalam alkohol tetapi sukar larut dalam air. Asam salisilat merupakan zat anti akne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Penggunaanya dalam kosmetik anti akne atau karatolitik merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan kosmetika tersebut umpamanya dalam kosmetika perawatan kulit yang berjerawat. Asam salisilat berkhasiat keratolotis dan sering digunakan sebagai obat ampu terhadap kutil kulit, yang berciri penebalan eidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi dengan virus papova. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derifatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dan asam organik dengan subtitusi pada gugus hidroksil misalnya asetosal.
3

3.2.2 Kegunaan asam salisilat Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik yaitu akan mengurangi ketebalan interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan desintegrasi dan pengelupasana kulit. Asam organis ini berkhasiat fungisit terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Di samping itu, zat ini juga bekerja keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. 3.2.3 Toksisitas asam salisilat Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti sehingga banyak terjadi penggunasalahan atau penyalahgunaan obat bebas ini. Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat ringan. Gejala saluran cerna lebih menonjol pada intoksikasi asam salisilat. Efek terhadap saluran cerna, perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian contoh kronik. Salisilisme dan kematian terjadi setelah pemakaian secara topikal. Gejala keracunan sistemik akut dapat terjadi setelah penggunaan berlebihan asam salisilat di daerah yang luas pada kulit, bahkan sudah terjadi beberapa kematian. Pemakaian asam salisilat secara topikal pada konsetrasi tinggi juga sering mengakibatkan iritasi lokal, peradangan akut, bahkan ulserasi. Untuk mengurangi absorpsinya pada penggunaan topikal maka asam salisilat tidak digunakan dalam penggunaan jangka lama dalam konsentrasi tinggi, pada daerah yang luas pada kulit dan pada kulit rusak. Persyaratan kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat berdasarkan Surat keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.1745 tanggal 5 Mei 2003 yaitu tidak boleh lebih dari 2%. 3.3 SPEKTROFOTOMETER U-VIS (1) Spektrofotometri adalah cabang analisis instrumental yang mencakup seluruh metoda pengukuran berdasarkan interaksi antara suatu spektrum sinar (Radiasi Elektro Magnetik/REM) dengan larutan molekul atau atom. Spektrofotometri uv-vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis, sehinga spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibanding kualitatif.

3.3.1. Prinsip dasar Apabila radiasi elektromagnetik pada daerah ultraviolet dan sinar tampak melalui senyawa yang memiliki ikatan-ikatan rangkap, sebagian dari radiasi biasanya diserap oleh senyawa. Jumlah radiasi yang diserap tergantung pada panjang gelombang radiasi dan
4

struktur senyawa. Penyerapan sinar radisi disebabkan oleh pengurangan energi dari sinar radiasi pada saat elektron-elektron dalam orbital berenergi rendah tereksitasi ke orbital berenergi lebih tinggi. Hubungan antara kadar dengan intensitas sinar yang diserap oleh sampel yang di analisis dinyatakan oleh hukum Lambert-Berr dalam bentuk persamaan sebagai berikut : (Sediaoetama, 1987) Log ( ) = A=a.b.C Dimana: Io= intensitas sinar sebelum melewati sampel I = intensitas sinar setelah melewati sampel A= absorban a = absopsifitas molekul b = ketebalan kuvet C= konsentrasi larutan

3.3.2 Serapan oleh Senyawa Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan visible dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh karena itu, serapan radiasi ultraviolet/visible sering dikenal sebagai spektroskopi elektron. Transisi-transisi biasanya antara orbital ikatan atau orbital pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan merupakan ukuran dari pemisahan tingkatan-tingkatan tenaga dari orbital-orbital yang bersangkutan. Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperileh bila elektron-elektron dalam ikatan- tereksitasi yang menimbulkan serapan dala daerah dari 120 sampai 200 nm. Daerah ini dikenal sebagai daerah ultraviolet vakum dan relatif tidak kebanyakan memberikan keterangan. Diatas 200 nm, eksitasi elektron dari orbital-orbital p dan d dan orbital terutama sistem terkonjugasi - segera dapat diukur dan spektrum yang diperoleh memberikan banyak keterangan. Meskipun demikian, terdapat keuntungan yang selektif dari serapan ultraviolet yaitu gugus-gugus karasteristik dapat dikenal dalam molekul yang relatif kompleks. Sebagian besar dari molekul-molekul yang sangat kompleks mungkin transparan dalam ultraviolet sehingga kita mungkin memperoleh spektrum yang semacam dari molekul yang sederhana. 3.3.3 Tahapan-tahapan untuk Analisis Kuantitatif A. Pemilihan pelarut Pelarut yang digunakan pada spektofotometer UV-Vis harus memenuhi persyaratan yaitu tidak mengabsorpsi radiasi pada panjang gelombang pengukuran sampel. Oleh sebab itu, pelarut harus memenuhi persyaratan : 1. Tidak mengandung sistem terkonjugasi pada struktur molekulnya atau tidak berwarna. 2. Tidak berinteraksi dengan molekul senyawa yang diukur. 3. Harus mempunyai kemurnian yang tinngi

B. Pemilihan panjang gelombang Pengukuran absorpsi pada analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometer baik zat tunggal maupun zat campur pada prinsipnya harus dilakukan pada panjang gelombang maksimum ( maks). Alasan dilakukan pengukuran absorpsi pada panjang gelombang maksimum adalah: 1. Perubahan absorpsi untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimal akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal. 2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva serapannya adalah datar, sehingga hukum Lambert-Beer akan dipenuhi dengan baik. 3.Panjang gelombang maksimal dapat dicari dengan membuat kurva serapan dengan berbagai panjang gelombang pada sistem koordinat Cartesian pada konsentrasi yang tetap. Panjang gelombang masimum adalah panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimum. 3.3.4. Peralatan Spektrofotometer Komponen-komponen pokok dari Spektrofotometer meliputi : 1. Sumber tenaga radiasi yang stabil 2. Sistem yang tediri atas lensa-lensa, cermin, celah-celah, dll. 3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal. 4. Tempat cuplikan yang transparan 5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat. 3.3.5. Penetapan Kadar Dengan Spektrofotometri Ada empat cara menentukan kadar zat tunggal dengan metode spektrofotometri: 1. Membandingkan serapan atau transmisi zat yang dianalisis dengan zat murni. Dalam hal ini dilakukan pengukuran serapan zat (AX) serapan zat standar (AS), pada panjang gelombang yang sama yaitu maks, sehingga kadar zat X sebagai: [ ] Persyaratan diusahakan pembacaan Ax dan As tidak CX = berbeda jauh. 2. Dengan membuat kurva baku. Kurva baku dibuat pada sistem koordinat Carstein dimana sebagai absis adalah konsentrasizat standar, dan sebagai ordinat adalah serapannya. Pengamatan serapan dilakukan pada maks. 3.Dengan memakai sistem ekstingsi spesifik ( ) cara ini sebagai salah satu usaha analisis kuantitatif zat tunggal dengan metode spektrofotometri yang dalam hal ini tidak mempunyai zat standar. Dengan jalan membandingkan dari zat yang tertera dalam pustaka, maka kadar zat tersebut akan dapat diketahui.

3.4 KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (4) Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam dibawah gerakan pelarut pengembang. Pada dasarnya KLT sangat mirip dengan kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan nyatanya terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung gugus hidroksil pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul polar air. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Gambar kromatografi lapis

Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah bewarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh eluen ( fase gerak ) untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut: Rf = Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karenan itu Rf juga disebut factor referensi.

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Jenis penelitian (1) Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasi laboratorik yang merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan rancangan eksperimental sederhana, yakni untuk menganalisis kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat yang beredar di kota-kota di Indonesia secara Kromatografi Lapis Tipis dan spektrofotometri UV-Vis. 4.2 Alat dan Bahan (1) Alat-alat yang digunakan 1. Bejana kromatografi 2. Corong 3. Erlemeyer 4. Gelas kimia 5. Gelas ukur 6. Lampu UV 7. Lempeng kromatografi 8. Labu takar 10 ml, 25ml, 200 ml 9. Neraca analitik 10. Pipet volume 11. Pipet tetes 12. Spektrofotometer UV-VIS 13. Timbangan analitik Bahan-bahan yang digunakan 1. Aquadest 2. Asam asetat glasial 3. Asam salisilat murni 4. Etanol absolut 5. Etanol 95 % 6. Lempeng silika gel F 254 7. Natrium Hidroksida 0,5 N 8. Sampel krim anti jerawat ( Clean and Clear, Garnier dan Verile ) 9. Toluene

4.3 Prosedur kerja (1) 1. Pengambilan Sampel Sampel penelitian adalah krim anti jerawat, diambil dari swalayan , lalu dilakukan pengumpulan data semua merek krim anti jerawat kemudian diambil sebanyak 3 merek sampel yang dilakukan secara acak yaitu sampel Clean and Clear, sampel Garnier, dan sampel Verile. 2. Pembuatan pereaksi NaOH 0,5 N Natrium Hidroksida (NaOH) ditimbang sebanyak 2,5 gram, kemudian dilarutkan dengan aquadest, diaduk sampai NaOH larut kemudian dicukupkan volumenya hingga 200 ml dengan aquadest. 3. Pembuatan larutan uji Sejumlah cuplikan setara dengan lebih kurang 25 mg asam salisilat ditimbang seksama, ditambah etanol, diaduk, dan dibiarkan, lalu disaring dan filtratnya ditampung dalam labu

ukur 25 ml. Endapan ditambah etanol 95 %, kemudian diaduk lalu disaring dan filtratnya dimasukkan kedalam labu ukur sampai tanda batas, larutan tersebut diberi nama (Larutan A). 4. Identifikasi asam salisilat dalam krim anti jerawat secara KLT A. Pembuatan larutan baku Dibuat larutan dari 25 mg baku pembanding asam salisilat yang dilarutkan dalam 25 ml etanol 95 %. Larutan ini diberi nama (Larutan B ) B. Pembuatan eluen Cairan pengelusi atau eluen yang digunakan adalah asam asetat glasial : toulene (80:20) dibuat sebanyak 100 ml dengan mencampur 80 ml asam asetat glasial dengan 20 ml toulene dalam botol, lalu dikocok hingga homongen. C. Penjenuhan chamber Cairan pengelusi yang akan digunakan sebagai fase gerak dimasukkan kedalam chamber yang tertutup. Kedalam eluen tersebut kemudian dimasukkan potongan kertas saring. Jika semua bagian kertas saring sudah basah, maka itu menunjukkan bahwa chamber tersebut sudah jenuh dan siap digunakan. 5. Analisis kadar asam salisilat secara Spektrofotometri UV-VIS A. Analisis kualitatif Analisis kualitatif adanya asam salisilat, dilakukan secara kromatografi lapis tipis. Larutan uji (larutan A) dan larutan baku pembanding (larutan B) masing-masing ditotolkan secara terpisah ada lempeng KLT, kemudian dielusi dengan cairan pengelusi toluene dan asam asetat glasial (80 : 20) dan noda dihasilkan dengan penampak noda cahaya lampu UV 254 nm. B. Analisis kuantitatif Noda baku dan noda senyawa yang dihasilkan yang mempunyai harga Rf sama, ditandai dan dikerok. Hasil kerokan dikocok secara terpisah dengan 5 ml NaOH 0,5 N sampai tanda batas, dan diukur secara spektrofometri UV-Vis pada panjang gelombang 300 nm. 4.4 Uji aktivitas krim tabir surya dari asam salisilat (5) Uji keberadaan asam salisilat murni 1. Asam salisilat sebanyak 100 mg dilarutkan dengan isopropanol sampai 50 ml (konsentrasi 2000 ppm = 2 mg/ml) sebagai larutan induk. 2. Dari konsentrasi 2000 ppm dibuat pengenceran menjadi 100 ppm (0,1 mg/ml), diambil 2,5 ml dari larutan induk dan diadkan dengan 50 ml isopropanol . 3. Alat spektrofotometer UV-VIS dikalibrasi terlebih dahulu dengan blanko isopropanol. 4. Panjang gelombang maksimum larutan asam salisilat 100 ppm ditentukan dengan spektrofotometer UV-VIS. Alat disetting pada panjang gelombang 200-400 nm dan hasilnya dibandingkan dengan max standar asam salisilat yang ada pada referensi. Sediaan krim tabir surya dari asam salisilat 1. Sediaan krim tabir surya dari asam salisilat diambil 0,3 gram dilarutkan dengan isopropanol sampai 30 ml, disaring, dan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UVVIS pada panjang gelombang maksimum yang didapat dari uji asam salisilat murni. 2. Dua buah kaca objek disiapkan. 3. Sediaan krim tabir surya diambil sebanyak 0,3 gram dilarutkan dengan isopropanol sampai
9

30 ml, kemudian dioleskan pada masing-masing kaca objek tadi. 4. Kedua kaca objek tadi dipaparkan pada lampu UV 366 nm selama 30 menit dan 45 menit. 5. Absorbansi sediaan krim yang telah dipaparkan lampu UV diukur kembali dan hasilnya dibandingkan dengan absorbansi sediaan krim sebelum dipaparkan dengan lampu UV.

10

BAB V HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian (1) 1. Hasil Analisis Kualitatif Tabel 1 : Hasil analisis asam saksilat dalam krim anti jerawat dengan 3 merek yaitu clean & clear, garnier, dan verille dengan metode kromatografi lapis tipis. Pengamatan Sampel Hasil RF Pustaka Ket Warna A(Clean & 0,57 violet Violet + Clear) B(Garnier) 0,64 violet Violet + C(Verile) 0,53 violet Violet + D(Pembanding) 0,59 violet Violet + Keterangan A : B : C : D : (+) :

Larutan sampel A ( Clean & Clear) Larutan sampel B (Garnier) Larutan sampel C (Verile) Baku pembanding asam salisilat Positif mengandung asam salisilat

2. Analisis kuantitatif Tabel 2 : Hasil analisis asam saksilat dalam krim anti jerawat dengan 3 merek yaitu clean & clear, verille dan Garnier dengan metode spektrofotometri UV-VIS No. Sampel Sampel (Clean Clear ) Berat Sampel (Gr) A & 5,05 Kandungan Kandungan Serapan Rata-rata (%) (%) 0,713 0,726 0,726 0,715 0,722 0,724 0,623 0,626 0,629 0,604 % 0,613 %

Sampel B 5,05 (Garnier) Sampel (Verile) C 5,05

0,604 %

0,612 %

0,604 %

0,532 %

11

5.2 Perhitungan Nilai RF (1) Rumus : Nilai RF = Nilai RF A = Nilai RF B = Nilai RF C = Nilai RF D = Keterangan : Noda A = Krim anti jerawat merek Clean & clear Noda B = Krim anti jerawat merek Garnier Noda C = Krim anti jerawat merek Verille Noda D = Baku Pembanding asam salisilat murni = 0,57 cm = 0,64 cm = 0,53 cm = 0,59 cm

5.3 Contoh perhitungan kadar asam salisilat sampel secara spektrofotometri (1) Contoh krim : Clean and Clear Serapan zat uji (Au) = 0,713 Serapan Baku (Ab) = 0,563 Berat baku yang ditimbang (Bb) = 0,02412 g Berat contoh yang ditimbang (Bu) = 5,05 g

Rumus : = = x x x 100 % x 100 %

= 0,604 %
12

5.4 Pembahasan (1) Analisis kandungan asam salisilat dalam 3 jenis merek krim anti jerawat yaitu merek Clean & Clear, Garnier, dan Verille yang diambil dari beberapa swalayan yang ada di pasaran dilakukan dengan analisis kualitatif secara spektrofotometri UV-VIS. Hasil analisis kualitatif asam salisilat dari sampel krim anti jerawat lapis tipis dengan menggunakan cairan glacial Toulene : asam asetat glacial (80 : 20) dengan penampak noda sinar UV 300 nm asam salisilat pembanding diperoleh noda warna ungu muda. Adapun noda yang didapat mempunyai RF 0,8 dan warna yang saka yakni ungu dengan pembanding, hal ini menunjukkan bahwa pada masing-masing sampel mengandung asam salisilat. Badan pengawas obat dan makanan (BPOM) menetapkan kadar asam salisilat maksimum yang diisinkan terkandung dalam produk kosmetik, khususnya produk anti jerawat yaitu tidak lebih dari 6 % setelah melakukan analisa kualitatif pada krim anti jerawat yang diuji, diperoleh bahwa etiket sampel krim A ( Clean & Clear ) yang mencantumkan kadar asam salisilat 0,5 %, setelah dilakukan penelitian kadar asam salisilat 0,5 %, setelah dilakukan penelitian, kadar asam salisilat yang terkandung adalah 0,613 % untuk etiket sampel krim B ( Garnier ) yang kadarnya pada etiketnya 0,5 %, setelah dilakukan penelitian, kadarnya yang terkandung yaitu tidak berbeda jauh dari kadar pada sampel A yaitu 0,612 %. Sedangkan untuk sampel krim C ( Verile ) yang mencantumkan kadar 0,5 % pada etiket, setelah dilakukan penelitian, maka kadar yang diperoleh yaitu 0,532 %. Meskipun tidak sesuai dengan etiket tetapi memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh BPOM. Dari penelitian ini diperoleh bahwa kadar asam salisilat dari semua produk krim anti jerawat persyaratan yang ditentukan oleh BPOM yaitu kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat tidak lebih dari 2 %.

No 1 2 3

Sampel Clean & Clear Garnier Verile

Kadar asam salisilat teroritis dalam kemasan 0,50% 0,50% 0,50%

Kadar asam salisilat percobaan 0,613% 0,612% 0,532%

13

BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan : 1. Analisis kualitatif secara kromatografi lapis tipis pada sampel krim anti jerawat merek Clean & Clear, Garnier dan Verile menghasilkan hasil positif. 2. Analisis kuantitatif secara spektrofotometri sinar tampak, yaitu kandungan asam salisilat pada krim anti jerawat merek Clean & clear dan Garnier tidak berbeda jauh yaitu dengan perbandingan 0,613 %, 0,612 % sedangkan merek Verille kandungan asam salisilat lebih sedikit dibanding kedua jenis merek diatas yaitu 0,532 %.

GRAFIK

Grafik Rf
0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 1 2 3 4 5 Clean & Clear Garnier Grafik Rf

Verile

pembanding

14

DAFTAR PUSTAKA

(1). http://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/12/15/skripsi-fmipa-analisis-kadar-asamsalisilat-dalam-krim-anti-jerawat-yang-beredar-secara-spektrofotometri-uv-vis/ (2). http://kisahfathe.blogspot.com/2009/02/asam-salisilat.html (3). http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_salisilat (4). http://www.scribd.com/doc/7801117/Kromatografi-Lapis-Tipis (5). http://chocolate-purplepharmacy.blogspot.com/

15